Libur Nataru, Jumlah Wisatawan Jateng Diprediksi Capai 10,2 Juta Orang
Tim Redaksi
SEMARANG, KOMPAS.com –
Jumlah perjalanan wisatawan pada libur Natal dan Tahun Baru (nataru) 2024-2025 diprediksi akan meningkat sebesar 13,2 persen, mencapai 10,2 juta pengunjung di
Jawa Tengah
.
Angka ini sejalan dengan proyeksi peningkatan pemudik dari luar daerah ke Jateng yang diperkirakan naik sekitar 5 persen, menjadi 9.165.289 jiwa selama periode nataru.
“Betul, proyeksi jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Jawa Tengah pada Desember 2024 sekitar 10.227.678 wisatawan atau meningkat sebesar 13,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Agung Hariyadi, melalui pesan singkat pada Kamis (19/12/2024).
Agung menambahkan bahwa prediksi tersebut menjadi salah satu indikator peningkatan tren wisatawan di Jateng.
Indikator lainnya adalah jumlah
kunjungan wisatawan
nusantara ke daya tarik wisata (DTW) yang berlokasi di Jawa Tengah selama nataru.
“Prediksi jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke DTW di Jawa Tengah sebesar 6.428.967 kunjungan atau meningkat sebesar 9,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023,” lanjutnya.
Beberapa DTW yang diperkirakan akan menjadi destinasi utama selama liburan nataru di Jawa Tengah meliputi tempat-tempat wisata yang memiliki nilai sejarah dan budaya, seperti Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Candi Prambanan di Klaten, Kawasan Dieng di Banjarnegara dan Wonosobo, serta Kawasan Kota Lama Semarang.
Untuk menyambut kedatangan wisatawan, Pemprov Jateng telah melakukan berbagai persiapan.
Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 500.13/2771 yang mengatur kesiapan daya tarik wisata dan desa wisata di Jawa Tengah menghadapi libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025.
Persiapan tersebut mencakup pengecekan kembali izin operasional dan izin lokasi DTW di masing-masing wilayah, serta himbauan kepada wisatawan untuk mengatur waktu dan lokasi berwisata agar tidak terjadi penumpukan pada waktu dan tempat yang bersamaan.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Metropolitan
-
/data/photo/2024/12/18/6762d9486bdd0.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Libur Nataru, Jumlah Wisatawan Jateng Diprediksi Capai 10,2 Juta Orang Regional 19 Desember 2024
-
/data/photo/2024/12/19/6763b20d9220e.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Siswi SMP di Palembang Ditemukan Tewas Usai Minum Jamu Regional 19 Desember 2024
Siswi SMP di Palembang Ditemukan Tewas Usai Minum Jamu
Tim Redaksi
PALEMBANG, KOMPAS.com
– Seorang
siswi SMP
berinisial ANF (13) ditemukan
tewas
di belakang lemari rumahnya di Jalan Panca Usaha, Lorong Wakaf IV, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Jakabaring,
Palembang
, pada Rabu (18/12/2024) sekitar pukul 17.00 WIB.
Jenazah ANF ditemukan oleh ibunya, Asmawati (57), yang mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, anaknya sempat diiming-imingi uang sebesar Rp 300.000 oleh menantunya, RK, untuk meminum jamu, dengan syarat tidak muntah.
“Karena tergiur dengan iming-iming tersebut, ia pun meminum jamu tersebut tanpa mengetahui jenisnya,” kata Asmawati.
Asmawati menjelaskan bahwa pada saat kejadian, ia pergi ke masjid untuk mengaji.
“Saat pulang, anak saya tidak ada di rumah,” ujarnya.
Merasa khawatir, Asmawati mencari ANF hingga ke rumah tetangga, tetapi tidak menemukan jejaknya.
Sementara itu, RK, kakak ipar korban, sudah tidak berada di rumah.
Beberapa saat kemudian, RK mengirimkan pesan singkat yang menyebutkan bahwa ANF sudah dalam kondisi tewas di belakang lemari.
