Category: Kompas.com Metropolitan

  • Anak-anak Sedih Tak Dapat Tiket Planetarium Jakarta meski Antre Sejak Pagi
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Anak-anak Sedih Tak Dapat Tiket Planetarium Jakarta meski Antre Sejak Pagi Megapolitan 28 Desember 2025

    Anak-anak Sedih Tak Dapat Tiket Planetarium Jakarta meski Antre Sejak Pagi
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Pengunjung anak-anak yang ingin menyaksikan pertunjukan Planetarium dan Observatorium Jakarta sedih tidak mendapatkan tiket, Minggu (28/12/2025).
    Meski telah menunggu berjam-jam sejak pagi dan mencoba membeli tiket secara daring, sebagian pengunjung terpaksa pulang karena kehabisan kuota tiket.
    Pantauan
    Kompas.com
    di di lokasi, kekecewaan pengunjung terlihat jelas di depan Pusat Informasi Planetarium.
    Beberapa keluarga yang datang bersama anak-anak tampak pergi meninggalkan area antrean setelah petugas mengumumkan bahwa kuota dan
    waiting list
    telah penuh.
    Salah satu pengunjung, Keani (34), warga Depok, mengaku sudah tiba di lokasi sejak pukul 08.00 WIB bersama dua anaknya.
    Ia berharap masih bisa mendapatkan tiket dengan sistem
    waiting list
    , namun usahanya gagal.
    “Dari pagi sudah antre, anak-anak juga sudah nunggu. Coba beli
    online
    juga enggak dapat. Katanya sudah penuh semua,” ujar Keani dengan nada kecewa saat ditemui Kompas.com di lokasi, Minggu.
    Keani mengatakan, kedatangannya ke
    Planetarium Jakarta
    sudah direncanakan karena anak-anaknya sedang
    libur sekolah
    .
    Ia berharap kunjungan tersebut bisa menjadi sarana edukasi.
    “Anak-anak sudah senang duluan. Pas dibilang enggak dapat tiket, mereka sedih. Saya cuma bisa bilang nanti balik lagi,” ucapnya.
    Keluhan serupa disampaikan Syahdan (30), warga Bekasi, yang datang bersama istri dan satu anaknya.
    Syahdan mengaku menunggu hampir tiga jam sebelum akhirnya mendapat kepastian tidak kebagian tiket.
    “Datang jam setengah delapan, nunggu sampai siang. Informasinya baru jelas setelah diumumkan.
    Online
    juga sudah dicoba dari kemarin, tapi selalu habis,” kata Syahdan saat hendak menuju area parkir.
    Ia menilai, tingginya minat pengunjung belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem informasi yang memadai di lokasi.
    “Kalau dari awal sudah jelas kuotanya, mungkin kami bisa putar arah. Ini anak sudah capek nunggu,” ujar dia.
    Sementara itu, Reysha (29), warga Jakarta Barat, datang bersama keponakannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
    Ia mengatakan, petugas meminta pengunjung yang tidak kebagian tiket untuk kembali di hari lain.
    “Tadi dibilang disarankan balik lagi tanggal 31. Tapi ya belum tentu dapat juga. Cuma bisa berharap ke depannya sistemnya lebih rapi,” tutur Reysha.
    Menurut Reysha, meski kecewa, ia masih menaruh harapan agar Planetarium Jakarta bisa diakses lebih luas oleh masyarakat.
    “Sayang sekali kalau minat sebesar ini tapi banyak yang enggak terlayani. Harapannya ke depan kuotanya bisa ditambah atau jadwalnya diperbanyak, supaya anak-anak enggak kecewa,” ujar dia.
    Petugas mengumumkan melalui pengeras suara bahwa tiket di hari ini sudah habis, dan meminta pengunjung yang belum kedapatan untuk balik di lain hari.
    “Ibu bapak semua, tiket hari ini sudah habis ya. Silahkan kembali lagi nanti, di tanggal 31 Desember ya,” ujarnya yang ditanggapi sorakan kekecewaan pengunjung.
    Sebelumnya pengamatan Kompas.com sejak pukul 07.00 WIB antrean panjang untuk pembelian tiket masuk secara langsung sudah membeludak.
    Bahkan sebagian pengunjung memilih untuk duduk
    lesehan
    di pintu masuk agar mendapatkan kesempatan untuk dapat tiket meski
    waiting list
    .
    Adapun maksimal tiket masuk di hari ini hanya tersedia 180 tiket untuk empat sesi dalam satu hari.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pasang 1.000 Km Pipa pada 2026, Dirut PAM Jaya: Mau Tidak Mau Pasti Macet
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Pasang 1.000 Km Pipa pada 2026, Dirut PAM Jaya: Mau Tidak Mau Pasti Macet Megapolitan 28 Desember 2025

