Category: Detik.com Internasional

  • Presiden Brasil Tawarkan Diri Jadi Mediator Trump-Maduro Demi Cegah Perang

    Presiden Brasil Tawarkan Diri Jadi Mediator Trump-Maduro Demi Cegah Perang

    Brasilia

    Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menawarkan diri untuk menjadi mediator antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, yang bersitegang beberapa waktu terakhir. Lula da Silva mengatakan dirinya bersedia menjadi mediator demi “menghindari konflik bersenjata” antara Washington dan Caracas.

    Lula da Silva, yang merupakan salah satu pemimpin paling berpengaruh di Amerika Latin, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), mengatakan kepada wartawan bahwa Brasil “sangat khawatir” tentang krisis yang semakin meningkat antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

    Tokoh sayap kiri berusia 80 tahun itu mengungkapkan bahwa dirinya telah memberitahu Trump jika “masalah tidak akan terselesaikan dengan baku tembak, bahwa lebih baik duduk bersama untuk mencari solusi”.

    Lula da Silva juga mengatakan dirinya telah menawarkan bantuan Brasil kepada kedua pemimpin untuk “menghindari konflik bersenjata di Amerika Latin” dan mungkin akan berbicara lagi dengan Trump sebelum Natal untuk menyampaikan kembali tawarannya.

    “Agar kita dapat mencapai kesepakatan diplomatik dan bukan perang saudara,” ujarnya.

    “Saya siap membantu Venezuela dan AS untuk berkontribusi pada solusi damai di benua kita,” tegas Lula da Silva dalam pernyataannya.

    Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin kartel perdagangan narkoba. AS telah melancarkan rentetan serangan mematikan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba, menyita kapal tanker minyak, dan menjatuhkan sanksi kepada kerabat Maduro.

    Trump juga mengawasi pengerahan militer besar-besaran di lepas pantai Venezuela, dan pekan ini mengumumkan blokade terhadap “kapal minyak yang dikenai sanksi” yang berlayar dari dan ke Caracas.

    Sementara Maduro menuduh AS berupaya menggulingkan rezimnya, bukan hanya memerangi perdagangan narkoba.

    Lula da Silva, dalam pernyataannya, mengakui dirinya khawatir tentang apa yang ada di balik operasi militer AS di kawasan Amerika Latin.

    “Ini tidak mungkin hanya tentang menggulingkan Maduro. Apa kepentingan lainnya yang belum kita ketahui?” ucapnya, sembari menambahkan bahwa dirinya tidak mengetahui apakah itu soal minyak Venezuela, atau mineral penting, atau logam tanah jarang.

    “Tidak ada yang pernah mengatakan secara konkret mengapa perang ini diperlukan,” kata Lula da Silva.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Trump Akui Tak Kesampingkan Perang dengan Venezuela

    Trump Akui Tak Kesampingkan Perang dengan Venezuela

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membiarkan kemungkinan tetap terbuka untuk perang melawan Venezuela. Trump mengatakan bahwa Washington tidak mengesampingkan kemungkinan tindakan militer terhadap Caracas.

    Ketegangan antara Trump dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mencapai titik kritis beberapa waktu terakhir, terutama setelah Presiden AS itu membahas soal kehadiran angkatan laut besar-besaran yang mengepung Caracas dan memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker minyak di negara tersebut.

    Saat ditanya dalam wawancara dengan media terkemuka AS, NBC News, soal potensi terjadinya perang dengan Venezuela, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Sabtu (20/12/2025), Trump mengatakan: “Saya tidak mengesampingkannya, tidak.”

    Trump menolak untuk mengatakan secara jelas apakah dirinya ingin menggulingkan Maduro, meskipun dalam wawancara sebelumnya dia menyebut kekuasaan Presiden Venezuela itu tinggal “menghitung hari”.

    “Dia (Maduro-red) mengetahui persis apa yang saya inginkan,” ucap Trump, sembari mengisyaratkan penyitaan tambahan terhadap kapal tanker minyak.

