Category: Detik.com Internasional

  • Trump Harap Pembunuh Charlie Kirk Dijatuhi Hukuman Mati

    Trump Harap Pembunuh Charlie Kirk Dijatuhi Hukuman Mati

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku berharap pembunuh influencer sayap kanan Charlie Kirk, Tyler Robinson, dijatuhi hukuman mati. Gubernur Utah, Spencer Cox, juga menyebut otoritas terkait sedang mengumpulkan bukti untuk menuntut hukuman mati terhadap pembunuh Kirk.

    Dilansir DW dan BBC, Minggu (14/9/2025), hal itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News. Dia mengaku berharap pembunuh Kirk mendapat hukuman mati.

    Trump sendiri telah lama dikenal sebagai pendukung hukuman mati dan mencabut moratorium eksekusi federal melalui perintah eksekutif pada hari pertama dirinya menjabat Januari lalu. Mayoritas eksekusi di AS dilakukan di tingkat negara bagian, dengan 27 negara bagian, militer, dan pemerintah federal masih memiliki hukuman mati sebagai pilihan yang tersedia secara hukum.

    Meskipun tidak ada eksekusi federal yang dilakukan sejak Trump kembali menjabat, dia mengawasi serangkaian 13 eksekusi di bulan-bulan terakhir masa jabatan pertamanya pada akhir 2020 dan Januari 2021.

    Eksekusi tersebut menjadikan Trump ‘algojo’ paling produktif di negara itu dalam lebih dari satu abad. Dia juga dianggap mematahkan preseden berusia 130 tahun yang menunda eksekusi di tengah transisi presiden. Eksekusi terakhir terjadi hanya 5 hari sebelum dia meninggalkan jabatan pada periode pertamanya.

    Sementara, Gubernur Utah Spencer Cox mengatakan pihak berwenang sedang mengumpulkan semua bukti untuk ‘menuntut hukuman mati’ bagi orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Charlie Kirk. Sebagai informasi, mereka yang melakukan pembunuhan berat di Utah menghadapi ancaman hukuman mati.

    Utah juga merupakan negara bagian pertama yang melanjutkan eksekusi setelah praktik tersebut diberlakukan kembali di AS pada tahun 1976. Saat itu, Utah melakukan eksekusi dengan regu tembak terhadap Gary Gilmore, seorang terpidana pembunuhan.

    Sejak Gilmore, total enam orang lainnya telah dieksekusi, termasuk Ronnie Lee Gardner, yang juga dieksekusi oleh regu tembak pada tahun 2010. Beberapa pihak berharap untuk menghapus praktik tersebut di Utah, dengan dua legislator Partai Republik yang sebelumnya pro-hukuman mati, anggota eksternal, yaitu Anggota Dewan Perwakilan Negara Bagian V. Lowry Snow dan Senator Daniel McCay, mengajukan rancangan undang-undang pada tahun 2022.

    Namun, rancangan undang-undang tersebut gagal disahkan dengan selisih satu suara. Eksekusi terakhir dilakukan terhadap terpidana pembunuh dan pemerkosa Taberon Honie, pada bulan Agustus 2024, yang pertama kali terjadi di negara bagian tersebut dalam 14 tahun.

    Kirk tewas ditembak saat menghadiri acara di Universitas Utah Valley pada Rabu (10/9). Kirk dikenal sebagai aktivis sayap kanan dan influencer pendukung Trump.

    Tonton juga video “Trump: Saya Berharap Pembunuh Charlie Kirk Dihukum Mati!” di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (haf/imk)

  • Dianggap Rayakan Pembunuhan Charlie Kirk, Dosen-Analis Politik di AS Dipecat

    Dianggap Rayakan Pembunuhan Charlie Kirk, Dosen-Analis Politik di AS Dipecat

    Washington DC

    Puluhan unggahan dan pesan tentang pembunuhan influencer sayap kanan Amerika Serikat (AS), Charlie Kirk, memenuhi media sosial setelah peristiwa penembakan terjadi. Sejumlah orang yang dianggap merayakan tewasnya Kirk dikabarkan kehilangan pekerjaannya.

    Dilansir CNN, Minggu (14/9/2025), influencer sayap kanan Laura Loomer, seorang senator AS, dan sebuah situs bernama ‘Expose Charlie’s Murderers’ telah menarik perhatian orang-orang yang mengunggah pesan tentang pembunuhan Kirk pada Rabu lalu.

    “Saya akan menghabiskan malam saya untuk membuat semua orang yang saya temukan daring yang merayakan kematiannya menjadi Terkenal, jadi bersiaplah untuk seluruh aspirasi profesional masa depan Anda hancur jika Anda cukup sakit untuk merayakan kematiannya,” tulis Loomer di akun X-nya seperti dikutip CNN.

    Di X, satu akun telah memulai ‘Trophy Case’ yang merupakan ‘utas besar berisi semua orang yang dipecat di X, diperbarui secara langsung saat berita masuk’ dengan lusinan entri berisi orang-orang yang diklaim telah kehilangan pekerjaan. MSNBC sendiri dikabarkan memecat analis politik senior Matthew Dowd setelah dia mengatakan retorika Kirk mungkin berkontribusi pada penembakannya.

