Category: Detik.com Tekno

  • Case Unik Ini Ubah iPhone Lightning Jadi USB-C

    Case Unik Ini Ubah iPhone Lightning Jadi USB-C

    Jakarta

    Kamu punya iPhone yang masih pakai port Lightning tapi berharap bisa diganti ke USB-C yang lebih universal? Case iPhone baru ini bisa jadi solusinya.

    Case ini merupakan hasil eksperimen Ken Pillonel, engineer yang mengalahkan Apple dengan menciptakan iPhone pertama dengan USB-C pada tahun 2021.

    Dalam video di channel YouTube-nya, Pillonel mengatakan proyek ini bertujuan untuk melawan ‘planned obsolescence’ sehingga pemilik iPhone lawas yang masih menggunakan port Lightning tidak perlu membeli perangkat baru untuk menggunakan USB-C.

    Case bernama ‘iPh0n3 – USB-C Protection Case’ ini dapat dibeli lewat website OBSOLESS dengan harga USD 45-USD 55. Case ini mendukung sebagian besar iPhone mulai dari iPhone SE series, iPhone XS series, iPhone 11 series, iPhone 12 series, iPhone 13, series, iPhone 14 series, dan lain-lain.

    Pillonel mengatakan case ini mendukung fitur-fitur seperti pengisian wireless MagSafe, transfer data ke komputer, CarPlay, dan pengisian cepat 9V. Namun untuk aksesoris yang membutuhkan daya dari iPhone seperti perangkat audio dengan kabel, penyimpanan eksternal, atau display tidak didukung.

    “Saya dapat menjamin fitur-fitur berikut: Pengisian daya cepat, transfer data ke komputer, dan CarPlay. Sayangnya, fitur lainnya tidak didukung secara resmi dan Anda harus melepas case untuk menggunakannya,” kata Pillonel, seperti dikutip dari The Verge, Kamis (24/7/2025).

    “Ini karena Apple telah mengunci adaptor untuk ponsel Lightning, sehingga mereka bisa mendapatkan komisi dari semua adaptor yang dijual,” sambungnya.

    Case ini juga dilengkapi slot ekstra untuk menyimpan kartu SIM yang praktis untuk bepergian ke luar negeri, dan gantungan lanyard. Case ini tersedia dalam warna abu-abu gelap dan pilihan warna lainnya akan tersedia pada bulan September.

    Pillonel sebelumnya pernah memodifikasi produk Apple berbasis Lightning agar bisa memiliki port USB-C, termasuk AirPods dan AirPods Max. Sama seperti case AirPods yang diluncurkan Pillonel tahun lalu, case iPhone baru ini dirancang agar pengguna tidak harus repot membawa kabel atau adaptor tambahan

    (vmp/vmp)

  • NVIDIA Siap Bantu Lintasarta Akselerasi Startup Terpilih di Semesta AI

    NVIDIA Siap Bantu Lintasarta Akselerasi Startup Terpilih di Semesta AI

    Jakarta

    Lintasarta resmi meluncurkan Semesta AI, yaitu sebuah program akselerasi untuk mendukung startup lokal yang mengembangkan solusi berbasis AI. NVIDIA pun menyatakan siap membantu Lintasarta mengembangkan startup AI yang terpilih dalam program ini.

    Enterprise Business Country Manager NVIDIA, Andry Gunawan mengatakan program ini diinisiasi dua tahun lalu. Saat itu salah satu profesor NVIDIA datang ke Jakarta dan membahas program ini bersama Lintasarta.

    Untuk mendukung startup di program Semesta AI, NVIDIA pun siap memberikan edukasi dengan menghadirkan satu orang yang fokus dalam edukasi startup.

    “Bagi yang sudah pernah coba masuk ke dalam pembentukan institutnya NVIDIA. Untuk developer, apa manfaatnya? Agar bisa dapetin hitsheet, script-script apa yang baru,” ungkap Andry saat Kick Off Semesta AI 2025, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

    Menurut Andry, NVIDIA juga siap memberikan infrastruktur yang mendukung startup yang tergabung di Semesta AI. Salah satunya yaitu dengan masuk ke dalam portal ai.nvidia.com yang menyediakan banyak sekali use case.

