Category: Kompas.com Metropolitan

  • Kebakaran Kapal Nelayan di Tegal Kembali Terjadi, Penyebab Masih Diselidiki
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        27 Desember 2024

    Kebakaran Kapal Nelayan di Tegal Kembali Terjadi, Penyebab Masih Diselidiki Regional 27 Desember 2024

    Kebakaran Kapal Nelayan di Tegal Kembali Terjadi, Penyebab Masih Diselidiki
    Tim Redaksi
    TEGAL, KOMPAS.com

    Kebakaran kapal
    nelayan yang sedang bersandar kembali terjadi di Pelabuhan Kota Tegal, Jawa Tengah, Jumat (27/12/2024) sekitar pukul 03.00 WIB.
    Penyebab kebakaran yang terjadi di kawasan pelabuhan milik PT Pelindo ini masih belum diketahui secara pasti.
    Menurut informasi yang beredar, lebih dari satu kapal pencari ikan milik nelayan dilaporkan terbakar.


    Salah satu saksi mata, Sugio (46), yang juga merupakan pengurus kapal, menjelaskan bahwa api pertama kali muncul dari salah satu kapal yang sedang bersandar.
    “Embusan angin membuat kapal mudah terbakar hebat hingga merembet ke kapal lainnya,” ungkap Sugio.
    Hingga Jumat (27/12/2024) sekitar pukul 09.30 WIB, petugas gabungan pemadam kebakaran, TNI-Polri, dan warga setempat masih terus berupaya memadamkan api.
    Perlu dicatat,
    kebakaran kapal
    di pelabuhan Kota
    Tegal
    bukanlah yang pertama.
    Sebelumnya, insiden serupa terjadi pada Agustus 2023, di mana sedikitnya 52 kapal milik nelayan dilaporkan hangus terbakar saat bersandar di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari atau Pelabuhan Jongor Kota Tegal.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Jadi Tersangka Pemerasan PPDS, Kaprodi dan Staf Keuangan Undip Masih Bertugas
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        27 Desember 2024

    Jadi Tersangka Pemerasan PPDS, Kaprodi dan Staf Keuangan Undip Masih Bertugas Regional 27 Desember 2024

    Jadi Tersangka Pemerasan PPDS, Kaprodi dan Staf Keuangan Undip Masih Bertugas
    Tim Redaksi
    SEMARANG, KOMPAS.com
    – Universitas Diponegoro (
    Undip
    ) buka suara setelah Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah menetapkan tiga tersangka kasus pemerasan Program Pendidikan Dokter Spesialis (
    PPDS
    ) Prodi Anestesi Undip.
    Tiga tersangka yang ditetapkan adalah Kaprodi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Prodi Anestesi Universitas Diponegoro (Undip) Taufik Eko Nugroho, SM sebagai staf keuangan Undip dan Z sebagai dokter senior di program tersebut.
    Kuasa Hukum Undip, Kairul Anwar, mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan bantuan hukum kepada ketiga tersangka itu.
    “Dengan harapan mendapatkan keadilan berdasarkan kebenaran senyatanya bukan berdasarkan kepentingan pihak tertentu,” kata Kairul dalam keterangannya, Jumat (27/12/2024).
     
    Saat ini, kata dia, ketiga tersangka masih bertugas di Undip. Kairul menyebut bahwa Undip berpegang pada prinsip praduga tak bersalah.
    “Kita akan ikuti proses hukumnya,” ujarnya.
     
    Sebelumnya, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto membenarkan bahwa sampai saat ini tiga tersangka PPDS Undip belum ditahan.
    “Belum, karena pertimbangan penyidik. Nanti penyidik yang menjelaskan,” kata Artanto di Mapolda Jawa Tengah, Selasa (24/12/2024).
    Namun, dia menegaskan bahwa penyidikan tersebut sudah berlangsung sesuai prosedur.
    “(Ada kendala?) Pada prinsipnya enggak ada, semua berjalan secara normal,” tambah dia.
    Adapun, tersangka dijerat dengan Pasal 368 ayat (1) KUHP tentang Tindak Pidana Pemerasan, dan atau Pasal 378 KUHP tentang tindak pidana penipuan dan Pasal 355 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukumannya maksimal 9 tahun.
    “(Barang bukti?) Total Rp 97.077.500, uang hasil semua rangkaian dari peristiwa tersebut,” ucap dia.
    Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghentikan praktik PPDS Anestesia FK Undip di RSU Kariadi Semarang setelah meninggalnya dokter ARL.
    Kemenkes juga menghentikan praktik klinis Dekan FK Undip Yan Wisnu Prajoko di RSUP Dr Kariadi.
    FK Undip dan RSUP Dr Kariadi Semarang juga sudah mengakui adanya perundungan yang menimpa korban selama menempuh perkuliahan.
    Kini, pihak keluarga korban telah mempolisikan sejumlah senior korban ke Polda Jateng. Laporan itu dilayangkan langsung oleh Nuzmatun Malinah, ibunda korban. 
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Cerita Calon PMI Asal Sumbawa Korban Penipuan, Tak Tahu Jalani Rekrutmen Ilegal 
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        27 Desember 2024

