Category: Kompas.com Metropolitan

  • KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Terlambat, Penumpang Menumpuk di Stasiun Rawa Buntu
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        8 Januari 2026

    KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Terlambat, Penumpang Menumpuk di Stasiun Rawa Buntu Megapolitan 8 Januari 2026

    KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Terlambat, Penumpang Menumpuk di Stasiun Rawa Buntu
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Keterlambatan perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) relasi Rangkasbitung–Tanah Abang dikeluhkan penumpang.
    Dalam video yang diunggah akun Instagram @infotangerang.id dinarasikan perjalanan KRL terlambat sehingga menyebabkan penumpang menumpuk di Stasiun Rawa Buntu pada Kamis (8/1/2026) pagi.
    “Sering terlambat, KRL Rangkasbitung-Tanah Abang dikeluhkan warganet karena picu penumpukan,” tulis keterangan tersebut.
    Dalam video terlihat area peron tampak dipenuhi para penumpang yang hilir mudik.
    Ketika rangkaian tiba, mereka bergegas mendekat ke pintu.
    Namun karena ruang di dalam gerbong sudah penuh, banyak penumpang kesulitan naik.
    Terlihat beberapa orang menempel di ambang pintu, ada yang berpegangan di atas, bahkan sebagian tetap memaksa masuk meski kondisi sudah padat dan berdesakan.
    Dikonfirmasi terpisah, VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyebut keterlambatan yang terjadi pada lintas Rangkasbitung–Tanah Abang dipicu gangguan di jalur.
    Menurut Karina, satu rangkaian KRL sempat tertahan karena ada sepeda motor yang menyenggol (menemper) kereta di jalur hilir, tepatnya di antara Stasiun Daru dan Stasiun Parung Panjang.
    “Pagi ini ada keterlambatan 1 KA kurang lebih 7 menit karena ada sepeda motor yang menemper KRL di jalur hilir antara Stasiun Daru – Stasiun Parung Panjang,” ujar Karina, Kamis.
    Karina menambahkan, petugas di lapangan segera melakukan pengecekan dan penanganan agar perjalanan kembali normal.
    Setelah dipastikan aman, rangkaian kembali dijalankan secara bertahap.
    Ia mengimbau pengguna untuk selalu memperhatikan keselamatan, terutama di perlintasan sebidang, serta memantau informasi resmi terkait perjalanan KRL.
    “Perjalanan sudah kembali berjalan lancar,” kata dia.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Duduk Perkara Pengosongan 12 Rumah di Puri Asih Sejahtera Bekasi
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        8 Januari 2026

    Duduk Perkara Pengosongan 12 Rumah di Puri Asih Sejahtera Bekasi Megapolitan 8 Januari 2026

    Duduk Perkara Pengosongan 12 Rumah di Puri Asih Sejahtera Bekasi
    Tim Redaksi
    BEKASI, KOMPAS.com –
    Pengadilan Negeri (PN) Kota Bekasi mengeksekusi 12 unit rumah di Perumahan Puri Asih Sejahtera, RT 07/RW 01, Kelurahan Jaka Setia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (7/1/2026).
    Eksekusi tersebut dilakukan berdasarkan surat PN Bekasi Nomor 6551 tentang pengosongan dan penyerahan tanah serta bangunan kepada PT Taman Puri Indah (TPI).
    Panitera Muda Perdata PN Bekasi, Dewi Trisetyawati, mengatakan eksekusi dilakukan atas dasar dua putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkrah).
    Perkara pertama tercatat dengan Nomor 297/Pdt.G/2009/PN.Bks dengan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) Nomor 1101 PK/Pdt/2024 yang diajukan delapan warga dan diputus pada 16 Desember 2024.
    Sedangkan perkara kedua tercatat dengan Nomor 246/Pdt.G/2008/PN.Bks dengan PK Nomor 1107 PK/Pdt/2024 yang diajukan empat warga dan diputus pada 18 Desember 2024.
    “Kami di sini melaksanakan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ada dua penetapan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Bekasi, yaitu terkait nomor 8 PDT Eksekusi dan 9 PDT Eksekusi,” ujar Dewi di lokasi.
    Dewi menjelaskan, permohonan eksekusi telah diajukan sejak Agustus hingga Desember 2024 dan telah melalui seluruh tahapan hukum.
    “Ini dua-duanya sudah diajukan permohonan eksekusi dari Agustus, tanggal 2 Agustus dan tanggal 9 Desember 2024. Dua-duanya sudah ada tahap
    aanmaning
    sampai
    constatering
    . Kami juga sudah cek ke lokasi dan menyesuaikan obyek satu per satu,” kata Dewi.
    Ia menyebut, pihak penggugat dalam perkara tersebut adalah PT Taman Puri Indah dengan dua kelompok tergugat yang berbeda.
    Proses hukum sendiri telah berlangsung sejak 2008.
    “Hari ini hanya eksekusi pengosongan dan penyerahan. Setelah ini kami tidak ada tahapan lain lagi, karena ini sudah tahap terakhir,” ujarnya.
    Meski terdapat ratusan rumah di kawasan tersebut, Dewi menegaskan eksekusi hanya dilakukan terhadap 12 unit sesuai amar putusan.
    “Kami hanya menjalankan dua putusan itu saja,” katanya.
    Sementara itu, Agus (43), salah satu warga terdampak, mengatakan keluarganya telah menempati rumah di Perumahan Puri Asih Sejahtera sejak awal 1980-an.
    Ia menyebut orangtuanya membeli rumah tersebut dari PT Puri Asih Sejahtera sekitar tahun 1983.
    Namun, pada 1990-an, lahan itu dilelang kepada PT Taspen tanpa kejelasan bagi warga.
    “Kami itu sudah lama. Ini warisan dari orang tua. Beberapa orang tua kami juga sudah meninggal. Tiba-tiba prosesnya langsung eksekusi dan kami tidak dikasih waktu,” ujar Agus.
    Agus menilai warga seharusnya diberi ruang untuk menempuh upaya hukum atau penundaan eksekusi.
    “Seharusnya dikasih waktu untuk menahan eksekusi. Tapi yang terjadi langsung eksekusi tanpa ada kesempatan sosialisasi atau untuk kami mengajukan upaya hukum,” katanya.
    Ia juga menyampaikan dugaan adanya praktik mafia tanah dalam kasus tersebut.
    “Saya yakin sekali ini adalah mafia tanah,” ucap Agus.
    Menurutnya, warga telah melunasi pembayaran rumah sejak puluhan tahun lalu dan masih menyimpan bukti pembayaran.
    “Kuitansinya ada semua, lengkap. Kami punya semuanya,” ujar Agus.
    Agus menambahkan, sertifikat tanah rumah warga tidak pernah diterbitkan dan diduga digadaikan oleh pihak pengembang tanpa sepengetahuan warga.
    “Sertifikat itu digadaikan oleh pihak
    developer
    . Tanpa sepengetahuan warga, tiba-tiba kejadiannya seperti ini,” ujarnya.
    Ketua RT 07 Perumahan Puri Asih Sejahtera, Deny Sas, menyatakan penolakan warga didasari banyaknya kejanggalan dalam proses hukum, termasuk dugaan kesalahan obyek sengketa.
    “Kami enggak tahu historisnya Taspen dengan Puri Asih. Yang kami tahu, tiba-tiba ada lelang berupa tanah kosong. Padahal di sini ada sekitar 100 unit rumah yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an dan lengkap dengan izin,” ujar Deny.
    Ia menegaskan warga membeli rumah secara sah dan telah menempatinya sejak 1983–1984.
    “Kami ini bukan menempati tanah orang atau tanah negara. Kalau memang ada pelelangan, seharusnya warga juga punya kesempatan,” katanya.
    Deny juga mempertanyakan alasan eksekusi yang hanya menyasar 12 rumah, sementara seluruh kawasan berada dalam satu hamparan lahan.
    “Di sini ada sekitar 100 rumah, tapi kenapa hanya 12 yang dieksekusi. Alamat yang tertulis di surat eksekusi pun berbeda dengan lokasi rumah warga,” ujarnya.
    Hal senada disampaikan Nelda (50), warga lainnya.
    Ia mengaku membeli rumah yang ditempatinya secara tunai pada 1984.
    “Saya masuk tahun 1984 dan beli dengan harga
    cash
    . Saya enggak tahu kalau tempat ini dibeli sama PT Puri Indah. Sekarang sudah ada sekitar 100 KK di sini dan tidak ada satu pun yang dikasih tahu,” ujar Nelda.
    Ia menyebut rumah tipe 54 yang ditempatinya dibeli seharga Rp 9.500.000 dan selama puluhan tahun tidak pernah ada masalah kepemilikan.
    “Dulu bagus-bagus saja,” katanya.
    Masalah baru muncul ketika warga berupaya mengurus sertifikat rumah.
    Menurut Nelda, pihak pengembang hanya memberikan janji tanpa kepastian.
    “Katanya dua bulan, tiga bulan, diulur terus,” ujarnya.
    Nelda mengaku terkejut saat menerima surat pemberitahuan eksekusi pada 2024.
    “Tiba-tiba tahun 2024 ini sudah
    inkrah
    di Pengadilan Negeri Bekasi,” katanya.
    Berdasarkan pantauan Kompas.com, proses eksekusi berlangsung ricuh.
    Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan warga berkumpul di depan portal perumahan dan memblokade akses masuk sambil membawa spanduk penolakan.
    Teriakan keberatan terdengar bergantian.
    Sejumlah warga tampak emosional, bahkan menangis sambil memeluk anggota keluarga.
    Situasi memanas saat aparat kepolisian memasuki kawasan untuk melakukan pengamanan.
    Aksi saling dorong sempat terjadi antara warga dan aparat, menyebabkan beberapa orang terjatuh.
    Seorang perempuan terlihat menangis dan mengaku mengalami pemukulan di tengah kerumunan massa.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 5
                    