    “Mereka memecat orang ini, Dowd dari (MSNBC), yang merupakan orang yang mengerikan, manusia yang mengerikan, tetapi mereka memecatnya. Saya dengar mereka juga memecat orang lain,” kata Presiden AS Donald Trump di Fox News pada Jumat (12/9).

    Di akun Substack-nya setelah pemecatan, Dowd mengatakan ‘gerombolan media sayap kanan’ menyerangnya di beberapa platform. Beberapa orang yang unggahannya disorot mengatakan mereka sekarang menerima rentetan pelecehan dan khawatir menjadi korban kekerasan.

    Misalnya, jurnalis independen Kanada Rachel Gilmore mengunggah bahwa dia ‘takut’ akan pembalasan dari ‘penggemar sayap kanan’ Kirk setelah penembakan tersebut. Unggahan tersebut adalah yang pertama tercantum di situs web anonim tersebut, termasuk bagian di mana Gilmore mengatakan dia berharap Kirk selamat.

    Dia mengatakan dalam sebuah video daring bahwa dia tidak merayakan kematian Kirk dan mengatakan dia berharap Kirk selamat di unggahan lainnya. Dia juga mengatakan dirinya menerima ‘tsunami’ ancaman dan menyebut 48 jam terakhir hidupnya sebagai ‘neraka hidup’.

    Rebekah Jones, mantan ilmuwan data virus corona Florida yang pada tahun 2022 mengklaim Florida menekannya untuk memanipulasi data pandemi, mengatakan dirinya menghubungi polisi dua kali karena ada ancaman pembunuhan dan mengenai ‘daftar sasaran’. Jones mengunggah tentang Kirk dengan menulis ‘Simpan simpati Anda untuk para penonton tak berdosa yang terjebak dalam baku tembak mesin pesan politik MAGA yang penuh kekerasan’.

    Situs web ‘Expose Charlie’s Murderers’ tersebut menerbitkan ulang unggahan tersebut beserta informasi pribadi Jones lainnya. Beberapa pejabat terpilih dari Partai Republik juga mempublikasikan orang-orang yang mengunggah postingan tentang pembunuhan Kirk, termasuk beberapa pegawai sektor publik seperti guru.

    Senator Republik Marsha Blackburn dari Tennessee mengatakan seorang pegawai Universitas Tennessee Tengah harus dipecat setelah menulis bahwa dia ‘SAMA SEKALI tidak bersimpati’ atas kematian Kirk. Pihak universitas mengonfirmasi kepada CNN dalam sebuah pernyataan bahwa pegawai tersebut dipecat ‘efektif segera’.

    “Tidak ada pegawai universitas yang merayakan pembunuhan Charlie Kirk yang boleh dipercaya untuk membentuk pola pikir generasi mendatang di ruang kelas. Pemecatan pegawai MTSU ini adalah keputusan yang tepat, dan mengirimkan pesan yang jelas bahwa perilaku tercela semacam ini tidak boleh ditoleransi,” kata Blackburn.

    Anggota DPR dari Partai Republik Nancy Mace dari Carolina Selatan juga mendorong pemecatan seorang guru sekolah negeri yang kemudian dikonfirmasi oleh distrik sekolah kepada berita lokal bahwa dia tidak lagi bekerja di distrik tersebut. Perusahaan swasta, seperti Freddy’s Frozen Custard & Steakburgers dan Carolina Panthers, juga telah memecat karyawannya gara-gara mengunggah tentang Kirk.

    DC Comics membatalkan seri komik ‘Red Hood’ yang baru saja dirilis setelah penulisnya, Gretchen Felker-Martin, karena berkomentar tentang kematian Kirk di media sosial. Dalam unggahan yang telah dihapus dan terekam dalam tangkapan layar yang dibagikan oleh pengguna media sosial lainnya, Felker-Martin diduga menulis di media sosial setelah berita kematian Kirk: ‘Semoga pelurunya baik-baik saja’.

    “Di DC Comics, kami menjunjung tinggi para kreator dan komunitas kami serta menjunjung tinggi hak untuk mengekspresikan pandangan pribadi secara damai dan individual. Unggahan atau komentar publik yang dapat dianggap mempromosikan permusuhan atau kekerasan tidak sesuai dengan standar perilaku DC,” kata perusahaan tersebut.

    Di sebagian besar tempat, perusahaan swasta dapat memecat karyawan dengan alasan apa pun, dan itu termasuk unggahan media sosial yang kasar, kata Jeffrey Hirsch, seorang profesor hukum ketenagakerjaan di University of North Carolina. Hal ini sedikit lebih sulit bagi pegawai sektor publik, tetapi pemecatan mereka juga dibenarkan jika ucapannya ‘sangat buruk sehingga mengganggu operasional’.

    Tonton juga video “Trump: Saya Berharap Pembunuh Charlie Kirk Dihukum Mati!” di sini:

    Halaman 2 dari 4

    (haf/imk)

  • Kapal Nelayannya Ditahan, Venezuela Anggap AS Lagi Pancing Perang

    Kapal Nelayannya Ditahan, Venezuela Anggap AS Lagi Pancing Perang

    Caracas

    Venezuela mengecam Amerika Serikat (AS) yang mereka tuduh telah menahan kapal penangkap ikan selama 8 jam di zona ekonomi eksklusifnya. Militer AS diketahui berpatroli di Karibia dengan alasan menyasar kartel narkoba.

