Regita, Guru di Pelosok Jombang, Bertahan Hidup dengan Les Murah dan Jajanan Pasar
Tim Redaksi
JOMBANG, KOMPAS.com
– Suara motor Honda Supra tua memecah kesunyian pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB, namun Regita telah bersiap memulai hari.
Motor bekas sang ayah, menjadi tunggangan yang suaranya bersahutan dengan kokok ayam jantan dari pekarangan tetangga.
Regita Wahyuning Tyas, demikian nama lengkap perempuan berkacamata yang amat dikenal oleh siswa SDN 3 Pojokklitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Sejak tiga tahun terakhir, ia mengabdikan diri sebagai guru honorer di sekolah dasar yang berada di pelosok desa.
Baru kini -di tahun ke empat, ia tergabung dalam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di sekolah yang sama.
“Saya mulai mengajar di SDN 3 Pojokklitih sejak lulus kuliah tahun 2022. Alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan dan sudah diangkat menjadi PPPK paruh waktu,” ujar Regita, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Pilihan itu bukan tanpa pertimbangan. Regita memahami betul medan yang akan dihadapi, mulai dari jarak, akses jalan, hingga kesejahteraan yang serba terbatas.
Namun dia mengaku, keinginan untuk ikut menghadirkan pemerataan pendidikan, khususnya di wilayah pedalaman, membuatnya tetap bertahan.
Saat menjadi guru honorer Regita menerima gaji Rp 300 ribu per bulan,
plus
insentif sebesar Rp 500 ribu yang dicairkan setiap tiga bulan sekali.
Namun, ketika diangkat sebagai PPPK paruh waktu sejak Oktober 2025 lalu, Regita belum menerima honor yang dijanjikan akan diberikan per triwulan.
Jika dihitung secara cermat, penghasilan tersebut tentu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama biaya operasional menuju sekolah.
Jarak dari rumah menuju sekolah hampir 15 kilometer. Setiap hari, Regita menempuh sekitar 30 kilometer pulang-pergi.
Dalam sehari, motor tuanya menghabiskan sekitar satu liter bahan bakar, pengeluaran yang terasa signifikan jika dibandingkan dengan penghasilannya.
Tantangan tak berhenti pada jarak. Saat musim hujan tiba, akses menuju sekolah kerap terputus oleh aliran sungai yang meluap.
Dalam kondisi tersebut, Regita harus memutar lebih jauh melalui wilayah Kabupaten Nganjuk agar tetap bisa sampai ke sekolah.
Perjalanan panjang itu membuatnya terbiasa berangkat sebelum fajar datang. Lebih dari satu jam ia habiskan di perjalanan, rutinitas yang dijalani dengan kesabaran sejak awal pengabdiannya.
Regita tinggal serumah bersama keluarganya. Sang ayah yang telah pensiun dari dinas di TNI Angkatan Darat, dan ibunya yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak memiliki penghasilan yang juga terbatas.
Sebagai anak perempuan pertama, Regita turut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan adiknya.
Kondisi tersebut membuat penghasilannya sebagai guru PPPK paruh waktu kian terasa tak mencukupi. Namun Regita memilih mencari siasat, alih-alih mengeluh.
Lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu kemudian memanfaatkan kemampuan dan ruang yang ada untuk menambah pemasukan, sekecil apa pun hasilnya.
Salah satunya dengan membuka les rumahan. Bukan les privat berbiaya tinggi, melainkan bimbingan belajar sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi warga desa.
Ruang tamu rumahnya disulap menjadi ruang belajar sementara. Meja seadanya, papan tulis kecil, dan buku-buku pelajaran menjadi penanda kesungguhan Regita berbagi pengetahuan.
“Pulang mengajar di sekolah biasanya sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah itu lanjut mengajar les, itung-itung untuk tambahan. Hasilnya tidak banyak, tapi cukup membantu,” kata dia.
Tarif yang dipasang pun sangat terjangkau, Rp 2.000 untuk satu kali pertemuan. Dalam sehari, Regita hanya mampu menampung sekitar 15 siswa. Alasannya, agar proses belajar tetap berjalan efektif.
