Category: Kompas.com Metropolitan

  • Bukan Kembang Api, TMII Nyalakan 1.000 Lilin pada Malam Tahun Baru
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Bukan Kembang Api, TMII Nyalakan 1.000 Lilin pada Malam Tahun Baru Megapolitan 28 Desember 2025

    Bukan Kembang Api, TMII Nyalakan 1.000 Lilin pada Malam Tahun Baru
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Langit Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, dipastikan tidak akan dihiasi oleh letupan kembang api pada malam tahun baru, Rabu (31/12/2025).
    Sebagai gantinya, pihak pengelola akan menggelar penyalaan 1.000 lilin sebagai simbol solidaritas untuk korban bencana alam di Sumatera.
    Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Pol Alfian Nurrizal, menegaskan bahwa perayaan tahun baru kali ini akan difokuskan pada doa dan refleksi, bukan pesta.
    “Kami sangat empati terhadap saudara-saudara kita yang saat ini sedang berduka. Kami tidak ada melakukan untuk pesta kembang api, tapi melainkan untuk merayakan dengan 1.000 lilin yang akan kita nyalakan di Taman Mini Indonesia Indah,” kata Alfian kepada wartawan di TMII, Minggu (28/12/2025).
    Alfian menjelaskan, kebijakan ini juga sejalan dengan instruksi pemerintah untuk menjaga suasana kondusif dan penuh tenggang rasa selama malam pergantian tahun.
    “Selain himbauan, surat jelas dari Bapak Kapolri dan juga Bapak Kapolda memerintahkan kami untuk tidak ada izin melakukan kegiatan pesta kembang api,” kata dia.
    Senada, Plt Direktur Utama TMII Ratri Paramita menyebutkan bahwa absennya pesta kembang api tidak akan mengurangi esensi perayaan tahun baru.
    Momen ini justru akan dimanfaatkan untuk menggalang dana kepedulian pengunjung untuk korban bencana di Sumatera.
    “Tadi disampaikan Pak Kapolres kita dengan 1.000 lilin. Itu sebenarnya sudah menandakan bentuk syukur kita. Dan juga yang berbeda di pekan Nataru ini, kami memang ada penggalangan dana untuk Sumatera,” kata Mita.
    Pihak TMII bekerja sama dengan platform Kitabisa untuk memfasilitasi donasi pengunjung.
    Pengunjung dapat menyalurkan bantuan dengan mudah melalui pemindaian
    barcode
    yang tersedia di berbagai titik TMII.
    “Di masing-masing lokasi kalau dilihat itu di TV-TV kita, lalu di
    videotron
    kita ada
    barcode
    itu dengan Kitabisa yang mana langsung disalurkan ke situ,” kata Mita.
    “Nah itu yang memang seharusnya bentuk simpatik dan bentuk suka ria yang memang kita galangkan bersama,” imbuh dia.
    Meskipun tanpa kembang api, Mita menyebut antusiasme masyarakat tetap tinggi, dengan catatan pengunjung harian mencapai 18.600 orang pada Minggu sore pukul 15.00 WIB.
    Mita pun menargetkan 50.000 pengunjung akan hadir pada malam puncak 31 Desember nanti, dengan panggung hiburan yang diisi musisi ternama.
    “Puncaknya tanggal 31 nanti ada Slank. Jadi teman-teman nanti silakan datang. Ada Slank, Barasuara, Vierratale, dan nanti tanggal 2 (Januari) juga masih ada NDX,” ungkap Mita.
    Demi memastikan suasana khidmat dan aman, polisi akan menindak tegas pengunjung yang nekat membawa petasan ataupun kembang api ke TMII.
    Barang bawaan seluruh penjunjung akan dicek mulai dari Pintu 1, Pintu 3, hingga area konser.
    “Nanti akan kami lakukan pengecekan di pintu 1, pintu Kami juga ada dua pintu yang akan kami lakukan
    sweeping
    , antisipasi terhadap benda-benda yang terlarang baik benda tajam maupun adanya membawa petasan,” kata Alfian.
    Ia juga akan menjatuhkan sanksi pidana bagi pelanggar yang mengganggu ketertiban perayaan di TMII.
    “Tentunya apabila membawa yang tidak sesuai dengan aturan kita kenakan aturan hukum yang berlaku, mungkin dikenakan Undang-Undang Darurat,” ucap dia.
    Adapun, sebanyak 277 personel gabungan dari Polres Jakarta Timur, Brimob, dan Ditpamobvit Polda Metro Jaya dikerahkan untuk mengamankan lokasi hingga 2 Januari 2026 mendatang.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Polisi Periksa Dua Saksi Kasus Istri Dianiaya Suami di Depok
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Polisi Periksa Dua Saksi Kasus Istri Dianiaya Suami di Depok Megapolitan 28 Desember 2025