    Dilansir AFP, Minggu (14/9/2025), Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, menyebut kapal yang membawa sembilan nelayan tuna itu ditahan ‘secara ilegal dan bermusuhan’ pada Jumat (12/9) oleh kapal perusak USS Jason Dunham.

    “Kapal perang tersebut mengerahkan 18 agen bersenjata yang menaiki dan menduduki kapal kecil yang tidak berbahaya itu selama 8 jam,” katanya.

    Dia menganggap hal itu sebagai provokasi langsung. Dia menyebut tindakan AS itu ilegal.

    “Provokasi langsung melalui penggunaan sarana militer yang berlebihan secara ilegal,” ujarnya.

    Gil menyebut pihak yang memerintahkan penyitaan kapal itu sedang mencari alasan untuk perang. Dia menuding AS berupaya mengganti pemerintahan di Venezuela.

    “Sedang mencari insiden untuk membenarkan eskalasi perang di Karibia, dengan tujuan pergantian rezim,” ujarnya.

    Gil menuntut AS segera menghentikan tindakan-tindakan yang membahayakan keamanan dan perdamaian di Karibia. Komando selatan militer AS, yang mengawasi wilayah tersebut, tidak menanggapi permintaan komentar terkait peristiwa yang dituduhkan Venezuela.

    Ketegangan antara kedua negara telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah Washington memerintahkan pengerahan angkatan laut terbesar di Karibia dalam beberapa tahun terakhir. Presiden AS Donald Trump menyerukan penargetan para pengedar narkoba Venezuela dalam operasi tersebut dan meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

    AS menuduh Maduro memimpin kartel perdagangan kokain dan baru-baru ini menggandakan hadiahnya menjadi USD 50 juta untuk penangkapannya. Awal bulan ini, pasukan AS meledakkan sebuah kapal yang diduga mengangkut narkoba di Karibia dan menewaskan 11 orang.

    Trump mengatakan kapal itu milik Tren de Aragua. Dia menyebutnya organisasi kriminal Venezuela yang terkait dengan Maduro.

    Penggunaan militer AS untuk apa yang secara historis merupakan isu penegakan hukum merupakan hal yang tidak biasa. Maduro, seorang tokoh sayap kiri yang berapi-api yang pemilihan terakhirnya pada tahun 2024 dianggap tidak sah oleh Washington, telah membantah hubungannya dengan perdagangan narkoba.

    Dia mengecam penumpukan militer AS sebagai ‘ancaman terbesar yang pernah dihadapi benua kita dalam 100 tahun terakhir’. Dia telah mengerahkan pasukan di sepanjang pesisir Karibia dan perbatasan dengan Kolombia.

    Ia juga mendesak rakyat Venezuela untuk bergabung dengan milisi sipil negara itu yang terkait dengan angkatan bersenjata. Pada Sabtu (13/9), para relawan telah datang dengan bus dan mobil ke instalasi militer Fuerte Tiuna yang besar di Caracas untuk pelatihan senjata.

    Halaman 2 dari 3

    (haf/imk)

  • Bikin KBRI Keluarkan Imbauan untuk WNI, Begini Situasi Demo di Australia

    Bikin KBRI Keluarkan Imbauan untuk WNI, Begini Situasi Demo di Australia

    Canberra

    Demonstrasi terjadi di berbagai wilayah di Australia. Para pendemo menyampaikan tuntutan yang beragam.

    Dilansir ABC, Minggu (14/9/2025), ribuan orang di berbagai wilayah Australia menggelar unjuk rasa pada Sabtu (13/9). Mereka berdemo di jalanan ibu kota wilayah masing-masing.

    Demonstrasi itu dilakukan berbagai kelompok warga. Ada yang yang menggelar demonstrasi untuk menuntut kedaulatan pribumi, menyuarakan penentangan terhadap rasisme dan pandangan anti-imigrasi.

    Demonstrasi dengan tuntutan kedaulatan pribumi itu terjadi di Melbourne. Para demonstran yang mengenakan bendera Aborigin dan Palestina berkumpul di Stasiun Flinders Street di CBD.

    Pada saat yang sama, ada kelompok anti-pemerintah dan anti-imigrasi yang menggelar protes mereka sendiri. Para demonstran itu membawa bendera Australia.

    Kelompok itu menggelar demonstrasi di tangga Gedung Parlemen. Para demonstran dengan beragam pandangan sayap kanan menyampaikan orasi, yang menampilkan klaim korupsi pemerintah dan sikap anti-energi terbarukan.

    Seorang pembicara menuntut keadilan bagi buronan tersangka penembak Dezi Freeman, yang masih buron setelah dituduh menembak dua petugas polisi.

    Polisi pun membuat barikade saat massa demo yang menuntut kedaulatan pribumi melintasi gedung parlemen. Barikade itu ditujukan untuk memisahkan kedua kelompok tersebut.

    Polisi sempat bentrok dengan pengunjuk rasa kedaulatan pribumi. Petugas langsung memindahkan beberapa demonstran setelah seorang individu diduga disemprot cabai.

    Unjuk rasa tersebut telah membuat polisi mengeranhkan lebih banyak personel di banyak kota. Selain itu, pihak berwenang juga memisahkan kelompok-kelompok pengunjuk rasa di Melbourne.

