Category: Detik.com Internasional

  • Siapa Renee Nicole Good, Perempuan yang Dibunuh Petugas Imigrasi AS?

    Siapa Renee Nicole Good, Perempuan yang Dibunuh Petugas Imigrasi AS?

    Jakarta

    Perempuan yang ditembak mati oleh petugas imigrasi Amerika Serikat (AS) di Minneapolis telah diidentifikasi sebagai Renee Nicole Good, ibu tiga anak berusia 37 tahun yang baru saja pindah ke kota itu.

    Dia adalah penyair pemenang penghargaan sastra dan pemain gitar amatir.

    Good berada di sana sebagai pengamat hukum aktivitas aparat imigrasi federal (biasa disebut agen ICE), kata para pemimpin kota Minneapolis.

    Namun pemerintahan Trump menuduhnya sebagai “teroris domestik”.

    Kematian Good telah memicu protes di seluruh negeri, dan banyak orang memegang poster bertuliskan “Keadilan untuk Renee”.

    Ibunya, Donna Ganger, berkata kepada Minnesota Star Tribune bahwa putrinya “mungkin ketakutan” saat bersitegang dengan aparat imigrasi yang melihatnya. Good kemudian ditembak hingga mati.

    Sang ibu menyebut anaknya itu merupakan “salah satu orang paling baik yang pernah saya kenal”.

    “Dia telah merawat orang sepanjang hidupnya. Dia penyayang, pemaaf, dan penuh kasih sayang. Dia adalah manusia yang luar biasa.”

    Ayahnya, Tim Ganger, mengatakan kepada Washington Post bahwa “dia memiliki kehidupan yang baik, tetapi hidupnya sulit”.

    Penggalangan dana untuk keluarga Good, yang ditargetkan sebesar $50.000 atau sekitar Rp841.600.000, berhasil mengumpulkan lebih dari $370.000 dalam 10 jam.

    Dalam unggahan yang tampaknya merupakan akun Instagram Good, yang sekarang telah diatur menjadi privat, Good menggambarkan dirinya sebagai “penyair, penulis, istri, dan ibu”, yang “sedang menikmati kehidupan di Minneapolis”.

    Sebagai warga negara AS, Good berasal dari Colorado Springs dan baru pindah ke Minneapolis pada tahun lalu dari Kansas City.

    Minnesota Star Tribune melaporkan bahwa dia pernah menjadi pembawa acara podcast bersama suami keduanya, Tim Macklin, yang meninggal pada 2023.

    Mereka memiliki seorang putra bersama, yang sekarang berusia enam tahun, kata ayah Macklin kepada surat kabar tersebut.

    Dia memiliki dua anak lain dengan suami pertamanya, yang berbicara kepada media AS dengan syarat namanya tidak disebutkan.

    Dia berujar bahwa Good bukanlah seorang aktivis dan bahwa dia adalah seorang Kristen yang taat.

    Good, ujarnya, pernah pergi ke Irlandia Utara untuk misi pemuda ketika dia masih belia.

    Sebelumnya dia bekerja sebagai asisten dokter gigi dan di sebuah koperasi kredit.

    Namun sebagian besar hidupnya, Good menjadi ibu rumah tangga dalam beberapa tahun terakhir, menurut Associated Press.

    Good belajar penulisan kreatif di Old Dominion University di Norfolk, Virginia.

    Pada 2020, dia memenangkan sebuah penghargaan sastra dari Academy of American Poets untuk karyanya yang berjudul On Learning to Dissect Fetal Pigs.

    “Ketika dia tidak menulis, membaca, atau berbicara ihwal menulis, dia menonton film secara maraton dan membuat karya seni bersama putri dan kedua putranya,” demikian bunyi biografinya dari penghargaan tersebut, seperti yang dikutip di media AS. Unggahan itu agaknya sekarang sudah dihapus.

    Good lulus pada tahun yang sama dari Fakultas Seni dan Sastra universitas tersebut dengan gelar di bidang Bahasa Inggris.

    Presiden universitas tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kematian mendadaknya adalah “contoh nyata bahwa ketakutan dan kekerasan sayangnya telah menjadi hal biasa di negara kita”.

    “Semoga kehidupan Renee menjadi pengingat tentang apa yang menyatukan kita: kebebasan, cinta, dan perdamaian,” tulis Presiden Universitas Old Dominion, Brian Hemphill.

    Beberapa pemimpin negara bagian mengatakan bahwa Good berada di lokasi penggerebekan petugas imigrasi federal (ICE) di selatan Minneapolis sebagai pengamat hukumseorang relawan yang memantau aktivitas polisi dan pasukan keamanan dalam unjuk rasa serta berbagai operasinya.

    Tujuan mereka adalah untuk membantu menjaga ketenangan, mencegah pelanggaran, dan memastikan hak-hak hukum dihormati.

    Ibu Good mengatakan kepada Minnesota Star Tribune bahwa putrinya “bukan bagian dari apa pun” yang melibatkan penentangan terhadap agen ICE.

    Namun, para pejabat Gedung Putih, termasuk Presiden Trump, mengatakan bahwa Good tidak hanya mengamati, tetapi juga ikut campur dalam pekerjaan para petugas.

    Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, berkata bahwa Good telah “menguntit dan menghalangi pekerjaan mereka” sepanjang hari dengan “memblokir mereka” dengan mobilnya dan “berteriak kepada mereka”.