    Polisi Periksa Dua Saksi Kasus Istri Dianiaya Suami di Depok
    Tim Redaksi
    DEPOK, KOMPAS.com –
    Polisi memeriksa dua saksi terkait kasus suami berinisial RA menganiaya istrinya AA di Depok.
    Dua saksi yang diperiksa, yakni orangtua korban AF sekaligus pelapor dan sepupu korban APT.
    Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Depok, AKP Sutaryo, mengatakan, korban saat ini menjalani operasi mata dan perawatan intensif di RS Cipto Mangunkusumo.
    “Penyidik sudah mengecek kondisi korban di RS Cipto Mangunkusumo. Saat ini korban sedang menjalani operasi mata kiri akibat
    luka parah
    yang dialaminya,” ujar Sutaryo saat dihubungi, Minggu (28/12/2025).
    Ia menjelaskan, selain luka robek di pelipis kiri, korban juga mengalami memar parah pada bola mata kiri serta cedera pada bagian paha akibat diinjak oleh pelaku.
    Kepala Seksi Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi S, mengatakan kejadian berlangsung pada Selasa (23/12/2025) sekitar pukul 12.00 WIB di Jalan Komplek BNI Jalur Melati III, Kelurahan Bedahan, Sawangan, Depok.
    Pelaku RA awalnya mengambil dan memainkan ponsel korban AA yang masih berada di sampingnya untuk bermain gim.
    “Peristiwa ini bermula dari perselisihan terkait penggunaan telepon genggam,” ujar Made.
    Saat korban mencoba mengambil kembali ponselnya, terjadi tarik-menarik selama sekitar satu menit.
    Karena tidak berhasil, korban memukul pelaku sekali di wajah.
    Kesal, pelaku membanting ponsel korban, yang kemudian dibalas korban dengan menjambak rambut pelaku.
    Kejadian itu terus berlanjut dengan saling melempar ponsel, saling memukul, dan menimbulkan cedera pada korban.
    Keributan baru berhenti saat sepupu AA, APT datang dan mencoba melerai dengan memeluk korban.
    Namun, pelaku kembali memukul korban menggunakan ponsel yang dilemparkan ke wajah korban, menyebabkan luka di pelipis kiri.
    Akibat
    penganiayaan
    tersebut, korban AA mengalami luka robek pada pelipis kiri serta memar pada mata kiri.
    Atas perbuatannya, pelaku RA dijerat Pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
    Kekerasan Dalam Rumah Tangga
    .
    Hingga kini, penyidik masih mendalami kasus ini untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pengunjung Minta Kuota Tiket Planetarium Diperbanyak, Akses Pembelian Lebih Tertata
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Pengunjung Minta Kuota Tiket Planetarium Diperbanyak, Akses Pembelian Lebih Tertata Megapolitan 28 Desember 2025