                        Peta Dukungan Ide Pilkada via DPRD: 5 Partai di Parlemen Setuju, PDIP Menolak
                        Nasional

    5 Peta Dukungan Ide Pilkada via DPRD: 5 Partai di Parlemen Setuju, PDIP Menolak Nasional

    Peta Dukungan Ide Pilkada via DPRD: 5 Partai di Parlemen Setuju, PDIP Menolak
    Penulis
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ide pemilihan kepala daerah oleh DPRD semakin dinamis setelah Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia mengutarakan usulannya tersebut di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
    Di hadapan Prabowo pada peringatan HUT ke-61
    Golkar
    , Bahlil menyatakan bahwa pihaknya telah mengkaji dan mengusulkan agar
    kepala daerah
    dipilih oleh
    DPRD
    .
    “Khusus menyangkut
    pilkada
    , setahun lalu kami menyampaikan kalau bisa pilkada dipilih lewat DPRD saja. Banyak pro kontra, tapi setelah kita mengkaji, alangkah lebih baiknya memang kita lakukan sesuai dengan pemilihan lewat DPR kabupaten/kota biar tidak lagi pusing-pusing. Saya yakin ini perlu kajian mendalam,” kata Bahlil dalam sambutannya di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025) malam.
    Bahlil menilai, pembahasan RUU bidang politik dapat dimulai tahun depan. Namun, ia mengingatkan agar pembahasan dilakukan secara komprehensif.
    “RUU ini harus melalui kajian yang mendalam,” ujar Bahlil.
    Kini, terdapat lima partai di parlemen yang menyatakan dukungannya terhadap usulan tersebut. Siapa saja partai tersebut? Berikut rangkumannya dari Kompas.com:
    Partai berlambang pohon beringin pimpinan Bahlil menjadi yang terdepan dalam mendukung pilkada melalui DPRD.
    Bahkan, usulan tersebut termaktub dalam hasil rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Partai Golkar pada Desember 2025.
    “Adapun sepuluh pernyataan politik Rapimnas I Partai Golkar tahun 2025 di antaranya adalah Partai Golkar mengusulkan pilkada melalui DPRD sebagai wujud pelaksanaan kedaulatan rakyat, dengan menitik beratkan pada keterlibatan dan partisipasi publik dalam proses pelaksanaannya,” demikian bunyi siaran pers Partai Golkar, Minggu (21/12/2025).
    Setelah Bahlil mengutarakan usulannya itu di hadapan Prabowo, Partai Gerindra pun menyampaikan dukungannya terhadap usulan agar kepala daerah dipilih oleh DPRD.
    Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono menyampaikan bahwa kepala daerah yang dipilih oleh DPRD akan lebih efisien dari sisi anggaran.
    Selain dari sisi anggaran, kepala daerah yang dipilih DPRD juga lebih efisien dalam penjaringan kandidat, mekanisme, anggaran, ongkos politik, hingga pemilihan terlaksana.
    “Gerindra ada dalam posisi mendukung upaya ataupun rencana untuk melaksanakan pemilukada ini oleh DPRD di tingkat bupati, wali kota ataupun di tingkat gubernur,” ujar Sugiono dalam keterangannya, Senin (29/12/2025).
    Dokumentasi Partai Gerindra Sugiono (tengah) usai resmi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) baru Partai Gerindra menggantikan Ahmad Muzani, Jumat (1/8/2025).
    Sugiono pun mencontohkan pada 2015, ketika dana hibah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pelaksanaan pilkada menyentuh hampir Rp 7 triliun.
    Angka tersebut meningkat pada 2024, di mana dana hibah dari APBD untuk pelaksanaan pilkada meningkat menjadi lebih dari Rp 37 triliun.
    Di samping itu, ia menyorot ongkos politik calon kepala daerah yang cenderung mahal dan kerap menjadi hambatan bagi sosok yang berkompeten.
    Oleh karena itu, Partai Gerindra dalam posisi mendukung usulan agar DPRD yang memilih gubernur, bupati, maupun wali kota.
    “Dari sisi efisiensi, baik itu proses, mekanisme, dan juga anggarannya kami mendukung rencana untuk melaksanakan
    pilkada lewat DPRD
    ,” ujar Sugiono.
    Sebelum menjadi perbincangan di akhir tahun, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sudah menyatakan dukungan untuk pilkada lewat DPRD pada pertengahan 2025.
    Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, kepala daerah semestinya ditunjuk oleh pemerintah pusat atau dipilih oleh DPRD di masing-masing daerah.
    “Saatnya
    pemilihan kepala daerah
    dilakukan evaluasi total, manfaat dan mudaratnya,” kata Cak Imin dalam acara Hari Lahir ke-27 PKB di JICC, Jakarta, 23 Juli 2025.
    “Kalau tidak ditunjuk oleh pusat, maksimal pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD-DPRD di seluruh tanah air,” sambungnya.
    Sementara itu, Fraksi Partai Nasdem DPR menilai pemilihan kepala daerah oleh DPRD masih sesuai konstitusi dan demokrasi.
    Oleh karena itu, Partai Nasdem menjadi salah satu yang mendukung usulan DPRD memilih kepala daerah.
    Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR Viktor Laiskodat mengatakan, konstitusi Indonesia tidak menetapkan satu model tunggal dalam demokrasi elektoral di tingkat daerah.
    ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A Ilustrasi pemungutan suara ulang (PSU).
    Sehingga mekanisme gubernur, bupati, dan wali kota dipilih DPRD dapat dipandang sebagai bentuk demokrasi perwakilan yang sah dan konstitusional.
    “Konstitusi kita tidak mengunci demokrasi pada satu model. Pilkada melalui DPRD memiliki dasar konstitusional yang sah dan tetap berada dalam koridor demokrasi,” ujar Viktor dalam keterangannya, Senin (29/12/2025).
    Perubahan mekanisme pilkada dinilai tidak bertujuan melemahkan demokrasi, melainkan untuk memastikan proses demokrasi tetap berlangsung secara sehat dan tidak sekadar menjadi agenda rutin setiap lima tahun.
    Fraksi Partai Nasdem memandang, demokrasi tidak seharusnya dipahami hanya sebagai prosedur pencoblosan, melainkan sebagai sarana untuk menghadirkan kepemimpinan daerah yang berintegritas, efektif, serta mampu merespons aspirasi masyarakat.