    Good “mempersenjatai kendaraannya”, kata Noem kepada wartawan, dan kemudian mencoba menabrak salah satu petugas “dalam upaya untuk membunuh atau melukai petugas, sebuah tindakan terorisme domestik”.

    Petugas imigrasi federal AS tersebut takut kehilangan nyawanya, kata Noem, dan “melepaskan tembakan guna membela diri”.

    Klaim ini didukung oleh Trump, yang menulis di Truth Social bahwa “perempuan yang mengendarai mobil itu sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan”.

    Dia menyebutnya sebagai “penghasut profesional” yang “dengan kasar, sengaja, dan kejam” menabrak seorang petugas ICE.

    Namun walikota kota tersebut mengatakan petugas imigrasi yang menembak Good telah bertindak sembrono.

    “Setelah melihat videonya sendiri, saya ingin mengatakan kepada semua orang secara langsung: itu omong kosong,” kata Jacob Frey.

    “Ini adalah seorang petugas yang menyalahgunakan kekuasaan secara sembrono yang mengakibatkan seseorang meninggal, terbunuh.”

    Good dilaporkan tinggal hanya beberapa blok dari tempat dia dibunuh.

    Lokasi kejadian berjarak sekitar satu mil dari tempat George Floyd dibunuh pada 2020 oleh seorang petugas polisi kota.

    Kematian Floyd kemudian memicu protes anti-rasisme di seluruh dunia.

    (ita/ita)

  • Bukan Hukum Internasional, Trump Bilang Hal Ini yang Bisa Setop Dirinya

    Bukan Hukum Internasional, Trump Bilang Hal Ini yang Bisa Setop Dirinya

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan satu-satunya hal yang dapat menghentikan dirinya adalah “moralitasnya sendiri”, bukan hukum internasional. Hal ini disampaikan setelah rentetan kebijakan luar negeri Trump menggemparkan dunia beberapa waktu terakhir.

    Pernyataan tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency dan Japan Times, Jumat (9/1/2026), disampaikan Trump dalam wawancara dengan media terkemuka AS, New York Times (NYT), yang dirilis pada Rabu (7/1) waktu setempat.

    Rentetan kebijakan luar negeri Trump beberapa waktu terakhir menuai kontroversi dan kritikan, mulai dari bergabung dengan Israel dalam mengebom fasilitas-fasilitas nuklir Iran saat kedua negara yang bermusuhan itu berperang tahun lalu, hingga menggempur Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro, serta ambisinya merebut Greenland dari Denmark, bahkan tidak mengesampingkan kekuatan militer.

    Ketika ditanya oleh NYT soal apakah ada batasan untuk kekuasaan global yang kini dimilikinya sebagai Presiden AS, Trump menjawab: “Iya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang dapat menghentikan saya.”

    “Saya tidak membutuhkan hukum internasional,” tegas Trump.

    Namun dia juga menambahkan bahwa: “Saya tidak berniat menyakiti orang-orang.”

    Saat didesak lebih lanjut oleh NYT soal apakah pemerintahannya perlu untuk mematuhi hukum internasional, Trump berkata “Iya perlu”. Tetapi dia memperjelas bahwa dirinya yang akan menjadi penentu kapan batasan tersebut berlaku untuk AS.

    “Itu tergantung pada definisi Anda tentang hukum internasional,” katanya.

    Pernyataan Trump itu, sebut NYT, terkesan mengabaikan hukum internasional dan batasan-batasan lainnya terhadap kemampuannya dalam menggunakan kekuatan militer untuk menyerang, menginvasi, atau memaksa negara-negara lainnya di seluruh dunia.

    Penilaian yang diberikan Trump tentang kebebasannya dalam menggunakan instrumen kekuatan militer, ekonomi, atau politik apa pun untuk memperkuat supremasi AS, menurut NYT dalam laporannya, merupakan pengakuan paling blak-blakan tentang pandangan dunianya.

    Intinya adalah konsep bahwa kekuatan nasional, bukan aturan hukum, perjanjian, dan konvensi, yang seharusnya menjadi faktor penentu ketika kekuatan-kekuatan saling berbenturan.

    Trump memang mengakui beberapa hambatan di dalam negeri, bahkan ketika dia mengejar strategi maksimalis untuk menghukum lembaga-lembaga yang tidak disukainya, membalas dendam terhadap lawan politik, dan mengerahkan Garda Nasional ke kota-kota besar AS meskipun ditentang pejabat setempat.

    Dalam wawancara dengan NYT, Trump memperjelas bahwa dirinya menggunakan reputasinya yang tidak dapat diprediksi dan kesediaannya untuk dengan cepat mengerahkan tindakan militer, seringkali untuk memaksa negara-negara lainnya mematuhi tuntutannya.

    Presiden AS berusia 79 tahun ini terdengar lebih berani dari sebelumnya dalam wawancara terbaru dengan NYT. Dia menyinggung soal keberhasilan serangan AS terhadap program nuklir Iran, membanggakan kecepatan dalam melumpuhkan pemerintahan Venezuela pada akhir pekan lalu, dan membahas soal rencananya menguasai Greenland yang menuai kritikan sekutu-sekutu NATO.

    Ketika ditanya hal mana yang menjadi prioritas lebih tinggi, mendapatkan Greenland atau mempertahankan NATO, Trump menolak untuk menjawab secara langsung. Namun dia mengakui bahwa: “Itu mungkin sebuah pilihan.”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/imk)

  • Agen Federal AS Tembak 2 Orang Diduga Imigran Ilegal di Portland

    Agen Federal AS Tembak 2 Orang Diduga Imigran Ilegal di Portland

    Portland

    Agen Federal Amerika Serikat (AS) menembak dua orang di Kota Portland, Oregon bagian barat. Penembakan itu terjadi sehari setelah seorang agen Imigrasi dan Bea Cukai menembak wanita di Minneapolis yang memicu kemarahan publik.