Jika seluruh murid hadir, ia bisa mengantongi sekitar Rp 30.000 per hari. Nominal yang mungkin terkesan kecil, namun bagi Regita, itu adalah bagian dari upaya menjaga keberlangsungan hidup.
“Berapa pun yang saya terima, yang penting halal. Bisa membantu kebutuhan dan bermanfaat untuk pendidikan anak-anak,” ujar dia.
Upaya Regita tak berhenti di situ. Saat malam tiba, di sela-sela tumpukan tugas sebagai guru sekaligus wali kelas, ia masih mencuri-curi waktu di dapur.
Mengolah aneka jajanan sederhana, mulai dari donat, pentol bakar, hingga martabak manis dan asin. Keesokan paginya, jajanan itu ia titipkan di kantin sekolah.
“Malam hari saya siapkan adonan. Besok paginya tinggal digoreng atau dibakar, lalu saya bawa ke sekolah,” tutur dia.
Di sekolah tempatnya mengajar, jumlah murid yang ia dampingi hanya dua orang. Namun kondisi tersebut tak menyurutkan langkahnya.
Bagi Regita, keberadaan satu atau dua murid tetap berarti, dan hak mereka atas pendidikan harus tetap terpenuhi.
Ke depan, Regita berharap akses menuju sekolah dapat diperbaiki agar perjalanan guru dan siswa tidak lagi terhambat, terutama saat musim hujan.
Ia juga berharap kesejahteraan guru honorer maupun PPPK bisa lebih diperhatikan. Agar pengabdian di wilayah terpencil tak selalu dibayar dengan pengorbanan pribadi, namun juga dengan upah yang layak.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Metropolitan
-
/data/photo/2026/01/08/695f44fdcc860.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Regita, Guru di Pelosok Jombang, Bertahan Hidup dengan Les Murah dan Jajanan Pasar Surabaya 8 Januari 2026
-
/data/photo/2026/01/08/695f44fdcc860.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Regita, Guru di Pelosok Jombang, Bertahan Hidup dengan Les Murah dan Jajanan Pasar Surabaya 8 Januari 2026
Regita, Guru di Pelosok Jombang, Bertahan Hidup dengan Les Murah dan Jajanan Pasar
Tim Redaksi
JOMBANG, KOMPAS.com
– Suara motor Honda Supra tua memecah kesunyian pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB, namun Regita telah bersiap memulai hari.
Motor bekas sang ayah, menjadi tunggangan yang suaranya bersahutan dengan kokok ayam jantan dari pekarangan tetangga.
Regita Wahyuning Tyas, demikian nama lengkap perempuan berkacamata yang amat dikenal oleh siswa SDN 3 Pojokklitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Sejak tiga tahun terakhir, ia mengabdikan diri sebagai guru honorer di sekolah dasar yang berada di pelosok desa.
Baru kini -di tahun ke empat, ia tergabung dalam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di sekolah yang sama.
“Saya mulai mengajar di SDN 3 Pojokklitih sejak lulus kuliah tahun 2022. Alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan dan sudah diangkat menjadi PPPK paruh waktu,” ujar Regita, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Pilihan itu bukan tanpa pertimbangan. Regita memahami betul medan yang akan dihadapi, mulai dari jarak, akses jalan, hingga kesejahteraan yang serba terbatas.
Namun dia mengaku, keinginan untuk ikut menghadirkan pemerataan pendidikan, khususnya di wilayah pedalaman, membuatnya tetap bertahan.
Saat menjadi guru honorer Regita menerima gaji Rp 300 ribu per bulan,
plus
insentif sebesar Rp 500 ribu yang dicairkan setiap tiga bulan sekali.
Namun, ketika diangkat sebagai PPPK paruh waktu sejak Oktober 2025 lalu, Regita belum menerima honor yang dijanjikan akan diberikan per triwulan.
Jika dihitung secara cermat, penghasilan tersebut tentu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama biaya operasional menuju sekolah.
Jarak dari rumah menuju sekolah hampir 15 kilometer. Setiap hari, Regita menempuh sekitar 30 kilometer pulang-pergi.