    Pasang 1.000 Km Pipa pada 2026, Dirut PAM Jaya: Mau Tidak Mau Pasti Macet
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, kemacetan hampir pasti terjadi dalam proyek pemasangan pipa air bersih sepanjang 1.000 kilometer pada 2026 mendatang,
    Ia menjelaskan, kemacetan tak terhindarkan karena
    jalur pipa
    yang dipasang memang harus melewati bahu jalan.
    “Cuma memang sekali lagi karena pipanya tidak mungkin tidak lewat bahu jalan jadi mau tidak mau memang pasti akan ada sedikit
    traffic jam
    , sebenarnya tidak sedikit, ya, ada beberapa yang sudah
    bottleneck
    ,” ujar Arief saat ditemui di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2025).
    Menurut Arief, proyek pipa baru ini akan banyak dikerjakan di kawasan Jakarta Timur hingga Jakarta Utara.
    Sebagian juga mulai masuk ke wilayah selatan, seperti kawasan sekitar Deplu dan Pondok Pinang.
    Untuk Jakarta Barat, pekerjaan masih terbatas karena pasokan air masih menunggu proyek pemerintah pusat.
    “Kita siapkan juga jalur alternatif pipa yang akan dibangun bertahap di 2026,” ujar Arief.
    Arief mengaku
    PAM Jaya
    sudah berkoordinasi dengan berbagai instansi, termasuk Dinas Perhubungan, untuk mengurangi dampak kemacetan.
    Namun, ia menegaskan kemacetan tetap tidak bisa dihilangkan sepenuhnya.
    “Sebenarnya kita yang seperti Pak Gubernur sampaikan, kita melakukan harmonisasi rekonsiliasi terhadap semua instansi, termasuk kedinasan, gitu, ya, sebenarnya itu sudah dilakukan,” kata dia.
    Selain itu, PAM Jaya juga akan mengubah pola kerja dalam proyek pemasangan pipa tersebut.
    Menurut Arief, jika dulu satu jalur dibuka penuh, sekarang dikerjakan paralel agar kemacetan bisa ditekan, meski waktu proyek jadi lebih lama.
    Tahun ini, PAM Jaya menargetkan 80 persen cakupan layanan air bersih atau sekitar 1,15 juta sambungan air perpipaan.
    Tambahan 1.000 km pipa diharapkan memperluas akses air bersih, terutama bagi warga yang selama ini belum terlayani.
    “Kalau air bersih bisa masuk ke warga kecil, manfaatnya besar sekali,” ujar Arief.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Siap-siap Jakarta Macet, PAM Jaya Gali Pipa 1.000 Km pada 2026
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Siap-siap Jakarta Macet, PAM Jaya Gali Pipa 1.000 Km pada 2026 Megapolitan 28 Desember 2025

    Siap-siap Jakarta Macet, PAM Jaya Gali Pipa 1.000 Km pada 2026
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com-
    Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengungkapkan bahwa PAM Jaya akan melaksanakan proyek pemasangan pipa baru sepanjang 1.000 kilometer pada 2026.
    Arief pun meminta maaf kepada publik karena proyek tersebut berpotensi menyebabkan kemacetan di Jakarta.
    “Jadi Pak, sekaligus juga saya laporkan juga kepada Pak Sekda juga nih mohon maaf nih Pak nanti bikin macet lagi Pak, PAM, 1.000 kilometer,” ucap Arief alam acara Donor Darah dan HUT PAM Jaya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2025).
    Menurut Arief, pemasangan pipa akan tersebar di berbagai wilayah, dengan prioritas utama berada di kawasan Jakarta Timur dan Jakarta Utara.
    “Fokus kita nanti akan banyak di masih di timur Jakarta, utara Jakarta, masuk sedikit ke selatan sudah mulai kita lakukan perbanyakan sumber airnya juga koneksinya sudah sampai di Deplu ya kalau nggak salah kita sudah di pondok pinang kita bikin sedikit agak
    traffic
    ,” kata dia.
    Untuk Jakarta Barat, pembangunan masih menunggu kesiapan sumber air dari Kementerian PUPR, termasuk terkait Bendungan Karian di Banten.
    Meski begitu, PAM Jaya menyiapkan beberapa jalur alternatif pipa agar proyek tetap berjalan pada 2026.
    “Barat Jakarta mudah-mudahan tersentuh walaupun belum banyak karena sumber airnya dari kementerian pu masih menunggu Karian,” ujarnya.
    Arief menyebut, pada tahun ini PAM Jaya menargetkan cakupan layanan air perpipaan bisa mencapai 80 persen, atau sekitar 1,15 juta sambungan.
    Tahun depan, targetnya ditambah 450.000 sambungan baru yang setara dengan tambahan 1.000 kilometer jaringan pipa.
    “Tahun depan target kita 450.000 sambungan atau mencapai 1.000 kilometer tambahan. Saat ini pipa PAM itu sudah 12.800 kilometer,” kata dia.
    Arief menegaskan, proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi bertujuan memperluas
    akses air bersih
    , terutama bagi warga berpenghasilan rendah.
    “Kalau kita masuk ke masyarakat kecil nantinya air bersih yang bisa dimanfaatkan itu luar biasa manfaatnya buat masyarakat kecil,” ungkap Arief.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 7
                    
                        Karir 33 Tahun Terancam Usai Viral Ludahi Kasir, Dosen UIM Makassar Minta Damai Secara Kekeluargaan
                        Regional

