Category: Kompas.com Metropolitan

  • BMKG: Prakiraan Cuaca Jakarta dan Bodetabek saat Tahun Baru 2026
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    BMKG: Prakiraan Cuaca Jakarta dan Bodetabek saat Tahun Baru 2026 Megapolitan 30 Desember 2025

    BMKG: Prakiraan Cuaca Jakarta dan Bodetabek saat Tahun Baru 2026
    Penulis

    KOMPAS.com –
    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan masih berpotensi mendominasi cuaca Jakarta dan wilayah sekitarnya selama periode pergantian tahun, 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.
    Dalam prospek cuaca periode 30 Desember 2025–1 Januari 2026,
    BMKG
    mencatat potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di sejumlah wilayah.
    Kondisi tersebut masuk dalam kategori peringatan dini yang perlu diantisipasi masyarakat.
    BMKG menyebutkan, secara umum cuaca di Indonesia didominasi kondisi berawan hingga hujan ringan.
    Namun, khusus wilayah Jakarta dan sekitarnya, yang meliputi Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi, terdapat potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.
    Adapun tingkat peringatan dini meliputi:
    Menjelang perayaan
    Tahun Baru 2026
    , BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu, termasuk potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.
    Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, wisata, dan perayaan malam pergantian tahun.
    BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memantau secara berkala informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs web, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial resmi.
    Selain itu, BMKG menyediakan layanan Digital Weather for Traffic (DWT) yang terintegrasi untuk memantau kondisi cuaca sepanjang rute perjalanan selama libur Natal dan Tahun Baru.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Detik-detik Kebakaran Toko Material dan Bengkel di Ciputat yang Tewaskan 1 Orang
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    Detik-detik Kebakaran Toko Material dan Bengkel di Ciputat yang Tewaskan 1 Orang Megapolitan 30 Desember 2025

    Detik-detik Kebakaran Toko Material dan Bengkel di Ciputat yang Tewaskan 1 Orang
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com
    – Sejumlah penghuni mes menceritakan detik-detik awal kebakaran yang melanda bangunan toko material dan bengkel di kawasan Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Selasa (30/12/2025) dini hari.
    Salah satu saksi mata, Dena (34), mengatakan api muncul secara tiba-tiba sekitar pukul 01.20 WIB. Saat itu, sebagian penghuni masih terjaga.
    “Waktu itu belum pada tidur, tiba-tiba api langsung gede,” kata Dena saat ditemui
    Kompas.com
    di lokasi kejadian, Selasa.
    Saat itu, Dena dan teman-temannya tidak mengetahui penyebab api itu muncul. Mereka tidak mendengar ada suara ledakan, hanya mencium bau hangus yang menyengat.
    Saat mencari tahu sumber api itu, Dena dan teman-temannya melihat bahwa api berasal dari sebuah kamar di bagian belakang lantai dua, yang diketahui merupakan kamar anak pemilik toko.
    “Dari belakang, kamar pojok. Itu kamar anak bos,” kata dia.
    Menurut Dena, api muncul begitu saja, tak ada tanda-tanda, dan langsung membesar dalam waktu singkat.
    Melihat api semakin membesar, mereka langsung menyelamatkan diri dan keluar dari mes.
    Saksi lainnya, Arif (25), mengatakan bau asap mulai tercium sebelum keluarga pemilik toko menyadari adanya
    kebakaran
    .
    “Iya, bau hangus mulai kecium. Keluarga dari bos lihat, langsung teriak kebakaran,” ujar dia.
    Bangunan tersebut terdiri dari dua lantai dengan struktur atap dan lantai dua yang berbahan kayu.
    Api pertama kali muncul di lantai dua, sebelum menjalar cepat ke atap dan bangunan di bawahnya yang berisi material jualan.
    “Itu apinya dari lantai dua, tapi udah langsung merambat ke atap. Hitungan detik tambah gede,” kata Arif.
    Lebih dari 15 orang yang berada di dalam bangunan, termasuk karyawan dan keluarga pemilik toko. Seluruh penghuni berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.
    Upaya pemadaman sempat dilakukan secara manual menggunakan ember berisi air.
    Namun, api yang sudah membesar dan posisi bangunan yang tinggi membuat upaya tersebut tidak berhasil.
    “Awalnya disiram pakai air, pakai ember. Tapi apinya terlalu gede dan tinggi, jadi kita nyerah,” kata Arif.
    Warga kemudian menghubungi petugas pemadam kebakaran. Namun, kondisi angin kencang pada malam hari membuat api cepat merambat ke seluruh bangunan.
    Diketahui, petugas pemadam kebakaran (damkar) tiba di lokasi kejadian pada pukul 01.30 WIB, sepuluh menit setelah laporan diterima.
    Dalam proses pemadaman, unit damkar yang dikerahkan sebanyak 14 unit pemadam kebakaran dan rescue, termasuk tiga unit bantuan dari Kota Depok.
    Sekitar 90 persen area toko material, bengkel, sekaligus tempat tinggal tersebut terbakar.
    Api dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 06.30 WIB.
    Namun, satu orang tewas dalam insiden ini. Sementara satu orang lainnya mengalami luka bakar.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Memancing di Kali Jakarta Meski Air Tercemar demi Lauk Keluarga
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    Memancing di Kali Jakarta Meski Air Tercemar demi Lauk Keluarga Megapolitan 30 Desember 2025