    Demonstrasi juga terjadi di New South Wales. Sekitar 3.000 orang berbaris melalui pusat kota Sydney sebagai bagian dari demonstrasi Australia Bersatu Melawan Korupsi Pemerintah, yang diselenggarakan oleh beberapa kelompok. Kehadiran sejumlah besar polisi mengawasi demonstrasi tersebut, yang mengakibatkan beberapa jalan ramai antara Balai Kota dan Hyde Park Sydney ditutup.

    Masih di Sydney, ada juga kelompok yang terdiri dari 1.000 orang menggelar unjuk rasa untuk memprotes rasisme, fasisme, dan Neo-Nazi yang diselenggarakan oleh The Black Caucus, kelompok First Nations.

    Foto: Situasi demonstrasi di Australia (AFP/WILLIAM WEST)

    Demonstrasi yang diikuti ratusan hingga ribuan orang juga terjadi di Queensland, Victoria, Tasmania, Perth, Darwin, hingga Canberra. Unjuk rasa ini juga terjadi di tengah ketegangan menyusul pembunuhan tokoh konservatif terkemuka AS, Charlie Kirk. Di beberapa kota, para pengunjuk rasa membawa spanduk dan kaus bertuliskan nama Kirk. Sementara di Adelaide dan Perth, para pengunjuk rasa mengheningkan cipta untuk Kirk.

    Sebelumnya, KBRI Canberra meminta warga negara Indonesia (WNI) yang berada di sana waspada. KBRI meminta warga untuk mematuhi aturan serta waspada saat berada di dekat lokasi demo.

    “KBRI Canberra mengimbau kepada masyarakat Indonesia di Australia untuk tetap tenang dan waspada, terutama di sekitar lokasi unjuk rasa/kerumunan,” demikian keterangan postingan di akun media sosial KBRI Canberra dilihat detikcom, Jumat (12/9).

    Tonton juga video “Keluarga Zetro: Abang Harapan dan Kebanggaan Kami” di sini:

    Halaman 2 dari 3

    (haf/imk)

  • Demo di London Memanas, 26 Polisi Luka-25 Pendemo Ditangkap

    Demo di London Memanas, 26 Polisi Luka-25 Pendemo Ditangkap

    London

    Demonstrasi di London, Inggris, memanas. Setidaknya, 26 orang polisi terluka dan 25 orang pendemo ditangkap saat demonstrasi yang diinisiasi aktivis sayap kanan, Tommy Robinson, digelar di pusat kota London.

    Dilansir BBC, Minggu (24/9/2025), demonstrasi itu diikuti hingga 150.000 orang. Ketegangan meningkat dalam demonstrasi ‘Unite the Kingdom’. Beberapa pengunjuk rasa melemparkan botol dan barang lainnya ke arah polisi.

    Kepolisian Metropolitan menyebut ada empat orang yang terluka parah. Miliarder teknologi Elon Musk juga berbicara kepada para pengunjuk rasa di Whitehall melalui tautan video, sementara 5.000 orang bergabung dalam protes balasan di dekatnya yang diorganisir oleh Stand Up To Racism.

    Kepolisian mengatakan 25 orang telah ditangkap karena berbagai pelanggaran dalam apa yang mereka gambarkan sebagai kekerasan yang ‘sama sekali tidak dapat diterima’. Operasi kepolisian besar-besaran dilakukan di pusat kota London dengan 1.000 petugas yang dikerahkan. Ada 500 petugas tambahan dari kepolisian lain termasuk Leicestershire, Nottinghamshire, serta Devon dan Cornwall.

    Asisten Komisaris Kepolisian setempat, Matt Twist, mengatakan para petugas telah mengawasi tanpa rasa takut atau pilih kasih. Twist mengatakan petugas yang terluka mengalami patah gigi, gegar otak, prolaps diskus, cedera kepala, dan kemungkinan patah hidung.

    “Tidak diragukan lagi bahwa banyak yang datang untuk menggunakan hak mereka yang sah untuk berunjuk rasa, tetapi banyak juga yang datang dengan niat melakukan kekerasan. 25 penangkapan yang telah kami lakukan sejauh ini hanyalah permulaan,” katanya sambil berjanji untuk mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam kerusuhan.

    Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, mengutuk orang-orang yang telah menyerang dan melukai petugas. Dia menegaskan pihak yang melakukan penyerangan akan dihukum.

    “Siapa pun yang terlibat dalam kegiatan kriminal akan menghadapi hukuman berat,” ujarnya.

    Sekitar sore hari, kedua demonstrasi di Whitehall dipisahkan oleh barisan petugas polisi. Meskipun demonstrasi sebagian besar dimulai dengan damai, Kepolisian Metropolitan mengatakan beberapa petugas telah diserang saat mencoba memisahkan kedua kelompok.

    Polisi mengatakan protes ‘Unite the Kingdom’ disebut telah ‘melebihi perkiraan penyelenggara’. Hal itu berarti tidak ada cukup ruang bagi mereka semua di Whitehall (jalanan di pusat London) dan Parliament Square.

    Kerumunan besar telah mengabaikan arahan polisi dan mencoba masuk ke area aman dan tempat-tempat yang ditempati oleh mereka yang berpartisipasi dalam protes ‘Stand Up To Racism’.

    Petugas yang turun tangan disebut telah diserang dengan tendangan dan pukulan. Polisi anti huru-hara, kuda, dan anjing telah digunakan untuk memisahkan kelompok-kelompok yang berseberangan.

