Tanah Jakarta Terus Turun, Kerugian Ditaksir Rp 2,9 Triliun per Tahun
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan potensi kerugian ekonomi Jakarta akibat banjir mencapai Rp 2,9 triliun per tahun jika penurunan muka tanah terus berlangsung dengan laju saat ini.
Risiko tersebut tidak hanya ditanggung pemerintah, tetapi juga masyarakat dan sektor swasta, seiring meningkatnya frekuensi banjir rob, banjir akibat hujan ekstrem, hingga banjir kiriman yang semakin sulit dikendalikan dalam 10–20 tahun ke depan.
Proyeksi itu disampaikan Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air–BRIN, Dr. Yus Budiyono, saat dihubungi
Kompas.com,
Selasa (6/1/2026).
Dalam pemodelan risiko yang dilakukan sejak 2015,
penurunan muka tanah
menjadi faktor paling dominan yang memperbesar potensi kerugian tahunan
Jakarta
akibat banjir.
“Kalau hitungan kami dari 2015, risiko atau?potensi kerugian tahunannya itu 186 juta USD per tahun kerugiannya. Itu ditanggung bersama bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh masyarakat dan swasta untuk tahun 2030 atau 2050 mungkin bisa dilihat di tabel kalau saya keliru,” kata Yus.
Menurut dia, estimasi ini dapat melonjak pada skenario jangka panjang.
“Tapi maksimalnya di 2050 itu sekitar 400 juta USD. Tapi ini juga sebuah estimasi. Karena land subsidence di skenario itu berhenti di tahun 2030,” tutur dia.
Ia menegaskan bahwa model akan semakin sulit bekerja jika
penurunan tanah
terus berlanjut.
“Karena di atas 2030, kalau land subsidence-nya berlanjut, model itu akan sulit menghandle karena uncertainty-nya tinggi,” kata Yus.
Dengan kurs saat ini, nilai tersebut setara sekitar Rp 2,9 triliun per tahun, angka yang menggambarkan mahalnya ongkos ekologis dan sosial yang harus dibayar Jakarta jika penurunan tanah tidak dihentikan.
Fenomena penurunan muka tanah (
land subsidence
) di Jakarta bukan cerita baru. Namun, laju dan dampaknya kini semakin terasa.
Gambaran umum penurunan tanah di wilayah pesisir utara Jakarta menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
“Yang pertama, gambaran
land subsidence
di Jakarta itu kalau melihat kecepatannya kalau saya rata-rata di seluruh Jakarta bagian utara itu rata-ratanya 3,5 cm per tahun,” ujar Yus.
“Tapi mungkin kalau nilai yang paling sering muncul itu kira-kira ya 15 cm per tahun sedangkan di tempat yang paling parah itu penurunannya sampai 28 cm per tahun,” lanjutnya.
Titik-titik ekstrem tersebut berada di kawasan pesisir padat aktivitas ekonomi dan permukiman.
“Titik yang paling parah itu di Pantai Mutiara dan kemudian juga Cengkareng Barat. Kalau sejak mulainya kapan, saya perlu melihat caretan dulu. Tapi tidak sejak 1970,” kata Yus.
Meski demikian, secara umum laju penurunan tanah bersifat linier dan telah berlangsung puluhan tahun.
“Secara umum sih linear. Sejak dia terjadi, kemudian dia penurunannya linear. Sama seperti di kota-kota besar yang lain. Seperti misalnya Tokyo, Bangkok, dan lain-lain,” ucap dia.
Dalam kajian BRIN, penurunan muka tanah terbukti menjadi faktor yang paling besar menaikkan risiko banjir Jakarta, melampaui pengaruh perubahan iklim maupun kenaikan muka air laut.
“Yang kedua, ini menarik. Kalau kami membandingkan beberapa entitas yang mempengaruhi risiko banjir di Jakarta dari 4 entitas yang kami perhatikan yang penurunan muka tanah itu pengaruhnya paling besar. Dia menaikkan risiko di atas 40 persen,” jelas Yus.
Dampaknya bukan hanya pada banjir rob dari laut, tetapi juga pada banjir akibat hujan lokal dan luapan sungai.