    7 Karir 33 Tahun Terancam Usai Viral Ludahi Kasir, Dosen UIM Makassar Minta Damai Secara Kekeluargaan Regional

    Karir 33 Tahun Terancam Usai Viral Ludahi Kasir, Dosen UIM Makassar Minta Damai Secara Kekeluargaan
    Tim Redaksi
    MAKASSAR, KOMPAS.com
    – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM) yakni Amal Said atau AS, yang viral usai meludahi kasir swalayan meminta agar kasus bisa diselesaikan secara kekeluargaan. 
    Amal menyampaikan, setelah videonya tersebut viral di berbagai platform media sosial, nama baiknya pun tercoreng hingga karirnya sebagai
    dosen
    terancam. 
    “Sekarang ini sudah rusak nama saya, bahkan mungkin juga berakibat ke tempat kerja saya ini. Rusak sekali saya ini. Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya, tidak sebanding,” kata Amal dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (28/12/2025). 
    Amal juga berharap kasus yang sudah dilaporkan ke pihak kepolisian ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. 
    Dia juga menyampaikan, agar
    kasir
    wanita berinisial N (21) juga mengakui kesalahannya sehingga masalah tersebut tidak berlarut-larut. 
    “Harapan saya, orang itu juga harus sadar, mengakui juga dirinya punya kekhilafan, kita kan manusia bisa saling khilaf dalam kondisi tertentu. Saya tidak mau kasi panjang masalah, kalau bisa diselesaikan baik-baik saja, dosa-dosa saya tanggung sendiri,” ujar Amal. 
    Amal menganggap saat peristiwa itu terjadi dirinya sama sekali tidak menyerobot antrean. 
    “Awalnya memang saya singgah untuk membeli cemilan, setelah saya ambil belanjaan, turunlah saya ke kasir, saya antre disitu, saya sama sekali tidak menyerobot, saya ikut antrean,” ucap Amal. 
    Saat tengah mengantre, kasir yang tidak berada jauh darinya sudah kosong. Dia pun berinisiatif untuk pindah ke kasir tersebut. 
    “Saya liat ada kasir yang sudah kosong antreannya, jadi maksud saya supaya lebih ringkas apalagi masih ada orang dibelakang saya, akhirnya saya kesebelah ke kasir yang sudah kosong antreannya,” jelas dia. 
    Amal mengaku, cara menegur kasir tersebut seakan-akan tidak menghargai dirinya hingga akhirnya dia tersinggung dan spontan meludahi petugas wanita itu. 
    “Setelah saya ditegur itu saya merasa dilecehkan, merasa dihina, saya ini orang tua, masa saya diperlakukan seperti itu. Kalau orang Bugis-
    Makassar
    diperbuat begitu kayak seperti tidak hargai, dihinakan, begitu saya rasakan saat itu,” ujarnya. 
    Sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan seorang pria meludahi seorang kasir di salah satu swalayan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
     Berdasarkan informasi, aksi yang dilakukan pria tersebut karena tidak terima ditegur oleh kasir wanita lantaran menyerobot antrean ketika hendak membayar belanjaan. 
    Dari video yang dilihat, awalnya pria tersebut nampak marah kepada kasir wanita tersebut. Tidak lama, pria yang mengenakan kaos berwarna hitam itu langsung meludahi kasir wanita itu.
    Dari keterangan yang didapat, peristiwa itu terjadi di salah satu swalayan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, pada Rabu (24/12/2025).
    Belakangan terungkap bahwa pria yang meludahi kasir wanita tersebut merupakan seorang dosen di Universitas Islam Makassar (UIM) berinisial AS.
    Kasus yang menimpa AS pun kini masih sementara diselidiki kepolisian dengan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi. 
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 7
                    
