Category: Detik.com Internasional

  • Keluarga Sandera Protes Rencana Israel Capok Gaza, Serukan Mogok Nasional

    Keluarga Sandera Protes Rencana Israel Capok Gaza, Serukan Mogok Nasional

    Jakarta

    Keluarga sandera Israel yang ditawan di Gaza menyerukan mogok nasional. Seruan itu sebagai bentuk protes atas keputusan kabinet keamanan Israel baru-baru ini untuk memperluas perang dan mengambil alih Kota Gaza.

    “Kami menutup negara ini untuk menyelamatkan tentara dan sandera,” kata keluarga para sandera di Tel Aviv, dilansir CNN, Senin (11/8/2025).

    Keluarga para sandera bergabung dengan Dewan 7 Oktober, yang mewakili keluarga tentara yang gugur pada awal perang. Para penyelenggara mengatakan inisiatif ini akan dimulai sebagai upaya akar rumput, terutama melalui perusahaan swasta dan warga negara yang akan mogok pada hari Minggu untuk menghentikan perekonomian.

    Dalam beberapa jam, Dewan 7 Oktober mengatakan “ratusan” perusahaan menyatakan akan berpartisipasi dalam pemogokan, serta “ribuan warga negara yang telah menyatakan akan mengambil cuti.”

    Serikat pekerja terbesar Israel, yang dikenal sebagai Histadrut, belum bergabung dalam rencana mogok ini. Keluarga para sandera tersebut diperkirakan akan bertemu dengan Ketua Histadrut, Arnon Bar-David, pada hari ini untuk meyakinkannya agar bergabung.

    Anat Angrest, ibu dari Matan, yang disandera di Gaza, memohon kepada para pemimpin industri ekonomi dan ketenagakerjaan, memperingatkan “keheningan kalian membunuh anak-anak kami.”

    “Saya tahu hati kalian bersama kami dan berduka – tetapi itu tidak cukup. Keheningan itu membunuh. Itulah sebabnya saya di sini hari ini untuk meminta sesuatu yang selama ini saya hindari – untuk meminta kepada para pemimpin industri: kalian punya kuasa,” kata Angrest.

    Histadrut sebelumnya telah menggelar aksi mogok umum untuk mendukung keluarga para sandera tahun lalu. Setelah pembunuhan enam sandera Israel oleh Hamas pada September 2024, serikat pekerja tersebut mengganggu sektor-sektor utama seperti transportasi, perbankan, layanan kesehatan, dan bergabung dalam protes dan demonstrasi yang meluas sepanjang hari.

    Namun, pemerintah Israel mengecam tindakan tersebut sebagai tindakan politis dan memutuskan untuk menghentikan aksi mogok tersebut melalui putusan pengadilan ketenagakerjaan.

    Meskipun Histadrut belum berkomentar secara terbuka tentang serangan tersebut, para pemimpin oposisi Israel telah mendukung dan menyambut inisiatif tersebut. Pemimpin oposisi, Yair Lapid, mengatakan, “Seruan keluarga para sandera untuk melakukan mogok umum dibenarkan dan tepat.”

    Ketua Partai Demokrat, Yair Golan, mengumumkan partainya akan bergabung dalam aksi mogok tersebut dan menyerukan “kepada seluruh warga negara Israel – siapa pun yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan dan tanggung jawab bersama – untuk mogok bersama kami, turun ke jalan, melawan, dan mengganggu.”

    Diketahui, Kabinet keamanan Israel telah memutuskan rencana kontroversial untuk memperluas perang dan mengambil alih Kota Gaza. Rencana tersebut telah memicu kritik keras dari keluarga 50 sandera yang tersisa di Gaza, 20 di antaranya diperkirakan masih hidup, dan memperingatkan bahwa langkah militer baru tersebut dapat membahayakan para sandera yang masih hidup dan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membela eskalasi tersebut dalam konferensi pers. Ia bersikeras bahwa rencana tersebut adalah cara terbaik.

    “Bertentangan dengan klaim palsu, ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri perang dan cara terbaik untuk mengakhirinya dengan cepat,” ujar Netanyahu kepada para wartawan.