    “Demokrasi yang hidup adalah demokrasi yang mampu beradaptasi, memperbaiki diri, dan tetap menjamin keterwakilan rakyat. Selama prinsip partisipasi, akuntabilitas, dan kontrol publik dijaga, demokrasi tidak sedang dimatikan, tetapi justru diperkuat,” ujar Viktor.
    Terbaru, Partai Demokrat menyatakan dukungannya terhadap usulan
    kepala daerah dipilih DPRD
    .
    Padahal pada masa lalu, sistem pemilihan itu digagalkan oleh Presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
    Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron mengatakan, partainya berada pada barisan yang sama dengan Presiden Prabowo dalam menyikapi wacana tersebut.
    Posisi Partai Demokrat, kata Herman, didasarkan pada ketentuan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang memberikan kewenangan kepada negara, untuk mengatur mekanisme pemilihan kepala daerah melalui undang-undang.
    “Karena itu, baik pemilihan langsung maupun melalui DPRD merupakan pilihan yang sah dalam sistem demokrasi Indonesia,” kata Herman dalam keterangan resminya, Selasa (6/1/2026).
    “Demokrat berada dalam satu barisan dengan Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi sistem pemilihan kepala daerah,” sambungnya.
    Di antara delapan partai politik yang duduk di parlemen, sejauh ini baru Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (
    PDIP
    ) yang terang-terangan menolak gagasan pilkada melalui DPRD.
    Bahkan, PDI-P mengakui adanya ajakan dan pembicaraan dari partai-partai koalisi pemerintah agar mendukung wacana pilkada melalui DPRD.
    Namun, PDI-P menegaskan sikap partai tidak berubah dan tetap menolak pilkada tidak langsung.
    Ketua DPP PDI-P Deddy Sitorus mengatakan, komunikasi informal sudah terjadi, meski belum masuk tahap lobi resmi atau pembahasan formal.
    “Lobi-lobi, saya kira pembicaraan-pembicaraan, ngobrol-ngobrol sudah. Tapi kan memang belum ada jadwal resmi kapan dimulai pembahasan,” ujar Deddy, Rabu (7/1/2025).
    “Dan, sikap kita kan sudah tegas dari awal, kita enggak akan berubah. Bahwa itu adalah hak rakyat yang tidak bisa diwakilkan pada segelintir orang di DPRD,” sambungnya menegaskan.
    PDI-P Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
    Secara matematis posisi PDI-P di DPR memang minoritas, karena partai-partai lain seperti Golkar, PAN, PKB, Gerindra sudah menyatakan sikap dukungan.
    Kendati demikian, Deddy menilai dinamika politik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kursi di parlemen. Dia meyakini suara masyarakat dan kelompok yang tidak terwakili di legislatif tetap akan berpengaruh.
    “Tapi kan pasti akan ada dinamika, pasti akan ada suara-suara masyarakat, suara kelompok lain yang tidak terwakilkan di legislatif,” ujar Deddy.
    Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan dua partai di parlemen yang belum mengambil sikap tegas terkait usulan tersebut.
    Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad Kholid mengatakan bahwa partainya masih mencari sistem terbaik terkait pemilihan kepala daerah (pilkada).
    Oleh karena itu, PKS masih melakukan kajian terkait usulan kepala daerah dipilih oleh DPRD, bukan lagi oleh rakyat lewat pilkada langsung.
    “Kami sedang mengkajinya mana yang terbaik buat masyarakat dan masa depan demokrasi kita,” ujar Kholid kepada Kompas.com, Senin (29/12/2025).
    PKS, kata Kholid, terlebih dahulu akan mendiskusikan usulan tersebut dengan partai-partai yang berada dalam koalisi.
    Selain itu, masyarakat, pakar, tokoh bangsa, organisasi kemasyarakatan (ormas), hingga kampus akan didengarkan PKS dalam proses kajian tersebut.
    “Kita juga ingin dengarkan masukan dari para ahli, dari masyarakat sipil, ormas, kampus, dan tokoh-tokoh bangsa,” ujar Kholid.
    KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN Sejumlah kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih mengikuti kirab ke Istana Kepresidenan, Jakarta, untuk dilantik pada, Kamis (20/2/2025). Presiden Prabowo Subianto melantik serentak 961 kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih pada Pilkada 2024.
    Sedangkan Wakil Ketua Umum PAN, Eddy Soeparno menilai, usul kepala daerah dipilih DPRD layak dipertimbangkan.
    Ia politik uang atau money politics dan politik dinasti justru semakin intens terjadi dengan sistem pemilihan langsung.
    “Kami melihatnya itu adalah sebuah usulan yang memang layak dipertimbangkan. Kami melihat adanya peningkatan intensitas di berbagai hal. Satu, money politics. Dua, politik dinasti. Dan pada saat itu ada politik identitas yang sangat besar intensitasnya, ketika pilkada itu dilaksanakan secara langsung (dipilih rakyat),” ujar Eddy dalam Refleksi Akhir Tahun 2025 di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin.
    Pilkada langsung dinilainya memang berdampak negatif terhadap pendidikan politik bagi masyarakat karena adanya praktik politik uang untuk memilih kandidat tertentu.
    Meskipun begitu, Eddy juga mengakui bahwa sistem pilkada lewat DPRD akan mengambil hak rakyat dalam memilih pemimpin di daerahnya.
    “Memang saya akui bahwa jika masyarakat publik sudah diberikan hak untuk memilih langsung, dan kemudian haknya diambil, saya kira akan menimbulkan berbagai masukan yang menghendaki agar itu tetap melekat pada mereka,” kata dia.
    Oleh sebab itu, Eddy menegaskan bahwa wacana pilkada lewat DPRD layak untuk dikaji demi memperbaiki kualitas demokrasi Indonesia.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Tuntutan Demo Buruh Hari Ini di Istana: Revisi UMP Jakarta dan UMSK Jabar
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        8 Januari 2026