    Cerita Calon PMI Asal Sumbawa Korban Penipuan, Tak Tahu Jalani Rekrutmen Ilegal Megapolitan 27 Desember 2024

    Cerita Calon PMI Asal Sumbawa Korban Penipuan, Tak Tahu Jalani Rekrutmen Ilegal
    Tim Redaksi
    TANGERANG, KOMPAS.com
    – Salamah (42), calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) tak menyangka dirinya menjalani perekrutan ilegal untuk dipekerjakan sebagai PMI di luar negeri. 
    Dia baru menyadari ada yang tidak beres dalam proses perekrutan setelah tiba di tempat penampungan calon PMI di Kota Bogor, tempat dirinya bersama calon tenaga kerja lain dikumpulkan oleh “agen”. 
    “Saya sampai sini baru tahu kalau ini diurus secara ilegal. Negara tujuan kami katanya Abu Dhabi, Uni Emirat Arab,” ujar Salamah di
    shelter 
    PMI Tangerang, Jurumudi, Benda, Kota Tangerang, Jumat (27/12/2024).
    Salamah mengatakan, dirinya sempat bekerja secara resmi di Arab Saudi sekitar 20 tahun lalu. Pengalaman yang Salamah miliki membuat dia percaya bahwa proses kali ini serupa dengan yang dulu ia jalani.
    Perempuan paruh baya itu tak menaruh rasa curiga karena semua biaya, termasuk pembuatan paspor, ditanggung oleh agen.
    “Prosesnya lebih mudah sekarang, saya tidak mengeluarkan sepeser pun. Mereka menjanjikan gaji 1.200 dirham,” kata Salamah.
    Lebih lanjut, Salamah bercerita, perjalanannya menuju Bogor dimulai dari Sumbawa menggunakan travel menuju bandara. Ia lalu naik pesawat menuju Jakarta.
    Dari Jakarta, Salamah dijemput seseorang yang tidak ia kenal dan diantar ke sebuah apartemen di Kota Bogor. Di apartemen itulah, dia tinggal bersama delapan calon PMI lain selama seminggu. 
    “Harusnya lima orang dari kami terbang hari Selasa (24/12/2024), tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Kami hanya dibekali makan minum, tanpa uang sama sekali,” jelas dia.
    Cerita serupa juga disampaikan Tati (43), calon PMI asal Karawang yang tertipu proses perekrutan ilegal. Tati pernah bekerja di Yordania selama empat tahun.
    Dia menaruh rasa curiga sebab proses perekrutan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya dia jalani.
    “Kalau dulu, semua syarat lengkap, ada izin suami, KK, KTP, dan pelatihan satu bulan di PT. Tapi sekarang, saya hanya diminta dokumen tanpa tahu kelanjutannya,” kata Tati.
    Tati pun bingung ketika tiba-tiba dibawa ke apartemen, bukan ke kantor perusahaan tenaga kerja.
    Namun, Tati hanya bisa mengikuti arahan agen, hingga polisi datang dan mengungkap status ilegal proses rekrutmen calon PMI tersebut.
    “Saya tanya kapan terbang, katanya nanti malam, tapi enggak jelas jamnya. Paginya sarapan, eh tiba-tiba jam dua polisi datang,” kata dia.
    Salamah dan Tati sama-sama menyebut alasan ekonomi menjadi pendorong keduanya untuk mencari pekerjaan di luar negeri.
    “Saya mau kerja, bukan karena iming-iming agen. Saya enggak tahu kalau ini ilegal,” ucap Salamah.
    Sebelumnya diberitakan, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KPPMI) menggagalkan upaya pengiriman delapan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) ke Uni Emirat Arab (UEA) ilegal.
    Menteri PPMI, Abdul Kadir Karding menjelaskan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi mengenai penampungan CPMI di sebuah apartemen di Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (23/12/2024) pukul 20.30 WIB.
    Setelah menerima informasi tersebut, PPMI melakukan pemantauan Selasa (24/12/2024) dan menemukan indikasi adanya makelar atau calo.
    “Kami mengamankan terduga calo berinisial MZL alias ZL alias A dan melakukan wawancara singkat,” ujarnya.
    Dari hasil wawancara, diketahui terdapat delapan CPMI perempuan yang berasal dari Lampung, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat dengan rentang usia 37 hingga 50 tahun.
    Para CPMI tersebut dijanjikan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dengan gaji sebesar Rp 9 juta per bulan.
    “Modusnya nonprosedural. Mereka dijanjikan bisa berangkat kerja dan akan diberi uang Rp 9 juta, tapi kenyataannya hanya diberi Rp 2 juta,” jelas dia.
    Pengembangan kasus ini mengarah pada seorang wanita berinisial MK, yang diduga mengelola dokumen dan penampungan para CPMI. MK diamankan di Ranca Bungur, Bogor, pada Selasa (24/12/2024) malam.
    “Tim Reaksi Cepat KPPMI bergabung dengan Resmob Polres Bogor Kota melakukan pengejaran terhadap calo berinisial MK, dan sekitar pukul 21.15 WIB, MK berhasil diamankan guna proses hukum di Kepolisian,” tambah Abdul Kadir.
    Dari penangkapan ini, barang bukti yang ditemukan meliputi KTP, paspor, dan dokumen pendukung lainnya yang diduga akan digunakan untuk keberangkatan CPMI melalui Bandara Juanda, Surabaya.
    Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat Pasal 81 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp15 miliar.
    Selain itu, pelaku juga dikenakan Pasal 2 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Zona Merah Bencana, 2 Kampung di Cianjur Harus Direlokasi, Mana Saja?
                
