3 Orang Selewengkan 100 Ton Pupuk Subsidi di Lampung, Dijual ke Bengkulu hingga Jambi
Tim Redaksi
LAMPUNG, KOMPAS.com
– Sebanyak tiga orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyelewengan pupuk bersubsidi di Lampung.
Lebih dari 100 ton pupuk bersubsidi itu dijual ke provinsi lain seperti Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung dan Sumatera Selatan.
Direktur Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda
Lampung
, Kombes Dery Agung Wijaya mengatakan, tiga orang yang menjadi tersangka adalah RDH, SP, dan S.
“Para tersangka adalah RDH (pemilik kios), SP (pengepul) dan S (perantara) yang berada di Lampung Tengah,” kata Dery di Mapolda Lampung, Rabu (7/1/2026).
Dery menjelaskan, kasus ini terungkap setelah kepolisian mendapatkan informasi dari masyarakat terkait distribusi pupuk bersubsidi di Lampung Tengah.
Para petani yang hendak membeli di kios tersangka RDH justru tidak mendapatkan pupuk yang diperlukan.
Kemudian beredar pupuk bersubsidi itu justru didistribusikan atau dijual ke wilayah lain yang tidak sesuai dengan ketentuannya.
“Oleh tersangka dijual ke kabupaten lain bahkan ke provinsi lain seperti Bengkulu, Sumsel, Jambi dan Bangka Belitung sejak Februari 2025 lalu,” katanya.
Dari hasil penyelidikan, para tersangka telah menjual lebih dari 100 ton atau sekitar 1.800 karung dengan total nilai mencapai Rp 500 juta.
Dery menambahkan, selain menangkap tiga tersangka, pihaknya juga menyita barang bukti berupa satu unit truk dan 8 ton pupuk bersubsidi jenis NPK Ponska.
Ketiga tersangka dijerat UU Nomor 7 Tahun 1955 Pasal 6 ayat 1 huruf D junto Pasal 1 sub 3e Undang-undang Nomor 7 Tahun 1955 tentang Tidak Pidana Ekonomi.
“Kami juga menerapkan Undang-undang Nomor 1 tahun 2023 tentang KUHP khususnya Pasal 20 huruf C,” katanya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Metropolitan
-
/data/photo/2026/01/07/695e15559371a.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
3 Orang Selewengkan 100 Ton Pupuk Subsidi di Lampung, Dijual ke Bengkulu hingga Jambi Regional 7 Januari 2026
-
/data/photo/2026/01/07/695e0e36bfa8f.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Uniknya Penumpang KRL Jogja–Solo, Berdiri Rapi Menghadap Depan Megapolitan 7 Januari 2026
Uniknya Penumpang KRL Jogja–Solo, Berdiri Rapi Menghadap Depan
Tim Redaksi
JOGJA, KOMPAS.com –
Sebuah video yang memperlihatkan penumpang KRL Jogja–Solo berdiri menghadap depan menjadi viral di media sosial.
Dalam video yang diunggah akun TikTok bernama Stranger, penumpang yang tidak mendapat kursi terlihat berdiri rapi mengikuti arah laju kereta.
Video berdurasi sekitar sembilan detik itu memperlihatkan gerbong dalam kondisi padat.
Hampir semua penumpang yang berdiri memegang tali pegangan dan menghadap ke satu arah, seolah sedang berbaris ke belakang.
Kondisi ini berbeda dengan KRL Jabodetabek, di mana penumpang yang berdiri biasanya saling berhadapan dengan penumpang yang duduk.
Dalam video tersebut juga dinarasikan bahwa kebiasaan ini memang terjadi di KRL Jogja–Solo.
“#krljogjasolo ternyata benar, pada hadap depan. Kompak banget,” tulis keterangan dalam video.
VP Corporate Secretary
KAI Commuter
, Karina Amanda, menyebut tidak ada aturan khusus terkait posisi berdiri penumpang.
