Ia menyinggung kemungkinan adanya candaan yang menyentuh aspek fisik seseorang.
Baginya, jika itu terjadi dan dilakukan tanpa kehati-hatian, perlu ada refleksi diri.
“Niat seandainya dalam konten-konten yang ada, ada kata-kata yang menghina secara fisik nih. Secara fisik dan ini adalah ciptaan Allah. Maka, kita luruskan niat kita,” ucapnya.
Ustaz Fakhrurrazi menegaskan, jika candaan tersebut semata-mata untuk hiburan dan tanpa niat edukatif, maka sikap terbaik adalah meminta maaf dan bertobat.
“Kalau itu hanya untuk lucu-lucuan, kita minta maaf dan kita bertobat pada Allah. Minta ampun aja sama Allah. Beristighfar, astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Kenapa? Karena khawatir itu akan dipertanyakan di akhirat,” jelasnya.
Meski begitu, ia menilai situasinya akan berbeda jika tidak ada unsur kesengajaan untuk menghina.
“Nah, tapi kalau niatnya untuk memberikan fakta dan tidak ada kesengajaan menghina, itu lain cerita,” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tidak ada salahnya meminta maaf secara terbuka jika memang terdapat kekeliruan.
“Tapi kalau ada niat (menghina), maka tidak apa-apa secara gentleman meminta maaf dan tidak mengulanginya lagi,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Ustaz Fakhrurrazi memberikan apresiasi terhadap Mens Rea yang menurutnya menyuguhkan banyak fakta penting dengan balutan humor yang segar.
“Kemudian yang terakhir, saya ingin mengapresiasi acara Mens Rea ini luar biasa. Banyak fakta-fakta yang terungkap dengan jokes-jokes yang renyah,” tandasnya.
Ia berharap polemik ini tidak memperlebar jurang perpecahan di tengah masyarakat, serta mengajak semua pihak saling memahami peran masing-masing.









