Category: Detik.com Tekno

  • Wamen Ekraf Sebut Perlunya Persiapkan Laskar AI

    Wamen Ekraf Sebut Perlunya Persiapkan Laskar AI

    Jakarta

    Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di segala bidang adalah sebuah keniscayaan. AI bisa dibentuk untuk kemajuan, khususnya dalam memecahkan masalah mendasar dan menciptakan dampak positif.

    Hal ini disampaikan Irene Umar, Wakil Menteri Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf). Ia menyebutkan, di era digital yang berkembang pesat, semua negara harus bergerak maju.

    “We need to move. Dan untungnya dengan danya AI dan teknologi yang ada, dan dengan adanya kalian (talenta) semua, ada pembinaan, negara ini bisa maju dengan cepat,” ujarnya saat memberikan sambutan di acara ‘Kick Off Program Semesta AI’ di Gedung Arcadia, Menara Thamrin, Jakarta, Kamis (24/2025).

    Untuk bisa berjalan cepat, lanjutnya, maka perlu dipersiapkan sumber daya dan talenta di bidang ini. Irene menyebutnya ‘laskar AI’. “Karena tanpa talenta, AI tidak ada apa-apanya. Laskar-laskarnya dulu kita persiapkan,” sebut Irene.

    Irene Umar, Wakil Menteri Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf). Foto: Rachmatunisa

    Disebutkan Irene, apa yang dilakukan Lintasarta, berkolaborasi dengan NVIDIA meluncurkan program Semesta AI, adalah salah satu dari upaya tersebut.

    “Laskarnya disiapkan dulu, prajuritnya kita siapkan dulu. Let’s create a universe where all of us sit down and say ‘let’s solve this problems,” kata Irene.

    President Director dan CEO Lintasarta Bayu Hanantasena menyebutkan, Lintasarta, sebagai AI Factory di bawah naungan Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH), secara resmi meluncurkan program Semesta AI.

    Program ini adalah sebuah inisiatif akselerasi startup berbasis AI yang menjadi langkah konkret Lintasarta dalam memperkuat ekosistem AI nasional Indonesia. Semesta AI merupakan bagian dari gerakan AI Merdeka yang dijalankan Lintasarta bekerja sama dengan NVIDIA melalui program Inception-nya untuk startup.

    President Director dan CEO Lintasarta Bayu Hanantasena. Foto: Rachmatunisa

    Sebagai satu-satunya NVIDIA Cloud Partner (NCP) di Indonesia, peluncuran Semesta AI menjadi kelanjutan strategis dari komitmen Lintasarta dalam mendorong kemandirian teknologi nasional, khususnya melalui pemberdayaan startup dan pengembangan solusi AI lokal yang siap digunakan secara nyata.

    “Kami memiliki tujuan mulia memberdayakan Indonesia untuk mempercepat pencapaian potensi digital bangsa. Dan hari ini, Bersama kita mulai Langkah penting berikutnya,” kata Bayu.

    “Tentunya kami harapkan ini bukan sekadar program akselerasi tapi menjadi komitmen kita bersama untuk membangun ekosistem AI, masa depan AI yang berdaulat, inklusif, dan berdampak nyata untuk Indonesia,” harapnya.

    (rns/rns)

  • Wamen Ekraf Soroti Peran Talenta Muda Ciptakan Solusi Nyata Manfaatkan AI

    Wamen Ekraf Soroti Peran Talenta Muda Ciptakan Solusi Nyata Manfaatkan AI

    Jakarta

    Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan di era digital yang serba cepat, Indonesia butuh lebih dari sekadar bonus demografi. Diperlukan laskar-laskar AI, yakni talenta muda yang mampu menciptakan solusi nyata lewat teknologi AI.

    “Kita tidak punya banyak waktu. Di era digital sekarang, kita harus bergerak sangat cepat. Untungnya, dengan adanya AI dan kalian semua di sini, negara ini bisa maju dengan sangat cepat,” kata Irene dalam keynote speech-nya di acara Kick Off Semesta AI 2025 Lintasarta di Gedung Arcadia, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

    Berbicara di depan puluhan startup peserta Semesta AI, Irene menyoroti pentingnya pembangunan talenta sebagai elemen kunci ekosistem AI nasional. Ia menyebut, tanpa talenta, teknologi secanggih apa pun tidak akan memberi dampak signifikan.

    “Apa yang perlu kita siapkan sekarang? Laskarnya dulu. Karena tanpa talenta, AI tidak ada apa-apanya,” tegasnya.

    Di tengah kekhawatiran banyak orang bahwa AI akan menggantikan manusia, Irene justru menyatakan sebaliknya. Menurutnya, AI tak akan pernah mampu menggantikan manusia Indonesia yang memiliki hati dan kreativitas luar biasa.