                        Privatisasi Bantuan dan Politik Tanpa Malu
                        Nasional

    7 Privatisasi Bantuan dan Politik Tanpa Malu Nasional

    Privatisasi Bantuan dan Politik Tanpa Malu
    Staff Pengajar di Universitas Muhammadiyah Bengkulu
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    BELAKANGAN
    ini, beranda media sosial kita disesaki tontonan visual yang cukup mengusik nalar publik perihal etika kepemimpinan di tengah bencana.
    Video pendek yang viral memperlihatkan tumpukan tandon air dan alat penyaring air bersih yang dikirimkan untuk korban banjir bandang di Sumatera Barat.
    Namun, ada sesuatu yang janggal secara semiotik pada bantuan tersebut. Pada dinding tandon yang berwarna oranye menyala itu, tercetak nama seorang politisi senior dengan ukuran huruf yang sangat dominan, bahkan memakan hampir separuh bidang visual benda tersebut.
    Nama itu ditulis lengkap dengan deretan gelar akademik dan honoris causa yang berbaris panjang, seolah ingin menegaskan status sosial sang pemberi di hadapan para korban yang sedang menderita.
    Pemandangan ini bukan sekadar masalah estetika visual, melainkan sinyalemen kuat tentang betapa narsisme politik telah menunggangi panggung kemanusiaan secara vulgar tanpa tedeng aling-aling.
    Kita dipaksa menyaksikan bagaimana penderitaan rakyat dijadikan kanvas lukisan citra diri seorang elite politik yang haus pengakuan.
    Ironi yang lebih tebal sebenarnya tersembunyi di balik layar pengadaan bantuan tandon air tersebut, di mana prosesnya jauh dari kata “kedermawanan pribadi” yang ingin dikesankan.
    Sebelum video distribusi itu beredar, publik dan awak media sudah lebih dulu menyimak berita tentang acara makan malam amal yang diinisiasi oleh politisi senior tersebut bersama para kader binaannya.
    Dalam forum yang dihadiri oleh pejabat eksekutif daerah dan anggota legislatif dari partainya itu, terjadi proses mobilisasi dana yang lebih mirip “penodongan” halus atas nama solidaritas partai.
    Para kader yang notabene pejabat publik itu diminta menyumbang. Uangnya tentu berasal dari sirkulasi pendapatan mereka sebagai pejabat atau dana taktis lainnya.
    Namun, ketika barang bantuan itu sampai di lapangan, jejak kolektif para penyumbang itu lenyap tak berbekas digantikan oleh satu nama tunggal.
    Tidak ada logo partai, tidak ada atribusi kolektif, yang ada hanyalah glorifikasi personal sang ketua umum yang seolah merogoh kocek pribadinya sendiri dalam-dalam.
    Fenomena klaim sepihak ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai integritas moral dalam praktik filantropi politik kita yang kian hari kian transaksional.
    Mengapa bantuan yang dananya dihimpun dari urunan banyak pihak, atau bahkan dana yang bersumber dari jejaring kekuasaan, harus dilabeli seolah-olah itu adalah murni kebaikan hati satu individu?
    Jawabannya terletak pada motif insentif elektoral dan hasrat untuk merawat patronase politik yang masih sangat kental dalam budaya feodalisme partai kita.
    Sang politisi senior tampaknya ingin memelihara mitos bahwa dirinya adalah “Ratu Adil” atau patron tunggal yang menjadi sumber segala rezeki bagi konstituen maupun kadernya.
    Dengan menempelkan nama secara mencolok, ia sedang melakukan investasi citra murah meriah di atas penderitaan korban bencana, strategi marketing politik yang sebenarnya sangat primitif.
    Pola perilaku semacam ini sayangnya bukan monopoli satu atau dua politisi saja, melainkan telah menjadi wabah yang menjangkiti struktur kekuasaan kita hingga ke level tertinggi.
    Kita tentu masih ingat betul bagaimana gelontoran bantuan sosial atau
    bansos
    menjelang perhelatan pemilihan umum lalu dikemas dengan narasi yang sangat personalistik.
    Karung-karung beras dan paket sembako ditempeli stiker bergambar wajah pejabat tinggi negara, disertai tulisan “Bantuan Presiden” atau sejenisnya, yang secara implisit mengirim pesan bahwa ini adalah hadiah dari penguasa.
    Padahal, jika kita bedah struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), setiap butir beras dan setiap rupiah dalam amplop bansos itu adalah uang rakyat sendiri.
    Itu adalah uang yang dikumpulkan dari pajak pertambahan nilai saat rakyat membeli pulsa, pajak penghasilan buruh, hingga pajak kendaraan bermotor yang dibayar dengan keringat warga negara.
    Secara teoritis, apa yang kita saksikan ini adalah bentuk nyata dari
    politicization of social protection
    atau politisasi perlindungan sosial yang jamak terjadi di negara-negara dengan demokrasi belum matang.
    Para petahana atau pimpinan partai seringkali tergoda untuk mempersonalisasi kebijakan publik yang bersifat distributif guna mendulang simpati dan loyalitas pemilih.
    Dalam literatur ilmu politik, strategi ini dikenal sebagai
    pork barrel politics
    atau politik gentong babi, di mana sumber daya publik didistribusikan secara partikularistik untuk keuntungan politik tertentu.
    Namun, yang terjadi di Indonesia belakangan ini sudah melampaui batas kewajaran karena adanya unsur manipulasi kognitif terhadap penerima bantuan.
    Rakyat digiring untuk merasa berhutang budi kepada figur politisi, padahal sejatinya mereka sedang menerima kembali hak mereka sendiri yang dikelola oleh negara.
    Hilangnya rasa malu atau
    shame culture
    di kalangan elite politik kita menjadi faktor determinan mengapa praktik semacam ini terus berulang, bahkan semakin masif.
    Dalam etika publik yang standar, seorang pejabat seharusnya merasa risih jika harus mengklaim uang publik sebagai uang pribadinya, apalagi memamerkannya di depan rakyat yang sedang kesusahan.
    Namun, urat malu itu tampaknya sudah putus digantikan oleh pragmatisme kekuasaan yang menghalalkan segala cara demi mendongkrak popularitas dan elektabilitas.
    Mereka tidak lagi melihat Bansos sebagai instrumen teknokratis untuk menanggulangi kemiskinan, melainkan sebagai amunisi politik untuk melanggengkan kekuasaan atau membangun dinasti.
    Ketika “kepentingan” telah menjadi panglima, maka rambu-rambu moral dan etika kepatutan otomatis akan diterabas tanpa rasa bersalah sedikitpun.
    Praktik manipulasi label bantuan ini juga mencerminkan betapa rendahnya pandangan para elite politik terhadap tingkat literasi politik rakyatnya sendiri.
    Mereka berasumsi bahwa rakyat di akar rumput tidak akan kritis bertanya dari mana asal usul dana bantuan tersebut, asalkan kebutuhan perut mereka terpenuhi sesaat.
    Ini adalah bentuk penghinaan intelektual terhadap pemilih, yang dianggap hanya sebagai objek pasif yang bisa dibeli dengan sekarung beras atau tandon air bertuliskan nama besar.
    Padahal, transparansi dan akuntabilitas adalah fondasi utama dalam tata kelola pemerintahan yang baik, termasuk dalam hal penyaluran bantuan sosial.
    Ketika transparansi itu dikaburkan dengan label personal, maka sejatinya sedang terjadi pembodohan publik secara sistematis dan terstruktur.
    Di negara-negara maju dengan tradisi demokrasi yang lebih mapan, praktik mengklaim uang negara sebagai bantuan pribadi pejabat bisa berujung pada skandal politik besar, bahkan tuntutan hukum.
    Di Skandinavia atau Eropa Barat, misalnya, bantuan sosial selalu disalurkan atas nama institusi negara atau lembaga kesejahteraan sosial, tanpa embel-embel nama perdana menteri atau presiden.
    Sistem di sana dibangun di atas prinsip impersonalitas, di mana negara hadir sebagai entitas abstrak yang melayani warga, bukan sebagai perpanjangan tangan pribadi penguasa.
    Pejabat publik di sana sadar betul bahwa mereka hanyalah administrator yang diberi mandat untuk mengelola uang rakyat, bukan pemilik uang tersebut yang bisa membagi-bagikannya sesuka hati demi pencitraan.
    Berbeda halnya dengan konteks politik di Indonesia, di mana kultur neo-patrimonialisme masih mencengkeram kuat relasi antara pemimpin dan rakyat.
    Dalam kultur ini, batas antara ranah publik (negara) dan ranah privat (pribadi pejabat) menjadi kabur dan seringkali sengaja dikaburkan untuk keuntungan penguasa.
    Bansos diperlakukan layaknya upeti atau hadiah dari seorang raja kepada kawula alit, yang menuntut balasan berupa kepatuhan dan dukungan politik mutlak.
    Mentalitas feodalistik inilah yang membuat para politisi kita merasa sah-sah saja menempelkan wajah mereka di karung bansos atau tandon air, seolah mereka adalah dermawan agung.
    Padahal, tindakan tersebut hanyalah bentuk penyelewengan simbolik yang mencederai prinsip keadilan dan kesetaraan dalam demokrasi modern.
    Akibat dari personalisasi bantuan ini sangat serius, yakni rusaknya rasionalitas pemilih dalam menentukan pilihan politik mereka di bilik suara.
    Ketika pemilih merasa berhutang budi secara personal kepada seorang kandidat atau pejabat karena bantuan yang diterimanya, maka pertimbangan objektif mengenai visi, misi, dan kompetensi kandidat menjadi nomor dua.
    Hal ini menciptakan iklim demokrasi yang tidak sehat, di mana kompetisi politik tidak lagi didasarkan pada adu gagasan, melainkan adu logistik dan seberapa besar kemampuan kandidat memanipulasi bantuan.
    Jangka panjangnya, kualitas pemimpin yang dihasilkan dari proses semacam ini tentu akan merosot, karena yang terpilih adalah mereka yang pandai memoles citra dengan uang orang lain, bukan mereka yang benar-benar kompeten bekerja.
    Tidak hanya itu, fenomena ini juga menciptakan ketidakadilan bagi kompetitor politik lain yang mungkin memiliki integritas lebih baik, tapi tidak memiliki akses terhadap sumber daya negara atau dana taktis.
    Kompetisi menjadi tidak seimbang atau
    unlevel playing field
    , karena petahana atau politisi yang memiliki akses kekuasaan dapat menggunakan fasilitas negara untuk kampanye terselubung.
    Ini adalah bentuk korupsi politik yang halus, tapi mematikan, karena ia menggerogoti prinsip
    fairness
    dalam kontestasi demokrasi.
    Bantuan sosial yang seharusnya menjadi jaring pengaman bagi warga miskin, justru dibajak menjadi alat untuk mematikan peluang lawan politik dan mengonsolidasikan kekuasaan segelintir elite.
    Perlu ditegaskan kembali bahwa sumber dana Bansos negara adalah pajak, dan pajak adalah instrumen gotong royong modern yang paling nyata dalam negara bangsa.
    Ketika seorang presiden, menteri, atau kepala daerah mengklaim Bansos itu sebagai bantuannya, ia sedang melakukan pengkhianatan terhadap semangat gotong royong seluruh pembayar pajak.
    Ia sedang mencuri kredit moral yang seharusnya menjadi milik kolektif seluruh rakyat Indonesia yang telah taat membayar kewajibannya kepada negara.
    Seharusnya, narasi yang dibangun adalah “Bantuan dari Rakyat Indonesia”, bukan bantuan dari Bapak A atau Ibu B, karena sejatinya negaralah yang memfasilitasi redistribusi kekayaan tersebut.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 7
                    
