Category: Detik.com Internasional

  • Ganggu Ariana Grande, WN Australia Dideportasi dan Dicekal Singapura

    Ganggu Ariana Grande, WN Australia Dideportasi dan Dicekal Singapura

    Singapura

    Seorang pria Australia yang menyerang penyanyi Ariana Grande saat pemutaran perdana film ‘Wicked: For Good’ di Singapura telah dideportasi dan dilarang masuk kembali ke negara tersebut. Pria bernama Johnson Wen itu telah menjalani penahanan sebelum dideportasi.

    “Johnson Wen dideportasi ke Australia pada 23 November 2025 dan telah dilarang masuk kembali ke Singapura,” kata Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan seperti dilansir Channel News Asia, Minggu (23/11/2025).

    Pria berusia 26 tahun itu dijatuhi hukuman 9 hari penjara pada 17 November karena mengganggu ketertiban umum. Dalam putusannya, Hakim Distrik Christopher Goh mengatakan Wen ‘mencari perhatian’ karena merasa tidak akan menerima konsekuensi atas tindakannya di Singapura.

    Wen, yang telah ditahan sejak 14 November, mengaku bersalah atas tuduhan menyebabkan gangguan publik dengan menyebabkan keributan selama pemutaran perdana film yang dibintangi Ariana Grande itu.

    Peristiwa itu terjadi pada 13 November malam. Saat itu, Universal Studios Singapura menyelenggarakan acara untuk film Wicked: For Good.

    Para pemeran film tersebut, termasuk Grande, Erivo, Jeff Goldblum, dan Michelle Yeoh, berjalan di karpet untuk memberikan tanda tangan kepada para penggemar. Antara pukul 19.00 dan 19.11, Wen melompati barikade dan berlari ke arah para pemeran.

    Melihat hal ini, Erivo dan beberapa petugas keamanan bergerak untuk menghentikannya. Jaksa mengatakan hal itu telah mengganggu acara dan mengejutkan banyak penggemar.

    Saat Wen dikawal keluar, dia tiba-tiba berbalik dan berlari ke arah karpet kuning dan mencoba lagi untuk melompati barikade. Kali ini, dia dihentikan dan ditahan oleh petugas keamanan.

    Malam itu, Wen mengunggah postingan di Instagram, mengatakan bahwa dia bebas setelah ditangkap. Dia juga mengunggah video kejadian tersebut di TikTok dan Instagram dan berterima kasih kepada Grande.

    Polisi menemukan Wen di Temple Street pada 14 November dan menangkapnya atas tuduhan mengganggu ketertiban umum. Investigasi menunjukkan bahwa dia memiliki kebiasaan mengganggu acara-acara penting, termasuk konser Katy Perry, The Chainsmokers, dan The Weeknd.

    (haf/imk)

  • Korban Tewas Banjir Besar Vietnam Melonjak Jadi 90 Orang, 12 Masih Hilang

    Korban Tewas Banjir Besar Vietnam Melonjak Jadi 90 Orang, 12 Masih Hilang

    Hanoi

    Korban tewas akibat banjir besar di Vietnam meningkat menjadi 90 orang. Selain itu, 12 orang masih dinyatakan hilang.

    Dilansir AFP, Minggu (23/11/2025), Kementerian Lingkungan Hidup Vietnam mengatakan hujan lebat selama berhari-hari telah memicu banjir dan tanah longsor.

    Hujan deras telah mengguyur Vietnam bagian selatan-tengah sejak akhir Oktober. Destinasi wisata populer di sana juga dilanda banjir beberapa kali.

    Seluruh wilayah pesisir kota Nha Trang telah terendam banjir pekan lalu. Sementara, tanah longsor yang mematikan melanda jalur dataran tinggi di sekitar pusat wisata Dalat.

    Petani di provinsi pegunungan Dak Lak, Mach Van Si (61), mengatakan banjir membuat dia dan istrinya terdampar di atap seng mereka selama dua malam. Dia mengatakan wilayahnya hancur total.

    “Lingkungan kami hancur total. Tidak ada yang tersisa. Semuanya tertutup lumpur. Saya hanya berpikir kami akan mati karena tidak ada jalan keluar,” ujarnya.

    Lebih dari 80.000 hektare lahan padi dan tanaman pangan lainnya di Dak Lak dan empat provinsi lainnya rusak dalam sepekan terakhir. Selain itu, 3,2 juta ternak atau unggas mati atau hanyut oleh banjir.

    Media pemerintahm Tuoi Tre News, melaporkan pihak berwenang telah menggunakan helikopter untuk mengirimkan bantuan melalui udara kepada masyarakat yang terisolasi akibat banjir dan tanah longsor. Sementara, pemerintah mengerahkan puluhan ribu personel untuk mengirimkan pakaian, tablet pemurni air, mi instan, dan perlengkapan lainnya ke daerah-daerah terdampak.

    Banjir parah di provinsi pesisir selatan Khanh Hoa menghanyutkan dua jembatan gantung pekan lalu. Hal itu membuat banyak rumah tangga terisolasi.

    Beberapa lokasi di jalan raya nasional masih terblokir akibat banjir atau tanah longsor. Beberapa perjalanan kereta api juga masih dihentikan sementara.

    Hingga saat ini, lebih dari 129.000 pelanggan masih tanpa listrik. Jumlah itu menurun setelah lebih dari 1 juta pelanggan tanpa listrik minggu lalu.

    Kementerian Lingkungan Hidup pada hari Minggu memperkirakan kerugian ekonomi sebesar USD 343 juta di lima provinsi akibat banjir. Bencana alam telah menyebabkan 279 orang meninggal atau hilang di Vietnam dan menyebabkan kerugian lebih dari USD 2 miliar antara Januari dan Oktober.

    (haf/imk)

  • Kisah Korban Salah Tangkap di Inggris, Baru Dibebaskan Usai 38 Tahun Dipenjara

    Kisah Korban Salah Tangkap di Inggris, Baru Dibebaskan Usai 38 Tahun Dipenjara

    Jakarta

    Korban salah tangkap yang dipenjara selama 38 tahun mengaku telah dipukuli polisi dan “dipaksa” mengaku bersalah atas pembunuhan yang tidak ia lakukan, dalam wawancara pertamanya sejak dibebaskan.

    Peter Sullivan mengatakan kepada BBC, ia yakin “dijebak” pada 1986 terkait pembunuhan Diane Sindall.

    Sindall diserang secara kejam dan dipukuli hingga tewas serta mengalami serangan seksual yang brutal di Birkenhead, Wirral, Inggris.

    Sullivan, yang memiliki kesulitan belajar, vonisnya dibatalkan Mahkamah Banding pada Mei lalu, setelah menjalani tes DNA terbaru.

    Dia kini meminta Kepolisian Merseyside meminta maaf. Pihak kepolisian, meskipun “menyesali” bahwa “kesalahan hukum yang serius” telah terjadi, tetap mempertahankan bahwa petugas telah bertindak sesuai hukum saat itu.