    Pengunjung Minta Kuota Tiket Planetarium Diperbanyak, Akses Pembelian Lebih Tertata
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan Planetarium dan Observatorium Jakarta tetap tinggi, namun keterbatasan kuota harian membuat beberapa pengunjung berharap sistem pembelian tiket lebih tertata.
    Ayu (23), salah satu pengunjung yang datang bersama teman-temannya, menilai jumlah tiket saat ini masih terlalu sedikit untuk menampung minat pengunjung pada hari libur.
    “Kalau bisa, tiket diperbanyak. Banyak orang yang datang jauh-jauh tapi tidak kebagian,” ujar Ayu saat ditemui
    Kompas.com
    di lokasi, Minggu (28/12/2025).
    Ayu sendiri juga kecewa karena tidak kebagian tiket.
    Namun, ia berharap informasi soal kuota harian dan jadwal pertunjukan lebih mudah diakses secara daring.
    “Pengumuman kuota di web atau Instagram harus jelas, supaya orang bisa tahu sejak awal, tidak antre sia-sia,” kata Ayu.
    Ia juga menekankan pentingnya sistem
    waiting list
    yang transparan.
    “Kalau ada
    waiting list
    , nomor antrean harus bisa dicek secara
    online
    , jadi tidak bingung datang tapi nggak kepastian,” tambahnya.
    Hal serupa disampaikan Fahrezi (27), pengunjung lainnya, yang datang bersama adiknya.
    Ia menekankan bahwa kuota terbatas sering membuat pengalaman liburan keluarga kurang optimal.
    “Anak-anak sudah
    excited
    tapi begitu tahu tiket habis, kecewa. Kalau kuota diperbanyak, pasti lebih banyak yang bisa ikut belajar di sini,” kata Fahrezi.
    Ia juga meminta agar informasi pembelian tiket lebih mudah diakses, termasuk pengumuman kuota harian dan pembaruan di media sosial resmi Planetarium.
    “Kalau semua informasi
    update
    di Instagram atau web, kita bisa rencanakan datang tanpa harus antre panjang,” ujarnya.
    Selain itu, Fahrezi berharap pengelola bisa menambah jam operasional atau sesi pertunjukan pada masa libur, agar pengunjung lebih banyak terlayani.
    “Kalau bisa ada tambahan sesi, apalagi pas libur sekolah. Jadi enggak ada yang pulang kecewa,” tambah Fahrezi.
    Pengamatan
    Kompas.com
    di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, menunjukkan antrean pengunjung mengular sejak pagi hari.
    Beberapa pengunjung terlihat rela duduk lesehan di lantai sambil menunggu giliran, termasuk keluarga yang datang bersama anak-anak.
    Petugas Planetarium mengumumkan bahwa kuota harian tetap dibatasi demi kenyamanan pengunjung dan kelancaran pertunjukan.
    Namun, antusiasme masyarakat, terutama di masa libur sekolah dan libur akhir tahun, membuat keterbatasan kuota menjadi sorotan utama.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Istri yang Dianiaya Suami di Depok Jalani Operasi Mata
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Istri yang Dianiaya Suami di Depok Jalani Operasi Mata Megapolitan 28 Desember 2025

    Istri yang Dianiaya Suami di Depok Jalani Operasi Mata
    Tim Redaksi
    DEPOK, KOMPAS.com –
    Seorang istri berinisial AA menjadi korban dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh suaminya, RA di Sawangan, Kota Depok.
    Akibat
    penganiayaan
    tersebut, korban harus menjalani operasi pada bagian mata kiri di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
    Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Depok, AKP Sutaryo, mengatakan pelaku masih dalam proses pemeriksaan oleh penyidik.
    “Pelaku masih dilakukan pemeriksaan. Untuk korban, penyidik juga sudah mengecek ke RSCM karena saat ini korban sedang menjalani
    operasi mata
    ,” kata Sutaryo saat dikonfirmasi
    Kompas.com
    , Minggu.
    Sutaryo menjelaskan, dalam penanganan perkara ini, penyidik telah memeriksa dua orang saksi. Keduanya merupakan orang terdekat korban.
    “Dua saksi sudah diperiksa, yaitu orangtua korban dan sepupu korban,” ujar dia.
    Peristiwa penganiayaan tersebut dipicu oleh perselisihan antara korban dan pelaku terkait penggunaan telepon genggam.
    Awalnya, pelaku meminjam ponsel milik korban untuk bermain gim. Namun, situasi memanas ketika korban berniat meminta kembali ponsel miliknya.
    Pelaku menolak mengembalikan ponsel tersebut dan justru membantingnya ke lantai.
    Keributan pun terjadi hingga berujung pada tindakan kekerasan fisik.
    Secara tiba-tiba, pelaku memukul korban menggunakan ponsel yang telah dibanting hingga mengenai mata kiri korban.
    Tak berhenti di situ, pelaku kembali memukul wajah korban. Korban juga mengalami cedera pada bagian paha akibat diinjak oleh pelaku.
    “Akibat penganiayaan berat itu, korban mengalami luka robek di pelipis kiri serta memar parah pada bola mata kiri,” kata Sutaryo.
    Sementara itu, Kepala Seksi Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi S, mengatakan bahwa kasus tersebut ditangani sebagai tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga.
    “Kejadian ini merupakan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga sesuai dengan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004,” ujar Made.
    Berdasarkan laporan kepolisian, peristiwa tersebut terjadi di sebuah rumah di Jalan Komplek BNI Jalur Melati III, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Selasa (23/12/2025) sekitar pukul 15.30 WIB.
    Laporan kasus ini dibuat oleh IF, saksi sekaligus orangtua korban.
    Dalam kronologinya, Made menjelaskan bahwa peristiwa bermula sekitar pukul 12.00 WIB, saat pelaku baru bangun tidur di ruang tamu dan melihat baterai ponselnya habis.
    Pelaku kemudian mengisi daya ponselnya dan mengambil ponsel milik korban untuk bermain gim, sementara korban masih tidur di sampingnya.
    Ketika korban terbangun dan berusaha mengambil kembali ponselnya, pelaku menahan dan terjadi tarik-menarik.
    Situasi semakin memanas hingga terjadi saling pukul antara korban dan pelaku.
    Pelaku kemudian membanting ponsel milik korban ke lantai dan kembali melemparkannya ke tembok hingga pecah.
    Dalam pertengkaran tersebut, pelaku memukul wajah korban hingga menyebabkan memar di pelipis kiri.
    Saat korban meminta ponselnya dengan berteriak, pelaku melempar ponsel yang sudah hancur ke arah korban hingga mengenai wajah kiri dan menyebabkan luka.
    Saksi lain sekaligus sepupu korban, APT, sempat melerai pertengkaran.
    Namun, pelaku masih sempat menarik korban hingga terjatuh dan menginjak paha kanan korban sebelum akhirnya dilerai dan dipisahkan.
    Hingga kini, polisi masih mendalami kasus tersebut dan menunggu kondisi korban stabil untuk proses hukum selanjutnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Lansia Dapat Kartu Layanan Gratis Transportasi: Lumayan Sangat Bermanfaat
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Lansia Dapat Kartu Layanan Gratis Transportasi: Lumayan Sangat Bermanfaat Megapolitan 28 Desember 2025