                        Karir 33 Tahun Terancam Usai Viral Ludahi Kasir, Dosen UIM Makassar Minta Damai Secara Kekeluargaan
                        Regional

    5 Dosen di Makassar yang Ludahi Kasir Angkat Bicara, Mengaku Tidak Dihargai Makassar

    Dosen di Makassar yang Ludahi Kasir Angkat Bicara, Mengaku Tidak Dihargai
    Tim Redaksi
    MAKASSAR, KOMPAS.com
    – AS, seorang pria yang berprofesi sebagai dosen di universitas di Makassar angkat bicara setelah videonya yang meludahi seorang kasir swalayan viral di media sosial. 
    Amal bercerita, saat itu dirinya memang sedang berbelanja camilan di swalayan tersebut.
    Dia juga membantah telah menyerobot antrean seperti narasi di media sosial.
    “Awalnya memang saya singgah untuk membeli camilan, setelah saya ambil belanjaan, turunlah saya ke kasir, saya antre di situ, saya sama sekali tidak menyerobot, saya ikut antrean,” ucap Amal dikonfirmasi
    Kompas.com
    , Minggu (28/12/2025).
    Saat tengah mengantre, kasir yang tidak berada jauh darinya sudah kosong.
    Dia pun berinisiatif untuk pindah ke kasir tersebut.
    “Saya lihat ada kasir yang sudah kosong antreannya, jadi maksud saya supaya lebih ringkas apalagi masih ada orang di belakang saya, akhirnya saya ke sebelah ke kasir yang sudah kosong antreannya,” kata dia.
    Amal menyampaikan, pelayanan petugas kasir swalayan saat itu profesional seperti biasa.
    Tepat saat belanjaan Amal hendak dibungkus oleh petugas lainnya, dia pun ditegur karena dianggap menyerobot antrean.
    “Pas saya di depan petugas yang
    packing
    belanjaan saya itu, di situ saya mendapat perlakuan tidak menyenangkan oleh petugas itu. Dia bilang ke saya, ‘Kenapa Bapak tidak antre?’, jadi saya bingung, harus antre bagaimana? Sementara kasir yang saya tempati kosong,” kata Amal.
    Petugas itu pun mengarahkan Amal untuk tetap mengantre di tempat awalnya.
    Di situ, Amal pun
    merasa tidak dihargai
    hingga spontan meludahi petugas wanita berinisial N (21) tersebut.
    “Saya merasa tidak harus ke sana. Mungkin bisa dilihat rekaman CCTV itu, antrean saya kosong. Setelah saya ditegur itu saya merasa dilecehkan, merasa dihina, saya ini orang tua, masa saya diperlakukan seperti itu. Kalau orang Bugis-
    Makassar
    diperbuat begitu kayak seperti tidak menghargai, dihinakan, begitu saya rasakan saat itu,” ujarnya.
    Amal juga mengaku tidak secara langsung meludahi wajah petugas wanita tersebut.
    “Setelah saya bayar belanjaan, saya emosi sekali di situ. Saya ludahi bajunya, tidak benar itu saya ludahi mukanya, kesal sekali saya diperlakukan seperti itu, kayaknya tidak ada sekali harga diri saya,” tutur dia.
    Amal juga mengeklaim bahwa dirinya sama sekali tidak melanggar aturan. Dia hanya berpindah antrean kasir yang sudah kosong.
    “Kan tidak melanggar kalau pindah antrean, kalau memang sudah kosong kan. Tidak ada larangan, wajar saya pindah kan. Itu juga tidak terlalu ramai saat itu,” ucap dia.
    Sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan seorang pria dengan arogan meludahi seorang kasir di salah satu swalayan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
    Berdasarkan informasi, aksi yang dilakukan pria tersebut karena tidak terima ditegur oleh kasir wanita lantaran menyerobot antrean ketika hendak membayar belanjaan.
    Dari video yang dilihat, awalnya pria tersebut tampak marah kepada kasir wanita tersebut.
    Tidak lama, pria yang mengenakan kaus berwarna hitam itu langsung meludahi kasir wanita itu.
    Dari keterangan yang didapat, peristiwa itu terjadi di salah satu swalayan yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, pada Rabu (24/12/2025).
    Kasus ini masih diselidiki kepolisian dengan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 9
                    