“Tidak ada alasan khusus. Barangkali memang preferensi penumpang commuter line di Jogja–Solo seperti demikian,” ujar Karina saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
Karina menambahkan, yang terpenting penumpang tetap tertib dan memperhatikan keselamatan di dalam kereta.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/07/695dfa82adde7.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
TPS Pasar Induk Kramat Jati Menggunung, Warga Resah Bau dan Banyak Lalat Megapolitan 7 Januari 2026
TPS Pasar Induk Kramat Jati Menggunung, Warga Resah Bau dan Banyak Lalat
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
–
Tumpukan sampah
setinggi sekitar enam meter di Tempat Penampungan Sementara (TPS)
Pasar Induk Kramat Jati
, Jakarta Timur, memicu keluhan warga sekitar.
Selain
bau menyengat
, keberadaan sampah yang menggunung itu membuat
lalat berdatangan
hingga ke permukiman warga.
Syahrul (50), warga yang tinggal di sekitar Pasar Induk Kramat Jati, mengatakan kondisi tersebut semakin terasa terutama saat musim buah.
Menurut dia, lalat paling banyak berkumpul di area depan rumahnya yang berbatasan langsung dengan kawasan pasar.
“Sudah lama lah, sudah bukan lama lagi, sudah tahuna, tapi hampir ada sebulan terakhir lah yang tinggi,” ungkap Syahrul.
Syahrul menjelaskan, persoalan tumpukan sampah di pasar tersebut sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir dan sangat meresahkan warga.
“Sangat mengganggu, sangat mengganggu, apalagi anak-anak kecil kan. Bau menyengat begini kan sampah ya, tahu sendiri sampah apa aja ini kan,” tuturnya.
Meski terganggu, Syahrul menyebutkan, warga sekitar sejauh ini enggan menyampaikan protes secara resmi, baik kepada pengelola Pasar Induk Kramat Jati maupun kepada Dinas Lingkungan Hidup.
“Ya kalau untuk masalah protes cuma merasakan-merasakan aja, enggak ada yang berani ngomong gitu aja. Enggak ada yang berani demo, enggak ada yang berani cuma hanya parah sendiri-sendiri aja ngomong begini, entar cerita begini begini begini gitu,” tuturnya.
Sebelumnya, tumpukan sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati dikeluhkan warga pada Rabu (7/1/2026). Sampah yang berada di TPS pasar tersebut menimbulkan bau busuk menyengat hingga mencemari lingkungan sekitar.
Berdasarkan pemantauan
Kompas.com
di lokasi, sampah terlihat menggunung di area TPS Pasar Induk Kramat Jati. Tingginya diperkirakan mencapai lebih dari enam meter, bahkan melampaui tinggi truk pengangkut sampah yang melintas di kawasan pasar.
Selain bau tak sedap, kondisi jalan di sekitar TPS juga tampak becek. Air bercampur sisa-sisa sampah mengalir dan menggenangi badan jalan, membuat lingkungan pasar terlihat kumuh serta licin.
Di lokasi, terlihat satu truk sampah berukuran besar serta sebuah alat berat yang tengah melakukan pengangkutan. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi volume sampah yang terus bertambah setiap harinya.
Penelusuran
Kompas.com
di area luar pasar yang berbatasan langsung dengan TPS juga menemukan kondisi yang tak kalah memprihatinkan. Sebuah tembok pembatas di bagian belakang TPS tampak jebol, diduga akibat tekanan tumpukan sampah yang telah melebihi kapasitas.
Akibat kejadian tersebut, sejumlah bagian tembok dan tiang runtuh dan masuk ke dalam saluran air yang berada tepat di belakang TPS.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/07/695de4aba553c.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
1 Pimpinan KPK: BPK Sepakat Kerugian Negara Kasus Korupsi Haji Bisa Dihitung Nasional
Pimpinan KPK: BPK Sepakat Kerugian Negara Kasus Korupsi Haji Bisa Dihitung
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Fitroh Rohcahyanto mengatakan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sepakat kerugian keuangan negara akibat kasus korupsi kuota haji 2024 bisa dihitung dengan metode tersebut.
