Category: Detik.com Internasional

  • Pria di Suriname Tikam 9 Orang hingga Tewas, 4 Korban Anaknya Sendiri

    Pria di Suriname Tikam 9 Orang hingga Tewas, 4 Korban Anaknya Sendiri

    Paramaribo

    Seorang pria menikam sembilan orang hingga tewas, termasuk lima anak-anak, di Paramaribo, Suriname. Kepolisian setempat telah menangkap pelaku.

    Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), pelaku disebut menderita masalah kesehatan mental. Dari 9 korban tewas, 4 di antaranya merupakan anak dari pelaku sendiri. Peristiwa ini terjadi di dalam dan sekitar rumahnya.

    Tersangka disebut bertengkar dengan istrinya melalui telepon sebelum menikam salah satu korban, putrinya yang berusia 11 tahun, sebanyak 44 kali di dapur rumahnya.

    “Seorang pria membunuh empat orang dewasa dan lima anak-anak dengan benda tajam di sebuah kediaman di Hadji Iding Soemitaweg,” kata polisi setempat dalam sebuah pernyataan.

    “Seorang anak keenam dan seorang dewasa terluka parah dan dibawa ke rumah sakit,” tambahnya.

    Polisi yang tiba di tempat kejadian terpaksa melepaskan tembakan ke arah tersangka, karena tersangka menyerang polisi dengan benda tajam.

    “Rincian lebih lanjut mengenai keadaan sebenarnya dari serangan tragis ini akan menyusul,” demikian pernyataan polisi setempat.

    (fas/fas)

  • Anak Muda Disebut Absen di Pemilu Myanmar, Pemilih Didominasi Lansia

    Anak Muda Disebut Absen di Pemilu Myanmar, Pemilih Didominasi Lansia

    Jakarta

    Myanmar menggelar pemilu pertama usai lima tahun perang saudara hari ini. Namun, banyak anak muda yang sebelumnya memberikan suaranya dalam pemilu sebelumnya disebut tampak absen dari pemilu yang diselenggarakan militer hari ini.

    Akan tetapi, pemilih yang lebih tua disebut mendominasi jumlah pemilih pada pemilu kali ini.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), banyak warga telah meninggalkan negara yang dilanda perang ini sejak militer merebut kekuasaan lima tahun lalu. Mereka yang pergi dari Myanmar termasuk banyak pria usia wajib militer hingga 35 tahun atau anak muda yang mencari penghidupan yang lebih baik di luar ekonomi Myanmar yang lesu.

    Sementara itu bagi anak muda yang masih berada di Myanmar pun tidak terlalu antusias untuk ikut serta dalam pemilu tersebut. Para aktivis hak asasi manusia internasional menganggap pemilu yang digelar milter itu sebagai pemilu palsu.

    “Sebagian besar orang yang pergi untuk memilih adalah orang tua,” kata seorang pria berusia 20-an di daerah Mandalay, yang meminta untuk tetap anonim karena alasan keamanan.

    “Saya rasa tidak ada yang ingin terlibat dalam kekacauan ini,” katanya kepada AFP.

    “Orang-orang mungkin tidak percaya pada keadilan pemilu ini,” tambahnya.

    Sementara itu, di sebuah tempat pemungutan suara dekat Pagoda Sule yang berlapis emas di pusat kota Yangon, para pemilih sebagian besar adalah warga lanjut usia, ibu-ibu yang menggendong anak, dan ibu rumah tangga yang membawa keranjang belanja.

    Menurut seorang pejabat pemilihan setempat menyebut, dari sekitar 1.400 orang yang terdaftar di lokasi tersebut, kurang dari 500 orang telah memberikan suara mereka kurang dari dua jam sebelum tempat pemungutan suara ditutup.

    Pada pemilihan terakhir tahun 2020, tingkat partisipasi pemilih sekitar 70 persen.

    Sementara seorang pensiunan guru sekolah pedesaan, Sein Yee, mengatakan memberikan suara adalah kewajiban bagi semua warga negara.

    “Ini adalah kesempatan bagi semua warga negara untuk mencapai perdamaian di negara ini,” tambah wanita berusia 74 tahun itu.

