Category: Detik.com Internasional

  • Israel Tembaki Warga Gaza di Tempat Pengungsian, 5 Orang Tewas

    Israel Tembaki Warga Gaza di Tempat Pengungsian, 5 Orang Tewas

    Gaza

    Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan tentara Israel menghujani tembakan ke sebuah sekolah yang diubah menjadi tempat pengungsian. Sebanyak 5 orang dilaporkan tewas.

    Dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengungkapkan insiden itu kepada AFP. Penembakan terjadi di sebelah timur Kota Gaza, Palestina.

    “Lima martir telah ditemukan sebagai akibat dari penembakan Israel terhadap tempat perlindungan di Sekolah Martir Gaza,” di lingkungan Tuffah di sebelah timur Kota Gaza.

    Militer Israel kemudian memberikan tanggapan. Israel berdalih menargetkan individu yang mencurigakan.

    “Menembak individu yang mencurigakan untuk menghilangkan ancaman. (Kami) menyadari klaim mengenai korban jiwa di daerah tersebut, dan detailnya sedang ditinjau,” katanya.

    (lir/lir)

  • Serangan Bom Asap dan Penusukan di Stasiun Taiwan, 4 Orang Tewas

    Serangan Bom Asap dan Penusukan di Stasiun Taiwan, 4 Orang Tewas

    Taipei

    Serangan menargetkan stasiun metro di Taipei, Taiwan. Dinas Pemadaman Kebakaran setempat menyebut 4 orang tewas dalam serangan ini, termasuk pelaku.

    Dilansir AFP, serangan itu terjadi pada Jumat (19/12/2025) waktu setempat. Penyerang diduga menggunakan bom asap dan melakukan penusukan.

    Menurut Dinas Pemadam Kebakaran Kota Taipei, total empat orang dipastikan tewas termasuk pelaku, seorang pria berusia 27 tahun. Lima orang lainnya terluka.

    Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai menyebut seorang tersangka telah jatuh dari gedung dan juga mengalami serangan jantung. Motif penyerangan belum jelas, tetapi Cho mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa itu adalah tindakan yang disengaja.

    Cho mengatakan bahwa tersangka mengenakan masker dan melemparkan “lima atau enam bom bensin atau granat asap” di stasiun metro utama Taipei.

    Pihak berwenang meningkatkan keamanan di seluruh pulau sebagai respons terhadap serangan tersebut.

    Wali Kota Chiang Wan-an mengatakan tersangka tampaknya melompat dari sebuah gedung. Pelaku dicari karena menghindari wajib militer.

    “Kami memahami bahwa tersangka bunuh diri dengan melompat dari sebuah gedung untuk menghindari penangkapan, dan telah dipastikan meninggal,” kata Wali Kota.

    Chiang mengatakan salah satu korban tewas saat mencoba menghentikan serangan di stasiun. Wali Kota Chiang manyampaikan duka.

    “Sayangnya, dia diserang dan meninggal dunia. Kami semua sangat berduka,” katanya.

    Seorang saksi di Stasiun Utama mengatakan kepada jaringan lokal EBC News bahwa ia melihat “seorang pria bergegas dan mencoba menundukkan” penyerang, yang “mengenakan masker gas dan rompi anti peluru”.

    “Awalnya saya pikir itu latihan, lalu saya melihat seseorang memegang pisau dan melempar granat asap,” kata saksi tersebut, yang tidak menyebutkan namanya.

    (lir/idn)

  • Fakta-fakta Arab Saudi Diselimuti Salju

    Fakta-fakta Arab Saudi Diselimuti Salju

    Jakarta

    Salju menyelimuti sejumlah wilayah Arab Saudi. Salju turun di Saudi saat cuaca dingin melanda negara tersebut.

    Kemunculan salju di beberapa wilayah Saudi itu terjadi pada Rabu (17/12) dan Kamis (18/12) waktu setempat. Hamparan salju tipis mengubah area-area pegunungan yang dikelilingi gurun berubah menjadi negeri ajaib musim dingin.

    Dirangkum detikcom, Jumat (19/12/2025), berikut ini sejumlah fakta Arab Saudi diselimuti salju:

    1. Salju Muncul di Utara Saudi

    Dilansir Arab News, salju melanda sebagian wilayah utara Saudi pada Rabu (17/12) waktu setempat, dengan cuaca dingin dan hujan lebat mengguyur beberapa kota dan wilayah lainnya.

    Trojena, destinasi pegunungan untuk mendaki dan bermain ski yang terletak di Jebel Al-Lawz, Provinsi Tabuk, yang ada di ketinggian 2.600 meter, tertutup hamparan salju dan dilanda hujan ringan.

    Rekaman video yang ditayangkan media terkemuka Qatar, Al Jazeera, pada 17 Desember menunjukkan area pegunungan di Tabuk, Saudi, diselimuti hamparan salju tipis.

    “Salju menyelimuti wilayah utara Arab Saudi di tengah penurunan suhu yang drastis,” tulis Al Jazeera dalam keterangan video tersebut.

    Video lainnya yang direkam di area kota Hail, Saudi bagian barat laut, menunjukkan hujan salju turun di wilayah tersebut.

    Laporan Arab News menyebut bahwa sebagian wilayah Hail dilanda hujan salju pada Rabu (17/12) malam. Hujan ringan hingga sedang dilaporkan mengguyur seluruh wilayah Hail.

    2. Prediksi Pusat Meteorologi Saudi

    Pusat Meteorologi Nasional Saudi memperkirakan akan ada lebih banyak salju di area-area sebelah utara ibu kota Riyadh.

    Dilaporkan Pusat Meteorologi Nasional, seperti dilansir Saudi Press Agency (SPA), bahwa area Provinsi Al-Majmaah dan Al-Ghat, sebelah utara Riyadh, dilanda hujan salju pada Kamis (18/12) pagi waktu setempat, yang menyebabkan penumpukan salju di dataran tinggi dan di area-area terbuka.