    Tuntutan Demo Buruh Hari Ini di Istana: Revisi UMP Jakarta dan UMSK Jabar Megapolitan 8 Januari 2026

    Tuntutan Demo Buruh Hari Ini di Istana: Revisi UMP Jakarta dan UMSK Jabar
    Penulis

    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Massa buruh menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Kepresidenan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026) hari ini.
    Aksi ini membawa tuntutan revisi upah minimum yang dinilai belum mencerminkan biaya hidup pekerja.
    Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, terdapat dua tuntutan utama yang dibawa buruh dalam aksi tersebut.
    Tuntutan pertama ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terkait penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta 2026.
    “Pertama, kami meminta Gubernur DKI Jakarta menetapkan
    UMP Jakarta 2026
    merujuk 100 persen kebutuhan hidup layak (KHL),” ujar Said Iqbal saat dihubungi, Rabu (7/1/2026).
    Menurut Iqbal, jika perhitungan UMP Jakarta 2026 mengacu penuh pada KHL, besaran upah seharusnya berada di kisaran Rp 5,89 juta, bukan Rp 5,73 juta seperti yang telah ditetapkan.
    “Jakarta ini biaya hidupnya tinggi. Masa UMP Jakarta kalah dengan Karawang dan Bekasi,” kata dia.
    Selain UMP Jakarta, buruh juga membawa tuntutan kedua yang menyasar kebijakan upah di Jawa Barat.
    Buruh mendesak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengembalikan perhitungan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) 2026 di 19 kabupaten/kota sesuai rekomendasi kepala daerah.
    Iqbal menilai, gubernur tidak memiliki kewenangan untuk mengubah penetapan UMSK.
    “Menurut PP Nomor 49 Tahun 2025 yang sudah ditandatangani Presiden Prabowo, gubernur tidak boleh mengubah UMSK. Yang boleh diubah hanya UMK. Ini UMSK tidak boleh,” ujar dia.
    Iqbal menyebutkan, aksi buruh hari ini diikuti sekitar 5.000 hingga 10.000 orang yang berangkat ke Jakarta menggunakan sepeda motor dari berbagai daerah.
    “Demo mulai pukul 10.30 WIB. Buruh datang dari Jakarta, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung Raya, juga dari Majalengka dan Cirebon,” tuturnya.
    Titik kumpul aksi direncanakan berada di kawasan Patung Kuda atau di depan Menara BSI, dekat Jalan Medan Merdeka Selatan.
    Iqbal memastikan dirinya akan hadir langsung dalam aksi tersebut.
    Ia juga menyampaikan bahwa pihak buruh telah berkoordinasi dengan kepolisian terkait pengamanan aksi, terutama karena massa datang dengan kendaraan roda dua.
    “Kami sudah koordinasi dengan Polri supaya diatur dengan tertib, tidak mengganggu pengguna jalan, dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Iqbal.
    (Reporter: Dian Erika Nugraheny | Editor: Faieq Hidayat)
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Update Kasus Anggota TNI AL Aniaya Warga Depok hingga Tewas, 12 Orang Diperiksa
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        8 Januari 2026

    Update Kasus Anggota TNI AL Aniaya Warga Depok hingga Tewas, 12 Orang Diperiksa Megapolitan 8 Januari 2026

    Update Kasus Anggota TNI AL Aniaya Warga Depok hingga Tewas, 12 Orang Diperiksa
    Tim Redaksi
    DEPOK, KOMPAS.com –
    Aksi penganiayaan terhadap WAT (24) dan DN (39) yang dilakukan anggota TNI AL berinisial Serda M di Sukatani, Tapos, Kota Depok, masih belum terpecahkan soal motif dan awal perkara.
    Selain M yang sudah diamankan polisi militer, Polres Metro
    Depok
    masih terus menyelidiki dan melakukan pendalaman atas titik terang yang menewaskan WAT ini.
    “Hingga saat ini, pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap 12 orang saksi, termasuk Ketua RT setempat, guna mengungkap secara jelas peristiwa tersebut,” ucap Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi kepada wartawan, Rabu (7/1/2026).
    Selain itu, korban selamat berinisial DN diketahui telah dipulangkan dari rumah sakit dan menjalani rawat jalan atas luka-luka yang dialaminya.
    Made menyampaikan, dugaan transaksi narkoba yang melibatkan para korban dan mencuat ke publik masih tidak dapat dipastikan kebenarannya.
    Dan karena itu, Made mengungkap permohonan maaf sekaligus merevisi pernyataan yang disampaikan pada Senin (5/1/2026) lalu.
    “Setelah dilakukan pendalaman, informasi tersebut (dugaan transaksi narkoba) belum terbukti kebenarannya dan disampaikan dalam kondisi yang masih dini dan minim data pendukung,” ujar Made.
    Penyelidikan polisi ini turut didasari atas laporan polisi (LP) yang dibuat perwakilan kuasa hukum para korban tentang dugaan pelaku lain pada Senin (5/1/2026) lalu.
    Terduga pelaku lainnya diduga merupakan warga setempat dari tempat kejadian perkara (TKP) berinisial K dan beberapa rekan lainnya.
    “Yang kami laporkan terkait dengan kasus pembunuhan terhadap WAT, terjadi pada hari Jumat tanggal 2 Januari 2026. Yang kita laporkan adalah pelakunya lebih daripada satu orang,” ucap Kuasa Hukum Syarif Hasan Salampessy, Senin.
    Pelaporan ini juga dilakukan setelah melihat adanya perkembangan pada M,
    anggota TNI AL
    yang sudah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh polisi militer.
    “Oknum anggota TNI AL yang sudah ditangani oleh POMAL. Kita mengidentifikasi sementara ada dua orang pelaku tapi itu nanti tugas pihak kepolisian yang akan melakukan penyelidikan dan penyidikan,” ujar Syarif.
    Peristiwa yang terjadi pada Jumat (2/1/2026) dini hari bermula ketika M dan salah seorang warga sipil mencurigai adanya transaksi ilegal oleh WAT dan DN di lingkungan rumahnya.
    Jenis transaksi ilegal yang masih dalam proses pemeriksaan itu memicu tindakan M dan warga tadi melakukan kekerasan fisik kepada kedua korban.
    Akibatnya, kedua korban mengalami luka berat dan dibawa ke RS Bhayangkara Brimob.
    “Serda M bersama warga melakukan tindakan kekerasan fisik secara berlebihan kepada kedua korban yang berakibat satu orang meninggal dunia,” ujar Kadispen TNI AL Laksma Tunggul, Sabtu (3/1/2026).
    “Sementara satu korban lainnya mengalami luka berat,” sambungnya.
    Hingga kini, Polisi Militer Kodaeral III telah mengamankan Serda M dan menerima pelimpahan berkas perkara dari Polsek Cimanggis.
    M juga sedang menjalani proses pemeriksaan intensif atas perbuatannya secara hukum militer.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Wanita Pakai Seragam Pramugari Bohongi Keluarga Sudah Bekerja di Batik Air
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        8 Januari 2026

