Kebakaran Kapal Nelayan di Tegal Kembali Terjadi, Penyebab Masih Diselidiki
Tim Redaksi
TEGAL, KOMPAS.com
–
Kebakaran kapal
nelayan yang sedang bersandar kembali terjadi di Pelabuhan Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat (27/12/2024) sekitar pukul 03.00 WIB.
Penyebab kebakaran yang terjadi di kawasan pelabuhan milik PT Pelindo ini masih belum diketahui secara pasti.
Menurut informasi yang beredar, lebih dari satu kapal pencari ikan milik nelayan dilaporkan terbakar.
Salah satu saksi mata, Sugio (46), yang juga merupakan pengurus kapal, menjelaskan bahwa api pertama kali muncul dari salah satu kapal yang sedang bersandar.
“Embusan angin membuat kapal mudah terbakar hebat hingga merembet ke kapal lainnya,” ungkap Sugio.
Hingga Jumat (27/12/2024) sekitar pukul 09.30 WIB, petugas gabungan pemadam kebakaran, TNI-Polri, dan warga setempat masih terus berupaya memadamkan api.
Perlu dicatat,
kebakaran kapal
di pelabuhan Kota
Tegal
bukanlah yang pertama.
Sebelumnya, insiden serupa terjadi pada Agustus 2023, di mana sedikitnya 52 kapal milik nelayan dilaporkan hangus terbakar saat bersandar di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari atau Pelabuhan Jongor Kota Tegal.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Category: Kompas.com Metropolitan
-
/data/photo/2024/12/27/676e01365dd64.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kebakaran Kapal Nelayan di Tegal Kembali Terjadi, Penyebab Masih Diselidiki Regional 27 Desember 2024
-
/data/photo/2024/10/18/6711f5e6b294d.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Jadi Tersangka Pemerasan PPDS, Kaprodi dan Staf Keuangan Undip Masih Bertugas Regional 27 Desember 2024
Jadi Tersangka Pemerasan PPDS, Kaprodi dan Staf Keuangan Undip Masih Bertugas
Tim Redaksi
SEMARANG, KOMPAS.com
– Universitas Diponegoro (
Undip
) buka suara setelah Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah menetapkan tiga tersangka kasus pemerasan Program Pendidikan Dokter Spesialis (
PPDS
) Prodi Anestesi Undip.
Tiga tersangka yang ditetapkan adalah Kaprodi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Prodi Anestesi Universitas Diponegoro (Undip) Taufik Eko Nugroho, SM sebagai staf keuangan Undip dan Z sebagai dokter senior di program tersebut.
Kuasa Hukum Undip, Kairul Anwar, mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan bantuan hukum kepada ketiga tersangka itu.
“Dengan harapan mendapatkan keadilan berdasarkan kebenaran senyatanya bukan berdasarkan kepentingan pihak tertentu,” kata Kairul dalam keterangannya, Jumat (27/12/2024).
Saat ini, kata dia, ketiga tersangka masih bertugas di Undip. Kairul menyebut bahwa Undip berpegang pada prinsip praduga tak bersalah.
“Kita akan ikuti proses hukumnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto membenarkan bahwa sampai saat ini tiga tersangka PPDS Undip belum ditahan.
“Belum, karena pertimbangan penyidik. Nanti penyidik yang menjelaskan,” kata Artanto di Mapolda Jawa Tengah, Selasa (24/12/2024).
Namun, dia menegaskan bahwa penyidikan tersebut sudah berlangsung sesuai prosedur.
“(Ada kendala?) Pada prinsipnya enggak ada, semua berjalan secara normal,” tambah dia.
Adapun, tersangka dijerat dengan Pasal 368 ayat (1) KUHP tentang Tindak Pidana Pemerasan, dan atau Pasal 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan dan Pasal 355 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukumannya maksimal 9 tahun.
“(Barang bukti?) Total Rp 97.077.500, uang hasil semua rangkaian dari peristiwa tersebut,” ucap dia.
Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghentikan praktik PPDS Anestesia FK Undip di RSU Kariadi Semarang setelah meninggalnya dokter ARL.
Kemenkes juga menghentikan praktik klinis Dekan FK Undip Yan Wisnu Prajoko di RSUP Dr Kariadi.
FK Undip dan RSUP Dr Kariadi Semarang juga sudah mengakui adanya perundungan yang menimpa korban selama menempuh perkuliahan.
Kini, pihak keluarga korban telah mempolisikan sejumlah senior korban ke Polda Jateng. Laporan itu dilayangkan langsung oleh Nuzmatun Malinah, ibunda korban.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/12/26/676d54c44b3f9.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Harimau Sumatera Terekam Kamera di Lampung, Melintas di Depan Kandang Jebak Regional 27 Desember 2024
Harimau Sumatera Terekam Kamera di Lampung, Melintas di Depan Kandang Jebak
Tim Redaksi
LAMPUNG, KOMPAS.com
– Seekor
harimau sumatera
kembali terekam kamera di Kabupaten Pesisir Barat,
Lampung
. Satwa itu melintas di depan kandang jebak yang disiapkan pemerintah.
