Category: Kompas.com Metropolitan

  • 4
                    
                        Umumkan Swasembada: Prabowo: Tak Masuk Akal, RI Kaya tapi Impor Pangan Terus
                        Nasional

    4 Umumkan Swasembada: Prabowo: Tak Masuk Akal, RI Kaya tapi Impor Pangan Terus Nasional

    Umumkan Swasembada, Prabowo: Tak Masuk Akal, RI Kaya tapi Impor Pangan Terus
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Presiden Prabowo Subianto menyatakan, tindakan Indonesia yang selama ini mengimpor pangan tidak masuk akal. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang makmur dan kaya.
    Hal ini dikatakan Presiden Prabowo saat mengumumkan Indonesia mencapai
    swasembada beras
    dalam acara Panen Raya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
    “Yang tidak masuk di akal saya, bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, bumi yang luas, bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor, impor,
    impor pangan
    . Tidak masuk di hati saya tidak masuk di akal saya,” kata Prabowo, Rabu.
    Prabowo juga heran mengapa negara yang sudah merdeka puluhan tahun, setelah berjuang melawan penjajah selama ratusan tahun, justru masih bergantung dengan negara lain.
    Menurut dia, kekayaan RI kurang dinikmati oleh sebagian besar masyarakat.
    “Saya tidak dapat menerima di akal sehat saya dan di hati saya, bagaimana negara yang begini makmur, bagaimana negara yang berjuang ratusan tahun untuk merdeka, tetapi kekayaannya kurang dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia,” ucap dia.
    Kepala Negara mengakui, fenomena tersebut menunjukkan ada yang salah. Meski bukanlah seorang profesor, Prabowo menilai, berbagai tanda adanya ketidaksesuaian sudah ia lihat.
    “Saya memang bukan orang pintar, saya tidak punya gelar profesor, tapi saya bisa melihat yang benar dan yang tidak benar. Saya bisa melihat yang masuk akal dan yang tidak masuk akal,” ujar dia.
    Bahkan, Prabowo dapat merasakan adanya ketidakadilan yang diderita masyarakat. Oleh karenanya, ia akan terus berjuang memperbaiki.
    Perjuangan ini, lanjutnya, sudah ia laksanakan dengan caranya sendiri sebelum menjadi Presiden RI, meski kerap disangka diktator maupun hendak melakukan kudeta.
    “Karena itu saya berjuang terus, saya dituduh mau jadi diktator. Saya dituduh mau berkuasa, saya dituduh mau kudeta, tetapi saya sejak muda saya bersumpah sebagai prajurit adalah prajurit dari Tentara Nasional Indonesia. TNI adalah tentara rakyat, TNI lahir dari rakyat. Waktu kita berjuang kita diberi makan oleh rakyat Indonesia,” tandas Prabowo.
    Sebagai informasi, Indonesia mengumumkan berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 2025.
    Kepala Negara mulanya menargetkan swasembada beras akan tercapai dalam waktu sekitar 4 hingga 5 tahun. Namun, swasembada justru dalam dicapai satu tahun setelah ia memimpin.
    Adapun sepanjang 2025 produksi beras Indonesia mencapai 34,71 juta ton, nominal tertinggi sepanjang sejarah.
    Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan, pada awal tahun 2026 terdapat stok 12,529 juta ton beras.
    Beras itu terdiri dari 3,248 juta ton stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), beras di rumah tangga, restoran, hotel, dan lainnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 6
                    
                        Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan
                        Megapolitan