    Andy mengatakan menurut NVIDIA, startup adalah aset dan rekan kerja, sehingga ketika mereka membutuhkan bantuan, NVIDIA siap dikontak untuk memberikan bantuan.

    “Jika menggunakan Cloudeka sebagai cloud-nya Lintasarta, maka juga ada dukungan NVIDIA 24 jam. Jadi kalau ada kendala, performance problem, silahkan untuk direct report,” imbuhnya.

    Sementara itu, President Director & CEO Lintasarta, Bayu Hanantasena mengatakan sejak pertama kali diperkenalkan tahun lalu pada peluncuran AI Merdeka, Semesta AI telah menarik lebih dari 150 startup dan ISV dari berbagai wilayah di Indonesia.

    “Dari jumlah tersebut, 20 peserta terbaik akan terpilih untuk melangkah ke fase utama program Semesta AI,” ujar Bayu.

    Bermitra dengan NVIDIA, Bayu mengatakan program akan memberikan akses kolaborasi dengan lebih dari 2.300 pelanggan Lintasarta yang diharapkan dapat membantu mempercepat akselerasi startup ke market.

    Program ini menjadi bagian dari NVIDIA Inception Program dan didesain untuk memberikan dampak nyata bagi industri nasional.

    “Program ini akan menawarkan sejumlah dampak strategis, yang pertama pendampingan 1-on-1 dari para profesional, kemudian proyek percontohan atau piloting untuk startup, akses ke infrastruktur AI Lintasarta powered by NVIDIA melalui voucher GPU Merdeka hingga US$ 15.000,” ungkap Bayu.

    Bayu pun berharap program ini tidak hanya menjadi program akselerasi saja, tetapi juga menjadi komitmen ekosistem dan masa depan AI yang berdaulat, inklusif dan berdampak nyata bagi Indonesia.

    Sebagai informasi, Semesta AI menjadi salah satu program yang ada di dalam ekosistem AI Merdeka yang diluncurkan tahun lalu. AI Merdeka memiliki 3 pilar yaitu Laskar AI, AI Use Case dan Semesta AI yang baru diluncurkan.

    (prf/ega)

  • Tentang Jet Tempur F-16 yang Dikerahkan Thailand Serbu Kamboja

    Tentang Jet Tempur F-16 yang Dikerahkan Thailand Serbu Kamboja

    Jakarta

    Sejumlah jet tempur F-16 dikerahkan oleh militer Thailand setelah negara tetangganya, Kamboja, menembakkan roket ke area perbatasan yang menjadi sengketa hingga melukai sejumlah warga sipil. Jet-jet tempur Thailand itu menyerang dua target militer di wilayah Kamboja.

    Wakil juru bicara militer Thailand, Ritcha Suksuwanon, seperti dilansir AFP, Kamis (24/7/2025), mengatakan setidaknya enam jet tempur F-16 dikerahkan dari Provinsi Ubon Ratchathani untuk menyerang dua “target militer Kamboja di darat”. “Kami menggunakan kekuatan udara terhadap target-target militer sesuai rencana,” sebutnya.

    Serangan udara melibatkan jet tempur F-16 ini dilancarkan Thailand saat bentrokan terbaru pecah di area perbatasan kedua negara yang menjadi sengketa sejak lama. Dalam bentrokan terbaru itu, tentara-tentara Thailand dan Kamboja terlibat aksi saling tembak.

    F-16 buatan Lockheed Martin adalah salah satu andalan Angkatan Udara Thailand. Dalam inventarisnya, tercatat bahwa militer Thailand memiliki 28 unit jet tempur multi peran yang laris manis itu.

    Serba serbi F-16

    F-16 Fighting Falcon adalah pesawat tempur multiperan bermesin tunggal yang diproduksi di Amerika Serikat. Pesawat berkursi tunggal ini awalnya dikembangkan oleh General Dynamics untuk Angkatan Udara AS dan diproduksi oleh Lockheed Martin sejak tahun 1993.