    Memancing di Kali Jakarta Meski Air Tercemar demi Lauk Keluarga
    Editor
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Aktivitas memancing di kali-kali Jakarta tetap digandrungi meski kualitas air sudah tercemar limbah.
    Bagi sebagian warga, kegiatan ini bukan sekadar hobi, tetapi juga sumber lauk bagi keluarga sehari-hari.
    Seperti Ridwan (32), pemancing yang kerap menghabiskan waktu di Kali Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, setiap akhir pekan.
    Ia mengandalkan usus ayam sebagai umpan untuk mendapatkan ikan.
    “Umpannya pakai usus ayam, disukai semua jenis ikan, kayak bawal. Itu ususnya mentah,” ujar Ridwan kepada Kompas.com, Senin (29/12/2025).
    Ridwan mengaku bisa memperoleh hingga lima ekor ikan dalam sehari, yang kemudian dimasak untuk keluarga.
    Ia pun memahami kondisi air kali yang sudah tercemar, tetapi tetap memilih
    memancing
    demi kebutuhan rumah tangga.
    “Harapannya kali-kali di Jakarta bisa dikasih ikan aja, biar yang pada mancing dapat gratis juga. Bisa bantu buat makan keluarga di rumah,” tambah Ridwan.
    Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyebutkan bahwa kualitas air kali di Jakarta sudah berada pada level tercemar berat.
    Aktivitas memancing sendiri tidak langsung mencemari sungai, tetapi bisa memperparah kondisi jika dilakukan sembarangan, misalnya membuang sampah, putung rokok, atau
    limbah
    senar pancing ke kali.
    “Kegiatan memancing bisa memperburuk kualitas air sungai apabila menggunakan umpan berbahaya dan meninggalkan sampah di bantaran kali,” jelas Mahawan.
    Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta terus melakukan pemantauan dan kajian sumber pencemar pada anak sungai, termasuk Kali Cengkareng Drain.
    DLH menaruh petugas untuk pembersihan rutin, sekaligus mengevaluasi pengelolaan limbah dari kegiatan usaha melalui AMDAL, SPPL, dan UKL-UPL.
    Selain Ridwan, pemancing lainnya, Yanto (52), berharap pemerintah membersihkan sungai agar ikan lebih banyak dan aktivitas memancing lebih aman.
    “Sebenarnya kali utamanya dibersihkan pemerintah supaya lebih giat lagi, apalagi kalau musim hujan sampahnya lebih banyak,” ujar Yanto.
    “Kalau bersih, ikan juga lebih banyak dan lebih aman buat yang memancing,” sambung Yanto.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Leganya Amir Terima Ijazah yang Tertahan 27 Tahun: Dulu Kerja Harus Minta Fotokopian
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    Leganya Amir Terima Ijazah yang Tertahan 27 Tahun: Dulu Kerja Harus Minta Fotokopian Megapolitan 30 Desember 2025

    Leganya Amir Terima Ijazah yang Tertahan 27 Tahun: Dulu Kerja Harus Minta Fotokopian
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Amir (50), warga Jakarta Pusat, akhirnya bisa mengambil ijazah sekolah menengah atas (SMA) setelah tertahan selama 27 tahun.
    Ia mengaku senang karena dokumen penting itu kini berada di tangannya.
    Ijazah tersebut belum diambil sejak lulus sekolah pada tahun 1998. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu melunasi kekurangan biaya saat itu.
    “Saya dari pas lulus dari SMA Dwi Saka aja (belum diambil) tahun 1998. Ya perasaannya saya bangga, senang, gitu. Karena bisa keambil ijazah, gitu. Bertahun-tahun belum diambil,” jelas
    Amir
    dalam program
    pemutihan ijazah
    di Balai Kota Jakarta, Selasa (30/12/2025).
    Ketiadaan ijazah asli, kata Amir, sempat menyulitkannya dalam mencari pekerjaan.
    Ia bahkan harus memohon kepada pihak sekolah agar diberi salinan ijazah demi bisa bekerja.
    “Dulu saya kerja, jadi saya mohon-mohon sama kepala sekolah, minta fotokopiannya buat kerja, saya kerjanya sebagai
    cleaning service
    ,” tuturnya.
    Kini setelah menerima ijazah melalui program pemutihan Pemprov Jakarta, Amir berencana menyimpannya dengan baik dan memanfaatkannya untuk kembali mencari pekerjaan.
    “Ya saya rawat, saya simpan buat melamar kerja lagi, kalau ada kesempatan,” jelasnya.
    Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah memutihkan sebanyak 6.050 ijazah siswa sepanjang 2025.
    Program ini ditujukan bagi lulusan sekolah menengah swasta yang ijazahnya tertahan akibat tunggakan biaya pendidikan.
    Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan, pemutihan ijazah tersebut dilakukan secara bertahap.
    Pada tahap pertama, pemutihan diberikan kepada 117 siswa.
    Tahap kedua menyasar 371 siswa, disusul tahap ketiga sebanyak 820 siswa.
    Selanjutnya, tahap keempat dilaksanakan dalam dua gelombang dengan jumlah penerima masing-masing 744 siswa dan 1.238 siswa.
    Adapun tahap kelima menjadi tahap dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 2.753 siswa.
    “Jumlahnya sekarang sudah 6.050 ijazah yang diputihkan oleh Pemerintah DKI Jakarta, bekerja sama dengan Baznas dan Bazis, yang nilainya kurang lebih Rp14,9 miliar,” ucap Pramono.
    Pramono menjelaskan, mayoritas ijazah tersebut tertahan karena keterbatasan ekonomi keluarga siswa.
    Menurut dia, kondisi tersebut membuatnya sedih, terutama ketika mengetahui lamanya ijazah tidak dapat diambil.
    “Peristiwa ini selalu buat saya pribadi adalah mengharukan. Karena
    nggak
    mungkin saudara-saudara sekalian, tadi ada yang lima tahun (
    ijazah tertahan
    ), ada yang dua tahun, tiga tahun, tidak bisa mengambil ijazah, pasti persoalan utamanya adalah karena masalah finansial,” ucap Pramono.
    Ia menuturkan, pada pemutihan ijazah tahap kelima, Pemprov DKI menemukan ijazah yang tertahan hingga belasan tahun lamanya.
    “Bahkan tadi ada yang sampai ijazahnya itu tertahan 17 tahun. Sekarang bapak-bapaknya tadi umurnya sudah 50 tahun dan ijazahnya itu tulisannya bukan SLTA tapi masih SMU,” jelasnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang Megapolitan 30 Desember 2025

    Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Pergantian tahun di Jakarta tahun ini tidak lagi semata dimaknai sebagai pesta cahaya dan dentuman di langit malam.
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih menarik rem perayaan, menyusul bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
    Imbauan hingga larangan menyalakan
    kembang api
    menjadi simbol sikap empati, bahwa euforia seharusnya ditahan ketika duka masih menyelimuti daerah lain.
    Kebijakan itu disampaikan bukan tanpa alasan. Di tengah suasana nasional yang masih dibayangi kabar korban, pengungsian, dan kerusakan akibat bencana, pesta kembang api dianggap berpotensi melukai rasa solidaritas.
    Perayaan yang identik dengan hura-hura dinilai tidak sejalan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian antardaerah.
    Namun, di tingkat akar rumput, kebijakan ini bersinggungan langsung dengan kehidupan pedagang kecil yang menggantungkan pemasukan pada momentum akhir tahun.
    Bagi mereka,
    tahun baru
    bukan sekadar perayaan, melainkan satu dari sedikit kesempatan dalam setahun untuk memutar roda ekonomi.
    Sasarannya dianggap mengarah pada perayaan besar, acara resmi, atau konsumsi kembang api berskala besar.
    Namun, dalam praktiknya, gema larangan itu merembes hingga ke lapak-lapak sederhana di pinggir jalan.
    Di sejumlah titik di Jakarta, termasuk Tanah Abang, pedagang kembang api tetap muncul. Namun, jumlah barang yang dijual lebih terbatas.
    Tidak ada lagi stok besar atau variasi mencolok. Lapak-lapak terlihat lebih sederhana, seolah berdagang sambil menunggu situasi.
    Di Tanah Abang, suasana jelang Tahun Baru tetap hidup, tetapi tidak seramai biasanya. Trotoar dipenuhi payung warna-warni yang menaungi kardus-kardus kembang api.
    Pembeli datang dan pergi tanpa keramaian berlebihan. Tidak ada teriakan menawarkan dagangan. Para pedagang lebih banyak duduk, menunggu, dan mengamati sekitar.
    Sesekali mereka berdiri saat ada calon pembeli yang berhenti. Di antara deretan lapak itu, Linda menjadi salah satu pedagang yang sudah akrab dengan ritme musiman ini.
    Baginya, jualan kembang api bukan hal baru, melainkan rutinitas tahunan yang dijalani dengan perhitungan matang.
    “Sudah biasa tiap tahun, kalau jual beginian (kembang api) kan enggak bisa tiap hari,” kata Linda saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Senin (29/12/2025).
    Pengalaman panjang membuat Linda memahami betul risiko yang melekat pada dagangan kembang api.
    Ia memilih jenis barang yang menurutnya masih aman dan tidak berpotensi menimbulkan masalah keselamatan.
    Dalam kondisi larangan seperti sekarang, kehati-hatian menjadi prinsip utama.
    Ia menyadari, ruang gerak pedagang kecil semakin sempit ketika kebijakan empati diberlakukan secara luas.
    “Cuma saya jual barang-barang enggak bahaya,” kata dia.
    Meski demikian, permintaan dari masyarakat tidak sepenuhnya hilang. Masih ada pembeli yang mencari kembang api untuk anak-anak atau sekadar simbol kecil perayaan.
    “Yang beli mah ada aja, biasanya ibu-ibu beli buat anak,” kata dia.
    Linda mengetahui soal larangan menyalakan kembang api tahun ini. 
    Ia memahami bahwa kebijakan tersebut berkaitan dengan empati atas bencana di Sumatera, meski menurutnya dampak langsung lebih terasa di kalangan pedagang kecil.
    Larangan ini membuat pedagang enggan menyetok barang dalam jumlah besar. Modal yang dimiliki pun dijaga agar tidak terjebak dalam stok yang tak terjual.
    Bagi pedagang kecil, barang yang mengendap berarti uang yang tidak berputar.
    “Makanya kita beli enggak banyak-banyak. Takutnya enggak laku duit kita
    mendem,”
    ujar dia.
    Linda menyebut modal awal yang ia gunakan relatif terbatas. Ia tidak berani mengambil risiko besar di tengah situasi yang tidak pasti.
    “Ini sih dari bos dikirimin, kalau modal awal kita paling Rp 1 juta,” kata dia.
    Hasil penjualan pun jauh dari kata pasti. Ada hari yang sedikit, ada pula hari yang nyaris tanpa transaksi.
    “Enggak tentu (lakunya) paling Rp 100.000 yang laku juga kan paling kembang api aja,” kata dia.
    Karena ketidakpastian itu, ia memilih tidak menambah stok baru. Dagangan yang dijual merupakan sisa dari tahun sebelumnya.
    “Ini kan kita karena sisa (tahun lalu) nggak beli lagi,” ujar dia.
    Meski sadar risiko, Linda tetap memilih berjualan. Baginya, membiarkan barang tersimpan tanpa dijual justru lebih merugikan.
    “Jadi kita, ya, kita lakuin aja daripada nggak jadi duit. Mendingan jadi duit, kan, sayang,” katanya.
    Selain soal penjualan, bayang-bayang razia juga menjadi pertimbangan. Namun, Linda membedakan dengan jelas antara kembang api dan petasan berdaya ledak tinggi.
    Ia merasa kebijakan penertiban lebih menyasar jenis barang tertentu.
    “Emang kalau petasan dirazia, kalau kembang api kan ada surat izinnya,” kata dia.
    Selama bertahun-tahun berdagang, ia mengaku relatif aman dari penertiban. Situasi di lapaknya cenderung kondusif.
    “Kalau yang razia-razia tuh yang kayak petas-petasan, Tapi saya sih,
    alhamdulillah,
    ini udah berapa tahun-tahun aman aja,” ujar dia.
    Cerita serupa datang dari Siti (bukan nama sebenarnya), pedagang lain di Tanah Abang. Ia juga merasakan dampak langsung dari
    larangan kembang api
    tahun ini.
    Bagi Siti, jualan kembang api hanyalah usaha musiman untuk menutup kebutuhan akhir tahun.
    “Saya jualan kembang api itu baru sekitar lima tahunan ini. Setiap mau tahun baru aja. Kalau hari biasa saya jualan nasi uduk pagi-pagi,” kata dia.
    Ia memahami alasan empati di balik larangan tersebut, tetapi tetap berada di posisi sulit sebagai pedagang kecil.
    “Saya paham maksudnya. Kita juga sedih ada bencana. Tapi di sisi lain, buat pedagang kecil kayak saya, ini satu-satunya kesempatan setahun,” ujar dia.
    Informasi soal larangan kembang api menjelang Tahun Baru diterima warga dengan cara yang beragam.
    Tidak semua mendapatkan penjelasan utuh. Sebagian hanya menangkap kabar sekilas dari media sosial atau obrolan di grup percakapan.
    Bagi ibu rumah tangga bernama Rina (36), larangan tersebut terdengar samar. Ia tahu ada pembatasan, tetapi tidak memahami detailnya.
    Kondisi ini membuatnya berada di posisi yang serba tanggung, antara mengikuti imbauan dan menanggapi keinginan anak-anak di rumah.
    “Iya, saya sih dengar katanya kembang api sama petasan itu dilarang di Jakarta. Cuma ya dengarnya sekilas-sekilas doang,” kata Rina saat ditemui, Senin.
    Ia tidak tahu apakah larangan berlaku untuk semua jenis kembang api atau hanya yang berskala besar dan berbahaya.
    “Detailnya saya juga nggak ngerti. Dilarangnya semua apa cuma yang gede-gede, saya juga nggak tahu,” kata dia.