    Berbicara dari lokasi yang tidak diungkapkan dengan wajah tertutup untuk melindungi privasinya, Sullivan, 68 tahun, mengatakan dia ingin penjelasan mengapa penyidik “memilih saya”.

    “Saya tidak bisa memaafkan mereka atas apa yang mereka lakukan kepada saya, karena hal itu akan terus ada sepanjang sisa hidup saya,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia telah “kehilangan segalanya” sejak masuk penjara.

    Selama puluhan tahun, Sullivan dan keluarganya dihantui dengan julukan-julukan dari media tabloid, termasuk The Beast of Birkenhead, The Mersey Ripper, dan The Wolfman.

    “Julukan-julukan itu akan selalu melekat pada saya, karena saya tidak pernah seperti itu,” katanya.

    Sullivan mengatakan, meskipun ada momen-momen hampir putus asa, dia selalu didukung orang tuanya yang meninggal bertahun-tahun sebelum ia bisa membersihkan namanya.

    Ia berkata: “Ibu saya memandang saya sebelum ia meninggal, dan berkata, ‘Saya ingin kamu terus memperjuangkan kasus ini karena kamu tidak melakukan kesalahan apa pun’.”

    Salah satu dari banyak momen menyakitkan selama masa tahanannya, Sullivan mengatakan ia tidak diizinkan menghadiri pemakaman ibunya pada 2013. Hal ini karena ibunya dimakamkan di pemakaman yang sama dengan Sindall.

    British Newspaper ArchiveKejahatan pembunuhan yang keji membuat Peter Sullivan mendapat sejumlah julukan dari media massa, termasuk “Si Binatang buas dari Birkenhead”.

    Penderitaan pria tersebut dimulai setelah seorang pedagang bunga bernama Diane Sindall ditemukan meninggal dunia. Perempuan berusia 21 tahun ini mengalami luka parah di sebuah gang di Borough Road, Birkenhead, pada 2 Agustus 1986.

    Dua minggu kemudian, pakaiannya yang sebagian terbakar ditemukan di Bidston Hill, sebuah kawasan hutan luas yang berjarak sekitar satu jam berjalan kaki dari gang tersebut.

    Setelah tayangan BBC Crimewatch, beberapa saksi muncul dan mengaku melihat Sullivan di sebuah pub dekat lokasi pembunuhan pada malam itu. Beberapa orang lain mengaku melihat pria yang mirip dengan Sullivan di dekat Bidston Hill keesokan harinya.

    Sullivan ditangkap dengan tuduhan pembunuhan pada 23 September 1986, dan diinterogasi 22 kali selama empat minggu berikutnya.

    HandoutDiane Sindall, 21 tahun, sedang menabung untuk menikah.

    Selama tujuh kali interogasi pertama polisi, Sullivan tidak diberi pendamping hukum dan ia merasa pengalaman itu “sangat menakutkan”.

    “Mereka memasukkan sesuatu ke dalam pikiran saya, lalu mereka mengembalikan saya ke sel, lalu saya kembali dan mengatakan apa yang mereka inginkan, tanpa menyadari apa yang saya lakukan saat itu,” katanya.

    ‘Mereka memukuli saya dengan keras’

    Selama periode tersebut, Sullivan mengklaim dipukul di selnya sebanyak dua kali oleh petugas polisi.

    “Mereka melemparkan selimut di atas tubuh saya, dan memukuli saya dengan tongkat pemukul, mencoba membuat saya bekerja sama dengan mereka,” katanya.

    “Sungguh sakit, mereka memukuli saya dengan keras.”

    Sullivan juga mengatakan, jika dia tidak mengaku, dia akan didakwa dengan “35 kasus pemerkosaan lainnya”. Dia mengaku dilarang makanan dan tidur.

    Sullivan tidak diberikan pendamping orang dewasa yang layak untuk membantunya memahami interogasi. Di sisi lain, data penahanan polisi mencatat bahwa dia punya gangguan kesulitan belajar.

    Ketika ditanya mengapa dia mengaku bersalah atas pembunuhan yang tidak dia lakukan, Sullivan mengatakan: “Yang bisa saya katakan, itu adalah intimidasi yang memaksa saya menyerah, karena saya tidak bisa menahannya lagi.”

    Baca juga:

    Dokumen pengadilan banding membenarkan, pengakuan pertama Sullivan tidak terekam dan tidak ada pengacara yang hadir. Wawancara polisi lainnya terekam.

    Dalam pernyataan sebelumnya, Kepolisian Merseyside membuat klaim tidak mengetahui tuduhan tentang penganiayaan, atau ancaman terhadap Sullivan dengan kejahatan lain, dan mengatakan catatan pada saat itu tidak memuat rincian hal tersebut.

    Mereka juga mengatakan, panduan tentang kehadiran orang dewasa yang sesuai telah diperkuat sejak 1986.

    Kepolisian tersebut mengakui, awalnya menolak kehadiran penasihat hukum dalam proses interogasi. Mereka menambahkan, petugas khawatir akan mengungkapkan sebagian informasi dari penyelidikan kepada pengacara, dan takut bukti akan dihancurkan.

    Mereka juga mengatakan, Sullivan diberitahu bahwa dia tidak perlu berbicara dengan petugas kecuali dia ingin melakukannya.

    Sarah Myatt, pengacara Sullivan selama lebih dari 20 tahun, duduk di sampingnya saat berbicara dengan BBC.

    “Saya pikir, dari apa yang dia ceritakan kepada saya, dia hanya mencapai titik jenuh dengan hal itu,” katanya.

    Sullivan berkata dalam satu wawancara, dia diminta petugas polisi menandai peta tempat dia meninggalkan pakaian di Bidston Hill.

    Ketika dia menunjuk ke tempat yang salah, dia mengklaim seorang penyidik menjawab: “Ayo, Peter, kamu tahu lebih baik dari itu,” sebelum memberi petunjuk tentang lokasi “yang benar”.

    Myatt mengatakan, pada peta Bidston Hill, Sullivan kemudian menulis “ini semua bohong”.

    “Saya pikir itu cukup menyentuh,” katanya.

    Kepolisian Merseyside, mengatakan peta dan transkrip, yang belum dilihat BBC, telah diserahkan ke pengadilan. Kepolisian mengklaim, petugas yang melakukan wawancara sedang “berusaha memahami validitas pengakuannya”.

    PA MediaSarah Myatt, yang telah mendampingi Peter Sullivan selama 20 tahun, mengatakan bahwa Sullivan telah mencapai “titik kritis” sebelum mengaku bersalah secara palsu atas pembunuhan.

    Meskipun Sullivan mencabut keterangannya, polisi dan jaksa penuntut sangat mengandalkan bukti jejak gigitan – sebuah bidang ilmu forensik yang secara luas menuai banyak dikritik.