Dalam rilis Polres Pesisir Barat, satwa bernama latin
Panthera tigris sumatrae
itu terekam di daerah Pekon atau Desa Rawas, Kecamatan Pesisir Tengah.
Kapolres Pesisir Barat AKBP Alsyahendra mengatakan, harimau itu terekam pada Rabu (25/12/2024) sekitar pukul 17.05 WIB.
Lokasi berada tepat di depan kandang jebakan yang dipasang untuk menangkap satwa liar tersebut.
“Terekam kamera yang dipasang di depan kandang jebak,” kata Alsyahendra, Kamis (26/12/2024).
Berdasarkan tangkapan layar rekaman kamera, terlihat harimau itu berukuran cukup besar dengan perbandingan kandang jebak yang berada di sisi kanannya.
Alsyahendra mengatakan, pihaknya mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena lokasi itu dekat dengan area aktivitas warga.
“Kami terus mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati, terutama yang beraktivitas atau melintas di sekitar lokasi kejadian. Langkah ini penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, seekor harimau sumatera terekam sedang memangsa ternak sapi di Kabupaten Pesisir Barat. Diduga, harimau itu adalah satwa liar yang meresahkan warga dalam tiga pekan terakhir.
Dalam video rekaman CCTV yang diterima
Kompas.com
, terlihat harimau itu menyeret sapi berukuran sedang yang terbujur di rerumputan.
Pada video lain, terlihat sapi itu telah dimakan di bagian tengkuk yang hampir separuh habis.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/12/27/676e0f32e7959.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Awal Mula Berdirinya Kampung Dao di Ancol, "Surga" Kontrakan Rp 300 Ribuan Megapolitan 27 Desember 2024
Awal Mula Berdirinya Kampung Dao di Ancol, “Surga” Kontrakan Rp 300 Ribuan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Berdirinya
Kampung Dao
hingga akhirnya banyak menjajakan kontrakan Rp 300 ribuan di RT 13, RW 05, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, tentu saja tak berlangsung singkat.
Pemukiman penduduk yang berada persis di belakang Stasiun Kampung Bandan ini dibangun secara mandiri oleh masyarakat.
“Jadi, warga itu menamakan
Kampung DAO
, Kampung Baru, RT 13 RW 05. Ini kan merupakan desa mandiri yaitu desa yang dibangun sendiri,” ujar Ketua Blok Kampung Dao bernama Cipto (57) saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis (26/12/2024).
Cipto mengatakan, sampai saat ini, belum ada subsidi dari mana pun termasuk pemerintah untuk pembangunan kampung ini.
Selama ini, masyarakat di sana bergotong royong tenaga dan uang untuk membuat kampung tersebut lebih bagus dan layak huni.Bekas rawa
Kampung Dao sendiri berada di atas tanah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), di mana sebelumnya, bekas rawa.
“Kondisi tanah ini, itu tanah tidur sepertinya itu rawa, tidak ada yang menempatkan sama sekali,” terang Cipto.
Karena Jakarta adalah kota besar, kata Cipto, banyak perantau yang tertarik untuk datang.
Para perantau yang datang membutuhkan tempat tinggal. Maka mereka mulai tinggal di tanah bekas rawa tersebut.
“Masyarakat perlu tempat tinggal dan supaya tidak mengotorkan fasilitas umum dari pemerintah seperti stasiun atau kolong jembatan maka di sini lah kami tinggal,” ujar Cipto.
Saat ini, Kampung Dao sendiri terdiri dari tiga blok yakni B, C, dan D.
Masing-masing blok sendiri penduduk tetapnya sekitar 700 jiwa.
Namun, jumlah penghuni Kampung Dao bisa bertambah atau berkurang setiap harinya karena banyak warga yang mengontrak.
“Kalau penduduknya per blok kisaran 700 jiwa, cuma karena ada keluar masuk, kadang-kadang kan hari ini ada yang masuk mengontrak, besoknya keluar,” tambah dia.Sudah ada sejak 20 tahun lalu
Cipto mengaku tak terlalu ingat kapan Kampung Dao mulai banyak dibangun rumah-rumah semi permanen.
Sepengetahuannya, sudah sejak 20 tahun lalu, Kampung Dao dihuni.
“Kalau tahunnya kita tidak ingat, yang jelas sudah 20 tahun yang lalu kita itu sudah berdiri di sini,” ujar Cipto.
20 tahun silam, para warga yang ingin menempati Kampung Dao bebas mendirikan rumah sesuai kemampuannya.
Oleh sebab itu, kini ada warga yang memiliki lebih dari saru rumah di Kampung Dao.
Biasanya, warga yang memiliki lebih dari satu rumah, kini menyewakan rumahnya.
Kampung Dao sendiri dikenal sebagai surganya kontrakan murah.
Di kampung ini, masih banyak menjajakan kontrakan seharga Rp 350 ribuan.
Meski ukurannya hanya 2×3 meter, dindingnya triplek, dan tak ada kamar mandi di dalam, kontrakan ini banyak peminatnya.