    Meski begitu, Rina memahami alasan di balik imbauan tersebut. Ia menangkap pesan empati terhadap korban bencana di Sumatera sebagai hal yang patut dihormati.
    Namun di sisi lain, ia juga menghadapi kenyataan sosial di lingkungan tempat tinggalnya, di mana anak-anak sudah lama menunggu momen pergantian tahun.
    Dalam situasi itu, keputusan orangtua menjadi tidak sederhana.
    “Karena tiap tahun juga begini. Anak-anak sudah nunggu dari lama. Mereka lihat tetangga main, temannya main, masa anak sendiri nggak dikasih,” ujar dia.
    Rina tidak menolak esensi dari larangan tersebut. Ia hanya merasa penerapannya menjadi rumit ketika dihadapkan pada anak-anak yang belum sepenuhnya memahami empati.
    “Saya ngerti sih maksud larangannya. Buat keamanan, buat empati juga katanya. Cuma ya itu, kalau dilarang total, anak-anak kasihan enggak ngerti juga, kan setahun sekali,” kata dia.
    Pandangan lain datang dari Agus (41), yang menilai larangan kembang api hampir selalu muncul setiap akhir tahun.
    Bagi Agus, kembang api telah menjadi bagian dari pengalaman Tahun Baru anak-anak.
    Ia mengakui, tanpa suara dan cahaya kembang api, momen pergantian tahun terasa hambar bagi mereka.
    Agus memilih jalan tengah dengan tetap mengawasi anaknya saat bermain.
    Ia berharap kesadaran semacam ini juga dimiliki oleh orangtua lain agar perayaan tidak berubah menjadi insiden.
    “Anak-anak kan setahun cuma nunggu ini Kalau enggak ada kembang api, tahun baru rasanya kaya nggak ada apa-apanya,” ujar dia.
    Meski demikian, Agus memahami konteks empati yang melatarbelakangi imbauan tersebut.
    Ia tidak menutup mata terhadap penderitaan korban bencana dan mengakui bahwa alasan itu masuk akal.
    “Sebenernya saya tahu kok ini lagi diminta empati buat korban bencana, saya juga kasihan,” kata dia.
    Meski begitu, Agus memilih mengambil jalan tengah. Ia merasa masih ada ruang kompromi dengan membatasi jenis dan skala kembang api yang dimainkan anak-anak, selama tetap dalam pengawasan.
    “Lagian kan kita juga bakar kecil-kecilan aja enggak yang sampai gede gitu, sewajarnya anak-anak aja,” kata Agus.
    Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, menegaskan bahwa larangan penjualan kembang api dan petasan menjelang Tahun Baru dilakukan tidak bersifat mutlak.
    Melainkan lebih menekankan pada kegiatan yang dilakukan oleh
    event-event
    besar dan pertimbangan empati terhadap korban bencana di Sumatera.
    Menurut dia, Pol PP tetap melakukan imbauan kepada pedagang agar memperhatikan kondisi sosial saat ini.
    “Karena kan sedang ada keprihatinan kita terhadap masyarakat yang tertimpa musibah di Sumatera, jadi mengimbau untuk itu,” ujar Satriadi.
    Sementara pengawasan terhadap masyarakat umum terbatas, dengan fokus pada edukasi dan imbauan ketimbang tindakan langsung.
    Pendekatan ini juga dilakukan bekerja sama dengan TNI dan Polri, agar penggunaan kembang api di masyarakat dapat berkurang secara sukarela.
    “Pol PP berupaya untuk melakukan imbauan, imbauan kepada para penjual-penjual petasan untuk berprihatinlah mengajak mereka agar tidak menjual atas keprihatinan yang sudah kita laksanakan,” kata dia.
    Pengamat sosial, Rakhmat Hidayat menekankan, larangan menyalakan kembang api di Jakarta tahun ini bukan untuk meniadakan tradisi, tetapi sebagai bentuk arif dan bijaksana.
    Masyarakat diminta menunjukkan apresiasi dan simpati terhadap korban bencana.
    Hal ini tidak hanya menjadi tanda solidaritas, tetapi juga mengurangi pemborosan energi, listrik, dan biaya materiil yang biasanya muncul dari pesta besar.
    “Menurut saya memang ini secara arif dan bijaksana memang lebih baik tidak menyalakan
    kembang api tahun baru
    di seluruh Indonesia adalah bentuk apresiasi, penghargaan, simpati,” kata dia.
    Menurut Rakhmat, imbauan gubernur Jakarta harus diturunkan ke tingkat yang lebih rendah, seperti wali kota, camat, lurah, hingga RT dan RW.
    Dengan koordinasi berlapis, pengawasan terhadap perayaan yang masih dilakukan warga bisa lebih efektif.
    “Menurut saya itu harus diturunkan pada level yang lebih konkret di bawahnya, yaitu di surat edaran dari wali kota, misalnya, dan wali kota juga menurunkan pada level di lingkungan masyarakat yang lebih kecil, sehingga itu akan menjadi lebih instruksional,” kata Rakhmat,\.
    Menurut dia, larangan pesta kembang api seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi bersama.
    Warga bisa berkumpul untuk doa bersama, berbagi makanan, atau mengumpulkan donasi.
    Cara ini dinilai lebih bermakna dibanding merayakan dengan kembang api dan petasan yang sifatnya konsumtif dan terbatas pada hiburan sesaat.
    “Jadi saatnya kita memang lebih menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, yang memang menjadi penyintas bencana tersebut,” ujar dia.
    Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa larangan penggunaan kembang api berlaku menyeluruh.
    Keputusan ini mencakup seluruh kegiatan, baik yang digelar oleh pemerintah maupun pihak swasta, sebagai bentuk penyesuaian dalam menyambut pergantian tahun.
    “Dalam menyambut Natal dan Tahun Baru, maka, terutama untuk tahun baru, saya sudah memutuskan untuk Jakarta tidak ada kembang api, baik yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta maupun oleh swasta,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).
    Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan keterbatasan pemerintah dalam mengawasi masyarakat yang merayakan Tahun Baru secara individual di ruang terbuka.
    Larangan lebih diarahkan kepada penyelenggara acara berskala besar untuk memastikan kepatuhan tetap terjaga.
    “Kami tidak bisa melarang masyarakat menyalakan kembang api. Tidak mungkin kami memeriksa masyarakat yang ada di Monas atau ada di mana untuk tidak menyalakan kembang api,” ucap Rano.
    Sebagai alternatif hiburan, Pemprov DKI menyiapkan pertunjukan drone di delapan titik strategis, termasuk di kawasan GBK, Sudirman, dan Kota Tua.
    Pertunjukan ini turut diiringi penampilan sejumlah musisi, sehingga momen pergantian tahun tetap terasa meriah meski tanpa kembang api.
    “Kami mengabarkan kepada masyarakat Jakarta bahwa tahun ini, tahun baru kita tidak kita meriahkan dengan kembang api. Tapi tidak mengurangi rasa juga bahagia, kita adakan drone. Drone cukup banyak, cukup besar, dengan transisi,” ujar Rano.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • BMKG: Hujan Diperkirakan Warnai Malam Tahun Baru di Jakarta
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    BMKG: Hujan Diperkirakan Warnai Malam Tahun Baru di Jakarta Megapolitan 30 Desember 2025