    Netanyahu menggambarkan Kota Gaza dan kamp-kamp pusat di daerah kantong tersebut sebagai “dua benteng tersisa” Hamas, yang menurutnya harus diserang Israel untuk “menyelesaikan tugas dan merampungkan kekalahan Hamas.”

    Halaman 2 dari 2

    (yld/idn)

  • Jurnalis Anas al-Sharif Tewas Usai Tenda Kru Al-Jazeera di Gaza Dibom Israel

    Jurnalis Anas al-Sharif Tewas Usai Tenda Kru Al-Jazeera di Gaza Dibom Israel

    Jakarta

    Jurnalis Al-Jazeera Anas Al Sharif meninggal dunia akibat serangan di Gaza pada Minggu (10/8) waktu setempat. Hingga kini total 237 jurnalis gugur akibat serangan Israel sejak dimulainya perang.

    Dilansir Al Jazeera, Senin (11/8) Kantor Media Pemerintah di Gaza pembunuhan tersebut merupakan kejahatan perang yang sepenuhnya bertujuan untuk membungkam kebenaran dan menutupi kejahatan genosida yang dilakukan oleh Israel.

    “Ini merupakan awal dari rencana kriminal penjajah [Israel] untuk menutupi pembantaian brutal di masa lalu dan yang akan datang yang telah dan akan dilakukannya di Jalur Gaza,” kata kantor Media tersebut, Senin.

    Serangan Israel itu disebut menargetkan tenda kru jurnalis al-Jazeera. Anas Al Sharif dan empat rekannya tewas dalam serangan udara Israel itu.

    “Jurnalis Al Jazeera Anas al-Sharif tewas bersama empat rekannya dalam serangan yang ditargetkan Israel terhadap sebuah tenda yang menampung jurnalis di Kota Gaza,” kata penyiar yang berbasis di Qatar, dikutip AFP.

    Kantor tersebut mengatakan bahwa Israel, Amerika Serikat dan semua negara yang terlibat dalam genosida bertanggung jawab penuh atas kejahatan sistematis terhadap para jurnalis dan pekerja media di daerah tersebut. Mereka juga menyerukan agar organisasi-organisasi internasional turun tangan.

    “Anas Al Sharif menjabat sebagai kepala sel teroris di organisasi teroris Hamas dan bertanggung jawab untuk memajukan serangan roket terhadap warga sipil Israel dan pasukan IDF,” kata militer Israel dilansir Reuters, Senin (11/8).

    Direktur Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza mengatakan bahwa serangan yang menghantam tenda yang menampung para jurnalis di luar pintu masuk rumah sakit, ditargetkan secara langsung kepada mereka.

    Jurnalis Al Jazeera, Anas al-Sharif, Mohammed Qreiqeh, Ibrahim Zaher dan Mohammed Noufal terbunuh dalam serangan tersebut.

    Simak Video: Serangan Israel Tewaskan Jurnalis, Tuding Korban Pemimpin Hamas

    (wnv/idn)

  • Tekanan Eropa Jelang Jumpa Trump dan Putin Bahas Perang Ukraina

    Tekanan Eropa Jelang Jumpa Trump dan Putin Bahas Perang Ukraina

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, AS pada Jumat pekan ini. Para pemimpin Eropa mendesak ‘tekanan’ yang lebih besar ke Rusia untuk mengakhiri perang Ukraina-Rusia.

    “Hanya pendekatan yang menggabungkan diplomasi aktif, dukungan untuk Ukraina, dan tekanan pada Federasi Rusia untuk mengakhiri perang ilegal yang dapat berhasil,” demikian kata pemimpin Eropa dalam pernyataan bersama, Minggu (10/8/2025).

    Pernyataan pemimpin Eropa itu ditandatangani oleh Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Inggris, Finlandia, dan Ketua Komisi Uni Eropa Ursula Von Der Leyen.

    Para pemimpin negara Eropa sejatinya menyambut baik upaya Trump dan mengaku siap membantu secara diplomatis, dengan mempertahankan dukungan untuk Ukraina, serta dengan menegakkan dan memberlakukan langkah-langkah pembatasan terhadap Rusia.