    Juru bicara Pusat Meteorologi Nasional, Hussein Al-Qahtani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang melanda area sebelah utara Riyadh merupakan akibat dari massa udara dingin yang bergerak ke area tersebut, disertai awan pembawa hujan.

    Hal tersebut, kata Al-Qahtani, menyebabkan suhu turun di bawah nol derajat Celsius di beberapa lokasi, yang menciptakan kondisi untuk terjadinya hujan salju pada dini hari. Dia memperkirakan bahwa suhu akan tetap rendah selama beberapa jam ke depan, dengan kemungkinan terjadinya embun beku di beberapa area di wilayah utara dan tengah Saudi.

    3. Warga Diimbau Waspada

    Al-Qahtani mengimbau warga untuk berhati-hati, terutama saat berkendara di jalanan terbuka, karena potensi terbentuknya es.

    Terlepas dari imbauan itu, banyak orang berkumpul untuk menyaksikan hujan salju di Al-Mahmaah dan Al-Ghat.

    “Ini belum pernah terjadi sebelumnya, jadi kami sangat senang melihatnya. Saya dan teman-teman saya akan mengalami keajaiban musim dingin ini yang akan menjadi pengalaman luar biasa,” ucap seorang warga Riyadh, Thamr Alotaibi, kepada Arab News.

    Lihat juga Video ‘Salju Abadi di Puncak Jayawijaya Diprediksi Punah pada 2026’:

    Halaman 2 dari 2

    (fas/lir)

  • Israel Dakwa Warga Negara Rusia Jadi Mata-mata Iran

    Israel Dakwa Warga Negara Rusia Jadi Mata-mata Iran

    Tel Aviv

    Otoritas Israel mendakwa seorang warga negara Rusia atas tuduhan menjadi mata-mata Iran. Warga Rusia itu dituduh memotret pelabuhan dan infrastruktur Israel di bawah arahan intelijen Teheran.

    Menurut kepolisian dan badan keamanan internal Israel dalam pernyataan bersama, seperti dilansir Reuters, Jumat (19/12/2025), warga negara Rusia itu dibayar dengan mata uang digital atas aktivitas spionasenya.

    Perang bayangan selama beberapa dekade antara Israel dan Iran meningkat menjadi perang secara langsung pada Juni lalu.

    Israel menyerang berbagai target di dalam wilayah Iran, termasuk melalui operasi yang mengandalkan pasukan komando Mossad yang ditempatkan jauh di dalam negara tersebut.

    Otoritas Israel telah menangkap puluhan warga negaranya sendiri yang diduga menjadi mata-mata Iran, dalam apa yang menurut sumber Reuters merupakan upaya terbesar Teheran dalam beberapa dekade terakhir untuk menyusup ke musuh bebuyutannya.

    Penangkapan tersebut menyusul upaya berulang kali oleh para agen intelijen Iran, yang selama bertahun-tahun, disebut berusaha merekrut warga sipil Israel guna mengumpulkan intelijen dan melakukan serangan-serangan dengan imbalan uang.

    Saat gelombang penangkapan oleh Israel terhadap warga negaranya yang dicurigai menjadi mata-mata untuk Iran marak tahun lalu, misi diplomatik Teheran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mengonfirmasi atau membantah upaya untuk merekrut warga Israel.

    Dikatakan oleh misi diplomatik Iran untuk PBB dalam pernyataan pada tahun 2024 bahwa “dari sudut pandang logis”, setiap upaya semacam itu oleh dinas intelijen Iran akan berfokus pada individu non-Iran dan non-Muslim untuk mengurangi kecurigaan.

    Beberapa waktu terakhir, Iran telah mengeksekusi mati banyak individu yang dituduh memiliki hubungan dengan dinas intelijen Mossad dan memfasilitasi operasi intelijen Israel di dalam wilayah negara tersebut.

    Lihat juga Video ‘Hamas Sebut Israel Langgar Perjanjian Kesepakatan Gencatan Senjata’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Singapura Tangkap Pria Terkait Dalang Utama Sindikat Scam Terbesar Asia

    Singapura Tangkap Pria Terkait Dalang Utama Sindikat Scam Terbesar Asia

    Singapura

    Kepolisian Singapura menangkap seorang warganya yang telah dikenai sanksi Amerika Serikat (AS) karena terkait dengan dalang utama jaringan scam (penipuan) terbesar di Asia. Penangkapan itu berkaitan dengan dugaan tindak pidana pencucian uang.

    Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Jumat (19/12/2025), Kepolisian Singapura mengumumkan seorang warga negaranya yang bernama Nigel Tang Wan Bao Nabil telah ditahan saat kembali ke Singapura pada 11 Desember waktu setempat.

    “Atas dugaan keterlibatan dalam tindak pidana pencucian uang yang terkait dengan Chen Zhi dan perusahaan-perusahaan yang terkait dengannya,” demikian pernyataan Kepolisian Singapura kepada AFP.

    “Investigasi kepolisian sedang berlangsung,” imbuh pernyataan tersebut.

    Chen Zhi merupakan seorang taipan berkewarganegaraan Inggris-Kamboja yang dituduh menjalankan kamp kerja paksa di wilayah Kamboja, yang digunakan sebagai pusat penipuan atau jaringan scam bernilai miliaran dolar Amerika. Chen telah didakwa secara pidana di AS.

    Otoritas Washington telah mengatakan bahwa konglomerat multinasional pimpinan Chen, Prince Holding Group, berfungsi sebagai kedok untuk “salah satu organisasi kriminal transnasional terbesar di Asia”. Prince Group telah membantah tuduhan tersebut.

    Sedangkan Tang, yang berusia 32 tahun, menurut laporan Business Times, merupakan kapten kapal pesiar mewah yang dimiliki Chen.