                    
                        
                            Bandung
                        
                        27 Desember 2024

    Zona Merah Bencana, 2 Kampung di Cianjur Harus Direlokasi, Mana Saja? Bandung 27 Desember 2024

    Zona Merah Bencana, 2 Kampung di Cianjur Harus Direlokasi, Mana Saja?
    Tim Redaksi
    CIANJUR, KOMPAS.com
    – Dua kampung di Kabupaten
    Cianjur
    , Jawa Barat, harus direlokasi berdasarkan hasil kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
    Kedua kampung yang dimaksud yakni Kampung Cilengsir di Desa Wargasari dan Kampung Gunungwaru di Desa Sukaraja, Kecamatan Kadupandak.
    Kedua kampung tersebut mengalami kerusakan akibat longsor dan pergeseran tanah.
    Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Cianjur, Nurzein, menjelaskan bahwa kedua kampung tersebut telah ditetapkan sebagai
    zona merah bencana
    , sehingga warganya harus direlokasi ke lokasi yang lebih aman.
    “Baru satu kecamatan yang hasil kajiannya telah selesai. Pemerintah daerah masih menunggu hasil kajian untuk wilayah lain yang juga terdampak bencana,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (24/12/2024) petang.
    Nurzein menyebutkan, kondisi wilayah berupa perbukitan bergelombang menjadi salah satu faktor risiko bencana, terutama di area lereng dengan kemiringan curam.


    KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN Ilustrasi papan peringatan ancaman bencana tsunami yang dipasang di pesisir pantai. Lokasi Desa Sidaurip yang yang di zona megathrust selatan Jawa Tengah membuatnya rentan dengan risiko bencana tsunami.

    Saat ini, pendataan warga terdampak di kedua kampung tersebut sedang berlangsung agar mereka dapat segera beraktivitas di lokasi baru yang lebih aman.
    “Pemerintah telah menyiapkan tempat relokasi yang lebih aman bagi warga dari kedua wilayah tersebut,” ujar Nurzein.
    Nurzein menambahkan, terus berkoordinasi dengan BNPB agar bantuan stimulan untuk perbaikan rumah dapat segera disalurkan kepada warga yang menjadi korban bencana.
    “Rencananya, bantuan stimulan dari BNPB akan diberikan dengan rincian Rp 60 juta untuk rumah dengan kerusakan berat, Rp 30 juta untuk kerusakan sedang, dan Rp 15 juta untuk kerusakan ringan,” ungkapnya.
    Sebelumnya diberitakan, bencana banjir, pergeseran tanah, longsor, dan jalan ambles melanda wilayah selatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu (4/12/2024).
    Ratusan rumah terendam banjir dan rusak akibat longsor serta pergeseran tanah, dan beberapa titik ruas jalan lumpuh total akibat ambles dan tertimbun material longsor.
    Berdasarkan data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, bencana melanda di 27 titik yang tersebar di 17 wilayah kecamatan, di antaranya Kadupandak, Cijati, Tanggeung, Agrabinta, Sindangbarang, dan Leles.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Harimau Sumatera Terekam Kamera di Lampung, Melintas di Depan Kandang Jebak
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        27 Desember 2024