Dia mengatakan,
KPK
segera mengumumkan tersangka dalam perkara tersebut.
“Yang pasti sudah ada komunikasi di teman tim (KPK) dengan tim
BPK
yang Insya Allah sudah ada kesepakatan bersama bahwa itu bisa dihitung,” kata Fitroh di Gedung Juang KPK, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
“Ini bisa dihitung dengan metode tertentu, begitu saja,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua KPK Setyo Budiyanto mengatakan, penghitungan
kerugian negara
yang dilakukan bersama BPK untuk memastikan penanganan kasus sudah memenuhi syarat.
“Bukan menunggu secara final, bukan seperti itu. Tetapi ada hal-hal yang ingin memastikan bahwa segala sesuatunya itu secara pembuktian, secara pemeriksaan, itu semuanya sudah memang memenuhi syarat,” kata Setyo.
Diketahui, KPK tengah menyidik kasus dugaan korupsi terkait penentuan kuota haji tahun 2023-2024 di Kementerian Agama yang terjadi pada masa Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Dalam perkara ini, KPK menduga terdapat penyelewengan dalam pembagian 20.000 kuota tambahan yang diberikan pemerintah Arab Saudi.
Pelaksana tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menjelaskan, berdasarkan Pasal 64 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, diatur bahwa kuota haji khusus ditetapkan sebesar 8 persen, sedangkan kuota haji reguler ditetapkan sebesar 92 persen.
Dengan demikian, 20.000 kuota tambahan haji itu harusnya dibagi menjadi 18.400 atau setara 92 persen untuk haji reguler dan 1.600 atau setara 8 persen untuk haji khusus.
Namun, dalam perjalanannya, aturan tersebut tidak dilakukan Kementerian Agama.
“Tetapi kemudian, ini tidak sesuai, itu yang menjadi perbuatan melawan hukumnya, itu tidak sesuai aturan itu, tapi dibagi dua (yaitu) 10.000 untuk reguler, 10.000 lagi untuk kuota khusus,” ujar Asep.
“Jadi kan berbeda, harusnya 92 persen dengan 8 persen, ini menjadi 50 persen, 50 persen. Itu menyalahi aturan yang ada,” imbuh dia.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2022/11/19/637837d1bab7d.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kronologi Ojol Dianiaya Karyawan Showroom di Penjaringan Usai Diberi Bintang 1 Megapolitan 7 Januari 2026
Kronologi Ojol Dianiaya Karyawan Showroom di Penjaringan Usai Diberi Bintang 1
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Seorang pengemudi ojek
online
(ojol) berinisial MA dianiaya seorang karyawan
showroom
mobil berinisial JW di Jalan Pluit Selatan Raya, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2026).
Kapolsek Metro Penjaringan Kompol Agus Ady menjelaskan, mulanya MA menerima orderan pesanan makanan dari JW.
“MA menerima pesanan tersebut dan sudah menjelaskan bahwa nantinya akan ada biaya parkir sepeda motor, kemudian JW pun sudah menyetujuinya,” kata Agus saat dikonfirmasi
Kompas.com,
Rabu (6/1/2026).
Setelah pesanan diantar dan biaya parkir sebesar Rp 3.000 diberikan, MA meninggalkan lokasi.
Namun, ketika mengecek aplikasi, MA melihat bahwa JW memberikan penilaian bintang 1 kepadanya, yang mana hal itu membuat dirinya tidak bisa mendapatkan orderan.
“Jadi dikasih bintang 1 dan
driver
ojol ini dateng lagi mau mengklarifikasi permasalahan tersebut,” jelas Agus.