    Bukti tersebut, yang diajukan sebelum tes DNA tersedia secara luas, cukup untuk meyakinkan juri di Pengadilan Tinggi Liverpool – dan pada 5 November 1987. Sullivan berubah dari seorang “pencuri kecil” yang mengaku bersalah menjadi seorang pembunuh yang dihukum.

    Mengingat putusan bersalah tersebut, Sullivan mengatakan: “Saudari saya pingsan di ruang sidang, dan seketika itu juga, semuanya berakhir.

    “Saya dibawa keluar dari ruang sidang dan hanya duduk di sel itu sambil menangis tersedu-sedu atas kejahatan yang tidak saya lakukan.

    “Saya tahu, sejak saat itu bahwa ini akan menjadi kasus yang sangat sulit untuk diperjuangkan, dan berusaha keluar dari situasi ini.”

    Hukuman penjara yang dijatuhkan padanya memiliki ancaman minimal 16 tahun sebelum ia berhak mengajukan permohonan pembebasan bersyarat – namun Sullivan tetap membantah kesalahannya, yang mengurangi peluangnya untuk dibebaskan.

    Penjara menjadi sangat sulit bagi seseorang yang dianggap sebagai pembunuh kejam dan pelaku kejahatan seksual. “Saya telah disiksa di penjara karena kejahatan yang tidak saya lakukan,” katanya.

    Namun, ia mengatakan melaporkan kekerasan semacam itu bukanlah pilihan karena “kalau begitu kamu dianggap tukang mengadu, dan itu berarti kamu akan mendapat perlakuan yang jauh lebih buruk”.

    ‘Kamu bisa pulang ke rumah’

    Akhir dari mimpi buruknya dimulai pada 2023 saat Komisi Peninjauan Perkara Pidana badan yang dibentuk untuk memeriksa kesalahan dalam proses peradilan memerintahkan pengujian ulang sampel sperma yang ditemukan di tubuh Sindall pada 1986.

    Layanan Penuntutan Kerajaan (CPS) memutuskan tidak menantang hasil DNA sebelum banding ulang sehingga membuka jalan bagi kebebasan Sullivan.

    Pada Mei 2025, saat putusan banding dibacakan, Sullivan mendengarkan melalui sambungan video dari Penjara Wakefield, duduk di samping petugas masa pembebasan bersyaratnya.

    “Ketika mereka kembali dengan putusan, bahwa kasus saya dibatalkan, [petugas masa pembebasan bersyarat] menangis terlebih dahulu,” katanya.

    “Dia berbalik dan berkata, ‘Peter, kamu bisa pulang’…

    “Selanjutnya, tiba-tiba, air mata mulai mengalir di wajah saya dan itu saja, saya berkata, ‘ya, keadilan telah ditegakkan’.”

    Julia Quenzler/BBCPeter Sullivan menempelkan tangannya ke wajahnya dan menangis ketika pengadilan memutuskan untuk membatalkan vonisnya.

    Dunia di luar penjara telah menjadi tempat yang membingungkan bagi seorang pria yang ditahan saat Margaret Thatcher menjadi perdana menteri dan internet belum dikenal.

    Saat berbagi momen keluar dari penjara, dia berkata: “Saya melihat mobil-mobil berlalu lalang, dan saya belum pernah melihat begitu banyak mobil yang berbeda dalam hidup saya di jalanan.

    “Melihat semuanya berubah begitu saja, sungguh menakutkan.”

    Sejak dibebaskan, ia kadang-kadang tak sadar berdiri di kamar tidurnya menunggu petugas penjara melakukan pemeriksaan kebiasaan yang sulit dihilangkan setelah hampir 40 tahun.

    Sullivan mengatakan, ia merasa “sangat berduka” untuk keluarga Sindall, yang menurutnya telah “kembali ke titik awal” dalam perjuangan mereka mencari keadilan.

    “Saya telah mengalami rasa sakit yang sama, berada di penjara, karena saya juga dipisahkan dari keluarga saya untuk sesuatu yang tidak saya lakukan,” katanya.

    BBCPembunuhan Diane Sindall memicu aksi jalan kaki “Reclaim the Night” pertama di Merseyside.

    Kepolisian Merseyside menyatakan, akibat “perubahan signifikan” dalam undang-undang dan praktik penyelidikan sejak 1986, tidak akan ada “manfaat yang berarti” dalam tinjauan formal terhadap proses penyelidikan kasus tersebut.

    Mereka menyatakan, telah merujuk kasus ini ke Badan Independen untuk Pengawasan Kepolisian setelah putusan banding, namun tidak ditemukan pelanggaran etika.

    Layanan Penuntutan Kerajaan (CPS) menyatakan, meskipun Pengadilan Banding menerima hasil tes DNA terbaru, alasan banding lainnya ditolak.

    Nick Price, direktur layanan hukumnya, mengatakan: “Kasus penuntutan diajukan berdasarkan semua bukti yang tersedia bagi kami pada saat itu.”

    Kasus pembunuhan Sindall telah dibuka kembali, meskipun belum ada penangkapan yang dilakukan.

    Bagi Sullivan, masih ada penantian ganti rugi, yang dibatasi oleh pemerintah sebesar Pound 1,3 juta (Rp 28,5 miliar) untuk kasus vonis bersalah.

    Myatt, yang membantu dia dalam kasus ini, mengatakan: “Tidak ada angka yang bisa dikatakan cukup untuk kehilangan 38 tahun hidup Anda.”

    (haf/haf)

  • Pasukan Israel Tembak Mati 2 Remaja Palestina di Tepi Barat

    Pasukan Israel Tembak Mati 2 Remaja Palestina di Tepi Barat

    Kufr Aqab

    Kementerian Kesehatan Palestina menyebut pasukan Israel menembak dua remaja di kota Kufr Aqab di Tepi Barat. Kedua remaja Palestina itu dilaporkan meninggal dunia.

    “Pemuda Amr Khaled Ahmed Al-Marbou (18) dan anak laki-laki Sami Ibrahim Sami Mashayekh (16) gugur akibat tembakan pasukan pendudukan di kota Kufr Aqab dekat Ramallah,” kata Kementerian Kesehatan Palestina dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Jumat (21/11/2025).

    Tentara dan polisi Israel, yang berwenang di wilayah tersebut, tidak segera menanggapi permintaan komentar dari AFP.

    Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan pihaknya telah membawa dua remaja itu ke rumah sakit. Satu korban dilaporkan mengalami luka tembak peluru tajam yang sangat serius dan korban kedua dengan luka tembak peluru tajam di dada.

    Oday al-Shurfa, teman dari korban Marbou, mengaku menyaksikan insiden tersebut. Dia menyebut bahwa keduanya berada di jalan saat bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina setempat, dan ditembak oleh pasukan Israel.