    Harimau Sumatera Terekam Kamera di Lampung, Melintas di Depan Kandang Jebak Regional 27 Desember 2024

    Harimau Sumatera Terekam Kamera di Lampung, Melintas di Depan Kandang Jebak
    Tim Redaksi
    LAMPUNG, KOMPAS.com
    – Seekor
    harimau sumatera
    kembali terekam kamera di Kabupaten Pesisir Barat,
    Lampung
    . Satwa itu melintas di depan kandang jebak yang disiapkan pemerintah.
    Dalam rilis Polres Pesisir Barat, satwa bernama latin
    Panthera tigris sumatrae
    itu terekam di daerah Pekon atau Desa Rawas, Kecamatan Pesisir Tengah.
    Kapolres Pesisir Barat AKBP Alsyahendra mengatakan, harimau itu terekam pada Rabu (25/12/2024) sekitar pukul 17.05 WIB.
    Lokasi berada tepat di depan kandang jebakan yang dipasang untuk menangkap satwa liar tersebut.
    “Terekam kamera yang dipasang di depan kandang jebak,” kata Alsyahendra, Kamis (26/12/2024).
    Berdasarkan tangkapan layar rekaman kamera, terlihat harimau itu berukuran cukup besar dengan perbandingan kandang jebak yang berada di sisi kanannya.
    Alsyahendra mengatakan, pihaknya mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena lokasi itu dekat dengan area aktivitas warga.
    “Kami terus mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati, terutama yang beraktivitas atau melintas di sekitar lokasi kejadian. Langkah ini penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
    Diberitakan sebelumnya, seekor harimau sumatera terekam sedang memangsa ternak sapi di Kabupaten Pesisir Barat. Diduga, harimau itu adalah satwa liar yang meresahkan warga dalam tiga pekan terakhir.
    Dalam video rekaman CCTV yang diterima
    Kompas.com
    , terlihat harimau itu menyeret sapi berukuran sedang yang terbujur di rerumputan.
    Pada video lain, terlihat sapi itu telah dimakan di bagian tengkuk yang hampir separuh habis.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Awal Mula Berdirinya Kampung Dao di Ancol, "Surga" Kontrakan Rp 300 Ribuan
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        27 Desember 2024

    Awal Mula Berdirinya Kampung Dao di Ancol, "Surga" Kontrakan Rp 300 Ribuan Megapolitan 27 Desember 2024

    Awal Mula Berdirinya Kampung Dao di Ancol, “Surga” Kontrakan Rp 300 Ribuan
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Berdirinya
    Kampung Dao
    hingga akhirnya banyak menjajakan kontrakan Rp 300 ribuan di RT 13, RW 05, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, tentu saja tak berlangsung singkat.
    Pemukiman penduduk yang berada persis di belakang Stasiun Kampung Bandan ini dibangun secara mandiri oleh masyarakat.
    “Jadi, warga itu menamakan
    Kampung DAO
    , Kampung Baru, RT 13 RW 05. Ini kan merupakan desa mandiri yaitu desa yang dibangun sendiri,” ujar Ketua Blok Kampung Dao bernama Cipto (57) saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis (26/12/2024).
    Cipto mengatakan, sampai saat ini, belum ada subsidi dari mana pun termasuk pemerintah untuk pembangunan kampung ini.
    Selama ini, masyarakat di sana bergotong royong tenaga dan uang untuk membuat kampung tersebut lebih bagus dan layak huni.