    Tang merupakan salah satu dari tiga warga negara Singapura yang dijatuhi sanksi, pada Oktober lalu, oleh Departemen Keuangan AS karena hubungannya dengan Chen.

    Pada akhir Oktober, Kepolisian Singapura mengumumkan penyitaan aset-aset terkait Chen yang bernilai lebih dari US$ 115 juta (Rp 1,9 triliun) setelah penggerebekan di beberapa lokasi di negara tersebut.

    Menurut jaksa-jaksa AS, Chen diduga mengarahkan operasional kompleks kerja paksa di seluruh wilayah Kamboja, di mana ratusan pekerja, yang menjadi korban perdagangan manusia, ditahan di fasilitas mirip penjara yang dikelilingi tembok tinggi dan kawat berduri.

    Di bawah ancaman kekerasan, menurut Departemen Kehakiman AS, para pekerja itu dipaksa melakukan aktivis penipuan yang disebut “pig butchering” — skema investasi mata uang kripto yang membangun kepercayaan dengan korban dari waktu ke waktu sebelum mencuri dana mereka.

    Jaksa AS mengatakan bahwa sejak sekitar tahun 2015, Prince Group telah beroperasi di lebih dari 30 negara dengan kedok bisnis real estate, jasa keuangan, dan jasa konsumen yang sah. Hasil dari bisnis-bisnis itu sebagian “dicuci” melalui operasi perjudian dan penambangan mata uang kripto milik Prince Group sendiri.

    Tonton juga video “Penggerebekan Besar-besaran Markas Scam di Myanmar, 1.600 WNA Dibekuk”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Trump Tiba-tiba Setop Program Lotre Green Card, Ada Apa?

    Trump Tiba-tiba Setop Program Lotre Green Card, Ada Apa?

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba menangguhkan atau menghentikan sementara program lotre green card. Program yang dibuat oleh Kongres AS ini, memberikan puluhan ribu green card setiap tahunnya melalui undian bagi warga negara asing.

    Green card merupakan dokumen resmi pemerintah AS yang memberikan status “penduduk tetap” kepada warga negara asing, dan bisa menjadi jalur menuju kewarganegaraan AS setelah beberapa tahun bagi para pemegangnya.

    Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, seperti dilansir Associated Press, Jumat (19/12/2025), mengumumkan kebijakan terbaru Trump itu dalam sebuah postingan via media sosial X pada Kamis (18/12) waktu setempat.

    Dalam postingannya, Noem mengatakan bahwa atas arahan Trump, dirinya memerintahkan agar Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS menghentikan sementara program lotre green card.

    Dia menyinggung tersangka penembakan di Brown University yang menewaskan dua mahasiswa dan penembakan fatal seorang profesor fisika dari Massachusetts Institute of Technology, yang disebutnya datang ke AS melalui program tersebut.

    “Individu keji ini seharusnya tidak pernah diizinkan masuk ke negara kita,” kata Noem dalam pernyataannya, merujuk pada tersangka penembakan tersebut.

    Otoritas setempat mengatakan bahwa tersangka yang diidentifikasi sebagai Claudio Neves Valente, merupakan seorang warga negara Portugal yang berusia 48 tahun dan pernah menjadi mahasiswa di Brown University.

    Kepala Kepolisian Providence, Oscar Perez, mengonfirmasi bahwa Valente ditemukan tewas bunuh diri pada Kamis (18/12) malam, di dalam sebuah unit penyimpanan di area New Hampshire, bersama dengan dua senjata api. Dia diyakini bertindak sendirian dalam dua penembakan tersebut.

    Menurut surat pernyataan dari detektif Kepolisian Providence, Valente kuliah di Brown University dengan visa pelajar mulai tahun 2000 lalu. Pada tahun 2017, dia mendapatkan visa imigran keberagaman dan beberapa bulan kemudian, dia memperoleh status “penduduk tetap” yang sah.

    Program visa keberagaman memberikan hingga 50.000 green card setiap tahun melalui lotre atau undian, bagi warga negara asing dari negara-negara yang kurang terwakili di AS, banyak di antaranya dari Afrika. Program ini dibuat oleh Kongres AS, sehingga kebijakan baru Trump ini hampir pasti menghadapi gugatan hukum.

    Hampir 20 juta orang mendaftar program lotre green card untuk tahun 2025, dengan lebih dari 131.000 orang terpilih. Setelah memenangkan undian dalam program itu, para pemenang harus menjalani pemeriksaan untuk mendapatkan izin masuk ke AS. Warga negara Portugal, asal Valente, hanya memenangkan 38 slot dalam program tersebut.

    Para pemenang undian diundang untuk mengajukan permohonan green card, di mana mereka akan diwawancarai di konsulat dan tunduk pada persyaratan serta pemeriksaan yang sama seperti pendaftar green card lainnya.

    Tonton juga video “Trump Resmi Longgarkan Peraturan Ganja Demi Medis”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Jakarta

    Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan sebuah dekret yang mengklasifikasikan fentanil sebagai “senjata pemusnah massal” — sebuah istilah politik yang sangat radikal untuk suatu zat yang telah secara diam-diam membunuh manusia dalam jumlah besar selama puluhan tahun.”Obat ini bahkan lebih parah dari efek ledakan bom,” ujar Trump. Ia mengklaim bahwa sedikitnya 200.000 hingga 300.000 orang per tahun meninggal dunia akibat penggunaan fentanil.

    Angka sebenarnya, sebagaimana dicatat oleh otoritas kesehatan masyarakat AS, yaitu Centers for Disease Control and Prevention (CDC), memang mengkhawatirkan, tetapi jauh lebih rendah dari klaim tersebut. CDC melaporkan bahwa lebih dari 76.000 orang meninggal akibat overdosis fentanil pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024, jumlah tersebut turun menjadi 48.422 kematian. Di Eropa, jumlah kematian akibat fentanil tetap berada di kisaran ratusan orang.

