KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Terlambat, Penumpang Menumpuk di Stasiun Rawa Buntu
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Keterlambatan perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) relasi Rangkasbitung–Tanah Abang dikeluhkan penumpang.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @infotangerang.id dinarasikan perjalanan KRL terlambat sehingga menyebabkan penumpang menumpuk di Stasiun Rawa Buntu pada Kamis (8/1/2026) pagi.
“Sering terlambat, KRL Rangkasbitung-Tanah Abang dikeluhkan warganet karena picu penumpukan,” tulis keterangan tersebut.
Dalam video terlihat area peron tampak dipenuhi para penumpang yang hilir mudik.
Ketika rangkaian tiba, mereka bergegas mendekat ke pintu.
Namun karena ruang di dalam gerbong sudah penuh, banyak penumpang kesulitan naik.
Terlihat beberapa orang menempel di ambang pintu, ada yang berpegangan di atas, bahkan sebagian tetap memaksa masuk meski kondisi sudah padat dan berdesakan.
Dikonfirmasi terpisah, VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyebut keterlambatan yang terjadi pada lintas Rangkasbitung–Tanah Abang dipicu gangguan di jalur.
Menurut Karina, satu rangkaian KRL sempat tertahan karena ada sepeda motor yang menyenggol (menemper) kereta di jalur hilir, tepatnya di antara Stasiun Daru dan Stasiun Parung Panjang.
“Pagi ini ada keterlambatan 1 KA kurang lebih 7 menit karena ada sepeda motor yang menemper KRL di jalur hilir antara Stasiun Daru – Stasiun Parung Panjang,” ujar Karina, Kamis.
Karina menambahkan, petugas di lapangan segera melakukan pengecekan dan penanganan agar perjalanan kembali normal.
Setelah dipastikan aman, rangkaian kembali dijalankan secara bertahap.
Ia mengimbau pengguna untuk selalu memperhatikan keselamatan, terutama di perlintasan sebidang, serta memantau informasi resmi terkait perjalanan KRL.
“Perjalanan sudah kembali berjalan lancar,” kata dia.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Metropolitan
-
/data/photo/2026/01/08/695f14ab68f34.jfif?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Terlambat, Penumpang Menumpuk di Stasiun Rawa Buntu Megapolitan 8 Januari 2026
-
/data/photo/2025/10/02/68de4d9088b1a.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
5 Peta Dukungan Ide Pilkada via DPRD: 5 Partai di Parlemen Setuju, PDIP Menolak Nasional
Peta Dukungan Ide Pilkada via DPRD: 5 Partai di Parlemen Setuju, PDIP Menolak
Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com
– Ide pemilihan kepala daerah oleh DPRD semakin dinamis setelah Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia mengutarakan usulannya tersebut di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Di hadapan Prabowo pada peringatan HUT ke-61
Golkar
, Bahlil menyatakan bahwa pihaknya telah mengkaji dan mengusulkan agar
kepala daerah
dipilih oleh
DPRD
.
“Khusus menyangkut
pilkada
, setahun lalu kami menyampaikan kalau bisa pilkada dipilih lewat DPRD saja. Banyak pro kontra, tapi setelah kita mengkaji, alangkah lebih baiknya memang kita lakukan sesuai dengan pemilihan lewat DPR kabupaten/kota biar tidak lagi pusing-pusing. Saya yakin ini perlu kajian mendalam,” kata Bahlil dalam sambutannya di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025) malam.
Bahlil menilai, pembahasan RUU bidang politik dapat dimulai tahun depan. Namun, ia mengingatkan agar pembahasan dilakukan secara komprehensif.
“RUU ini harus melalui kajian yang mendalam,” ujar Bahlil.
Kini, terdapat lima partai di parlemen yang menyatakan dukungannya terhadap usulan tersebut. Siapa saja partai tersebut? Berikut rangkumannya dari Kompas.com:
Partai berlambang pohon beringin pimpinan Bahlil menjadi yang terdepan dalam mendukung pilkada melalui DPRD.
Bahkan, usulan tersebut termaktub dalam hasil rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Golkar pada Desember 2025.