                        Wisatawan Keluhkan Asap Sate di Malioboro, Satpol PP Kota Yogyakarta Minta Lapor ke Pos Nataru
                        Yogyakarta

    9 Wisatawan Keluhkan Asap Sate di Malioboro, Satpol PP Kota Yogyakarta Minta Lapor ke Pos Nataru Yogyakarta

    Wisatawan Keluhkan Asap Sate di Malioboro, Satpol PP Kota Yogyakarta Minta Lapor ke Pos Nataru
    Tim Redaksi
    YOGYAKARTA, KOMPAS.com
    – Viral di media sosial wisatawan yang berkunjung ke kawasan Jalan Malioboro mengeluh karena asap sate yang berlebih.
    Keluhan tersebut disampaikan melalui media sosial Instagram.
    “Permisi min mau curhat sedikit saya udah beberapa hari di daerah Malioboro dan tadi saya berbelanja di salah satu toko di Malioboro tepatnya di depan masjid depan Kantor DPRD DIY gang Sosrowijayan, saya berbelanja di toko tersebut panas banget ditambah asap tukang sate yang tak beraturan dan saya kasihan sama karyawan dan yang punya toko karna beberapa tak jadi berbelanja karna asap sate tersebut bahkan ada karyawan sampe sakit mata bahkan menangis karna asap sate tersebut,”
    demikian keterangan yang diunggah di Instagram oleh salah satu
    wisatawan
    .
    Menanggapi keluhan ini, Kepala
    Satpol PP
    Kota
    Yogyakarta
    , Octo Noor Arafat mengatakan, pihaknya beberapa kali telah melakukan patroli dan telah melakukan tindakan tipiring kepada penjual sate yang berjualan.
    “Dulu pernah melakukan tipiring, berulang kali kita melakukan penyitaan,” ujar Octo saat dihubungi, Minggu (28/12/2025).
    Ia menyampaikan, dalam waktu dekat pihaknya segera melakukan koordinasi dengan UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta untuk lebih memperketat kawasan Malioboro.
    “Ini kan kami gabungan di Malioboro sudah rutin patroli cuma kan mereka kucing-kucingan. Kita lewat mereka ngilang, kalau kita enggak di situ muncul di tempat lain,” ujar dia.
    Para pedagang sate keliling ini, kata dia, berpindah-pindah saat berjualan.
    Pada waktu Satpol PP Kota Yogyakarta mendapatkan laporan penjual sate berjualan di Pasar Kembang dan ditindaklanjuti, para pedagang sudah tak lagi berjualan di Pasar Kembang dan sudah pindah ke Jalan Suryatmajan.
    “Mereka itu muter-muter,” katanya.
    Octo menyampaikan, jika wisatawan ada keluhan terkait pedagang sate atau pedagang apa pun, wisatawan dapat melapor ke pos-pos jaga yang sudah disediakan Pemerintah Kota Yogyakarta.
    “Di tiap tempat kan ada teman-teman UPT yang
    stand by
    menggunakan seragam khusus di beberapa pos, sebenarnya pengunjung bisa langsung melaporkan, enggak harus diviralkan ke media sosial,” ujar dia.
    “Ada pos-posnya termasuk ada pos Satpol PP yang ada di depan Hotel Mutiara,” kata dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 2
                    
                        Bantah Terlibat Pengusiran Nenek Elina, Ormas Madas: Pak Armuji Mem-"framing", Itu Bohong
                        Surabaya