    “Dia mengetahui lebih baik daripada siapa pun,” sebutnya.

    Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio juga menolak untuk menjawab secara eksplisit ketika ditanya wartawan soal apakah AS bermaksud menggulingkan rezim Maduro.

    “Jelas bahwa status quo saat ini dengan rezim Venezuela tidak dapat ditoleransi oleh Amerika Serikat,” ucapnya. “Jadi iya, tujuan kami adalah untuk mengubah dinamika itu, dan itulah mengapa presiden melakukan apa yang dia lakukan,” kata Rubio merujuk pada Trump.

    Trump, awal pekan ini, menyatakan bahwa Venezuela “sepenuhnya dikelilingi oleh armada terbesar yang pernah dikumpulkan dalam sejarah Amerika Selatan”. Dia bersumpah bahwa AS akan menghentikan pengiriman minyak Venezuela, yang dia gambarkan sebagai penegakan sanksi yang diberlakukan secara sepihak oleh Washington.

    Rubio menambahkan: “Tidak ada yang akan menghalangi kemampuan kami untuk menegakkan hukum AS dalam hal sanksi.”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Pemerintahan Trump Mulai Rilis Dokumen Epstein ke Publik

    Pemerintahan Trump Mulai Rilis Dokumen Epstein ke Publik

    Washington DC

    Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mulai merilis sejumlah besar dokumen yang ditunggu-tunggu sejak lama dari penyelidikan kasus Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang meninggal di dalam penjara. Kasus Epstein tergolong sangat sensitif secara politik karena menyeret nama-nama besar.

    Dokumen-dokumen kasus Epstein, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), dirilis ke publik mulai Jumat (19/12) waktu setempat, dengan banyak berkas yang disensor oleh Departemen Kehakiman AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

    Di antara materi yang diungkap ke publik itu terdapat beberapa foto yang menunjukkan mantan Presiden Bill Clinton dan tokoh-tokoh terkenal lainnya, termasuk vokalis Rolling Stones Mick Jagger, sedang bersama Epstein.

    Namun penyensoran sebagian besar dokumen — dikombinasikan dengan kontrol ketat oleh para pejabat pemerintahan Trump — telah memicu keraguan apakah pengungkapan ini akhirnya akan meredam teori konspirasi yang telah lama beredar mengenai upaya menutup-nutupi kasus tingkat tinggi.

    Kendati demikian, dokumen-dokumen itu diharapkan dapat mengungkap hubungan dekat antara Epstein, yang dulunya seorang pemodal terkemuka AS, dengan orang-orang kaya, terkenal, dan berpengaruh, termasuk Trump.

    Dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman AS pada Jumat (19/12) waktu setempat mencakup tujuh halaman yang mencantumkan 254 tukang pijak wanita — setiap nama disensor dengan garis hitam tebal dan diberi penjelasan bahwa “disunting untuk melindungi informasi korban potensial”.

    Beberapa dokumen lainnya berisi puluhan foto yang disensor, yang menunjukkan sosok telanjang atau berpakaian minim. Foto-foto lainnya menunjukkan Epstein dan para rekannya, wajah mereka diburamkan, dengan menenteng senjata api.

    Sejumlah foto yang belum pernah dilihat sebelumnya termasuk satu foto yang menunjukkan Bill Clinton, yang tampak lebih mudah, sedang bersandar di bak mandi air panas, dengan sebagian foto disensor dengan kotak persegi panjang hitam yang mencolok.

    Dalam satu foto lainnya, Bill Clinton terlihat sedang berenang bersama seorang wanita berambut gelap, yang tampaknya adalah Ghislaine Maxwell, mantan kekasih Epstein yang juga kaki tangannya.

    Maxwell, yang berusia 63 tahun, menjadi satu-satunya orang yang dihukum terkait kasus Epstein. Dia kini sedang menjalani masa hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan merekrut gadis-gadis di bawah umur untuk Epstein, yang meninggal di sel tahanan New York pada tahun 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks.