Dalam sehari, motor tuanya menghabiskan sekitar satu liter bahan bakar, pengeluaran yang terasa signifikan jika dibandingkan dengan penghasilannya.
Tantangan tak berhenti pada jarak. Saat musim hujan tiba, akses menuju sekolah kerap terputus oleh aliran sungai yang meluap.
Dalam kondisi tersebut, Regita harus memutar lebih jauh melalui wilayah Kabupaten Nganjuk agar tetap bisa sampai ke sekolah.
Perjalanan panjang itu membuatnya terbiasa berangkat sebelum fajar datang. Lebih dari satu jam ia habiskan di perjalanan, rutinitas yang dijalani dengan kesabaran sejak awal pengabdiannya.
Regita tinggal serumah bersama keluarganya. Sang ayah yang telah pensiun dari dinas di TNI Angkatan Darat, dan ibunya yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak memiliki penghasilan yang juga terbatas.
Sebagai anak perempuan pertama, Regita turut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan adiknya.
Kondisi tersebut membuat penghasilannya sebagai guru PPPK paruh waktu kian terasa tak mencukupi. Namun Regita memilih mencari siasat, alih-alih mengeluh.
Lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu kemudian memanfaatkan kemampuan dan ruang yang ada untuk menambah pemasukan, sekecil apa pun hasilnya.
Salah satunya dengan membuka les rumahan. Bukan les privat berbiaya tinggi, melainkan bimbingan belajar sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi warga desa.
Ruang tamu rumahnya disulap menjadi ruang belajar sementara. Meja seadanya, papan tulis kecil, dan buku-buku pelajaran menjadi penanda kesungguhan Regita berbagi pengetahuan.
“Pulang mengajar di sekolah biasanya sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah itu lanjut mengajar les, itung-itung untuk tambahan. Hasilnya tidak banyak, tapi cukup membantu,” kata dia.
Tarif yang dipasang pun sangat terjangkau, Rp 2.000 untuk satu kali pertemuan. Dalam sehari, Regita hanya mampu menampung sekitar 15 siswa. Alasannya, agar proses belajar tetap berjalan efektif.
Jika seluruh murid hadir, ia bisa mengantongi sekitar Rp 30.000 per hari. Nominal yang mungkin terkesan kecil, namun bagi Regita, itu adalah bagian dari upaya menjaga keberlangsungan hidup.
“Berapa pun yang saya terima, yang penting halal. Bisa membantu kebutuhan dan bermanfaat untuk pendidikan anak-anak,” ujar dia.
Upaya Regita tak berhenti di situ. Saat malam tiba, di sela-sela tumpukan tugas sebagai guru sekaligus wali kelas, ia masih mencuri-curi waktu di dapur.
Mengolah aneka jajanan sederhana, mulai dari donat, pentol bakar, hingga martabak manis dan asin. Keesokan paginya, jajanan itu ia titipkan di kantin sekolah.
“Malam hari saya siapkan adonan. Besok paginya tinggal digoreng atau dibakar, lalu saya bawa ke sekolah,” tutur dia.
Di sekolah tempatnya mengajar, jumlah murid yang ia dampingi hanya dua orang. Namun kondisi tersebut tak menyurutkan langkahnya.
Bagi Regita, keberadaan satu atau dua murid tetap berarti, dan hak mereka atas pendidikan harus tetap terpenuhi.
Ke depan, Regita berharap akses menuju sekolah dapat diperbaiki agar perjalanan guru dan siswa tidak lagi terhambat, terutama saat musim hujan.
Ia juga berharap kesejahteraan guru honorer maupun PPPK bisa lebih diperhatikan. Agar pengabdian di wilayah terpencil tak selalu dibayar dengan pengorbanan pribadi, namun juga dengan upah yang layak.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695f41c475152.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Diguyur Hujan Deras, Sejumlah Ruas Jalan di Kuta Selatan Bali Tergenang Banjir Denpasar 8 Januari 2026
Diguyur Hujan Deras, Sejumlah Ruas Jalan di Kuta Selatan Bali Tergenang Banjir
Tim Redaksi
BADUNG, KOMPAS.com
– Sejumlah ruas jalan utama di kawasan wisata Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, tergenang air akibat diguyur hujan deras, Kamis (8/1/2026) pagi.