    2 Bantah Terlibat Pengusiran Nenek Elina, Ormas Madas: Pak Armuji Mem-"framing", Itu Bohong Surabaya

    Bantah Terlibat Pengusiran Nenek Elina, Ormas Madas: Pak Armuji Mem-“framing”, Itu Bohong
    Tim Redaksi
    SURABAYA, KOMPAS.com
    – Pihak Organisasi masyarakat (ormas) Madura Asli (Madas) mengaku telah menemui nenek 80 tahun, Elina Wijayanti, korban pengusiran dan perobohan rumah secara paksa oleh sekelompok orang.
    Mulanya, pihak keluarga menduga sekelompok orang tersebut berasal dari ormas Madas. 
    Ketua Umum DPP Madas Sedarah, Moh Taufik mengatakan, pihaknya telah menemui Elina untuk melakukan klarifikasi di kediamannya saat ini, di Kawasan Balongsari, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat (26/12/2025).
    “Pihak pengurus juga telah menyambangi
    nenek Elina
    kemarin, buat kita mengobrol dan mengklarifikasi terkait kejadian tersebut,” kata Taufik saat dihubungi
    Kompas.com
    , Sabtu (27/12/2025).
    Pihak Madas telah menyampaikan bahwa sekelompok orang tersebut bukanlah berasal dari anggota mereka.
    “Kami tegaskan kalau sekelompok orang itu tidak ada hubungannya dengan anggota Madas,” ujarnya.
    Ia menyebut, empat dari lima orang yang melakukan pengusiran bukanlah dari ormas Madas.
    Adapun satu orang lainnya bernama Muhammad Yasin baru gabung menjadi anggota pada Oktober 2025.
    “Yang Pak Wakil Wali Kota Surabaya mem-
    framing,
    ada tulisan Madas, itu bohong besar. Itu yang kami sesali,” ujar dia. 
    “Yang Pak Yasin itu baru gabung Oktober, yang lainnya kami tidak kenal, silakan dicek KTA-nya (kartu tanda anggota), identitasnya dicek,” kata dia.
    Meskipun begitu, Madas juga akan tetap terbuka pada setiap kritik, saran, dan masukan apabila ada anggotanya melakukan tindakan melanggar hukum untuk ke depannya.
    “Tapi, jangan juga langsung menggeneralisasi semua anggota Madas melakukan hal demikian, tidak begitu,” tuturnya.
    Taufik mengatakan, saat ini LBH Madas tengah mengkaji beberapa tindakan
    cyberhate
    di media sosial untuk mengumpulkan bukti dalam melakukan upaya hukum.
    Ia berharap, proses penegakan hukum secara adil dapat dilakukan antara kedua belah pihak.
    “Silakan lakukan upaya-upaya hukum, tetapi dengan sesuai dengan hukum dan berkeadilan,” tuturnya.
    “Jangan sampai
    framing
    ini, Polda Jawa Timur dalam hal ini melakukan proses penyelidikan maupun pengidikan itu merasa tertekan, tidak boleh begitu,” ujar dia.
    Ia juga siap mengawal perkara tersebut melalui berbagai program-program dan edukasi terhadap masyarakat.
    “Kurang lebih ada 15 ambulans yang kami abdikan. Kami punya program-program yang dalam rangka untuk sama-sama mengawal penegakan dan edukasi terhadap masyarakat,” kata Taufik. 
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 9
                    
                        Heboh Patung Macan Putih di Kediri yang Mirip Zebra, Kades Beri Penjelasan
                        Surabaya

    9 Heboh Patung Macan Putih di Kediri yang Mirip Zebra, Kades Beri Penjelasan Surabaya

    Heboh Patung Macan Putih di Kediri yang Mirip Zebra, Kades Beri Penjelasan
    Tim Redaksi
    KEDIRI, KOMPAS.com
    – Keberadaan sebuah patung macan di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menyita perhatian publik, terutama di dunia maya.
    Bentuk
    patung macan
    hitam putih berukuran panjang 1,5 meter, lebar 1 meter, serta tinggi keseluruhan termasuk pondasi tumpuan 2,5 meter itu menjadi sorotan. 
    Bentuk patung yang baru saja selesai pembangunan tersebut dianggap gagal menghadirkan sosok harimau karena tidak mewakili penampakan sebagaimana wujud realita harimau pada umumnya.
    Selain itu, bentuknya juga tidak proporsional. Lebih mirip gabungan dari hewan kuda nil, zebra, dan tapir.
    Namun demikian, tak sedikit yang mempunyai sudut pandang berbeda bahkan mengapresiasinya. Kubu ini memandangnya sebagai sebuah luapan ekspresi seni.
    “Kalau aliran surealis, ya suka-suka seniman pematungnya. Juga ada ekspresionisme, yang enggak melulu meniru alam,” ujar M Prastiyo, seorang pelaku seni, Minggu (18/12/2025).
    Oleh sebab itu, pria yang akrab dengan sapaan Cak Mad ini mengatakan, perlu ditinjau latar belakang dan fungsi pembuatan patung tersebut untuk mengetahui kejelasannya.
    “Makanya perlu dicek latarbelakang dan fungsi maupun kesepakatan awal pembangunan patung tersebut,” ucap Cak Mad.
    Sementara itu, Kepala
    Desa Balongjeruk
    , Safii mengatakan, pembuatan patung tersebut merupakan inisiatifnya yang sebelumnya telah mendapatkan persetujuan melalui sejumlah rapat desa.
    “Tujuannya adalah untuk mengangkat legenda desa sebagai
    ikon desa
    . Kebetulan desa kami ada
    legenda macan putih
    ,” ujar Safi’i pada
    Kompas.com
    , Sabtu (27/12/2025).
    Safi’i mengatakan, niatan awal pembangunan patung tersebut cukup mulia karena untuk menjunjung tinggi legenda desa yang selama ini terpelihara secara turun temurun melalui tutur lisan.
    Untuk itu, dia berupaya mengangkatnya menjadi ikon desa supaya mempertegas cerita tersebut sekaligus sebagai pengingat bagi generasi selanjutnya.
    Atas niatan itu pula, dirinya mulai mencari pembuat patung. Kebetulan terdapat warga setempat yang juga selama ini dikenal sebagai pembuat patung.
    Patung yang terbuat dari campuran besi dan semen tersebut mulai dikerjakan bulan lalu dan berhasil selesai dalam tenggat waktu 18 hari.
    “Namun ternyata setelah selesai, banyak mendapatkan respons dari masyarakat,” ujar Safi’i.
    Dia juga merasa kaget dengan hasil pembuat patung tersebut yang ternyata wujudnya jauh dari perencanaan awal.
    “Ternyata hasilnya seperti yang kita ketahui itu,” ujar dia.
    Meski demikian, dalam menyikapi viralnya patung tersebut, pihaknya tidak lantas gerah apalagi memarahi pembuat patungnya.
    Ia menganggap semuanya adalah masukan untuk pengembangan kemajuan desanya.
    “Semuanya kita tampung karena kritik dan saran itu sangat penting bagi kemajuan bersama,” kata Safi’i. 
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 10
                    