“Adapun sepuluh pernyataan politik Rapimnas I Partai Golkar tahun 2025 di antaranya adalah Partai Golkar mengusulkan pilkada melalui DPRD sebagai wujud pelaksanaan kedaulatan rakyat, dengan menitik beratkan pada keterlibatan dan partisipasi publik dalam proses pelaksanaannya,” demikian bunyi siaran pers Partai Golkar, Minggu (21/12/2025).
Setelah Bahlil mengutarakan usulannya itu di hadapan Prabowo, Partai Gerindra pun menyampaikan dukungannya terhadap usulan agar kepala daerah dipilih oleh DPRD.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono menyampaikan bahwa kepala daerah yang dipilih oleh DPRD akan lebih efisien dari sisi anggaran.
Selain dari sisi anggaran, kepala daerah yang dipilih DPRD juga lebih efisien dalam penjaringan kandidat, mekanisme, anggaran, ongkos politik, hingga pemilihan terlaksana.
“Gerindra ada dalam posisi mendukung upaya ataupun rencana untuk melaksanakan pemilukada ini oleh DPRD di tingkat bupati, wali kota ataupun di tingkat gubernur,” ujar Sugiono dalam keterangannya, Senin (29/12/2025).
Dokumentasi Partai Gerindra Sugiono (tengah) usai resmi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) baru Partai Gerindra menggantikan Ahmad Muzani, Jumat (1/8/2025).
Sugiono pun mencontohkan pada 2015, ketika dana hibah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pelaksanaan pilkada menyentuh hampir Rp 7 triliun.
Angka tersebut meningkat pada 2024, di mana dana hibah dari APBD untuk pelaksanaan pilkada meningkat menjadi lebih dari Rp 37 triliun.
Di samping itu, ia menyorot ongkos politik calon kepala daerah yang cenderung mahal dan kerap menjadi hambatan bagi sosok yang berkompeten.
Oleh karena itu, Partai Gerindra dalam posisi mendukung usulan agar DPRD yang memilih gubernur, bupati, maupun wali kota.
“Dari sisi efisiensi, baik itu proses, mekanisme, dan juga anggarannya kami mendukung rencana untuk melaksanakan
pilkada lewat DPRD
,” ujar Sugiono.
Sebelum menjadi perbincangan di akhir tahun, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sudah menyatakan dukungan untuk pilkada lewat DPRD pada pertengahan 2025.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, kepala daerah semestinya ditunjuk oleh pemerintah pusat atau dipilih oleh DPRD di masing-masing daerah.
“Saatnya
pemilihan kepala daerah
dilakukan evaluasi total, manfaat dan mudaratnya,” kata Cak Imin dalam acara Hari Lahir ke-27 PKB di JICC, Jakarta, 23 Juli 2025.
“Kalau tidak ditunjuk oleh pusat, maksimal pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD-DPRD di seluruh tanah air,” sambungnya.
Sementara itu, Fraksi Partai Nasdem DPR menilai pemilihan kepala daerah oleh DPRD masih sesuai konstitusi dan demokrasi.
Oleh karena itu, Partai Nasdem menjadi salah satu yang mendukung usulan DPRD memilih kepala daerah.
Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR Viktor Laiskodat mengatakan, konstitusi Indonesia tidak menetapkan satu model tunggal dalam demokrasi elektoral di tingkat daerah.
ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A Ilustrasi pemungutan suara ulang (PSU).
Sehingga mekanisme gubernur, bupati, dan wali kota dipilih DPRD dapat dipandang sebagai bentuk demokrasi perwakilan yang sah dan konstitusional.
“Konstitusi kita tidak mengunci demokrasi pada satu model. Pilkada melalui DPRD memiliki dasar konstitusional yang sah dan tetap berada dalam koridor demokrasi,” ujar Viktor dalam keterangannya, Senin (29/12/2025).
Perubahan mekanisme pilkada dinilai tidak bertujuan melemahkan demokrasi, melainkan untuk memastikan proses demokrasi tetap berlangsung secara sehat dan tidak sekadar menjadi agenda rutin setiap lima tahun.