    BMKG: Hujan Diperkirakan Warnai Malam Tahun Baru di Jakarta
    Penulis
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah DKI Jakarta akan diguyur hujan saat pergantian Tahun Baru 2026.
    Berdasarkan informasi dari situs resmi
    BMKG
    , Rabu (31/12/2025), cuaca di Jakarta umumnya didominasi
    hujan
    dengan intensitas ringan hingga sedang.
    Wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat diperkirakan mengalami hujan ringan, sedangkan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur berpotensi hujan dengan intensitas sedang.
    Sementara itu, wilayah Kepulauan Seribu diperkirakan mengalami hujan disertai petir, sehingga warga di kawasan tersebut diimbau lebih waspada.
    Suhu udara di Ibu Kota diperkirakan berkisar antara 23 hingga 28 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi, yakni sekitar 78 hingga 98 persen.
    Kondisi ini diperkirakan akan menambah rasa lembap di udara sehingga masyarakat sebaiknya menyiapkan payung atau jas hujan saat beraktivitas di luar rumah.
    Memasuki Kamis (1/1/2026), BMKG memprakirakan kondisi cuaca di Jakarta mulai membaik.
    Sebagian besar wilayah diperkirakan berawan, meski hujan ringan masih berpotensi terjadi terutama di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.
    Suhu udara relatif stabil, namun kelembapan diperkirakan tetap tinggi.
    BMKG mengimbau masyarakat yang berencana merayakan malam pergantian tahun di luar rumah untuk tetap waspada terhadap potensi hujan dan
    cuaca ekstrem
    .
    Warga disarankan menyesuaikan rencana kegiatan dengan kondisi cuaca terkini agar perayaan Tahun Baru tetap aman dan nyaman.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • RW di Depok Akan Dapat Rp 300 Juta Mulai 2026
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    RW di Depok Akan Dapat Rp 300 Juta Mulai 2026 Megapolitan 30 Desember 2025