    6 Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan Megapolitan

    Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Tingginya biaya hidup masih menjadi tantangan utama bagi sebagian besar warga Jakarta.
    Dengan harga kebutuhan pokok, tempat tinggal, hingga transportasi yang terus merangkak naik, pendapatan setara Upah Minimum Provinsi (UMP) kerap kali tidak cukup, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan.
    Kondisi tersebut memaksa banyak warga Ibu Kota mencari cara bertahan, mulai dari mengambil pekerjaan tambahan hingga mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas berbagai kebutuhan nonprioritas.
    Salah satunya dialami Rahmat Hidayat (35), warga Manggarai, Jakarta Selatan. Ia mengaku, penghasilan setara UMP dari pekerjaannya sebagai karyawan ritel elektronik di sebuah mal sering kali tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
    Rahmat harus menafkahi istri, anak berusia satu tahun, serta kedua orangtuanya. Untuk menambah pemasukan, ia pun mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengemudi ojek
    online
    .
    Selepas salat Subuh, Rahmat memanaskan sepeda motornya untuk mulai menarik penumpang. Sekitar pukul 11.00 WIB, ia pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja di toko elektronik pada pukul 15.00 WIB.
    Namun, ketika mendapat jadwal kerja pagi di toko, Rahmat justru menarik ojek
    online
    selepas Maghrib hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
    “Lumayan dari ojek nambah penghasilan rata-rata Rp 100.000 per hari,” kata dia saat diwawancarai
    Kompas.com
    di Manggarai, Selasa (6/1/2026).
    Jika ditotal, pendapatan Rahmat dari pekerjaan ritel dan ojek
    online
    mencapai sekitar Rp 8,3 juta per bulan. Meski demikian, jumlah tersebut tetap sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
    Menurut Rahmat, mahalnya biaya hidup di Jakarta menjadi penyebab utama penghasilannya cepat habis setiap bulan. Biaya makan dan listrik menjadi pos pengeluaran terbesar.
    “Makan enggak bisa dihitung, kadang masak, kadang beli di luar, dalam sebulan bisa lah Rp 4 juta,” ungkap dia.
    Ia menjelaskan, dalam sehari biaya makan untuk dirinya dan sang istri minimal Rp 50.000 per orang. Jika dikalikan 30 hari, totalnya mencapai sekitar Rp 3 juta per bulan.
    Sisa Rp 1 juta digunakan untuk membeli makanan, susu, serta camilan anaknya yang masih berusia satu tahun.
    Selain itu, Rahmat juga harus membayar tagihan listrik sekitar Rp 400.000 dan internet Rp 250.000 setiap bulan. Belum termasuk biaya sewa kontrakan sebesar Rp 1,2 juta per bulan.
    Tak heran, ayah satu anak itu harus bekerja ekstra demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya di Jakarta.
    Di tengah mahalnya biaya hidup, masih banyak warga Jakarta yang harus bertahan dengan penghasilan di bawah UMP. Salah satunya adalah Anitia Arlatasya (25), karyawan swasta di Jakarta Selatan.
    “Gaji saya hanya sekitar Rp 2,5 juta per bulan,” ungkap Anitia saat diwawancarai di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).
    Perempuan yang akrab disapa Tia itu mengaku, penghasilannya kerap kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, pendapatan suaminya sebagai kurir juga hanya sekitar Rp 3,5 juta per bulan.
    Dengan gaji pas-pasan, Tia dan suami harus membiayai satu orang anak, membayar kontrakan, serta memberikan jatah bulanan untuk orangtua.
    Dari total pendapatan rumah tangga, sekitar Rp 2 juta digunakan untuk membayar kontrakan dan listrik, Rp 500.000 untuk orangtua, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan makan, biaya sekolah anak, dan keperluan lainnya.
    Untuk bertahan hidup dengan pendapatan di bawah UMP, Tia dan suami memilih menghemat pengeluaran, terutama untuk makan, dengan lebih sering memasak di rumah.
    “Tipsnya mungkin dari makan sehari-harinya dihemat kalau bisa masak daripada beli di luar apalagi makannya enggak sendiri, bisa sama suami dan anak jadi paling masak,” tutur Tia.
    Jika memasak sendiri, biaya makan yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 50.000 per hari. Namun, jika membeli makanan di luar, pengeluarannya bisa mencapai Rp 100.000-an per hari.
    Selain itu, Tia juga menunda keinginan untuk jalan-jalan karena membutuhkan biaya besar. Dana tersebut lebih diprioritaskan untuk kebutuhan pendidikan anak.
    Ia bahkan mengalah untuk tidak membeli produk perawatan kulit dengan harga mahal.
    “Menunda kebutuhan kita skin care diirit-iritin kalau bisa harganya yang murah-murah aja,” tutur dia.
    Karyawan swasta lainnya, Rany Nur Anisa (29), mengaku memiliki gaji di atas UMP, yakni sekitar Rp 10 juta per bulan.
    “Pendapatannya rata-rata Rp 10 juta per bulan,” kata dia.
    Meski demikian, Rany tetap merasakan mahalnya biaya hidup di Jakarta. Menurut dia, pengeluaran terbesar berasal dari biaya makan dan sewa tempat tinggal.
    “Untuk makan dan tempat tinggal paling mahal, untuk makan aja karena berdua itu bisa Rp 2 juta kurang lebih, kontrakan Rp 1,5 juta per bulannya,” ucap Rany.
    Saat ini, Rany juga tengah berbadan dua dan membutuhkan dana tambahan untuk persalinan yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
    Karena itu, dari total pendapatannya, sekitar Rp 5 juta ia sisihkan untuk tabungan darurat dan kebutuhan anak.
    Dana darurat tersebut biasanya digunakan saat kondisi keuangan terdesak atau ketika pengeluaran membengkak sehingga pendapatan bulanan tidak mencukupi.
    Sementara itu, Aulia (25), warga Jakarta lainnya, juga menilai biaya hidup di Ibu Kota tergolong mahal meski dirinya sudah menerima gaji setara UMP dan belum memiliki tanggungan karena belum menikah.
    Ia mengaku, kedua orangtuanya masih bekerja sehingga dirinya tidak diwajibkan memberi jatah bulanan khusus.
    Namun, dari gaji sekitar Rp 5 juta, Aulia tetap mengalokasikan Rp 1 juta hingga Rp 1,3 juta untuk membantu kebutuhan rumah tangga, seperti membayar listrik, internet, membeli beras, minyak, dan jajan adiknya.
    Aulia menyebut, biaya listrik menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar, mencapai sekitar Rp 600.000 per bulan, meski menggunakan sistem token.