    Awalnya, F-16 dirancang hanya sebagai pesawat tempur ringan, namun permintaan yang tinggi mendorong pengembangan teknologi lebih lanjut, membuatnya menjadi pesawat tempur multiperan segala cuaca. Sejak dimulainya produksi pada tahun 1976, lebih dari 4.570 unit telah diproduksi dan menjadi salah satu jet terlaris.

    Ketika F-16 mulai beroperasi pada tahun 1978, pesawat ini memperkenalkan beberapa inovasi teknis, termasuk kanopi tanpa penyangga untuk meningkatkan visibilitas ke segala arah, tongkat kendali yang dipasang di samping untuk pengoperasian lebih mudah, kursi pilot yang dapat dimiringkan 30° untuk meningkatkan penyerapan gaya gravitasi, dan sistem fly by wire.

    Semua langkah ini bertujuan memberikan F-16 tingkat manuverabilitas yang tinggi. Karena itu, F-16 Fighting Falcon dianggap sebagai salah satu pesawat tempur paling lincah bermanuver. Bahkan hingga saat ini, jet tempur ini secara teknis masih canggih berkat pembaruan berkelanjutan dan masih dianggap tolok ukur bagi pesawat militer modern.

    Dikutip detikINET dari Air Power, kesuksesan ekspor F-16 yang luar biasa, membuat pesawat ini masih digunakan oleh banyak negara. Pada awal 2014, masih terdapat 2.281 unit F-16 beroperasi, yang merupakan sekitar 15% dari seluruh jet tempur aktif di seluruh dunia, menjadikannya pesawat yang paling banyak digunakan.

    (fyk/fyk)

  • Transfer Data WNI ke AS Disorot, Pakar: Langkah Sensitif, Risiko Tinggi

    Transfer Data WNI ke AS Disorot, Pakar: Langkah Sensitif, Risiko Tinggi

    Jakarta

    Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang menyertakan klausul transfer data pribadi warga negara Indonesia ke luar negeri menuai sorotan tajam. Ardi Sutedja, Ketua Umum Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), menyebut langkah ini sangat sensitif dan berisiko tinggi bagi kedaulatan digital nasional.

    “Kami kaget saja, surprise. Kalau pertukaran data lintas batas dijadikan bagian dari negosiasi perdagangan, itu nggak pernah kebayang,” kata Ardi saat ditemui usai peluncuran Where’s The Fraud Hub yang digelar Vida di Kembang Goela, Jakarta Selatan, Kamis (24/7/2026).

    Menurut Ardi, keputusan ini diambil tanpa konsultasi yang memadai dengan komunitas keamanan siber maupun Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Padahal, isu transfer data lintas batas sangat sensitif karena menyangkut kepercayaan publik terhadap pemerintah.

    Menurut Ardi, keputusan ini diambil tanpa konsultasi yang memadai dengan komunitas keamanan siber maupun Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Padahal, isu transfer data lintas batas sangat sensitif karena menyangkut kepercayaan publik terhadap pemerintah.

    “Proses harmonisasi lambat, insiden seperti PDNS justru menggerus kepercayaan publik,” ujarnya.

    Ardi melanjutkan pada Pasal 56 UU PDP sebenarnya memperbolehkan transfer data ke luar negeri, tapi dengan syarat negara tujuan memiliki tingkat perlindungan yang setara. Di sinilah letak masalah besar karena AS tidak memiliki undang-undang perlindungan data pribadi di tingkat federal.

    “Yang ada cuma regulasi sektoral per industri atau negara bagian. Jadi siapa yang bisa jamin data kita aman di sana?” ucapnya.

    Ancaman Kebocoran hingga Manipulasi Publik

    Ardi memperingatkan risiko kebocoran data selama proses transfer, yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan komersial atau politik. Ia menyinggung kembali kasus Cambridge Analytica sebagai bukti bagaimana data dapat dipakai untuk merekayasa opini publik.

    “Data preferensi, kebiasaan belanja, hingga orientasi politik bisa dimanfaatkan untuk manipulasi algoritma,” tambahnya.