    Lansia Dapat Kartu Layanan Gratis Transportasi: Lumayan Sangat Bermanfaat
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com —
    Layanan pembuatan Kartu Layanan Gratis (KLG) transportasi umum yang dibuka Dinas Perhubungan DKI Jakarta di Car Free Day (CFD) Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (28/12/2025), diserbu warga lanjut usia (lansia).
    Integrasi layanan yang kini mencakup moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dan LRT menjadi alasan utama tingginya animo warga untuk mendapat layanan tersebut.
    Tri Chandra (68), warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa dirinya baru tertarik mendaftar kartu tersebut setelah mengetahui MRT masuk dalam daftar layanan gratis.
    “Dulu sih waktu cuman gratis Transjakarta, enggak tertarik. Begitu gratis MRT langsung, wah langsung saya ikutan,” ujar Tri kepada Kompas.com di Car Free Day Jakarta, Minggu (28/12/2025).
    Pasalnya, Tri menyebut lokasi tempat tinggalnya yang dilalui jalur MRT membuat
    kartu layanan gratis
    menjadi kebutuhan penting baginya.
    “Apalagi kan tinggalnya di Lebak Bulus, dekat. Karena kita semua ini yang paling dekatnya ya rute MRT,” kata Tri yang mendapatkan kartu layanan gratis.
    Bagi para lansia yang sudah tidak memiliki penghasilan tetap, tarif gratis transportasi umum, khususnya MRT, dinilai menghemat ongkos.
    Tri menyoroti tarif MRT jarak terjauh yang bisa mencapai Rp14.000 untuk sekali jalan.
    “MRT satu jalan dari ujung ke ujung Rp14.000. Pulang pergi Rp28.000,” jelasnya.
    Dengan adanya KLG, gratisnya biaya transportasi MRT pun sangat memudahkan bagi lansia yang tak berpenghasilan seperti dirinya.
    “Lumayan (kalau gratis), kita sering (pakai). Untuk lansia yang sudah pensiun sangat, sangat, sangat (bermanfaat),” ujar Tri.
    Tri pun mengaku merasa rugi jika tidak memanfaatkan fasilitas yang disediakan pemerintah daerah tersebut.
    “Rugi nanti kalau sudah ada fasilitasnya, tapi enggak dipakai. Kalau bus kan Rp3.500, jadi kita sudah keliling-keliling,” ucapnya.
    Meski sudah sangat puas dengan layanan gratis untuk Transjakarta, MRT, dan LRT, para lansia berharap agar layanan KRL Commuter Line juga bisa digratiskan.
    Namun, mereka menyadari adanya perbedaan wewenang pengelolaan antara pemerintah daerah dan pusat.
    “Maunya sih gitu, KRL gratis. Tapi kan sadar, itu (KRL) juga kan BUMN-nya pusat ya. Entar kan jadinya harus se-Indonesia lagi ya. Kalau ini (MRT) kan BUMD,” ucapnya.
    Fauzi, salah satu petugas perbantuan dari LRT Jakarta yang melayani warga di lokasi, menjelaskan bahwa kartu yang dibuat di CFD ini memang terintegrasi dalam ekosistem JakLingko.
    “Ini untuk layanan gratis MRT, Transjakarta, dan LRT. Yang terintegrasi dengan JakLingko,” jelas Fauzi.
    Fauzi juga mengimbau masyarakat, khususnya lansia dan disabilitas, untuk memanfaatkan program ini sebaik-baiknya.
    “Kartu ini sangat bermanfaat. Kami dari MRT, LRT Jakarta juga senang apabila program pemerintah dimanfaatkan dan dipakai dengan semestinya,” tutur Fauzi.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Transjakarta Dapat Subsidi Rp 3,75 Triliun dari APBD 2026, MRT Rp 536,70 Miliar
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Transjakarta Dapat Subsidi Rp 3,75 Triliun dari APBD 2026, MRT Rp 536,70 Miliar Megapolitan 28 Desember 2025