    Alhamdulillah
    kalau token begini bisa diatur sedemikian rupa dan langsung bisa tracking gimana penggunaan listrik di rumah sehari-hari. Tapi, dengan aku yang hidup serumah sama orangtua dan adik, aku enggak bisa pelit buat minta mereka hemat listrik,” jelas Aulia.
    Selain itu, sekitar Rp 1 juta per bulan digunakan untuk biaya transportasi kerja. Aulia merupakan pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi dan tidak memiliki kendaraan pribadi.
    “Biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Transportasi umum kita tuh udah affordable buat sehari-hari, tapi ternyata tetap aja
    cost
    untuk ongkos kerja doang bisa Rp 1 juta lebih tanpa dihambur-hamburkan. Aku aja banyak jalan kaki tapi kenapa ya ongkos aku tetep besar,” kata Aulia sambil tertawa.
    Menurut Aulia, mahalnya biaya hidup di Jakarta juga dipengaruhi perbedaan gaya hidup di tiap kawasan.
    Ia mencontohkan sejumlah wilayah yang dikenal sebagai kawasan elit, seperti Pondok Indah, Kemang, Gandaria, Petak Enam, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK).
    Biaya makan dan kebutuhan sehari-hari di kawasan tersebut dinilai jauh lebih mahal dibandingkan wilayah lainnya.
    “Cobain aja makan di Gandaria, terus bandingin pas coba makan di daerah Manggarai, harga beda meski itu jajanan kaki lima yang sama,” tutur Aulia.
    Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi warga Jakarta dengan penghasilan pas-pasan, terutama jika harus bekerja atau tinggal di sekitar kawasan elit yang memiliki biaya hidup lebih tinggi.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 9
                    
                        Viral Video Ayah Mendiang Prada Lucky Tolak Dijemput Provos di Kupang, Minta Surat Perintah Resmi
                        Regional

    9 Viral Video Ayah Mendiang Prada Lucky Tolak Dijemput Provos di Kupang, Minta Surat Perintah Resmi Regional

    Viral Video Ayah Mendiang Prada Lucky Tolak Dijemput Provos di Kupang, Minta Surat Perintah Resmi
    Tim Redaksi
    KUPANG, KOMPAS.com
    – Video penjemputan Pelda Christian Namo, ayah dari mendiang Prada Lucky Namo, oleh sejumlah anggota TNI Angkatan Darat di Pelabuhan Tenau Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial. Pelda Christian menolak dibawa aparat Provos karena petugas tidak menunjukkan surat perintah resmi.
    Peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba saat Pelda Christian baru saja turun dari kapal di
    Pelabuhan Tenau Kupang
    , Rabu (7/1/2026). Dalam video yang beredar, ia tampak mempertanyakan alasan penjemputan dan menolak naik ke mobil aparat sebelum dasar hukumnya dijelaskan.
    “Beta (saya) siap lepas baju. Beta punya anak sudah mati, jadi beta juga tidak mau mati. Jangan paksa beta. Beta hanya mau lihat surat perintah. Kasih tunjuk surat dulu baru beta naik mobil,” ucap Pelda Christian dengan nada tinggi sambil membuka pakaian dinasnya.
    Kuasa hukum Pelda Christian, Cosmas Jo Oko, menyatakan bahwa pihaknya mempertanyakan prosedur penjemputan tersebut. Menurutnya, penjemputan ini sangat mengejutkan karena kliennya tengah menjalani proses hukum dan dijadwalkan menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Kupang pada 9 Januari 2026.
    “Kami kaget. Klien kami sedang dalam proses hukum dan besok sudah ada agenda sidang. Tiba-tiba dijemput tanpa penjelasan hukum yang terang,” ujar Cosmas di lokasi kejadian, sebagaimana terekam dalam video.
    Cosmas menegaskan bahwa kliennya tidak berniat melawan institusi TNI, namun mereka menuntut transparansi dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Pihaknya bersedia mengikuti prosedur asalkan ada surat perintah yang jelas terkait perkara apa dan atas perintah siapa penjemputan tersebut dilakukan.
    Saat dikonfirmasi pada Rabu malam, Cosmas membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut kondisi psikologis kliennya saat ini masih dalam suasana duka mendalam atas meninggalnya sang anak,
    Prada Lucky Namo
    .
    Cosmas juga meminta agar kasus ini mendapat perhatian serius dari pimpinan tertinggi negara dan institusi militer. Ia berharap adanya evaluasi mendalam terhadap penanganan kasus yang menimpa kliennya.
    “Saya sebagai kuasa hukum meminta Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI turun tangan. Proses hukum harus berjalan secara jelas dan sesuai aturan,” tegas Cosmas.
    Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI mengenai dasar hukum dan tujuan penjemputan
    Pelda Christian Namo
    di Pelabuhan Tenau Kupang tersebut.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Usai Sidang Botok Cs, Mobil Tahanan Kejari Pati Tabrak Ibu-ibu, Korban Ditinggal Kabur
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        7 Januari 2026