    “Marbou terkena (tembak) di dada, di jantung. Ia pingsan dan gugur di tempat,” kata Shurfa, seraya menegaskan bahwa ia tidak melempar batu atau ikut serta dalam bentrokan tersebut.

    Namun kota tersebut tidak menerima layanan yang memadai dari pemerintah kota Yerusalem karena adanya pembatas, begitu pula dari kota-kota Palestina yang berdekatan, Ramallah dan Al-Bireh.

    Kekerasan di Tepi Barat, yang diduduki Israel sejak 1967, telah meningkat sejak serangan Hamas terhadap Israel memicu perang Gaza pada Oktober 2023.

    Lihat juga Video: Serangan Terjadi di Tepi Barat, Satu Orang Tewas-3 Luka-Luka

    (fas/jbr)

  • Beruang Serang Kelompok Murid dan Guru di Kanada, 11 Orang Terluka-2 Kritis

    Beruang Serang Kelompok Murid dan Guru di Kanada, 11 Orang Terluka-2 Kritis

    Jakarta

    Seekor beruang grizzly menyerang sekelompok anak sekolah dan guru yang berada di jalur pejalan kaki di British Columbia, Kanada. Insiden itu menyebabkan 11 orang terluka, dua diantaranya dalam kondisi kritis.

    Dilansir Associated Press, Jumat (21/11/2025), serangan itu terjadi pada Kamis (20/11) sore waktu setempat. Beruang dilaporkan masih berkeliaran di sekitar lokasi hingga malam hari.

    “Dua orang mengalami luka kritis dan dua lainnya mengalami luka serius,” kata juru bicara Layanan Kesehatan Darurat Brian Twaites.

    Veronica Schooner, orang tua dari salah satu murid yang menjadi korban, mengatakan banyak orang mencoba menghentikan serangan saat beruang itu mengamuk. Seorang guru laki-laki bahkan terluka dan dievakuasi dengan helicopter dari lokasi kejadian.

    Anak Schooner yang berusia 10 tahun, Alvarez, mengaku sangat dekat dengan beruang ketika hewan itu menyerang teman-teman dan gurunya. Kepada orang tuanya, Alvarez bahkan bisa merasakan bulu sang beruang.

    “Ia bilang beruang itu berlari begitu dekat dengannya, padahal sebenarnya ia sedang mengejar orang lain,” kata Schooner.

    Ia menambahkan bahwa beberapa anak terkena semprotan beruang saat para guru melawan beruang tersebut, sementara Alvarez tertatih-tatih dan sepatunya berlumpur karena berlari mencari tempat aman.

    “Dia terus menangis memanggil teman-temannya, dan astaga, dia langsung berdoa untuk teman-temannya,” tambah Schooner.

    Sekolah Acwsalcta, sebuah sekolah independen yang dikelola oleh Nuxalk First Nation di Bella Coola, mengatakan dalam sebuah unggahan Facebook bahwa sekolah akan ditutup pada hari ini dan konseling akan disediakan.

    “Sulit untuk menentukan apa yang harus dikatakan selama masa sulit ini. Kami sangat berterima kasih kepada tim dan siswa kami,” tulis unggahan tersebut.

    Lihat juga Video: Jepang Darurat Serangan Beruang, 220 Kasus Terjadi Sejak April 2025

    (ygs/jbr)

  • Jet Tempur India Jatuh Saat Airshow di Dubai, Pilot Tewas

    Jet Tempur India Jatuh Saat Airshow di Dubai, Pilot Tewas

    Jakarta

    Sebuah jet tempur milik angkatan militer India jatuh di Dubai, Uni Emirat Arab. Pesawat itu jatuh saat sedang beratraksi di gelaran Dubai Airshow.

    Jet tempur India itu jatuh hari ini waktu setempat. Seorang saksi mata di lokasi mengatakan pesawat sempat berputar rendah sebelum jatuh dan terbakar di dekat lokasi pertunjukan.

    “Sebuah pesawat tempur Tejas dari India yang berpartisipasi dalam pertunjukan terbang hari ini di Dubai Airshow telah jatuh, mengakibatkan kematian tragis pilotnya,” tulis kantor media pemerintah Dubai di X dilansir AFP, Jumat (21/11/2025).

    Video yang beredar di media sosial menunjukkan pesawat itu jatuh dengan kecepatan tinggi dan meledak menjadi bola api saat terjadi benturan sementara para penonton menyaksikan dengan kaget.

    Kepulan asap mengepul dari lokasi kecelakaan saat kendaraan darurat melaju kencang ke arahnya. Insiden itu terjadi pada hari terakhir pertunjukan udara terbesar di Timur Tengah, yang menampilkan pertunjukan terbang setiap sore.

    Ratusan orang menonton dari tribun, sementara apron dipenuhi dengan pesawat, helikopter, dan perangkat keras lainnya yang dipajang secara statis.

    Ribuan orang telah menghadiri pertunjukan tersebut pekan ini, termasuk para pemimpin industri penerbangan dan pejabat militer.

    Angkatan Udara India juga telah buka suara atas insiden tersebut. Mereka mengumumkan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kecelakaan.

    “IAF sangat menyesalkan hilangnya nyawa dan berdiri teguh bersama keluarga yang ditinggalkan di masa duka ini,” demikian pernyataan tersebut.

    Kecelakaan ini diyakini sebagai yang pertama dalam sejarah pertunjukan udara tersebut. Dubai Airshow telah digelar sejak tahun 1986.

    Lihat juga Video: Memanas! Pakistan Tembak Jatuh 5 Jet Tempur India

    (ygs/ygs)

  • Harga yang Harus Dibayar Ukraina di Draf Rencana Damai dengan Rusia

    Harga yang Harus Dibayar Ukraina di Draf Rencana Damai dengan Rusia

    Jakarta

    Draft rencana perdamaian Rusia dan Ukraina yang diusulkan Amerika Serikat (AS) dan didukung Presiden Donald Trump mulai terungkap. Ada harga yang harus dibayar Ukraina yang terungkap dalam draft rencana perdamaian untuk menghentikan konflik yang berlangsung sejak 2022 tersebut.

    Dirangkum detikcom, Jumat (21/11/2025), dalam rencana perdamaian yang berisi 28 poin itu, Kyiv disebut akan menyerahkan sebagian besar wilayah timurnya kepada Rusia dan memangkas jumlah tentaranya.

    Ukraina, menurut rencana perdamaian itu, juga harus berjanji untuk tidak pernah bergabung aliansi NATO dan tidak akan mendapatkan pasukan penjaga perdamaian Barat yang mereka inginkan, meskipun pesawat-pesawat tempur Eropa akan ditempatkan di Polandia untuk melindungi Ukraina.

    Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya, seperti dilansir AFP, Jumat (21/11/2025), menyebut draft rencana perdamaian itu mencakup jaminan keamanan yang kuat untuk Kyiv, yang dimodelkan berdasarkan aturan NATO, yang akan mengikat AS dan sekutu Eropa untuk merespons setiap serangan terhadap Ukraina.