“Kami langsung melihat dan ternyata betul ada di belakang lemari pakaian, kondisinya sudah meninggal,” ungkap Asmawati.
Panik dengan situasi tersebut, jenazah ANF segera dibawa ke RSUD Bari Palembang untuk dilakukan visum, sebelum akhirnya dipindahkan ke RS Bhayangkara M Hasan Palembang.
Pihak kepolisian, melalui Pawas Polsek Seberang Ulu 1 Palembang, AKP Usman, menjelaskan bahwa mereka telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan saat ini penyidik masih mendalami penyebab kematian ANF.
“Keterangan dari keluarga menyebutkan bahwa korban sempat meminum jamu yang diberikan oleh kakak iparnya. Kami masih menyelidiki apa jenis jamu tersebut,” jelasnya.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/12/19/6763ac0b3bcba.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
8 Tabrakan Bus dan Truk Tronton di Tol Banyumanik Semarang, 11 Penumpang Dibawa ke RS Regional
Tabrakan Bus dan Truk Tronton di Tol Banyumanik Semarang, 11 Penumpang Dibawa ke RS
Tim Redaksi
SEMARANG, KOMPAS.com –
Sebanyak
11 penumpang
bus yang terlibat dalam kecelakaan di
Jalan Tol Banyumanik
KM 423, Kota Semarang, Jawa Tengah, dilarikan ke
rumah sakit
pada Kamis (19/12/2024).
Kasubnit 2 Gakkum Satlantas Polrestabes Semarang, Ipda Agus Tri Handoko, menjelaskan bahwa dari 11 penumpang tersebut, dua orang menjalani perawatan inap, sedangkan sembilan lainnya mendapatkan perawatan jalan.
“Dua rawat inap dan sembilan lainnya rawat jalan,” kata Handoko melalui pesan singkat.
Ia menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan yang melibatkan bus dan truk tronton tersebut.
“Masih ditangani, info nihil korban. Dua kendaraan yang terlibat,” ucapnya.
Manajer Humas PT Transmarga Jawa Tengah (TMJ), Dian Saputra, menyampaikan bahwa kecelakaan terjadi di KM 423+400 B.
“Kendaraan terlibat dua kendaraan,” kata Dian.
Saat ini, petugas Tol TMJ sedang melakukan penanganan terhadap kecelakaan tersebut.
Dian mengungkapkan bahwa laporan lengkap mengenai insiden ini masih dalam proses.
“Laporan lengkapnya masih on progress,” ucapnya.
Kecelakaan ini menambah catatan insiden di jalan tol, dan pihak berwenang terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti dari kecelakaan tersebut.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/12/19/6763a2fb32e4e.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
10 Kontroversi Pemindahan Jemaah Shalat Jumat bersama Gibran, Baznas: Hanya Penataan Shaf Nasional
Kontroversi Pemindahan Jemaah Shalat Jumat bersama Gibran, Baznas: Hanya Penataan Shaf
Tim Redaksi
KOMPAS.com
– Menanggapi video viral yang memperlihatkan Wakil Presiden Republik Indonesia
Gibran
Rakabuming Raka saat pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Baiturrahman, Semarang pada Jumat (13/12/2024), Ketua Badan Amil Zakat Nasional (
Baznas
) RI Noor Achmad memberikan klarifikasi.
Peristiwa terjadi sebelum Apel Kesiapsiagaan sekaligus Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baznas Tanggap Bencana (BTB) serta Rumah Sehat Baznas (RSB) 2024 di Semarang, Jumat.
Menurut Noor Achmad, saat mendampingi Gibran dari Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) menuju masjid untuk melaksanakan salat Jumat, seluruh rombongan telah diarahkan ke tempat yang disediakan.
Namun, Gibran memilih untuk menempati shaf yang tersedia. Rombongan tersebut terdiri dari Gibran, Ketua Baznas RI, Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah, dua pengawal presiden, dan beberapa jemaah lainnya.