    Usai Sidang Botok Cs, Mobil Tahanan Kejari Pati Tabrak Ibu-ibu, Korban Ditinggal Kabur Regional 7 Januari 2026

    Usai Sidang Botok Cs, Mobil Tahanan Kejari Pati Tabrak Ibu-ibu, Korban Ditinggal Kabur
    Tim Redaksi

    PATI, KOMPAS.com
    – Mobil tahanan milik Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati menabrak seorang ibu-ibu pengendara motor di depan kantor Pengadilan Negeri (PN) Pati, Rabu (7/1/2026).
    Momen itu terjadi usai dilaksanakan 
    sidang
    kedua terdakwa Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto.
    Usai sidang,
    mobil tahanan
    yang ditumpangi
    Botok Cs
    serta tahanan lain tersebut menabrak sepeda motor milik
    ibu-ibu
    .
    Namun, mobil tahanan langsung pergi begitu saja tanpa melihat kondisi orang yang ditabrak.
    Pihak Kejari
    Pati
    menyebut, mobil memang harus bergerak cepat karena membawa para tahanan. Kejaksaan juga memastikan akan menanggung biaya pengobatan korban.
    Peristiwa itu terjadi di lampu merah tepat di depan Kantor
    PN Pati
    .
    Akibatnya, ibu-ibu tersebut harus dilarikan ke
    Rumah Sakit
    Keluarga Sehat (KSH).
    Menurut saksi mata, Tono, ibu-ibu yang naik motor berada di samping mobil tahanan ketika putar balik, sehingga tabrakan tak bisa dihindari.
    “Mobil langsung menabrak motor, tapi begitu saja pergi tanpa melihat kondisi korban,” kata dia saat diwawancara oleh wartawan.
    Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit KSH untuk mendapatkan perawatan.
    Sementara itu, polisi yang berada di lokasi langsung memberikan pertolongan awal.
    Kasi Intel Kejari Pati, Rendra Yoki Pardede, mengakui insiden tersebut.
    Ia menjelaskan, bahwa mobil tahanan harus bergerak cepat sesuai prosedur karena membawa tahanan lain.
    “Ini saya sudah cek sama anggota di lapangan. Ibu-ibu sudah dibawa ke KSH, dan semua biaya perawatan ditanggung Kejari Pati. Kami juga sudah menghubungi keluarga korban,” ujarnya.
    Pardede menegaskan bahwa anggota Kejari sudah ada di lokasi untuk menolong korban, dan pihaknya bertanggung jawab penuh.
    “Sudah ada anggota yang menolong dan korban langsung dibawa ke KSH,” katanya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Sederet Kontroversi Yai Mim, Sempat Viral Berguling-guling hingga Ditetapkan Tersangka
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        7 Januari 2026

    Sederet Kontroversi Yai Mim, Sempat Viral Berguling-guling hingga Ditetapkan Tersangka Surabaya 7 Januari 2026