    “Dua orang dirawat di rumah sakit setelah penembakan yang melibatkan agen federal,” kata pernyataan dari Kepolisian Portland sebagaimana dilansir AFP, Jumat (9/1/2026).

    Kepolisian setempat menegaskan petugas mereka tidak terlibat dalam penembakan. Mereka bahkan mengaku tahu peristiwa penembakan setelah mereka menerima panggilan bantuan pada siang hari.

    “Petugas menanggapi dan menemukan seorang pria dan wanita dengan luka tembak. Petugas memasang perban dan memanggil petugas medis darurat,” kata pernyataan itu.

    “Para pasien dibawa ke rumah sakit. Kondisi mereka tidak diketahui. Petugas telah memastikan bahwa kedua orang tersebut terluka dalam penembakan yang melibatkan agen federal,” imbuhnya.

    Menurut media lokal, penembakan itu terjadi di dekat fasilitas medis. Stasiun radio lokal mengatakan orang-orang yang terluka telah pergi dari lokasi penembakan ke kompleks apartemen, sekitar 2,5 mil (4 kilometer) jauhnya, tempat mereka meminta bantuan.

    Agen FBI terlihat di kedua lokasi tersebut.

    Penembak Agen Patroli Perbatasan AS

    Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengkonfirmasi bahwa seorang agen Patroli Perbatasan AS telah melepaskan tembakan, dan mengklaim bahwa ia melakukannya untuk membela diri. Kedua korban itu diklaim sebagai imigran ilegal Venezuela.

    “Penumpang kendaraan dan target adalah seorang imigran ilegal Venezuela yang berafiliasi dengan jaringan prostitusi transnasional Tren de Aragua dan terlibat dalam penembakan baru-baru ini di Portland,” kata pernyataan itu.

    “Pengemudi kendaraan diyakini sebagai anggota geng Venezuela yang kejam, Tren de Aragua. Ketika agen memperkenalkan diri kepada penumpang kendaraan, pengemudi mempersenjatai kendaraannya dan mencoba menabrak agen penegak hukum,” lanjutnya.

    Departemen Keamanan Dalam Negeri mengungkapkan tembakan itu dilepas karena agen itu khawatir nyawanya terancam.

    “Karena takut akan nyawa dan keselamatannya, seorang agen melepaskan tembakan untuk membela diri. Pengemudi melarikan diri bersama penumpang, meninggalkan tempat kejadian,” tambah pernyataan itu.

    Respons Wali Kota

    Walikota Portland, Keith Wilson, mengatakan penembakan di kotanya adalah akibat dari banyaknya agen federal bersenjata lengkap sebagai bagian dari apa yang dikatakan Trump sebagai penindakan terhadap imigrasi ilegal.

    “Hanya satu hari setelah kekerasan mengerikan di Minnesota di tangan agen federal, komunitas kita di Portland sekarang bergulat dengan insiden lain yang sangat mengkhawatirkan,” kata Wilson.

    “Kita tidak bisa tinggal diam sementara perlindungan konstitusional terkikis dan pertumpahan darah meningkat. Portland bukanlah ‘tempat pelatihan’ bagi agen militer, dan ‘kekuatan penuh’ yang diancam oleh pemerintahan memiliki konsekuensi yang mematikan,” sambungnya.

    Dia pun meminta pemerintah pusat menghentikan seluruh operasi. Dia meminta operasi dihentikan hingga investigasi kasus penembakan di wilayahnya itu selesai.

    “Sebagai walikota, saya meminta ICE untuk menghentikan semua operasi di Portland sampai investigasi penuh dapat diselesaikan.”

    Wilson mengatakan dia ingin warga setempat menyampaikan suara mereka secara damai.

    “Saya menyerukan kepada setiap warga Portland untuk mewakili nilai-nilai kita dan untuk hadir dengan tenang dan penuh tujuan selama masa sulit ini. Portland tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” ucapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (zap/isa)

  • Presiden Interim Venezuela Tegaskan Negaranya Tak Akan Tunduk ke AS

    Presiden Interim Venezuela Tegaskan Negaranya Tak Akan Tunduk ke AS

    Jakarta

    Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mengatakan negaranya tidak akan tunduk kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meski AS mengeklaim memegang kendali atas Venezuela setelah menggulingkan pendahulunya, Nicolas Maduro. Dia juga menegaskan tidak akan menyerah.

    “Kami tidak tunduk atau ditaklukkan,” kata Rodriguez dalam sebuah upacara untuk 100 warga Venezuela yang tewas selama serangan AS sebagaimana dilansir AFP, Jumat (9/1/2026).

    Dia menegaskan tidak akan menyerah. Rodriguez menegaskan akan terus mempertahankan Venezuela.

    “Tidak ada yang menyerah. Ada pertempuran untuk tanah air,” ketika pasukan AS menyerang pada 3 Januari, katanya.

    Sebelumnya, AS mengklaim memiliki pengaruh maksimal atas otoritas sementara Venezuela. Hal ini diklaim usai penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

    “Jelas kami memiliki pengaruh maksimal atas otoritas sementara di Venezuela saat ini,” kata Leavitt dalam sebuah konferensi pers.