Fraksi Partai Nasdem memandang, demokrasi tidak seharusnya dipahami hanya sebagai prosedur pencoblosan, melainkan sebagai sarana untuk menghadirkan kepemimpinan daerah yang berintegritas, efektif, serta mampu merespons aspirasi masyarakat.
“Demokrasi yang hidup adalah demokrasi yang mampu beradaptasi, memperbaiki diri, dan tetap menjamin keterwakilan rakyat. Selama prinsip partisipasi, akuntabilitas, dan kontrol publik dijaga, demokrasi tidak sedang dimatikan, tetapi justru diperkuat,” ujar Viktor.
Terbaru, Partai Demokrat menyatakan dukungannya terhadap usulan
kepala daerah dipilih DPRD
.
Padahal pada masa lalu, sistem pemilihan itu digagalkan oleh Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron mengatakan, partainya berada pada barisan yang sama dengan Presiden Prabowo dalam menyikapi wacana tersebut.
Posisi Partai Demokrat, kata Herman, didasarkan pada ketentuan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang memberikan kewenangan kepada negara, untuk mengatur mekanisme pemilihan kepala daerah melalui undang-undang.
“Karena itu, baik pemilihan langsung maupun melalui DPRD merupakan pilihan yang sah dalam sistem demokrasi Indonesia,” kata Herman dalam keterangan resminya, Selasa (6/1/2026).
“Demokrat berada dalam satu barisan dengan Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi sistem pemilihan kepala daerah,” sambungnya.
Di antara delapan partai politik yang duduk di parlemen, sejauh ini baru Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (
PDIP
) yang terang-terangan menolak gagasan pilkada melalui DPRD.
Bahkan, PDI-P mengakui adanya ajakan dan pembicaraan dari partai-partai koalisi pemerintah agar mendukung wacana pilkada melalui DPRD.
Namun, PDI-P menegaskan sikap partai tidak berubah dan tetap menolak pilkada tidak langsung.
Ketua DPP PDI-P Deddy Sitorus mengatakan, komunikasi informal sudah terjadi, meski belum masuk tahap lobi resmi atau pembahasan formal.
“Lobi-lobi, saya kira pembicaraan-pembicaraan, ngobrol-ngobrol sudah. Tapi kan memang belum ada jadwal resmi kapan dimulai pembahasan,” ujar Deddy, Rabu (7/1/2025).
“Dan, sikap kita kan sudah tegas dari awal, kita enggak akan berubah. Bahwa itu adalah hak rakyat yang tidak bisa diwakilkan pada segelintir orang di DPRD,” sambungnya menegaskan.
PDI-P Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Secara matematis posisi PDI-P di DPR memang minoritas, karena partai-partai lain seperti Golkar, PAN, PKB, Gerindra sudah menyatakan sikap dukungan.
Kendati demikian, Deddy menilai dinamika politik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kursi di parlemen. Dia meyakini suara masyarakat dan kelompok yang tidak terwakili di legislatif tetap akan berpengaruh.
“Tapi kan pasti akan ada dinamika, pasti akan ada suara-suara masyarakat, suara kelompok lain yang tidak terwakilkan di legislatif,” ujar Deddy.
Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan dua partai di parlemen yang belum mengambil sikap tegas terkait usulan tersebut.
Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad Kholid mengatakan bahwa partainya masih mencari sistem terbaik terkait pemilihan kepala daerah (pilkada).
Oleh karena itu, PKS masih melakukan kajian terkait usulan kepala daerah dipilih oleh DPRD, bukan lagi oleh rakyat lewat pilkada langsung.
“Kami sedang mengkajinya mana yang terbaik buat masyarakat dan masa depan demokrasi kita,” ujar Kholid kepada Kompas.com, Senin (29/12/2025).
PKS, kata Kholid, terlebih dahulu akan mendiskusikan usulan tersebut dengan partai-partai yang berada dalam koalisi.
Selain itu, masyarakat, pakar, tokoh bangsa, organisasi kemasyarakatan (ormas), hingga kampus akan didengarkan PKS dalam proses kajian tersebut.