    Myanmar terjerumus ke dalam perang saudara akibat kudeta militer tahun 2021, dan memberlakukan wajib militer dua tahun lalu untuk memperkuat barisannya dalam memerangi gerilyawan serta pasukan minoritas etnis yang telah lama berkuasa di pinggiran negara itu.

    Sementara itu seorang warga berusia 35 tahun menilai pemilu yang digelar tersebut tidak adil dan bertentangan dengan keinginan rakyat. Menurutnya tidak akan ada perubahan usai pemilu tersebut.

    “Saya pikir ini adalah pemilu yang tidak adil yang diadakan bertentangan dengan keinginan rakyat,” kata Kyaw Min Thein, di negara bagian Rakhine bagian barat, yang hampir seluruhnya dikendalikan oleh tentara minoritas etnis.

    “Saya rasa tidak akan ada perubahan. Saya pikir ini adalah kesempatan bagi mereka untuk mengganti seragam tentara mereka dengan seragam sipil dan mempertahankan kekuasaan mereka,” tambahnya.

    Pemungutan Suara Ditutup

    Pemungutan suara saat ini telah ditutup pada putaran pertama pemilihan yang dijalankan junta Myanmar. Hal ini sekaligus mengakhiri fase pembukaan pemungutan suara selama sebulan.

    Jurnalis AFP melaporkan dari sebuah tempat pemungutan suara yang mengumumkan panggilan terakhir kepada para pemilih melalui pengeras suara sebelum ditutup pada pukul 16.00 (1030 GMT) di pusat kota Yangon, dekat lokasi protes pro-demokrasi besar-besaran pada tahun 2021 setelah militer merebut kekuasaan dalam kudeta.

    Lihat juga Video Anwar Ibrahim Sindir Junta Myanmar: Berhenti Membunuh-Membakar Rumah Orang

    Halaman 2 dari 2

    (yld/gbr)

  • Anak Muda Disebut Absen di Pemilu Myanmar, Pemilih Didominasi Lansia

    Pemilu di Tengah Perang Saudara, Kepala Militer Myanmar Bicara Demokrasi

    Jakarta

    Myanmar menggelar pemilu pertama usai lima tahun perang saudara. Kepala Junta Myanmar, Min Aung Hlaing, menyampaikan pesan kepada warganya tentang partisipasi pemilih dalam pemilu.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), hal itu disampaikan Min Aung Hlaing saat memberikan suara dalam pemilihan umum usai lima tahun pemerintahan militer dan perang saudara.

    “Rakyat harus memilih,” kata pria berusia 69 tahun itu kepada para wartawan yang berkumpul.

    “Jika mereka tidak memilih, saya harus mengatakan bahwa mereka tidak sepenuhnya memahami apa itu demokrasi sebenarnya,” imbuhnya.

    Para analis mengatakan ia bisa beralih menjadi presiden setelah pemilu, atau tetap sebagai kepala angkatan bersenjata dan menjadi kekuatan di balik takhta yang tampaknya sipil. Kedua cara tersebut secara efektif akan memperpanjang pemerintahan militer.

    Namun, ia menolak berkomentar, ia menggambarkan dirinya sebagai “pelayan publik dan kepala militer’, bukan pemimpin partai politik.

    “Saya tidak bisa begitu saja pergi dan meminta untuk menjadi presiden,” katanya.

    Jenderal bertubuh mungil itu berada di urutan teratas daftar pemilih di tempat pemungutan suara Zeyathiri, yang didirikan di kompleks resminya di ibu kota Naypyidaw yang luas namun jarang penduduk.

    Sejumlah jenderal, perwira, dan pejabat pemerintah tiba di aula berhiaskan emas untuk memberikan suara dalam pemilu.

    Sementara sebagian besar mengenakan pakaian sipil, termasuk Min Aung Hlaing, yang pangkat militernya adalah Jenderal Senior, sementara istri mereka mengenakan pakaian formal.

    Diketahui, Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP) yang pro-militer secara universal diperkirakan akan muncul sebagai kelompok parlemen terbesar dalam pemilihan ini.

    Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan peraih Nobel Aung San Suu Kyi yang dipenjara, yang mengalahkan USDP pada pemilu terakhir tahun 2020, telah dibubarkan dan tidak ikut serta.

    Klaim Bebas dan Adil

    Sementara itu, pengawas hak asasi manusia menuduh militer Junta menindas pihak yang berbeda pendapat dan melancarkan perang terhadap pemberontak yang menantang otoritas mereka tanpa menghiraukan korban sipil.

    Min Aung Hlaing mengulangi tuduhannya, yang telah dibantah oleh pengawas internasional, bahwa kemenangan Aung San Suu Kyi pada pemilu sebelumnya disebabkan oleh kecurangan pemilu yang meluas.

    “Itu bukan sesuatu yang bisa kita abaikan,” katanya.

    “Itulah mengapa kita semua sampai di sini. Saya ingin kalian semua menunggu dan melihat hari ini,” tambahnya.

    Min Aung Hlaing juga bersikeras bahwa pemilu hari ini “bebas dan adil”. Ia menambahkan bahwa orang-orang “dapat memilih siapa pun yang mereka sukai”.

    Respons PBB

    Sementara itu, PBB mengatakan Myanmar membutuhkan pemilu yang bebas, adil, inklusif, dan kredibel atas dimulainya pemilu usai 5 tahun berlangsungnya perang saudara. PBB menekankan pentingnya berjalannya Pemilu yang mencerminkan kehendak rakyat.

    “Sangat penting bahwa masa depan Myanmar ditentukan melalui proses yang bebas, adil, inklusif, dan kredibel yang mencerminkan kehendak rakyatnya,” kata PBB di Myanmar.

    PBB menambahkan bahwa pihaknya “berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Myanmar dan aspirasi demokrasi mereka”.

    Halaman 2 dari 2

    (yld/knv)

  • Eks Presiden Brasil Cegukan Berbulan-bulan Sampai Dibantarkan ke RS

    Eks Presiden Brasil Cegukan Berbulan-bulan Sampai Dibantarkan ke RS

    Jakarta

    Mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro kembali menjalani prosedur medis untuk mengobati cegukan berulang yang telah dialaminya selama berbulan-bulan. Bolsonaro yang tengah menjalani hukuman penjara 27 tahun akibat percobaan kudeta itu kini dibantarkan untuk menjalani operasi hernia inguinalis di Rumah Sakit DF Star di Brasilia.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), Mantan presiden berusia 70 tahun itu menjalani operasi pada hari Kamis. Operasi tersebut berjalan lancar tanpa insiden, kini Bolsonaro tetap dirawat di rumah sakit selama beberapa hari untuk evaluasi.

    Selama waktu tersebut, tim medis Bolsonaro menentukan bahwa perlu dilakukan blok anestesi pada saraf frenikus, yang mengontrol diafragma, untuk mengobati cegukannya yang berulang.

    Dokter Bolsonaro, Claudio Birolini, mengatakan kepada wartawan bahwa prosedur tersebut melibatkan pencarian saraf menggunakan mesin ultrasound dan kemudian menyuntiknya dengan analgesik lokal.

    “Berjalan lancar,” menurut salah satu dokter lainnya, Mateus Saldanha.

    Birolini mengatakan prosesnya memakan waktu sekitar satu jam. Ia menambahkan “ini bukan operasi…tidak melibatkan sayatan apa pun,”.

    Sisi kanan saraf Bolsonaro telah diobati pada Sabtu, sementara prosedur untuk mengobati sisi kiri saraf dijadwalkan pada hari Senin.

    Bolsonaro Alami 9 Bulan Cegukan

    Istri Bolsonaro, Michelle Bolsonaro mengungkapkan suaminya telah berjuang selama 9 bulan akibat cegukan tersebut. Akhirnya Bolsonaro menjalani operasi saraf.

    “Kekasihku baru saja pergi ke pusat bedah untuk menjalani blokade saraf frenikus,” tulis mantan ibu negara Michelle Bolsonaro dalam unggahan Instagram pada hari Sabtu.