    “Jalur kontak saat ini harus menjadi titik awal negosiasi”, demikian pernyataan bersama pemimpin Eropa tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

    Para pemimpin Eropa itu juga mengatakan, sebuah resolusi “harus melindungi kepentingan keamanan vital Ukraina dan Eropa”. Mereka juga menegaskan perlunya jaminan keamanan yang kuat dan kredibel yang memungkinkan Ukraina untuk secara efektif mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorial.

    “Jalan menuju perdamaian di Ukraina tidak dapat diputuskan tanpa Ukraina,” kata pimpinan Eropa.

    Para penasihat keamanan nasional dari sekutu Kyiv termasuk Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan Inggris sebelumnya berkumpul di Inggris pada hari Sabtu untuk menyelaraskan pandangan mereka menjelang KTT Putin-Trump.

    Rencana pertemuan dengan Putin diumumkan oleh Trump. Dia mengatakan bahwa “akan ada pertukaran wilayah demi kebaikan Ukraina dan Rusia”, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

    KTT Alaska pada 15 Agustus nanti akan menjadi yang pertama antara presiden AS dan Rusia yang sedang menjabat sejak mantan presiden AS Joe Biden bertemu Putin di Jenewa, Swiss pada Juni 2021.

    Trump dan Putin terakhir kali bertemu pada tahun 2019 di sebuah pertemuan puncak G20 di Jepang selama masa jabatan pertama Trump. Kedua pemimpin telah berbicara melalui telepon beberapa kali sejak Januari lalu.

    Zelensky Dukung Tekanan Eropa

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendukung pernyataan para pemimpin Eropa tentang pencapaian perdamaian dan melindungi kepentingan Ukraina dan Eropa. Menurut Zelensky, akhir perang harus memberikan keadilan.

    Diketahui, para pemimpin Eropa seperti Prancis, Italia, Jerman, Polandia, Inggris, Finlandia, dan Komisi Eropa menyambut baik upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Trump akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat pekan depan. Akan tetapi, para pemimpin Eropa menekankan perlunya menekan Rusia dan memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina.

    “Akhir perang harus adil, dan saya berterima kasih kepada semua orang yang mendukung Ukraina dan rakyat kita hari ini demi perdamaian di Ukraina, yang membela kepentingan keamanan vital negara-negara Eropa kita,” tulis Zelenskiy di X (Twitter), Minggu (10/8/2025).

    “Ukraina menghargai dan sepenuhnya mendukung pernyataan Presiden Macron, Perdana Menteri Meloni, Kanselir Merz, Perdana Menteri Tusk, Perdana Menteri Starmer, Presiden Ursula von der Leyen, dan Presiden Stubb tentang perdamaian untuk Ukraina,” sambungnya.

    Simak Video: Trump Bakal Bertemu Putin di Alaska, Bahas Perang Ukraina

    Halaman 2 dari 2

    (kny/idn)

  • Kecaman Bertubi-tubi Buat Israel yang Bertekad Caplok Gaza

    Kecaman Bertubi-tubi Buat Israel yang Bertekad Caplok Gaza

    Jakarta

    Sejumlah negara kembali mengecam keras rencana Israel yang akan mengambil langkah baru memperluas operasional militernya di Gaza. Sejumlah negara khawatir rencana baru Israel tersebut akan membuat situasi di Palestina semakin parah.

    Dirangkum detikcom, Senin (11/8/2025), berdasarkan rencana yang baru disetujui kabinet Israel untuk mengalahkan kelompok Hamas, pasukan Israel akan bersiap untuk menguasai Kota Gaza, sambil mendistribusikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk sipil di luar zona pertempuran.

    Namun, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (9/8/2025), Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah unggahan di media sosial X, menegaskan “kami tidak akan menduduki Gaza — kami akan membebaskan Gaza dari Hamas”.

    Ia mengatakan bahwa demiliterisasi wilayah tersebut dan pembentukan “pemerintahan sipil yang damai… akan membantu membebaskan para sandera kami” dan mencegah ancaman di masa mendatang.

    Israel menduduki Gaza sejak tahun 1967, tetapi menarik pasukan dan para pemukimnya pada tahun 2005.