    Apa yang membuat obat ini—yang sebenarnya dirancang untuk meredakan rasa sakit yang ekstrem – menjadi begitu berbahaya? Dan apakah benar fentanil dapat digambarkan sebagai sebuah senjata pemusnah massal?

    Makna resmi dari kategorisasi baru ini

    Pengkategorian ulang yang dilakukan oleh Trump berarti bahwa fentanil tidak lagi hanya diatur oleh undang-undang kesehatan dan pidana. Kini, fentanil juga dianggap sebagai isu keamanan nasional. Badan intelijen dan militer, secara prinsip, dapat terlibat lebih jauh—misalnya dalam memerangi kartel narkoba, atau jika seseorang dicurigai merencanakan penggunaan fentanil dalam suatu serangan.

    Dalam studinya pada tahun 2019 berjudul “Fentanyl as a Chemical Weapon” (Fentanil sebagai Senjata Kimia), Center for the Study of Weapons of Mass Destruction (CSWMD) menyimpulkan bahwa tidak tampak adanya “dasar atau kebutuhan apa pun untuk secara resmi menetapkan senyawa fentanil sebagai senjata pemusnah massal, setidaknya bagi Departemen Pertahanan AS.”

    CSWMD berada di bawah Institute for National Strategic Studies, sebuah departemen dari National Defense University (NDU) di Washington, D.C., yang didanai oleh Departemen Pertahanan AS.

    Namun demikian, penulis laporan tersebut, John P. Caves, juga memperingatkan bahwa “setidaknya terdapat risiko bahwa senyawa fentanil dapat digunakan sebagai senjata kimia.” Ia merekomendasikan agar penggunaan agen berbentuk aerosol yang mempengaruhi sistem saraf—seperti fentanil—dalam penegakan hukum harus dilarang secara tegas, karena hal itu “tidak sejalan dengan Konvensi Senjata Kimia.” Ia juga menulis bahwa Departemen Pertahanan seharusnya “terus meningkatkan pemahamannya mengenai senyawa fentanil sebagai potensi senjata kimia.”

    Keputusan Trump dinilai sebagai ‘manuver politik’

    National Public Radio (NPR) berbicara dengan banyak pakar kesehatan masyarakat dan penanggulangan kecanduan, yang menekankan bahwa secara teknis sangat sulit untuk menggunakan fentanil layaknya senjata pemusnah massal konvensional dalam suatu serangan teroris. Mereka mengatakan bahwa sebagian besar kematian akibat fentanil terjadi pada pengguna narkoba jalanan yang telah dicampur atau dipalsukan, bukan akibat sebuah serangan yang disengaja.

    Para ahli di bidang ini menyatakan bahwa pengkategorian baru tersebut tidak akan mengurangi ketersediaan fentanil di jalanan maupun jumlah kematian akibat overdosis. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai bentuk militerisasi lebih lanjut dari “perang melawan narkoba.” Sementara itu, upaya pencegahan, pengobatan, dan kebijakan sosial tetap kekurangan dana dan masih menerima perhatian yang jauh dari memadai.

    Langkah ini juga membuat kerja sama internasional menjadi lebih sulit—khususnya dengan Cina, terkait dengan zat-zat prekursor—karena menimbulkan kesan bahwa Beijing secara tidak langsung dituduh mendukung produksi “senjata pemusnah massal.”

    Orang-orang dalam komunitas keamanan yang mendukung langkah ini, serta organisasi korban seperti Families Against Fentanyl, berpendapat bahwa jumlah kematian dan kerusakan ekonomi yang ditimbulkan setara dengan sebuah “senjata pemusnah massal dalam gerak lambat”, sehingga negara dinilai sah mengerahkan seluruh instrumennya, mulai dari intelijen dan militer hingga tekanan internasional.

    Fentanil: Asal-usul, penggunaan medis, dan risikonya

    Fentanil adalah opioid sintetis. Ia merupakan obat pereda nyeri yang sangat kuat, yang terutama digunakan dalam anestesi dan dalam perawatan akhir hayat bagi pasien kanker stadium terminal.

    Kekuatan fentanil jauh melebihi opioid klasik seperti morfin atau oksikodon. Bahkan dalam jumlah yang sangat kecil, fentanil sudah cukup untuk menghambat rasa sakit yang parah. Fentanil awalnya dikembangkan sebagai anestesi yang sangat efektif dan mudah dikendalikan. Dalam dunia medis, obat ini dianggap penting, tapi dengan dosis dan cara pemberian yang diawasi secara ketat.

    Cara kerja fentanil — hanya beberapa miligram bisa mematikan

    Fentanil bekerja dengan mengikat reseptor opioid di sistem saraf pusat, menekan sensasi nyeri, dan sering kali memicu perasaan euforia serta relaksasi yang kuat. Justru kombinasi inilah yang membuatnya menarik sebagai narkoba rekreasional sekaligus sangat berbahaya. Hanya beberapa miligram dapat menurunkan dorongan pernapasan sedemikian rupa sehingga seseorang hanya bernapas sangat dangkal atau bahkan berhenti bernapas sama sekali.

    Akibatnya adalah kekurangan oksigen, kehilangan kesadaran, koma, dan dalam skenario terburuk, henti napas, yang dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat. Fentanil juga sangat adiktif, dan tingkat toleransi pada pecandu meningkat dengan cepat, sehingga mereka terdorong untuk menaikkan dosis. Jarak antara dosis yang menimbulkan efek “high” dan dosis yang mematikan sangat tipis.

    Tablet, plester, dan campuran yang mematikan

    Di rumah sakit, fentanil biasanya diberikan melalui suntikan intravena atau dalam bentuk plester yang menyalurkan obat melalui kulit secara perlahan dan terus-menerus. Di pasar gelap, fentanil umumnya tersedia dalam bentuk bubuk atau pil hasil produksi ilegal. Semakin sering pula ditemukan dalam bentuk yang dapat diisap atau dihirup.