    “AI itu garbage in, garbage out. Tapi, manusia punya hati. Indonesia punya sumber kreativitas yang luar biasa. Dengan itu, kita punya kuasa untuk membentuk arah AI ke depan,” ujar Irene.

    Semesta AI Foto: dok. Angga Laraspati/detikcom

    Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa generasi muda Indonesia bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan agen perubahan yang punya peran penting dalam mewujudkan AI yang berdampak.

    “Kita enggak cuma punya bonus demografi, tapi ada bonus laskar AI. Kalau kita infuse dengan AI, kita bisa punya satu miliar sumber daya produktif tergantung seberapa cepat kita menyelesaikan masalah,” jelasnya.

    Dalam pesannya kepada para startup yang telah mengembangkan solusi AI, Irene mengingatkan agar mereka tidak terjebak dalam jargon teknis atau pitch yang terlalu muluk. Ia mendorong startup untuk menciptakan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah nyata.

    “Jangan bikin solusi buat masalah yang enggak ada. Jangan pitch pakai istilah besar yang orang awam tidak paham. Fokus ke dampak. Ciptakan produk yang menyelesaikan masalah,” katanya.

    Menurutnya, ekonomi kreatif menjadi mesin pertumbuhan baru karena tak lekang waktu. Oleh karena itu, peran startup dan inovator AI sangat dibutuhkan untuk mempercepat transformasi digital Indonesia.

    “Impact kalian dibutuhkan dunia, sekecil apa pun menurut kalian itu. Kadang kita tidak sadar kalau kita sendiri adalah dampaknya,” pungkasnya.

    (prf/ega)

  • Komdigi Gaet XLSmart, Mau Cetak Perempuan yang Ahli AI Nih

    Komdigi Gaet XLSmart, Mau Cetak Perempuan yang Ahli AI Nih

    Jakarta

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggaet XLSmart untuk melahirkan satu juta talenta yang ahli di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menariknya dalam kolaborasi ini keduanya sepakat untuk mendorong peran perempuan di bidang teknologi.

    XLSmart mempunyai program pemberdayaan perempuan dalam bidang digital, yaitu sisternet. Sedangkan, di sisi lain Komdigi tengah mengejar kebutuhan talenta digital sebanyak 12 juta orang hingga 2030.

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan bahwa pemerintah menargetkan pelatihan dan pemberdayaan 2,4 juta orang pada tahun 2025. Secara bersamaan, pemerintah terus melakukan kolaborasi dengan berbagai industri lokal dan global guna mencapai kekurangan kebutuhan talenta digital di Tanah Air.

    “Kali ini ada tambahan komponen untuk pengembangan talenta digital, khususnya bagi perempuan. XLSmart memperkuat program Sisternet dengan inisiatif kolaboratif antara Komdigi dan Sisternet. Ini menjadi penting, kita harapkan dengan misi yang jelas, mengamplifikasi generasi digital dengan lebih dari 1,2 juta perempuan di Indonesia,” ujar Meutya di acara Forum XLSmart for Business, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

    Meutya menjelaskan dalam melahirkan lebih dari satu juta perempuan berkeahlian di bidang AI itu dilakukan melalui modul pembelajaran, forum komunitas, dan edukasi terkait ruang digital. Menurut Menkomdigi, program Sisternet yang digalakkan oleh XLSmart mendukung kaum Hawa memiliki peran penting di bidang teknologi.

    Disampaikannya dalam waktu dekat, seluruh akses modul dan aktivitas telah terintegrasi penuh dengan Sistem Manajemen Pembelajaran dari Kementerian Komdigi.

    “Inisiatif ini menjadi penting karena kami amat percaya ketika perempuan diberdayakan secara digital, keluarga dan masyarakat menjadi lebih tangguh terutama di tengah berkembangnya akal limitasi dan derasnya arus informasi,” ujar Meutya.

    Pada kesempatan yang sama, Direktur & Chief Enterprise and Strategic Relationship XLSmart, Andrijanto Muljono mengatakan, peran perempuan belum muncul di era teknologi saat ini. Untuk itu, kolaborasi yang dilakukan XLSmart dengan Komdigi tersebut guna mendorong keterlibatan perempuan, khususnya dapat menguasai bidang AI.

    “XLSmart sendiri sudah memiliki program Sisternet dan memang (dengan Komdigi) punya tujuan yang sama untuk meningkatkan literasi digital bagi perempuan. Nah, jadi sekarang kita berkolaborasi dengan Komdigi untuk menaikkan kelasnya literasi digital terkait AI, pengembangan talenta digital berbasis AI untuk perempuan-perempuan Indonesia,” tuturnya.

    Diharapkan target lebih dari satu juta talenta digital perempuan menguasai bidang AI dapat tercapai pada tahun ini.