    Sementara itu, Rusia akan diterima kembali ke kelompok negara-negara G8 dan diberi keringanan sanksi berdasarkan rencana perdamaian tersebut, yang menurut para pejabat AS, masih merupakan “dokumen kerja”.

    Berdasarkan draft rencana perdamaian itu, yang didapatkan oleh AFP, Ukraina akan menarik diri dari wilayah Lugansk dan Donetsk. Kedua wilayah itu, bersama dengan Crimea yang dicaplok Moskow tahun 2014 lalu, “akan diakui secara de-facto sebagai wilayah Rusia, termasuk oleh Amerika Serikat”.

    Sedangkan wilayah Kherson dan Zaporizhzhia, yang sebelumnya dianeksasi secara sepihak oleh Rusia, akan “dibekukan di sepanjang garis kontak”.

    Ukraina Diminta Kurangi Pasukan Militernya

    Ukraina juga akan mengurangi jumlah pasukan militernya sedikit kurang dari separuhnya, yakni menjadi 600.000 personel saja. Sebagai imbalan, Kyiv akan mendapatkan “jaminan keamanan yang bisa diandalkan”, dengan jet-jet tempur Eropa akan ditempatkan di negara tetangga, Polandia.

    Menurut rencana perdamaian itu, Ukraina juga harus menggelar pemilu baru dalam waktu 100 hari.

    Kembalinya Rusia ke G8 diatur dalam rencana perdamaian usulan AS tersebut, yang menyebut Moskow akan “diintegrasikan kembali ke dalam ekonomi global”. Sanksi-sanksi akan kembali diberlakukan jika Moskow kembali menginvasi Ukraina.

    Proposal tersebut melibatkan konsesi besar dari Ukraina, yang sebelumnya menolak menyerahkan wilayah apa pun, dan di sisi lain, tampak memenuhi banyak tuntutan maksimalis Rusia setelah invasi tahun 2022 lalu. Seorang pejabat Ukraina menuduh Rusia yang mengusulkan proposal itu kepada AS.

    Gedung Putih membantah laporan yang menyebut Washington menyusun proposal itu dengan Moskow. Gedung Putih menegaskan bahwa kedua belah pihak dilibatkan dalam kerja sama menyusun rencana perdamaian itu sebulan terakhir.

    Menurut rencana perdamaian itu, Trump akan memimpin “dewan perdamaian” untuk mengawasi gencatan senjata, serupa dengan gencatan senjata Gaza.

    Respons Ukraina

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Kamis (20/11) menyatakan bahwa Ukraina “siap bekerja secara jujur dan terbuka”, saat ia berkomitmen menindaklanjuti proposal perdamaian dari Amerika Serikat (AS) tanpa mengganggu upaya diplomatik yang sudah berjalan.

    “Ukraina membutuhkan perdamaian dan kami akan melakukan segala hal agar tak ada pihak yang bisa mengatakan bahwa kita menghambat diplomasi. Ini penting,” ujar Zelenskyy dalam pidatonya. Ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan membuat pernyataan yang tergesa-gesa.

    Menurutnya, fokus utama saat ini adalah menjaga proses diplomasi yang konstruktif dengan AS dan para mitra internasional. Ia menekankan pentingnya dukungan yang konsisten bagi militer Ukraina serta seluruh operasi pertahanan yang telah direncanakan, termasuk serangan jarak jauh.

    Rusia Belum Tahu Zelensky Siap Bahas

    Kremlin atau kantor kepresidenan Rusia mengakui pihaknya belum mendapatkan informasi soal respons Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terhadap rencana perdamaian yang diusulkan Amerika Serikat (AS), dan didukung oleh Presiden Donald Trump.

    Kremlin, seperti dilansir Reuters dan TASS News Agency, Jumat (21/11/2025), mengaku belum diberitahu bahwa Ukraina siap untuk melakukan negosiasi seputar rencana perdamaian yang didukung Trump tersebut.

    Respons Kremlin itu diungkapkan oleh wartawan Rusia, Alexander Yunashev, setelah berbicara kepada juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

    “Peskov menyatakan bahwa Moskow belum diberitahu mengenai persetujuan Zelensky untuk bernegosiasi berdasarkan rencana perdamaian Trump,” tulis Yunashev dalam akun Telegram miliknya.

    Halaman 2 dari 2

    (yld/yld)

  • Bersitegang, Kapal Pesiar China Hindari Pelabuhan Jepang

    Bersitegang, Kapal Pesiar China Hindari Pelabuhan Jepang

    Beijing

    Ketegangan antara China dan Jepang makin meluas hingga ke operasional kapal-kapal pesiar. Para operator kapal pesiar China baru-baru ini berupaya menghindari pelabuhan-pelabuhan Jepang, dan lebih memilih pelabuhan Korea Selatan (Korsel) sebagai opsi.

    Menurut sejumlah sumber dan berdasarkan jadwal kapal pesiar terbaru, seperti dilansir Reuters, Jumat (21/11/2025), para agen tur dan pelabuhan mengungkapkan jika ketegangan diplomatik yang terjadi dapat menyebabkan wisatawan China dialihkan ke Korsel, dari Jepang.

    Ketegangan itu dipicu oleh pernyataan kontroversial Perdana Menteri (PM) baru Jepang Sanae Takaichi kepada anggota parlemen pada awal bulan ini, di mana dia menyebut serangan China terhadap Taiwan yang mengancam kelangsungan hidup Jepang akan dapat memicu respons militer.

    Pernyataan itu disampaikan hanya sepekan setelah Takaichi bertemu Presiden China Xi Jinping, dengan kedua pemimpin sepakat mengupayakan hubungan yang stabil. Pernyataan tersebut juga menunjukkan pergeseran dari sikap pemerintah Jepang sebelumnya, yang menghindari untuk membahas isu Taiwan secara terbuka agar tidak memprovokasi China, yang bersikeras mengklaim pulau tersebut sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya.

    Imbas ketegangan diplomatik itu, Adora Magic City, kapal pesiar China yang berlayar ke Pulau Jeju di Korsel dan juga Jepang, telah mengubah jadwalnya untuk Desember mendatang agar tidak singgah di pelabuhan-pelabuhan Jepang, yaitu Fukuoka, Sasebo, dan Nagasaki, seperti rencana awal.

    Menurut pemberitahuan yang diunggah situs web pemerintah Provinsi Jeju di Korsel, kapal pesiar itu akan menghabiskan waktu 31 jam hingga 57 jam di Jeju, lebih lama dari jadwal sebelumnya yang hanya 9 jam.

    Seorang pejabat dari Provinsi Jeju mengatakan bahwa operator kapal pesiar itu meminta perubahan jadwal tanpa memberikan alasan jelas. “Kami menduga hal itu karena hubungan China-Jepang,” kata pejabat yang menolak disebut namanya tersebut.