    Transjakarta Dapat Subsidi Rp 3,75 Triliun dari APBD 2026, MRT Rp 536,70 Miliar
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com-
    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menetapkan alokasi besar untuk subsidi transportasi umum dalam APBD 2026.
    Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta, Michael Rolandi, menyebut subsidi transportasi dalam APBD 2026 dialokasikan paling besar untuk
    Transjakarta
    yang mencapai Rp3,75 triliun.
    Untuk MRT Jakarta, anggaran subsidi disiapkan Rp536,70 miliar.
    Selain itu, Pemprov juga menganggarkan subsidi Bus Sekolah sebesar Rp 105,38 miliar, LRT Jakarta Rp 325,28 miliar, serta layanan kapal perairan Rp 100,19 miliar.
    Anggaran ini disiapkan agar tarif tetap terjangkau dan layanan publik tetap berjalan.
    “Untuk urusan perhubungan, Pemprov DKI Jakarta menganggarkan
    subsidi transportasi umum
    , dengan rincian:
    subsidi Transjakarta
    sebesar Rp 3,75 triliun, subsidi Bus Sekolah sebesar Rp 105,38 miliar,
    subsidi MRT Jakarta
    sebesar Rp 536,70 miliar, subsidi LRT Jakarta sebesar Rp 325,28 miliar, dan layanan angkutan kapal perairan sebesar Rp100,19 miliar,” ujar Michael dalam keterangan resminya, dikutip pada Minggu (28/12/2025).
    Di bidang pendidikan, Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan Rp 19,75 triliun atau 26,59% dari Belanja Daerah.
    “Ini berarti telah melebihi
    mandatory spending
    sesuai aturan perundangan minimal 20 persen,” ungkap Michael.
    Alokasi anggaran tersebut antara lain untuk menganggarkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus sebesar Rp 3,25 triliun dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) sebesar Rp 399 miliar.
    Ada juga pos anggaran untuk sekolah swasta gratis sebesar Rp 282,46 miliar, serta rehabilitasi sekolah dan fasilitas pendidikan sebesar Rp 126,12 miliar.
    Untuk diketahui, APBD DKI Jakarta 2026 ditetapkan sebesar Rp8 1,32 triliun.
    Jumlah ini turun sekitar Rp 10,54 triliun dibandingkan APBD 2025 yang mencapai Rp 91,86 triliun.
    Penurunan terjadi dari pemerintah pusat dari Rp 26,14 triliun menjadi Rp 11,16 triliun.
    Penurunan terbesar terjadi pada Dana Bagi Hasil (DBH) pajak yang turun Rp 14,79 triliun.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 1
                    
                        Seorang Pria Nekat Jalan Kaki di Tol Cipali demi Ambil Ponsel di Rest Area
                        Regional

    1 Seorang Pria Nekat Jalan Kaki di Tol Cipali demi Ambil Ponsel di Rest Area Regional

    Seorang Pria Nekat Jalan Kaki di Tol Cipali demi Ambil Ponsel di Rest Area
    Tim Redaksi