    Orang-orang memanjat pagar dan pembatas di sekitar Whitehall yang membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain.

    Tuntutan Pendemo

    Inisiator demo, Tommy Robinson, yang nama aslinya ialah Stephen Yaxley-Lennon telah berbicara kepada kerumunan di ‘festival kebebasan berbicara’ di mana dia mengkritik para politisi karena hanya mengulang-ulang gagasannya. Dia juga mengklaim pengadilan Inggris telah memutuskan bahwa hak-hak migran tanpa dokumen lebih tinggi daripada hak-hak ‘komunitas lokal’.

    Bulan lalu, Pengadilan Banding membatalkan perintah yang memblokir pencari suaka yang ditempatkan di The Bell Hotel di Epping, Essex. Sementara, Elon Musk yang bicara lewat video menyebut ‘migrasi besar-besaran telah tak terkendali’ dan menyerukan ‘pergantian pemerintahan’ di Inggris.

    “Sesuatu harus dilakukan. Parlemen harus dibubarkan dan pemungutan suara baru harus diadakan,” kata Musk saat diwawancarai oleh Robinson.

    Tonton juga video “4 Orang Tewas Akibat Pesawat Jatuh di Bandara London Southend” di sini:

    Halaman 2 dari 3

    (haf/imk)

  • Israel Terus Serang Gaza, 62 Orang Tewas-6.000 Mengungsi dalam Sehari

    Israel Terus Serang Gaza, 62 Orang Tewas-6.000 Mengungsi dalam Sehari

    Gaza

    Pasukan Israel terus meningkatkan serangan di Kota Gaza, Palestina. Serangan besar-besaran Israel itu meratakan bangunan, termasuk sekolah-sekolah yang diubah menjadi tempat penampungan yang dikelola oleh PBB serta menewaskan sedikitnya 49 orang.

    Dilansir Al-Jazeera, Minggu (14/9/2025), serangan di Kota Gaza itu menyebabkan jumlah warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza selama Sabtu (13/9) menjadi 62 orang.

    Selain itu, lebih dari 6.000 warga Palestina harus mengungsi dari Kota Gaza akibat pemboman yang tak henti-hentinya. Pasukan Israel telah melancarkan serangan beruntun di Kota Gaza dan menyebarkan selebaran yang memperingatkan warga Palestina yang telah kelaparan dan ketakutan untuk melarikan diri.

    “Warga Kota Gaza kini hidup dalam kondisi yang sangat sulit di bawah pengepungan dan pemboman yang terus-menerus,” kata Jubir Pertahanan Sipil Palestina, Mahmoud Basal.

    Jet tempur Israel telah menjatuhkan bom setiap 10 hingga 15 menit di bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum. Israel tak memberi manusia cukup waktu untuk mengungsi ke tempat aman.

    Meskipun militer menggempur kota, banyak penduduk tetap tinggal atau bahkan kembali setelah mencoba melakukan perjalanan ke selatan menuju kamp al-Mawasi yang padat dan kekurangan sumber daya. Selain serangan Israel, warga di Gaza juga harus bertahan di tengah kelaparan.

    Serangan Israel ke Gaza ini diklaim untuk membalas Hamas yang melakukan serangan menewaskan 1.200 orang pada Oktober 2023. Israel menyebut Hamas masih menahan sejumlah sandera di Gaza usai serangan Oktober 2023 itu terjadi.

    Pengeboman dan serangan militer besar-besaran oleh Israel telah menghancurkan Gaza. Korban tewas akibat serangan Israel di Gaza telah melampaui 64.000 orang, melukai ratusan ribu orang serta menyebabkan lebih dari 1 juta warga harus mengungsi.

    Tonton juga video “Israel Bombardir Kamp Pengungsian di Gaza, 23 Orang Tewas” di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (haf/haf)

  • Harapan Baru untuk Palestina Usai Majelis PBB Kompak Dukung Resolusi

    Harapan Baru untuk Palestina Usai Majelis PBB Kompak Dukung Resolusi

    Jakarta

    Majelis Umum PBB mengesahkan resolusi terbaru terkait isu Palestina-Israel. Resolusi ini menegaskan kembali komitmen internasional terhadap solusi dua negara, dengan tujuan mengakhiri perang di Gaza dan membuka jalan bagi perdamaian yang lebih adil dan berkelanjutan.

    Langkah tersebut disambut dengan pandangan beragam. Sebagian pihak melihatnya sebagai harapan baru bagi rakyat Palestina, sementara pihak lain ada yang menilai keputusan itu justru bisa memperumit situasi di lapangan.

    Solusi Dua Negara, Palestina Tanpa Hamas

    Dalam voting pada Jumat (12/9/2025) di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat (AS), mayoritas negara anggota Majelis Umum memberikan suara dukungan untuk resolusi yang mengupayakan terbentuknya negara Palestina yang bebas dari Hamas.

    Dilansir AFP, Sabtu (13/9/2025), resolusi tersebut diadopsi dengan 142 suara mendukung, 10 suara lainnya menentang, dan 12 suara memilih abstain. Menurut situs resmi PBB, sebanyak 10 negara yang menolak resolusi itu terdiri atas Israel, AS, Argentina, Hungaria, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Paraguay, dan Tonga.