“Kita juga ingin dengarkan masukan dari para ahli, dari masyarakat sipil, ormas, kampus, dan tokoh-tokoh bangsa,” ujar Kholid.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Sejumlah kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih mengikuti kirab ke Istana Kepresidenan, Jakarta, untuk dilantik pada, Kamis (20/2/2025). Presiden Prabowo Subianto melantik serentak 961 kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih pada Pilkada 2024.
Sedangkan Wakil Ketua Umum PAN, Eddy Soeparno menilai, usul kepala daerah dipilih DPRD layak dipertimbangkan.
Ia politik uang atau money politics dan politik dinasti justru semakin intens terjadi dengan sistem pemilihan langsung.
“Kami melihatnya itu adalah sebuah usulan yang memang layak dipertimbangkan. Kami melihat adanya peningkatan intensitas di berbagai hal. Satu, money politics. Dua, politik dinasti. Dan pada saat itu ada politik identitas yang sangat besar intensitasnya, ketika pilkada itu dilaksanakan secara langsung (dipilih rakyat),” ujar Eddy dalam Refleksi Akhir Tahun 2025 di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin.
Pilkada langsung dinilainya memang berdampak negatif terhadap pendidikan politik bagi masyarakat karena adanya praktik politik uang untuk memilih kandidat tertentu.
Meskipun begitu, Eddy juga mengakui bahwa sistem pilkada lewat DPRD akan mengambil hak rakyat dalam memilih pemimpin di daerahnya.
“Memang saya akui bahwa jika masyarakat publik sudah diberikan hak untuk memilih langsung, dan kemudian haknya diambil, saya kira akan menimbulkan berbagai masukan yang menghendaki agar itu tetap melekat pada mereka,” kata dia.
Oleh sebab itu, Eddy menegaskan bahwa wacana pilkada lewat DPRD layak untuk dikaji demi memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695efc60e2e2f.jfif?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Wanita Pakai Seragam Pramugari Bohongi Keluarga Sudah Bekerja di Batik Air Megapolitan 8 Januari 2026
Wanita Pakai Seragam Pramugari Bohongi Keluarga Sudah Bekerja di Batik Air
Tim Redaksi
TANGERANG, KOMPAS.com –
Seorang penumpang berinisial KN (23) nekat mengenakan seragam pramugari Batik Air saat terbang dari Palembang menuju Jakarta.
Aksi itu terungkap setelah kru pesawat mencurigai perbedaan pada seragam yang dipakainya.
Kasat Reskrim Polresta
Bandara Soekarno-Hatta
, Kompol Yandri Mono, mengatakan peristiwa itu terjadi pada Selasa (6/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Saat itu, kru kabin menyadari adanya perbedaan pada rok yang digunakan oleh KN.
“Kru pesawat curiga, kok ini ada
pramugariBatik Air
, menggunakan pakaian mirip pramugari, tapi coraknya beda,” ujar Yandri Mono saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Rabu (7/1/2026).
Merasa curiga, kru kabin selanjutnya melaporkan hal itu ke petugas keamanan penerbangan (Avsec) di Bandara Soekarno-Hatta.
Setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Avsec langsung memeriksa KN dan mendapati bahwa ia bukan pegawai Batik Air.
“Setelah diinterogasi, memang bukan karyawan Batik Air. Kemudian dibawa ke Polres,” kata Yandri.
Dalam pemeriksaan, KN mengaku pernah melamar menjadi pramugari Batik Air, tetapi tidak lolos.
Karena malu kepada keluarganya di Palembang, ia mengaku berpura-pura sudah bekerja sebagai pramugari.
Oleh karena itu, saat KN hendak ingin ke Jakarta, ia menggunakan seragam pramugari Batik Air untuk meyakinkan orangtuanya.
“Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya,” jelas dia.
Adapun KN mendapatkan seragam, beserta atribut Batik Air lainnya, seperti
name tag
dan koper itu melalui
online shop
. Kemudian, ia gunakan saat menuju bandara di Palembang.
Setibanya di bandara, KN mengaku pada polisi ingin berganti pakaian.
Namun karena waktunya tidak cukup sehingga tetap naik pesawat dengan seragam tersebut.
“Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti, namun karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke bandara Soekarno-Hatta,” kata dia.
Selama pemeriksaan, polisi menyebut, tidak ditemukan indikasi tindak pidana apapun terhadap perempuan itu. Begitupula dengan potensi pelanggaran lainnya.
Oleh sebab itu, pihak Batik Air disebut tidak melanjutkan proses hukum dan memilih menyelesaikan persoalan dengan kesepakatan damai.
“Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
Sementara itu, Kompas.com telah menghubungi pihak Lion Air Group terkait peristiwa tersebut.
Namun hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari mereka.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695efc60e2e2f.jfif?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
5 Nekat Pakai Seragam Pramugari, Penumpang Batik Air Ditangkap di Bandara Soetta Megapolitan
Nekat Pakai Seragam Pramugari, Penumpang Batik Air Ditangkap di Bandara Soetta
Tim Redaksi
TANGERANG, KOMPAS.com –
Seorang perempuan berinisial KN (23) nekat mengenakan seragam bak pramugari saat menumpang pesawat Batik Air rute Palembang (PLM)–Jakarta (CGK).
Dia juga mengaku sebagai cabin crew yang masuk melalui jalur
fast track.
Peristiwa tersebut terekam kamera yang diunggah oleh akun Instagram @jabodetabek24info.
Dalam video itu, perempuan tersebut tampak mengenakan atribut lengkap pramugari mulai dari seragam hingga kartu identitas sekolah pramugari dari
Batik Air
.
Padahal, dalam unggahan itu dijelaskan bahwa ia membeli tiket sendiri seperti penumpang pada umumnya sehingga lolos saat melakukan
boarding pass
.
“Saat proses
boarding
, yang bersangkutan lolos karena memiliki
boarding pass
. Namun, ketika berada di dalam pesawat dan ditanya oleh
crew
aktif, jawabannya ngawur dan tidak sinkron dengan standar pramugari,” tulis
caption
pada unggahan itu.
Kecurigaan itu bermula saat pesawat tiba di Terminal 2
Bandara Soekarno-Hatta
.
Di sana, petugas Aviation Security (Avsec) telah menunggu untuk melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap perempuan itu.
Ia kembali dimintai keterangan soal identitas dan alasannya mengenakan atribut pramugari.
Namun, perempuan itu bersikeras mengaku sebagai pramugari Batik Air, bahkan menunjukkan ID yang disebut tidak jelas keasliannya.
Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke Polresta Bandara Soekarno-Hatta dan ditangkap untuk dimintai keterangan.
Saat dilakukan proses interogasi, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, mengatakan, perempuan itu mengaku pernah melamar menjadi pramugari Batik Air, tetapi gagal.
Karena malu kepada keluarganya di Palembang, ia nekat ke Jakarta menggunakan
seragam pramugari
palsu agar terlihat seolah sudah bekerja.
“Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya,” ujar Yandri Mono saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Rabu (7/1/2026).
Baju pramugari yang digunakan KN tersebut dibeli melalui
online shop
, kemudian dipakai saat menuju bandara di Palembang.
Setibanya di bandara, KN mengaku pada polisi ingin berganti pakaian.
Namun, karena waktunya tidak cukup sehingga tetap naik pesawat dengan seragam tersebut.
“Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti. Namun, karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke Bandara Soekarno-Hatta,” kata Yandri.
Selama pemeriksaan, polisi menyebutkan, tidak ditemukan indikasi tindak pidana apa pun terhadap perempuan itu. Begitu pula dengan potensi pelanggaran lainnya.
Setelah pemeriksaan, pihak Batik Air disebut tidak melanjutkan proses hukum dan memilih menyelesaikan persoalan dengan kesepakatan damai.
“Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun, bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
Sementara itu,
Kompas.com
telah menghubungi pihak Lion Air Group terkait peristiwa tersebut.
Namun, hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari mereka.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/07/695d401dcb997.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
6 Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan Megapolitan
Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Tingginya biaya hidup masih menjadi tantangan utama bagi sebagian besar warga Jakarta.