Posisi Gibran di video yang viral itu juga bukan posisi terdepan, melainkan berada di barisan tengah.
“Karena shaf masih longgar, kami meminta jemaah untuk merapatkan shaf. Bahkan, ada shaf depan yang masih kosong, tetapi wapres memilih di tengah, sehingga kemudian shaf depan ditempati Panglima Daerah Militer (Pangdam),” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (19/12/2024).
Noor menegaskan, Gibran berada di tengah bersamanya dan beberapa jemaah lain.
Ia menegaskan, tidak ada pemindahan jemaah sebagaimana yang diramaikan di media sosial. Hal yang terjadi adalah penataan shaf sesuai dengan kaidah Salat berjamaah.
Noor juga menekankan bahwa meskipun Gibran mendapatkan pengawalan ketat, tidak ada perlakuan khusus yang melanggar aturan salat berjemaah.
“Sesuai ajaran Islam, merapatkan dan memenuhi shaf adalah bagian dari adab salat berjemaah. Semua dilakukan dalam kerangka menjaga kesempurnaan salat,” tuturnya.
Baznas RI mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru menilai dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, terlebih terkait isu keagamaan.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/12/19/67639c8b7475e.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kasus Dugaan Korupsi Kadisbud Jakarta, Pelajaran bagi ASN yang Langgar Integritas Megapolitan 19 Desember 2024
Kasus Dugaan Korupsi Kadisbud Jakarta, Pelajaran bagi ASN yang Langgar Integritas
Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com
– Kasus dugaan korupsi yang melibatkan Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta, Iwan Henry Wardhana, mencuat ke publik setelah Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta melakukan penggeledahan di kantor Dinas Kebudayaan pada Rabu (18/12/2024).
Anggota Komisi E DPRD Jakarta, Dina Masyusin, mengungkapkan bahwa insiden ini menjadi pembelajaran penting bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemprov Jakarta.
Ia menyesalkan pelanggaran yang dilakukan oleh seorang ASN yang seharusnya menjaga komitmennya sesuai dengan Pakta Integritas yang diteken saat pelantikan.
“Seharusnya, setiap ASN menjaga integritas yang sudah diteken saat menjadi ASN,” ujar Dina kepada
Kompas.com
, Kamis (19/12/2024).
Sebagai informasi, Pakta Integritas adalah dokumen yang berisi janji dan komitmen untuk melaksanakan tugas, fungsi, dan tanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dokumen ini juga mencakup kesanggupan untuk tidak terlibat dalam korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Kasus dugaan korupsi senilai Rp 150 miliar ini menjadi refleksi bagi seluruh ASN tentang pentingnya mematuhi komitmen yang telah dibuat demi menjaga integritas dan kredibilitas pemerintah.
Wakil rakyat dari Fraksi Perindo itu menilai keputusan Pj Gubernur Jakarta, Teguh Setyabudi, yang menonaktifkan sementara Iwan Henry Wardhana sebagai langkah tepat untuk mempermudah proses penyidikan.
“Itu kepekaan, ketika ada anak buahnya terseret hukum, tentu harus dinonaktifkan terlebih dahulu,” katanya.
Selain itu, Dina juga mendorong Inspektorat untuk terus menyelidiki kasus ini. Hasil investigasi mengungkap adanya dugaan kerugian daerah akibat ketidaksesuaian dalam beberapa kegiatan.
“Informasi yang kami terima, Inspektorat masih menghitung kerugian daerah dari kegiatan tahun anggaran 2023. Semoga kasus ini segera selesai dan tak terulang di OPD lain,” ucap Dina.
Sebelumnya diberitakan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta menyita uang tunai senilai Rp 1 miliar setelah menggeledah kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta dan empat lokasi lainnya, Rabu (18/12/2024).
Penggeledahan ini terkait dugaan korupsi senilai Rp 150 miliar berupa penyimpangan dalam pelaksanaan sejumlah kegiatan di
Dinas Kebudayaan Jakarta
pada Tahun Anggaran 2023.