    Deklarasi ini menegaskan Hamas harus menyerahkan senjata, membebaskan sandera, serta mengakhiri kekuasaannya di Gaza. “Deklarasi tersebut secara terang-terangan menyerukan bahwa ‘Hamas harus membebaskan semua sandera’,” demikian bunyi penggalannya. Resolusi juga membuka opsi pengerahan misi stabilisasi internasional sementara di bawah mandat Dewan Keamanan PBB.

    Israel Tolak dan Sebut Resolusi Memalukan

    Israel langsung menolak resolusi yang diadopsi Majelis Umum PBB. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menegaskan Tel Aviv menolak mentah-mentah resolusi tersebut.

    Marmorstein menyebut keputusan itu “memalukan” dan menuding PBB telah menjadi “sirkus politik yang terlepas dari kenyataan.” Ia juga menilai resolusi tidak membawa perdamaian. “Resolusi tersebut tidak memajukan solusi perdamaian–sebaliknya, resolusi tersebut mendorong Hamas untuk melanjutkan perang,” ujarnya dalam pernyataan via media sosial X, Sabtu (13/9/2025).

    Israel pun menyatakan berterima kasih kepada negara-negara yang ikut menolak, termasuk Amerika Serikat, Argentina, dan beberapa negara Pasifik.

    Palestina Sambut Sebagai Langkah Penting

    Berbeda dengan Israel, otoritas Palestina menyambut baik hasil voting. Wakil Presiden Palestina Hussein al-Sheikh menyebut resolusi ini sebagai tonggak bersejarah.

    “Resolusi ini menyatakan kesediaan internasional untuk mendukung hak-hak rakyat kami dan merupakan langkah penting untuk mengakhiri pendudukan dan mewujudkan negara merdeka kami atas dasar perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya,” kata Al-Sheikh dalam tanggapannya via media sosial X, Sabtu (13/9/2025).

    Ia menilai dukungan mayoritas negara anggota PBB menunjukkan adanya komitmen global untuk menghidupkan kembali solusi dua negara yang adil dan berkelanjutan.

    Kritik Keras dari Pakistan Mengecam Israel

    Tak hanya Palestina, suara dukungan juga datang dari Pakistan yang sekaligus mengecam keras Israel. Duta Besar Pakistan untuk PBB, Asim Iftikhar Ahmad, menyebut Israel berpura-pura menjadi korban meski justru bertindak sebagai agresor.

    “Tidak dapat diterima, bahkan menggelikan, bagi seorang agresor, penjajah, pelanggar berantai terhadap Piagam PBB dan hukum internasional – yaitu Israel – untuk menyalahgunakan ruang sidang ini,” ucap Ahmad dalam sidang Dewan Keamanan PBB, seperti dilansir Al Arabiya, Sabtu (13/9/2025).

    Ia menuding Israel bertindak dengan impunitas dan tak mendengarkan komunitas internasional. Sidang DK PBB kemudian mengadopsi pernyataan bersama yang mengutuk serangan Israel ke Qatar dan menyatakan dukungan terhadap peran Qatar dalam mediasi konflik Gaza.

    (wia/idh)

  • 12 Tentara Pakistan Tewas Diserang Taliban Saat Konvoi Militer

    12 Tentara Pakistan Tewas Diserang Taliban Saat Konvoi Militer

    Islamabad

    Sedikitnya 12 tentara Pakistan tewas dalam penyergapan bersenjata oleh kelompok militan Taliban Pakistan di wilayah barat laut negara tersebut pada Sabtu (13/9) waktu setempat. Kelompok Taliban Pakistan mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut.

    Militansi kembali meningkat di wilayah perbatasan dengan Afghanistan sejak Taliban Afghanistan kembali berkuasa di Kabul pada tahun 2021.

    Dituturkan seorang pejabat pemerintah setempat, seperti dilansir AFP, Sabtu (13/9/2025), bahwa konvoi militer sedang melewati sebuah kota di distrik Waziristan Selatan, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, pada Sabtu (13/9) dini hari, sekitar pukul 04.00 waktu setempat, ketika “orang-orang bersenjata melepaskan tembakan dari kedua sisi dengan senjata berat”.

    Tembakan tersebut, menurut pejabat pemerintah setempat itu, menewaskan 12 personel keamanan dan melukai empat personel lainnya.

    Seorang petugas keamanan yang ditempatkan di area tersebut mengonfirmasi jumlah korban tewas dan mengatakan bahwa para penyerang telah menyita persenjataan yang dibawa dalam konvoi militer tersebut.

    Kelompok Taliban Pakistan, atau Tehreek-e-Taliban (TTP), mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut dalam pernyataan via media sosial.

    Taliban Pakistan merupakan kelompok yang terpisah, namun terkait erat dengan Taliban Afghanistan.

    Penyergapan bersenjata itu tercatat sebagai salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, yang sebagian besar wilayahnya pernah dikuasai Taliban Pakistan sebelum mereka dipukul mundur dalam operasi militer tahun 2024 lalu.

    Islamabad menuding negara tetangganya, Afghanistan, gagal mengusir militan yang menggunakan wilayah negara itu untuk melancarkan serangan terhadap Pakistan. Tuduhan itu dibantah oleh otoritas Kabul.

    Selama beberapa pekan terakhir, warga di berbagai distrik Khyber Pakhtunkhwa telah melaporkan bahwa grafiti bertuliskan nama TTP telah muncul di gedung-gedung setempat. Warga setempat mengaku khawatir akan kembalinya kekuasaan TTP di wilayah tersebut.