    Sederet Kontroversi Yai Mim, Sempat Viral Berguling-guling hingga Ditetapkan Tersangka
    Tim Redaksi
    MALANG, KOMPAS.com
    – Nama Imam Muslimin alias Yai Mim, mantan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, kembali mencuat di media sosial setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pornografi terhadap tetangganya, Nurul Sahara.
    Perseteruan antar tetangga ini terjadi di kawasan Kavling Depag III Atas, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota
    Malang
    .
    Konflik bermula dari persoalan lahan parkir kendaraan usaha rental milik Sahara yang berada tepat di depan rumah
    Yai Mim
    .
    Keduanya diketahui tinggal berdempetan. Yai Mim mengaku merasa terganggu karena parkiran kendaraan tersebut dinilai menyulitkan akses keluar-masuk rumahnya.
    Dia juga menyebut, telah menghibahkan sebagian tanah miliknya untuk dijadikan fasilitas umum (fasum) berupa jalan yang kini digunakan warga sekitar.
    Perselisihan tersebut kemudian diunggah ke media sosial oleh akun TikTok @sahara_vibesssss dan menjadi viral.
    Dalam video yang beredar, Yai Mim terlihat berguling-guling di tanah di depan rumahnya. Dia mengakui aksi tersebut sebagai bentuk “drama” yang sengaja dilakukan untuk memancing reaksi dari Sahara.
    Usai video tersebut viral, Yai Mim dipanggil pihak UIN Malang serta Inspektorat Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) untuk dimintai klarifikasi.
    Pada pertengahan September 2025, Yai Mim resmi diberhentikan sebagai dosen, sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis.
    Sementara itu, pemerintah kelurahan setempat sempat memfasilitasi proses mediasi antara Sahara dan Yai Mim.
    Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil lantaran Yai Mim disebut tidak pernah hadir dalam proses mediasi di kantor kelurahan.
    Konflik kian memanas. Yai Mim dinilai kerap membuat keresahan di lingkungan Kavling Depag III Atas hingga akhirnya menerima surat pengusiran dari ketua RT setempat.
    Surat tersebut memuat lima poin alasan pengusiran, termasuk dugaan pelanggaran norma kesopanan dan adat istiadat lingkungan.
    Perseteruan kemudian merambah ke jalur hukum. Pada akhir September 2025, Sahara kemudian disusul dengan Yai Mim saling melaporkan dugaan pencemaran nama baik ke Polresta Malang Kota.
    Tak berhenti di situ, pada 7 Oktober 2025, Yai Mim kembali melayangkan laporan terkait dugaan penistaan agama dan persekusi yang diduga dilakukan oleh warga Perumahan Kavling Depag III Atas.
    Dalam laporan tersebut, sedikitnya 15 warga, termasuk suami Sahara, Sofwan, turut dilaporkan atas dugaan persekusi.
    Selain itu, Yai Mim juga melaporkan dugaan penistaan agama terkait pembakaran alat shalat milik istrinya, Rosyida Vignesvari.
    Saat itu, dia mengeklaim mengalami kerugian hingga Rp 30 juta. Selain sajadah yang diduga dibakar, sejumlah barang berharga seperti jam tangan bermerek dan sepatu Louis Vuitton juga disebut hilang.
    Laporan tersebut kemudian dibalas oleh Sahara. Pada 23 Oktober 2025, dia melaporkan Yai Mim ke Polresta Malang Kota atas dugaan pelecehan seksual dan pornografi.
    Sahara mengeklaim bahwa dia mengalami pelecehan verbal yang dilakukan berulang kali. Meski tidak dilakukan secara langsung, tindakan tersebut disebut berdampak serius terhadap kondisi psikologisnya.
    Kasus ini kemudian didalami oleh Polresta Malang Kota dengan memeriksa setidaknya sembilan orang saksi.
    Selain keterangan saksi, hasil pemeriksaan psikologis terhadap Sahara turut disertakan guna memperkuat dugaan tindak pidana yang dilaporkan.
    Perkara dugaan pornografi tersebut naik ke tahap penyidikan pada 13 November 2025. Proses hukum terus berjalan hingga penyidik Polresta Malang Kota melakukan gelar perkara pada 7 Januari 2026.
    Dalam gelar perkara tersebut, penyidik resmi menetapkan Imam Muslimin alias Yai Mim sebagai tersangka atas laporan dugaan pornografi yang dilayangkan oleh Nurul Sahara.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Antisipasi Super Flu, Bandara Bali Pasang Alat Pemindai Suhu Tubuh
                
                    
                        
                            Denpasar
                        
                        7 Januari 2026

    Antisipasi Super Flu, Bandara Bali Pasang Alat Pemindai Suhu Tubuh Denpasar 7 Januari 2026

    Antisipasi Super Flu, Bandara Bali Pasang Alat Pemindai Suhu Tubuh
    Tim Redaksi
    DENPASAR, KOMPAS.com
    – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, mulai menerapkan pengecekan suhu tubuh bagi para penumpang internasional.
    Langkah tersebut sebagai gerbang awal untuk mengantisipasi penyebaran virus influenza A (H3N2) subklad K atau
    super flu
    .
    General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Balai Besar Karantina Kesehatan Denpasar (BBKK Denpasar) telah menyiapkan sejumlah langkah kesiapsiagaan di lingkungan bandara.
    Salah satu di antaranya, memasang alat
    thermal scanner
    atau pemindai suhu tubuh di terminal kedatangan internasional.
    “BBKK Denpasar juga telah menyiagakan petugas untuk melakukan pemantauan terhadap penumpang dengan menggunakan alat pendeteksi suhu tubuh,” kata dia dalam keterangan tertulis pada Rabu (7/1/2026).
    Ia mengatakan, alat
    thermal scanner
    merupakan alat yang pernah digunakan untuk mendeteksi virus corana pada masa pandemi Covid-19 lalu.
    Selain itu, pihaknya juga menyiapkan ruang pemeriksaan kesehatan bagi para penumpang yang terdeteksi mengalami super flu.
    “Termometer atau termogan yang kami siapkan pada masa pandemi lalu bisa kami gunakan dan kami
    standby
    -kan kembali sejak saat ini. Semua beroperasi dalam keadaan baik,” katanya.
    Ia menambahkan, pihaknya berkoordinasi dan menunggu arahan dari Kementerian Kesehatan dan pihak terkait untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut.
    “Saat ini kami antisipasi, kami siap dengan perawatan dan personel tetap waspada. Seluruh langkah ini dilakukan sebagai wujud tanggung jawab dalam menjaga kesehatan dan keamanan seluruh pengguna jasa bandara,” katanya.
    Dilansir dari
    Kompas.com
    , Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 62 kasus super flu di Indonesia hingga Desember 2025.
    Kasus tersebut tersebar di delapan provinsi dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
    Pakar Imunologi Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran FK Unair, dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si, menjelaskan bahwa virus influenza, khususnya tipe A, memiliki sifat yang sangat dinamis.
    Kemampuan virus ini dalam melakukan
    reassortment
    atau penyusunan ulang materi genetik memungkinkan munculnya varian baru yang berpotensi meningkatkan tingkat penularan maupun keparahan penyakit.
    “Virus influenza, khususnya tipe A sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” kata dr. Agung di Surabaya, Rabu (7/1/20206) dikutip dari
    Antara
    .
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kasus Leptospirosis di DI Yogyakarta Capai Ratusan pada 2025, Puluhan Meninggal Dunia
                