“(Total uang tunai yang disita) Rp 1 miliar,” ungkap Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Jakarta Syahron Hasibuan saat dikonfirmasi, Rabu (18/12/2024).
Selain uang tunai, penyidik Kejati Jakarta menyita ratusan stempel yang telah dipalsukan untuk pencairan dana anggaran dinas.
“Misal, stempel sanggar kesenian, stempel UMKM. Seolah-olah kegiatan dilaksanakan, dibuktikan dengan stempel tersebut untuk mencarikan anggaran. Padahal, faktanya kegiatan sama sekali tidak ada,” kata Syahron.
Sementara itu, Teguh membenarkan, Kejati menggeledah ruangan Kadisbud Jakarta Iwan Henry Wardhana pada Rabu (17/12/2024) malam.
Kini, Teguh telah menginstruksikan Inspektorat untuk memeriksa kerugian daerah imbas adanya penggeledahan Kejati di Disbud terkait dugaan korupsi anggaran.
“Jadi memang saya menginstruksikan kepada Inspektorat untuk selalu update penanganan ini dan melakukan investigasi mendalam,” kata Teguh di Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (18/12/2024).
Teguh mengatakan, ditemukan kerugian negara yang saat ini jumlahnya masih dalam perhitungan.
“Nanti tanya ke Inspektorat Provinsi Jakarta ya (jumlah kerugian),” ujar Teguh.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2022/12/07/63907245cc058.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Penonton DWP 2024 Diminta Lapor Polisi jika Mengalami Pemerasan oleh Oknum Megapolitan 19 Desember 2024
Penonton DWP 2024 Diminta Lapor Polisi jika Mengalami Pemerasan oleh Oknum
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Ismaya Live meminta penonton Djakarta Warehouse Project (DWP) 2024 melaporkan ke polisi jika mengalami hal tidak menyenangkan selama menyaksikan perhelatan tersebut.
Permintaan yang diunggah melalui Instagram @djakartawarehouseproject ini menyusul beredar kabar sejumlah penonton DWP 2024 ditangkap oleh pihak kepolisian.
“Jika Anda memiliki informasi untuk dibagikan atau sesuatu untuk dilaporkan, kami mengimbau Anda untuk menghubungi Hotline Divisi Humas Polri (@divisihumaspolri) [(021) 72120599] agar aspirasi Anda dapat didengar, dan tindakan yang tepat dapat diambil,” tertulis pernyataan resmi yang diunggah akun Instagram Djakarta Warehouse Project, dikutip Kompas.com, Kamis (19/12/2024).
Ismaya Live selaku penyelenggara mengaku sudah mendengar khawatiran sejumlah penonton selama menyaksikan DWP 2024.
“Meskipun beberapa aspek dari situasi ini berada di luar kendali langsung kami, kami sepenuhnya memahami dampaknya terhadap Anda,” ujar penyelenggara.
Oleh karena itu, penyelenggara memastikan akan bekerja sama secara kooperatif dengan pihak berwenang dan lembaga pemerintah terkait untuk menyelidiki tentang apa yang tengah terjadi.
Penyelenggara berkomitmen untuk mencegah insiden serupa agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang.
“Yang terpenting, kami berharap semua orang tetap aman selama berada di Indonesia. Dukungan, semangat, dan kepercayaan Anda sangat berharga dalam menjadikan DWP tahun ini sukses besar,” tulis pengumuman tersebut.
Penyelenggara juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh penggemar karena telah menjadi bagian dari keluarga besar DWP.
Dengan begitu, Ismaya Live berharap dapat menyambut kembali penggemar di Indonesia pada perhelatan lain waktu.
Adapun beredar kabar sejumlah penonton DWP 2024 ditangkap polisi.
Salah satu yang menggaungkan kabar ini adalah pemilik akun X @Twt_Rave dengan menyebar beberapa yang berisi pemboikotan terhadap DWP.