    Wanita Pakai Seragam Pramugari Bohongi Keluarga Sudah Bekerja di Batik Air Megapolitan 8 Januari 2026

    Wanita Pakai Seragam Pramugari Bohongi Keluarga Sudah Bekerja di Batik Air
    Tim Redaksi
    TANGERANG, KOMPAS.com –
    Seorang penumpang berinisial KN (23) nekat mengenakan seragam pramugari Batik Air saat terbang dari Palembang menuju Jakarta.
    Aksi itu terungkap setelah kru pesawat mencurigai perbedaan pada seragam yang dipakainya.
    Kasat Reskrim Polresta
    Bandara Soekarno-Hatta
    , Kompol Yandri Mono, mengatakan peristiwa itu terjadi pada Selasa (6/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
    Saat itu, kru kabin menyadari adanya perbedaan pada rok yang digunakan oleh KN.
    “Kru pesawat curiga, kok ini ada
    pramugari

    Batik Air
    , menggunakan pakaian mirip pramugari, tapi coraknya beda,” ujar Yandri Mono saat dikonfirmasi
    Kompas.com
    , Rabu (7/1/2026).
    Merasa curiga, kru kabin selanjutnya melaporkan hal itu ke petugas keamanan penerbangan (Avsec) di Bandara Soekarno-Hatta.
    Setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Avsec langsung memeriksa KN dan mendapati bahwa ia bukan pegawai Batik Air.
    “Setelah diinterogasi, memang bukan karyawan Batik Air. Kemudian dibawa ke Polres,” kata Yandri.
    Dalam pemeriksaan, KN mengaku pernah melamar menjadi pramugari Batik Air, tetapi tidak lolos.
    Karena malu kepada keluarganya di Palembang, ia mengaku berpura-pura sudah bekerja sebagai pramugari.
    Oleh karena itu, saat KN hendak ingin ke Jakarta, ia menggunakan seragam pramugari Batik Air untuk meyakinkan orangtuanya.
    “Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya,” jelas dia.
    Adapun KN mendapatkan seragam, beserta atribut Batik Air lainnya, seperti
    name tag
    dan koper itu melalui
    online shop
    . Kemudian, ia gunakan saat menuju bandara di Palembang.
    Setibanya di bandara, KN mengaku pada polisi ingin berganti pakaian.
    Namun karena waktunya tidak cukup sehingga tetap naik pesawat dengan seragam tersebut.
    “Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti, namun karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke bandara Soekarno-Hatta,” kata dia.
    Selama pemeriksaan, polisi menyebut, tidak ditemukan indikasi tindak pidana apapun terhadap perempuan itu. Begitupula dengan potensi pelanggaran lainnya.
    Oleh sebab itu, pihak Batik Air disebut tidak melanjutkan proses hukum dan memilih menyelesaikan persoalan dengan kesepakatan damai.
    “Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
    Sementara itu, Kompas.com telah menghubungi pihak Lion Air Group terkait peristiwa tersebut.
    Namun hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari mereka.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Wanita Pakai Seragam Pramugari Bohongi Keluarga Sudah Bekerja di Batik Air
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        8 Januari 2026

    5 Nekat Pakai Seragam Pramugari, Penumpang Batik Air Ditangkap di Bandara Soetta Megapolitan

    Nekat Pakai Seragam Pramugari, Penumpang Batik Air Ditangkap di Bandara Soetta
    Tim Redaksi
    TANGERANG, KOMPAS.com –
    Seorang perempuan berinisial KN (23) nekat mengenakan seragam bak pramugari saat menumpang pesawat Batik Air rute Palembang (PLM)–Jakarta (CGK).
    Dia juga mengaku sebagai cabin crew yang masuk melalui jalur
    fast track.
    Peristiwa tersebut terekam kamera yang diunggah oleh akun Instagram @jabodetabek24info.
    Dalam video itu, perempuan tersebut tampak mengenakan atribut lengkap pramugari mulai dari seragam hingga kartu identitas sekolah pramugari dari
    Batik Air
    .
    Padahal, dalam unggahan itu dijelaskan bahwa ia membeli tiket sendiri seperti penumpang pada umumnya sehingga lolos saat melakukan
    boarding pass
    .
    “Saat proses
    boarding
    , yang bersangkutan lolos karena memiliki
    boarding pass
    . Namun, ketika berada di dalam pesawat dan ditanya oleh
    crew
    aktif, jawabannya ngawur dan tidak sinkron dengan standar pramugari,” tulis
    caption
     pada unggahan itu.
    Kecurigaan itu bermula saat pesawat tiba di Terminal 2
    Bandara Soekarno-Hatta
    .
    Di sana, petugas Aviation Security (Avsec) telah menunggu untuk melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap perempuan itu.
    Ia kembali dimintai keterangan soal identitas dan alasannya mengenakan atribut pramugari.
    Namun, perempuan itu bersikeras mengaku sebagai pramugari Batik Air, bahkan menunjukkan ID yang disebut tidak jelas keasliannya.
    Peristiwa itu kemudian dilaporkan ke Polresta Bandara Soekarno-Hatta dan ditangkap untuk dimintai keterangan.
    Saat dilakukan proses interogasi, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, mengatakan, perempuan itu mengaku pernah melamar menjadi pramugari Batik Air, tetapi gagal.
    Karena malu kepada keluarganya di Palembang, ia nekat ke Jakarta menggunakan
    seragam pramugari
    palsu agar terlihat seolah sudah bekerja.
    “Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya,” ujar Yandri Mono saat dikonfirmasi
    Kompas.com
    , Rabu (7/1/2026).
    Baju pramugari yang digunakan KN tersebut dibeli melalui
    online shop
    , kemudian dipakai saat menuju bandara di Palembang.
    Setibanya di bandara, KN mengaku pada polisi ingin berganti pakaian.
    Namun, karena waktunya tidak cukup sehingga tetap naik pesawat dengan seragam tersebut.
    “Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti. Namun, karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke Bandara Soekarno-Hatta,” kata Yandri.
    Selama pemeriksaan, polisi menyebutkan, tidak ditemukan indikasi tindak pidana apa pun terhadap perempuan itu. Begitu pula dengan potensi pelanggaran lainnya.
    Setelah pemeriksaan, pihak Batik Air disebut tidak melanjutkan proses hukum dan memilih menyelesaikan persoalan dengan kesepakatan damai.
    “Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun, bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
    Sementara itu,
    Kompas.com
    telah menghubungi pihak Lion Air Group terkait peristiwa tersebut.
    Namun, hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari mereka.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 7
                    
