Jakarta –
Pernah merasa lelah mental setelah berlama-lama ‘scroll’ atau menggulir media sosial? Dalam satu kali usapan layar, muncul orang liburan keliling dunia, lalu konten hidup tanpa internet, disusul motivasi kerja dari bos teknologi.
Alih-alih terinspirasi, yang muncul justru rasa cemas dan kelelahan mental. Kondisi inilah yang ramai disebut sebagai brain rot, istilah gaul yang banyak dipakai warganet untuk menggambarkan dampak negatif konsumsi konten digital berlebihan.
Content creator asal Berlin, Tiziana Bucec, menjadi salah satu sosok yang vokal mengangkat isu ini. Ia sampai membuat serial video anti-brain rot, karena merasa media sosial justru membuat penggunanya lebih cemas, kurang fokus, dan menurunkan kesadaran diri.
Brain rot memang bukan istilah medis. Awalnya, istilah ini merujuk pada konten konyol tanpa makna, seperti video viral singkat yang sekadar menghibur.
Namun, kini maknanya berkembang menjadi kritik terhadap kebiasaan konsumsi media sosial berlebihan yang dinilai menurunkan kemampuan berpikir kritis dan rentang perhatian.
Profesor neurologi di Weill Cornell Medicine, Dr Costantino Iadecola, menjelaskan meski riset ilmiah khusus soal brain rot terbatas, pola perilaku scrolling tanpa sadar memiliki kemiripan dengan mekanisme kecanduan.
“Cara otak bereaksi saat terus menggulir konten mirip dengan kecanduan alkohol, narkoba, atau judi,” jelas Dr Iadecola, dikutip dari CNN.
Penelitian pada remaja dengan kecanduan internet menunjukkan adanya gangguan komunikasi antarbagian otak yang berperan dalam perhatian dan memori kerja. Menurut Dr Iadecola, paparan berkepanjangan terhadap konten berkualitas rendah berpotensi memberi dampak buruk pada fungsi otak.
@detikhealth_official Masih banyak yang berpikir tidur berkualitas itu harus 8 jam. Padahal, kebutuhan tidur setiap orang bisa berbeda. Yang paling penting bukan durasinya, tapi apakah tubuh benar-benar pulih dan siap beraktivitas kembali. Yuk, dengarkan penjelasan sleep coach soal durasi tidur yang sebenarnya dibutuhkan 😴 #tidur #sleepcoach #tidurberkualitas #edukasi #kesehatan ♬ suara asli – detikHealth
Konten Pendek Jadi Biang Kerok
Dokter endokrin anak sekaligus penulis buku Calm the Noise, Dr Nidhi Gupta, menyebut brain rot paling sering dipicu oleh konten video pendek yang bersifat cepat, dangkal, dan terus memancing perhatian.
“Rentang fokus manusia terbatas. Saat terlalu banyak konten berebut perhatian, hal penting seperti kesehatan, pekerjaan, hubungan, atau tidur bisa terabaikan,” terang Dr Gupta.
Konten pendek dirancang memicu lonjakan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Efeknya, otak terbiasa mencari sensasi cepat dan intens, sehingga konten yang lebih panjang dan mendalam terasa membosankan.
Bukan Cuma Jadi Masalah pada Anak
Meski anak-anak menjadi kelompok paling rentan, brain rot bukan hanya masalah usia muda. Dr Iadecola menegaskan anak yang terlalu sering terpaku pada layar berisiko kehilangan pengalaman penting dalam perkembangan sosial dan emosional.
Namun, orang dewasa juga memegang peran besar. Dr Gupta menekankan kecanduan layar ini menjadi masalah semua usia.
“Kita adalah panutan. Saat orang tua sibuk dengan ponsel, anak akan menganggap perilaku itu normal,” sambungnya.
Perlukah Dilarang Total?
Psikolog klinis Dr Lisa Damour mengingatkan, hiburan ringan tetap dibutuhkan. Menurutnya, setiap generasi memiliki cara sendiri untuk melepas penat.
“Selama anak tetap menjalankan tanggung jawabnya, hiburan tanpa berpikir bukan masalah besar,” bebernya.
Bagaimana Cara Membatasi ‘Scrolling’ Tanpa Menyiksa?
Pakar informatika University of California, Irvine, Dr Gloria Mark, menyarankan pembatasan, bukan penghapusan total media sosial. Salah satunya dengan menjadwalkan waktu khusus untuk membuka media sosial atau menghapus aplikasi, dan hanya mengaksesnya lewat browser agar tidak mudah tergoda untuk terus ‘scroll’.
“Kemauan saja tidak cukup. Lingkungan harus diubah,” kata Dr Gupta.
Jika membutuhkan momentum, awal tahun bisa menjadi waktu yang tepat untuk mulai mengurangi konsumsi media sosial dan membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
Halaman 2 dari 3
(sao/naf)