“DWP 2024. 400++ Malaysian di pau polisi Indonesia,” bentuk tulisan pada gambar yang diunggah @Twt_Rave.
“DWP 2024. RM 9 Juta duit pau terkumpul,” tulis pada gambar yang diunggah pada akun yang sama.
“DWP 2024. Checkout hotel pun polisi tunggu,” tulis pada gambar yang lain.
Akun tersebut menyebutkan, pengalaman serupa juga dialami oleh warga negara asing (WNA) asal Singapura dan Thailand.
Pengalaman lain juga diceritakan pemilik akun Instagram @ez.rawr yang berkomentar pada salah satu unggahan Instagram @djakartawarehouseproject.
“Ada dua polisi yang menyamar menatap temanku dan aku selama 15 menit, ketika kami mabuk. Kami melihat kembali mereka setelah kami menyadari bahwa mereka adalah UC (undercover),” tulis @ez.rawr menggunakan bahasa Inggris.
Sekira beberapa menit kemudian, petugas kepolisian yang tengah menyamar itu disebut pergi meninggalkan dia dan temannya.
“Mereka pergi untuk menghentikan pasangan lain secara ACAK, tanpa alasan, dan membawa mereka keluar. (Sedangkan) lima dari mereka (polisi) mengawal,” ujar dia.
“Tidak akan pernah lagi. Merasa sangat tidak aman setelah mendengar cerita negatif tetapi meminta suap. Mengerikan. Tidak akan pernah kembali ke DWP dan saya akan pergi ke sebuah festival di Thailand sebagai gantinya,” tambahnya.
Setelah beredarnya kabar ini, Kompas.com menghubungi Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Ahmad Fuady pada Rabu (18/12/2024).
Hanya saja, ia menyarankan agar bertanya langsung kepada Polres Metro Jakarta Pusat.
Pasalnya, berlangsungnya Djakarta Warehouse Project 2024 masuk ke dalam wilayah hukum Polres Jakarta Pusat.
Sementara, pada hari yang sama, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menyarankan Kompas.com agar bertanya langsung kepada Polda Metro Jaya.
“Koordinasi (dengan) Ditresnarkoba Polda ya,” ujar Susatyo.
Kompas.com menghubungi Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Donald Parlaungan Simanjuntak.
Kendati demikian, hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum merespons.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/12/18/67624d6ac345d.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Bentrokan Maut Warga Vs Pekerja Proyek di Tanah Abang, Miskomunikasi yang Merenggut Nyawa Megapolitan 19 Desember 2024
Bentrokan Maut Warga Vs Pekerja Proyek di Tanah Abang, Miskomunikasi yang Merenggut Nyawa
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Bentrokan yang terjadi di Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menewaskan seorang operator excavator berusia 71 tahun, AS.
Kejadian ini berlangsung pada Selasa, 17 Desember 2024, ketika sekitar 30 warga menyerang lokasi proyek yang berada di tengah pemukiman mereka.
Kapolsek Tanah Abang, AKBP Aditya Simanggara Pratama, menjelaskan bahwa pihak kepolisian sedang menyelidiki lebih dalam mengenai penyebab kematian AS.
Dari pemeriksaan awal terhadap lima pekerja proyek dan lima warga yang menyaksikan kejadian tersebut, polisi menduga masalah ini berakar dari miskomunikasi antara pekerja proyek dengan warga sekitar.
“Dugaan awal dan berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi sampai dengan saat ini, itu diduga ada miskomunikasi antara warga sekitar kelurahan Kebon Kacang dengan para pekerja. Untuk pastinya masih kami dalami, sekarang sedang berproses,” ujar Aditya kepada Kompas.com, Kamis (19/12/2024).
Kapolsek juga menekankan bahwa bentrokan ini tidak berkaitan dengan permasalahan suku atau ras.