    Lebih jauh, kebijakan ini dinilai bisa melemahkan ekosistem digital lokal. Jika data bisa langsung diproses di luar negeri, insentif bagi perusahaan asing untuk membangun pusat data di Indonesia akan berkurang.

    Ardi Sutedja, Ketua Umum Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

    “Kalau semua diproses di AS, untuk apa mereka investasi di sini? Lapangan kerja bisa hilang, industri lokal jadi lesu,” katanya.

    Ardi juga memperingatkan efek domino: jika AS mendapat perlakuan khusus, negara lain mungkin akan menuntut hal serupa. Ini berpotensi membuat kebijakan lokalisasi data Indonesia goyah.

    Dengan kondisi ini, Ardi menilai pembentukan Otoritas Perlindungan Data Pribadi (PDP) menjadi semakin mendesak. Lembaga ini harus independen, punya fungsi pengawasan kuat, dan kemampuan intelijen digital.

    “Kalau tidak ada pengawasan strategis, kita hanya jadi pasar data global tanpa kendali,” tegasnya.

    Ardi mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi penyalahgunaan data pribadi. Ia juga mengajak pemerintah, termasuk Presiden Prabowo, untuk mempertimbangkan ulang dampak jangka panjang kesepakatan dagang ini.

    “Data adalah aset strategis, seperti sumber daya alam. Jangan dikorbankan demi kepentingan jangka pendek,” pungkasnya.

    (afr/afr)

  • Trump Minta Data Warga RI Ditransfer ke AS, Ini Kata Prabowo

    Trump Minta Data Warga RI Ditransfer ke AS, Ini Kata Prabowo

    Jakarta

    Presiden Prabowo Subianto buka suara soal transfer data pribadi RI ke Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu poin kesepakatan negosiasi. Prabowo mengatakan negosiasi antara pemerintah RI dan AS masih terus berjalan.

    “Ya nanti itu sedang di… negosiasi berjalan terus,” kata Prabowo seusai acara Harlah PKB di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (23/7/2025).

    Sebelumnya, Gedung Putih–kediaman dan gedung kerja Presiden AS–merilis pernyataan yang mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Indonesia telah mencapai kesepakatan mengenai kerangka kerja perjanjian perdagangan.

    “Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan perdagangan penting dengan Indonesia, yang akan memberikan Amerika akses pasar di Indonesia yang sebelumnya dianggap mustahil, dan membuka terobosan besar bagi sektor manufaktur, pertanian, dan digital Amerika,” demikian pernyataan Gedung Putih di situs resminya yang dirilis pada Selasa (22/7) waktu setempat.

    Berdasarkan kesepakatan ini, Indonesia akan membayar tarif resiprokal sebesar 19% kepada Amerika Serikat. Gedung Putih menyebutkan persyaratan utama kesepakatan perdagangan AS-Indonesia akan mencakup sejumlah poin, salah satunya tentang Menghapus Hambatan Perdagangan Digital, yang di dalamnya mencakup tentang poin bahwa data pribadi bisa ditransfer ke AS.

    “Amerika Serikat dan Indonesia akan menyelesaikan komitmen terkait perdagangan, jasa, dan investasi digital. Indonesia telah berkomitmen menghapus batas tarif HTS (Sistem Tarif Terharmonisasi AS) terhadap ‘barang tak berwujud’ dan menunda persyaratan terkait deklarasi impor, mendukung moratorium permanen bea masuk atas transmisi elektronik di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) segera dan tanpa syarat; dan mengambil tindakan efektif untuk mengimplementasikan Inisiatif Bersama tentang Regulasi Domestik Jasa, termasuk mengajukan Komitmen Khusus yang telah direvisi untuk sertifikasi oleh WTO,” kata Gedung Putih.

    “Indonesia akan memberikan kepastian terkait kemampuan untuk memindahkan data pribadi dari wilayahnya ke Amerika Serikat melalui pengakuan Amerika Serikat sebagai negara atau yurisdiksi yang menyediakan perlindungan data yang memadai berdasarkan hukum Indonesia,” ujar Gedung Putih.