    “Sudah sembilan bulan berjuang dan menderita dengan hambatan harian,” tambahnya.

    Diketahui, mantan presiden sayap kanan, yang berkuasa dari tahun 2019 hingga 2022 itu, selama bertahun-tahun telah berurusan dengan dampak luka tusuk di perut yang dideritanya selama rapat umum kampanye tahun 2018, yang membutuhkan beberapa operasi besar.

    Vonis 27 Tahun

    Sebelumnya, Mahkamah Agung Brasil menyatakan Bolsonaro bersalah karena berkonspirasi untuk tetap berkuasa setelah kalah dalam pemilihan umum 2022 dari kandidat sayap kiri Luiz Inacio Lula da Silva. Bolsonaro lalu dijatuhi hukuman penjara 27 tahun.

    Kudeta tersebut gagal karena kurangnya dukungan dari para petinggi militer. Mantan presiden sayap kanan tersebut mengklaim dirinya tidak bersalah, dengan alasan ia dianiaya oleh Mahkamah Agung.

    Bolsonaro berada di bawah tahanan rumah sejak Agustus hingga dipenjara pada 22 November.

    Setelah keluar dari rumah sakit, Bolsonaro akan kembali menjalani hukumannya di penjara polisi federal di ibu kota.

    Mahkamah Agung Brasil pada hari Sabtu juga memerintahkan tahanan rumah untuk 10 pejabat dari pemerintahan Bolsonaro yang terlibat dalam perencanaan kudeta, mencari pembenaran hukum untuk kudeta tersebut, atau menyebarkan disinformasi tentang kudeta tersebut di media sosial.

    Kesepuluh pejabat tersebut telah divonis bersalah tetapi dibebaskan dari penjara karena proses banding yang sedang berlangsung.

    Salah satu pejabat, Silvinei Vasques, ditahan di Paraguay pada hari Jumat setelah diduga mencoba naik pesawat dengan dokumen palsu.

    Lihat juga Video: Polisi Gerebek Rumah Eks Presiden Brasil Jair Bolsonaro

    Halaman 2 dari 2

    (yld/knv)

  • Sejumlah Negara Afrika-Timur Tengah Tolak Pengakuan Israel Atas Somaliland

    Sejumlah Negara Afrika-Timur Tengah Tolak Pengakuan Israel Atas Somaliland

    Jakarta

    Sejumlah negara menolak pengakuan Israel atas wilayah Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia sebagai negara merdeka. Terbaru, lebih dari 20 negara di Timur Tengah, Afrika maupun Organisasi Kerja Sama Islam menolak pengakuan Israel tersebut.

    “Mengingat dampak serius dari tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut terhadap perdamaian dan keamanan di Tanduk Afrika, Laut Merah, dan dampaknya yang serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional secara keseluruhan,” demikian pernyataan bersama lebih dari 20 negara Timur Tengah, Afrika, dan negara OKI, dilansir AFP, Minggu (28/12/2025).

    Pernyataan bersama tersebut juga mencatat ‘penolakan penuh terhadap potensi keterkaitan antara tindakan tersebut dan upaya apa pun untuk secara paksa mengusir rakyat Palestina dari tanah mereka;.

    Dalam pernyataan terpisah, Suriah juga menolak pengakuan Israel.

    Somaliland, terletak di Teluk Aden di seberang Yaman dan di sebelah Djibouti yang kecil, yang menjadi tempat pangkalan militer bagi AS, Tiongkok, Prancis, dan beberapa negara lainnya.

    Tidak diketahui mengapa Israel membuat deklarasi tersebut pada hari Jumat atau apakah negara itu mengharapkan sesuatu sebagai imbalan.

    Somaliland mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada tahun 1991 selama konflik yang terus membuat negara Afrika Timur itu rapuh. Meskipun memiliki pemerintahan dan mata uang sendiri, Somaliland belum pernah diakui oleh negara mana pun hingga hari Jumat.