    Masalahnya adalah produsen ilegal tidak menakar dosis secara akurat. Mereka juga mencampur fentanil dengan obat lain, seperti kokain atau heroin, sehingga konsumen tidak pernah tahu seberapa kuat produk yang mereka gunakan.

    Fentanil sebanyak dua miligram saja sudah dapat mematikan. Cukup dengan satu plester yang tercampur buruk atau satu tarikan terlalu banyak. Bahkan plester fentanil bekas masih dapat mengandung cukup zat aktif untuk membahayakan nyawa seseorang jika disalahgunakan.

    Rantai pasokan global: Cina, Amerika Latin, dan Amerika Serikat

    Fentanil adalah zat sepenuhnya sintetis yang dibuat di laboratorium kimia. Ia sudah beredar sebagai narkoba ilegal sejak tahun 1970-an, dan produksi yang tidak terkendali meningkat pesat sejak tahun 1980-an.

    Saat ini, prekursor dan komponen kimia dari Cina merupakan bagian penting dari rantai pasokan ilegal. Bahan-bahan tersebut diproses menjadi bubuk dan pil fentanil, terutama di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dari sana, narkoba ini diselundupkan ke Eropa dan terutama ke Amerika Serikat.

    Pada tahun 2022, Drug Enforcement Administration (DEA) AS menyita lebih dari 50,6 juta pil palsu yang mengandung fentanil, serta sekitar 4,5 ton bubuk fentanil. DEA memperkirakan bahwa jumlah ini setara dengan lebih dari 379 juta dosis yang berpotensi mematikan. Menurut Anne Milgram, kepala DEA saat itu, jumlah tersebut “cukup … untuk membunuh setiap warga Amerika.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.

    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

    Editor: Yuniman Farid

    Tonton juga video “Trump Resmi Longgarkan Peraturan Ganja Demi Medis”

    (ita/ita)

  • Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Jakarta

    Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan sebuah dekret yang mengklasifikasikan fentanil sebagai “senjata pemusnah massal” — sebuah istilah politik yang sangat radikal untuk suatu zat yang telah secara diam-diam membunuh manusia dalam jumlah besar selama puluhan tahun.”Obat ini bahkan lebih parah dari efek ledakan bom,” ujar Trump. Ia mengklaim bahwa sedikitnya 200.000 hingga 300.000 orang per tahun meninggal dunia akibat penggunaan fentanil.

    Angka sebenarnya, sebagaimana dicatat oleh otoritas kesehatan masyarakat AS, yaitu Centers for Disease Control and Prevention (CDC), memang mengkhawatirkan, tetapi jauh lebih rendah dari klaim tersebut. CDC melaporkan bahwa lebih dari 76.000 orang meninggal akibat overdosis fentanil pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024, jumlah tersebut turun menjadi 48.422 kematian. Di Eropa, jumlah kematian akibat fentanil tetap berada di kisaran ratusan orang.

    Apa yang membuat obat ini—yang sebenarnya dirancang untuk meredakan rasa sakit yang ekstrem – menjadi begitu berbahaya? Dan apakah benar fentanil dapat digambarkan sebagai sebuah senjata pemusnah massal?

    Makna resmi dari kategorisasi baru ini

    Pengkategorian ulang yang dilakukan oleh Trump berarti bahwa fentanil tidak lagi hanya diatur oleh undang-undang kesehatan dan pidana. Kini, fentanil juga dianggap sebagai isu keamanan nasional. Badan intelijen dan militer, secara prinsip, dapat terlibat lebih jauh—misalnya dalam memerangi kartel narkoba, atau jika seseorang dicurigai merencanakan penggunaan fentanil dalam suatu serangan.

    Dalam studinya pada tahun 2019 berjudul “Fentanyl as a Chemical Weapon” (Fentanil sebagai Senjata Kimia), Center for the Study of Weapons of Mass Destruction (CSWMD) menyimpulkan bahwa tidak tampak adanya “dasar atau kebutuhan apa pun untuk secara resmi menetapkan senyawa fentanil sebagai senjata pemusnah massal, setidaknya bagi Departemen Pertahanan AS.”

    CSWMD berada di bawah Institute for National Strategic Studies, sebuah departemen dari National Defense University (NDU) di Washington, D.C., yang didanai oleh Departemen Pertahanan AS.

    Namun demikian, penulis laporan tersebut, John P. Caves, juga memperingatkan bahwa “setidaknya terdapat risiko bahwa senyawa fentanil dapat digunakan sebagai senjata kimia.” Ia merekomendasikan agar penggunaan agen berbentuk aerosol yang mempengaruhi sistem saraf—seperti fentanil—dalam penegakan hukum harus dilarang secara tegas, karena hal itu “tidak sejalan dengan Konvensi Senjata Kimia.” Ia juga menulis bahwa Departemen Pertahanan seharusnya “terus meningkatkan pemahamannya mengenai senyawa fentanil sebagai potensi senjata kimia.”

    Keputusan Trump dinilai sebagai ‘manuver politik’

    National Public Radio (NPR) berbicara dengan banyak pakar kesehatan masyarakat dan penanggulangan kecanduan, yang menekankan bahwa secara teknis sangat sulit untuk menggunakan fentanil layaknya senjata pemusnah massal konvensional dalam suatu serangan teroris. Mereka mengatakan bahwa sebagian besar kematian akibat fentanil terjadi pada pengguna narkoba jalanan yang telah dicampur atau dipalsukan, bukan akibat sebuah serangan yang disengaja.

    Para ahli di bidang ini menyatakan bahwa pengkategorian baru tersebut tidak akan mengurangi ketersediaan fentanil di jalanan maupun jumlah kematian akibat overdosis. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai bentuk militerisasi lebih lanjut dari “perang melawan narkoba.” Sementara itu, upaya pencegahan, pengobatan, dan kebijakan sosial tetap kekurangan dana dan masih menerima perhatian yang jauh dari memadai.