“Penurunan muka tanah ini tidak hanya mempengaruhi banjir rob atau banjir yang datangnya dari laut, tapi juga banjir yang berasal dari luapan air sungai atau banjir yang langsung berasal dari hujan langsung,” tutur dia.
Banjir ekstrem yang dipicu hujan lokal, seperti 1 Januari 2020 dan tiga kejadian besar sepanjang 2025, memperlihatkan bagaimana tanah yang terus turun membuat Jakarta semakin rentan.
Data terbaru dari Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) Badan Geologi mengonfirmasi bahwa penurunan muka tanah di Jakarta belum berhenti.
Kepala BKAT, Taat Setiawan menyampaikan hasil pemantauan jangka panjang di Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta.
“Penurunan muka tanah di Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta saat ini masih terjadi. Berdasarkan pengukuran menggunakan GPS Geodetik pada 100 lokasi dari tahun 2015 hingga 2024 menunjukkan laju penurunan muka tanah berkisar antara 0.05 hingga 5.76 cm/tahun,” kata Taat saat dihubungi.
Ia menambahkan, laju penurunan yang tergolong tinggi masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah tertentu, terutama di Jakarta bagian utara.
“Penurunan muka tanah yang relatif tinggi (> 4 cm/tahun) terutama terjadi di Jakarta bagian utara seperti Cengkareng Barat, Kedoya Selatan, Kalibaru, dan Penjaringan,” ujar dia.
BKAT juga mencatat wilayah penyangga Jakarta turut terdampak.
“Selain itu, penurunan muka tanah yang relatif tinggi juga masih terjadi di Kosambi dan sekitarnya (Kabupaten Tangerang) dan di Tarumajaya dan sekitarnya (Kabupaten Bekasi),” kata Taat.
Pengambilan air tanah merupakan salah satu penyebab utama, meski bukan satu-satunya.
“Pengambilan air tanah merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan muka tanah di samping faktor lain seperti konsolidasi alami batuan, beban bangunan, dan tektonik,” ujar dia.
Masalah ini semakin kompleks karena sebagian wilayah Jakarta sudah masuk kategori kritis. BKAT merujuk pada Peta Zona Konservasi Air Tanah CAT Jakarta.
Berdasarkan Peta Zona Konservasi Air Tanah CAT Jakarta yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM No. 195 tahun 2021 menunjukkan zona air tanah kritis hingga rusak terdapat di bagian utara wilayah CAT Jakarta.
“Pada zona tersebut, air tanah telah mengalami penurunan lebih dari 60% dari kondisi semula dan terjadi penurunan tanah relatif tinggi,” kata Taat.
Sebagai langkah mitigasi, pembatasan bahkan pelarangan penggunaan air tanah telah diterapkan.
“Langkah konservasi air tanah yang dilakukan adalah pembatasan izin penggunaan air tanah untuk berbagai keperluan, bahkan pada zona air tanah rusak pengambilan air tanah baru sudah tidak diizinkan lagi,” ucap dia.
Ancaman penurunan tanah itu kini divisualisasikan secara nyata melalui Tugu Penurunan Muka Tanah di kawasan Kota Tua Jakarta.
Pengamatan
Kompas.com
di lokasi pada Selasa (6/1/2026), monumen ini berdiri di sisi Jembatan Kali Besar, Taman Sari, Jakarta Barat.
Blok-blok transparan bergradasi warna dari oranye hingga biru memperlihatkan selisih ketinggian permukaan tanah Jakarta sejak 1974.
Papan penanda “Permukaan Tanah di Jakarta Tahun 1974” untuk wilayah Jakarta Utara terletak jauh di atas kepala pengunjung, memberikan gambaran visual betapa dalam tanah Jakarta telah amblas.
Di bagian kaki tugu, tertulis bahwa sejak 1974 hingga 2020, tanah di beberapa titik Jakarta telah turun hingga 4,5 meter, terutama akibat penyedotan air tanah berlebihan.
Menurut Arif (40), petugas keamanan setempat, tugu tersebut telah berdiri sejak pertengahan 2023.