    Sebelumnya, pada awal tahun ini, pejabat AS dan Israel mengatakan kepada Associated Press bahwa Israel mendekati Somaliland untuk menerima warga Palestina dari Gaza sebagai bagian dari rencana Presiden AS Donald Trump, saat itu untuk memukimkan kembali penduduk wilayah tersebut. Namun, Amerika Serikat sejak itu telah meninggalkan rencana tersebut.

    Departemen Luar Negeri AS pada hari Sabtu mengatakan bahwa mereka terus mengakui integritas teritorial Somalia, “yang mencakup wilayah Somaliland.”

    AS Ogah Ikuti Israel

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintahnya tak akan mengakui kedaulatan Somaliland.

    Hal ini disampaikannya dalam sebuah wawancara dengan New York Post yang diterbitkan hari Jumat (26/12) waktu setempat, setelah Perdana Menteri Israel dan sekutu utama Trump, Benjamin Netanyahu, mengatakan Israel akan menjadi negara pertama yang mengakui Somaliland.

    “Tidak,” kata presiden ketika ditanya oleh New York Post tentang pengakuan AS terhadap Somaliland. Dia menambahkan: “Apakah ada yang benar-benar tahu apa itu Somaliland?” tanya Trump, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (27/12/2025).

    Israel Resmi Akui Somaliland

    Israel secara resmi telah mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat serta menandatangani perjanjian untuk menjalin hubungan diplomatik. Pengakuan ini ini disambut oleh Somaliland sebagai pengakuan resmi pertama dalam sejarahnya.

    Dilansir AFP, Sabtu (27/12/2025), Somaliland memproklamasikan kemerdekaan dari Somalia pada 1991 dan sejak itu mendorong pengakuan internasional. Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi menjadikan pengakuan internasional sebagai prioritas sejak menjabat tahun lalu.

    Netanyahu mengumumkan pengakuan resmi tersebut. Pengumuman itu menjadikan Israel sebagai negara pertama yang melakukan pengakuan tersebut.

    “Israel kini menjadi negara pertama yang mengakui Republik Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat,” kata kantor Netanyahu.

    “Pengumuman ini sejalan dengan semangat Perjanjian Abraham,” tambahnya, merujuk pada perjanjian antara Israel dan negara-negara Arab yang difasilitasi oleh Presiden AS Donald Trump.

    Abdullahi menyambut langkah ini. Dia menyebutnya sebagai awal kemitraan strategis.

    Halaman 2 dari 2

    (yld/knv)

  • Anak Muda Disebut Absen di Pemilu Myanmar, Pemilih Didominasi Lansia

    Junta Myanmar Gelar Pemilu Usai Lima Tahun Perang Saudara

    Jakarta

    Myanmar menggelar pemilu pertama usai lima tahun perang saudara hari ini. Sebagian kecil pemilih datang ke tempat pemungutan suara yang sangat dibatasi.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), Junta militer yang berkuasa menggembar-gemborkan proses ini sebagai kembalinya demokrasi lima tahun setelah mereka menggulingkan pemerintahan terpilih terakhir, yang memicu perang saudara.

    Di wilayah yang dikuasai junta, putaran pertama dari tiga putaran dimulai pukul 6:00 pagi (2330 GMT Sabtu) termasuk daerah pemilihan di kota Yangon, Mandalay, dan ibu kota Naypyidaw, tempat Kepala Militer Min Aung Hlaing memberikan suara.

    “Kami menjamin ini akan menjadi pemilihan yang bebas dan adil,” katanya kepada wartawan.

    “Ini diselenggarakan oleh militer, kami tidak bisa membiarkan nama kami tercoreng,” sambungnya.

    Mantan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi tetap dipenjara di tengah proses pemilu. Sementara partainya yang sangat populer telah dibubarkan dan tidak ikut serta.

    Para aktivis, diplomat Barat, dan pimpinan lembaga hak asasi manusia PBB telah mengecam pemungutan suara bertahap selama sebulan ini. Mereka beralasan bahwa daftar pemilihnya dipenuhi oleh sekutu militer dan penindasan keras terhadap pihak yang mengalami perbedaan pendapat.