    RW di Depok Akan Dapat Rp 300 Juta Mulai 2026
    Penulis

    DEPOK, KOMPAS.com –
    Pemerintah Kota (Pemkot) Depok bersiap menjalankan kebijakan pembangunan berbasis lingkungan dengan menggulirkan dana Rp 300 juta untuk setiap Rukun Warga (RW) mulai tahun 2026.
    Program tersebut menjadi bagian dari 20 program unggulan yang disiapkan Pemkot
    Depok
    seiring dimulainya implementasi penuh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.
    Skema ini dirancang untuk mendorong pemerataan pembangunan di tingkat lingkungan sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat.
    Sebelumnya, Pemkot Depok telah mematangkan perencanaan pelaksanaan 20 program unggulan tahun 2026 melalui rapat koordinasi bersama perangkat daerah, camat, dan lurah.
    Rapat tersebut digelar di Aula Edelweis Gedung Balai Kota Depok, Senin (22/12/25), dan dibuka Wali Kota Depok, Supian Suri.
    Kepala Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Depok, Dadang Wihana, menjelaskan bahwa implementasi RPJMD telah mulai dijalankan secara terbatas pada 2025 yang masih berada dalam masa transisi, dan akan dilaksanakan secara menyeluruh mulai 2026.
    Seluruh program unggulan Wali Kota Depok Supian Suri dan Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah ditetapkan sebagai prioritas pembangunan lima tahun ke depan.
    “Pada tahun 2026 terdapat 20 program unggulan yang akan kami jalankan. Saat ini kami sedang menyusun Peraturan Wali Kota terkait SOP pelaksanaan dana kelurahan berbasis RW,” ujar Dadang, Senin (22/12/25), dikutip dari situs resmi Pemkot Depok.
    Salah satu program unggulan yang mulai digulirkan pada 2026 adalah Dana RW.
    Pemkot Depok mengalokasikan anggaran sebesar Rp 300 juta untuk setiap RW, dengan total anggaran mencapai Rp 274 miliar.
    Program ini disusun untuk memperkuat pembangunan berbasis kebutuhan lingkungan melalui pengaturan menu kegiatan yang bersifat mandatory dan pilihan.
    Dalam pelaksanaannya, dana RW akan dikelola oleh RW dan kelurahan.
    Karena itu, penguatan tim kerja dan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dari skema pengelolaan, khususnya untuk kegiatan infrastruktur dan swakelola.
    “Dana RW dikelola oleh RW dan kelurahan, sehingga perlu tim kerja yang kuat, terutama untuk kegiatan infrastruktur dan swakelola. Partisipasi masyarakat juga harus ditingkatkan agar kualitas dan akuntabilitas tetap terjaga,” jelasnya.
    Dadang menambahkan, lurah akan berperan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pengelolaan dana RW.
    Peran tersebut dinilai krusial untuk memastikan pelaksanaan program berjalan tepat sasaran, transparan, dan memberikan dampak nyata bagi warga.
    Selain membahas kesiapan program unggulan 2026, rapat koordinasi juga menyiapkan arah pembangunan Kota Depok pada 2027.
    Fokus pembangunan diarahkan pada penguatan infrastruktur yang menunjang mobilitas warga, penanganan banjir, peningkatan layanan dasar pendidikan dan kesehatan, serta penguatan sektor ekonomi.
    “Diharapkan melalui koordinasi yang solid dan kolaboratif, pembangunan Kota Depok ke depan dapat berjalan lebih efektif, merata, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan serta kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
    Wali Kota Depok Supian Suri menegaskan bahwa realisasi program dana Rp 300 juta per RW harus berjalan optimal mulai 2026 agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
    Ia meminta perencanaan program dimatangkan agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di setiap wilayah.
    “Program dana RW Rp 300 juta diharapkan mampu menjawab kebutuhan warga, sehingga mendorong pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kota Depok,” ujar Supian, Senin (22/12/25).
    Saat ini, Bappeda Kota Depok tengah menyusun Peraturan Wali Kota yang mengatur mekanisme pelaksanaan dana RW pada 2026.
    Pemkot Depok juga berencana membuka layanan pengaduan atau crisis center untuk memudahkan Ketua RW, lurah, dan camat berkonsultasi terkait perencanaan serta alokasi penggunaan dana tersebut.
    “Nantinya Pak RW, Pak Lurah, atau Pak Camat bisa berkonsultasi terkait perencanaan dan alokasi penggunaan dana RW yang digunakan melalui crisis center tersebut,” terangnya.
    Supian Suri juga meminta dukungan seluruh perangkat daerah agar seluruh program unggulan Pemkot Depok dapat berjalan optimal sesuai dengan perencanaan.
    “Saya minta bantuan semua perangkat daerah, camat, dan lurah untuk menyukseskan program-program unggulan ini,” tandasnya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Detik-detik Kebakaran Toko Material dan Bengkel di Ciputat yang Tewaskan 1 Orang
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    Damkar Tangsel Lakukan Pendinginan Usai Kebakaran Toko Material dan Bengkel Megapolitan 30 Desember 2025