Pantauan di lapangan, genangan air di beberapa titik berangsur surut seiring curah hujan mulai meredah.
Kapolsek Kuta Selatan
, Kompol I Komang Agus Dharmayana mengatakan kejadian ini sempat mengganggu arus lalu lintas, khususnya kendaraan roda dua.
Adapun, ruas jalan yang terpantau digenang air, yakni Jalan By Pass Ngurah Rai, Nusa Dua, tepatnya di depan Bank BNI Nusa Dua Lingkungan Mumbul.
Kemudian, Simpang Siligita Lingkungan Mumbul, depan Hotel Santika Lingkungan Peminge, Jalan Trompong, Lingkungan Peminge, dan Jalan Gopala Lingkungan Bualu.
“Kondisi tersebut merupakan kejadian yang kerap terjadi pada musim hujan dengan curah hujan tinggi,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Kamis.
Ia mengatakan pihaknya langsung mengerahkan sejumlah petugas untuk membantu warga yang terdampak dan mengatur arus lalu agar tetap kondusif.
“Kami telah memerintahkan seluruh personel, khususnya Bhabinkamtibmas, untuk aktif melakukan pemantauan wilayah dan membantu masyarakat yang terdampak hujan deras. Keselamatan warga menjadi prioritas utama,” kata dia.
Secara terpisah, Camat Kuta Selatan Ketut Gede Arta, mengungkapkan kejadian ini diduga akibat sistem drainase tidak mampu volume air hujan dalam durasi panjang.
“Debit hujan sangat tinggi. Selain kemungkinan drainase tidak berfungsi maksimal, kapasitasnya memang tidak mampu menampung air hujan sebanyak itu. Karena hujannya merata, banjir juga terjadi hampir di semua titik,” katanya.
Menurutnya, sistem drainase tidak berfungsi maksimal bukan karena adanya tumpukan sampah.
Namun, karena adanya material seperti pasir dan kerikil yang terbawa arus dari dataran tinggi dan mengendap di dataran rendah.
“Kalau kita prediksi itu mengalami sedimentasi aja sih. Kalau penumpukan kan bisa banjir lama kan. Iya. Karena ini buktinya setelah hujan cepat dia, gitu. Jadi besar kemungkinan itu sedimentasi saja,” katanya.
Ia mengatakan pihaknya bersama PUPR Badung telah melakukan pengerukan sedimentasi dan normalisasi saluran drainase di sejumlah titik untuk mempercepat surutnya genangan air.
“Jadi mudah-mudahan ini meng-cover beberapa ruas jalan dan perumahan yang dulu mengalami ketinggian air naik, itu ketika musim hujan ekstrim, mudah-mudahan prioritas sekarang ini mengalami penurunan,” katanya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695efc60e2e2f.jfif?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Nekat "Nyamar" Jadi Pramugari Batik Air, Penumpang Asal Palembang Ini Berakhir di Avsec Regional 8 Januari 2026
Nekat “Nyamar” Jadi Pramugari Batik Air, Penumpang Asal Palembang Ini Berakhir di Avsec
Tim Redaksi
PALEMBANG, KOMPAS.com
– Seorang penumpang Batik Air berinisial KN (23) menjadi perbincangan setelah nekat mengenakan seragam pramugari lengkap dalam penerbangan rute Palembang–Jakarta.
KN akhirnya diamankan oleh petugas
Aviation Security
(Avsec) saat tiba di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta.
Menanggapi hal tersebut, General Manager Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Ahmad Syaugi Shahab, memberikan penjelasan terkait proses keberangkatan KN.
Ia memastikan bahwa saat berada di Palembang, KN telah diperiksa sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
“Kami memastikan bahwa seluruh proses pelayanan dan keamanan telah dilaksanakan oleh petugas sesuai dengan SOP yang berlaku,” kata Ahmad Syaugi dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (8/1/2026).