    Kantor Netanyahu mengatakan pada Jumat (8/8) waktu setempat, kabinet telah mengadopsi “lima prinsip”, yakni perlucutan senjata Hamas, pemulangan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, demiliterisasi Jalur Gaza, kontrol keamanan Israel atas Jalur Gaza, dan keberadaan pemerintahan sipil alternatif yang bukan Hamas atau Otoritas Palestina

    Meskipun kabinet keamanan Israel telah menyetujui rencana untuk mengambil alih Kota Gaza, belum ada jadwal pasti kapan operasi tersebut akan dimulai.

    Laporan dari media Israel mengindikasikan bahwa militer tidak akan segera bergerak ke Kota Gaza, dan penduduk akan diminta untuk mengungsi terlebih dahulu.

    Sejumlah negara seperti Indonesia, Inggris, China, Turki, Arab Saudi, hingga Jerman sebelumnya telah mengecam rencana Israel tersebut. Kini kecaman tersebut kembali datang dari berbagai pihak lainnya, seperti Rusia, bahkan warga Israel sendiri yang menggelar demonstrasi.

    Rusia Kecam Rencana Israel

    Rusia mengecam dan menolak rencana Israel untuk memperluas operasi militernya di Jalur Gaza. Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan rencana tersebut akan memperburuk situasi di Palestina.

    “Implementasi keputusan dan rencana semacam itu, yang memicu
    kecaman dan penolakan, berisiko memperburuk situasi yang sudah sangat dramatis di wilayah kantong Palestina tersebut, yang memiliki semua ciri bencana kemanusiaan,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan, dilansir Reuters, Minggu (10/8/2025).

    Dilansir Anadolu, Rusia menambahkan, jika rencana tersebut dijalankan Israel, maka kemungkinan penduduk sipil di Gaza tidak akan tersisa. Menurut Rusia semua penduduk dapat berpotensi jadi sasaran pengusiran paksa.

    “Diperkirakan dalam waktu dekat tidak akan ada satu pun warga sipil yang tersisa di wilayah tersebut. Semua penduduk akan menjadi sasaran pengusiran paksa. Pihak Israel tidak menyembunyikan niatnya untuk secara bertahap merebut dan menduduki seluruh sektor tersebut pada tahap-tahap selanjutnya,” demikian pernyataan tersebut.

    Kementerian Luar Negeri Rusia juga memperingatkan tindakan tersebut akan mempersulit upaya internasional untuk meredakan ketegangan di zona konflik, yang akan mengakibatkan konsekuensi negatif yang serius bagi seluruh Timur Tengah. Rusia mengingatkan pentingnya melakukan gencatan senjata di Gaza.

    Warga Israel Demo di Tel Aviv

    Ribuan orang turun ke jalan di Tel Aviv pada hari Sabtu untuk menuntut diakhirinya perang di Gaza. Demo ini berlangsung sehari setelah pemerintah Israel berjanji untuk memperluas konflik dan merebut Kota Gaza.

    Dilansir AFP, Minggu (10/8/2025), para demonstran melambaikan spanduk dan mengangkat foto-foto sandera yang masih ditahan di wilayah Palestina. Mereka mendesak pemerintah untuk menjamin pembebasan mereka.

    Para jurnalis AFP yang hadir di demonstrasi tersebut memperkirakan jumlah peserta mencapai puluhan ribu. Sementara sebuah kelompok yang mewakili keluarga para sandera mengatakan sebanyak 100.000 orang berpartisipasi.

    “Kami akan mengakhiri dengan pesan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu: jika Anda menyerbu sebagian wilayah Gaza dan para sandera dibunuh, kami akan mengejar Anda di alun-alun kota, dalam kampanye pemilu, dan di setiap waktu dan tempat,” ujar Shahar Mor Zahiro, kerabat seorang sandera yang dibunuh, kepada AFP.

    Arab Saudi Kecam Israel

    Pemerintah Arab Saudi menolak rencana Israel mengambil alih Gaza, Palestina. Arab Saudi mengutuk sekeras-kerasnya rencana itu.

    Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (9/8/2025), Arab Saudi menolak rencana Israel untuk mengambil alih kota Gaza. Arab Saudi mengecam Israel karena kelaparan dan pembersihan etnis terhadap warga Palestina di wilayah yang diblokade tersebut.