    Seorang pejabat senior pemerintah daerah setempat baru-baru ini mengatakan kepada AFP bahwa jumlah petempur Taliban Pakistan dan serangan-serangan kelompok itu telah meningkat beberapa waktu terakhir.

    Menurut penghitungan AFP, nyaris 460 orang — sebagian besar anggota pasukan keamanan Pakistan — tewas sejak 1 Januari lalu dalam rentetan serangan yang dilancarkan kelompok bersenjata yang memerangi negara tersebut, baik di Khyber Pakhtunkhwa maupun Provinsi Balochistan di bagian selatan.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Trump Harap Pembunuh Charlie Kirk Dijatuhi Hukuman Mati

    Siapa Tyler Robinson, Tersangka Pembunuhan Charlie Kirk?

    Utah

    Seorang pemuda bernama Tyler Robinson telah ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap aktivis sayap kanan AS, Charlie Kirk.

    Pemuda berusia 22 tahun dari Negara Bagian Utah itu ditahan pada Kamis (11/09) malam.

    Perburuan aparat AS selama 33 jam berakhir setelah ayah Tyler membujuknya untuk menyerahkan diri kepada polisi.

    Penangkapannya pertama kali diumumkan oleh Presiden Donald Trump, yang menyerukan agar Tyler menghadapi hukuman mati.

    Pembunuhan Charlie Kirk, yang tewas ditembak dalam acara debat dengan mahasiswa di kampus Utah Valley University pada Rabu (10/09), telah mengejutkan rakyat AS. Insiden itu diyakini makin memperlebar perpecahan politik partisan di negara itu.

    Kronologi penangkapan

    Dalam konferensi pers pada Jumat (12/09), penyidik mengatakan tersangka mengaku kepada ayahnya dan mengatakan ia lebih memilih bunuh diri daripada menyerah.

    Ayahnya kemudian menelepon seorang pendeta muda yang merupakan teman keluarga.

    Kedua pria itu berusaha menenangkan tersangka, kata polisi.

    Pendeta tersebut, yang juga bertugas sebagai petugas keamanan pengadilan, kemudian menelepon Marshal AS. Aparat lantas menahan tersangka pada Kamis (11/09) sekitar pukul 22.00 waktu setempat.

    BBC

    Gubernur Utah, Spencer Cox, mengatakan rekaman CCTV menunjukkan Tyler Robinson tiba di kampus Universitas Utah Valley sekitar empat jam sebelum sebuah tembakan terdengar. Tembakan itu menewaskan Kirk dan membuat para mahasiswa berlarian mencari perlindungan.

    Cox mengatakan kepada wartawan bahwa ketika Tyler ditahan, ia mengenakan pakaian yang mirip dengan yang terlihat pada rekaman kamera CCTV di lokasi penembakan.

    Seseorang terekam kamera CCTV di dekat lokasi penembakan Charlie Kirk (FBI)

    Cox menambahkan bahwa penyidik telah mewawancarai seorang anggota keluarga Tyler yang mengatakan bahwa pemuda tersebut menjadi lebih aktif mengutarakan pandangan politik dalam beberapa tahun terakhir.

    Anggota keluarga Tyler, menurut Cox, menceritakan insiden baru-baru ini ketika Tyler menyebutkan bahwa Kirk akan datang ke Utah dan Kirk “penuh kebencian dan menyebarkan kebencian”.

    Baca juga:

    Cox mengatakan para penyelidik juga telah berbicara dengan teman sekamar tersangka. Dia menunjukkan pesan-pesan dengan akun bernama “Tyler” di aplikasi percakapan Discord.

    Pesan-pesan tersebut merujuk pada permintaan mengambil senapan dari “titik pembuangan” dan senapan tersebut ditinggalkan di semak-semak, terbungkus handuk.

    Pada Kamis (11/09), FBI mengatakan telah menemukan senjata yang dicurigai sebuah senapan bolt-action Mauser .30-06 impor terbungkus handuk di area hutan dekat kampus.

    Siapa Tyler Robinson?

    Catatan publik yang ditinjau oleh BBC menunjukkan bahwa Tyler Robinson sebelumnya terdaftar sebagai pemilih independen, atau nonpartisan, di Utah.

    Matthew Carl Robinson, ayah tersangka, dan Amber Denise Robinson, ibu tersangka, terdaftar sebagai anggota Partai Republik, menurut catatan negara bagian.

    Catatan pemungutan suara menunjukkan bahwa Tyler tidak memilih dalam dua pemilihan presiden terakhir, menurut CBS News, mitra BBC di AS. Ia belum cukup umur untuk memilih pada 2020.

    Tyler tinggal di St George, Utah, dekat Taman Nasional Zion, sekitar 400 km di barat daya kampus tempat Kirk ditembak.

    Akun media sosial menunjukkan bahwa ayah Tyler Robinson menjalankan bisnis pemasangan meja dapur dan lemari, sementara ibunya adalah seorang pekerja sosial. Keluarga tersebut beragama Mormon dan aktif di gereja setempat.

    Dalam sebuah pernyataan, Dewan Pendidikan Tinggi Utah mengatakan bahwa Tyler James Robinson adalah mahasiswa tahun ketiga dalam program magang kelistrikan di Dixie Technical College.