Ahmad Syaugi menjelaskan bahwa KN berangkat melalui jalur pemeriksaan penumpang reguler pada Selasa (6/1/2026) dengan nomor penerbangan ID 7058. Meskipun mengenakan atribut mirip kru pesawat, KN tetap mengikuti prosedur pemeriksaan keamanan di Security Check Point (SCP).
“Calon penumpang yang berpakaian seperti kru pesawat
Batik Air
tersebut memproses keberangkatan seperti halnya penumpang pesawat. Personel Aviation Security melakukan pemeriksaan keamanan mencakup pemeriksaan
boarding pass
yang dikeluarkan maskapai, serta pemeriksaan orang dan barang bawaan,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di Bandara SMB II, tidak ditemukan hal mencurigakan pada diri KN. Ia memiliki dokumen penerbangan yang sah dan tidak membawa barang-barang terlarang, sehingga diizinkan naik ke pesawat.
Aksi KN tersebut sempat terekam kamera dan viral di media sosial. Dalam video yang beredar, perempuan tersebut tampak mengenakan atribut lengkap mulai dari seragam hingga kartu identitas salah satu sekolah pramugari.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa KN sempat mengaku sebagai
cabin crew
agar bisa masuk melalui jalur
fast track
. Namun, identitas aslinya terungkap setelah pihak maskapai dan petugas keamanan bandara melakukan koordinasi lebih lanjut.
“Kejadian ini telah diinvestigasi dan ditangani secara profesional, objektif, dan sesuai dengan ketentuan operasional, dengan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak
airline
secara langsung,” ungkap Ahmad Syaugi.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695f430774a8d.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Usai Diputus Langgar Kode Etik atas Kasus Perzinaan dengan Polwan, Anggota DPRD Kota Blitar Kembali Berkantor Surabaya 8 Januari 2026
Usai Diputus Langgar Kode Etik atas Kasus Perzinaan dengan Polwan, Anggota DPRD Kota Blitar Kembali Berkantor
Tim Redaksi
BLITAR, KOMPAS.com
– Badan Kehormatan (BK) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Blitar, Jawa Timur memutuskan anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), GP, bersalah.
GP melakukan pelanggaran
kode etik
atas kasus dugaan
perzinaan
dengan seorang anggota polisi wanita (
polwan
).
Meski demikian, keanggotaan GP justru diaktifkan kembali usai hasil keputusan BK disampaikan dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Blitar yang berlangsung Kamis (8/1/2026).
Ketua BK DPRD Kota Blitar, Aris Dedi Arman, mengatakan bahwa status GP sebagai anggota DPRD Kota Blitar telah diaktifkan kembali oleh Fraksi PPP setelah keputusan sidang kode etik disampaikan BK pada rapat paripurna.
“Tadi hasil sidang BK sudah kami sampaikan di rapat paripurna berikut sanksi yang diberikan untuk Mas Guntur (GP),” ujar Aris kepada Kompas.com melalui telepon, Rabu siang.
“Setelah itu, Fraksi PPP mengaktifkan kembali Mas Guntur sebagai anggota dewan,” imbuhnya.
Dalam persidangan sebelumnya yang berlangsung maraton , kata Aris, BK DPRD Kota Blitar sampai pada keputusan yang menetapkan GP melakukan pelanggaran kode etik kategori sedang dalam perkara perzinaan dengan polwan anggota Polres Blitar Kota bernama inisial NW.
Atas pelanggaran kode etik tersebut, lanjutnya, BK menjatuhkan sanksi berupa pencopotan GP dari keanggotaannya di BK dan juga dari posisi wakil ketua Komisi III DPRD Kota Blitar.
“Jadi Mas Guntur tidak lagi menjadi anggota BK, juga tidak lagi menduduki posisi wakil ketua Komisi III. Beliau aktif lagi sebagai anggota biasa DPRD Kota Blitar,” kata Aris.
Ditanya apakah GP mengakui tindak perzinaan dengan polwan, Aris mengatakan bahwa pengakuan itu secara tidak langsung diberikan ketika GP menerima hasil putusan dan sanksi yang dijatuhkan BK.
“Kira-kira (pengakuan) itu secara tidak langsung ya, otomatis. Karena Mas Guntur kan menerima putusan dan sanksi dari BK,” ungkapnya.