    (agt/agt)

  • Lintasarta Jadikan Semesta AI Bagian Inisiatif Besar Menuju AI Factory

    Lintasarta Jadikan Semesta AI Bagian Inisiatif Besar Menuju AI Factory

    Jakarta

    President Director & CEO Lintasarta Bayu Hanantasena menjelaskan bahwa Semesta AI adalah bagian dari inisiatif besar menuju AI Factory. Ini adalah ekosistem produksi solusi AI yang menyelesaikan masalah konkret di Indonesia.

    “AI Factory itu ibarat pabrik yang ngeluarin token berupa use case yang bisa menyelesaikan problem nyata, bukan future problem (masalah yang akan terjadi di masa depan),” ucap Bayu dalam Panel Discussion acara Kick Off Semesta AI 2025 di Menara Arcadia, Jakarta, Kamis (24/7/2025)

    Menurutnya, Semesta AI dibangun sebagai jembatan antara talenta AI, infrastruktur digital, dan kebutuhan nyata industri. Lintasarta yang juga merupakan mitra cloud NVIDIA di Indonesia, siap mendukung startup tidak hanya lewat akses GPU dan platform, tetapi juga melalui kolaborasi langsung dengan ribuan klien B2B mereka.

    “Kami tidak hanya mempertemukan startup dengan infrastruktur, tapi juga demand. Ada ribuan enterprise di ekosistem kami yang butuh solusi AI, dan itu peluang untuk teman-teman startup,” jelas Bayu.

    Bayu Hanantasena mengatakan program ini menjadi bagian dari NVIDIA Inception Program dan didesain untuk memberikan dampak nyata bagi industri nasional.

    “Program ini akan menawarkan jumlah dampak strategis, yang pertama pendampingan one-on-one dari para profesional, kemudian proyek percontohan atau piloting untuk startup, akses ke AI infrastructure NVIDIA melalui voucher GPU Merdeka hingga US$ 15.000,” ungkap Bayu.

    Tak hanya itu, Semesta AI juga memberikan akses kolaborasi dengan lebih dari 2.300 pelanggan Lintasarta yang berada di jaringan yang diharapkan dapat membantu mempercepat akselerasi startup ke market.

    Keberadaan Semesta AI pun mendapatkan sambutan yang cukup baik dari startup yang ada di Indonesia. Bayu mengungkapkan sejak pertama kali diluncurkan tahun lalu pada acara peluncuran AI Merdeka, Semesta AI telah menarik lebih dari 150 startup dan ISV dari berbagai wilayah di Indonesia.

    “Dari jumlah tersebut, 20 peserta terbaik akan terpilih untuk melangkah ke fase utama program Semesta AI,” imbuhnya.

    Program Semesta AI merupakan upaya terintegrasi yang menghubungkan talenta AI, infrastruktur, hingga kebutuhan industri agar mampu menghasilkan use case AI yang relevan dan berdampak di Indonesia.

    Chief Cloud Officer Lintasarta Gidion Suranta Barus menyampaikan inisiatif ini bukan proyek yang berdiri sendiri, melainkan satu rangkaian yang dimulai dari Laskar AI hingga menuju AI Factory.

    “Dari Laskar AI yang dimulai awal tahun ini, sekarang kita masuk ke Semesta AI. Jadi, dari Laskar AI, teman-teman dalam membangun use case, ujung-ujungnya, kita harap solusi ini bisa masuk ke AI Factory,” jelas Gidion.

    Di sisi lain, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan di era digital yang serba cepat, Indonesia butuh lebih dari sekadar bonus demografi. Diperlukan laskar-laskar AI, yakni talenta muda yang mampu menciptakan solusi nyata lewat teknologi.

    “Kita tidak punya banyak waktu. Di era digital sekarang, kita harus bergerak sangat cepat. Untungnya, dengan adanya AI dan kalian semua di sini, negara ini bisa maju dengan sangat cepat,” kata Irene.

    Di tengah kekhawatiran banyak orang bahwa AI akan menggantikan manusia, Irene justru menyatakan sebaliknya. Menurutnya, AI tak akan pernah mampu menggantikan manusia Indonesia yang memiliki hati dan kreativitas luar biasa.

    “AI itu garbage in, garbage out. Tapi, manusia punya hati. Indonesia punya sumber kreativitas yang luar biasa. Dengan itu, kita punya kuasa untuk membentuk arah AI ke depan,” ujar Irene.

    Dalam pesannya kepada para startup, Irene mengingatkan agar mereka tidak terjebak dalam jargon teknis atau pitch yang terlalu muluk. Ia mendorong startup untuk menciptakan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah nyata.

    “Jangan bikin solusi buat masalah yang enggak ada. Jangan pitch pakai istilah besar yang orang awam tidak paham. Fokus ke dampak. Ciptakan produk yang menyelesaikan masalah,” tuturnya.