    “Sepertinya mereka sedang menyusun Rencana B,” imbuhnya.

    Jepang telah memperhitungkan kerugian akibat sengketa diplomatik ini, dengan operator tur yang berbasis di Tokyo, East Japan International Travel Service, mengatakan pekan ini bahwa mereka kehilangan 80 persen booking untuk sisa tahun ini.

    Detail soal kapal pesiar China menghindari Jepang dan tinggal lebih lama di Korsel, atau mempertimbangkan tinggal lebih lama di sana karena sengketa diplomatik belum pernah dilaporkan sebelumnya.

    Korsel muncul sebagai tujuan utama wisatawan China, dalam hal volume tiket penerbangan internasional yang dipesan selama akhir pekan lalu. Banyak maskapai China telah menawarkan pengembalian dana untuk rute penerbangan ke Jepang, langkah yang diharapkan dapat meningkatkan perjalanan udara ke Korsel.

    Luna Wang, seorang warga Hangzhou, China, mengatakan dirinya kini lebih memilih ke Korsel daripada Jepang menyoroti ketegangan diplomatik yang terjadi. “Sekarang sepertinya Jepang tidak aman bagi warga China untuk bepergian… Saya rasa satu-satunya pilihan yang baik adalah pergi ke Korea,” ucapnya.

    Pendiri perusahaan China, Moment Travel, asal Chengdu, Su Shu, mencatat perubahan dramatis dalam persepsi soal bepergian ke Jepang. “Perasaannya sekarang adalah siapa pun yang pergi adalah pengkhianat,” ujarnya.

    Lihat juga Video: Memanas! Jepang Murka Kapal China Masuk Perairan Senkaku

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Australia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Pakai Medsos, Caranya?

    Australia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Pakai Medsos, Caranya?

    Jakarta

    Pemerintah Australia akan mewajibkan berbagai perusahaan media sosial mengambil “langkah yang masuk akal” untuk mencegah anak di bawah 16 tahun membuat akun mulai 10 Desember. Akun yang telah dibuat pun harus dinonaktifkan atau dihapus.

    Pemerintah menyebut larangan ini, kebijakan pertama di dunia yang mendapat dukungan luas dari banyak orang tua bertujuan mengurangi “tekanan dan risiko” bagi anak-anak di media sosial.

    Risiko itu muncul dari “fitur desain yang mendorong anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di layar, sambil menyajikan konten yang dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka,” demikian pernyataan pemerintah Australia.

    Sebuah studi pesanan pemerintah Australia pada awal tahun ini menunjukkan, sebanyak 96% anak berusia 1015 tahun menggunakan media sosial.

    Sementara tujuh dari 10 di antara mereka terpapar konten serta perilaku berbahaya. Paparan itu meliputi dari materi misoginis, video perkelahian, hingga konten yang mempromosikan gangguan makan serta bunuh diri.

    Satu dari tujuh anak juga melaporkan mengalami perilaku diduga grooming dari orang dewasa atau anak yang lebih tua. Lebih dari separuh mengatakan mereka pernah menjadi korban perundungan siber.

    Platform apa saja yang terdampak?

    Sejauh ini, pemerintah Australia telah menyebut 10 platform yang masuk dalam larangan, yakni Facebook, Instagram, Snapchat, Threads, TikTok, X, YouTube, Reddit, serta platform streaming Kick dan Twitch.

    Platform seperti Roblox dan Discord belakangan menerapkan pemeriksaan usia pada sejumlah fiturnya, sebagai upaya menghindar dari pelarangan pemerintah Australia.

    Pemerintah Australia menyatakan akan terus meninjau daftar platform yang terdampak, dengan mempertimbangkan tiga kriteria utama.

    Kriteria pertama, tujuan utama atau “tujuan signifikan” platform adalah menciptakan interaksi sosial daring antara dua pengguna atau lebih.

    Kedua, platform memungkinkan pengguna berinteraksi dengan sebagian atau seluruh pengguna lain.

    Ketiga, platform memungkinkan pengguna mengunggah materi.

    YouTube Kids, Google Classroom, dan WhatsApp tidak termasuk dalam daftar karena dianggap tidak memenuhi kriteria tersebut.

    Anak-anak juga tetap dapat menonton sebagian besar konten di platform seperti YouTube, yang tidak mensyaratkan pembuatan akun.

    Bagaimana larangan ini akan ditegakkan?

    Anak-anak dan orang tua tidak akan dikenai hukuman jika kedapatan melanggar larangan ini.

    Pemerintah Australia menyatakan, perusahaan media sosial yang bertanggung jawab menegakkannya. Perusahaan-perusahaan tersebut dapat dikenai denda hingga US$32 juta (sekitar Rp534,6 miliar) jika melakukan pelanggaran berat atau berulang.

    Pemerintah Australia juga menyatakan perusahaan-perusahaan itu harus mengambil “langkah yang masuk akal” untuk menjaga anak-anak tetap berada di luar platform mereka, serta menerapkan penggunaan teknologi verifikasi usiatanpa memerinci data yang akan digunakan.

    Sejumlah kemungkinan telah disebutkan, termasuk penggunaan kartu identitas pemerintah, pengenalan wajah atau suara, dan age inference.

    Metode terakhir ini memakai informasi daring selain tanggal lahir seperti perilaku atau interaksi daring untuk memperkirakan usia seseorang.

    Sebuah studi terbaru pemerintah Australia menemukan bahwa 96% anak usia 1015 tahun memakai media sosial dan tujuh dari 10 di antaranya pernah terpapar konten atau perilaku berbahaya. (Getty Images)

    Pemerintah mendorong platform media sosial menerapkan berbagai metode sekaligus.

    Pemerintah juga menegaskan bahwa platform medsos tidak diperkenankan mengandalkan pengguna untuk menyatakan umur mereka sendiri, atau mengandalkan orang tua untuk membenarkan umur anak.

    Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan Threads mengumumkan bahwa mereka akan mulai menutup akun remaja mulai 4 Desember.

    Akun orang dewasa yang terkena penutupan bisa memakai kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah atau mengirim video selfie untuk memverifikasi usia, terang Meta.

    Sementara platform lain yang terdampak sejauh ini belum menyampaikan bagaimana mereka akan mematuhi aturan tersebut.

    Apakah aturan ini akan efektif?

    Tanpa gambaran jelas tentang metode apa yang akan dipakai perusahaan-perusahaan medsos, sulit memastikan apakah larangan ini akan benar-benar efektif.

    Di sisi lain, sejumlah kekhawatiran sudah bermunculan.

    Teknologi verifikasi usia dikhawatirkan dapat salah memblokir pengguna yang sah dan gagal menangkap anak-anak yang berbohong soal usia mereka.

    Laporan pemerintah menunjukkan bahwa teknologi pemindaian wajah, misalnya, justru paling tidak akurat untuk kelompok usia yang menjadi sasaran utama aturan ini.