    (fca/fyk)

  • Akselerasi Startup Lokal Berbasis AI, Lintasarta Luncurkan Semesta AI

    Akselerasi Startup Lokal Berbasis AI, Lintasarta Luncurkan Semesta AI

    Jakarta

    Lintasarta resmi meluncurkan Semesta AI, yaitu sebuah program akselerasi untuk mendukung startup lokal yang mengembangkan solusi berbasis AI. Peluncuran Semesta AI menjadi tonggak penting transformasi Lintasarta sebagai AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) Group.

    President Director & CEO Lintasarta Bayu Hanantasena mengatakan program ini menjadi bagian dari NVIDIA Inception Program dan didesain untuk memberikan dampak nyata bagi industri nasional.

    Program ini akan menawarkan jumlah dampak strategis, yang pertama pendampingan one-on-one dari para profesional, kemudian proyek percontohan atau piloting untuk startup, akses ke AI infrastructure NVIDIA melalui voucher GPU Merdeka hingga US$ 15.000,” kata Bayu dalam peluncuran Semesta AI, Kamis (24/7/2025).

    Tak hanya itu, Semesta AI juga memberikan akses kolaborasi dengan lebih dari 2.300 pelanggan Lintasarta yang berada di jaringan yang diharapkan dapat membantu mempercepat akselerasi startup ke market.

    Keberadaan Semesta AI pun mendapatkan sambutan yang cukup baik dari startup yang ada di Indonesia. Bayu mengungkapkan sejak pertama kali diluncurkan tahun lalu pada acara peluncuran AI Merdeka, Semesta AI telah menarik lebih dari 150 startup dan ISV dari berbagai wilayah di Indonesia.

    “Dari jumlah tersebut, 20 peserta terbaik akan terpilih untuk melangkah ke fase utama program Semesta AI,” ujarnya.

    Bayu pun berharap program ini tidak hanya menjadi program akselerasi saja, tetapi juga menjadi komitmen ekosistem dan masa depan AI yang berdaulat, inklusif dan berdampak nyata bagi Indonesia.

    Sebagai informasi, Semesta AI menjadi salah satu program yang ada di dalam ekosistem AI Merdeka yang diluncurkan tahun lalu. AI Merdeka memiliki 3 pilar yaitu Laskar AI, AI Use Case dan Semesta AI yang baru diluncurkan.

    (anl/ega)

  • Apa Sih Bedanya Smartwatch dan Smartband? Ini Penjelasannya

    Apa Sih Bedanya Smartwatch dan Smartband? Ini Penjelasannya

    Jakarta

    Pengguna yang ingin memonitor kesehatannya menggunakan perangkat wearable biasanya dihadapkan dengan dua pilihan yaitu smartwatch dan smartband. Tapi apa sih perbedaan antara dua perangkat ini?

    Penjelasan sederhananya, smartwatch adalah ekstensi dari ponsel. Selain memonitor kesehatan, smartwatch juga bisa dipakai menerima panggilan telepon, membalas pesan, membuka peta, dan lain-lain.

    Sementara itu, smartband adalah fitness tracker yang dibubuhi sejumlah fitur pintar. Tentu saja fitur pintar yang ditawarkan smartband tidak selengkap fitur smartwatch.

    5 Perbedaan Smarwatch dan Smartband

    Berikut ini lima hal yang membedakan smartwatch dan smartband, seperti dikutip dari Slashgear, Kamis (24/7/2025).

    Desain

    Smartwatch dan smartband sama-sama dikenakan di pergelangan tangan, tapi smartwatch biasanya memiliki dimensi lebih besar seperti jam tangan pada umumnya. Di sisi lain smartband memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dan ringan, mirip seperti gelang dengan layar kecil.

    Display

    Smartwatch memiliki layar yang lebih besar untuk menampilkan informasi yang rinci seperti notifikasi, SMS, antarmuka aplikasi, dan widget. Produsen smartwatch biasanya menyediakan variasi ukuran layar, seperti Samsung Galaxy Watch 8 yang tersedia dalam ukuran 40mm dan 44mm.