    Damkar Tangsel Lakukan Pendinginan Usai Kebakaran Toko Material dan Bengkel
    Tim Redaksi
    TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com –
    Satu mobil pemadam kebakaran (damkar) Tangerang Selatan dikerahkan untuk melakukan pendinginan usai kebakaran toko material dan bengkel di Cirendeu, Ciputat, Selasa (30/12/2025).
    Berdasarkan pantauan
    Kompas.com
    , mobil damkar melakukan pendinginan di beberapa titik api dari dua bangunan itu.
    Personel yang berjumlah sekitar lima orang melakukan penyemprotan air ke sisa-sisa bangunan yang masih mengeluarkan asap guna mencegah munculnya kembali titik api.
    Penyemprotan tersebut difokuskan pada bagian dalam bangunan yang sebelumnya menjadi pusat
    kebakaran
    .
    Setelah melakukan pendinginan, asap putih pun perlahan menghilang.
    Meskipun begitu, bau hangus masih tercium di sekitar lokasi kebakaran itu.
    Petugas pun menghentikan penyemprotannya dan melakukan pengecekan di beberapa titik api.
    Setelah dipastikan kondisi sudah padam, para petugas langsung menggulung selang dan bersiap untuk meninggalkan lokasi kebakaran.
    Sekitar pukul 12.45 WIB, petugas damkar meninggalkan tempat kejadian setelah titik api dipastikan padam.
    Diketahui, toko material dan bengkel yang juga digunakan sebagai tempat tinggal di
    Ciputat Timur
    ,
    Tangerang Selatan
    , terbakar pada pukul 01.20 WIB.
    Dalam kebakaran tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia.
    “Objek yang terbakar merupakan toko material dan bengkel yang juga difungsikan sebagai tempat tinggal. Ada sekitar 90 persen yang terbakar,” kata Komandan Pleton (Danton) Alpha Dinas
    Pemadam Kebakaran
    dan Penyelamatan Tangerang Selatan, Gunawan kepada Kompas.com, Selasa.
    Gunawan mengatakan, anggotanya tiba di lokasi kejadian pada pukul 01.30 WIB, sepuluh menit setelah laporan diterima.
    Dalam proses pemadaman, unit damkar yang dikerahkan sebanyak 14 unit pemadam kebakaran dan
    rescue
    , termasuk tiga unit bantuan dari Kota Depok.
    Menurut Gunawan, api dengan cepat membesar dan menghanguskan sebagian besar bangunan.
    Ia menyebut, sekitar 90 persen area toko material, bengkel, sekaligus tempat tinggal tersebut terbakar.
    Api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 06.30 WIB.
    “Pemadaman dinyatakan selesai pukul 06.30 WIB. Saat ini kondisi sudah hijau dan kondusif, serta tidak ada hambatan dalam penanganan,” jelas Gunawan.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Buruh Ancam Demo Lagi dan Gugat ke PTUN jika Dedi Mulyadi Tak Ubah Nilai UMSK
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        30 Desember 2025