    “Kami terus berkoordinasi erat dengan otoritas sementara, dan keputusan mereka akan terus didikte oleh Amerika Serikat,” tambahnya.

    (zap/fas)

  • 13 Orang di Gaza Tewas Kena Serangan Drone Israel, 5 di Antaranya Anak-anak

    13 Orang di Gaza Tewas Kena Serangan Drone Israel, 5 di Antaranya Anak-anak

    Jakarta

    Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan serangan Israel di wilayah Palestina pada Kamis (8/1) menewaskan 13 orang, lima di antaranya anak-anak. Serangan ini diluncurkan Israel meski ada gencatan senjata.

    Dilansir AFP, Jumat (9/1/2026), juru bicara badan tersebut, Mahmud Bassal, mengatakan empat orang termasuk tiga anak tewas ketika sebuah drone menyerang tenda yang menampung pengungsi di Gaza selatan.

    Di utara Jalur Gaza, seorang gadis berusia 11 tahun tewas di dekat kamp pengungsi Jabalia dan serangan terhadap sebuah sekolah menewaskan satu orang, sementara sebuah drone di dekat Khan Yunis di selatan menewaskan seorang pria, tambah badan tersebut.

    Dua warga Gaza lainnya, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan lain, lapor badan tersebut, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas.

    Ketika ditanya oleh AFP, militer Israel mengatakan bahwa mereka sedang memeriksa laporan tersebut.

    Kemudian pada malam hari, empat orang lagi tewas dalam serangan udara Israel yang menargetkan sebuah rumah di daerah timur Kota Gaza, kata Bassal, menambahkan bahwa pekerjaan penyelamatan untuk mencari beberapa orang yang hilang telah dimulai.

    Sebelumnya, militer Israel mengatakan sebuah proyektil diluncurkan “dari daerah Kota Gaza menuju Negara Israel” tetapi jatuh di dalam Jalur Gaza.

    “Tak lama kemudian, (militer) tepat mengenai titik peluncuran,” katanya dalam sebuah pernyataan.

    Respons Hamas

    Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan kepada AFP bahwa serangan di Gaza pada Kamis “mengkonfirmasi penolakan pendudukan Israel terhadap komitmennya terhadap gencatan senjata”.

    Menurut kementerian kesehatan Gaza, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 425 warga Palestina di Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan.

    Lihat juga Video ‘4 Warga Gaza Tewas Dihantam Roket Israel di Tengah Gencatan Senjata’:

    (zap/isa)

  • Kok Trump Malah Bela Agen Imigrasi AS yang Tembak Mati Wanita?

    Kok Trump Malah Bela Agen Imigrasi AS yang Tembak Mati Wanita?

    Jakarta

    Seorang agen imigrasi Amerika Serikat (AS) menembak mati seorang wanita berkewarganegaraan AS di jalanan kota Minneapolis, Minnesota, memicu kemarahan publik. Sikap Presiden AS Donald Trump yang membela tindakan agen imigrasi itu menimbulkan pertanyaan.

    Kemarahan publik berujung unjuk rasa besar-besaran usai seorang agen imigrasi AS menembak mati seorang wanita berkewarganegaraan AS di Minneapolis. Trump justru membela tindakan agen imigrasi itu sebagai tembakan “membela diri”.

    Seperti dilansir AFP, Kamis (8/1), wanita tersebut yang diidentifikasi media lokal sebagai Renee Nicole Good (37), ditembak dari jarak dekat saat dia tampak berusaha melarikan diri dari sejumlah agen imigrasi AS yang mengerumuni mobilnya dalam insiden pada Rabu (7/1). Para agen imigrasi AS menyebut mobil yang dikendarai Good menghalangi jalan mereka.

    Gedung Putih mengklaim wanita tersebut sebagai “teroris domestik” yang berusaha membunuh agen imigrasi AS yang sedang menjalankan operasinya. Klaim ini ditolak mentah-mentah oleh para pemimpin lokal di Minnesota.

    Detik-detik Penembakan

    Rekaman video insiden tersebut menunjukkan seorang agen Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) melepaskan tiga tembakan ke arah kendaraan SUV merek Honda, yang kemudian melaju tak terkendali dan menabrak sejumlah kendaraan lainnya yang terparkir.

    Video itu juga menunjukkan para saksi mata yang terkejut melihat insiden itu, mencaci-maki para agen imigrasi federal AS yang ada di lokasi. Tubuh Good yang berlumuran darah, menurut rekaman video itu, terlihat terkulai di dalam kendaraan yang ringsek.

    Operasi Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) secara federal kembali berlanjut di Minneapolis, Minnesota, Selasa (6/1/2026), sebagai bagian dari kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Dalam penggerebekan tersebut, seorang pengamat konstitusional dilaporkan ikut diamankan sementara oleh petugas ICE di lokasi operasi. (REUTERS/Tim Evans)

    Pemerintahan Trump dengan cepat mengklaim bahwa Good berupaya membunuh para agen imigrasi federal. Menteri Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), Kristi Noem, mengatakan bahwa “setiap kehilangan nyawa adalah tragedi”, namun dia juga menyebut insiden itu sebagai “terorisme domestik”.

    Diklaim oleh Noem bahwa Good “telah menguntit dan menghalangi pekerjaan (ICE) sepanjang hari”. “Dia kemudian mempersenjatai kendaraannya,” sebutnya.

    Pernyataan DHS, yang mengelola ICE, mengklaim Good berusaha menabrak para agen imigrasi yang kemudian melepaskan “tembakan defensif”.