    (akn/ega)

  • Ini 20 Startup yang Akan Lanjut ke Pilot Project Semesta AI

    Ini 20 Startup yang Akan Lanjut ke Pilot Project Semesta AI

    Jakarta

    Sebanyak 50 startup lokal terpilih untuk mengikuti program Semesta AI 2025 milik Lintasarta. Dari jumlah tersebut, 20 startup akan lanjut ke tahap pilot project, sementara 30 lainnya akan mendapatkan technical assistance untuk pengembangan use case berbasis AI.

    Program Semesta AI merupakan bagian dari inisiatif AI Merdeka yang bertujuan membangun ekosistem AI berdaulat di Indonesia. Dalam tahap awal ini, peserta disaring dari berbagai sektor mulai dari kesehatan, finansial, edukasi, hingga pertanian.

    “20 peserta terbaik akan dipilih untuk melangkah ke fase utama dan tentunya kami harap ini bukan sekadar program akselerasi, tapi jadi komitmen bersama untuk bangun
    ekosistem AI yang berdaulat, inklusif, dan berdampak nyata untuk Indonesia,” ucap President Director & CEO Lintasarta, Bayu Hanantasena dalam acara Kick Off Semesta AI 2025 di Menara Arcadia, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

    Adapun berikut daftar 20 perusahaan yang akan lanjut ke fase pilot project Semesta AI 2025:

    1. Algobash.com
    2. Lexicon
    3. Ovy Health
    4. Sokratech
    5. Automa
    6. Lunash
    7. Prospero
    8. SQOUTS
    9. BETA UAS
    10. MTDS
    11. Safelog.ai
    12. TAGFLOW AI
    13. Doctor Tool
    14. Momofin
    15. Simplify
    16. Vidavox
    17. Fineksi
    18. Nexmedis
    19. Skorlife
    20. Widya Robotics

    Mereka akan mendapatkan sesi mentoring intensif one-on-one serta berpeluang mengembangkan use case bersama jaringan klien Lintasarta.

    Wakil Menteri Ekonomi Kreati, Irene Umar, yang turut menghadiri acara kick off ini, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Semesta AI dan partisipasi para startup.

    “Impact kalian dibutuhkan dunia, sekecil apa pun menurut kalian itu. Kadang kita tidak sadar kalau kita sendiri adalah dampaknya,” ucapnya.

    Ia juga menekankan pentingnya kecepatan inovasi di era digital ini.

    “Dengan adanya AI ini, kita bisa memultiplikasi produktivitas kita. Jadi, kalau bonus demografis kita 287 juta, bisa jadi 1 miliar, dan bahkan lebih,” lanjutnya.

    Melalui program ini, Lintasarta berharap dapat mendorong terbentuknya use case AI yang lahir dari data dan kebutuhan khas Indonesia yang tak dimiliki di negara lain.

    (prf/ega)

  • Perbedaan Layar AMOLED, Super AMOLED, pOLED, dan OLED: Mana Terbaik?

    Perbedaan Layar AMOLED, Super AMOLED, pOLED, dan OLED: Mana Terbaik?

    Jakarta

    Teknologi layar pada perangkat elektronik, seperti smartphone, tablet, dan televisi, terus berkembang pesat. Salah satu teknologi layar yang populer adalah OLED dan varian-variannya seperti AMOLED, Super AMOLED, dan pOLED. Meski sekilas terdengar mirip, masing-masing memiliki karakteristik unik yang membedakannya.

    Berikut penjelasan lengkap tentang perbedaan keempat teknologi layar ini.

    OLED

    OLED (Organic Light-Emitting Diode) adalah teknologi layar yang menggunakan bahan organik untuk menghasilkan cahaya saat dialiri listrik. Berbeda dengan LCD yang memerlukan lampu latar (backlight), OLED memiliki piksel yang dapat menyala secara mandiri.

    Hal ini memungkinkan layar OLED menampilkan warna hitam pekat dan kontras tinggi karena piksel dapat dimatikan sepenuhnya.

    Layar OLED Foto: Oficinadanet

    Kelebihan:

    Warna hitam sempurna dan kontras tinggi.Konsumsi daya lebih efisien saat menampilkan warna gelap.Sudut pandang luas tanpa distorsi warna.

    Kekurangan:

    Biaya produksi relatif mahal.Rentan terhadap burn-in (bayangan permanen pada layar akibat gambar statis).AMOLED

    AMOLED (Active Matrix Organic Light-Emitting Diode) adalah varian OLED yang menggunakan matriks aktif untuk mengontrol piksel. Teknologi ini memungkinkan waktu respons lebih cepat dibandingkan OLED biasa, menjadikannya ideal untuk perangkat seperti smartphone dan smartwatch.

    Perbedaaan OLED AMOLED Foto: Oficinadanet

    Kelebihan:

    Waktu respons lebih cepat dibandingkan OLED standar.Lebih tipis dan ringan karena tidak memerlukan lapisan tambahan.Cocok untuk layar beresolusi tinggi.

