Category: Detik.com Kesehatan

  • Mau Kulit Glowing? Coba Rajin Olahraga dan Makan Sehat

    Mau Kulit Glowing? Coba Rajin Olahraga dan Makan Sehat

    Senang gak sih kalau kulit wajah glowing, kelihatan sehat dan bersih? Nah, rajin olahraga dan konsumsi makanan sehat juga membantu kulit kita makin glowing, loh…

    Dokter Spesialis Gizi Klinik, Diana Felicia Suganda, menjelaskan secara ilmiah kenapa kulit makin glowing kalau rajin olahraga dan konsumsi makanan sehat.

    “Aliran darah akan membawa nutrisi sama oksigenasi, ya kan? Pada saat teman-teman lagi rutin olahraga, jantung memompa lebih banyak,” paparnya. “Kita nutrisinya makannya bagus, proteinnya bagus. Tadi vitamin, mineral bagus. Jusnya buahnya bagus. Akhirnya apa? Yang dibawa oleh darah ke seluruh tubuh juga oke.”

    Tonton berita video lainnya di sini!

  • Video 152 Pelajar Mojokerto Diduga Keracunan MBG: Alami Pusing-Diare

    Video 152 Pelajar Mojokerto Diduga Keracunan MBG: Alami Pusing-Diare

    Video 152 Pelajar Mojokerto Diduga Keracunan MBG: Alami Pusing-Diare

  • Kronologi MBG di Pandeglang Berwadah Kantong Plastik

    Kronologi MBG di Pandeglang Berwadah Kantong Plastik

    Jakarta

    Video distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk balita di Desa Pasirkadu, Pandeglang, Banten, viral di media sosial setelah MBG didapati berwadah plastik. Menanggapi hal itu, Koordinator Kader Posyandu Desa Pasirkadu, Lusi, memberikan klarifikasi dan menyebut kejadian tersebut berlangsung spontan akibat cuaca hujan yang tidak memungkinkan.

    Menurut penjelasan SPPG Karyasari, distribusi MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita pada 8 Januari lalu dilakukan sesuai prosedur menggunakan ompreng. Namun, setibanya di lokasi, salah satu kader posyandu memindahkan makanan ke kantong plastik tanpa koordinasi, karena khawatir makanan terkena air hujan.

    Pihak SPPG dan kader posyandu pun telah melakukan klarifikasi bersama setelah video tersebut viral.

    Klik di sini untuk video lainnya!

    (/)

  • Dokter Gizi Bicara Waktu Ideal Makan Malam Biar BB Nggak Cepat Naik

    Dokter Gizi Bicara Waktu Ideal Makan Malam Biar BB Nggak Cepat Naik

    Jakarta

    Selama ini, banyak orang menghindari makan malam di atas jam tertentu karena khawatir berat badan naik atau metabolisme terganggu. Padahal, dampak makan malam terhadap tubuh ternyata tidak ditentukan semata-mata oleh angka di jam dinding.

    Spesialis gizi klinik dr M Ingrid Budiman, SpGK, AIFO-K, menegaskan bahwa waktu makan malam seharusnya dilihat secara lebih menyeluruh. Bukan hanya soal jam berapa seseorang makan, tetapi juga jaraknya dengan waktu tidur serta jenis makanan yang dikonsumsi.

    Patokan Makan Malam Bukan Jam Tertentu

    Menurut dr Ingrid, patokan utama makan malam justru berkaitan dengan waktu tidur, bukan dengan jam tertentu.

    “Sebenarnya sih patokan utama itu tidak kurang dari dua jam sebelum tidur,” kata dr Ingrid saat berbincang di detikSore, Jumat (2/1/2026).

    Tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan. Jika jarak antara makan dan tidur terlalu dekat, proses pencernaan bisa terganggu dan makanan berisiko tidak terbakar secara optimal.