    Gedung Putih langsung memanfaatkan kemunculan foto Bill Clinton tersebut. “Sick Willy! @BillClinton sedang bersantai, tanpa beban sedikit pun. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi…” tulis Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, dalam postingan media sosial X.

    “Astaga!” imbuh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam komentar terpisah.

    Trump, yang dulunya teman dekat Epstein, awalnya berjuang selama berbulan-bulan untuk mencegah dirilisnya dokumen kasus Epstein, yang kematiannya di penjara dinyatakan sebagai bunuh diri.

    Namun pada akhirnya, Trump menyerah pada tekanan parlemen AS, termasuk dari Partai Republik yang menaungi dirinya, dan pada bulan lalu menandatangani undang-undang yang mewajibkan publikasi dokumen Epstein tersebut.

    Hari Jumat (19/12) waktu setempat merupakan batas waktu yang ditetapkan oleh Kongres AS untuk dirilisnya dokumen Epstein. Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan bahwa ratusan ribu dokumen dirilis pada Jumat (19/12) dan lebih banyak lagi akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang.

    Dia menambahkan bahwa jaksa memiliki keleluasaan untuk menahan materi terkait penyelidikan aktif dan dokumen-dokumen yang dirilis akan disunting untuk melindungi identitas ratusan korban Epstein. Dia juga mengatakan “tidak ada dakwaan baru” yang akan diajukan.

    Sementara itu, bagi publik dan para korban, dirilisnya dokumen Epstein ini menandai peluang paling jelas untuk saat ini dalam mengungkap skandal tersebut. Dokumen yang diungkap ini dapat memperjelas bagaimana Epstein beroperasi, siapa yang membantunya, dan mengapa jaksa menunda selama bertahun-tahun sebelum menjeratkan dakwaan pidana terhadapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan militer Washington telah melancarkan “pembalasan yang sangat serius” terhadap kelompok radikal Islamic State (ISIS) di Suriah, setelah serangan yang menewaskan tiga warga AS.

    Trump memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerang atau mengancam AS, akan dihantam lebih keras.

    “Dengan ini saya mengumumkan bahwa Amerika Serikat melancarkan pembalasan yang sangat serius, seperti yang telah saya janjikan, terhadap para teroris pembunuh yang bertanggung jawab,” kata Trump dalam postingan Truth Social, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025).

    “Kita menyerang dengan sangat kuat terhadap benteng-benteng ISIS di Suriah, tempat yang berlumuran darah dan memiliki banyak masalah, tetapi memiliki masa depan yang cerah jika ISIS dapat diberantas,” sebutnya.

    Trump, dalam pernyataannya, juga menyebut pemerintah Suriah “sepenuhnya mendukung hal ini”.

    Lebih lanjut, Trump melontarkan peringatan terbaru bagi siapa pun, terutama para teroris, yang menyerang atau mengancam AS.

    “Semua teroris yang cukup jahat untuk menyerang warga Amerika dengan ini diperingatkan — ANDA AKAN DIHANTAM LEBIH KERAS DARIPADA YANG PERNAH ANDA ALAMI SEBELUMNYA JIKA ANDA, DENGAN CARA APA PUN, MENYERANG ATAU MENGANCAM AMERIKA SERIKAT,” tegasnya.

    Serangan balasan terhadap ISIS sebelumnya diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengatakan bahwa AS telah “menyerang lebih dari 70 target di berbagai lokasi di wilayah Suriah bagian tengah dengan jet tempur, helikopter serbu, dan artileri”.

    “Operasi tersebut menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi yang menargetkan infrastruktur dan situs-situs senjata ISIS yang diketahui,” kata CENTCOM dalam pernyataannya.

    CENTCOM menyebut serangan itu sebagai respons atas serangan yang didalangi seorang pria bersenjata dari ISIS, yang menewaskan dua tentara AS dan satu warga sipil AS dalam serangan pada 13 Desember lalu di area Palmyra, Suriah.

    Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Suriah, meskipun tidak secara langsung mengomentari serangan AS pada Jumat (19/12), mengatakan dalam sebuah postingan via media sosial X bahwa negaranya berkomitmen untuk memerangi ISIS.

    Ditegaskan juga oleh Kementerian Luar Negeri Suriah bahwa pihaknya “memastikan kelompok tersebut tidak memiliki tempat perlindungan yang aman di wilayah Suriah, dan akan terus mengintensifkan operasi militer terhadapnya di mana pun kelompok tersebut menimbulkan ancaman”.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan militer Washington telah melancarkan “pembalasan yang sangat serius” terhadap kelompok radikal Islamic State (ISIS) di Suriah, setelah serangan yang menewaskan tiga warga AS.

    Trump memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerang atau mengancam AS, akan dihantam lebih keras.

    “Dengan ini saya mengumumkan bahwa Amerika Serikat melancarkan pembalasan yang sangat serius, seperti yang telah saya janjikan, terhadap para teroris pembunuh yang bertanggung jawab,” kata Trump dalam postingan Truth Social, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025).

    “Kita menyerang dengan sangat kuat terhadap benteng-benteng ISIS di Suriah, tempat yang berlumuran darah dan memiliki banyak masalah, tetapi memiliki masa depan yang cerah jika ISIS dapat diberantas,” sebutnya.

    Trump, dalam pernyataannya, juga menyebut pemerintah Suriah “sepenuhnya mendukung hal ini”.

    Lebih lanjut, Trump melontarkan peringatan terbaru bagi siapa pun, terutama para teroris, yang menyerang atau mengancam AS.

    “Semua teroris yang cukup jahat untuk menyerang warga Amerika dengan ini diperingatkan — ANDA AKAN DIHANTAM LEBIH KERAS DARIPADA YANG PERNAH ANDA ALAMI SEBELUMNYA JIKA ANDA, DENGAN CARA APA PUN, MENYERANG ATAU MENGANCAM AMERIKA SERIKAT,” tegasnya.

    Serangan balasan terhadap ISIS sebelumnya diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengatakan bahwa AS telah “menyerang lebih dari 70 target di berbagai lokasi di wilayah Suriah bagian tengah dengan jet tempur, helikopter serbu, dan artileri”.

    “Operasi tersebut menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi yang menargetkan infrastruktur dan situs-situs senjata ISIS yang diketahui,” kata CENTCOM dalam pernyataannya.

    CENTCOM menyebut serangan itu sebagai respons atas serangan yang didalangi seorang pria bersenjata dari ISIS, yang menewaskan dua tentara AS dan satu warga sipil AS dalam serangan pada 13 Desember lalu di area Palmyra, Suriah.

    Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Suriah, meskipun tidak secara langsung mengomentari serangan AS pada Jumat (19/12), mengatakan dalam sebuah postingan via media sosial X bahwa negaranya berkomitmen untuk memerangi ISIS.

    Ditegaskan juga oleh Kementerian Luar Negeri Suriah bahwa pihaknya “memastikan kelompok tersebut tidak memiliki tempat perlindungan yang aman di wilayah Suriah, dan akan terus mengintensifkan operasi militer terhadapnya di mana pun kelompok tersebut menimbulkan ancaman”.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Balas Kematian 3 Warganya, AS Bombardir 70 Target ISIS di Suriah

    Balas Kematian 3 Warganya, AS Bombardir 70 Target ISIS di Suriah

    Damaskus

    Amerika Serikat (AS) membombardir lebih dari 70 target kelompok radikal Islamic State (ISIS) di wilayah Suriah pada Jumat (19/12) waktu setempat. Gempuran itu membalas serangan yang menewaskan tiga warga AS, termasuk dua tentara, di Suriah akhir pekan lalu.