Saat MA datang kembali, JW diketahui tengah makan. MA kemudian meminta klarifikasi kepada JW mengenai penilaian bintang 1.
“Kemudian si
driver
ojol melempar makanan ke arah karyawan. Akhirnya sempat berantem dan direlai oleh satpam,” ungkap Agus.
Tak lama setelah itu, JW mengambil sebuah botol dan memukulkannya ke kepala MA. Akibatnya, MA mengalami luka di bagian kepala sebelah kiri.
“Korban dibawa ke Rumah Sakit Pluit untuk dilakukan penanganan medis dengan jahitan sebanyak delapan,” tutur Agus.
Seusai kejadian, sekitar 30 pengemudi ojol datang ke lokasi untuk menunjukkan solidaritas terhadap MA. Aksi tersebut dapat diantisipasi oleh anggota Polsek Metro Penjaringan dengan menerjunkan 10 personel.
Korban dan terduga pelaku kemudian dibawa ke Polsek Metro Penjaringan untuk dimintai keterangan. Korban diarahkan untuk membuat laporan polisi terkait insiden tersebut.
Agus menyampaikan, kedua belah pihak berencana menyelesaikan masalah ini melalui mekanisme keadilan restoratif.
“Katanya hari ini mau bertemu karena keduanya sudah selesai dan mau mediasi. Masuknya ke
restorative justice
ini,” ungkap Agus.
Hingga saat ini polisi masih mendalami keterangan dari kedua pihak terkait penyebab pasti terjadinya permasalahan tersebut.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/07/695dfda0349c5.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Diperiksa sebagai Tersangka, Richard Lee Penuhi Panggilan Polda Metro Megapolitan 7 Januari 2026
Diperiksa sebagai Tersangka, Richard Lee Penuhi Panggilan Polda Metro
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Dokter kecantikan, Richard Lee, memenuhi panggilan Polda Metro Jaya, Rabu (7/1/2026).
Berdasarkan pantauan
Kompas.com,
Richard Lee
tiba di area parkir gedung Ditreskrimsus
Polda Metro Jaya
sekitar pukul 12.58 WIB dengan mobil Alphard hitam bernopol B 707 PHS.
Richard Lee turun dari mobil di depan pintu masuk. Dia langsung berjalan cepat masuk melewati pintu kaca.
Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dipadukan dengan celana jeans. Dia tidak berbicara saat ditanya awak media mengenai pemeriksaan hari ini.
Kasubdit Indag Polda Metro Jaya, AKBP Ardila Amry mengatakan
Richard Lee diperiksa sebagai tersangka mengenai
perlindungan konsumen
.
“(Pemeriksaan) terkait pasal yang dipersangkakan, tentang tindak pidana bidang
kesehatan
dan atau perlindungan konsumen,” jelas Kasubdit Indag Polda Metro Jaya, AKBP Ardila Amry kepada wartawan, Rabu.
Lebih lanjut, Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Metro Jaya, Kombes Reonald Simanjuntak, mengatakan setelah pemeriksaan ini, penyidik akan mempertimbangkan untuk menahan Richard atau tidak.
Sebab penyidik belum memiliki kekhawatiran Richard kabur atau menghilangkan barang bukti, menghalangi ataupun menghalangi penyidikan.
“Belum dilakukan penahanan karena dari penyidik belum melihat adanya kekhawatiran itu. Nah nanti dilihat setelah pemeriksaan ini bagaimana,” jelas dia dihubungi terpisah.
Adapun Richard ditetapkan sebagai tersangka kasus pelanggaran perlindungan konsumen dari produk dan layanan kecantikan.
Ia dilaporkan dokter kecantikan, Samira atau dikenal sebagai Dokter Detektif ke Polda Metro Jaya. Laporan teregistrasi LP/B/7317/XII/2024/SPKT Polda Metro Jaya.
Saat ini perkara yang dilaporkan ini telah mencapai tahap penyidikan.