    @detikhealth_official

    Viral video dengan narasi makan bergizi gratis ibu hamil dan balita diterima tidak layak lantaran ditaruh di kantong plastik tanpa kemasan tambahan apapun. Kejadian tersebut disebut terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karyasari, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Dimas Dhika Alpiyan, buka suara terkait viralnya video tersebut. Kejadian dilaporkan pada Kamis (8/1/2026). Dimas menyebut distribusi MBG saat itu sebetulnya sudah sesuai prosedur menggunakan ompreng. Namun, saat tiba di lokasi penerima, salah satu kader posyandu menurutnya memindahkan makanan dari ompreng ke dalam kantung plastik. Tindakan ini dilakukan tanpa berkoordinasi dengan pihak SPPG. “Setelah ompreng tiba di tempat oleh ibu kader yang bersangkutan makanan yang di dalam ompreng dipindahkan dan disatukan penyajiannya di dalam kantong plastik karena ibu kader memiliki alasan spontanitas. Setelah itu, oleh ibu kader diberikan kepada penerima manfaat yaitu bumil, busui, dan balita. Ompreng kembali dibawa pulang oleh sopir dengan keadaan kosong,” jelas Dimas, Sabtu (10/1). Kejadian tersebut kemudian baru diketahui SPPG keesokan harinya, pasca menerima laporan viral di media sosial. “Setelah video tersebut viral kami pihak SPPG Karyasari Sukaresmi mengundang para ibu kader untuk komunikasi lebih dalam. Ibu kader datang pada Jumat, 9 Januari, pukul 09.00. Ibu kader mengklarifikasi bahwasanya mereka memang memasukkan menu tersebut ke dalam plastik karena keadaan spontanitas yang terjadi,” kata Dimas.

    ♬ original sound – detikHealth

    Selain soal waktu, jenis makanan yang dikonsumsi pada malam hari justru memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan dampaknya bagi tubuh.

    “Tapi tergantung dulu makan malamnya apa,” ujar dr Ingrid.

    “Jangan sampai selesai makan jam 6, tapi itu makannya martabak atau yang manis-manis,” tambahnya.

    Ia menekankan, makan malam tetap boleh dilakukan asalkan komposisi makanannya seimbang, tidak berlebihan, dan tetap memperhatikan jarak dengan waktu tidur.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Cara Hitung Berat Badan Ideal Kucing”
    [Gambas:Video 20detik]
    (elk/naf)

  • Viral MBG Balita-Bumil Diwadahi Plastik, Ini Klarifikasi SPPG

    Viral MBG Balita-Bumil Diwadahi Plastik, Ini Klarifikasi SPPG

    Viral MBG Balita-Bumil Diwadahi Plastik, Ini Klarifikasi SPPG

  • Sering ‘Scroll’ Konten di Medsos? Awas Nggak Sadar Kena Brain Rot, Ini Ciri-cirinya

    Sering ‘Scroll’ Konten di Medsos? Awas Nggak Sadar Kena Brain Rot, Ini Ciri-cirinya

    Jakarta

    Pernah merasa lelah mental setelah berlama-lama ‘scroll’ atau menggulir media sosial? Dalam satu kali usapan layar, muncul orang liburan keliling dunia, lalu konten hidup tanpa internet, disusul motivasi kerja dari bos teknologi.

    Alih-alih terinspirasi, yang muncul justru rasa cemas dan kelelahan mental. Kondisi inilah yang ramai disebut sebagai brain rot, istilah gaul yang banyak dipakai warganet untuk menggambarkan dampak negatif konsumsi konten digital berlebihan.

    Content creator asal Berlin, Tiziana Bucec, menjadi salah satu sosok yang vokal mengangkat isu ini. Ia sampai membuat serial video anti-brain rot, karena merasa media sosial justru membuat penggunanya lebih cemas, kurang fokus, dan menurunkan kesadaran diri.

    Brain rot memang bukan istilah medis. Awalnya, istilah ini merujuk pada konten konyol tanpa makna, seperti video viral singkat yang sekadar menghibur.

    Namun, kini maknanya berkembang menjadi kritik terhadap kebiasaan konsumsi media sosial berlebihan yang dinilai menurunkan kemampuan berpikir kritis dan rentang perhatian.