    Bekas rawa
    Kampung Dao sendiri berada di atas tanah milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), di mana sebelumnya, bekas rawa.
    “Kondisi tanah ini, itu tanah tidur sepertinya itu rawa, tidak ada yang menempatkan sama sekali,” terang Cipto.
    Karena Jakarta adalah kota besar, kata Cipto, banyak perantau yang tertarik untuk datang.
    Para perantau yang datang membutuhkan tempat tinggal. Maka mereka mulai tinggal di tanah bekas rawa tersebut.
    “Masyarakat perlu tempat tinggal dan supaya tidak mengotorkan fasilitas umum dari pemerintah seperti stasiun atau kolong jembatan maka di sini lah kami tinggal,” ujar Cipto.
    Saat ini, Kampung Dao sendiri terdiri dari tiga blok yakni B, C, dan D.
    Masing-masing blok sendiri penduduk tetapnya sekitar 700 jiwa.
    Namun, jumlah penghuni Kampung Dao bisa bertambah atau berkurang setiap harinya karena banyak warga yang mengontrak.
    “Kalau penduduknya per blok kisaran 700 jiwa, cuma karena ada keluar masuk, kadang-kadang kan hari ini ada yang masuk mengontrak, besoknya keluar,” tambah dia.

    Sudah ada sejak 20 tahun lalu
    Cipto mengaku tak terlalu ingat kapan Kampung Dao mulai banyak dibangun rumah-rumah semi permanen.
    Sepengetahuannya, sudah sejak 20 tahun lalu, Kampung Dao dihuni.
    “Kalau tahunnya kita tidak ingat, yang jelas sudah 20 tahun yang lalu kita itu sudah berdiri di sini,” ujar Cipto.
    20 tahun silam, para warga yang ingin menempati Kampung Dao bebas mendirikan rumah sesuai kemampuannya.
    Oleh sebab itu, kini ada warga yang memiliki lebih dari saru rumah di Kampung Dao.
    Biasanya, warga yang memiliki lebih dari satu rumah, kini menyewakan rumahnya.
    Kampung Dao sendiri dikenal sebagai surganya kontrakan murah.
    Di kampung ini, masih banyak menjajakan kontrakan seharga Rp 350 ribuan.
    Meski ukurannya hanya 2×3 meter, dindingnya triplek, dan tak ada kamar mandi di dalam, kontrakan ini banyak peminatnya.
    Berada di kawasan padat penduduk, kontrakan seharga Rp 350 ribu ini menjadi penolong para perantau yang bekerja di Jakarta dan gajinya minim tetap memiliki tempat berlindung.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 3 Kuliner Legendaris di Karawang, Cocok untuk Wisata Nataru
                
                    
                        
                            Bandung
                        
                        27 Desember 2024

    3 Kuliner Legendaris di Karawang, Cocok untuk Wisata Nataru Bandung 27 Desember 2024

    3 Kuliner Legendaris di Karawang, Cocok untuk Wisata Nataru
    Tim Redaksi
    KARAWANG, KOMPAS.com
    – Karawang, yang dikenal sebagai kota lumbung padi dan pusat industri, juga memiliki beragam
    kuliner legendaris
    yang patut dicoba.
    Dengan datangnya musim libur Natal dan Tahun Baru 2025, kuliner-kuliner ini menjadi pilihan menarik bagi para wisatawan.
    Soto Gempol merupakan salah satu makanan legendaris dari Karawang.
    Meskipun tampilannya mirip dengan soto Betawi, Soto Gempol memiliki cita rasa yang berbeda.
    Kuah santan kental dan rempah-rempah khas nusantara membuatnya sangat nikmat. Daging sapi yang digunakan pun empuk.
    Pemilik Soto Gempol, Nurlela menjelaskan, resep Soto Gempol ini telah diwariskan secara konsisten dari neneknya, Siti Khotijah, yang memulai usaha sejak 1965.
    Saat itu, Soto Gempol hanya berupa warung kecil di Kampung Gempol. Namun, usaha ini baru mulai stabil pada tahun 1970.
    Makanan ini sekilas mirip soto Betawi dengan bumbu kuningnya, terbuat dari urat kaki sapi dan bumbu rempah khas.
    Rasanya gurih dan sedikit manis. Bagi pecinta pedas, sambal dapat menambah kenikmatannya.
    Warung-warung penjual Soto Tangkar dapat ditemukan di Jalan Dewi Sartika, Karawang Barat, di mana terdapat tiga warung yang menjualnya.
    Devi Purwanti (31), salah satu penjual Soto Tangkar, mengisahkan bahwa nama “Tangkar” berasal dari kebiasaan orang-orang yang makan dengan mengangkat satu kaki ke kursi.
    Sekitar tahun 1980, orangtua Devi mulai berjualan tangkar dengan cara berkeliling menggunakan gerobak sebelum akhirnya menetap.
    Bagi Anda yang ingin bernostalgia dengan masakan tradisional,
    Lebak Hejo
    adalah tempat yang tepat.
    Tengku Poppy Utami, pemilik Lebak Hejo, mengaku jatuh cinta pada masakan tradisional sejak kecil.
    Berangkat dari kerinduan tersebut, ia bertekad untuk menghadirkan kuliner-kuliner yang banyak ditinggalkan.
    Beberapa menu yang ditawarkan antara lain tumis bunga harendong, tumis buah jambu monyet, tumis bunga lengkuas, dan bubur hanjali, dengan bahan-bahan yang diambil dari pekarangan.
    Lebak Hejo mengusung konsep tradisional dengan area makan yang terbuka, layaknya tamasya.
    Dengan beragam pilihan kuliner legendaris ini, Karawang siap menyambut wisatawan yang ingin menikmati cita rasa khas daerah selama libur
    Nataru
    .
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Foto Diduga Surat Anggaran Perayaan Tahun Baru Ormas di Bekasi Viral, Nominal Rp 44 Juta
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        27 Desember 2024