    Arus Pengecaman

    Klaim-klaim tersebut dikecam oleh Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, sebagai “omong kosong”. Dia mendesak para agen ICE untuk segera meninggalkan Minneapolis.

    Ribuan demonstran turun ke jalanan kota Minneapolis di tengah cuaca dingin setelah penembakan mematikan itu terjadi. Sambil memegang poster bertuliskan “ICE keluar dari MPLS”–menggunakan singkatan nama kota Minneapolis, para demonstran memprotes tindakan agen imigrasi federal yang dinilai berlebihan.

    Kecaman juga datang dari Gubernur Minnesota, Tim Walz, yang menyebut respons pemerintah federal AS terhadap insiden itu sebagai “propaganda”. Waltz bersumpah negara bagian yang dipimpinnya akan “memastikan adanya investigasi yang menyeluruh, adil, dan cepat”.

    “Saya sudah melihat videonya. Jangan percaya mesin propaganda ini. Otoritas negara bagian akan memastikan adanya investigasi yang menyeluruh, adil, dan cepat untuk memastikan akuntabilitas dan keadilan,” ucapnya dalam pernyataan via media sosial.

    Ribuan demonstran turun ke jalanan kota Minneapolis di tengah cuaca dingin setelah penembakan mematikan itu terjadi. (Getty Images via AFP/SCOTT OLSON)

    Trump Membela

    Trump dalam pernyataan via Truth Social, menanggapi situasi di Minneapolis yang menuai kecaman dan memicu unjuk rasa besar-besaran. Trump menyebut insiden itu “mengerikan untuk ditonton” dan menuduh korban yang ditembak mati telah “secara kejam menabrak” agen ICE.

    Dia juga menyebut tembakan dilepaskan oleh agen ICE untuk “membela diri”.

    “Saya baru saja melihat cuplikan kejadian yang terjadi di Minneapolis, Minnesota. Sungguh mengerikan untuk ditonton. Wanita yang berteriak itu jelas seorang provokator profesional, dan wanita yang mengendarai mobil itu sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan, yang kemudian dengan kasar, secara sengaja, dan secara kejam menabrak petugas ICE, yang tampaknya menembaknya untuk membela diri,” sebut Trump dalam pernyataannya.

    Lihat Video ‘Petugas Imigrasi AS Tembak Mati Wanita 37 Tahun Berujung Demo Warga’:

    Halaman 2 dari 2

    (rfs/fas)

  • Macron Sentil Trump Buntut Penangkapan Maduro, Sebut AS Khianati Sekutu

    Macron Sentil Trump Buntut Penangkapan Maduro, Sebut AS Khianati Sekutu

    Jakarta

    Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut Amerika Serikat telah melanggar aturan internasional dan berpaling dari beberapa sekutunya. Hal itu buntut penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dan rencana Donald Trump menguasai Greenland.

    Dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/1/2026), hal itu disampaikan Macron dalam pidato tahunannya di hadapan para duta besar Prancis di Istana Elysee. Macron juga menyinggung fungsi lembaga multilateral buntut aksi Trump tersebut.

    “Amerika Serikat adalah kekuatan yang mapan, tetapi secara bertahap berpaling dari beberapa sekutunya dan melepaskan diri dari aturan-aturan internasional yang masih dipromosikannya baru-baru ini,” kata Macron kepada para duta besar di Istana Elysee.

    “Lembaga-lembaga multilateral semakin tidak berfungsi secara efektif,” tambah Macron.

    Macron berbicara setelah pasukan khusus AS menculik Maduro dan istrinya dari Venezuela pada hari Sabtu dalam sebuah serangan kilat dan membawa mereka ke New York. Hal ini juga memicu kecaman bahwa Amerika Serikat telah merongrong hukum internasional.

    “Kita hidup di dunia dengan kekuatan-kekuatan besar dengan godaan nyata untuk memecah belah dunia,” kata Macron

    Trump telah berulang kali menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk merebut pulau Arktik yang memicu kemarahan dari pemegang kendali kekuasaan Denmark dan sekutu Eropa lainnya. Denmark sendiri telah memperingatkan bahwa setiap serangan akan menjadi akhir dari aliansi NATO.

    (wnv/eva)

  • Agen Imigrasi Tembak Mati Wanita AS hingga Picu Demo, Apa yang Diketahui?

    Agen Imigrasi Tembak Mati Wanita AS hingga Picu Demo, Apa yang Diketahui?

    Minneapolis

    Seorang perempuan di kota Minneapolis ditembak mati oleh petugas imigrasi AS, Rabu (07/01). Kejadian ini tak jauh dari lokasi kematian laki-laki bernama George Floyd pada 2020 di tangan empat polisi pada tahun 2020.

    Penembakan ini dikecam berbagai kalangan, termasuk Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, yang menuntut agar aparat imigrasi federal (biasa disebut agen ICE) segera meninggalkan kota itu.

    Korban penembakan telah diidentifikasi keluarganya. Dia adalah Renee Nicole Good, warga negara AS berusia 37 tahun. Pemerintah kota Minneapolis menyebut Renee ditembak saat sedang dalam perjalanan untuk merawat sejumlah tetangganya.

    Penembakan ini terjadi tak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, memulai apa yang dia sebut sebagai “operasi penegakan hukum imigrasi besar-besaran” di Minneapolis. Trump mengirim lebih dari 2.000 agen ICE ke kota itu.