    “Mengutuk dengan sekeras-kerasnya dan sekeras-kerasnya keputusan otoritas pendudukan Israel untuk menduduki Jalur Gaza,” pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab di akun X.

    Jerman Setop Ekspor Senjata ke Israel

    Pemerintah Jerman mengumumkan penghentian sementara semua izin ekspor senjata ke Israel. Penghentian ini dilakukan menyusul pernyataan Israel yang berencana menguasai jalur Gaza, Palestina.

    Dilansir kantor berita BBC, Jumat (8/8/2025), keputusan itu disampaikan langsung Kanselir Friedrich Merz. Hal itu sebagai reaksi Jerman terhadap rencana Israel untuk mengambil alih Kota Gaza.

    Merz mengatakan pemerintahnya tidak akan menyetujui ekspor peralatan militer apa pun ke Israel yang dapat digunakan di Gaza. Merz belum memerinci sampai kapan penghentian ekspor ini.

    “Dalam situasi ini, pemerintah Jerman tidak akan mengizinkan ekspor peralatan militer apa pun yang dapat digunakan di Jalur Gaza hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata Merz.

    Halaman 2 dari 4

    (yld/yld)

  • Gempa M 6,1 Guncang Turki, 1 Orang Tewas-Belasan Bangunan Runtuh

    Gempa M 6,1 Guncang Turki, 1 Orang Tewas-Belasan Bangunan Runtuh

    Jakarta

    Gempa berkekuatan Magnitudo (M) 6,1 mengguncang Sindirgi, Turki barat pada Minggu (10/8) waktu setempat. Satu orang dilaporkan tewas imbas bencana tersebut.

    “Seorang pria berusia 81 tahun meninggal dunia segera setelah berhasil diselamatkan dari reruntuhan,” kata Menteri Dalam Negeri Turki Ali Yerlikaya dilansir kantor berita AFP, Senin (11/8/2025)

    Gempa tersebut terasa di beberapa kota di bagian barat negara itu, termasuk Istanbul dan pusat wisata Izmir. Sebanyak 29 orang lainnya mengalami luka-luka.

    Gempa tersebut meruntuhkan 16 bangunan di Sindirgi dan sekitarnya, termasuk sebuah bangunan tiga lantai di pusat kota.

    Beberapa orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan tiga lantai, yang dihuni oleh enam orang. Korban meninggal juga sempat terkubur di bawah reruntuhan di sana sebelum akhirnya berhasil dikeluarkan.

    Sebelumnya, Walikota Serkan Sak mengatakan kepada saluran televisi swasta Turki empat orang berhasil diselamatkan dari reruntuhan. Upaya untuk mengeluarkan dua orang lainnya masih berlangsung. Sebanyak 319 responden pertama dikerahkan ke zona yang terkena dampak.

    (wnv/wnv)

  • Ngeri Penembakan Massal di Kelab Malam Ekuador, 8 Orang Tewas

    Ngeri Penembakan Massal di Kelab Malam Ekuador, 8 Orang Tewas

    Jakarta

    Sekelompok pria bersenjata menembaki kerumunan orang di luar sebuah klub malam di Santa Lucia, Provinsi Guayas, Ekuador. Sebanyak delapan orang tewas dan dua lainnya terluka akibat serangan tersebut.

    “Beberapa orang terluka dan tujuh mayat,” kata kolonel polisi Javier Chango dilansir kantor berita AFP, Senin (11/8/2025).

    Dia menambahkan satu orang lainnya meninggal di rumah sakit. Orang-orang bersenjata itu tiba dengan dua truk pikap dan menembaki orang-orang yang sedang minum-minum di luar klub malam.

    Di antara korban tewas adalah pemilik klub malam Jorge Urquizo, yang merupakan saudara laki-laki dari walikota Santa Lucia. Polisi menemukan 800 selongsong peluru di tempat kejadian. Setelah serangan itu, orang-orang bersenjata itu kembali ke truk mereka dan melarikan diri.