    Kekurangan:

    Masih memiliki risiko burn-in.Warna cenderung lebih jenuh, yang mungkin kurang akurat untuk kebutuhan desain grafis.Super AMOLED

    Super AMOLED adalah teknologi yang dikembangkan oleh Samsung, mengintegrasikan lapisan sentuh (touch sensor) langsung ke dalam panel layar. Ini berbeda dengan AMOLED biasa yang memiliki lapisan sentuh terpisah. Hasilnya, layar Super AMOLED lebih tipis, responsif, dan hemat daya.

    Super AMOLED Foto: Techbeasts

    Kelebihan

    Layar lebih tipis dan ringan karena lapisan sentuh terintegrasi.Kecerahan lebih tinggi dan refleksi cahaya lebih rendah, cocok untuk penggunaan di luar ruangan.Konsumsi daya lebih efisien dibandingkan AMOLED biasa.

    Kekurangan

    Warna yang sangat jenuh bisa terlihat kurang natural bagi sebagian pengguna.Harga produksi lebih tinggi, biasanya ditemukan pada perangkat premium.pOLED

    pOLED (Plastic Organic Light-Emitting Diode) menggunakan substrat plastik alih-alih kaca, sehingga layar menjadi lebih fleksibel dan tahan terhadap benturan. Teknologi ini sering digunakan pada perangkat dengan layar lengkung atau lipat, seperti smartphone foldable.

    pOLED Foto: Oficinadanet

    Kelebihan

    Fleksibel dan ringan, ideal untuk desain layar lengkung atau lipat.Lebih tahan terhadap pecah dibandingkan layar berbasis kaca.Mendukung inovasi desain seperti smartphone lipat.

    Kekurangan

    Kualitas warna dan kecerahan mungkin sedikit di bawah AMOLED atau Super AMOLED.Rentan terhadap goresan karena menggunakan substrat plastik.Proses produksi lebih kompleks, sehingga harganya lebih mahal.

    Perbandingan Singkat

    Fitur:OLEDAMOLEDSuper AMOLEDpOLEDSubstrat:Kaca/PlastikKaca/PlastikKaca/PlastikPlastikLapisan Sentuh:TerpisahTerpisahTerintegrasiTerpisah/TerintegrasiFlexibilitas:RendahRendahRendahTinggiKecerahan:BaikBaikLebih TinggiSedangKegunaan Utama:TV, MonitorSmartphone/WearableSmartphoneSmartphoneMana yang Terbaik?

    Pemilihan teknologi layar tergantung pada kebutuhan pengguna. Jika kamu menginginkan layar dengan warna cerah dan kecerahan tinggi untuk penggunaan sehari-hari, Super AMOLED adalah pilihan terbaik, terutama untuk smartphone premium.

    Untuk perangkat dengan desain inovatif seperti layar lipat, pOLED unggul karena fleksibilitasnya. Sementara itu, AMOLED cocok untuk perangkat kelas menengah, dan OLED standar sering digunakan pada televisi atau monitor dengan layar besar.

    Namun, perlu diingat bahwa semua teknologi ini memiliki kelemahan, seperti risiko burn-in atau biaya produksi yang tinggi. Pastikan kamu memilih perangkat dengan teknologi layar yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.

    (afr/afr)

  • Lintasarta Hadirkan Semesta AI, Ajak Startup Kembangkan Use Case Khas RI

    Lintasarta Hadirkan Semesta AI, Ajak Startup Kembangkan Use Case Khas RI

    Jakarta

    Lintasarta resmi memperkenalkan program Semesta AI 2025 sebagai kelanjutan dari gerakan AI Merdeka. Dalam presentasinya, Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus menekankan pentingnya membangun solusi AI yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lokal Indonesia.

    Program Semesta AI merupakan upaya terintegrasi yang menghubungkan talenta AI, infrastruktur, hingga kebutuhan industri agar mampu menghasilkan use case AI yang relevan dan berdampak di Indonesia. Gidion menyampaikan bahwa inisiatif ini bukan proyek yang berdiri sendiri, melainkan satu rangkaian yang dimulai dari peluncuran GPU Merdeka, AI Merdeka, hingga Laskar AI sebagai wujud transformasi Lintasarta menjadi AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) Group.

    “Dari Laskar AI yang dimulai awal tahun ini, sekarang kita masuk ke Semesta AI. Jadi, dari Laskar AI, teman-teman dalam membangun use case, ujung-ujungnya, kita harap solusi ini bisa masuk ke AI Factory,” jelas Gidion dalam pemaparannya di acara Kick Off Semesta AI 2025, Gedung Arcadia, Menara Thamrin, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

    Dalam program ini, para startup tidak hanya akan memanfaatkan GPU Merdeka, tetapi juga tool dan platform AI dari NVIDIA, termasuk NVIDIA AI Enterprise hingga NVIDIA Inception Program.