    Buruh Ancam Demo Lagi dan Gugat ke PTUN jika Dedi Mulyadi Tak Ubah Nilai UMSK Megapolitan 30 Desember 2025

    Buruh Ancam Demo Lagi dan Gugat ke PTUN jika Dedi Mulyadi Tak Ubah Nilai UMSK
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Massa buruh mengancam bakal demo lanjutan dan menggugat Upah Minimum Sektoral Kabupaten dan Kota (UMSK) Jawa Barat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). 
    Hal tersebut akan dilakukan jika Gubernur Jawa Barat
    Dedi Mulyadi
    tidak mengubah nilai UMSK sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 Tahun 2025.
    “Bilamana Pemerintah Pusat tidak mau meminta Dedi Mulyadi mengembalikan
    UMSK Jawa Barat
    tersebut, maka aksi akan berlanjut. Habis Lebaran, aksi lagi. Sampai kapan? Sampai Dedi Mulyadi mematuhi Peraturan Pemerintah,” kata Presiden  Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (
    KSPI
    ) Said Iqbal saat demo di Monas, Jakarta Pusat pada Selasa (30/12/2025).
    Ia menilai kebijakan Dedi Mulyadi bertentangan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 Tahun 2025 yang telah ditandatangani Presiden Prabowo Subianto.
    Menurut Said, dalam aturan tersebut UMSK tidak dapat diubah oleh gubernur, sementara yang dapat disesuaikan hanya Upah Minimum Kabupaten dan Kota (UMK).
    “Nilai UMSK yang sudah direkomendasikan bupati dan wali kota tidak boleh diubah. Kalau tetap diubah, itu pelanggaran terhadap PP, ucapnya.
    Selain demo lanjutan, Said mengungkapkan pihaknya sedang menyiapkan langkah hukum dengan mengajukan gugatan ke PTUN terhadap keputusan Gubernur Jawa Barat terkait penetapan UMSK tersebut.
    “Cara lain, kami juga sedang mempersiapkan
    gugatan PTUN
    terhadap keputusan Dedi Mulyadi ini,” ujarnya.
    Said menambahkan, aksi buruh tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga berlangsung di Jawa Barat.
    “Massa dari berbagai daerah di Jawa Barat, (yaitu) Cirebon, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Bogor, Depok. Sisi selatan Majalengka, Bandung Raya, Cianjur, dan Sukabumi. Semua bergerak,” ujar dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 3
                    
                        Usai Pengusiran Nenek Elina, Eri Cahyadi Ancam Bubarkan Ormas Preman di Surabaya
                        Regional

    3 Usai Pengusiran Nenek Elina, Eri Cahyadi Ancam Bubarkan Ormas Preman di Surabaya Regional

    Usai Pengusiran Nenek Elina, Eri Cahyadi Ancam Bubarkan Ormas Preman di Surabaya
    Tim Redaksi

    SURABAYA, KOMPAS.com
    – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengancam akan membubarkan organisasi masyarakat (ormas) yang terbukti melakukan praktik premanisme.
    Langkah itu untuk merespons kasus pengusiran
    Nenek Elina
    Widjajanti (80) dari rumahnya di Dukuh Kuwukan, Lontar, Sambikerep,
    Surabaya
    , oleh orang yang mengaku anggota ormas.
    “Jadi, ketika itu yang melakukan atas nama organisasi masyarakat, maka proses hukum harus berjalan,” kata Eri di Balai Kota Surabaya, Selasa (30/12/2025).
    “Dan kita juga akan merekomendasikan untuk dibubarkan ormas itu ketika melakukan premanisme di Kota Surabaya,” imbuhnya.
    Eri mengaku tidak ingin ada praktik premanisme yang meresahkan warga Surabaya.
    Pihaknya akan melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi tindak premanisme.
    Salah satunya, kata dia, dengan membentuk
    Satgas Anti-Premanisme
    di Surabaya.
    Satgas tersebut merupakan petugas gabungan dari TNI, Polri, dan sejumlah tokoh masyarakat.
    Kemudian, lanjut Eri, masyarakat juga bisa langsung melapor ketika menjadi korban aksi premanisme.
    Dengan demikian, pihaknya bisa langsung melakukan penindakan.
    “Kita tidak ingin ada premanisme dan kegiatan apa pun yang meresahkan masyarakat. Maka, ada yang melakukan ini (premanisme), hukumnya haram di Surabaya,” jelasnya.
    Diberitakan sebelumnya, Eri berniat membentuk Satgas Anti-Preman bersama TNI, Polri, dan tokoh masyarakat sebagai langkah preventif agar tindakan serupa tidak terulang lagi.
    “Kita buatkan tempat di Pemkot Surabaya untuk Satgas Anti-Preman. Surabaya harus aman,” kata Eri melalui rilisannya, Senin (29/12/2025).
    “TNI, Polri, dan seluruh elemen suku akan bergabung. Siapa pun yang melakukan premanisme akan ditindak dan dihilangkan dari kota ini,” tambahnya.
    Di sisi lain, Eri mengimbau seluruh masyarakat menyerahkan proses kasus Nenek Elina kepada aparat kepolisian agar tidak terjadi gesekan antarwarga di Surabaya.
    “Ayo warga Surabaya, kita saling menjaga dan mengawal proses hukumnya hingga tuntas dan Nenek Elina mendapatkan keadilan,” tutupnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.