    Langkah ini juga membuat kerja sama internasional menjadi lebih sulit—khususnya dengan Cina, terkait dengan zat-zat prekursor—karena menimbulkan kesan bahwa Beijing secara tidak langsung dituduh mendukung produksi “senjata pemusnah massal.”

    Orang-orang dalam komunitas keamanan yang mendukung langkah ini, serta organisasi korban seperti Families Against Fentanyl, berpendapat bahwa jumlah kematian dan kerusakan ekonomi yang ditimbulkan setara dengan sebuah “senjata pemusnah massal dalam gerak lambat”, sehingga negara dinilai sah mengerahkan seluruh instrumennya, mulai dari intelijen dan militer hingga tekanan internasional.

    Fentanil: Asal-usul, penggunaan medis, dan risikonya

    Fentanil adalah opioid sintetis. Ia merupakan obat pereda nyeri yang sangat kuat, yang terutama digunakan dalam anestesi dan dalam perawatan akhir hayat bagi pasien kanker stadium terminal.

    Kekuatan fentanil jauh melebihi opioid klasik seperti morfin atau oksikodon. Bahkan dalam jumlah yang sangat kecil, fentanil sudah cukup untuk menghambat rasa sakit yang parah. Fentanil awalnya dikembangkan sebagai anestesi yang sangat efektif dan mudah dikendalikan. Dalam dunia medis, obat ini dianggap penting, tapi dengan dosis dan cara pemberian yang diawasi secara ketat.

    Cara kerja fentanil — hanya beberapa miligram bisa mematikan

    Fentanil bekerja dengan mengikat reseptor opioid di sistem saraf pusat, menekan sensasi nyeri, dan sering kali memicu perasaan euforia serta relaksasi yang kuat. Justru kombinasi inilah yang membuatnya menarik sebagai narkoba rekreasional sekaligus sangat berbahaya. Hanya beberapa miligram dapat menurunkan dorongan pernapasan sedemikian rupa sehingga seseorang hanya bernapas sangat dangkal atau bahkan berhenti bernapas sama sekali.

    Akibatnya adalah kekurangan oksigen, kehilangan kesadaran, koma, dan dalam skenario terburuk, henti napas, yang dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat. Fentanil juga sangat adiktif, dan tingkat toleransi pada pecandu meningkat dengan cepat, sehingga mereka terdorong untuk menaikkan dosis. Jarak antara dosis yang menimbulkan efek “high” dan dosis yang mematikan sangat tipis.

    Tablet, plester, dan campuran yang mematikan

    Di rumah sakit, fentanil biasanya diberikan melalui suntikan intravena atau dalam bentuk plester yang menyalurkan obat melalui kulit secara perlahan dan terus-menerus. Di pasar gelap, fentanil umumnya tersedia dalam bentuk bubuk atau pil hasil produksi ilegal. Semakin sering pula ditemukan dalam bentuk yang dapat diisap atau dihirup.

    Masalahnya adalah produsen ilegal tidak menakar dosis secara akurat. Mereka juga mencampur fentanil dengan obat lain, seperti kokain atau heroin, sehingga konsumen tidak pernah tahu seberapa kuat produk yang mereka gunakan.

    Fentanil sebanyak dua miligram saja sudah dapat mematikan. Cukup dengan satu plester yang tercampur buruk atau satu tarikan terlalu banyak. Bahkan plester fentanil bekas masih dapat mengandung cukup zat aktif untuk membahayakan nyawa seseorang jika disalahgunakan.

    Rantai pasokan global: Cina, Amerika Latin, dan Amerika Serikat

    Fentanil adalah zat sepenuhnya sintetis yang dibuat di laboratorium kimia. Ia sudah beredar sebagai narkoba ilegal sejak tahun 1970-an, dan produksi yang tidak terkendali meningkat pesat sejak tahun 1980-an.

    Saat ini, prekursor dan komponen kimia dari Cina merupakan bagian penting dari rantai pasokan ilegal. Bahan-bahan tersebut diproses menjadi bubuk dan pil fentanil, terutama di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dari sana, narkoba ini diselundupkan ke Eropa dan terutama ke Amerika Serikat.

    Pada tahun 2022, Drug Enforcement Administration (DEA) AS menyita lebih dari 50,6 juta pil palsu yang mengandung fentanil, serta sekitar 4,5 ton bubuk fentanil. DEA memperkirakan bahwa jumlah ini setara dengan lebih dari 379 juta dosis yang berpotensi mematikan. Menurut Anne Milgram, kepala DEA saat itu, jumlah tersebut “cukup … untuk membunuh setiap warga Amerika.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.

    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

    Editor: Yuniman Farid

    Tonton juga video “Trump Resmi Longgarkan Peraturan Ganja Demi Medis”

    (ita/ita)

  • Fakta-fakta Arab Saudi Diselimuti Salju

    Salju Selimuti Arab Saudi, Suhu Turun di Bawah Nol

    Riyadh

    Salju menyelimuti beberapa wilayah Arab Saudi pada Rabu (17/12) dan Kamis (18/12) waktu setempat. Hamparan salju tipis mengubah area-area pegunungan yang dikelilingi gurun berubah menjadi negeri ajaib musim dingin saat cuaca dingin menyelimuti negara tersebut.

    Kemunculan salju, seperti dilansir Arab News, Jumat (19/12/2025), melanda sebagian wilayah utara Saudi pada Rabu (17/12) waktu setempat, dengan cuaca dingin dan hujan lebat mengguyur beberapa kota dan wilayah lainnya.

    Trojena, destinasi pegunungan untuk mendaki dan bermain ski yang terletak di Jebel Al-Lawz, Provinsi Tabuk, yang ada di ketinggian 2.600 meter, tertutup hamparan salju dan dilanda hujan ringan.