“Sudah lama, kalau enggak salah pertengahan 2023 waktu itu dipasang. Tapi memang baru viral lagi saya dengar belakangan ini di medsos,” kata Arif.
Baik BRIN maupun BKAT sepakat, kunci utama menekan risiko banjir Jakarta adalah menghentikan penurunan muka tanah, bukan sekadar membangun tanggul dan pompa.
“Kalau land subsidence-nya tidak dihentikan, ya percuma kita bikin infrastruktur apapun mau tanggul,” kata Yus.
Ia menegaskan, penyediaan air bersih 100 persen bagi warga, perkantoran, dan industri merupakan syarat mutlak.
“Pemerintah harus menyediakan kebutuhan air untuk seluruh warga, bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh pantura. Sehingga nanti air itu tidak lagi diambil dari tanah,” ucap dia.
Jika tidak, Jakarta akan terus membayar mahal harga dari tanah yang perlahan tenggelam bukan hanya dalam bentuk rupiah, tetapi juga dalam kualitas hidup jutaan warganya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Metropolitan
-
/data/photo/2026/01/08/695f2cb138e0f.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Sempat Macet, Lalin di Flyover Ciputat Kembali Normal Usai Kecelakaan Truk Tronton Megapolitan 8 Januari 2026
Sempat Macet, Lalin di Flyover Ciputat Kembali Normal Usai Kecelakaan Truk Tronton
Tim Redaksi
KOMPAS.com –
Arus lalu lintas di Flyover Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (8/2/2026), kembali normal usai truk tronton mengangkut pipa besi mengalami kecelakaan pada Kamis pagi.
Sebelumnya, kecelakaan truk mengakibatkan kemacetan di Flyover Ciputat arah Jakarta menuju Ciputat.
Pantauan Kompas.com pukul 11.14 WIB, truk sudah dipindahkan ke sisi kiri jalan.
Kendaraan roda dua dan empat sudah bisa melintas dengan normal.
Sebelumnya, truk kecelakaan menabrak truk lainnya yang berada di depannya yang rem mendadak.
Kaca depan truk pecah dan ban belakang naik ke atas pembatas jalan.
Badan truk sempat melintang dan menutup satu jalur dari Jakarta menuju Ciputat serta membuat kemacetan.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695f2cb138e0f.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Truk Tronton Kecelakaan di Flyover Ciputat, Lalin Arah Jakarta Macet Megapolitan 8 Januari 2026
Truk Tronton Kecelakaan di Flyover Ciputat, Lalin Arah Jakarta Macet
Tim Redaksi
KOMPAS.com –
Sebuah truk tronton mengangkut pipa besi mengalami kecelakaan di Flyover Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (8/2/2026).
Adapun truk menabrak truk lainnya yang berada di depannya yang rem mendadak.
Kaca depan truk pecah dan ban belakang naik ke atas pembatas jalan.
Badan truk sempat melintang dan menutup satu jalur dari Jakarta menuju Ciputat serta membuat kemacetan.
Namun, pantauan Kompas.com pukul 10.59 WIB, truk sudah dipindahkan oleh pihak kepolisian ke sisi kiri jalan dan lalu lintas kembali normal.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/10/20/68f5c257006f5.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Tiang Monorel Dibongkar Hari Rabu, Pramono: Biar Pejabat Naik Transportasi Umum Megapolitan 8 Januari 2026
Tiang Monorel Dibongkar Hari Rabu, Pramono: Biar Pejabat Naik Transportasi Umum
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pembongkaran deretan tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, dimulai pada Rabu (14/1/2026).
Hari Rabu dipilih karena ia ingin para pejabat yang datang ke lokasi menggunakan transportasi umum, sesuai Instruksi Gubernur DKI
Jakarta
Nomor 6 Tahun 2025 yang mewajibkan ASN Pemprov DKI naik angkutan publik.
“Kenapa hari Rabu? Supaya pejabat siapapun yang datang ke situ gak pakai kendaraan pribadi, supaya enggak membuat macet,” ucap Pramono saat ditemui di Pejempongan, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
Pembongkaran tiang dimaksimalkan pada malam hari agar tidak mengganggu arus lalu lintas di Jalan Rasuna Said.