                        Ketika Kantor Pemkot Tangsel Jadi Tempat Pembuangan Sampah…
                        Megapolitan

    10 Ketika Kantor Pemkot Tangsel Jadi Tempat Pembuangan Sampah… Megapolitan

    Ketika Kantor Pemkot Tangsel Jadi Tempat Pembuangan Sampah…
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com 
    – Kantor Wali Kota Tangerang Selatan sempat dijadikan tempat pembuangan sampah pada Jumat (26/12/2025).
    Berdasarkan video yang beredar,
    sampah
    terlihat dimasukkan ke dalam plastik berwarna merah, hitam, dan putih. Plastik-plastik warna-warni itu lalu ditumpuk dan disusun berjajar di gerbang masuk kantor pemerintahan tersebut.
    Aksi itu dilakukan sekitar 20 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sebagai bentuk protes terhadap persoalan sampah di
    Tangsel
    yang dinilai tak kunjung terselesaikan.
    Spanduk bertuliskan “Buang Sampah atau Pemerintah” ikut terbentang di lokasi. Sejumlah petugas keamanan tampak berjaga selama aksi berlangsung.
    Berdasarkan pantauan Kompas.com, Sabtu (27/12/2025) pagi, tak ada lagi tumpukan sampah di depan kantor Wali Kota Tangsel.
    Ketua
    BEM UMJ
    , Muhammad Iqbal Ramdhani (23), menegaskan aksi simbolik itu merupakan kritik terhadap pemerintah kota yang dianggap gagal mengantisipasi krisis sampah.
    Menurut dia, persoalan makin parah setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang ditutup warga yangmembuat sampah semakin menumpuk.
    “Kami ingin menyampaikan bahwa persoalan sampah di Tangsel ini sudah menjadi
    problem
    panjang dan perlu perhatian serius dari Wali Kota,” ujar Iqbal saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (27/12/2025).
    Mahasiswa meminta pemerintah menyiapkan langkah jangka panjang, bukan sekadar penanganan sementara agar permasalahan sampah di Tangsel tidak terulang lagi.
    “Kami minta ada langkah konkret dari Wali Kota, baik itu penanggulangan, penambahan fasilitas pendukung pengolahan sampah, maupun optimalisasi sistem pembuangan sampah di Tangsel,” jelas dia.
    Dalam aksinya, BEM UMJ menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:
    Mahasiswa mengaku aksi dimulai pukul 14.00 WIB dengan mengambil sampah dari wilayah Ciputat, lalu membawanya ke kantor
    Pemkot Tangsel
    sekitar pukul 17.00 WIB. Aksi berakhir pada 18.00 WIB.
    Iqbal menyatakan, mahasiswa akan memantau respons Pemkot Tangsel mulai Senin.
    Jika tuntutan tak direspons, mereka siap turun kembali.
    “Karena ini menyangkut kesehatan masyarakat dan dampaknya bisa panjang kalau tidak segera ditangani,” kata dia.
    Di tengah gelombang protes, Pemerintah Kota Tangsel menetapkan status tanggap darurat pengelolaan sampah selama 14 hari, dari 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.
    Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Wali Kota Nomor 600.1.17.3/Kep.500-Huk/2025.
    Kepala Dinas Kominfo TB Asep Nurdin menyebut penetapan status khusus diperlukan agar penanganan berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.
    “Terkait status tanggap darurat pengelolaan sampah, kami telah menetapkannya melalui Keputusan Wali Kota Nomor 600.1.17.3/Kep.500-Huk/2025,” ujar TB Asep Nurdin saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (27/12/2025).
    Status tanggap darurat tersebut berlaku selama dua pekan. Masa tanggap darurat bisa diperpanjang jika situasi belum terkendali
    “Status tanggap darurat ini dapat kami perpanjang sesuai kebutuhan,” kata Asep.
    Sekretaris BPBD Tangsel, Essa Nugraha, menjelaskan pemerintah membentuk sistem komando tanggap darurat, termasuk satuan tugas khusus penanganan sampah.
    Satgas akan menyusun rencana operasi, mulai dari aktivasi, koordinasi, pengendalian, monitoring, hingga evaluasi. Setiap instansi akan memiliki tugas jelas, termasuk pengawasan dan pembinaan selama masa darurat.
    “Tugas utamanya adalah membuat rencana operasi penanganan darurat yang tahapannya dimulai dari aktivasi, koordinasi, pengendalian, monitoring, hingga evaluasi,” kata Essa.
    Menurut dia, seluruh proses akan dituangkan dalam laporan pertanggungjawaban. Sanksi akan diberlakukan jika ditemukan penyimpangan dalam pelaksanaan.
    “Pelaksanaan dari pengelolaan tanggap darurat sampah tentunya akan disusun dalam sebuah laporan pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan darurat sampah, kaitan dengan sanksi dan hukuman ya tentunya diberlakukan terhadap adanya penyimpangan,” ujar Essa.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.