    Otoritas Washington mengatakan seorang pria bersenjata dari ISIS yang bertindak sendirian mendalangi serangan pada 13 Desember lalu di area Palmyra — rumah bagi reruntuhan kuno yang terdaftar di UNESCO dan pernah dikuasai para petempur jihadis — yang menewaskan dua tentara AS dan satu warga sipil AS.

    Komando Pusat AS (CENTCOM), seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), mengatakan bahwa sebagai respons, AS telah “menyerang lebih dari 70 target di berbagai lokasi di wilayah Suriah bagian tengah dengan jet tempur, helikopter serbu, dan artileri”.

    “Operasi tersebut menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi yang menargetkan infrastruktur dan situs-situs senjata ISIS yang diketahui,” kata CENTCOM dalam pernyataannya.

    CENTCOM juga menambahkan bahwa AS dan pasukan sekutunya telah “melakukan 10 operasi di Suriah dan Irak yang mengakibatkan kematian atau penahanan 23 pelaku teroris” menyusul serangan di Palmyra. Tidak disebutkan lebih lanjut kelompok mana yang menjadi afiliasi para militan tersebut.

    Kementerian Luar Negeri Suriah, meskipun tidak secara langsung mengomentari serangan pada Jumat (19/12), mengatakan dalam sebuah postingan via media sosial X bahwa negaranya berkomitmen untuk memerangi ISIS.

    Ditegaskan juga oleh Kementerian Luar Negeri Suriah bahwa pihaknya “memastikan kelompok tersebut tidak memiliki tempat perlindungan yang aman di wilayah Suriah, dan akan terus mengintensifkan operasi militer terhadapnya di mana pun kelompok tersebut menimbulkan ancaman”.

    Warga-warga AS yang tewas dalam serangan Palmyra pada akhir pekan lalu terdiri atas dua sersan Garda Nasional Iowa, William Howard dan Edgar Torres Tovar, serta seorang warga sipil bernama Ayad Mansoor Sakat yang berasal dari Michigan dan bekerja sebagai penerjemah.

    Serangan yang menewaskan tiga warga AS itu merupakan insiden pertama sejak penggulingan penguasa lama Suriah, Bashar al-Assad, pada Desember tahun lalu. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Noureddine al-Baba, mengatakan pelakunya adalah anggota pasukan keamanan yang akan dipecat karena “ide-ide ekstremis Islamis-nya”.

    Para personel AS yang menjadi target serangan itu merupakan personel yang mendukung Operation Inherent Resolve, upaya internasional untuk memerangi ISIS, yang merebut sebagian besar wilayah Suriah dan Irak pada tahun 2014.

    Kelompok radikal itu telah dikalahkan oleh pasukan darat lokal, yang didukung serangan udara internasional dan dukungan lainnya, tetapi ISIS masih memiliki kehadiran di Suriah.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Kenapa AS Ingin Gulingkan Rezim Nicolas Maduro di Venezuela?

    Kenapa AS Ingin Gulingkan Rezim Nicolas Maduro di Venezuela?

    Washington DC

    Apakah Amerika Serikat (AS) sedang berusaha menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro? Jika mengacu kepada wawancara terbaru yang diterbitkan di majalah politik Vanity Fair, jawabannya adalah ya.

    Wawancara tersebut menjadi sorotan pekan ini, di mana kepala staf Presiden AS Donald Trump, Susie Wiles, mengatakan bahwa bosnya “akan terus menenggelamkan kapal-kapal sampai Maduro mengalah”, ungkapnya.

    Penenggelaman itu merujuk pada operasi maritim berskala besar oleh AS untuk menghancurkan kapal-kapal narkoba Venezuela yang konon menyelusup di Karibia.

    Awalnya, Trump menegaskan bahwa fokus kampanye militer di Karibia adalah menghentikan arus narkoba. Ia sejak lama berusaha menutup jalur penyelundup narkoba ke AS, dan pekan ini mendeklarasikan fentanyl, obat penahan sakit yang bikin kecanduan, sebagai “senjata pemusnah massal.”