Sesuai ketentuan, kata Aris, tindakan perselingkuhan dan perzinaan masuk kategori pelanggaran kode etik sedang.
“Kalau ini kategori pelanggaran sedang. Pelanggaran kode etik berat itu contohnya terlibat kasus pidana korupsi,” pungkasnya.
Aris menambahkan bahwa BK DPRD Kota Blitar menggelar persidangan kode etik terhadap GP sebagai respons atas laporan yang disampaikan suami NW.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695f38322bbb7.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Perbaikan Jalan Pantura Kaligawe Mulai 10 Januari-Maret 2026, Ini Jalur Alternatifnya Regional 8 Januari 2026
Perbaikan Jalan Pantura Kaligawe Mulai 10 Januari-Maret 2026, Ini Jalur Alternatifnya
Tim Redaksi
SEMARANG, KOMPAS.com –
Polisi menginformasikan akan dilaksanakan pekerjaan peninggian Jalan Raya Kaligawe, Kota Semarang, Jawa Tengah, mulai 10 Januari hingga 10 Maret 2026.
Proyek tersebut berada di ruas Jalan Kaligawe depan RSI Sultan Agung hingga Traffic Light Terboyo.
Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto, mengatakan pekerjaan jalan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan keamanan infrastruktur jalan nasional yang selama ini kerap tergenang dan rusak.
“Pekerjaan peninggian Jalan Raya Kaligawe akan dimulai dari arah Semarang menuju Demak, tepatnya dari ujung Tol Kaligawe sampai Traffic Light Terboyo,” kata Kompol Rismanto saat dikonfirmasi, Kamis (8/1/2026).
Selama proses pengerjaan berlangsung, pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar mengantisipasi potensi
kepadatan lalu lintas
, khususnya pada jam-jam sibuk.
Pengguna jalan dari arah Semarang menuju Demak diminta untuk menggunakan jalur alternatif.
“Untuk menghindari kemacetan, pengendara dari arah Semarang ke Demak dapat melintas melalui jalur alternatif Pedurungan–Jalan Wolter Monginsidi–Genuk,” ujarnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.1 Provinsi Jawa Tengah, Awang Nofika, mengatakan bahwa proyek tersebut untuk meningkatkan fungsi jalan.
“Selain itu untuk ketahanannya terhadap genangan dan beban lalu lintas,” kata Awang saat dikonfirmasi, Jumat (2/1/2026).
Untuk itu, pengerjaan preservasi Jalan Batas Kota Semarang – Demak – Trengguli – Jepara/Batas Kabupaten Kudus akan segera dilaksanakan.
“Perkerasan beton yang dilaksanakan pada periode Januari 2026 hingga April 2026,” ujarnya.
Khusus ruas Jalan Kaligawe KM 3+450 sampai dengan KM 4+650 (area Terminal Terboyo) penanganan dilakukan melalui peninggian badan jalan.
“Dengan lapis fondasi agregat kelas A, AC-BC,” ucap Awang.
Selain itu, pihaknya juga telah melakukan penanganan darurat pascabanjir di
jalan Nasional Kaligawe
telah dilaksanakan pada November 2025.
Pengerjaan itu dilakukan melalui metode
cold milling machine
(CMM) untuk menjaga fungsionalitas jalan dan keselamatan pengguna.
“Selanjutnya, hingga Desember 2025, dilakukan pemeliharaan rutin secara berkala guna memastikan kondisi perkerasan tidak terjadi lubang pada badan jalan,” ungkapnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/07/695de887691fe.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Pegawai Kantor Love Scamming di Sleman Digaji Rp 3,5 Juta, Bonus Bisa Capai Rp 5 Juta Yogyakarta 8 Januari 2026
Pegawai Kantor Love Scamming di Sleman Digaji Rp 3,5 Juta, Bonus Bisa Capai Rp 5 Juta
Tim Redaksi
YOGYAKARTA, KOMPAS.com
– Kantor PT Altairs Trans Service, yang merupakan operator
Love Scamming
di Sleman, Yogyakarta digerebek polisi beberapa waktu lalu.