    Profesor neurologi di Weill Cornell Medicine, Dr Costantino Iadecola, menjelaskan meski riset ilmiah khusus soal brain rot terbatas, pola perilaku scrolling tanpa sadar memiliki kemiripan dengan mekanisme kecanduan.

    “Cara otak bereaksi saat terus menggulir konten mirip dengan kecanduan alkohol, narkoba, atau judi,” jelas Dr Iadecola, dikutip dari CNN.

    Penelitian pada remaja dengan kecanduan internet menunjukkan adanya gangguan komunikasi antarbagian otak yang berperan dalam perhatian dan memori kerja. Menurut Dr Iadecola, paparan berkepanjangan terhadap konten berkualitas rendah berpotensi memberi dampak buruk pada fungsi otak.

    @detikhealth_official Masih banyak yang berpikir tidur berkualitas itu harus 8 jam. Padahal, kebutuhan tidur setiap orang bisa berbeda. Yang paling penting bukan durasinya, tapi apakah tubuh benar-benar pulih dan siap beraktivitas kembali. Yuk, dengarkan penjelasan sleep coach soal durasi tidur yang sebenarnya dibutuhkan 😴 #tidur #sleepcoach #tidurberkualitas #edukasi #kesehatan ♬ suara asli – detikHealth

    Konten Pendek Jadi Biang Kerok

    Dokter endokrin anak sekaligus penulis buku Calm the Noise, Dr Nidhi Gupta, menyebut brain rot paling sering dipicu oleh konten video pendek yang bersifat cepat, dangkal, dan terus memancing perhatian.

    “Rentang fokus manusia terbatas. Saat terlalu banyak konten berebut perhatian, hal penting seperti kesehatan, pekerjaan, hubungan, atau tidur bisa terabaikan,” terang Dr Gupta.

    Konten pendek dirancang memicu lonjakan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Efeknya, otak terbiasa mencari sensasi cepat dan intens, sehingga konten yang lebih panjang dan mendalam terasa membosankan.

    Bukan Cuma Jadi Masalah pada Anak

    Meski anak-anak menjadi kelompok paling rentan, brain rot bukan hanya masalah usia muda. Dr Iadecola menegaskan anak yang terlalu sering terpaku pada layar berisiko kehilangan pengalaman penting dalam perkembangan sosial dan emosional.

    Namun, orang dewasa juga memegang peran besar. Dr Gupta menekankan kecanduan layar ini menjadi masalah semua usia.

    “Kita adalah panutan. Saat orang tua sibuk dengan ponsel, anak akan menganggap perilaku itu normal,” sambungnya.

    Perlukah Dilarang Total?

    Psikolog klinis Dr Lisa Damour mengingatkan, hiburan ringan tetap dibutuhkan. Menurutnya, setiap generasi memiliki cara sendiri untuk melepas penat.

    “Selama anak tetap menjalankan tanggung jawabnya, hiburan tanpa berpikir bukan masalah besar,” bebernya.

    Bagaimana Cara Membatasi ‘Scrolling’ Tanpa Menyiksa?

    Pakar informatika University of California, Irvine, Dr Gloria Mark, menyarankan pembatasan, bukan penghapusan total media sosial. Salah satunya dengan menjadwalkan waktu khusus untuk membuka media sosial atau menghapus aplikasi, dan hanya mengaksesnya lewat browser agar tidak mudah tergoda untuk terus ‘scroll’.

    “Kemauan saja tidak cukup. Lingkungan harus diubah,” kata Dr Gupta.

    Jika membutuhkan momentum, awal tahun bisa menjadi waktu yang tepat untuk mulai mengurangi konsumsi media sosial dan membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/naf)

  • Neurolog Bagikan 3 Resolusi yang Harus Ada di 2026 Biar Otak Nggak ‘Menciut’

    Neurolog Bagikan 3 Resolusi yang Harus Ada di 2026 Biar Otak Nggak ‘Menciut’

    Jakarta

    Memasuki tahun 2026, resolusi hidup kerap identik dengan target berat badan ideal atau olahraga rutin. Tetapi, seorang ahli neurologi mengingatkan ada aspek yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yakni kesehatan otak.