    Foto Diduga Surat Anggaran Perayaan Tahun Baru Ormas di Bekasi Viral, Nominal Rp 44 Juta Megapolitan 27 Desember 2024

    Foto Diduga Surat Anggaran Perayaan Tahun Baru Ormas di Bekasi Viral, Nominal Rp 44 Juta
    Tim Redaksi
    BEKASI, KOMPAS.com
    – Sebuah foto diduga surat yang memuat alokasi anggaran perayaan malam tahun baru salah satu organisasi masyarakat (ormas) di Kota Bekasi viral di media sosial.
    Dalam foto surat yang diunggah akun Instagram @presiden_netizen_official menunjukkan, alokasi anggaran tersebut bersumber dari rencana kegiatan ormas di tingkat pimpinan anak cabang (PAC) Bekasi Selatan.
    Di bagian kop surat, tertera nama ormas, berikut alamat kesekretariatannya. 
    “Rencana anggaran kegiatan malam tahun baru 2024/2025,” demikian bunyi kalimat dalam foto tersebut, dikutip
    Kompas.com
    , Jumat (27/12/2024).
    Unggahan tersebut menunjukkan, besaran alokasi anggaran ormas untuk merayakan malam tahun baru mencapai Rp 44 juta.
    Jumlah itu merupakan akumulasi dari sejumlah keperluan, di antaranya pembuatan proposal Rp 2 juta, pembuatan amplop Rp 1,5 juta, sewa tenda dan kursi Rp 3,5 juta, dan dokomentasi Rp 1,5 juta.
    Kemudian, logistik dan pembelian 200 nasi kotak masing-masing sebesar Rp 5 juta, tarian anak-anak dan
    live
    dangdut Rp 15 juta, serta biaya tak terduga Rp 2 juta.
    Merespons beredarnya surat yang kini viral di media sosial itu, Kapolsek Bekasi Selatan Kompol Untung Ruswaji mengaku belum mendapat laporan masyarakat terkait pungutan liar (pungli) dari ormas tersebut. 
    “Tidak ada laporan dari masyarakat ataupun warga, ataupun pengusaha,” kata Untung melalui pesan singkat.
    Untung meminta masyarakat melapor apabila terdapat ormas yang melakukan pungli atas nama kegiatan perayaan malam tahun baru.
    “Kami mengantisipasi kepada warga pengusaha ataupun tentang beredarnya surat-surat tersebut, ya kalau memang itu abaikan dan laporkan kepada pihak kepolisian,” imbuh dia.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Diduga Terpeleset, Lansia di Magelang Tewas Tercebur Sumur 15 Meter
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        27 Desember 2024

    Diduga Terpeleset, Lansia di Magelang Tewas Tercebur Sumur 15 Meter Regional 27 Desember 2024