                        Efek Korupsi Dana Desa Sumberjaya: Listrik Kantor Desa Diputus, Pegawai Tak Digaji
                        Megapolitan

    7 Efek Korupsi Dana Desa Sumberjaya: Listrik Kantor Desa Diputus, Pegawai Tak Digaji Megapolitan

    Efek Korupsi Dana Desa Sumberjaya: Listrik Kantor Desa Diputus, Pegawai Tak Digaji
    Tim Redaksi
    BEKASI, KOMPAS.com –
    Kasus dugaan korupsi Dana Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, berdampak serius pada operasional pemerintahan desa.
    Kasus
    korupsi dana desa
    ini melibatkan mantan Penjabat (Pj) Kepala Desa Sumardi dan Bendahara Desa Tabrani periode 2024–2025.
    Salah satu dampaknya, aliran listrik di
    Kantor Desa Sumberjaya
    diputus oleh PLN, Rabu (31/12/2025) akibat tunggakan pembayaran sebesar Rp 433.000.
    “Ada kaitannya karena menyangkut anggaran Dana Desa tahap satu. Kondisi keuangan Desa Sumberjaya bulan Agustus dengan sisa saldo Rp 2 juta, yang seharusnya itu masih ada uang sekitaran Rp 2 miliar lebih,” ujar Kaur Tata Usaha dan Umum Desa Sumberjaya, Supriyadi, saat ditemui Kompas.com, Rabu (7/1/2026).
    Supriyadi menjelaskan, tunggakan listrik yang menyebabkan pemutusan hanya terjadi selama satu bulan, yakni Desember 2025.
    Sementara tagihan listrik periode Agustus hingga November 2025 telah dibayarkan menggunakan dana pribadi Pj Kepala Desa Sumberjaya saat ini, Ike Rahmawati.
    “Nunggak hanya bulan Desember saja. Dari bulan Agustus sampai bulan November itu sudah dibayarkan sama Ibu Penjabat Kepala Desa,” ujarnya.
    Ia menambahkan, pemutusan listrik tidak berdampak pada seluruh ruangan di Kantor Desa Sumberjaya.
    “Tidak semua (terputus). Jadi memang untuk meterannya itu terbagi. Yang terputus itu di kantor utama, kalau ruang rapat itu masih teraliri. Tapi kalau tokennya habis ya berarti tidak ada juga aliran listrik,” ungkap Supriyadi.
    Menurut Supriyadi, ketiadaan dana kas desa menjadi alasan utama pemutusan aliran listrik tersebut.
    “Karena memang tidak ada lagi uang kas desa yang bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik, akhirnya kami mengikuti aturan pemerintah, terutama PLN, untuk diputus (alirannya),” ujarnya.
    Ia mengatakan, sebelumnya Pj Kepala Desa Ike Rahmawati sempat menutup kebutuhan operasional desa, termasuk pembayaran listrik, dengan uang pribadi.
    Namun, kondisi itu tak bisa terus dilakukan.
    “Sudah enggak ada duit untuk bayar tagihan listrik. Karena memang kami tidak ada lagi uang kas desa yang bisa digunakan,” katanya.
    Adapun sisa dana kas Desa Sumberjaya sebesar Rp 2 juta hingga kini tidak digunakan.
    Pihak desa mengaku tidak berani memanfaatkan dana tersebut karena seluruh anggaran operasional Dana Desa tahap pertama telah dikeluarkan oleh Bendahara Desa sebelumnya, Tabrani.
    Penggunaan sisa dana tersebut dikhawatirkan berimplikasi hukum di kemudian hari.
    Selain
    listrik diputus
    , dampak dugaan korupsi
    Dana Desa Sumberjaya
    juga membuat ratusan pegawai dan unsur kelembagaan desa belum menerima gaji sejak Agustus 2025.
    “Total hampir 600-an orang yang belum menerima gaji. Rinciannya 382 RT, 58 RW, 30 PKK, 27 perangkat desa, enam petugas gali kubur, tujuh LPM, dan enam lainnya,” ujar Kepala Urusan Perencanaan Desa Sumberjaya, Marhidin.
    Ia menjelaskan, belum dibayarkannya honor disebabkan Dana Desa tahap dua yang masih tertahan.
    “Yang 40 persen itu belum cair, termasuk honor-honor kami dan yang lainnya,” katanya.
    Marhidin mengaku miris dengan kondisi tersebut. Di tengah keterbatasan ekonomi, pelayanan kepada masyarakat tetap dituntut berjalan maksimal.
    “Bukan cuma miris. Kami bahkan sampai jual barang-barang yang ada, sedangkan kami bekerja dituntut profesionalitas,” ujarnya.
    Ia meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi para pegawai desa.
    “Tapi ya tolong juga pikirkan kami dan anak istri,” ucapnya.
    Marhidin berharap pemerintah segera mencairkan honor pegawai dan anggaran operasional desa.
    “Cairkan honor kami dan bayarkan operasional. Karena kami bukan petugas sosial, kantor desa juga bukan masjid,” ujarnya.
    Hal senada disampaikan Supriyadi. Ia mengaku harus menggadaikan sepeda motor hingga menjual perhiasan demi bertahan hidup.
    “Kami pegawai pada gadai motor, jual emas buat nopang keluarga,” katanya.
    Ia juga mempertanyakan lambannya respons pemerintah daerah.
    “Kenapa sangat lambat Kabupaten
    Bekasi
    mengambil sikap? Mau sampai kapan Kabupaten Bekasi kayak begini?” ujar Supriyadi.
    Hingga kini, belum ada kepastian kapan Dana Desa tahap dua akan dicairkan.
    “Dari BKAD menyatakan tahap dua itu tidak bisa tersalurkan karena masih menunggu hasil pemeriksaan Inspektorat tahap satu,” pungkas Supriyadi.
    Pihak desa, kata Supriyadi, telah berulang kali berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan dinas terkait untuk meminta arahan mengenai pencairan anggaran.
    “Kami sudah konsultasi dengan kecamatan, dengan dinas, terkait kapan anggaran bisa dicairkan, apa yang harus disiapkan, termasuk berkas-berkas yang harus dilampirkan,” ujarnya.
    Keterbatasan anggaran berdampak langsung pada operasional desa, termasuk pembayaran honor pegawai dan unsur kelembagaan.
    “Ini sangat berpengaruh untuk operasional desa, terutama untuk honor RT, RW, sampai tukang gali kubur juga termasuk,” kata Supriyadi.
    Ia menegaskan, pemutusan listrik dilakukan setelah PLN mengirimkan surat pemberitahuan resmi kepada pihak desa.
    “Sudah ada surat pemberitahuan terlebih dahulu. Kami juga sudah sampaikan ke pemerintah daerah, bagaimana nanti kalau operasional terhenti atau terhambat karena tidak adanya anggaran biaya,” ujarnya.
    Meskipun listrik di kantor utama desa diputus, Supriyadi memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
    Untuk kebutuhan administrasi, perangkat desa sementara mengalihkan layanan ke Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
    “Meskipun itu terputuskan, tetap kami melayani masyarakat ya seperti untuk pelayanan surat-menyurat ataupun informasi apa pun tetap berjalan,” ucapnya.
    Ia juga memastikan seluruh perangkat desa tetap bekerja meski belum menerima gaji sejak Agustus 2025.
    “Kami tetap berjalan untuk pelayanan kesra, seperti ambulans desa yang memang mobile-nya itu tinggi untuk membantu warga miskin,” kata Supriyadi.
    Sementara itu, Pj Kepala Desa Sumberjaya Ike Rahmawati mengungkapkan hingga kini belum ada tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Bekasi terkait kondisi keuangan desa.
    “Belum ada (tanggapan). Sejauh ini belum ada komplain dari warga, karena kami sudah memberikan pengumuman bahwa ada keterhambatan dalam proses pelayanan,” ujar Ike.
    Ia mengaku tidak bisa memastikan kondisi ke depan.
    “Saya tidak tahu nanti dua hari atau tiga hari ke depan seperti apa. Tapi saya berpikir masyarakat paham bagaimana prosesnya,” katanya.
    Ike juga mengungkapkan, rencana pemutusan listrik sebenarnya sudah muncul sejak dirinya dilantik sebagai Pj Kepala Desa pada Agustus 2025.
    “Awal saya pelantikan itu sendiri pun sudah mau dicabut. Tapi kami minta keringanan saat itu jangan dulu,” pungkasnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 4
                    