    Selain itu, sempat muncul spekulasi bahwa narkoba adalah kedok untuk mengintimidasi Venezuela agar menyerahkan konsesi minyak dan logam tanah jarang kepada AS. Trump kini telah memerintahkan blokade terhadap kapal tanker minyak yang disanksi.

    Namun wawancara Wiles mengubah asumsi, atau setidaknya mengurangi spekulasi mengenai tujuan operasi militer AS. Presiden Maduro, yang memimpin Venezuela sejak 2013, menjadi target kampanye Trump.

    “Saya rasa itu bukan tujuan pada Januari tahun ini ketika pemerintahan kedua Trump mulai bekerja,” kata Paul Hare, diplomat Inggris yang sudah pensiun dan mantan Duta Besar, sekarang menjabat sebagai direktur sementara Pusat Studi Amerika Latin di Universitas Boston.

    Selera untuk perubahan?

    Menjatuhkan Maduro bukan perkara mudah, tetapi mungkin lebih mudah bagi pemerintahan Trump dibandingkan konflik di Ukraina atau Gaza.

    Hal ini juga sejalan dengan strategi keamanan nasional pemerintahan Trump kedua, yang menekankan kembali pengaruh AS di Belahan Bumi barat, wilayah yang mencakup seluruh benua Amerika dan barat Eropa.

    Jesus Renzullo, analis politik Amerika Latin di German Institute for Global and Area Studies, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Trump, Marco Rubio, seorang pembela kebijakan luar negeri yang keras dan lawan kuat rezim Maduro, mungkin melihat peluang untuk menekan Kuba juga.

    Kuba adalah kediktatoran yang secara militer dan ekonomi lebih lemah dan sangat bergantung pada Venezuela untuk pasokan energi.

    “Venezuela adalah satu-satunya kartu liar yang masih bisa diandalkan Kuba yang dekat dengan wilayah mereka, dekat di kawasan ini,” kata Renzullo. “Kuba akan sangat terdampak dan menderita secara ekonomi.”

    Renzullo berpandangan bahwa AS perlu meningkatkan tekanannya terhadap Venezuela secara drastis untuk memaksa perubahan kepemimpinan, sebelum pihak lain mempertimbangkan pemerintahan beralih perhatian ke tempat lain.

    “Fakta bahwa mereka sedang diblokade saja tidak cukup. Caracas sudah pernah mengalami sanksi yang jauh lebih besar selama ‘tekanan maksimum’ pada 2019, dan mereka masih bertahan,” kata Renzullo.

    Hare sendiri tidak melihat adanya upaya besar-besaran AS untuk campur tangan di Amerika Latin selain rezim Maduro.

    “Maduro memang tidak sah, tapi saya pikir ini lebih dianggap sebagai kasus khusus, dan saya rasa tidak akan diikuti dengan agresi ke negara lain,” kata Hare.

    “Saya pikir mereka [pemerintahan Trump] memang benar-benar khawatir dengan ketidaklegalan kehadiran Maduro.”

    Memperhatikan warisan dan menarik pemilih

    Meski rencana pergantian rezim telah terbuka berkat wawancara Wiles di Vanity Fair, motivasinya mungkin tidak sesederhana itu.

    Pemerintahan Trump, khususnya melalui Rubio, telah mendukung oposisi Venezuela, yang dipimpin oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian baru-baru ini, Maria Corina Machado.

    Machado juga vokal mendukung intervensi Trump di Karibia.

    Namun bagi Trump, rencananya mungkin kurang tentang memasang demokrasi di Venezuela, seperti yang dilakukan presiden AS sebelumnya, melainkan lebih pada kepuasan pribadi menyingkirkan rival politik.

    “Ini bukan soal minyak,” kata Jim Marckwardt, pensiunan letnan kolonel Angkatan Darat AS, kini fakultas co-lead untuk Studi Amerika di Johns Hopkins School of Advanced International Studies.