“Perlu kami luruskan, ini bukan bentrokan antara kelompok suku. Jadi, kemarin hari Selasa sekitar pukul 16.30 WIB, diduga ada 30 warga sekitar kelurahan Kebon Kacang itu mendatangi para pekerja yang sedang bekerja membersihkan lahan di salah satu milik PT, sedang melakukan
land clearing
,” tegasnya.
Belum diketahui apa motif bentrokan tersebut. Namun polisi memastikan bukan sengketa lahan yang menyebabkan bentrokan antara kedua kelompok.
Dari penyelidikan yang dilakukan, polisi meyakini bahwa masalah lahan ini bukan disebabkan oleh sengketa tanah.
Sebab status kepemilikan tanah sudah jelas dan tidak ada masalah terkait lahan tersebut.
“Kemudian, untuk pengerjaan di lahan ini sudah berjalan sejak tiga bulan yang lalu. Ini bukan lahan sengketa, statusnya jelas secara hukum jelas. Tidak ada masalah dengan lahan,” tambahnya.
Untuk mempercepat proses identifikasi, pihak kepolisian telah mengamankan rekaman CCTV di tiga titik sekitar tempat kejadian.
“Saat ini kami sudah mengamankan tiga titik CCTV, sedang kami dalami. Kemudian juga, kami sedang menambah titik-titik lain untuk mendapatkan CCTV-CCTV sehingga mendapatkan gambaran yang utuh terkait bentrokan kemarin,” lanjut Kapolsek.
Menurut keterangan dari saksi mata, Rianti (bukan nama sebenarnya), bentrokan ini dimulai pada siang hari, tepat setelah warga selesai menjalankan ibadah shalat dzuhur.
“Jam 12.00 WIB siang itu mulai ramai-ramai, ada yang berantem,” ungkap Rianti, yang sedang menjaga warung nasi di dekat lokasi kejadian.
Rianti menyatakan puluhan warga datang ke lahan proyek dengan membawa senjata tajam, seperti golok dan katana.
Keributan berlangsung selama beberapa jam hingga polisi tiba sekitar pukul 16.30 WIB.
“Banyak, tapi enggak kehitung berapa (yang datang), di atas 20 orang. Mereka datang bawa golok, panjang gitu kayak samurai,” ujarnya.
Dia juga menyebutkan bahwa warga datang secara tiba-tiba tanpa adanya adu mulut sebelumnya.
Warga menguasai lahan proyek dan bentrokan baru berakhir ketika polisi tiba.
Saat itu, AS ditemukan tersungkur dengan luka parah akibat sabetan senjata.
Sayangnya, AS meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pelni.
Setelah insiden tersebut, polisi segera melakukan patroli untuk mengantisipasi bentrokan susulan.
Rianti melaporkan bahwa pada pukul 20.00 WIB, anggota Brimob juga ikut melakukan patroli di lokasi hingga subuh keesokan harinya.
Penjagaan masih terus dilakukan pada hari Rabu sambil polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) lebih lanjut.
Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi yang baik antara pihak-pihak terkait untuk mencegah terjadinya konflik yang merugikan banyak orang.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2022/12/07/63907245cc058.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Penonton DWP Diduga Ditangkap dan Diperas Polisi, Penyelenggara: Di Luar Kendali Kami Megapolitan 19 Desember 2024
Penonton DWP Diduga Ditangkap dan Diperas Polisi, Penyelenggara: Di Luar Kendali Kami
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Ismaya Live melalui Instagram @djakartawarehouseproject akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi usai beredar kabar sejumlah penonton Djakarta Warehouse Project (
DWP 2024
) ditangkap dan diperas polisi.
Ismaya Live selaku penyelenggara mengaku sudah mendengar khawatiran sejumlah penonton selama menyaksikan DWP 2024.
“Meskipun beberapa aspek dari situasi ini berada di luar kendali langsung kami, kami sepenuhnya memahami dampaknya terhadap Anda,” tertulis pernyataan resmi yang diunggah akun Instagram Djakarta Warehouse Project, dikutip Kompas.com, Kamis (19/12/2024).