    Para petugas imigrasi inilah yang diminta Wali Kota Jacob Frey untuk segera pergi dari Minneapolis. “Pergi dari Minneapolis!” kata Jacob saat konferensi pers. “Kami tidak menginginkan kalian di sini.”

    Potret anggota FBI di lokasi penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (Getty Images)

    Hal yang sama dikatakan Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang mengklaim penembakan terjadi ketika seorang “perusuh yang melakukan kekerasan” diduga mencoba menabrak seorang petugas imigrasi.

    Kristi Noem, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, menyebut petugas tersebut “menembak untuk membela diri”.

    Di tengah kecaman, Noem menyebut para petugas imigrasi akan terus melanjutkan operasi mereka mencari imigran di Minneapolis.

    Bagaimana kronologi penembakan ini?

    Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara, menyatakan perempuan bernama Renee Nicole Good tewas dengan luka tembak di kepala. Setelah ditembak, mobil yang dikendarai Renee menabrak kendaraan lainnya.

    O’Hara berkata, personal kepolisiannya dikontak untuk segera tiba di lokasi penembakan. Sejumlah polisi, kata dia, lalu melakukan prosedur pertolongan darurat sebelum melarikan Renee ke Hennepin County Medical Center.

    Di rumah sakit inilah Renee dinyatakan meninggal dunia.

    Agen Patroli Perbatasan AS menahan seseorang di dekat Sekolah Menengah Atas Roosevelt saat jam pulang sekolah, tak lama setelah kejadian penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (AFP via Getty Images)

    Menurut penelusuran polisi, mobil yang dikendarai Renee menutup akses lalu lintas antara dua jalan di Portland Avenue.

    “Seorang petugas penegak hukum federal mendekatinya dengan berjalan kaki, dan kendaraan itu mulai melaju,” kata O’Hara.

    “Setidaknya dua tembakan lalu dilepaskan,” katanya, menambahkan bahwa mobil itu kemudian menabrak pinggir jalan.

    BBC Verify memantau media sosial dan melihat sejumlah video yang menunjukkan penembakan tersebut.

    Sebuah lubang bekas peluru terlihat di kaca depan kendaraan yang ada dalam lokasi penembakan oleh petugas imigrasi AS, Rabu (07/01), di Minneapolis, Minnesota. (Getty Images)

    Kami telah memverifikasi tiga video insiden tersebut, semuanya direkam dari Portland Avenue. Kami memastikan bahwa tiga video itu direkam di lokasi yang sama dengan lokasi penembakan.

    Salah satu video yang telah kami verifikasi menunjukkan seorang petugas imigrasi AS di depan sebuah mobil, beberapa saat sebelum mereka melepaskan tembakan.

    Kami mengkonfirmasi bahwa video-video tersebut pertama kali muncul secara online hari ini.

    Dalam rekaman tersebut, sebuah mobil berwarna merah marun bergerak saat tiga tembakan terdengar.

    Beberapa detik kemudian, mobil tersebut menabrak dua mobil yang diparkir.

    Agen ICE berdiri di lokasi penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (Anadolu via Getty Images)

    Pada video lainnya, terlihat puluhan petugas dari berbagai lembaga penegak hukum berkerumun di jalan perumahan yang tertutup salju.

    Penegak hukum memasang pita kuning penanda TKP di jalan tersebut, yang dipenuhi rumah-rumah.

    Puluhan warga dan penonton berkerumun di dekat pita polisi, beberapa berteriak kepada petugas penegak hukum.

    Video lain dari media berita lokal menunjukkan barisan polisi mengelilingi sebuah SUV berwarna merah marun, dengan pintunya sedikit terbuka.

    Kendaraan tersebut tampaknya menabrak kendaraan putih di dekat tumpukan salju di sisi jalan. Barang-barang tergantung di pintu yang sedikit terbuka.

    Bagian belakang kendaraan putih tersebut hancur, dengan spatbornya terlepas.

    Siapa korban sebenarnya?

    Dewan Kota Minneapolis mengonfirmasi identitas perempuan yang tewas sebagai Renee Nicole Good.

    “Renee adalah warga kota kami yang sedang merawat tetangganya pagi ini dan nyawanya diambil di tangan pemerintah federal,” begitu bunyi pernyataan dewan kota.

    “Siapa pun yang membunuh seseorang di kota kami pantas ditangkap, diselidiki, dan dituntut hingga batas maksimal hukum,” tulis mereka.

    Adu klaim pejabat AS

    Di tengah kecaman dari pejabat kota Minneapolis, seorang juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri menyebut Renee adalah “salah satu perusuh yang melakukan kekerasan dengan mempersenjatai kendaraannya”.

    Lembaga ini menuding Renee berusaha menabrak petugas imigrasi.

    Oleh karena itulah, klaim lembaga ini, seorang agen ICE “melepaskan tembakan untuk membela diri”.

    Warga berdemonstrasi menentang otoritas imigrasi federal AS di Minneapolis, Rabu (07/01). (AFP via Getty Images)

    Namun Wali Kota Minneapolis Jaboc Frey menuduh pihak federal berusaha memutarbalikkan fakta.

    Jaboc membantah pernyataan sejumlah pejabat federal, termasuk klaim petugas imigrasi yang membela diri. Jacob berkata, dia telah melihat sendiri video kejadian itu.

    “Ini adalah tindakan seorang agen yang secara sembrono menggunakan kekuasaan yang mengakibatkan seseorang meninggal,” katanya.