    Pasalnya, otak yang sehat menjadi fondasi utama produktivitas, kesejahteraan emosional, hingga kemandirian seseorang dalam jangka panjang.

    Ahli neurologi Dr Bing menekankan kesehatan otak bukan hanya soal fokus dan suasana hati, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani hidup di masa depan. Maka dari itu, ia membagikan tiga resolusi tahun baru sederhana yang bisa dilakukan demi menjaga fungsi otak tetap optimal.

    1. Prioritaskan Tidur yang Cukup

    Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, tidur sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Padahal, tidur memiliki peran krusial bagi kesehatan otak.

    “Kita membutuhkan sekitar 7 hingga 9 jam tidur setiap malam untuk fungsi otak yang optimal,” kata Dr Bing, dikutip dari Times of India.

    Dr Bing menegaskan tidur merupakan salah satu faktor terpenting dalam menjaga kesehatan otak. Ia mengungkapkan banyak orang mengira kurang tidur hanya merupakan dampak dari stres, kecemasan, atau nyeri.

    Namun sebaliknya, kurang tidur justru bisa memicu lingkaran masalah yang berulang. Bukannya mengandalkan obat atau suplemen, Dr Bing lebih menyarankan untuk membangun kebiasaan tidur yang baik, seperti memiliki jam tidur yang konsisten dan rutinitas malam hari yang menenangkan.

    2. Bangun Rutinitas Harian yang Konsisten

    Menurut Dr Bing, otak bekerja paling baik saat berada dalam pola yang dapat diprediksi.

    “Otak berkembang dengan prediktabilitas,” tuturnya.

    Ia mencatat orang yang menjalani rutinitas harian secara konsisten cenderung mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah. Dalam praktik klinisnya sebagai neurolog, Dr Bing juga mengamati bahwa rutinitas yang teratur dapat mengurangi frekuensi migrain dan membantu pengelolaan nyeri kronis.

    Rutinitas yang dimaksud meliputi waktu bangun tidur yang sama setiap hari, jadwal makan yang teratur, aktivitas fisik yang konsisten, serta sinyal relaksasi yang jelas menjelang malam.

    3. Aktivitas Setiap Hari

    Resolusi ketiga mungkin terdengar sederhana, tetapi memiliki manfaat besar. Dr Bing menyebut beraktivitas, seperti menari, sebagai salah satu aktivitas terbaik untuk tubuh dan otak.

    “Menari menggabungkan gerakan keseimbangan, koordinasi, memori, ritme, dan interaksi sosial,” jelasnya.

    Ia merujuk pada sebuah studi tahun 2003, yang menunjukkan bahwa menari merupakan satu-satunya aktivitas fisik yang terbukti dapat menurunkan risiko demensia. Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, Dr Bing merekomendasikan mempelajari koreografi baru, karena dapat menstimulasi lebih banyak area otak.

    Halaman 2 dari 3

    (sao/naf)

  • Cuma Si Pemilik Mata Tajam yang Bisa Tebak Angka Ini Tanpa Zoom!

    Cuma Si Pemilik Mata Tajam yang Bisa Tebak Angka Ini Tanpa Zoom!

    Asah Otak

    Daffa Ghazan – detikHealth

    Sabtu, 10 Jan 2026 17:01 WIB

    Jakarta – Ada angka-angka tersembunyi di balik sejumlah gambar berikut. Sekilas tampak mudah menemukannya, tetapi banyak yang sering terkecoh, lho.

  • Video WHO: Ada 9 Serangan ke Faskes Ukraina di Awal 2026

    Video WHO: Ada 9 Serangan ke Faskes Ukraina di Awal 2026

    Video WHO: Ada 9 Serangan ke Faskes Ukraina di Awal 2026

  • Kurangi Porsi Makan hingga ‘Skip’ Nasi Tapi BB Segitu-gitu Aja? Ini Catatan Dokter

    Kurangi Porsi Makan hingga ‘Skip’ Nasi Tapi BB Segitu-gitu Aja? Ini Catatan Dokter

    Jakarta

    Sudah makan sedikit sampai rela mengurangi porsi makan, tetapi berat badan tak juga turun? Kondisi ini sering bikin frustasi, terlebih ketika usaha diet terasa sudah maksimal.