    “Dan hal lainnya bukan soal demokrasi, setidaknya khusus dalam kasus pemerintahan Trump.”

    Ini mungkin mengejutkan, mengingat Trump pernah mengakui pemimpin oposisi pro-demokrasi Juan Guaido sebagai pemimpin Venezuela pada 2019.

    Namun Maduro tetap berkuasa dan kembali berhasil menghalangi upaya memaksa dirinya keluar dari jabatan, bahkan setelah pemilu Venezuela 2024, yang secara independen diamati dimenangkan oleh pihak oposisi.

    Sebaliknya, Marckwardt mengatakan Trump ingin membangun warisan politiknya.

    “2019 adalah saat krisis Venezuela meledak dengan Juan Guaido, dan itu tidak terselesaikan saat itu. Biden belum menyelesaikannya, dan ada banyak bukti bahwa Trump peduli dengan warisannya,” kata Marckwardt.

    “Dia sudah mencoba menyelesaikan masalah Gaza… dia cukup keras bekerja untuk proses perdamaian antara Ukraina dan Rusia, dan satu yang lebih dekat di hemisfer ini adalah Venezuela, dan saya kira secara arguable lebih mudah untuk diselesaikan.”

    Trump juga melihat popularitasnya menurun dalam jajak pendapat sejak terpilih kembali, termasuk di kalangan diaspora Amerika Latin yang membantu mengantarkannya kembali ke Gedung Putih, dan yang merupakan blok pemilih signifikan di basis kekuatan Trump di Florida.

    “Ini cara mudah untuk menarik diaspora tersebut, yang memiliki konsentrasi besar kekuatan voting di Florida, jadi sebagian juga untuk menyenangkan pemilih itu.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
    Diadaptasi oleh Rahka Susanto
    Editor: Rizki Nugraha

    (nvc/nvc)

  • Perburuan Berhari-hari Penembak di Kampus AS Berujung Pelaku Bunuh Diri

    Perburuan Berhari-hari Penembak di Kampus AS Berujung Pelaku Bunuh Diri

    Jakarta

    Polisi memburu pelaku penembakan massal di Brown University, Rhode Island, Amerika Serikat (AS) berhari-hari. Namun, pelaku pada akhirnya bunuh diri.

    Kepolisian AS menyatakan bahwa tersangka penembakan massal yang diburu selama berhari-hari itu, menghabisi nyawanya sendiri.

    Penembakan massal mengguncang Brown University, yang terletak di Providence, Rhode Island, pada Sabtu (13/12) waktu setempat. Seorang pria bersenjata senapan menerobos masuk ke dalam gedung kampus bergengsi itu, ketika para mahasiswa sedang mengikuti ujian.

    Pria bersenjata tersebut melepas tembakan, menewaskan dua mahasiswa, kemudian melarikan diri dari lokasi kejadian. Delapan orang lainnya mengalami luka-luka, dengan satu orang dalam kondisi kritis, dalam penembakan mematikan yang menggemparkan AS tersebut.

    Pelaku Diburu

    Perburuan terhadap pelaku berlangsung selama berhari-hari tanpa membuahkan hasil, dengan otoritas penegak hukum tampaknya tidak memiliki banyak petunjuk. Foto seorang pria yang dicurigai sebagai tersangka dan foto seseorang yang terlihat berdiri di dekat tersangka dirilis ke publik.

    Bahkan FBI turut terlibat dalam hal ini. FBI juga membuka layanan laporan bagi mereka yang melihat tersangka.

    Namun, pelaku tak kunjung ditangkap. Hingga akhirnya, seperti dilansir AFP, Jumat (19/12/2025), Kepolisian Providence mengumumkan pada Kamis (18/12) waktu setempat, bahwa seorang pria yang diduga kuat sebagai tersangka penembakan di Brown University, ditemukan sudah tak bernyawa.