    INDRAMAYU, KOMPAS.com
    – Seorang pria nekat berjalan kaki di Tol Cikopo–Palimanan (Cipali) KM 134 setelah ponselnya tertinggal di rest area KM 130.
    Ia berjalan sekitar satu kilometer dari KM 135, tempat lokasi mobilnya menepi.
    Di saat yang bersamaan, anggota dari
    Sat Lantas Polres Indramayu
    yang sedang patroli melintas dan mengetahui adanya orang sedang berjalan kaki.
    Petugas kemudian berhenti dan membantu mengantarkan pria tersebut kembali ke
    rest area
    untuk mencari ponselnya.
    Kemudian, pria itu  diantar kembali ke mobilnya di KM 135.
    Momen tersebut diunggah akun Instagram @satlantaspolresindramayu.
    Kasat Lantas Polres Indramayu AKP Rizky Aulia Pratama menjelaskan, sebelumnya, pria itu sempat beristirahat di
    Rest Area
    130 A.
    Setelah melanjutkan perjalanan, ia baru menyadari
    ponsel tertinggal
    dan berhenti di KM 135.
    “Jadi cerita awalnya masyarakat tersebut istirahat di rest area 130 A, selesai istirahat berangkat lagi, di KM 135 ia berhenti karena merasa HPnya hilang,” kata Rizky saat dihubungi, Minggu (28/12/2025).
    Rizky menyampaikan, di rest area, polisi turut membantu pria tersebut mencari ponselnya.
    Termasuk berkoordinasi dengan petugas di rest area untuk bersama-sama mencari.
    Hanya saja, setelah dicari, ponsel tersebut tidak kunjung ketemu. Di sisi lain, kondisi rest area kala itu juga sedang padat oleh pengendara yang beristirahat.
    Akhirnya, pria tersebut mengikhlaskan ponselnya, petugas lalu menawarkan bantuan untuk mengantarnya kembali ke mobil.
    Rizky menegaskan, pelayanan kepada masyarakat merupakan tugas kepolisian, dan warga tak perlu ragu meminta bantuan.
    Ia juga mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan memeriksa kembali barang bawaan sebelum meninggalkan rest area.
    “Kami mengingatkan agar masyarakat mengecek kembali barang pribadi untuk mencegah kehilangan karena tertinggal,” ujarnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Buruh Akan Demo Tolak UMP Rp 5,7 Juta, Rano Karno: Tidak Puas Itu Wajar
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Buruh Akan Demo Tolak UMP Rp 5,7 Juta, Rano Karno: Tidak Puas Itu Wajar Megapolitan 28 Desember 2025