                    
                        
                            Yogyakarta
                        
                        7 Januari 2026

    Kasus Leptospirosis di DI Yogyakarta Capai Ratusan pada 2025, Puluhan Meninggal Dunia Yogyakarta 7 Januari 2026

    Kasus Leptospirosis di DI Yogyakarta Capai Ratusan pada 2025, Puluhan Meninggal Dunia
    Tim Redaksi
    YOGYAKARTA, KOMPAS.com
    – Penyakit Leptospirosis masih menjadi ancaman kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
    Dinas Kesehatan DIY
    mencatat ratusan kasus terjadi dari Januari hingga November 2025.
    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Ari Kurniawati, menyatakan total
    kasus Leptospirosis
    dari Januari hingga November 2025 mencapai 453.
    Kabupaten Bantul mencatat kasus terbanyak dengan 227 kasus, disusul Kabupaten Sleman (118 kasus), Kabupaten Kulon Progo (49 kasus), Kota Yogyakarta (32 kasus), dan Kabupaten Gunungkidul (27 kasus).
    “Di empat kabupaten atau kota dominannya di persawahan, karena air kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira itu dia melewati aliran air, salah satunya sampai persawahan,” ujar Ari, Rabu (7/1/2026).
    Dari ratusan kasus tersebut, 38 di antaranya meninggal dunia.
    Rincian kasus meninggal dunia adalah Kabupaten Bantul (12 kasus), Kabupaten Sleman (11 kasus), Kota Yogyakarta (8 kasus), Kulon Progo (6 kasus), dan Gunungkidul (1 kasus).
    Ari menambahkan bahwa Leptospirosis termasuk penyakit yang harus terus diwaspadai.
    Pada 2025, Surat Edaran Gubernur DIY telah diterbitkan untuk meminta seluruh sektor, tidak hanya kesehatan, agar waspada terhadap Leptospirosis.
    “Karena leptospirosis itu kan penyakit demam, sementara demam itu diagnosisnya bisa macam-macam, bisa demam berdarah, bisa leptospirosis, bisa penyakit lain,” jelasnya.
    Tinggi kasus di Kabupaten Bantul disebabkan oleh banyaknya area persawahan yang meningkatkan risiko penularan.
    “Petani berisiko terinfeksi leptospirosis. Kasusnya itu masih terus ada,” kata Ari.
    Menurut Ari, pola penularan di Kota Yogyakarta berbeda, di mana penularan banyak terjadi karena timbunan sampah dan perubahan iklim.
    “Jadi terkait sanitasi lingkungan, persampahan, untuk perubahan iklim, banjir walaupun kecil, sisa-sisa genangan, itu bisa berpengaruh,” katanya.
    Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya mencegah penyebaran Leptospirosis melalui program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
    Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan perbaikan RTLH sebagai langkah penting untuk menjamin kesehatan masyarakat.
    “Tempat tinggal dan lingkungan yang bersih akan memberikan rasa nyaman dan aman untuk tinggal, serta mengurangi risiko penyebaran penyakit,” ungkap Hasto pada Senin (4/8/2025).
    Perbaikan RTLH juga bertujuan mengurangi risiko penularan penyakit Tuberkulosis (TBC).
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Wabah Superflu H3N2 di Indonesia Meningkat, Pakar Mikrobiologi Unair Sebut Pentingnya Vaksinasi dan Diagnosis Cepat
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        7 Januari 2026

    Wabah Superflu H3N2 di Indonesia Meningkat, Pakar Mikrobiologi Unair Sebut Pentingnya Vaksinasi dan Diagnosis Cepat Surabaya 7 Januari 2026