    Peristiwa ini dikecam berbagai kalangan. Tina Smith, senator dari Minneapolis dari Partai Demokrat, meminta agen ICE untuk meninggalkan negara bagian itu “demi keselamatan semua orang”.

    “Semoga Minneapolis tetap aman,” ujarnya.

    Sementara itu, warga Minneapolis saat ini juga turun ke jalanan untuk berdemonstrasi mengutuk penembakan ini.

    “Saya merasakan kemarahan Anda. Saya juga marah,” kata Gubernur Negara Bagian Minnesota, Tim Walz.

    Walz meminta seluruh komunitas di AS untuk bersolidaritas kepada warga Minnesota.

    Sebuah titik peringatan yang didirikan warga Minneapolis untuk korban penembakan Renee Nicole Good. (Bloomberg via Getty Images)

    Mengapa agen ICE berada di Minneapolis?

    Trump mengerahkan tambahan 2.000 agen federal ke wilayah Minneapolis dalam beberapa pekan terakhir.

    Pengerahan agen ICE yang dimulai awal tahun ini merupakan salah satu pengerahan personel Departemen Keamanan Dalam Negeri terbesar di sebuah kota di AS dalam beberapa tahun terakhir.

    Sejak akhir 2025, imigrasi AS mengincar orang-orang di Minneapolis yang telah menerima perintah deportasi, termasuk anggota komunitas Somalia di kota tersebut.

    Komunitas Somalia itu sering diolok oleh Presiden AS Donald Trump dengan istilah “sampah”.

    “Saya tidak menginginkan mereka di negara kita. Jujur saja,” kata presiden. “Negara mereka tidak baik karena suatu alasan. Negara mereka bau.”

    Trump kemudian mempertegas pernyataannya setelah sebuah video YouTube oleh seorang kreator konten konservatif menuduh pusat penitipan anak yang dikelola warga Somalia melakukan penipuan.

    “Usir mereka dari sini,” tulis Trump di Truth Social pada bulan Desember. Ia juga menahan dana penitipan anak federal untuk negara bagian Minnesota sebagai tanggapan.

    Pemerintahan Trump juga telah mengirim agen ICE ke kota-kota lain, semuanya sebagai bagian dari penindakan luas terhadap apa yang mereka sebut sebagai imigrasi ilegal di AS.

    Lihat juga Video: Penembakan Massal di Gereja Salt Lake City AS, 2 Orang Tewas

    (nvc/nvc)

  • Agen Imigrasi Federal Tembak Mati Wanita AS

    Agen Imigrasi Federal Tembak Mati Wanita AS

    Minneapolis

    Agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada Rabu (07/01) menembak mati seorang perempuan yang disebut mencoba menabrakkan kendaraannya ke arah petugas ICE, menurut keterangan otoritas Amerika Serikat (AS).

    Dalam unggahan di X, Department of Homeland Security (DHS) atau Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan bahwa para agen ICE sedang melakukan penggerebekan di Minneapolis ketika “kerusuhan mulai menghalangi” pergerakan para agen.

    “Salah satu perusuh yang bertindak brutal menjadikan kendaraannya sebagai senjata, mencoba melindas aparat penegak hukum kami dengan tujuan membunuh mereka, sebuah tindakan terorisme domestik,” kata DHS.

    Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, dengan tegas menolak klaim pemerintah federal bahwa para agen ICE bertindak untuk membela diri.

    Frey mengatakan ia telah melihat video kejadian tersebut, di mana sebuah SUV Honda tampak menghalangi kendaraan tanpa tanda yang digunakan oleh aparat penegak hukum.

    “Mereka sudah mencoba memutarbalikkan ini sebagai tindakan pembelaan diri,” ujar Frey. “Setelah saya sendiri melihat videonya, saya ingin mengatakan langsung kepada semua orang, itu omong kosong.”

    Sementara itu, Gubernur Minnesota Tim Walz meminta publik agar tidak mempercayai “mesin propaganda” DHS terkait respons lembaga itu atas penembakan mematikan tersebut.

    Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa penembakan fatal tersebut tampaknya merupakan tindakan membela diri. Ia juga menuduh korban telah dengan kejam menabrak agen ICE.

    “Perempuan yang mengemudikan mobil itu bertindak sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan, lalu dengan keras, sengaja, dan kejam menabrak Petugas ICE, yang tampaknya menembaknya untuk membela diri,” tulis Trump di Truth Social.

    Terjadi di tengah aksi protes

    Dalam rekaman video yang belum diverifikasi dan beredar di media sosial, terlihat para agen ICE mendekati kendaraan tersebut dan mencoba membuka pintunya. Saat perempuan berusia 37 tahun itu berusaha melarikan diri dengan mengemudi, seorang agen melepaskan tembakan sebanyak tiga kali, sebelum mobil itu akhirnya menabrak sesuatu di dekat lokasi.

    Peristiwa ini terjadi saat berlangsungnya aksi protes terhadap penggerebekan ICE di bagian selatan kota terbesar di Minnesota, menurut media lokal.

    Frey mengatakan, “kami telah mengkhawatirkan momen ini sejak awal kehadiran ICE di Minneapolis.”

    Wali Kota Minneapolis itu juga menyerukan agar otoritas imigrasi “angkat kaki dari kota ini,” dan menuduh para agen ICE menyebabkan kekacauan dan ketidakpercayaan.

    Kawasan Twin Cities, yaitu Minneapolis dan St. Paul, diliputi suasana mencekam sejak Departemen Keamanan Dalam Negeri pada Selasa (06/01) mengumumkan rencana operasi dengan mengerahkan 2.000 agen dan petugas federal ke wilayah Minneapolis sebagai bagian dari pengetatan kebijakan imigrasi.