    Rekaman video yang ditayangkan media terkemuka Qatar, Al Jazeera, pada 17 Desember menunjukkan area pegunungan di Tabuk, Saudi, diselimuti hamparan salju tipis.

    “Salju menyelimuti wilayah utara Arab Saudi di tengah penurunan suhu yang drastis,” tulis Al Jazeera dalam keterangan video tersebut.

    Video lainnya yang direkam di area kota Hail, Saudi bagian barat laut, menunjukkan hujan salju turun di wilayah tersebut.

    Laporan Arab News menyebut bahwa sebagian wilayah Hail dilanda hujan salju pada Rabu (17/12) malam. Hujan ringan hingga sedang dilaporkan mengguyur seluruh wilayah Hail.

    Pusat Meteorologi Nasional Saudi memperkirakan akan ada lebih banyak salju di area-area sebelah utara ibu kota Riyadh.

    Dilaporkan Pusat Meteorologi Nasional, seperti dilansir Saudi Press Agency (SPA), bahwa area Provinsi Al-Majmaah dan Al-Ghat, sebelah utara Riyadh, dilanda hujan salju pada Kamis (18/12) pagi waktu setempat, yang menyebabkan penumpukan salju di dataran tinggi dan di area-area terbuka.

    Juru bicara Pusat Meteorologi Nasional, Hussein Al-Qahtani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang melanda area sebelah utara Riyadh merupakan akibat dari massa udara dingin yang bergerak ke area tersebut, disertai awan pembawa hujan.

    Hal tersebut, kata Al-Qahtani, menyebabkan suhu turun di bawah nol derajat Celsius di beberapa lokasi, yang menciptakan kondisi untuk terjadinya hujan salju pada dini hari. Dia memperkirakan bahwa suhu akan tetap rendah selama beberapa jam ke depan, dengan kemungkinan terjadinya embun beku di beberapa area di wilayah utara dan tengah Saudi.

    Al-Qahtani mengimbau warga untuk berhati-hati, terutama saat berkendara di jalanan terbuka, karena potensi terbentuknya es.

    Terlepas dari imbauan itu, banyak orang berkumpul untuk menyaksikan hujan salju di Al-Mahmaah dan Al-Ghat.

    “Ini belum pernah terjadi sebelumnya, jadi kami sangat senang melihatnya. Saya dan teman-teman saya akan mengalami keajaiban musim dingin ini yang akan menjadi pengalaman luar biasa,” ucap seorang warga Riyadh, Thamr Alotaibi, kepada Arab News.

    Lihat juga Video ‘Elon Musk-Jensen Huang akan Bangun Pusat Data AI di Arab Saudi’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Alasan Banyak Beredarnya Informasi Salah di Medsos Terkait Serangan Bondi

    Alasan Banyak Beredarnya Informasi Salah di Medsos Terkait Serangan Bondi

    Menurut seorang pakar media digital, platform media sosial X sudah mendorong penyebaran informasi yang menyesatkan terkait serangan teroris di Pantai Bondi, yang menewaskan 15 orang dan puluhan lain terluka.

    Beberapa jam setelah penyerangan saat umat Yahudi sedang merayakan Hanukkah, media sosial dibanjiri dengan klaim palsu dan menyesatkan.

    Seorang warga Sydney, Naveed Akram, mengatakan ia menerima ancaman kematian setelah nama dan fotonya disebut di X sebagai salah satu pelaku penembakan.

    Beberapa unggahan bahkan menyebarkan informasi pribadinya.

    Baru-baru ini, Naveed, yang punya nama yang sama dengan salah satu pelaku penembakan, mengunggah video di halaman Facebook konsulat Pakistan di Sydney.

    Ia memohon agar orang-orang berhenti menyebarkan informasi yang salah.

    “Benar-benar mimpi buruk bagi saya, melihat foto wajah saya disebarkan di media sosial, disebut sebagai pelaku penembakan,” kata warga negara Pakistan itu kepada ABC.

    “Teman-teman menemani saya ke kantor polisi untuk melaporkannya, tetapi polisi mengatakan mereka tidak dapat berbuat apa-apa dan menyuruh saya untuk menonaktifkan akun saya.”

    Beberapa unggahan media dan artikel yang menyebutkan dirinya sebagai salah satu pelaku penembakan sudah dihapus, setelah Naveed melaporkannya. Tapi yang lain masih ditemukan di X dan platform lainnya.

    “Saya masih gemetar. Ini telah membahayakan saya, dan juga keluarga saya di Pakistan,” katanya.

    “Ibu saya menangis dan merasa dalam bahaya.”

    Para pengguna media sosial juga mengunggah video kembang api, dan menyebutnya sebagai acara merayakan serangan di Bondi oleh “orang Arab” atau “Islamis”.

    Namun, sebuah organisasi komunitas lokal mengatakan pertunjukan tersebut adalah untuk perayaan Natal.

    Salah satu fitur di X, ‘Community notes’, kemudian ditambahkan ke salah satu unggahan, dan beberapa sudah dihapus. Tapi pengguna lain terus menyebarkannya dan salah mengartikan video tersebut.

    Informasi yang salah lainnya yang dibagikan di X termasuk menyebutkan pelaku penembakan sebagai mantan anggota Pasukan Pertahanan Israel (IDF), atau sebagai orang Pakistan, serta menyebutkan serangan susulan terjadi di sejumlah daerah di Sydney, serta menyebutkan kalau tragedi itu adalah operasi yang salah.

    Kepolisian di negara bagian New South Wales sudah mengonfirmasi jika salah satu pelaku penembakan berasal dari India, sementara yang lain lahir di Australia.

    Ada faktor ekonomi di sekitar disinformasi

    Pakar disinformasi Timothy Graham mengatakan X terus menjadi platform berpengaruh di mana “narasi palsu” mulai menjadi viral sebelum menyebar lebih luas.