    Wabah Superflu H3N2 di Indonesia Meningkat, Pakar Mikrobiologi Unair Sebut Pentingnya Vaksinasi dan Diagnosis Cepat
    Tim Redaksi
    SURABAYA, KOMPAS.com
    – Ancaman virus influenza di Indonesia kini memasuki babak baru dengan munculnya varian H3N2 Subclade K atau yang populer disebut sebagai “Superflu”.
    Menurut Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dr Agung Dwi Wahyu Widodo dr MSi mengatakan varian H3N2 yang kini tengah menjadi sorotan merupakan bagian dari virus Influenza tipe A.
    Ia menjelaskan bahwa Influenza A memiliki variasi antigenik yang tinggi karena adanya protein permukaan Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA).
    Fenomena Superflu terjadi akibat antigenic drift atau mutasi genetik yang membuat virus terus berevolusi.
    “Virus influenza, khususnya tipe A, sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” paparnya, Rabu (7/1/2026).
    Berdasarkan data terkini menunjukkan bahwa varian H3N2 Subclade K telah terdeteksi di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.
    Meski gejalanya serupa dengan flu biasa seperti demam, batuk, dan nyeri otot, mutasi pada varian ini meningkatkan kekhawatiran akan risiko komplikasi seperti pneumonia bagi kelompok rentan.
    Dalam menghadapi lonjakan kasus influenza, ia menekankan vitalnya peran laboratorium mikrobiologi klinik dalam melakukan diagnosis yang akurat.
    Ia menyebut bahwa metode Real-Time PCR (RT-PCR) tetap menjadi standar emas (gold standard) untuk membedakan influenza dengan virus pernapasan lainnya seperti SARS-CoV-2 atau RSV.
    “Diagnosis cepat bukan sekadar untuk menentukan obat, tetapi juga untuk surveilans strain. Kita perlu memantau apakah virus yang beredar telah mengalami resistensi terhadap antiviral yang ada saat ini,” ujarnya.
    Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pentingnya vaksinasi influenza tahunan.
    Ia menerangkan vaksinasi adalah cara paling efektif untuk menekan risiko keparahan akibat Superflu.
    Mengingat sifat virus yang terus bermutasi (antigenic drift), pembaruan vaksin secara rutin sangat diperlukan agar kekebalan tubuh tetap relevan dengan strain yang sedang bersirkulasi di masyarakat.
    “Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan secara komunitas juga akan ikut menurun,” tuturnya.
    Selain vaksinasi, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap menjadi garda terdepan pencegahan.
    Dari sisi pengobatan, pemberian antiviral seperti Oseltamivir masih dinilai efektif jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul.
    Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan gejala flu, terutama di tengah musim hujan dan munculnya varian baru.
    “Kesadaran akan diagnosis dini dan kelengkapan vaksinasi diharapkan dapat mencegah terjadinya wabah yang lebih luas di Indonesia,” pungkasnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 8
                    
                        Warga Puri Asih Sejahtera Kaget Rumah Dieksekusi, Mengaku Beli Tunai sejak 1980-an
                        Megapolitan

    8 Warga Puri Asih Sejahtera Kaget Rumah Dieksekusi, Mengaku Beli Tunai sejak 1980-an Megapolitan

    Warga Puri Asih Sejahtera Kaget Rumah Dieksekusi, Mengaku Beli Tunai sejak 1980-an
    Tim Redaksi