“Kami sampaikan perkara tersebut sudah dalam penyidikan, dan kami sampaikan penetapan tersangka itu dilakukan penetapan pada 15 Desember 2025 pada saudara RL,” jelas Reonald.
Sebaliknya, Samira pun telah lebih dulu menjadi tersangka atas kasus pencemaran nama baik yang dilayangkan Richard Lee di Polres Jakarta Selatan pada 12 Desember 2025.
“Penanganan dengan terlapor Samira dan pelapornya Richard Lee sudah naik ke tahap penyidikan, Dokter Samira sudah jadi tersangka terkait pencemaran nama baik,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, Kompol Dwi Manggalayudha, Rabu (24/12/2025).
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/07/695deb19c8fca.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Bikin Tembok Pembatas Jebol Megapolitan 7 Januari 2026
Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Bikin Tembok Pembatas Jebol
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Gunungan sampah setinggi sekitar enam meter di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, disebut menyebabkan tembok pembatas antarperkampungan warga jebol.
Syahrul (50), warga sekitar
Pasar Induk Kramat Jati
, menduga tembok tersebut roboh akibat tekanan sampah yang menumpuk berlebihan.
“Penyebabnya karena tertingginya sampah aja. Tingginya sampah dia terlalu mendorong, mendorong tembok, akhirnya mengenai beban tembok rubuh gitu,” ungkap Syahrul saat ditemui, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan, peristiwa jebolnya tembok pembatas terjadi sekitar sebulan terakhir. Akibatnya, bagian beton dan tiang tembok masuk ke saluran air.
“Belum lama, ada berapa bulan belum lama. Paling masih ada sebulanan itu mah. Tembok jebol ini mah,” tutur Syahrul.
Ia menambahkan, hingga kini pihak pengelola Pasar Induk Kramat Jati belum melakukan perbaikan. Warga pun enggan melaporkan kondisi tersebut ke pihak terkait.
“Ini (jalan) kalau dilalui warga ini cuman, bukan jalan umum sebenernya, jalan terobosan ke pasar aja gitu ya. Jadi ya enggak ada yang berani komen (kalau roboh),” jelas Syahrul.
“Cuman kalau masalah warga kebauan ini banyak yang ngomong cuman enggak berani lapor atau gimana enggak berani. Cuman hanya cerita-cerita gitu aja,” tambahnya.
Sebelumnya, tumpukan sampah menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dikeluhkan warga, Rabu (7/1/2026).
Tumpukan sampah yang berada di tempat penampungan sementara (TPS) pasar tersebut menimbulkan bau busuk menyengat hingga mencemari lingkungan sekitar.
Berdasarkan pemantauan
Kompas.com
di lokasi, sampah tampak menggunung di area TPS Pasar Induk Kramat Jati. Tingginya diperkirakan mencapai lebih dari enam meter, bahkan melampaui tinggi truk pengangkut sampah yang melintas di pasar.
Selain bau tak sedap, kondisi jalan di sekitar TPS juga terlihat becek. Air bercampur sisa-sisa sampah mengalir dan menggenangi badan jalan, membuat lingkungan pasar tampak kumuh dan licin.
Di lokasi, terlihat satu truk sampah berukuran besar serta sebuah alat berat yang tengah melakukan pengangkutan.
Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup mengatasi volume sampah yang terus bertambah.
Penelusuran
Kompas.com
di area luar pasar yang berbatasan langsung dengan TPS mendapati kondisi yang tak kalah memprihatinkan.
Sebuah tembok pembatas di belakang TPS tampak jebol, diduga akibat tekanan tumpukan sampah yang melebihi kapasitas.
Akibatnya, sejumlah bagian tembok dan tiang runtuh dan masuk ke dalam saluran air yang berada tepat di balik TPS.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2023/06/05/647dd86aa4073.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/07/695e054710e63.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/05/23/683076e602f75.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)