    Diketahui, negara yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa ini sedang dilanda perang saudara. Sementara itu, tidak akan ada pemungutan suara di wilayah yang dikuasai pemberontak.

    (yld/knv)

  • Zelensky Bakal Bertemu Trump Bahas Proposal Akhiri Konflik dengan Rusia

    Zelensky Bakal Bertemu Trump Bahas Proposal Akhiri Konflik dengan Rusia

    Jakarta

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan itu dalam rangka mendapatkan persetujuan presiden AS mengenai proposal baru untuk mengakhiri konflik yang hampir empat tahun berlangsung dengan Rusia.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), terdapat rencana 20 poin, yang muncul dari negosiasi intensif AS-Ukraina selama beberapa minggu. Namun draft rencana 20 poin itu belum mendapat persetujuan Moskow.

    Zelensky dan Trump akan melakukan pertemuan tatap muka di kediaman mewah Trump di Mar-a-Lago, Florida pada Minggu. Pertemuan tersebut dilakukan usai Rusia melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran di Kyiv.

    Pertemuan itu akan menjadi pertemuan tatap muka pertama mereka sejak Oktober, ketika presiden AS menolak permintaan Zelensky untuk rudal Tomahawk jarak jauh.

    Selama singgah di Kanada, Zelensky mengatakan dia berharap pembicaraan tersebut akan sangat konstruktif. Zelensky mengatakan pemimpin Rusia Vladimir Putin telah menunjukkan niatnya dengan serangan terbaru di ibu kota Ukraina.

    “Serangan ini sekali lagi merupakan jawaban Rusia atas upaya perdamaian kita. Dan ini benar-benar menunjukkan bahwa Putin tidak menginginkan perdamaian,” katanya.

    Negara Eropa Janji Dukung Ukraina

    Saat berada di Kanada, Zelensky sempat mengadakan konferensi telepon dengan para pemimpin Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz, mengatakan pihaknya berjanji akan memberikan dukungan penuh untuk upaya perdamaian.

    Rusia menuduh Ukraina dan para pendukungnya di Eropa mencoba untuk “menggagalkan” rencana sebelumnya yang ditengahi AS untuk menghentikan pertempuran.

    Para pemimpin Uni Eropa, Ursula von der Leyen dan Antonio Costa, yang berpartisipasi dalam konferensi telepon tersebut, mengatakan dukungan Uni Eropa untuk Ukraina tidak akan pernah goyah dan berjanji untuk terus menekan Kremlin agar mencapai kesepakatan.

    Trump sejauh ini belum memberikan komitmen terhadap proposal perdamaian baru tersebut.

    Zelensky “tidak memiliki apa pun sampai saya menyetujuinya,” kata presiden dalam sebuah wawancara dengan Politico pada hari Jumat.

    “Jadi kita akan lihat apa yang dia miliki,” lanjutnya.

    Pembicaraan tersebut akan membahas rencana yang akan menghentikan perang di sepanjang garis depan saat ini. Selain itu pembahasan itu dapat memungkinkan mengharuskan Ukraina untuk menarik pasukan dari timur, memungkinkan pembentukan zona penyangga demiliterisasi.

    Dengan demikian, rencana tersebut berisi pengakuan paling eksplisit Kyiv hingga saat ini tentang kemungkinan konsesi teritorial.

    Halaman 2 dari 2

    (yld/gbr)

  • Kami dalam Perang Total Lawan AS, Israel dan Eropa

    Kami dalam Perang Total Lawan AS, Israel dan Eropa

    Jakarta

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya sedang berada dalam perang total atau skala penuh melawan Amerika Serikat (AS), Israel dan Eropa. Pezeshkian menuduh negara-negara tersebut terus berupaya membuat Iran tidak stabil.

    Dikutip dari AP News, Minggu (8/12/2025), pernyataan itu disampaikan Pezeshkian menjelang pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan bakal digelar pada Senin. Dalam situs Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Pezeshkian menyebut perang saat ini lebih buruk dibandingkan perang Iran dengan Irak pada 1980-an.

    “Kami berada dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa, mereka tidak menginginkan negara kami tetap stabil,” kata Pezeshkian.