    Smartband memiliki layar berbentuk kapsul atau persegi panjang yang tidak lebih lebar dibandingkan strap-nya. Layarnya sudah menggunakan layar sentuh, dan beberapa merek seperti Xiaomi Band 10, sudah memiliki tingkat kecerahan tinggi sehingga bisa dilihat jelas di bawah sinar matahari yang terik.

    Fitur

    Baik smartwatch dan smartband sama-sama bisa memonitor langkah, detak jantung, tidur, dan aktivitas fisik lainnya. Tapi, smartwatch zaman sekarang memiliki fitur yang lebih canggih seperti sensor EKG, antioksidan, komposisi tubuh, dan lain-lain. Berkat layar yang lebih besar, smartwatch juga bisa memudahkan pengguna membalas pesan dan melihat rute berlari di pergelangan tangannya.

    Meskipun demikian, bukan berarti smartband tidak patut dilirik. Bagi pengguna yang membutuhkan fitness tracker tanpa gangguan yang tidak diinginkan sekaligus mengurangi screen time, smartband bisa menjadi pilihan.

    Daya tahan baterai

    Karena memiliki layar yang lebih besar dan fitur yang lebih kaya, tidak mengherankan jika daya tahan baterai smartwatch lebih singkat dibandingkan smartband. Smartwatch biasanya dapat digunakan hingga 2-3 hari dalam sekali pengisian.

    Di sisi lain, smartband bisa bertahan hingga belasan dan puluhan hari dalam sekali pengisian daya. Pengguna jadi tidak perlu khawatir kalau sudah berhari-hari lupa mengecas smartband-nya.

    Harga

    Karena memiliki spesifikasi yang lebih tinggi dan lebih banyak fitur, smartwatch biasanya dibanderol dengan harga lebih tinggi. Smartwatch populer dari Samsung, Huawei, dan Xiaomi harganya mencapai jutaan rupiah.

    Sementara itu, smartband tersedia dengan harga yang lebih terjangkau, mulai dari ratusan ribu rupiah. Jika kalian mencari teman olahraga dan budget yang terbatas, smartband bisa menjadi pilihan.

    (vmp/vmp)

  • Pertama Kalinya, Samsung Galaxy Z Fold7 Lebih Laris Ketimbang Flip7

    Pertama Kalinya, Samsung Galaxy Z Fold7 Lebih Laris Ketimbang Flip7

    Jakarta

    Galaxy Z Flip series biasanya jadi ponsel layar lipat Samsung yang paling populer dibandingkan model Fold. Namun, sepertinya tren itu berubah di untuk Galaxy Z Fold7 dan Galaxy Z Flip7.

    Menurut laporan FNN News, Galaxy Z Fold7 lebih banyak dipesan lewat pre-order di Korea Selatan dibandingkan Galaxy Z Flip7. Ini pertama kalinya Galaxy Z Fold lebih laris dibandingkan model Flip sejak lini ponsel layar lipat Samsung debut pada tahun 2019.

    Lebih spesifiknya, FNN melaporkan bahwa Fold7 menyumbangkan 60% dari total pre-order di Korea Selatan, sedangkan Flip7 menyumbangkan 40%. Padahal harga Galaxy Z Fold7 di Korea naik hampir 150.000 Won atau sekitar Rp 1,7 juta dibandingkan generasi sebelumnya.

    Sebagai perbandingan, Galaxy Z Flip6 tahun lalu menyumbangkan 60% dari seluruh pre-order di Korea, dibandingkan 40% yang disumbangkan Fold6. Sementara itu, Galaxy Z Flip5 mendominasi 70% dari seluruh pre-order, dibandingkan 30% untuk Fold5.

    Secara total, Samsung menerima lebih dari 1,04 juta pre-order untuk Galaxy Z Fold7 dan Galaxy Z Flip7 di Korea. Periode pre-order Galaxy Z Fold7 dan Flip7 di Korea akan berakhir pada 28 Juli, jadi kemungkinan totalnya bisa bertambah.