Oleh karena itu, penyelenggara memastikan akan bekerja sama secara kooperatif dengan pihak berwenang dan lembaga pemerintah terkait untuk menyelidiki tentang apa yang tengah terjadi.
Penyelenggara berkomitmen untuk mencegah insiden serupa agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang.
“Yang terpenting, kami berharap semua orang tetap aman selama berada di Indonesia. Dukungan, semangat, dan kepercayaan Anda sangat berharga dalam menjadikan DWP tahun ini sukses besar,” tulis pengumuman tersebut.
Penyelenggara juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh penggemar karena telah menjadi bagian dari keluarga besar DWP.
Dengan begitu, Ismaya Live berharap dapat menyambut kembali penggemar di Indonesia pada perhelatan lain waktu.
Di sisi lain, penyelenggara meminta penonton agar melaporkan yang mereka alami ke pihak kepolisian.
“Jika Anda memiliki informasi untuk dibagikan atau sesuatu untuk dilaporkan, kami menghimbau Anda untuk menghubungi Hotline Divisi Humas Polri (@divisihumaspolri) [(021) 72120599] agar aspirasi Anda dapat didengar, dan tindakan yang tepat dapat diambil,” pungkas dia.
Adapun beredar kabar sejumlah penonton DWP 2024 ditangkap dan diperas polisi.
Salah satu yang menggaungkan kabar ini adalah pemilik akun X @Twt_Rave dengan menyebar beberapa cuitan yang berisi pemboikotan terhadap DWP.
“DWP 2024. 400++ Malaysian di pau polisi Indonesia,” bentuk tulisan pada gambar yang diunggah @Twt_Rave.
“DWP 2024. RM 9 Juta duit pau terkumpul,” tulis pada gambar yang diunggah pada akun yang sama.
“DWP 2024. Checkout hotel pun polisi tunggu,” tulis pada gambar yang lain.
Akun tersebut menyebutkan, pengalaman serupa juga dialami oleh warga negara asal Singapura dan Thailand.
Pengalaman lain juga diceritakan pemilik akun Instagram @ez.rawr yang berkomentar pada salah satu unggahan Instagram @djakartawarehouseproject.
“Ada dua polisi yang menyamar menatap temanku dan aku selama 15 menit, ketika kami mabuk. Kami melihat kembali mereka setelah kami menyadari bahwa mereka adalah UC (undercover),” tulis @ez.rawr menggunakan bahasa Inggris.
Sekira beberapa menit kemudian, petugas kepolisian yang tengah menyamar itu disebut pergi meninggalkan dia dan temannya.
“Mereka pergi untuk menghentikan pasangan lain secara ACAK, tanpa alasan, dan membawa mereka keluar. (Sedangkan) lima dari mereka (polisi) mengawal,” ujar dia.
“Tidak akan pernah lagi. Merasa sangat tidak aman setelah mendengar cerita negatif tetapi meminta suap. Mengerikan. Tidak akan pernah kembali ke DWP dan saya akan pergi ke sebuah festival di Thailand sebagai gantinya,” tambahnya.
Setelah beredarnya kabar ini, Kompas.com menghubungi Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Ahmad Fuady pada Rabu (18/12/2024).
Hanya saja, ia menyarankan agar bertanya langsung kepada Polres Metro Jakarta Pusat.
Pasalnya, berlangsungnya Djakarta Warehouse Project 2024 masuk ke dalam wilayah hukum Polres Jakarta Pusat.
Sementara, pada hari yang sama, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menyarankan Kompas.com agar bertanya langsung kepada Polda Metro Jaya.
“Koordinasi (dengan) Ditresnarkoba Polda ya,” ujar Susatyo.
Kompas.com menghubungi Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Donald Parlaungan Simanjuntak.
Kendati demikian, hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum merespons.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2024/12/10/675810b28dd2a.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2024/12/18/676273ff29bf5.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)