Dengan harga kebutuhan pokok, tempat tinggal, hingga transportasi yang terus merangkak naik, pendapatan setara Upah Minimum Provinsi (UMP) kerap kali tidak cukup, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan.
Kondisi tersebut memaksa banyak warga Ibu Kota mencari cara bertahan, mulai dari mengambil pekerjaan tambahan hingga mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas berbagai kebutuhan nonprioritas.
Salah satunya dialami Rahmat Hidayat (35), warga Manggarai, Jakarta Selatan. Ia mengaku, penghasilan setara UMP dari pekerjaannya sebagai karyawan ritel elektronik di sebuah mal sering kali tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
Rahmat harus menafkahi istri, anak berusia satu tahun, serta kedua orangtuanya. Untuk menambah pemasukan, ia pun mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengemudi ojek
online
.
Selepas salat Subuh, Rahmat memanaskan sepeda motornya untuk mulai menarik penumpang. Sekitar pukul 11.00 WIB, ia pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja di toko elektronik pada pukul 15.00 WIB.
Namun, ketika mendapat jadwal kerja pagi di toko, Rahmat justru menarik ojek
online
selepas Maghrib hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
“Lumayan dari ojek nambah penghasilan rata-rata Rp 100.000 per hari,” kata dia saat diwawancarai
Kompas.com
di Manggarai, Selasa (6/1/2026).
Jika ditotal, pendapatan Rahmat dari pekerjaan ritel dan ojek
online
mencapai sekitar Rp 8,3 juta per bulan. Meski demikian, jumlah tersebut tetap sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Menurut Rahmat, mahalnya biaya hidup di Jakarta menjadi penyebab utama penghasilannya cepat habis setiap bulan. Biaya makan dan listrik menjadi pos pengeluaran terbesar.
“Makan enggak bisa dihitung, kadang masak, kadang beli di luar, dalam sebulan bisa lah Rp 4 juta,” ungkap dia.
Ia menjelaskan, dalam sehari biaya makan untuk dirinya dan sang istri minimal Rp 50.000 per orang. Jika dikalikan 30 hari, totalnya mencapai sekitar Rp 3 juta per bulan.
Sisa Rp 1 juta digunakan untuk membeli makanan, susu, serta camilan anaknya yang masih berusia satu tahun.
Selain itu, Rahmat juga harus membayar tagihan listrik sekitar Rp 400.000 dan internet Rp 250.000 setiap bulan. Belum termasuk biaya sewa kontrakan sebesar Rp 1,2 juta per bulan.
Tak heran, ayah satu anak itu harus bekerja ekstra demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya di Jakarta.
Di tengah mahalnya biaya hidup, masih banyak warga Jakarta yang harus bertahan dengan penghasilan di bawah UMP. Salah satunya adalah Anitia Arlatasya (25), karyawan swasta di Jakarta Selatan.
“Gaji saya hanya sekitar Rp 2,5 juta per bulan,” ungkap Anitia saat diwawancarai di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).
Perempuan yang akrab disapa Tia itu mengaku, penghasilannya kerap kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, pendapatan suaminya sebagai kurir juga hanya sekitar Rp 3,5 juta per bulan.
Dengan gaji pas-pasan, Tia dan suami harus membiayai satu orang anak, membayar kontrakan, serta memberikan jatah bulanan untuk orangtua.
Dari total pendapatan rumah tangga, sekitar Rp 2 juta digunakan untuk membayar kontrakan dan listrik, Rp 500.000 untuk orangtua, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan makan, biaya sekolah anak, dan keperluan lainnya.
Untuk bertahan hidup dengan pendapatan di bawah UMP, Tia dan suami memilih menghemat pengeluaran, terutama untuk makan, dengan lebih sering memasak di rumah.
“Tipsnya mungkin dari makan sehari-harinya dihemat kalau bisa masak daripada beli di luar apalagi makannya enggak sendiri, bisa sama suami dan anak jadi paling masak,” tutur Tia.
Jika memasak sendiri, biaya makan yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 50.000 per hari. Namun, jika membeli makanan di luar, pengeluarannya bisa mencapai Rp 100.000-an per hari.