“Untuk pembongkaran harus maksimal dilakukan malam hari, supaya tidak mengganggu transportasi yang ada di Rasuna Said,” lanjut dia.
Untuk diketahui, pembongkaran
tiang monorel
ini sebelumnya direncanakan berlangsung pada pekan ketiga Januari 2026. Namun, jadwal dimajukan setelah rapat pimpinan di Balai Kota.
“Minggu ketiga mau dibongkar. Tapi Pak Gubernur kemarin, pada saat rapat pimpinan (rapim), menyampaikan minta minggu depan dibongkar. Jadi rencana minggu depan kita akan mulai. Insyaallah hari Rabu, kalau enggak berubah,” ucap Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Menurut Heru, percepatan bisa dilakukan karena proses administrasi dan pembahasan dengan PT Adhi Karya selaku pemilik tiang sudah rampung.
“Kalau kita mah sudah siap saja. Jadi karena permintaan Pak Gub untuk dibongkar hari Rabu, ya kita jalankan hari Rabu. Karenakan sudah dipenuhi semua aturannya,” lanjut dia.
Setelah pembongkaran, Pemprov DKI akan menata ulang Jalan HR Rasuna Said agar tampil seragam dengan sisi barat jalan yang sudah lebih dulu ditata.
Di sisi bekas tiang monorel, jalur cepat dan jalur lambat akan dihilangkan, lalu diganti dengan pengaturan ulang badan jalan dan trotoar.
“Rasuna Said sisi barat sudah selesai, jalan dan trotoarnya sudah rapi. Tapi sisi timurnya masih terkendala adanya tiang monorel. Makanya akan kita rapikan jalannya yang Jalan Rasuna Said sisi Timur; jalur cepat, jalur lambat, dan trotoar akan kita tata,” kata dia.
Di sisi lain, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memastikan pembongkaran tidak akan disertai penutupan jalan.
Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan, rekayasa lalu lintas akan disiapkan agar kendaraan tetap bisa melintas.
“Jadikan lalu lintasnya kita akan lakukan
semacam pengalihan arus,” ujar Syafrin saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Syafrin menjelaskan di kawasan Jalan HR Rasuna Said terdapat jalur cepat dan jalur lambat.
Ketika pekerjaan dimulai, alat berat akan ditempatkan di jalur lambat. Kendaraan lain bisa melintas di jalur cepat.
Dengan cara ini, arus lalu lintas tetap berjalan tanpa penutupan jalan.
“Di sanakan ada dua lajur, ada jalur lambat, ada jalur cepat. Jadi pada saat alat berat masuk, itu akan berada di sisi jalur lambat. Sementara jalur cepat itu tetap berfungsi,” kata Syafrin.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/06/28/685f7f95ab585.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
9 MK Diminta Tambah Sanksi Cabut SIM atau Kerja Sosial untuk Pengemudi Sambil Merokok Nasional
MK Diminta Tambah Sanksi Cabut SIM atau Kerja Sosial untuk Pengemudi Sambil Merokok
Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com
– Syah Wardi, seorang warga negara Indonesia (WNI) mengajukan uji materiil terhadap Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 283 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Permohonan Syah Wardi itu teregistrasi di
MK
dengan Nomor 13/PUU-XXIV/2026, pada Selasa (6/1/2026).
Dalam pokok permohonannya, Syah Wardi menyebut norma dalam Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 283
UU LLAJ
telah secara langsung dan nyata berkaitan dengan perlindungan keselamatan jiwa manusia.
Di mana keselamatan manusia merupakan hak konstitusional paling fundamental sebagaimana dijamin dalam Pasal 28A Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
“Bahwa lalu lintas jalan raya merupakan ruang publik yang mengandung risiko tinggi terhadap keselamatan, sehingga pengaturannya tidak boleh bersifat kabur, lemah, atau multitafsir. Setiap kekaburan norma dalam bidang lalu lintas berpotensi menimbulkan akibat yang fatal dan
irreversibel
, berupa hilangnya nyawa manusia atau cacat permanen,” bunyi pokok permohonan Syah Wardi, dilihat Kompas.com dari situs resmi MK pada Kamis (8/1/2026).
Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ sendiri berbunyi, ”
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan Kendaraan Bermotor tersebut dengan wajar dan penuh konsentrasi.
”
Sedangkan Pasal 283 UU LLAJ berbunyi, ”
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).
”
Syah Wardi dalam permohonannya menilai, frasa “penuh konsentrasi” dalam Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ merupakan norma yang bersifat abstrak, terbuka, dan tidak disertai penjelasan limitatif.
Hal tersebut tidak memberikan kepastian hukum mengenai perbuatan apa saja yang dianggap mengganggu konsentrasi; tingkat gangguan konsentrasi yang dapat dikualifikasikan sebagai pelanggaran hukum; dan parameter objektif yang dapat digunakan oleh aparat penegak hukum dalam menilai pelanggaran.
Ketidakpastian hukum itu membuat pengemudi kendaraan bermotor yang sambil merokok di jalan kerap tidak mendapatkan sanksi.
“Dalam praktik, kekaburan frasa “penuh konsentrasi” menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda, di mana suatu perbuatan yang secara nyata berbahaya, seperti merokok saat mengemudikan kendaraan bermotor, sering kali tidak dikenai sanksi hukum secara konsisten karena tidak disebutkan secara eksplisit dalam undang-undang,” tulis Syah Wardi.
shutterstock Ilustrasi merokok saat berkendara.
Atas dasar hal tersebut, Syah Wardi memuat tujuh petitum dalam permohonan perkara Nomor 13/PUU-XXIV/2026.
Salah satunya adalah meminta MK menambah sanksi kerja sosial atau pencabutan Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk orang yang terbukti merokok saat mengemudikan kendaraan.
Berikut tujuh poin petitum Syah Wardi dalam perkara Nomor 13/PUU-XXIV/2026:
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695efc60e2e2f.jfif?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Ini yang Bikin Pramugari Gadungan Batik Air Ketahuan di Pesawat Megapolitan 8 Januari 2026
Ini yang Bikin Pramugari Gadungan Batik Air Ketahuan di Pesawat
Tim Redaksi
TANGERANG, KOMPAS.com
– Perempuan berinisial KN (23) mengenakan seragam pramugari Batik Air saat menjadi penumpang pesawat tersebut dari Palembang menuju Jakarta.
Aksi itu terungkap setelah kru pesawat mencurigai perbedaan pada seragam yang dipakainya.
Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, mengatakan peristiwa itu terjadi pada Selasa (6/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Saat itu, kru kabin menyadari adanya perbedaan pada rok yang digunakan oleh KN.
“Kru pesawat curiga, kok ini ada
pramugari
Batik Air, menggunakan pakaian mirip pramugari, tapi coraknya beda,” ujar Yandri Mono saat dikonfirmasi
Kompas.com,
Rabu (7/1/2026).
Merasa curiga, kru kabin selanjutnya melaporkan hal itu ke petugas keamanan penerbangan (Avsec) di Bandara Soekarno-Hatta.
Setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Avsec langsung memeriksa KN dan mendapati bahwa ia bukan pegawai Batik Air.
“Setelah diinterogasi, memang bukan karyawan Batik Air. Kemudian dibawa ke Polres,” kata Yandri.
Dalam pemeriksaan, KN mengaku pernah melamar menjadi
pramugari Batik Air
, tetapi tidak lolos.
Karena malu kepada keluarganya di Palembang, ia mengaku berpura-pura sudah bekerja sebagai pramugari.
Oleh karena itu, saat KN hendak ingin ke Jakarta, ia menggunakan seragam pramugari Batik Air untuk meyakinkan orang tuanya.
“Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya,” jelas dia.
Adapun KN mendapatkan seragam, beserta atribut Batik Air lainnya, seperti name tag dan koper itu melalui online shop. Kemudian, ia gunakan saat menuju bandara di Palembang.
Setibanya di bandara, KN mengaku pada polisi ingin berganti pakaian. Namun karena waktunya tidak cukup sehingga tetap naik pesawat dengan seragam tersebut.
“Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti, namun karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke bandara Soekarno-Hatta,” kata dia.