    Angka ini sedikit lebih tinggi dari 1,02 juta pre-order yang diterima untuk Galaxy Z Fold5 dan Flip5 di negara asalnya. Kenaikannya cukup signifikan dibandingkan Galaxy Z Fold6 dan Flip6 yang total pre-ordernya mencapai 0,91 juta, seperti dikutip dari SamMobile, Rabu (23/7/2025).

    Tingginya minat konsumen terhadap Galaxy Z Fold7 tidak mengagetkan. Galaxy Z Fold7 merupakan ponsel layar lipat model buku paling tipis dan ringan saat ini dengan ketebalan 4,2mm saat dibuka dan bobot 215 gram.

    Ukuran layar eksternal dan utamanya lebih besar, bahkan layar utamanya bisa dibuka tutup hingga 500.000 kali yang setara dengan penggunaan normal selama 10 tahun atau penggunaan berat selama enam tahun.

    Samsung menggunakan panel ultra thin glass (UTG) yang lebih tebal, pelat titanium, engsel baru, dan perekat yang lebih elastis untuk membuat layar Galaxy Z Fold7 2,5 kali lebih tahan lama dibandingkan generasi sebelumnya.

    (vmp/vmp)

  • Transfer Data Pribadi RI ke AS, Komisi I DPR Ingatkan Pemerintah Ada UU PDP

    Transfer Data Pribadi RI ke AS, Komisi I DPR Ingatkan Pemerintah Ada UU PDP

    Jakarta

    Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menanggapi soal transfer data pribadi yang disebut menjadi salah satu poin tertera dalam kesepakatan dagang antara Republik Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Dave menegaskan setiap kesepakatan dengan negara mana pun harus sesuai dengan UU Perlindungan Data Pribadi (PDP).

    “Yang harus diingat, kita memiliki UU Perlindungan Data Pribadi. Jadi kesepakatan yang dibuat dengan negara mana pun harus sesuai dengan undang-undang yang kita miliki,” kata Dave di gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

    Dave memang belum membaca secara detail terkait pertukaran data pribadi ini. Sejauh ini dirinya masih menunggu penjelasan teknis terkait hal ini dari pemerintah.

    “Saya masih nunggu penegasan dari pemerintah teknisnya sejauh mana. Tetapi undang-undang itu yang harus dijalankan dan ditegakkan,” sebutnya.

    Dave kembali menegaskan Undang-Undang PDP disusun untuk memastikan pemerintah memiliki standar tinggi dalam perlindungan data pribadi. Menurutnya, semua kebijakan pemerintah harus berlandaskan undang-undang.

    “Ya itulah makanya ada gunanya Undang-Undang PDP untuk memastikan pemerintah memiliki otoritas yang khusus dan standardisasi yang tinggi dalam perlindungan data pribadi,” sebutnya.

    Sebelumnya, Kepala PCO Hasan Nasbi menanggapi soal salah satu poin kesepakatan dagang RI dengan Amerika Serikat (AS), yakni transfer data pribadi RI ke AS. Hasan menegaskan pemindahan data pribadi RI ke AS hanya untuk kepentingan komersial, bukan pengelolaan data.

    “Ini semacam strategi treatment management. Jadi kalau barang tertentu itu dipertukarkan misalnya bahan kimia, itu kan bisa jadi pupuk ataupun bom. Gliserol sawit itu kan juga bisa jadi bahan bermanfaat ataupun jadi bom. Pertukaran barang seperti ini butuh namanya pertukaran data supaya tidak jadi hal-hal yang di belakang nanti jadi produk yang membahayakan,” kata Hasan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/7).

    “Jadi tujuan ini adalah semua komersial, bukan untuk data kita dikelola oleh orang lain, dan bukan juga kita kelola data orang lain. Kira kira seperti itu,” lanjutnya.

    Hasan menegaskan pemerintah RI sudah punya aturan terkait perlindungan data pribadi. Dia pun mengaku telah berkoordinasi dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai satu poin kesepakatan dagang ini.

    “Kita sudah ada perlindungan data pribadi, dan perlindungan data pribadi ini dipegang oleh pemerintahan kita. Soal pengelolaan data kita lakukan masing-masing. Saya sudah koordinasi sama Pak Menko yang jadi leader dari negosiasi ini,” kata dia.