                        Umumkan Swasembada: Prabowo: Tak Masuk Akal, RI Kaya tapi Impor Pangan Terus
                        Nasional

    4 Umumkan Swasembada: Prabowo: Tak Masuk Akal, RI Kaya tapi Impor Pangan Terus Nasional

    Umumkan Swasembada, Prabowo: Tak Masuk Akal, RI Kaya tapi Impor Pangan Terus
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Presiden Prabowo Subianto menyatakan, tindakan Indonesia yang selama ini mengimpor pangan tidak masuk akal. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang makmur dan kaya.
    Hal ini dikatakan Presiden Prabowo saat mengumumkan Indonesia mencapai
    swasembada beras
    dalam acara Panen Raya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
    “Yang tidak masuk di akal saya, bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, bumi yang luas, bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita. Kita impor, impor,
    impor pangan
    . Tidak masuk di hati saya tidak masuk di akal saya,” kata Prabowo, Rabu.
    Prabowo juga heran mengapa negara yang sudah merdeka puluhan tahun, setelah berjuang melawan penjajah selama ratusan tahun, justru masih bergantung dengan negara lain.
    Menurut dia, kekayaan RI kurang dinikmati oleh sebagian besar masyarakat.
    “Saya tidak dapat menerima di akal sehat saya dan di hati saya, bagaimana negara yang begini makmur, bagaimana negara yang berjuang ratusan tahun untuk merdeka, tetapi kekayaannya kurang dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia,” ucap dia.
    Kepala Negara mengakui, fenomena tersebut menunjukkan ada yang salah. Meski bukanlah seorang profesor, Prabowo menilai, berbagai tanda adanya ketidaksesuaian sudah ia lihat.
    “Saya memang bukan orang pintar, saya tidak punya gelar profesor, tapi saya bisa melihat yang benar dan yang tidak benar. Saya bisa melihat yang masuk akal dan yang tidak masuk akal,” ujar dia.
    Bahkan, Prabowo dapat merasakan adanya ketidakadilan yang diderita masyarakat. Oleh karenanya, ia akan terus berjuang memperbaiki.
    Perjuangan ini, lanjutnya, sudah ia laksanakan dengan caranya sendiri sebelum menjadi Presiden RI, meski kerap disangka diktator maupun hendak melakukan kudeta.
    “Karena itu saya berjuang terus, saya dituduh mau jadi diktator. Saya dituduh mau berkuasa, saya dituduh mau kudeta, tetapi saya sejak muda saya bersumpah sebagai prajurit adalah prajurit dari Tentara Nasional Indonesia. TNI adalah tentara rakyat, TNI lahir dari rakyat. Waktu kita berjuang kita diberi makan oleh rakyat Indonesia,” tandas Prabowo.
    Sebagai informasi, Indonesia mengumumkan berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 2025.
    Kepala Negara mulanya menargetkan swasembada beras akan tercapai dalam waktu sekitar 4 hingga 5 tahun. Namun, swasembada justru dalam dicapai satu tahun setelah ia memimpin.
    Adapun sepanjang 2025 produksi beras Indonesia mencapai 34,71 juta ton, nominal tertinggi sepanjang sejarah.
    Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan, pada awal tahun 2026 terdapat stok 12,529 juta ton beras.
    Beras itu terdiri dari 3,248 juta ton stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), beras di rumah tangga, restoran, hotel, dan lainnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 6
                    
                        Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan
                        Megapolitan

    6 Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan Megapolitan

    Biaya Hidup Jakarta Mencekik, Warga Harus Merogoh Rp 4 Juta per Bulan untuk Makan
    Tim Redaksi