    Spesialis gizi klinik dr M Ingrid Budiman, SpGK, AIFO-K, menjelaskan kemungkinan kesalahan yang dilakukan saat diet. Pada banyak kasus, beberapa orang langsung membatasi asupan makan secara ekstrem.

    “Sebenarnya yang kayak gitu mungkin karena dietnya terlalu ekstrem, mungkin saat diet oh saya cuma boleh makan sayur saja, atau misalnya saya cuma makan sayur satu sama putih telur deh setiap hari,” sorotnya, dalam bincang bersama di detikSore, Jumat (2/1/2026).

    Walhasil, tanpa disadari camilan menjadi pilihan untuk mengurangi rasa lapar yang muncul. Padahal, kalorinya bisa lebih tinggi dari satu porsi makan besar.

    “Misalnya kopi dan teman-temannya, ada sirupnya, ada gulanya, ada whipped cream. Pastry saja itu kalorinya bisa 2 setengah sampai 3 porsi nasi, dalam satu kali makan. Kopinya yang ukuran kecil itu satu sampai 2 porsi nasi,” lanjut dia.

    @detikhealth_official

    Viral video dengan narasi makan bergizi gratis ibu hamil dan balita diterima tidak layak lantaran ditaruh di kantong plastik tanpa kemasan tambahan apapun. Kejadian tersebut disebut terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karyasari, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Dimas Dhika Alpiyan, buka suara terkait viralnya video tersebut. Kejadian dilaporkan pada Kamis (8/1/2026). Dimas menyebut distribusi MBG saat itu sebetulnya sudah sesuai prosedur menggunakan ompreng. Namun, saat tiba di lokasi penerima, salah satu kader posyandu menurutnya memindahkan makanan dari ompreng ke dalam kantung plastik. Tindakan ini dilakukan tanpa berkoordinasi dengan pihak SPPG. “Setelah ompreng tiba di tempat oleh ibu kader yang bersangkutan makanan yang di dalam ompreng dipindahkan dan disatukan penyajiannya di dalam kantong plastik karena ibu kader memiliki alasan spontanitas. Setelah itu, oleh ibu kader diberikan kepada penerima manfaat yaitu bumil, busui, dan balita. Ompreng kembali dibawa pulang oleh sopir dengan keadaan kosong,” jelas Dimas, Sabtu (10/1). Kejadian tersebut kemudian baru diketahui SPPG keesokan harinya, pasca menerima laporan viral di media sosial. “Setelah video tersebut viral kami pihak SPPG Karyasari Sukaresmi mengundang para ibu kader untuk komunikasi lebih dalam. Ibu kader datang pada Jumat, 9 Januari, pukul 09.00. Ibu kader mengklarifikasi bahwasanya mereka memang memasukkan menu tersebut ke dalam plastik karena keadaan spontanitas yang terjadi,” kata Dimas.

    ♬ original sound – detikHealth

    dr Ingrid menekankan kesalahan-kesalahan semacam ini sering tidak disadari. Ia menyarankan lebih baik tetap menjalani pola makan ideal, dengan kaya gizi termasuk karbohidrat, protein, juga serat.

    Tidak perlu langsung mengurangi asupan makanan secara berlebihan. Hal ini malah membuat tubuh lebih mudah lapar dan bisa muncul ajang ‘balas dendam’ di kemudian hari lantaran merasa sudah berhasil memangkas porsi konsumsi sebelumnya.

    “Jadi bisa sekali jajan 5 hingga 6 kali porsi setara nasi yang masuk, tapi kita nggak sadar. Saya nggak mau makan nasi ah, tetapi kemudian lapar, coba jajan dulu apa gitu kan, itu hal-hal yang bikin nggak sadar,” sambungnya.

    “Jadi nggak perlu juga langsung diet makan semua dikukus, nggak pakai garam, rasanya nggak enak, tapi mulai bertahap di mengurangi asupan karbo, perbanyak protein dan serat.”

    Halaman 2 dari 2

    (rfd/naf)