Berada di kawasan padat penduduk, kontrakan seharga Rp 350 ribu ini menjadi penolong para perantau yang bekerja di Jakarta dan gajinya minim tetap memiliki tempat berlindung.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/08/11/66b8b76dd79f4.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Diduga Terpeleset, Lansia di Magelang Tewas Tercebur Sumur 15 Meter Regional 27 Desember 2024
Diduga Terpeleset, Lansia di Magelang Tewas Tercebur Sumur 15 Meter
Tim Redaksi
MAGELANG, KOMPAS.com
– Seorang warga lanjut usia (lansia) perempuan berinisial PN (70), ditemukan tewas setelah diduga terjatuh ke dalam sumur dengan kedalaman 15 meter di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten
Magelang
, Jawa Tengah, Jumat (27/12/2024).
Insiden tragis ini terjadi di Dusun Garon, Desa Mangunharjo, sekitar pukul 04.00 WIB.
Koordinator Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur, Basuki mengungkapkan, pihaknya menerima laporan mengenai kecelakaan tersebut pada pukul 04.15 WIB.
Menurut Basuki, PN terjatuh ke dalam sumur yang memiliki diameter 80 cm dan terletak di dalam rumahnya.
“Kemungkinan terpeleset,” ujarnya mengenai penyebab korban masuk ke dalam sumur.
Basuki menjelaskan, kondisi sumur tersebut berisi air, namun ia tidak dapat memastikan ketinggian air di dalamnya.
“Namun, petugas berhasil mengevakuasi tidak sampai menjejakkan kaki ke dasar sumur,” tambahnya.
Proses evakuasi PN berlangsung sekitar 30 menit. Namun sayangnya, korban dinyatakan meninggal dunia setelah pemeriksaan.
“Kesulitan kami sempitnya sumur. Apalagi, lokasinya di dalam rumah,” kata Basuki.
Diketahui bahwa PN tinggal bersama anak dan menantunya di rumah tersebut.
Insiden ini menjadi peringatan akan pentingnya kewaspadaan terhadap keselamatan di sekitar area sumur, terutama bagi lansia.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/12/26/676cab51dc003.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kerja Banting Tulang Jadi Porter, Ramin Tak Punya BPJS Kesehatan sebab Tidak Mampu Bayar Megapolitan 27 Desember 2024
Kerja Banting Tulang Jadi Porter, Ramin Tak Punya BPJS Kesehatan sebab Tidak Mampu Bayar
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Ramin (56),
porter di Stasiun Gambir
yang hampir 20 tahun menggeluti profesinya tak memiliki BPJS Kesehatan karena tidak mampu membayar iuran.
Padahal, sebagai porter, sehari-harinya Ramin mengandalkan fisik dan tenaga untuk bekerja.
“Enggak punya (BPJS Kesehatan),” ucap Ramin saat diwawancarai
Kompas.com
di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (24/12/2024).
Dulu, Ramin sempat memiliki BPJS kelas dua. Namun, karena tarif iuran per bulannya naik, ia tak mampu lagi membayar.
Ramin sempat mencoba mengurus keanggotaan BPJS Kesehatan miliknya agar bisa turun ke kelas tiga yang lebih murah.
Akan tetapi, pihak BPJS Kesehatan meminta Ramin untuk lebih dulu melunasi iurannya yang menunggak selama beberapa bulan.
“Nunggak BPJS Kesehatan sekitar Rp 4 juta lebih, saya enggak punya duit,” tambah Ramin.
Oleh karena tak mampu membayar tunggakan iuran, keanggotaan BPJS Kesehatan milik Ramin tidak lagi aktif dan tak bisa digunakan untuk berobat.
Jika sakit, Ramin memilih untuk pulang kampung ke Blora, Jawa Tengah, dan berobat di sana.
Ramin pun berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib porter di Stasiun Gambir, salah satunya dengan memberikan jaminan kesehatan.
“Harapannya, masalah kesehatan para porter diperhatikan. Terus kayak saya enggak punya BPJS mau aktifin susah banget, masa harus dilunasin semua,” ungkap dia.
Ramin juga berharap agar keanggotaan BPJS Kesehatan-nya bisa turun ke kelas tiga sesegera mungkin.
Apalagi, bekerja sebagai porter tidaklah mudah, harus mengandalkan tenaga dan fisik untuk mengais rezeki setiap harinya.
Adapun Ramin berprofesi sebagai porter di Stasiun Gambir selama 19 tahun, terhitung sejak tahun 2005. Pekerjaan Ramin sebagai porter membuat pendapatannya tak menentu.
Jika stasiun sedang ramai dan banyak penumpang yang memakai jasanya, Ramin bisa mendapatkan uang minimal Rp 150.000 sehari. Sementara, jika penumpang sepi, ia hanya membawa uang sekitar Rp 80.000.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2024/12/27/676e0f8723fd8.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2024/12/07/6754616b43777.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2024/03/21/65fbab7732136.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2024/12/27/676e1023de629.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)