Perusahaan ini diketahui mempekerjakan sekitar 200 orang. Mereka mendapatkan gaji sekitar Rp 2,5 juta sampai dengan Rp 3,5 juta dan
bonus
yang bisa mencapai hingga Rp 5 juta.
Kasatreskrim Polresta
Yogyakarta
Kompol Rizky Adrian mengatakan, kantor ini sudah beroperasi sejak tahun lalu.
Para pegawai mendapatkan gaji pokok sekitar Rp 2,5 juta sampai dengan Rp 3,5 juta.
Selain itu, juga ada bonus sesuai dengan performa masing-masing karyawan dengan nominal antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.
“Gaji pokok sekitar Rp2.500.000 sampai Rp3.500.000, kalau bonus dilihat dari
performance
itu Rp1.000.000 sampai Rp5.000.000,” ujarnya.
Rizky menjelaskan, PT Altair Trans Service juga memiliki cabang di Lampung dan melakukan modus
love scamming
dengan cara yang sama.
“Ada di Lampung, kita juga sudah berkomunikasi dengan Polda Lampung untuk melakukan penindakan lebih lanjut,” ujar, Rabu (7/1/2026).
Rizky menyampaikan kantor operator
love scamming
di Sleman, memiliki karyawan kurang lebih 200 orang.
Sementara kantor cabang yang berada di Lampung juga memiliki karyawan ratusan. “Hampir sama (jumlah pegawai),” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, sindikat ini meraup keuntungan hingga Rp 10 miliar per shift setiap bulan dengan modus mendekati konsumen dari luar negeri, kemudian meminta pembayaran melalui koin di
aplikasi kencan
daring.
Kompol Rizky Adrian, menjelaskan setiap shift disebut mampu mengumpulkan hingga 2 juta koin per bulan, di mana setiap 16 koin dihargai lima dollar AS.
“Secara kalkulasi per shift itu dapat Rp 10 miliar lebih satu bulannya. Sedangkan dalam pekerjaannya mereka dibagi menjadi 3 shift,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).
Rizky menjelaskan, sindikat menggunakan aplikasi kloningan asal China bernama WOW, sementara PT Altair Trans Service berperan sebagai penyedia karyawan untuk menjalankan praktik tersebut.
Perusahaan ini juga bertugas mencari konsumen melalui aplikasi kencan daring.
Setiap karyawan mendekati pengguna dari Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Inggris, kemudian mengirim konten pornografi.
Setiap kali konsumen membuka konten tersebut, mereka diwajibkan membayar menggunakan koin dalam aplikasi.
“Baik video atau foto porno sudah disiapkan perusahaan, sudah ada di setiap hp dan laptop yang disediakan. Bahkan, kita coba buka aplikasi WOW di situ sudah disiapkan tapi terbatas, lalu perusahaan dari Indonesia menambahkan secara manual,” jelas Rizky.
“Konten yang disebar download dari internet,” tambahnya.
Kini, polisi telah mengamankan enam tersangka. Mereka adalah inisial R 35, sebagai CEO.
Kemudian, inisial H sebagai HRD, inisial P selaku project manager, inisial V sebagai tim leader, inisial G yang berperan sebagai tim leader, dan M berperan sebagai project manager.
Sindikat juga melibatkan
Warga Negara Asing
(WNA) asal China.
Polresta Yogyakarta telah mengantongi identitas mereka dan menghubungi Hubinter untuk komunikasi dengan Interpol.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/08/695f226270297.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Viral Seorang Pria di Sikka Pamer Kemaluan di Depan Apotek, Pelaku Diduga Alami Gangguan Jiwa Regional 8 Januari 2026
Viral Seorang Pria di Sikka Pamer Kemaluan di Depan Apotek, Pelaku Diduga Alami Gangguan Jiwa
Tim Redaksi
SIKKA, KOMPAS.com
– Sebuah video seorang pria sedang menunjukkan alat kelamin viral di media sosial.
Dalam video yang beredar tampak pria tersebut mendekati apotek lalu memperlihatkan alat kelaminnya.