    Buruh Akan Demo Tolak UMP Rp 5,7 Juta, Rano Karno: Tidak Puas Itu Wajar
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com-
    Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, rencana aksi demonstrasi buruh yang menolak penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta 2026 sebesar Rp 5,7 juta adalah hal wajar.
    Rano menuturkan, Pemerintah Provinsi Jakarta akan mencari jalan keluar atas ketidakpuasan kelompok buruh tersebut.
    “Artinya ini realita yang terjadi Jakarta, duduk bersama, kesepakatan terjadi. Kalaupun memang timbul ada ketidakpuasan itu sangat wajar, itu dinamika kehidupan. Karena itu nanti kita cari jalannya seperti apa,” ucap Rano saat ditemui di kawasan Jakarta Timur, Minggu (28/12/2025).
    Kendati demikian, Rano menjelaskan bahwa penetapan UMP tidak diputuskan secara sepihak.
    Keputusan tersebut dibahas di Dewan Pengupahan yang beranggotakan unsur tripartit: pemerintah daerah, perwakilan buruh, dan pengusaha.
    “Kalaupun pak Gubernur sudah mengeluarkan Pergub, itu melalui proses panjang. Apakah nanti kawan-kawan buruh akan demo atau protes? Itu kembali kepada hak. Ada mekanismenya, bisa Peratun, bisa PTUN. Itu mekanisme biasa,” ujar Rano.
    Ia menyebutkan, Pemprov Jakarta juga menyiapkan berbagai bentuk subsidi untuk meringankan beban buruh, mulai dari transportasi hingga program sembako murah, di luar UMP yang sudah diketok.
    “Marilah kita duduk bersama. 5,7 sebetulnya komponen Jakarta juga mengeluarkan subsidi untuk teman-teman buruh. Misalnya apa? Transportasi, sembako murah. Itu komponen untuk meningkatkan,” ungkap Rano.
    Diketahui, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan menggelar aksi demonstrasi untuk menolak penetapan UMP DKI Jakarta dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) Jawa Barat pada 29 dan 30 Desember 2025.
    Demonstrasi tersebut digelar sebagai bentuk penolakan kelompok buruh terhadap penetapan UMP di sejumlah provinsi yang dinilai belum sesuai dengan rekomendasi.
    “Aksi besar-besaran. Serempak dua hari di Istana Negara dan atau di DPR RI. Aksi serempak dua hari di Istana Negara dan atau DPR RI pada tanggal 29 Desember 2025 dan dilanjutkan tanggal 30 Desember 2025 di tempat yang sama,” ujar Presiden KSPI, Said Iqbal dalam konferensi pers secara daring, Sabtu (27/12/2025).
    Rencananya, aksi penolakan penetapan UMP 2026 tersebut akan diikuti ribuan buruh dari Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
    “Diputuskan 1.000 buruh akan aksi tanggal 29 Desember di Istana Negara. Titik kumpul di Patung Kuda jam 10.00. Untuk aksi 30 Desember diikuti minimal 10.000 buruh di Istana Negara. Dengan titik kumpul Patung Kuda jam 10.00,” ujar Said.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Anak-anak Sedih Tak Dapat Tiket Planetarium Jakarta meski Antre Sejak Pagi
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Anak-anak Sedih Tak Dapat Tiket Planetarium Jakarta meski Antre Sejak Pagi Megapolitan 28 Desember 2025

    Anak-anak Sedih Tak Dapat Tiket Planetarium Jakarta meski Antre Sejak Pagi
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Pengunjung anak-anak yang ingin menyaksikan pertunjukan Planetarium dan Observatorium Jakarta sedih tidak mendapatkan tiket, Minggu (28/12/2025).
    Meski telah menunggu berjam-jam sejak pagi dan mencoba membeli tiket secara daring, sebagian pengunjung terpaksa pulang karena kehabisan kuota tiket.
    Pantauan
    Kompas.com
    di di lokasi, kekecewaan pengunjung terlihat jelas di depan Pusat Informasi Planetarium.
    Beberapa keluarga yang datang bersama anak-anak tampak pergi meninggalkan area antrean setelah petugas mengumumkan bahwa kuota dan
    waiting list
    telah penuh.
    Salah satu pengunjung, Keani (34), warga Depok, mengaku sudah tiba di lokasi sejak pukul 08.00 WIB bersama dua anaknya.
    Ia berharap masih bisa mendapatkan tiket dengan sistem
    waiting list
    , namun usahanya gagal.
    “Dari pagi sudah antre, anak-anak juga sudah nunggu. Coba beli
    online
    juga enggak dapat. Katanya sudah penuh semua,” ujar Keani dengan nada kecewa saat ditemui Kompas.com di lokasi, Minggu.
    Keani mengatakan, kedatangannya ke
    Planetarium Jakarta
    sudah direncanakan karena anak-anaknya sedang
    libur sekolah
    .
    Ia berharap kunjungan tersebut bisa menjadi sarana edukasi.
    “Anak-anak sudah senang duluan. Pas dibilang enggak dapat tiket, mereka sedih. Saya cuma bisa bilang nanti balik lagi,” ucapnya.
    Keluhan serupa disampaikan Syahdan (30), warga Bekasi, yang datang bersama istri dan satu anaknya.
    Syahdan mengaku menunggu hampir tiga jam sebelum akhirnya mendapat kepastian tidak kebagian tiket.
    “Datang jam setengah delapan, nunggu sampai siang. Informasinya baru jelas setelah diumumkan.
    Online
    juga sudah dicoba dari kemarin, tapi selalu habis,” kata Syahdan saat hendak menuju area parkir.
    Ia menilai, tingginya minat pengunjung belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem informasi yang memadai di lokasi.
    “Kalau dari awal sudah jelas kuotanya, mungkin kami bisa putar arah. Ini anak sudah capek nunggu,” ujar dia.
    Sementara itu, Reysha (29), warga Jakarta Barat, datang bersama keponakannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
    Ia mengatakan, petugas meminta pengunjung yang tidak kebagian tiket untuk kembali di hari lain.
    “Tadi dibilang disarankan balik lagi tanggal 31. Tapi ya belum tentu dapat juga. Cuma bisa berharap ke depannya sistemnya lebih rapi,” tutur Reysha.
    Menurut Reysha, meski kecewa, ia masih menaruh harapan agar Planetarium Jakarta bisa diakses lebih luas oleh masyarakat.
    “Sayang sekali kalau minat sebesar ini tapi banyak yang enggak terlayani. Harapannya ke depan kuotanya bisa ditambah atau jadwalnya diperbanyak, supaya anak-anak enggak kecewa,” ujar dia.
    Petugas mengumumkan melalui pengeras suara bahwa tiket di hari ini sudah habis, dan meminta pengunjung yang belum kedapatan untuk balik di lain hari.
    “Ibu bapak semua, tiket hari ini sudah habis ya. Silahkan kembali lagi nanti, di tanggal 31 Desember ya,” ujarnya yang ditanggapi sorakan kekecewaan pengunjung.
    Sebelumnya pengamatan Kompas.com sejak pukul 07.00 WIB antrean panjang untuk pembelian tiket masuk secara langsung sudah membeludak.
    Bahkan sebagian pengunjung memilih untuk duduk
    lesehan
    di pintu masuk agar mendapatkan kesempatan untuk dapat tiket meski
    waiting list
    .
    Adapun maksimal tiket masuk di hari ini hanya tersedia 180 tiket untuk empat sesi dalam satu hari.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pasang 1.000 Km Pipa pada 2026, Dirut PAM Jaya: Mau Tidak Mau Pasti Macet
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        28 Desember 2025