    Pezeshkian menyebut perang yang dilancarkan Barat melawan Iran ‘lebih rumit dan sulit’. Dia membandingkannya dengan perang Iran-Irak pada 1980-an yang menewaskan lebih dari 1 juta orang di kedua pihak.

    Pernyataan tersebut disampaikan dua hari sebelum rencana pertemuan antara Trump dan Netanyahu dalam kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat. Iran diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraan tersebut.

    Serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran yang terjadi selama perang udara selama 12 hari pada Juni lalu menewaskan hampir 1.100 warga Iran, termasuk para komandan militer senior dan ilmuwan nuklir. Sebagai balasan, rentetan serangan rudal Iran menewaskan 28 orang di Israel.

    (knv/gbr)

  • Ulah Keterlaluan Tentara Israel Lindas Pria Palestina di Tengah Salat

    Ulah Keterlaluan Tentara Israel Lindas Pria Palestina di Tengah Salat

    Jakarta

    Ulah Israel makin keterlaluan. Tentara Israel melindas pria di Palestina yang tengah salat.

    Dirangkum detikcom, Minggu (28/12/2025). tentara cadangan Israel menabrakkan kendaraannya ke seorang pria Palestina, saat ia sedang salat di Tepi Barat yang diduduki.

    “Rekaman yang diterima menunjukkan seorang individu bersenjata menabrak seorang warga Palestina,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan usai kejadian pada Kamis (25/12) waktu setempat tersebut. Militer Israel menambahkan bahwa individu tersebut adalah seorang tentara cadangan dan kedinasan militernya telah dihentikan.

    Tentara cadangan tersebut dinyatakan telah bertindak “dengan pelanggaran berat terhadap wewenangnya dan senjatanya telah disita”, kata militer Israel, dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (27/12).

    Media Israel melaporkan bahwa ia kini dikenai tahanan rumah.

    Dilaporkan bahwa pria Palestina yang menjadi korban aksi tentara cadangan Israel tersebut telah pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan setelah serangan itu. Dia tidak mengalami luka serius dan sekarang telah berada di rumah.

    Video yang ditayangkan di TV Palestina dan diverifikasi oleh Reuters menunjukkan seorang pria berpakaian sipil dengan senjata api tersampir di bahunya, mengendarai kendaraan off-road dan menabrak seorang pria yang sedang salat di pinggir jalan.

    Tahun ini merupakan salah satu tahun paling penuh kekerasan yang tercatat untuk serangan warga Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menunjukkan lebih dari 750 orang terluka.

    Halaman 2 dari 2

    (whn/dhn)

  • Netanyahu Bakal Temui Trump di AS Besok, Ini yang Dibahas

    Netanyahu Bakal Temui Trump di AS Besok, Ini yang Dibahas

    Jakarta

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Florida pada Senin besok. Kunjungan itu salah satunya membahas langkah selanjutnya dari rencana gencatan senjata Gaza yang rapuh.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), pertemuan ini akan menjadi kunjungan kelima Netanyahu dengan sekutu utamanya, Trump, di Amerika Serikat tahun ini.

    Perjalanannya dilakukan ketika pemerintahan Trump dan mediator regional mendorong untuk melanjutkan ke tahap kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.

    Seorang pejabat Israel mengatakan Netanyahu akan berangkat ke AS pada 28 Desember dan bertemu dengan Trump sehari kemudian di Florida, tanpa memberikan lokasi spesifik.

    Pada pertengahan Desember, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Netanyahu kemungkinan akan mengunjunginya di Florida selama liburan Natal.

    “Dia ingin bertemu saya. Kami belum mengaturnya secara resmi, tetapi dia ingin bertemu saya,” kata Trump sebelum berangkat ke resor Mar-a-Lago, miliknya.

    Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan pada hari Rabu bahwa berbagai isu regional diperkirakan akan dibahas, termasuk Iran, pembicaraan tentang perjanjian keamanan Israel-Suriah, gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon, dan tahap selanjutnya dari kesepakatan Gaza.

    (azh/azh)