    Polisi setempat menangkap seorang pria yang mengendarai truk yang membawa pistol. Namun belum diketahui apakah pria tersebut terlibat dalam peristiwa penembakan tersebut atau tidak.

    Polisi mengatakan bahwa mereka belum mengetahui motif penembakan tersebut. Mayat-mayat korban tewas dibawa ke kamar mayat di kota tetangga, Daule.

    “Kami bersatu dalam kesedihan dan doa untuk serangan kekerasan yang telah melanda komunitas kami,” kata kantor tersebut di media sosial.

    (wnv/wnv)

  • Israel Sebut Tak Niat Caplok Gaza, Hamas: Netanyahu Bohong, Menyesatkan!

    Israel Sebut Tak Niat Caplok Gaza, Hamas: Netanyahu Bohong, Menyesatkan!

    Jakarta

    Hamas mengecam Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang mengklaim tidak memiliki rencana untuk mengambil alih Gaza. Hamas menyebut Netanyahu berbohong terkait hal tersebut.

    “Netanyahu terus berbohong, menipu dan mencoba menyesatkan publik. Semua yang dikatakan Netanyahu dalam konferensi pers adalah serangkaian kebohongan, dan dia tidak bisa menghadapi kebenaran; sebaliknya, dia bekerja untuk memutarbalikkan dan menyembunyikannya,” kata pejabat senior Hamas, Taher al-Nunu dilansir kantor berita AFP, Senin (11/8/2025).

    Netanyahu sebelumnya mengklaim bahwa rencananya untuk mengambil alih Gaza bukan untuk menjalankan pemerintahan di sana. Alih-alih, Netanyahu menyebut pihaknya ingin membebaskan wilayah Jalur Gaza dari kelompok Hamas.

    “Tujuan kami bukan untuk menduduki Gaza, tetapi untuk membentuk pemerintahan sipil di Jalur Gaza yang tidak berafiliasi dengan Hamas atau Otoritas Palestina,” kata Netanyahu dalam sebuah konferensi pers dilansir kantor berita AFP, Minggu (10/8).

    Netanyahu juga berjanji untuk menciptakan koridor yang aman untuk penyaluran bantuan.

    “Kami akan menetapkan koridor-koridor yang aman untuk perjalanan dan distribusi bantuan di Jalur Gaza,” ujarnya.

    (wnv/wnv)

  • Hamas Tolak Lucuti Senjata, Israel Siapkan Serangan Lanjutan

    Hamas Tolak Lucuti Senjata, Israel Siapkan Serangan Lanjutan

    Jakarta

    Israel akan menyerang benteng-benteng Hamas yang tersisa di Kota Gaza dan kamp-kamp di Gaza tengah. Langkah itu diambil Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu lantaran Hamas menolak untuk melucuti senjata.

    Dilansir Aljazeera dan AFP, Minggu (10/8/2025), Netanyahu mengatakan Israel tidak memiliki pilihan selain mengalahkan Hamas.

    Netanyahu mengatakan langkah militer Israel selanjutnya akan menumpas benteng pertahanan Hamas yang tersisa di daerah kantong tersebut, yakni Kota Gaza dan sebidang tanah di pusat Gaza yang mencakup berbagai kamp pengungsi dan al-Mawasi.

    “Ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri perang dan cara terbaik untuk mengakhirinya dengan cepat,” kata Netanyahu, Minggu.

    Netanyahu juga menguraikan lima prinsip untuk mengakhiri perang tersebut. Israel berjanji akan menggulingkan Hamas dari kekuasaan dan mengambil alih kontrol keamanan Gaza, termasuk dengan membangun “zona keamanan” di perbatasannya dengan Israel.

    Lima prinsip untuk mengakhiri perang yakni, Hamas dilucuti; semua tawanan Israel dibebaskan; Gaza didemiliterisasi; kontrol keamanan Israel yang menyeluruh didirikan; dan pemerintahan sipil non-Israel yang damai.

    “Saya tidak ingin berbicara tentang jadwal yang pasti, tetapi kami berbicara dalam hal jadwal yang cukup singkat karena kami ingin mengakhiri perang,” tuturnya.