    Lintasarta dan NVIDIA mendorong peserta terbaik untuk bergabung di NVIDIA Inception Program, dengan peluang dibawa ke ajang global seperti NVIDIA GTC (GPU Technology Conference).

    “Tahun ini, sudah ada satu (dari Indonesia) yang dibawa ke San Jose di acara GTC event NVIDIA. Diharapkan tahun depan ada yang use case-nya unik dan khas Indonesia, bukan yang bisa ditemukan di negara lain,” tegas Gidion.

    Setelah melalui proses startup scouting, Semesta AI 2025 menargetkan 50 tim startup, yang diseleksi menjadi 20 peserta program lanjutan dan 30 peserta Technical Assistance. 20 tim yang terpilih ini akan mendapat mentoring intensif, hingga masuk ke fase Pilot Project dan Demo Day.

    “Yang 20 akan masuk fase Pilot Project, kemudian ada one-on-one mentoring. Sedangkan 30 startup yang diberikan Technical Assistance ini akan masuk ke program Semesta AI 2026 untuk terus dikembangkan lagi,” tambah Gidion.

    Lintasarta juga merencanakan enterprise hackathon pada bulan Agustus yang akan melibatkan sekitar 10 perusahaan klien mereka. Dari enterprise hackathon ini, use case akan dicocokkan dengan kebutuhan nyata di industri, sehingga peserta bisa langsung mengembangkan solusi untuk klien yang riil.

    “Jadi teman-teman setelah selesai program, akan langsung punya klien untuk mengembangkan use case mereka,” kata Gidion.

    Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, program ini juga akan berjalan hingga tahun 2026, dengan harapan bisa terus berkembang secara eksponensial, bukan hanya dari sisi jumlah peserta, tapi juga sebaran geografis hingga ke wilayah Timur Indonesia.

    “Tahun ini kita mulai dengan 10 klien, semoga tahun depan tidak hanya 10, tapi ratusan. Indonesia butuh lebih banyak use case AI yang benar-benar berasal dari datanya sendiri,” pungkas Gidion.

    Dalam kesempatan yang sama, Enterprise Business Country Manager NVIDIA Indonesia, Andry Gunawan, menjelaskan, NVIDIA terus berkomitmen untuk mendukung edukasi serta pengembangan startup lokal lewat Inception Program dan pelatihan di Deep Learning Institute.

    “Kami ingin bantu teman-teman startup masuk ke ekosistem global, sekaligus membangun AI yang lahir dari kebutuhan Indonesia sendiri,” ujarnya.

    (prf/ega)

  • Lintasarta Jadikan Semesta AI Bagian Inisiatif Besar Menuju AI Factory

    ‘Pabrik AI’ Lintasarta Resmi Diluncurkan

    Jakarta

    Lintasarta resmi meluncurkan Semesta AI 2025, program akselerasi untuk mendukung startup lokal yang mengembangkan solusi berbasis AI. Peluncuran Semesta AI menjadi tonggak penting transformasi Lintasarta sebagai ‘Pabrik AI’ alias AI Factory.

    “Lintasarta sebagai AI Factory di bawah naungan Indosat Ooredoo Hutchison, menjalankan peran strategisnya dalam menghadirkan gerakan AI Merdeka. Hari ini kami launching Semesta AI untuk mempercepat inovasi dari startup, khususnya yang bergerak di bidang AI di Indonesia,” kata President Director dan CEO Lintasarta Bayu Hanantasena dalam sambutannya di acara ‘Kick Off Program Semesta AI’ di Gedung Arcadia, Menara Thamrin, Jakarta, Kamis (24/2025).

    Ia menyebutkan, Semesta AI sekaligus bukti nyata komitmen Lintasarta dalam membangun ekosistem AI yang berdaulat, inklusif, dan berdampak luas bagi ekonomi kreatif nasional. Program ini juga menarget sektor-sektor strategis seperti keuangan, kesehatan, manufaktur, dan layanan publik.

    “Semesta AI dirancang sebagai platform nyata untuk membina dan berkolaborasi dengan para inovator lokal. Tujuan kami bukan hanya mempercepat pengembangan teknologi AI, tetapi juga mendorong dampak berkelanjutan bagi ekonomi digital Indonesia,” ujarnya.

    Di acara ini, hadir Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Wakil sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar yang menyampaikan dukungannya terhadap Semesta AI l. Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan visi pemerintah dalam membangun ekosistem teknologi digital yang berdaulat dan inklusif untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif nasional.

    “Peluncuran Semesta AI 2025 bukan sekadar platform bagi startup, melainkan tonggak penting dalam membangun kolaborasi lintas sektor demi mempercepat adopsi kecerdasan artifisial di Indonesia,” sebutnya.

    Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Wakil & Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar. Foto: Rachmatunnisa

    “AI bukan hanya teknologi pendukung, tetapi alat strategis dalam menciptakan efisiensi, mendorong kreativitas, dan memperluas daya saing produk kreatif Indonesia di pasar global. Pemerintah mendukung penuh pemanfaatan AI yang aman, inklusif, dan beretika, serta mendorong co-creation ecosystem yang memberi ruang bagi talenta lokal untuk tumbuh dan menciptakan dampak nyata,” imbuhnya.

    Kolaborasi Lintasarta dengan NVIDIA

    Lintasarta menjadi satu-satunya NVIDIA Cloud Partner (NCP) di Indonesia, dan Semesta AI merupakan bagian dari gerakan AI Merdeka yang dijalankan Lintasarta dengan memaksimalkan kolaborasi dengan NVIDIA.

    Kolaborasi Semesta AI bersama NVIDIA memberikan berbagai manfaat strategis, antara lain:

    • Pendampingan langsung dari para pakar industri dan profesional AI

    • Akses ke teknologi komputasi akselerasi NVIDIA terkini

    • Pelatihan teknis dan dukungan pengembangan solusi AI

    • Peluang kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan terkemuka dalam jaringan Lintasarta

    • Voucher GPU Merdeka senilai hingga USD 15.000 untuk proyek AI terbaik.

    Sejak pendaftaran dibuka pada akhir 2024, Semesta AI mendapat sambutan positif dari ekosistem startup Tanah Air. Tercatat 155 startup dari berbagai daerah di Indonesia telah mendaftar.

    Setelah proses seleksi yang ketat, 20 startup terpilih untuk mengikuti program mentoring intensif yang difasilitasi oleh Lintasarta, dan 30 peserta lain akan mendapatkan pendampingan teknis untuk pengembangan solusi berbasis AI.

    (rns/fyk)

  • Lintasarta Siap Pertemukan Startup Terpilih Semesta AI dengan Perusahaan

    Lintasarta Siap Pertemukan Startup Terpilih Semesta AI dengan Perusahaan

    Jakarta

    Lintasarta telah mengumumkan 20 startup yang terpilih untuk maju ke tahap pilot project. Bersama NVIDIA, Lintasarta mendorong para startup terbaik untuk bergabung di NVIDIA Inception Program, dengan peluang dibawa ke ajang global seperti NVIDIA GTC.

    “Tahun ini, sudah ada satu (dari Indonesia) yang dibawa ke San Jose di acara GTC event NVIDIA. Diharapkan tahun depan ada yang use case-nya unik dan khas Indonesia, bukan yang bisa ditemukan di negara lain,” tutur Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus dalam acara kick off Semesta AI, di Jakarta, Kamis (24/7/2025).

    Lintasarta juga merencanakan surprise hackathon pada bulan Agustus yang akan melibatkan sekitar 10 perusahaan klien mereka. Dari hackathon ini, use case akan dicocokkan dengan kebutuhan nyata di industri, sehingga peserta bisa langsung mengembangkan solusi untuk klien yang riil.

    “Jadi teman-teman setelah selesai program, akan langsung punya client untuk mengembangkan use case mereka,” kata Gidion.

    Sementara itu, President Director & CEO Lintasarta, Bayu Hanantasena menjelaskan Semesta AI adalah bagian dari inisiatif besar menuju AI Factory, ekosistem produksi solusi AI yang menyelesaikan masalah konkret di Indonesia.

    “AI Factory itu ibarat pabrik yang ngeluarin token berupa use case yang bisa menyelesaikan problem nyata, bukan future problem (masalah yang akan terjadi di masa depan),” ujar Bayu dalam Panel Discussion.

    Menurutnya, Semesta AI dibangun sebagai jembatan antara talenta AI, infrastruktur digital, dan kebutuhan nyata industri. Lintasarta yang juga merupakan mitra cloud NVIDIA di Indonesia, siap mendukung startup tidak hanya lewat akses GPU dan platform, tetapi juga melalui kolaborasi langsung dengan ribuan klien B2B mereka.

    “Kami tidak hanya mempertemukan startup dengan infrastruktur, tapi juga demand. Ada ribuan enterprise di ekosistem kami yang butuh solusi AI, dan itu peluang untuk teman-teman startup,” jelas Bayu.

    Di sisi lain, Enterprise Business Country Manager NVIDIA Indonesia, Andry Gunawan, menekankan pentingnya AI berbasis data lokal. Ia juga memaparkan bagaimana NVIDIA mendukung startup lewat pelatihan, Software Development Kit (SDK), hingga kesempatan tampil di forum global melalui program NVIDIA Inception.