    Narasi ini bisa jadi menyesatkan secara tidak sengaja, atau sengaja menipu, kata Dr. Graham, seorang profesor di bidang Media Digital di Queensland University of Technology.

    “Kesimpulan terbesar bagi saya adalah platform, khususnya X, benar-benar mendorong hal ini melalui fitur desain mereka… sayangnya, mereka mendorong dan memberi reward [ke konten yang menyesatkan].”

    Dr. Graham mengatakan pendorong terbesar banyaknya informasi yang salah adalah fitur monetisasi yang dimiliki X, di mana pengguna dibayar untuk ‘engagement’ di unggahan mereka.

    Situs X menyatakan: “Pendapatan dihitung berdasarkan engagements terverifikasi dengan unggahan Anda, seperti likes dan replies.”

    Dr. Graham mengatakan orang-orang butuh informasi setelah ada kejadian besar, seperti penembakan di Pantai Bondi.

    Selain banyak konten menyesatkan dimaksudkan untuk mengeksploitasi kebutuhan, Dr. Graham mengatakan sebagian besar pembuatan konten dimotivasi oleh faktor finansial.

    “Orang-orang termotivasi untuk membagikan konten, yang mereka tahu akan mendapatkan banyak klik, terlepas dari kualitasnya, terlepas dari apakah itu benar atau faktual, hanya karena mereka dapat menghasilkan uang, dan ini jelas merupakan masalah yang sangat besar,” kata Dr. Graham.

    “Pada dasarnya ada ekonomi di sekitar disinformasi sekarang.”

    Syarat dan ketentuan ‘Creator Revenue Sharing’ di X menyatakan “konten yang berkaitan dengan tragedi, konflik, kekerasan massal, atau eksploitasi isu politik atau sosial yang kontroversial” adalah konten yang dibatasi dan “mungkin menghadapi pembatasan monetisasi”.

    Namun, tidak jelas kapan syarat dan ketentuan tersebut diberlakukan.

    Untuk bergabung dengan program monetisasi, akun harus sudah memiliki jumlah interaksi yang signifikan, termasuk 5 juta “tayangan organik” dalam tiga bulan terakhir dan setidaknya 500 pengikut terverifikasi. Mereka juga harus menjadi pelanggan berbayar X.

    ABC sudah mencoba menghubungi X untuk meminta komentar.

    Moderasi melalui ‘community notes’

    Dr. Graham mengatakan sistem moderasi yang dilakukan ‘community notes’ di X tidak cocok saat ada perkembangan berita yang cepat dan memecah belah warga, seperti serangan teroris di Bondi.

    Dalam ‘community notes’ pengguna dapat “menambahkan catatan bermanfaat secara kolaboratif ke unggahan yang mungkin menyesatkan”.

    X mengatakan ‘community notes’ hanya muncul ketika unggahan dinilai “bermanfaat” oleh orang-orang dari berbagai perspektif.

    “Untuk mengidentifikasi catatan yang bermanfaat bagi banyak orang, catatan memerlukan kesepakatan antara kontributor, yang terkadang berbeda pendapat dalam penilaian mereka sebelumnya,” demikian pernyataan di situs X.

    Dr. Graham mengatakan ‘community notes’ bisa berhasil untuk beberapa konten, tapi tidak untuk peristiwa yang memecah belah, yang memerlukan kesepakatan antara orang-orang yang memiliki pandangan yang sangat berlawanan.

    Pada akhirnya ‘community notes’ membutuhkan waktu terlalu lama atau tidak pernah ditambahkan, katanya.

    “Sementara itu, mereka terus mengumpulkan banyak penonton. Mereka diberitakan. Mereka diliput oleh [saluran lain].

    “Ini menyebar seperti api, dan Anda tahu 10, 12, 24 jam kemudian kita masih belum melihat konteks apa pun yang ditambahkan.”

    Misinformasi di media sosial adalah ‘masalah infrastruktur’

    Dr. Graham mengatakan solusi untuk misinformasi di media sosial adalah kompleks dan harus menemukan keseimbangan antara kebebasan berbicara dan melindungi publik.

    Namun, ia mengatakan beberapa langkah penting bisa diambil, seperti soal monetisasi dan juga membuat data platform media sosial lebih mudah diakses.

    “Kita hidup di zaman kegelapan akses ke data media sosial,” katanya.

    Ia mengatakan para pemangku kepentingan memahami seberapa banyak ujaran kebencian dan jenis apa yang terjadi, serta tingkat campur tangan asing.

    Sehingga diperlukan regulasi yang mengharuskan platform untuk membagikan spesifikasi algoritma mereka, cara kerjanya, dan konten apa yang mereka promosikan, katanya.

    Awal bulan ini, Uni Eropa mendenda X sebesar 120 juta euro karena pelanggaran undang-undang layanan digital, termasuk soal adanya “hambatan yang tidak perlu” bagi para peneliti yang mencoba mengakses data publik.

    “Undang-Undang Layanan Digital Uni Eropa menghadapi masalah ini secara langsung, dan saya pikir mereka melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam mencoba menembus platform tersebut,” kata Dr. Graham.

    “Mereka perlu berbagi data dengan masyarakat. Kita perlu tahu apa yang terjadi.”

    Dr. Graham mengatakan misinformasi di media sosial adalah “masalah infrastruktur”.

    “Kita perlu menyadari platform seperti X sekarang adalah infrastruktur modern, seperti jembatan adalah infrastruktur, seperti kabel telepon adalah infrastruktur,” katanya.

    “Jika ada sesuatu yang bermasalah tentang hal itu, maka kita perlu mengubahnya; jika tidak, mereka akan terus melakukan hal yang sama.”

    Tonton juga video “Tangis Ibu Cerita Detik-detik Anaknya Tewas Ditembak di Pantai Bondi”