    Pada akhir bulan lalu, seorang influencer sayap kanan mengunggah video yang mengklaim bahwa sebuah pusat penitipan anak di Minneapolis yang dikelola warga Somalia telah melakukan penipuan lebih dari US$100 juta (sekitar Rp1,7 triliun).

    Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dan Direktur FBI Kash Patel kemudian mengumumkan peningkatan operasi di kota tersebut melalui media sosial. Patel menyatakan bahwa operasi itu sebagian akan menargetkan “skema penipuan berskala besar.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Hani Anggraini

    Editor: Melisa Ester Lolindu

    Lihat Video: Petugas Imigrasi AS Tembak Mati Wanita 37 Tahun Berujung Demo Warga

    (nvc/nvc)

  • Australia Bersiap Hadapi Kebakaran Hutan yang Mengerikan

    Australia Bersiap Hadapi Kebakaran Hutan yang Mengerikan

    Berikut sejumlah informasi pilihan dari sejumlah negara yang berlangsung selama 24 terakhir yang telah kami rangkum untuk Anda.

    Berita dari Australia menjadi pembuka Dunia Hari Ini edisi Kamis, 8 Januari 2026.

    Kebakaran hutan diperkirakan terjadi besok

    Gelombang panas yang melanda benua Australia sudah memasuki hari kedua, dengan suhu tinggi diperkirakan akan kembali terjadi di Victoria, Australia Selatan, dan New South Wales.

    Pihak berwenang pemadam kebakaran tetap siaga tinggi karena dikhawatirkan banyak rumah-rumah yang hancur akibat kebakaran yang tak terkendali di Victoria tengah.

    Kepala Petugas CFA, Jason Heffernan, memberikan informasi terbaru tentang cuaca yang diperkirakan akan terjadi di Victoria besok.

    “Suhu akan berada di kisaran 40 derajat Celcius, terutama di bagian utara negara bagian,” kata Jason, yang juga memperingatkan angin akan menyebabkan kebakaran hutan yang “sangat mengerikan”.

    Kepala Pemadam Kebakaran FFMVic Chris Hardman mengatakan warga tidak aman untuk berada di daerah semak belukar dengan hutan dan rumput yang akan mudah terbakar, dan sangat kecil kemungkinan petugas pemadam kebakaran dapat mengendalikan api.

    AS menghadang lebih banyak kapal tanker

    Militer Amerika Serikat sudah menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia di Samudra Atlantik Utara, yang mencoba menghindari blokade AS selama berminggu-minggu.

    Ini adalah salah satu dari dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela, yang dicegat oleh Amerika Serikat dalam beberapa jam, karena pemerintahan presiden Trump berjanji untuk mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak negara itu secara ketat tanpa batas waktu.

    Inggris memberikan “dukungan” dalam penyitaan kapal tanker tersebut, termasuk pesawat pengintai dan kapal.

    Rusia dilaporkan mengirimkan kapal selam dan kapal angkatan laut lainnya ke lokasi kejadian, menyatakan kapal tanker itu adalah “kapal kami”.

    Rusia juga menuntut pembebasan warga negaranya, yang menurut mereka berada di atas kapal, tetapi Amerika Serikat mengatakan mereka dapat dibawa ke Amerika dan diadili.

    Agen ICE tembak mati seorang perempuan

    Di tengah menegakkan hukum imigrasi yang ketat, seorang agen imigrasi AS menembak dan membunuh seorang perempuan berusia 37 tahun di dalam mobilnya di Minneapolis.

    Rabu kemarin, Renee Nicole Good ditembak di kepala di depan anggota keluarganya dalam operasi nasional di bawah kebijakan Presiden Donald Trump terhadap imigran.

    Para pejabat federal mengatakan penembakan dilakukan sebagai tindakan otoritas yang membela diri, tetapi Walikota Minneapolis Jacob Frey mengatakannya sebagai “narasi sampah” pemerintah.

    “Mereka sudah mencoba memutarbalikkan fakta bahwa ini adalah tindakan membela diri,” kata Jacob dalam konferensi pers.

    “Setelah melihat videonya sendiri, saya ingin mengatakan langsung kepada semua orang, itu omong kosong.”

    Israel akan mulai bangun permukiman di Tepi Barat

    Israel dilaporkan sudah melewati rintangan terakhir sebelum memulai pembangunan proyek pemukiman kontroversial di dekat Yerusalem, yang secara efektif akan membelah Tepi Barat menjadi dua, menurut tender pemerintah.

    Organisasi anti-permukiman ‘Peace Now’ pertama kali melaporkan tender tersebut , yang mencari penawaran dari pengembang untuk membuka jalan untuk memulai pembangunan proyek E1.

    Yoni Mizrahi, yang menjalankan divisi pengawasan pemukiman dari kelompok tersebut, mengatakan pekerjaan awal dapat dimulai dalam bulan ini.

    Pengembangan pemukiman di E1, sebidang tanah terbuka di sebelah timur Yerusalem, telah dipertimbangkan selama lebih dari dua dekade, tetapi dibekukan karena tekanan AS selama pemerintahan sebelumnya.

    Komunitas internasional secara mayoritas menganggap pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat sebagai tindakan ilegal dan penghalang perdamaian.

    Lihat juga Video: Raja Juli Pamer Angka Kebakaran Hutan Turun di ISF 2025