    (ial/fyk)

  • Minggir! Sosok Ini Geser Elon Musk Jadi ‘Anak Emas’ Donald Trump

    Minggir! Sosok Ini Geser Elon Musk Jadi ‘Anak Emas’ Donald Trump

    Jakarta

    Jensen Huang CEO Nvidia, menggeser Elon Musk jadi ‘anak emas’ dari Presiden AS Donald Trump. Dia dianggap kuat dalam merevolusi kecerdasan buatan (AI).

    Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, nampak kedekatan erat antara Musk dan Trump. Akan tetapi, Huang dianggap memiliki peran politik baru, menurut Dan Ives Managing Director and Senior Equity Research Analyst.

    “Dia berada di posisi yang sangat kuat untuk menavigasi lanskap politik … (karena) hanya ada satu chip di dunia yang mendorong revolusi AI, dan itu adalah Nvidia,” kata Ives.

    Pandangan tentang pengaruh politik Huang semakin kuat, karena Nvidia pekan lalu mengumumkan dalam kunjungan terbaru CEO-nya ke Beijing bahwa mereka berharap untuk segera melanjutkan penjualan chip AI H20 ke China.

    Melansir CNBC, ekspor chip H20 ke China telah dibatasi awal tahun ini. Ini adalah hal yang secara terbuka ditentang oleh Huang.

    “Ini merupakan kemenangan bersejarah bagi Nvidia dan Jensen … dan saya pikir ini menunjukkan semakin besarnya pengaruh politik Huang dalam pemerintahan Trump,” ungkap Ives. Huang pun telah bertemu dengan Trump di Washington D.C. tepat sebelum kunjungannya ke China.

    Pembatalan pembatasan H20 telah dikaitkan dengan negosiasi perdagangan antara AS dan China. Namun, beberapa pakar mengatakan kepada CNBC bahwa lobi Huang memainkan peran besar di dalamnya.

    CEO Nvidia tersebut telah bertemu dengan Trump berkali-kali tahun ini, termasuk bergabung dengannya dalam perjalanan ke Timur Tengah pada bulan Mei, yang menghasilkan kesepakatan AI besar-besaran yang akan mengirimkan ratusan ribu chip AI canggih Nvidia ke Uni Emirat Arab.

    Kesepakatan dengan Emirat telah dipandang sebagai cara bagi Amerika untuk mendorong kepemimpinan teknologi globalnya, memperkuat jajaran teknologinya di pasar baru, di tengah persaingan potensial seperti Huawei dari Tiongkok.

    Setelah perjalanan tersebut, Huang semakin gencar menyuarakan keberatannya terhadap pembatasan chip AS, dengan alasan bahwa pembatasan tersebut akan mengikis kepemimpinan teknologi Amerika demi keuntungan pemain domestik Tiongkok.

    Menurut laporan dari New York Times, narasi ini juga disebarkan Huang kepada Trump dan para pejabatnya di balik layar.

    Sebelum Huang, banyak yang beranggapan bahwa Musk adalah ‘anak emas’ Trump. Bukan rahasia bahwa Musk memegang peranan penting dalam memenangkan Trump dalam pemilihan umum.

    Tak cuma dengan donasi besar-besaran untuk kampanye, bos SpaceX itu juga menjadikan platform media sosial yang ia beli (X) menjadi alat propaganda.

    Saking dekatnya dengan Trump, saham Tesla milih Musk juga sempat terbang tinggi. Tak main-main, Musk pun sempat menjadi kepala Lembaga Efisiensi Pemerintahan AS (DOGE), sebelum akhirnya mengklaim berhasil menyentuh tujuannya dan mundur.

    Menurut CNBC Indonesia, kedekatan Trump dan Musk tak bertahan lama. Musk mengkritik kebijakan anggaran baru Trump pasca ia meninggalkan DOGE untuk fokus mengurus bisnisnya yang kian terpuruk.

    Sampai akhirnya, Musk seakan mengumumkan ‘perang’ terbuka antara Trump. Musk sampai-sampai menciptakan partai politik baru yang akan melawan Republik.

    (ask/ask)