    Diduga Terpeleset, Lansia di Magelang Tewas Tercebur Sumur 15 Meter
    Tim Redaksi
    MAGELANG, KOMPAS.com
    – Seorang warga lanjut usia (lansia) perempuan berinisial PN (70), ditemukan tewas setelah diduga terjatuh ke dalam sumur dengan kedalaman 15 meter di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten
    Magelang
    , Jawa Tengah, Jumat (27/12/2024).
    Insiden tragis ini terjadi di Dusun Garon, Desa Mangunharjo, sekitar pukul 04.00 WIB.
    Koordinator Basarnas Unit Siaga SAR Borobudur, Basuki mengungkapkan, pihaknya menerima laporan mengenai kecelakaan tersebut pada pukul 04.15 WIB.
    Menurut Basuki, PN terjatuh ke dalam sumur yang memiliki diameter 80 cm dan terletak di dalam rumahnya.
    “Kemungkinan terpeleset,” ujarnya mengenai penyebab korban masuk ke dalam sumur.
    Basuki menjelaskan, kondisi sumur tersebut berisi air, namun ia tidak dapat memastikan ketinggian air di dalamnya.
    “Namun, petugas berhasil mengevakuasi tidak sampai menjejakkan kaki ke dasar sumur,” tambahnya.
    Proses evakuasi PN berlangsung sekitar 30 menit. Namun sayangnya, korban dinyatakan meninggal dunia setelah pemeriksaan.
    “Kesulitan kami sempitnya sumur. Apalagi, lokasinya di dalam rumah,” kata Basuki.
    Diketahui bahwa PN tinggal bersama anak dan menantunya di rumah tersebut.
    Insiden ini menjadi peringatan akan pentingnya kewaspadaan terhadap keselamatan di sekitar area sumur, terutama bagi lansia.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kerja Banting Tulang Jadi Porter, Ramin Tak Punya BPJS Kesehatan sebab Tidak Mampu Bayar
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        27 Desember 2024

    Kerja Banting Tulang Jadi Porter, Ramin Tak Punya BPJS Kesehatan sebab Tidak Mampu Bayar Megapolitan 27 Desember 2024

    Kerja Banting Tulang Jadi Porter, Ramin Tak Punya BPJS Kesehatan sebab Tidak Mampu Bayar
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ramin (56),
    porter di Stasiun Gambir
    yang hampir 20 tahun menggeluti profesinya tak memiliki BPJS Kesehatan karena tidak mampu membayar iuran.
    Padahal, sebagai porter, sehari-harinya Ramin mengandalkan fisik dan tenaga untuk bekerja.
    “Enggak punya (BPJS Kesehatan),” ucap Ramin saat diwawancarai
    Kompas.com
    di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (24/12/2024).
    Dulu, Ramin sempat memiliki BPJS kelas dua. Namun, karena tarif iuran per bulannya naik, ia tak mampu lagi membayar.
    Ramin sempat mencoba mengurus keanggotaan BPJS Kesehatan miliknya agar bisa turun ke kelas tiga yang lebih murah.
    Akan tetapi, pihak BPJS Kesehatan meminta Ramin untuk lebih dulu melunasi iurannya yang menunggak selama beberapa bulan.
    “Nunggak BPJS Kesehatan sekitar Rp 4 juta lebih, saya enggak punya duit,” tambah Ramin.
    Oleh karena tak mampu membayar tunggakan iuran, keanggotaan BPJS Kesehatan milik Ramin tidak lagi aktif dan tak bisa digunakan untuk berobat.
    Jika sakit, Ramin memilih untuk pulang kampung ke Blora, Jawa Tengah, dan berobat di sana.
    Ramin pun berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib porter di Stasiun Gambir, salah satunya dengan memberikan jaminan kesehatan.
    “Harapannya, masalah kesehatan para porter diperhatikan. Terus kayak saya enggak punya BPJS mau aktifin susah banget, masa harus dilunasin semua,” ungkap dia.
    Ramin juga berharap agar keanggotaan BPJS Kesehatan-nya bisa turun ke kelas tiga sesegera mungkin.
    Apalagi, bekerja sebagai porter tidaklah mudah, harus mengandalkan tenaga dan fisik untuk mengais rezeki setiap harinya.
    Adapun Ramin berprofesi sebagai porter di Stasiun Gambir selama 19 tahun, terhitung sejak tahun 2005. Pekerjaan Ramin sebagai porter membuat pendapatannya tak menentu.
    Jika stasiun sedang ramai dan banyak penumpang yang memakai jasanya, Ramin bisa mendapatkan uang minimal Rp 150.000 sehari. Sementara, jika penumpang sepi, ia hanya membawa uang sekitar Rp 80.000.
    Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.