    (wnv/fca)

  • Israel Klaim Rencana Caplok Gaza untuk Bebaskan Sipil dari Hamas

    Israel Klaim Rencana Caplok Gaza untuk Bebaskan Sipil dari Hamas

    Jakarta

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa rencananya untuk mengambil alih Gaza bukan untuk menjalankan pemerintahan di sana. Alih-alih, Netanyahu menyebut pihaknya ingin membebaskan wilayah Jalur Gaza dari kelompok Hamas.

    “Tujuan kami bukan untuk menduduki Gaza, tetapi untuk membentuk pemerintahan sipil di Jalur Gaza yang tidak berafiliasi dengan Hamas atau Otoritas Palestina,” kata Netanyahu dalam sebuah konferensi pers dilansir kantor berita AFP, Minggu (10/8/2025).

    Netanyahu juga berjanji untuk menciptakan koridor yang aman untuk penyaluran bantuan.

    “Kami akan menetapkan koridor-koridor yang aman untuk perjalanan dan distribusi bantuan di Jalur Gaza,” ujarnya.

    Diketahui, Netanyahu mengambil langkah baru di tengah agresi militer di Gaza. Netanyahu berencana mengambil alih kendali seluruh wilayah Gaza yang kemudian disetujui kabinet keamanan Israel.

    Usulan Netanyahu itu dalam rangka menghabisi Hamas di Jalur Gaza. Pasukan Israel disebut akan bersiap dengan rencana tersebut.

    Kabinet keamanan–dengan suara mayoritas–mengadopsi lima prinsip untuk mengakhiri perang: pelucutan senjata Hamas; pengembalian semua sandera, baik yang hidup maupun yang mati; demiliterisasi Jalur Gaza; kontrol keamanan Israel di Jalur Gaza; pembentukan pemerintahan sipil alternatif yang bukan Hamas maupun Otoritas Palestina.

    Rencana Israel tersebut langsung menuai kecaman dunia. Beberapa negara mulai dari Indonesia, Inggris, China hingga Turki mengecam dan menolak rencana Israel tersebut.

    (wnv/fca)

  • Serangan Rusia Tewaskan 5 Orang, Ukraina Balas Hantam Kilang Minyak

    Serangan Rusia Tewaskan 5 Orang, Ukraina Balas Hantam Kilang Minyak

    Jakarta

    Rusia melancarkan serangan tembakan dan drone yang menewaskan lima orang di Ukraina. Sebaliknya, Ukraina melancarkan serangan yang menghantam kilang minyak di wilayah Saratov, Rusia.

    Dilansir kantor berita AFP, serangan terjadi pada Minggu (10/8/2025) waktu setempat. Serangan terus terjadi di garis depan meski saat ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin hendak mengadakan pertemuan puncak dalam upaya menyelesaikan konflik, yang sejauh ini tidak melibatkan Ukraina.

    “Tiga orang tewas, satu orang terluka di wilayah Zaporizhzhia akibat penembakan Rusia,” kata polisi nasional Ukraina, Minggu.

    Ia menambahkan dua warga sipil lainnya tewas di wilayah Donetsk yang diperebutkan di bagian timur. Sementara itu, tiga orang pengunjung pantai tewas di kota pesisir Laut Hitam, Odesa.

    Di sisi lain, tentara Ukraina mengklaim bahwa pesawat tak berawak mereka telah menghantam kilang minyak besar milik Rusia. Kilang minyak itu terletak di wilayah Saratov, Rusia bagian barat, berjarak hampir 1.000 kilometer (600 mil) dari garis depan.

    Gubernur Saratov, Roman Busargin, tidak memberikan pernyataan gamblang. Dia hanya mengatakan bahwa salah satu perusahaan industri rusak.

    Militer Ukraina mengklaim telah merebut kembali desa Bezsalivka di wilayah Sumy dari tentara Rusia, yang telah membuat kemajuan yang signifikan baru-baru ini.

    Sementara itu, Presiden Vladimir Putin dan Donald Trump akan bertemu di negara bagian Alaska, Amerika Serikat, Jumat ini. Pertemuan dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang kian memanas, meskipun ada peringatan dari Ukraina dan Eropa bahwa Kyiv harus menjadi bagian dari perundingan.

    (wnv/fca)