    “Dia sebelumnya menghabiskan satu semester di Utah State University pada 2021,” sebut Dewan Pendidikan Tinggi Utah.

    Baca juga:

    Para penyidik mengatakan Tyler Robinson sangat akrab dengan budaya daring, merujuk pada tulisan pada sejumlah selongsong peluru yang terkait dengan kasus tersebut.

    Dua selongsong peluru menunjukkan referensi yang jelas terhadap humor trolling daring.

    Tulisan “notices bulges OwO what’s this?” pada selongsong peluru yang telah ditembakkan kemungkinan merujuk pada “copypasta”sepotong teks yang diulang-ulang, seringkali untuk men-troll warganet.

    Selongsong peluru lain, yang belum ditembakkan, bertuliskan “If you read this, you are gay lmao” – lagi-lagi tampaknya merujuk pada lelucon trolling.

    Sementara itu, selongsong peluru lainnya dapat diartikan sebagai simpatisan Antifa, atau gerakan anti-fasis, sebuah kelompok aktivis sayap kiri yang telah aktif di AS selama satu dekade terakhir dan sering berdemonstrasi menentang kebijakan Trump dan kelompok sayap kanan.

    Satu selongsong peluru yang belum ditembakkan bertuliskan “Hey fascist! Catch!” dan panah atas, kanan, dan tiga panah bawah.

    Tiga panah bawah saja bisa menjadi simbol umum yang digunakan untuk anti-fasisme.

    Secara keseluruhan, panah-panah tersebut kemungkinan merujuk pada serangkaian input kontrol dalam gim video meskipun hal ini masih belum jelas, dan pihak berwenang belum merilis gambar selongsongnya.

    Selongsong berikutnya bertuliskan lirik lagu “Bella Ciao” yang menghormati para anggota partisan perlawanan Italia di era Perang Dunia Kedua yang melawan Nazi Jerman.

    Pihak berwenang mengatakan Robinson juga tampaknya aktif di Discord, platform media sosial yang utamanya digunakan oleh para gamer, tetapi kini juga populer di komunitas lain.

    Apa selanjutnya?

    Jaksa penuntut mengatakan berencana untuk mengajukan tuntutan resmi terhadap Robinson pada Selasa (16/09).

    Tyler dituduh melakukan pembunuhan berat, menghalangi proses peradilan, dan melepaskan tembakan senjata api, menurut lembar penangkapan narapidana dari Sheriff Utah County yang diperoleh BBC.

    Mahasiswa di Utah Valley University mengatakan kepada BBC bahwa mereka merasa lega dengan penangkapan Tyler.

    Kampus telah ditutup sejak penembakan pada Rabu (10/09) sore. Garis polisi kuning dan kendaraan polisi tampak memblokir sebagian besar kampus.

    “Ia ditangkap di Washington County, tempat asal saya,” kata mahasiswa tahun pertama McKinley Shinkle. “Saya merasa sangat malu.”

    “Saya benar-benar lega,” tambah sepupu McKinley, Anthony. “Saya hanya ingin tahu motifnya dan mengapa ini terjadi.”

    (nvc/nvc)

  • Kapal Perang AS-Inggris Lintasi Selat Taiwan, China Berang!

    Kapal Perang AS-Inggris Lintasi Selat Taiwan, China Berang!

    Beijing

    China memberikan reaksi keras terhadap aktivitas kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) dan Inggris melintasi perairan Selat Taiwan yang sensitif. Beijing mengecam pergerakan kapal perang kedua negara Barat itu sebagai “provokasi”.

    Aktivitas terbaru kapal perang AS dan Inggris itu terdeteksi sesaat setelah China mengumumkan kapal induk terbarunya, Fujian, berlayar melintasi perairan sensitif tersebut.

    Militer China dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Sabtu (13/9/2025), menyebut kapal perang AS dan Inggris itu berlayar melintasi Selat Taiwan pada Jumat (12/9) waktu setempat.

    “Pada 12 September, kapal penghancur AS Higgins dan kapal frigate Inggris Richmond melintasi Selat Taiwan dan terlibat dalam gangguan dan provokasi,” ujar juru bicara Komando Teater Timur militer China, Kolonel Senior Shi Yi, dalam pernyataannya.

    Dikatakan oleh Shi Yi bahwa militer China “mengerahkan angkatan laut dan udara untuk melacak dan memantau pelayaran kapal-kapal itu selama proses tersebut”.

    “Tindakan tersebut… merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” sebutnya.

    Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan mengklaim yurisdiksi atas perairan yang memisahkan pulau yang memiliki pemerintahan demokratis itu dengan daratan utama China.

    AS, Inggris, dan negara-negara lainnya memandang Selat Taiwan sebagai perairan internasional yang terbuka untuk semua kapal.

    China mengumumkan pada Jumat (12/9) bahwa kapal induk Fujian, kapal induk ketiga Beijing, telah melintasi Selat Taiwan untuk melakukan uji coba sebagai persiapan untuk operasional di masa mendatang.

    Pekan lalu, kapal-kapal perang Australia dan Kanada juga berlayar melintasi jalur perairan tersebut, yang menuai kritikan keras China.

    Lihat juga Video ‘Kapal Rombongan Aktivis Pro-Palestina Diserang Drone Saat Menuju Gaza’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)