Selama pemeriksaan, polisi menyebut, tidak ditemukan indikasi tindak pidana apapun terhadap perempuan itu. Begitupula dengan potensi pelanggaran lainnya.
Oleh sebab itu, setelah pemeriksaan, pihak Batik Air disebut tidak melanjutkan proses hukum dan memilih menyelesaikan persoalan dengan kesepakatan damai.
“Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
Sementara itu,
Kompas.com
telah menghubungi pihak Lion Air Group terkait peristiwa tersebut.
Namun, hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari mereka.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695efc60e2e2f.jfif?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Wanita Nekat Pakai Seragam Pramugari Naik Batik Air, Ternyata Pernah Lamar tapi Tak Lolos Megapolitan 8 Januari 2026
Wanita Nekat Pakai Seragam Pramugari Naik Batik Air, Ternyata Pernah Lamar tapi Tak Lolos
Tim Redaksi
TANGERANG, KOMPAS.com –
Seorang penumpang berinisial KN (23) yang nekat pakai seragam pramugari Batik Air pernah melamar menjadi pramugari namun tidak lolos.
Hal itu membuat dirinya malu jika diketahui orangtuanya sehingga berbohong dan mengaku sudah diterima bekerja di
Batik Air
.
“Dia ngelamar kerja jadi
pramugari
, namun ternyata gagal,” ujar Kasat Reskrim Polresta
Bandara Soekarno-Hatta
, Kompol Yandri Mono saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Rabu (7/1/2026).
Untuk meyakinkan orangtuanya, ia pun membeli atribut Batik Air, mulai dari seragam, name tag, dan koper di
online shop
.
Kemudian atribut itu ia gunakan dari rumah saat ingin menuju bandara di Palembang.
Setibanya di bandara, KN memang memiliki niat untuk berganti pakaian.
Namun karena waktunya tidak cukup sehingga tetap naik pesawat dengan seragam tersebut.
“Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti, namun karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke bandara Soekarno-Hatta,” kata dia.
Lebih lanjut, dia mengatakan
seragam pramugari
yang digunakan KN itu dicurigai oleh para kru kabin.
Pasalnya, KN yang duduk di kursi penumpang menggunakan seragam pramugari maskapai tersebut.
Petugas semakin curiga saat melihat motif yang berbeda pada rok yang digunakan oleh KN.
“Kru pesawat curiga, kok ini ada
pramugari Batik Air
, menggunakan pakaian mirip pramugari, tapi coraknya beda,” jelas dia.
Merasa curiga, kru kabin selanjutnya melaporkan hal itu ke petugas keamanan penerbangan (Avsec) di Bandara Soekarno-Hatta.
Setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Avsec langsung memeriksa KN dan mendapati bahwa ia bukan pegawai Batik Air.
Kemudian KN diamankan ke Polresta Bandara Soekarno-Hatta oleh Avsec. Di sana, ia diinterogasi oleh polisi.
Selama pemeriksaan, polisi menyebut, tidak ditemukan indikasi tindak pidana terhadap perempuan itu. Begitupula dengan potensi pelanggaran lainnya.
Oleh sebab itu, pihak Batik Air disebut tidak melanjutkan proses hukum dan memilih menyelesaikan persoalan dengan kesepakatan damai.
“Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
Sementara itu, Kompas.com telah menghubungi pihak Lion Air Group terkait peristiwa tersebut.
Namun hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari mereka.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695efc60e2e2f.jfif?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Penumpang asal Palembang Beli Seragam Pramugari dan ID Batik Air di Online Megapolitan 8 Januari 2026
Penumpang asal Palembang Beli Seragam Pramugari dan ID Batik Air di Online
Tim Redaksi
TANGERANG, KOMPAS.com –
Seorang perempuan berinisial KN (23) membeli seragam pramugari Batik Air melalui
online shop
.
Seragam tersebut ia gunakan saat naik pesawat rute Palembang menuju Jakarta dengan tujuan untuk meyakinkan orang uanya.
“Dia beli melalui
online shop
,” ujar Kasat Reskrim Polresta
Bandara Soekarno-Hatta
, Kompol Yandri Mono saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Rabu (7/1/2026).