    Pertanyaan lain muncul soal besaran denda.

    Mantan pejabat eksekutif Facebook, Stephen Scheeler, mengatakan kepada kantor berita Australia bahwa Meta hanya butuh sekitar satu jam 52 menit untuk meraup pendapatan US$50 juta (sekitar Rp835 miliar), yang setara dengan nilai denda maksimum.

    Sebagian pengkritik menilai, sekalipun aturan ini ditegakkan dengan benar, dampaknya terhadap keamanan anak di dunia maya mungkin tetap terbatas.

    Pasalnya, situs kencan dan platform gim tidak masuk aturan ini.

    Chatbot AI juga tidak tercakup, padahal belakangan jadi sorotan setelah diduga mendorong anak untuk bunuh diri atau melakukan percakapan “sensual” dengan anak di bawah umur. Ada pula kekhawatiran bahwa remaja yang mengandalkan media sosial untuk mencari komunitas akan makin terisolasi.

    Mereka berpendapat, mengajari anak cara menjelajahi media sosial secara aman lebih masuk akal ketimbang menutup aksesnya.

    Menteri Komunikasi Australia, Annika Wells, mengakui larangan ini mungkin tidak akan “sempurna”.

    “Prosesnya akan terlihat agak berantakan,” ujarnya awal November.

    “Reformasi besar memang selalu begitu.”

    Apakah ada kekhawatiran soal perlindungan data?

    Kritik lain menyasar pada kebutuhan mengumpulkan dan menyimpan data pribadi dalam jumlah besar demi memverifikasi usia pengguna.

    Risiko kebocoran dan penyalahgunaan data kembali jadi perhatian, mengingat Australia dalam beberapa tahun terakhir berkali-kali diguncang insiden pencurian data berskala besar.

    Namun pemerintah menegaskan bahwa aturan ini memuat “perlindungan kuat” bagi data pribadi.

    Aturan itu menyatakan bahwa informasi yang dikumpulkan tidak boleh dipakai untuk tujuan selain verifikasi usia dan harus dimusnahkan setelah proses selesai.

    Pemerintah juga menyatakan akan memberikan “sanksi serius” bagi pelanggaran.

    Pemerintah juga mewajibkan platform menyediakan opsi selain identitas pemerintah untuk proses verifikasi usia, agar pengguna punya pilihan yang lebih aman.

    Bagaimana respons perusahaan media sosial?

    Sejumlah perusahaan media sosial mengaku terkejut tatkala pemerintah Australia mengumumkan larangan itu pada November 2024.

    Mereka menilai aturan tersebut sulit diterapkan, mudah diakali, memakan waktu bagi pengguna, dan berisiko terhadap privasi mereka.

    Selain itu, mereka berpendapat kebijakan itu bisa mendorong anak-anak masuk ke sudut gelap internet dan membuat remaja kehilangan ruang untuk berinteraksi sosial.

    Snap perusahaan pemilik Snapchat dan YouTube bahkan membantah bahwa mereka adalah perusahaan media sosial.

    Google, perusahaan induk YouTube, dilaporkan masih mempertimbangkan untuk mengambil langkah hukum terkait masuknya platform itu dalam daftar.

    BBC menghubungi Google untuk mengonfirmasi langkah tersebut, tapi tidak beroleh balasan.

    Ilustrasi gedung dengan logo Youtube di fasadnya. (Getty Images)

    Meski mengumumkan akan menerapkan aturan itu lebih cepat, Meta masih bersikukuh bahwa pelarangan ini akan membuat remaja menghadapi “perlindungan yang tidak konsisten di berbagai aplikasi yang mereka gunakan.”

    Dalam sesi dengar pendapat di parlemen pada Oktober, TikTok dan Snap menyatakan mereka tetap menolak aturan itu, namun akan tetap menerapkannya.

    Kick satu-satunya perusahaan Australia yang masuk dalam daftar menyatakan akan memperkenalkan “sejumlah langkah” dan terus berkomunikasi “secara konstruktif” dengan otoritas.

    Apakah negara lain punya aturan serupa?

    Larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun ini merupakan yang pertama di dunia, tapi sejumlah negara lain diperkirakan akan mengamati penerapan di Australia.

    Berbagai pendekatan sudah dicoba di sejumlah wilayah untuk membatasi waktu layar dan akses media sosial bagi anak, serta mencegah mereka melihat konten berbahaya.

    Namun, belum ada yang menerapkan larangan total terhadap platform-platform tersebut.

    Di UK, aturan keselamatan yang diberlakukan pada Juli lalu membuat perusahaan daring terancam denda besar, bahkan para eksekutifnya dapat dipenjara, jika gagal menerapkan langkah-langkah untuk melindungi anak dari konten ilegal dan berbahaya.

    Beberapa negara Eropa memperbolehkan penggunaan media sosial di bawah usia tertentu, tapi hanya dengan persetujuan orang tua.

    Pada September, penyelidikan parlemen Prancis merekomendasikan larangan media sosial bagi anak di bawah 15 tahun, serta “jam malam” media sosial untuk pengguna usia 15 hingga 18 tahun.

    Denmark mengumumkan rencana untuk melarang media sosial bagi anak di bawah 15 tahun, sementara Norwegia sedang mempertimbangkan usulan serupa.

    Pemerintah Spanyol pun telah mengirim rancangan undang-undang ke parlemen yang mewajibkan persetujuan wali sang anak di bawah 16 tahun untuk mengakses platform medsos.

    Sebaliknya di Amerika Serikat, upaya Negara Bagian Utah untuk melarang remaja di bawah 18 tahun menggunakan media sosial tanpa persetujuan orang tua menemui jalan buntu, setelah tidak mendapat persetujuan hakim federal tahun lalu.

    Apakah anak-anak akan mencoba mengakali larangan itu?

    Remaja yang diwawancarai BBC mengaku mulai membuat akun baru dengan usia palsu menjelang pemberlakuan aturan tersebut meski pemerintah telah memperingatkan perusahaan media sosial bahwa mereka diharapkan mendeteksi dan menghapus akun-akun seperti itu.

    Di internet, para remaja juga saling berbagi rekomendasi aplikasi alternatif atau memberikan strategi menghindari pelarangan.

    Sejumlah remaja, termasuk influencer, beralih menggunakan akun bersama dengan orang tua.

    Sementara para pengamat memperkirakan penggunaan VPN akan melonjak teknologi yang menyembunyikan lokasi pengguna. Fenomena ini terjadi di UK setelah aturan kontrol usia diberlakukan.

    Lihat juga Video Cara Kemkomdigi Deteksi Anak yang Terpapar Konten Negatif di Medsos

    (ita/ita)

  • Eropa Kesulitan Tangani Pembuangan Sampah Ilegal

    Eropa Kesulitan Tangani Pembuangan Sampah Ilegal

    Jakarta

    Banyak orang rajin mengurus sampah dengan caranya masing-masing. Namun, bagaimana jika sampah mereka dimanfaatkan jadi ladang bisnis geng kriminal?