    BEKASI, KOMPAS.com
    – Warga Perumahan
    Puri Asih Sejahtera
    , Bekasi Selatan, mengaku terkejut setelah menerima surat perintah eksekusi pengosongan rumah dari Pengadilan Negeri (PN) Bekasi, meskipun mereka menyatakan telah membeli dan menempati hunian tersebut sejak puluhan tahun lalu.
    Nelda (50), warga RT 07/RW 01 Kelurahan Jaka Setia, mengatakan rumah yang ditempatinya dibeli secara tunai pada 1984. Selama lebih dari tiga dekade, ia mengaku tidak pernah menghadapi persoalan terkait kepemilikan lahan.
    “Saya masuk tahun 1984, dan beli dengan harga
    cash
    . Saya enggak tahu kalau tempat ini dibeli sama PT Puri Indah. Sekarang di sini sudah ada 100 KK (kepala keluarga). Dan tidak ada satu pun yang dikasih tahu, padahal kami tidak bersalah,” ujar Nelda saat ditemui
    Kompas.com
    di rumahnya, Rabu (7/1/2026).
    Nelda menyebut rumah tipe 54 tersebut dibeli dengan harga Rp 9.500.000. Ia menegaskan, selama bertahun-tahun kondisi berjalan normal tanpa sengketa.
    “Dulu bagus-bagus saja,” katanya.
    Persoalan baru muncul ketika warga berupaya mengurus sertifikat kepemilikan rumah. Menurut Nelda, pihak pengembang hanya memberikan janji tanpa kepastian, seiring kondisi perusahaan yang disebut telah kolaps.
    “Saat kami mau bikin sertifikat, hanya janji-janji melulu. Katanya 2 bulan, 3 bulan diulur terus,” ujar Nelda.
    Ia mengaku kaget ketika menerima surat pemberitahuan eksekusi pengosongan rumah pada 2024.
    “Tiba-tiba Tahun 2024 ini sudah inkrah di
    Pengadilan Negeri Bekasi
    ,” katanya.
    Keluhan serupa disampaikan Agus (43), warga lainnya. Ia mengatakan orangtuanya membeli rumah di kawasan tersebut dari PT Puri Asih Sejahtera pada 1983 dan kemudian diwariskan kepadanya.
    Namun, pada 1990-an, lahan tersebut disebut dilelang kepada PT Taspen tanpa adanya penjelasan kepada warga yang telah lama menempati kawasan itu.
    “Kami itu sudah lama, ya. Ini warisan dari orangtua. Beberapa orang tua kami sebenarnya emang udah ada yang meninggal. Cuman kan tiba-tiba aja prosesnya adalah eksekusi. Dan kami di sini tidak dikasih waktu,” ujar Agus.
    Agus menilai warga seharusnya diberi kesempatan untuk menempuh upaya hukum atau mengajukan penundaan eksekusi sebelum pelaksanaan dilakukan.
    “Ya seharusnya kan dikasih waktu untuk menahan eksekusi. Cuma yang terjadi langsung eksekusi aja tanpa ada dikasih kesempatan untuk sosialisasi ya, untuk kami mengajukan ke hukum juga, segala macam,” katanya.
    Sebelumnya diberitakan, Pengadilan Negeri Kota Bekasi mengeksekusi 12 unit rumah di Perumahan Puri Asih Sejahtera pada Rabu (7/1/2026). Eksekusi dilakukan berdasarkan dua putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.
    Panitera Muda Perdata PN Bekasi, Dewi Trisetyawati, mengatakan putusan pertama tercantum dalam perkara Nomor 297/Pdt.G/2009/PN.Bks dengan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) Nomor 1101 PK/Pdt/2024 yang diajukan delapan warga dan diputus pada 16 Desember 2024.
    Sementara putusan kedua berasal dari perkara Nomor 246/Pdt.G/2008/PN.Bks dengan PK Nomor 1107 PK/Pdt/2024 yang diajukan empat warga dan diputus pada 18 Desember 2024.
    “Intinya kami di sini melaksanakan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Kami ada dua penetapan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Bekasi, yaitu terkait nomor 8 pada PDT Eksekusi dan 9 PDT Eksekusi,” kata Dewi di lokasi.
    Berdasarkan pantauan
    Kompas.com
    , proses eksekusi berlangsung ricuh. Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan warga berkumpul di depan portal perumahan dan memblokade akses masuk sambil membawa spanduk penolakan.
    Teriakan keberatan terdengar bergantian. Sejumlah warga tampak emosional, bahkan menangis sambil memeluk anggota keluarga mereka. Situasi memanas ketika aparat kepolisian mulai memasuki kawasan untuk melakukan pengamanan.
    Aksi dorong-dorongan sempat terjadi antara warga dan aparat hingga menyebabkan beberapa orang terjatuh. Seorang perempuan terlihat menangis dan mengaku mengalami pemukulan saat berada di tengah massa.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Seorang Lansia Tewas Saat Rumahnya Terbakar di Pematangsiantar
                
                    
                        
                            Medan
                        
                        7 Januari 2026

    Seorang Lansia Tewas Saat Rumahnya Terbakar di Pematangsiantar Medan 7 Januari 2026

    Seorang Lansia Tewas Saat Rumahnya Terbakar di Pematangsiantar
    Tim Redaksi
    PEMATANGSIANTAR, KOMPAS.com
    – Peristiwa kebakaran rumah di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, menewaskan seorang wanita lansia inisial FS (73).
    Saat insiden itu, korban sedang terbaring di tempat tidur dan tidak dapat menyelamatkan diri.
    Insiden
    kebakaran rumah
    ini terjadi di Jalan Pargaulan, Kelurahan Suka Dame, Kecamatan Siantar Utara, Selasa (6/1/2026) malam sekitar pukul 19.15 WIB.
    Humas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Pematangsiantar Parulian Simalango mengatakan, objek yang terbakar yakni rumah permanen seluas 5×30 meter. 
    “Saat personel Damkar turun, api telah dipadamkan oleh warga setempat. Penyebab kebakaran diduga akibat korsleting listrik,” kata Parulian saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).
    Menurut warga di lokasi, kebakaran diketahui saat kepulan asap keluar dari bagian dapur rumah, namun api tidak sempat membesar. Saat insiden itu, korban terbaring di atas tempat tidur karena kondisinya sedang sakit.
    Saat api menyambar tempat tidur korban, diduga ia tidak dapat menyelamatkan diri. Sementara itu anggota keluarga korban sedang berada di luar rumah.
    “Korban selama ini mengidap stroke, kemungkinan tidak dapat menyelamatkan diri,” ucap seorang warga saat ditemui di lokasi.
    Warga semula tak menyadari ada kebakaran. Setelah terlihat asap, warga langsung berinisiatif membantu memadamkan api. Korban ditemukan di tempat tidur di dapur dalam kondisi terbakar.
    Pasca-insiden itu, jasad korban dievakuasi ke RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar. Sementara pihak kepolisian turun untuk mengecek lokasi.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.