    “NVIDIA tidak hanya jual GPU. Kami investasi kembali ke komunitas lewat edukasi dan pengembangan. Dan use case di Indonesia itu sangat unik, ada 700 bahasa, 17.000 pulau. Data Indonesia ini seksi menurut Jensen Huang (CEO NVIDIA),” ungkap Andry.

    (prf/ega)

  • Transfer Data RI-AS Bisa Ancam Kedaulatan Digital RI

    Transfer Data RI-AS Bisa Ancam Kedaulatan Digital RI

    Jakarta

    Perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang mencakup komponen Cross Border Data Transfer (CBDT) atau aliran data lintas batas, menuai perhatian serius dari para pemerhati keamanan siber. Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) menyampaikan sejumlah catatan kritis terkait potensi risiko yang bisa ditimbulkan dari kesepakatan ini.

    Menurut Ketua dan Pendiri ICSF, Ardi Sutedja, perjanjian tersebut dapat membahayakan berbagai aspek kedaulatan nasional, mulai dari keamanan data, ketahanan siber, hingga stabilitas politik dan ekonomi Indonesia.

    “Transfer data lintas batas bukan sekadar isu teknis. Ini menyangkut kendali atas sumber daya strategis yang sangat bernilai-yaitu data warga negara dan institusi Indonesia,” kata Ardi dalam keterangan remsi yang diterima detikINET.

    Ancaman di Balik Transfer Data Lintas Batas

    Beberapa poin bahaya yang diidentifikasi ICSF meliputi:

    Risiko Keamanan dan Dominasi Asing

    ICSF mengingatkan bahwa transfer data ke luar negeri membuka celah bagi pihak asing untuk mengakses data sensitif milik Indonesia. Hal ini berisiko disalahgunakan, baik untuk kepentingan ekonomi maupun strategi geopolitik. Ancaman serangan siber seperti pencurian data, ransomware, dan manipulasi algoritma juga meningkat.

    “Dominasi perusahaan teknologi asing yang menguasai aliran data juga dikhawatirkan membuat Indonesia kehilangan kendali atas infrastruktur digitalnya. “Kita bisa kehilangan kemampuan untuk menentukan arah pengelolaan data kita sendiri,” tegas Ardi.

    Ancaman Ekonomi: Kolonialisasi Digital?

    Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi terjadinya “kolonialisasi digital”, di mana data sebagai aset ekonomi diproses dan dimonetisasi di luar negeri. Dengan demikian, Indonesia hanya akan menjadi pemasok bahan mentah digital tanpa mendapatkan nilai tambah.

    Ardi Sutedja, Ketua Umum Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

    “Perusahaan asing yang memegang kendali data akan memiliki keunggulan besar dibandingkan pelaku lokal. Akibatnya, kita tidak hanya kehilangan potensi pajak, tapi juga peluang ekonomi digital secara keseluruhan,” jelas Ardi.

    Dampak Sosial dan Politik

    ICSF juga menyoroti dampak sosial dan budaya, termasuk risiko hilangnya privasi masyarakat dan masuknya budaya asing yang dapat menggerus nilai-nilai lokal. Dari sisi politik, data yang dikuasai pihak asing bisa digunakan untuk memengaruhi opini publik hingga kebijakan nasional.

    Lebih jauh, Ardi menyoroti keberadaan CLOUD Act di Amerika Serikat, yang memungkinkan pemerintah AS memaksa perusahaan teknologi menyerahkan data dari negara lain tanpa seizin pemerintah negara tersebut. “Ini jelas bertentangan dengan kedaulatan digital Indonesia,” kata dia.

    UU PDP Bisa Tergeser?

    Ilustrasi Foto: Australia Plus ABC

    Indonesia sebenarnya sudah memiliki Undang-Undang No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), yang mengatur ketat soal transfer data lintas negara. Namun, perjanjian dagang seperti yang tengah dijajaki dengan AS dapat “mengunci” kebijakan domestik.

    ICSF mengingatkan bahwa UU PDP mengizinkan transfer data ke luar negeri hanya jika negara tujuan memiliki tingkat perlindungan setara, adanya perjanjian internasional yang mengikat, atau persetujuan eksplisit dari pemilik data.

    “Kalau klausul perdagangan menegaskan prinsip aliran data bebas tanpa batas dan melarang lokalisasi data, maka semangat UU PDP bisa terkebiri,” tegas Ardi.

    ICSF mendesak pemerintah Indonesia untuk menempatkan kedaulatan digital sebagai kepentingan nasional yang tak bisa ditawar. Setiap perjanjian internasional yang melibatkan data harus tunduk pada kerangka hukum domestik, bukan sebaliknya.

    “Jangan sampai demi iming-iming investasi atau kerja sama dagang, kita menyerahkan aset strategis bangsa ke pihak asing tanpa kendali,” pungkas Ardi.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Airlangga Sebut 12 Data Center AS Ada di Indonesia”
    [Gambas:Video 20detik]
    (afr/afr)