    Pasang 1.000 Km Pipa pada 2026, Dirut PAM Jaya: Mau Tidak Mau Pasti Macet Megapolitan 28 Desember 2025

    Pasang 1.000 Km Pipa pada 2026, Dirut PAM Jaya: Mau Tidak Mau Pasti Macet
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, kemacetan hampir pasti terjadi dalam proyek pemasangan pipa air bersih sepanjang 1.000 kilometer pada 2026 mendatang,
    Ia menjelaskan, kemacetan tak terhindarkan karena
    jalur pipa
    yang dipasang memang harus melewati bahu jalan.
    “Cuma memang sekali lagi karena pipanya tidak mungkin tidak lewat bahu jalan jadi mau tidak mau memang pasti akan ada sedikit
    traffic jam
    , sebenarnya tidak sedikit, ya, ada beberapa yang sudah
    bottleneck
    ,” ujar Arief saat ditemui di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2025).
    Menurut Arief, proyek pipa baru ini akan banyak dikerjakan di kawasan Jakarta Timur hingga Jakarta Utara.
    Sebagian juga mulai masuk ke wilayah selatan, seperti kawasan sekitar Deplu dan Pondok Pinang.
    Untuk Jakarta Barat, pekerjaan masih terbatas karena pasokan air masih menunggu proyek pemerintah pusat.
    “Kita siapkan juga jalur alternatif pipa yang akan dibangun bertahap di 2026,” ujar Arief.
    Arief mengaku
    PAM Jaya
    sudah berkoordinasi dengan berbagai instansi, termasuk Dinas Perhubungan, untuk mengurangi dampak kemacetan.
    Namun, ia menegaskan kemacetan tetap tidak bisa dihilangkan sepenuhnya.
    “Sebenarnya kita yang seperti Pak Gubernur sampaikan, kita melakukan harmonisasi rekonsiliasi terhadap semua instansi, termasuk kedinasan, gitu, ya, sebenarnya itu sudah dilakukan,” kata dia.
    Selain itu, PAM Jaya juga akan mengubah pola kerja dalam proyek pemasangan pipa tersebut.
    Menurut Arief, jika dulu satu jalur dibuka penuh, sekarang dikerjakan paralel agar kemacetan bisa ditekan, meski waktu proyek jadi lebih lama.
    Tahun ini, PAM Jaya menargetkan 80 persen cakupan layanan air bersih atau sekitar 1,15 juta sambungan air perpipaan.
    Tambahan 1.000 km pipa diharapkan memperluas akses air bersih, terutama bagi warga yang selama ini belum terlayani.
    “Kalau air bersih bisa masuk ke warga kecil, manfaatnya besar sekali,” ujar Arief.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.