Kepala Seksi Humas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, mengatakan peristiwa itu terjadi di depan salah satu apotek yang terletak di Kelurhan Kota Uneng, Kecamatan Alok,
Kabupaten Sikka
, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kejadiannya Rabu (7/1/2026) kemarin. Pelaku berinisial M,” ujar Leonardus di Maumere, Kamis (8/1/2026).
Leonardus menjelaskan setelah video tersebut beredar, aparat mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk meminta keterangan dari pelapor dan pelaku.
Namun saat diperiksa pelaku tidak bisa memberikan keterangan kepada petugas.
Selanjutnya Polres Sikka berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Satpol PP untuk melakukan penanganan terhadap M.
“Berdasarkan hasil keterangan sementara, pelaku diduga mengalami
gangguan mental
dan psikologi,” ungkapnya.
Leonardus menambahkan M sudah dipulangkan ke keluarga.
Keluarga dan instansi terkait akan melakukan pengawasan secara ketat agar menghindari hal serupa terulang kembali.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/11/03/69084e37e22e7.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Pilkada Dipilih DPRD Jadi Polemik, Sultan HB X: Bukan Wewenang Saya Regional 8 Januari 2026
Pilkada Dipilih DPRD Jadi Polemik, Sultan HB X: Bukan Wewenang Saya
Tim Redaksi
YOGYAKARTA, KOMPAS.com –
Sultan HB X menyerahkan polemik pilkada dipilih DPRD ke pemerintah pusat
Wacana
pemilihan kepala daerah
(Pilkada) kembali dipilih oleh DPRD atau dilakukan secara tidak langsung kembali menuai polemik.
Sejumlah partai politik menyatakan dukungan, sementara partai lain menolak wacana tersebut.
Menanggapi hal itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa keputusan mengenai mekanisme Pilkada bukan merupakan kewenangannya.
Ia menyampaikan bahwa kebijakan tersebut sepenuhnya menjadi ranah
pemerintah pusat
dan meminta masyarakat untuk menunggu keputusan resmi yang akan diambil.
“Itukan bukan wewenangku itu kan wewenangnya pemerintah pusat ya kita tunggu aja (keputusan),” ujarnya, Kamis (8/1/2026).
Sebelumnya, wacana agar pemilihan kepala daerah dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali disuarakan oleh Presiden Prabowo Subianto dan
Partai Golkar
.
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengusulkan agar mekanisme pemilihan kepala daerah pada pemilu mendatang cukup dilakukan melalui DPRD.
Usulan tersebut disampaikan langsung di hadapan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat perayaan HUT ke-61 Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025) malam.
“Khusus menyangkut pilkada, setahun lalu kami menyampaikan kalau bisa pilkada dipilih lewat DPRD saja. Banyak pro kontra, tapi setelah kita mengkaji, alangkah lebih baiknya memang kita lakukan sesuai dengan pemilihan lewat DPR kabupaten/kota biar tidak lagi pusing-pusing. Saya yakin ini perlu kajian mendalam,” kata Bahlil.
Meski demikian, Bahlil menegaskan pentingnya pembahasan yang komprehensif sebelum kebijakan tersebut ditetapkan.
“RUU ini harus melalui kajian yang mendalam,” ucap dia.
Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait potensi uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK) meskipun regulasi tersebut telah melalui kajian mendalam.
“Saya khawatir jangan sampai UU sudah jadi, sampai di MK, MK membuat yang lain, bahkan bisa mengubah, bahkan bisa membuat norma baru lagi,” kata Bahlil.
Menanggapi usulan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan mempertimbangkannya. Menurutnya, pemilihan kepala daerah melalui DPRD dapat menjadi solusi agar proses politik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan modal.
“Jadi, saya sendiri condong, saya akan mengajak kekuatan politik, ayo marilah kita berani, berani memberi solusi kepada rakyat kita, demokratis tapi jangan buang-buang uang,” kata Prabowo.
Prabowo menilai, karena DPRD telah dipilih langsung oleh rakyat, lembaga tersebut memiliki legitimasi untuk sekaligus memilih gubernur, bupati, dan wali kota.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2026/01/08/695f3e9170adf.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)