Begitu pula dengan
name tag
atau ID dan koper dibeli di online shop. Semua atribut itu ia gunakan saat ingin menuju bandara di Palembang.
Setibanya di bandara, KN mengaku pada polisi ingin berganti pakaian.
Namun karena waktunya tidak cukup sehingga tetap naik pesawat dengan seragam tersebut.
“Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti, namun karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke bandara Soekarno-Hatta,” kata dia.
Saat berada di pesawat, kru kabin pun menyadari keberadaan KN.
Mereka curiga lantaran KN yang merupakan penumpang terlihat menggunakan seragam
pramugariBatik Air
.
Saat diperhatikan lebih jelas, ternyata terdapat perbedaan corak pada rok yang digunakan KN.
“Kru pesawat curiga, kok ini ada pramugari Batik Air, menggunakan pakaian mirip pramugari, tapi coraknya beda,” jelas dia.
Merasa curiga, kru kabin selanjutnya melaporkan hal itu ke petugas keamanan penerbangan (
Avsec
) di Bandara Soekarno-Hatta.
Setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta,
Avsec
langsung memeriksa KN dan mendapati bahwa ia bukan pegawai Batik Air.
“Setelah diinterogasi, memang bukan karyawan Batik Air. Kemudian dibawa ke Polres,” kata Yandri.
Dalam pemeriksaan, KN mengaku pernah melamar menjadi pramugari Batik Air, tetapi tidak lolos.
Karena malu kepada keluarganya di Palembang, ia mengaku berpura-pura sudah bekerja sebagai pramugari.
Selama pemeriksaan, polisi menyebut, tidak ditemukan indikasi tindak pidana apapun terhadap perempuan itu. Begitupula dengan potensi pelanggaran lainnya.
Oleh sebab itu, pihak Batik Air disebut tidak melanjutkan proses hukum dan memilih menyelesaikan persoalan dengan kesepakatan damai.
“Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
Sementara itu,
Kompas.com
telah menghubungi pihak Lion Air Group terkait peristiwa tersebut.
Namun hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari mereka.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/11/25/692542f3f06a8.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Terlambat akibat Motor Tertemper Kereta Megapolitan 8 Januari 2026
KRL Rangkasbitung–Tanah Abang Terlambat akibat Motor Tertemper Kereta
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) relasi Rangkasbitung–Tanah Abang mengalami keterlambatan, Kamis (8/1/2026) pagi.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda menjelaskan keterlambatan terjadi akibat adanya sepeda motor yang tertemper kereta di antara Stasiun Daru dan Stasiun Parung Panjang.
Akibatnya, perjalanan KRL tertunda sekitar tujuh menit.
“Pagi ini ada keterlambatan 1 KA kurang lebih 7 menit karena ada sepeda motor yang menemper KRL di jalur hilir antara Stasiun Daru – Stasiun Parung Panjang,” ujar Karina saat dikonfirmasi, Kamis.
Usai kejadian, petugas langsung melakukan pengecekan di lokasi untuk memastikan kondisi rangkaian dan jalur tetap aman dilalui.
Setelah dinyatakan aman, perjalanan KRL kembali dijalankan secara bertahap.
“Perjalanan sudah kembali normal,” kata Karina.
Keterlambatan ini sempat memicu
penumpukan penumpang
di sejumlah stasiun.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @infotangerang.id, disebutkan penumpang menumpuk pada Kamis (8/1/2026) pagi akibat perjalanan KRL yang terlambat.
“Sering terlambat, KRL Rangkas-Tanah Abang dikeluhkan warganet karena picu penumpukan,” tulis keterangan tersebut.
Area peron Stasiun Rawa Buntu tampak dipenuhi para penumpang yang hilir mudik.
Ketika rangkaian tiba, mereka bergegas mendekat ke pintu.
Namun karena ruang di dalam gerbong sudah penuh, banyak penumpang kesulitan naik.
Terlihat beberapa orang menempel di ambang pintu, ada yang berpegangan di atas, bahkan sebagian tetap memaksa masuk meski kondisi sudah padat dan berdesakan.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2021/09/11/613c24ab99e7d.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/31/6954a94f2810d.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)