    Inilah kenyataan di banyak negara Eropa. Badan penegak hukum Uni Eropa, Europol, memperingatkan bahwa “perdagangan sampah ilegal semakin meningkat dan diperkirakan akan makin besar serta makin canggih,” menurut laporan Serious and Organised Crime Threat Assessment 2025. Meski begitu, Europol menolak menjawab sejumlah pertanyaan DW tentang isu ini, dengan alasan ada prioritas lain.

    Europol menyebut lonjakan aktivitas ini banyak didorong oleh kelompok kriminal yang mencari cara untuk menghindari kontrak pembuangan sampah domestik maupun komersial. Mereka memanfaatkan celah korupsi di setiap tahap pengelolaan sampah, memalsukan dokumen, dan membawa limbah melintasi negara-negara Eropa demi memanfaatkan lemahnya penegakan hukum di beberapa wilayah. Pasar gelap ini digambarkan Europol sebagai bisnis “berisiko rendah, berkeuntungan tinggi.”

    Pelakunya adalah campuran antara jaringan kejahatan terorganisir lama dan perusahaan legal oportunistis yang memanfaatkan celah serta inefisiensi sistem. Situasi ini menjadi tantangan besar bagi lembaga-lembaga Uni Eropa yang bertugas menangani kejahatan lingkungan.

    Perdagangan sampah ilegal bernilai miliaran euro

    Masalah ini kembali mencuat setelah ditemukannya gunungan sampah raksasa dekat Sungai Thames di Oxfordshire, Inggris. Pada Rabu (19/11) lalu, laporan menyebut tumpukan setinggi enam meter itu berisi limbah dari sekolah dan otoritas lokal, mengindikasikan penyalahgunaan kontrak pengelolaan sampah milik lembaga pemerintah yang dikerjakan perusahaan subkontraktor resmi.

    Persoalan ini tidak hanya terjadi di Inggris. Meski data akurat sulit diperoleh, kantor anti-penipuan Uni Eropa, OLAF, memperkirakan bahwa “15 sampai 30 persen pengiriman sampah bisa jadi ilegal,” dengan nilai perdagangan mencapai €9,5 miliar (sekitar Rp183 triliun) per tahun. Uni Eropa sendiri mengirim sekitar 67 juta ton sampah legal per tahun di dalam kawasan dan mengekspor 35,1 juta ton ke luar UE melalui perjanjian resmi.

    “Sampah berbahaya atau sampah yang dikelola sembarangan dapat mencemari tanah, air, dan udara. Pergerakan sampah ilegal lintas negara juga merusak upaya UE menuju ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan,” kata OLAF kepada DW. “Aktivitas ini juga memberi keuntungan tidak adil bagi jaringan kriminal dibandingkan pelaku usaha yang taat aturan.”

    Celah konsep ekonomi hijau yang dimanfaatkan kriminal

    Masalah bertambah rumit karena beberapa jenis sampah membutuhkan biaya tinggi untuk diolah secara legal, seperti elektronik, kendaraan bekas, gas berfluorinasi, tekstil, dan plastik berkualitas rendah. Kondisi ini dimanfaatkan kelompok kriminal yang mempekerjakan ahli industri untuk mengambil bagian yang bisa dijual dan membuang sisanya secara ilegal, termasuk ke Eropa Timur, Asia, atau Afrika.

    Limbah berbahaya seperti sampah konstruksi atau medis sering dicampur dengan material lain agar terlihat layak dijual atau diserahkan ke fasilitas yang bersedia membuangnya secara ilegal tanpa memedulikan dampak kesehatan dan lingkungan.

    Jaringan kriminal makin canggih

    Pada Februari lalu, 13 orang ditangkap di Kroasia karena mengimpor 35.000 ton limbah berbahaya dari Italia, Slovenia, dan Jerman. Europol menyebut limbah itu tidak diolah sebagaimana mestinya, melainkan hanya dikubur atau dibuang begitu saja di sedikitnya tiga lokasi.

    Geng terorganisir tersebut diperkirakan meraup €4 juta (sekitar Rp77 miliar) dengan memanfaatkan jaringan perusahaan legal untuk memindahkan limbah dan menghindari biaya pengelolaan limbah beracun.

    “Jaringan ini memalsukan dokumen, mengatur rute pengangkutan yang rumit, menggunakan perusahaan cangkang, dan mencampur aliran limbah legal dan ilegal agar tidak terdeteksi,” ujar Alexandra Ghenea dari organisasi nirlaba Rumania, ECOTECA, kepada DW. Ia menambahkan bahwa Rumania kerap menjadi tujuan limbah dari Italia, Jerman, Inggris, dan Belgia yang sering kali diklaim sebagai material daur ulang.

    Namun dalam beberapa kasus, praktiknya jauh lebih sederhana. Di Oxfordshire, pelaku hanya membuang limbah di lokasi yang mereka anggap aman. Hal serupa terjadi di Sintesti, pinggiran Bucharest, pada Juli lalu, ketika pembakaran ilegal material daur ulang memicu kebakaran hutan yang hampir mencapai area permukiman. Rumania memang sudah lama berhadapan dengan masalah pembuangan limbah ilegal.

    “Wilayah ini menunjukkan pola berulang: kebakaran yang menghasilkan asap beracun, polusi udara parah, dan lemahnya pemantauan serta penegakan hukum,” kata Ghenea. “Masalahnya bukan ketiadaan aturan, karena kerangka hukum sudah sesuai standar UE. Kelemahannya ada pada penegakan, baik dari sisi kapasitas maupun konsistensi.”

    Penegakan hukum masih lemah

    Meski negara anggota Uni Eropa memiliki aturan dan standar yang seragam, kasus di Rumania menunjukkan bahwa tantangan di lapangan bisa sangat berbeda. Penegakan juga rumit karena pergerakan lintas batas di Eropa sangat mudah.

    “Penegak hukum hanya berinvestasi cukup di beberapa negara anggota,” kata Europol dalam laporan 2022. “Karena banyak aktivitas kejahatan lingkungan dilakukan oleh perusahaan legal, kasus-kasus ini sering dilabeli sebagai kejahatan korporasi atau kejahatan kerah putih. Fakta bahwa jaringan kriminal menggunakan bisnis sebagai kedok membuat pelanggaran ini kurang terlihat.”

    Ini yang dimanfaatkan para pelaku yang mengorbankan kesehatan masyarakat dan lingkungan demi mencari keuntungan. Ketika Eropa berusaha menuju ekonomi yang lebih hijau, kawasan ini masih harus menghadapi segelintir kelompok yang hanya berfokus pada keuntungan finansial.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu dan Adelia Dinda Sani

    Editor: Hani Anggraini

    (ita/ita)