    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Tingginya biaya hidup masih menjadi tantangan utama bagi sebagian besar warga Jakarta.
    Dengan harga kebutuhan pokok, tempat tinggal, hingga transportasi yang terus merangkak naik, pendapatan setara Upah Minimum Provinsi (UMP) kerap kali tidak cukup, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan.
    Kondisi tersebut memaksa banyak warga Ibu Kota mencari cara bertahan, mulai dari mengambil pekerjaan tambahan hingga mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas berbagai kebutuhan nonprioritas.
    Salah satunya dialami Rahmat Hidayat (35), warga Manggarai, Jakarta Selatan. Ia mengaku, penghasilan setara UMP dari pekerjaannya sebagai karyawan ritel elektronik di sebuah mal sering kali tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
    Rahmat harus menafkahi istri, anak berusia satu tahun, serta kedua orangtuanya. Untuk menambah pemasukan, ia pun mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengemudi ojek
    online
    .
    Selepas salat Subuh, Rahmat memanaskan sepeda motornya untuk mulai menarik penumpang. Sekitar pukul 11.00 WIB, ia pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja di toko elektronik pada pukul 15.00 WIB.
    Namun, ketika mendapat jadwal kerja pagi di toko, Rahmat justru menarik ojek
    online
    selepas Maghrib hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
    “Lumayan dari ojek nambah penghasilan rata-rata Rp 100.000 per hari,” kata dia saat diwawancarai
    Kompas.com
    di Manggarai, Selasa (6/1/2026).
    Jika ditotal, pendapatan Rahmat dari pekerjaan ritel dan ojek
    online
    mencapai sekitar Rp 8,3 juta per bulan. Meski demikian, jumlah tersebut tetap sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
    Menurut Rahmat, mahalnya biaya hidup di Jakarta menjadi penyebab utama penghasilannya cepat habis setiap bulan. Biaya makan dan listrik menjadi pos pengeluaran terbesar.
    “Makan enggak bisa dihitung, kadang masak, kadang beli di luar, dalam sebulan bisa lah Rp 4 juta,” ungkap dia.
    Ia menjelaskan, dalam sehari biaya makan untuk dirinya dan sang istri minimal Rp 50.000 per orang. Jika dikalikan 30 hari, totalnya mencapai sekitar Rp 3 juta per bulan.
    Sisa Rp 1 juta digunakan untuk membeli makanan, susu, serta camilan anaknya yang masih berusia satu tahun.
    Selain itu, Rahmat juga harus membayar tagihan listrik sekitar Rp 400.000 dan internet Rp 250.000 setiap bulan. Belum termasuk biaya sewa kontrakan sebesar Rp 1,2 juta per bulan.
    Tak heran, ayah satu anak itu harus bekerja ekstra demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya di Jakarta.
    Di tengah mahalnya biaya hidup, masih banyak warga Jakarta yang harus bertahan dengan penghasilan di bawah UMP. Salah satunya adalah Anitia Arlatasya (25), karyawan swasta di Jakarta Selatan.
    “Gaji saya hanya sekitar Rp 2,5 juta per bulan,” ungkap Anitia saat diwawancarai di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).
    Perempuan yang akrab disapa Tia itu mengaku, penghasilannya kerap kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, pendapatan suaminya sebagai kurir juga hanya sekitar Rp 3,5 juta per bulan.
    Dengan gaji pas-pasan, Tia dan suami harus membiayai satu orang anak, membayar kontrakan, serta memberikan jatah bulanan untuk orangtua.
    Dari total pendapatan rumah tangga, sekitar Rp 2 juta digunakan untuk membayar kontrakan dan listrik, Rp 500.000 untuk orangtua, sementara sisanya dialokasikan untuk kebutuhan makan, biaya sekolah anak, dan keperluan lainnya.
    Untuk bertahan hidup dengan pendapatan di bawah UMP, Tia dan suami memilih menghemat pengeluaran, terutama untuk makan, dengan lebih sering memasak di rumah.
    “Tipsnya mungkin dari makan sehari-harinya dihemat kalau bisa masak daripada beli di luar apalagi makannya enggak sendiri, bisa sama suami dan anak jadi paling masak,” tutur Tia.
    Jika memasak sendiri, biaya makan yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 50.000 per hari. Namun, jika membeli makanan di luar, pengeluarannya bisa mencapai Rp 100.000-an per hari.
    Selain itu, Tia juga menunda keinginan untuk jalan-jalan karena membutuhkan biaya besar. Dana tersebut lebih diprioritaskan untuk kebutuhan pendidikan anak.
    Ia bahkan mengalah untuk tidak membeli produk perawatan kulit dengan harga mahal.
    “Menunda kebutuhan kita skin care diirit-iritin kalau bisa harganya yang murah-murah aja,” tutur dia.
    Karyawan swasta lainnya, Rany Nur Anisa (29), mengaku memiliki gaji di atas UMP, yakni sekitar Rp 10 juta per bulan.
    “Pendapatannya rata-rata Rp 10 juta per bulan,” kata dia.
    Meski demikian, Rany tetap merasakan mahalnya biaya hidup di Jakarta. Menurut dia, pengeluaran terbesar berasal dari biaya makan dan sewa tempat tinggal.
    “Untuk makan dan tempat tinggal paling mahal, untuk makan aja karena berdua itu bisa Rp 2 juta kurang lebih, kontrakan Rp 1,5 juta per bulannya,” ucap Rany.
    Saat ini, Rany juga tengah berbadan dua dan membutuhkan dana tambahan untuk persalinan yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
    Karena itu, dari total pendapatannya, sekitar Rp 5 juta ia sisihkan untuk tabungan darurat dan kebutuhan anak.
    Dana darurat tersebut biasanya digunakan saat kondisi keuangan terdesak atau ketika pengeluaran membengkak sehingga pendapatan bulanan tidak mencukupi.
    Sementara itu, Aulia (25), warga Jakarta lainnya, juga menilai biaya hidup di Ibu Kota tergolong mahal meski dirinya sudah menerima gaji setara UMP dan belum memiliki tanggungan karena belum menikah.
    Ia mengaku, kedua orangtuanya masih bekerja sehingga dirinya tidak diwajibkan memberi jatah bulanan khusus.
    Namun, dari gaji sekitar Rp 5 juta, Aulia tetap mengalokasikan Rp 1 juta hingga Rp 1,3 juta untuk membantu kebutuhan rumah tangga, seperti membayar listrik, internet, membeli beras, minyak, dan jajan adiknya.
    Aulia menyebut, biaya listrik menjadi salah satu pengeluaran yang cukup besar, mencapai sekitar Rp 600.000 per bulan, meski menggunakan sistem token.

    Alhamdulillah
    kalau token begini bisa diatur sedemikian rupa dan langsung bisa tracking gimana penggunaan listrik di rumah sehari-hari. Tapi, dengan aku yang hidup serumah sama orangtua dan adik, aku enggak bisa pelit buat minta mereka hemat listrik,” jelas Aulia.
    Selain itu, sekitar Rp 1 juta per bulan digunakan untuk biaya transportasi kerja. Aulia merupakan pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi dan tidak memiliki kendaraan pribadi.
    “Biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Transportasi umum kita tuh udah affordable buat sehari-hari, tapi ternyata tetap aja
    cost
    untuk ongkos kerja doang bisa Rp 1 juta lebih tanpa dihambur-hamburkan. Aku aja banyak jalan kaki tapi kenapa ya ongkos aku tetep besar,” kata Aulia sambil tertawa.
    Menurut Aulia, mahalnya biaya hidup di Jakarta juga dipengaruhi perbedaan gaya hidup di tiap kawasan.
    Ia mencontohkan sejumlah wilayah yang dikenal sebagai kawasan elit, seperti Pondok Indah, Kemang, Gandaria, Petak Enam, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK).
    Biaya makan dan kebutuhan sehari-hari di kawasan tersebut dinilai jauh lebih mahal dibandingkan wilayah lainnya.
    “Cobain aja makan di Gandaria, terus bandingin pas coba makan di daerah Manggarai, harga beda meski itu jajanan kaki lima yang sama,” tutur Aulia.
    Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi warga Jakarta dengan penghasilan pas-pasan, terutama jika harus bekerja atau tinggal di sekitar kawasan elit yang memiliki biaya hidup lebih tinggi.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.