    Tersangka Bunuh Diri

    Otoritas setempat mengatakan bahwa tersangka merupakan seorang warga negara Portugal yang berusia 48 tahun dan pernah menjadi mahasiswa di Brown University. Kepala Kepolisian Providence, Oscar Perez, mengidentifikasi tersangka sebagai Claudio Neves-Valente.

    “Dia mengakhiri hidupnya sendiri malam ini,” kata Perez dalam pernyataan pada Kamis (18/12).

    Disebutkan bahwa tersangka ditemukan sudah tak bernyawa di dalam sebuah unit storage atau penyimpanan di area New Hampshire bersama dengan dua senjata api. Dia diyakini bertindak sendirian dalam penembakan massal tersebut.

    “Malam ini, warga Providence akhirnya dapat bernapas sedikit lebih lega,” ucap Wali Kota Brett Smiley saat berbicara kepada wartawan setempat.

    Motif Penembakan Masih Teka-teki

    Para pejabat setempat juga meyakini bahwa pria yang sama bertanggung jawab atas penembakan fatal terhadap seorang pakar fisika dari Massachusetts Institute of Technology, juga merupakan universitas bergengsi di AS. Penembakan itu terjadi secara terpisah di rumah pakar fisika itu di area Boston.

    Hingga kini belum ada indikasi langsung mengenai motif penembakan ganda di dua universitas terkemuka di AS tersebut.

    “Penyelidikan yang dimulai di kota Providence… membawa kita pada keterkaitan tersebut,” ujar Perez, tanpa memberikan detail lebih lanjut.

    Dua mahasiswa Brown University yang tewas dalam penembakan itu diidentifikasi sebagai Ella Cook yang merupakan wakil presiden asosiasi Partai Republik di universitas tersebut dan Muhkhammad Aziz Umurzokov, yang berasal dari Uzbekistan dan berharap menjadi dokter bedah saraf.

    Halaman 2 dari 3

    (rdp/lir)

  • Israel Tembaki Warga Gaza di Tempat Pengungsian, 5 Orang Tewas

    Israel Tembaki Warga Gaza di Tempat Pengungsian, 5 Orang Tewas

    Gaza

    Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan tentara Israel menghujani tembakan ke sebuah sekolah yang diubah menjadi tempat pengungsian. Sebanyak 5 orang dilaporkan tewas.

    Dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengungkapkan insiden itu kepada AFP. Penembakan terjadi di sebelah timur Kota Gaza, Palestina.

    “Lima martir telah ditemukan sebagai akibat dari penembakan Israel terhadap tempat perlindungan di Sekolah Martir Gaza,” di lingkungan Tuffah di sebelah timur Kota Gaza.

    Militer Israel kemudian memberikan tanggapan. Israel berdalih menargetkan individu yang mencurigakan.

    “Menembak individu yang mencurigakan untuk menghilangkan ancaman. (Kami) menyadari klaim mengenai korban jiwa di daerah tersebut, dan detailnya sedang ditinjau,” katanya.

    (lir/lir)

  • Israel Tembaki Warga Gaza di Tempat Pengungsian, 5 Orang Tewas

    Israel Tembaki Warga Gaza di Tempat Pengungsian, 5 Orang Tewas

    Gaza

    Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan tentara Israel menghujani tembakan ke sebuah sekolah yang diubah menjadi tempat pengungsian. Sebanyak 5 orang dilaporkan tewas.

    Dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengungkapkan insiden itu kepada AFP. Penembakan terjadi di sebelah timur Kota Gaza, Palestina.

    “Lima martir telah ditemukan sebagai akibat dari penembakan Israel terhadap tempat perlindungan di Sekolah Martir Gaza,” di lingkungan Tuffah di sebelah timur Kota Gaza.

    Militer Israel kemudian memberikan tanggapan. Israel berdalih menargetkan individu yang mencurigakan.

    “Menembak individu yang mencurigakan untuk menghilangkan ancaman. (Kami) menyadari klaim mengenai korban jiwa di daerah tersebut, dan detailnya sedang ditinjau,” katanya.

    (lir/lir)