Selain itu, Tia juga menunda keinginan untuk jalan-jalan karena membutuhkan biaya besar. Dana tersebut lebih diprioritaskan untuk kebutuhan pendidikan anak.
Ia bahkan mengalah untuk tidak membeli produk perawatan kulit dengan harga mahal.
“Menunda kebutuhan kita skin care diirit-iritin kalau bisa harganya yang murah-murah aja,” tutur dia.
Karyawan swasta lainnya, Rany Nur Anisa (29), mengaku memiliki gaji di atas UMP, yakni sekitar Rp 10 juta per bulan.
“Pendapatannya rata-rata Rp 10 juta per bulan,” kata dia.
Meski demikian, Rany tetap merasakan mahalnya biaya hidup di Jakarta. Menurut dia, pengeluaran terbesar berasal dari biaya makan dan sewa tempat tinggal.
“Untuk makan dan tempat tinggal paling mahal, untuk makan aja karena berdua itu bisa Rp 2 juta kurang lebih, kontrakan Rp 1,5 juta per bulannya,” ucap Rany.
Saat ini, Rany juga tengah berbadan dua dan membutuhkan dana tambahan untuk persalinan yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Karena itu, dari total pendapatannya, sekitar Rp 5 juta ia sisihkan untuk tabungan darurat dan kebutuhan anak.
Dana darurat tersebut biasanya digunakan saat kondisi keuangan terdesak atau ketika pengeluaran membengkak sehingga pendapatan bulanan tidak mencukupi.
Sementara itu, Aulia (25), warga Jakarta lainnya, juga menilai biaya hidup di Ibu Kota tergolong mahal meski dirinya sudah menerima gaji setara UMP dan belum memiliki tanggungan karena belum menikah.
Ia mengaku, kedua orangtuanya masih bekerja sehingga dirinya tidak diwajibkan memberi jatah bulanan khusus.
Namun, dari gaji sekitar Rp 5 juta, Aulia tetap mengalokasikan Rp 1 juta hingga Rp 1,3 juta untuk membantu kebutuhan rumah tangga, seperti membayar listrik, internet, membeli beras, minyak, dan jajan adiknya.
Aulia menyebut, biaya listrik menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar, mencapai sekitar Rp 600.000 per bulan, meski menggunakan sistem token.
”
Alhamdulillah
kalau token begini bisa diatur sedemikian rupa dan langsung bisa tracking gimana penggunaan listrik di rumah sehari-hari. Tapi, dengan aku yang hidup serumah sama orangtua dan adik, aku enggak bisa pelit buat minta mereka hemat listrik,” jelas Aulia.
Selain itu, sekitar Rp 1 juta per bulan digunakan untuk biaya transportasi kerja. Aulia merupakan pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi dan tidak memiliki kendaraan pribadi.
“Biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Transportasi umum kita tuh udah affordable buat sehari-hari, tapi ternyata tetap aja
cost
untuk ongkos kerja doang bisa Rp 1 juta lebih tanpa dihambur-hamburkan. Aku aja banyak jalan kaki tapi kenapa ya ongkos aku tetep besar,” kata Aulia sambil tertawa.
Menurut Aulia, mahalnya biaya hidup di Jakarta juga dipengaruhi perbedaan gaya hidup di tiap kawasan.
Ia mencontohkan sejumlah wilayah yang dikenal sebagai kawasan elit, seperti Pondok Indah, Kemang, Gandaria, Petak Enam, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK).
Biaya makan dan kebutuhan sehari-hari di kawasan tersebut dinilai jauh lebih mahal dibandingkan wilayah lainnya.
“Cobain aja makan di Gandaria, terus bandingin pas coba makan di daerah Manggarai, harga beda meski itu jajanan kaki lima yang sama,” tutur Aulia.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi warga Jakarta dengan penghasilan pas-pasan, terutama jika harus bekerja atau tinggal di sekitar kawasan elit yang memiliki biaya hidup lebih tinggi.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2026/01/07/695dcdcef353e.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/29/6952148861953.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/05/695b6df9baeb6.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/08/695e9df6aceb3.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/07/695e2e9b8b193.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)