Category: Detik.com Internasional

  • Pria Singapura Dipenjara Usai Pakai Rp 118 Juta ‘Nyasar’ Buat Staycation

    Pria Singapura Dipenjara Usai Pakai Rp 118 Juta ‘Nyasar’ Buat Staycation

    Singapura

    Seorang pria di Singapura dijatuhi hukuman 12 minggu penjara gara-gara menolak mengembalikan lebih dari SGD 9.000 atau sekitar Rp 118 juta yang salah ditransfer kepadanya. Uang itu salah ditransfer oleh Universitas Teknologi Nanyang (NTU).

    Dilansir Channel News Asia, Senin (29/12/2025), Mohamed Basheer Hanif Mohamed (27) malah menghabiskan uang tersebut untuk menginap di hotel dan pengeluaran sehari-hari. Basheer mengaku bersalah atas satu dakwaan penggelapan dana secara tidak jujur.

    Menurut dokumen pengadilan, seorang petugas keuangan NTU mengatakan universitas tersebut secara keliru mentransfer SGD 9.087,04 kepada Basheer pada 10 November 2023. Pada hari yang sama, Basheer menyadari jumlah tersebut di rekening bank POSB-nya yang sebelumnya kosong.

    Dia mulai menarik uang tersebut untuk keperluan pribadinya. Petugas keuangan dan POSB telah beberapa kali mencoba menghubungi Basheer tetapi tidak berhasil.

    Pada 21 November 2023, petugas keuangan mengirim email kepada Basheer tentang transfer yang salah tersebut. Basheer menjawab bahwa dia tidak mengetahui adanya uang tersebut karena dia telah berhenti menggunakan rekening bank tersebut.

    Dia juga menolak memberikan nomor telepon seluler dan alamat terbarunya atas permintaan NTU dan menyuruh petugas keuangan untuk berhenti menghubunginya. Dia tidak mengembalikan uang tersebut.

    Muncul melalui tautan video tanpa perwakilan hukum, Basheer mengatakan bahwa dia telah ditahan sejak Oktober karena tidak mampu membayar uang jaminan. Dia mengaku selama ini tinggal di sebuah flat sewaan bersama istrinya, dan mereka sedang mengalami kesulitan keuangan.

    Basheer mengatakan kepada hakim bahwa dia menyesal dan tidak akan mengulangi pelanggaran setelah dibebaskan. Hakim kemudian bertanya apakah ada perwakilan NTU yang hadir dan seorang wanita terlihat maju. Kemudian, terungkap bahwa wanita tersebut adalah istri Basheer, dan bukan perwakilan universitas.

    Penggelapan dana secara tidak jujur dapat membuat seseorang dipenjara hingga 2 tahun, didenda, atau keduanya.

    Tonton juga video “Pengadilan Tinggi DKI Perberat Hukuman Nikita Mirzani Jadi 6 Tahun Bui”

    Halaman 2 dari 2

    (haf/dhn)

  • Suap Rp 4,3 M dan Ikut Campur Tangan di Pemilu

    Suap Rp 4,3 M dan Ikut Campur Tangan di Pemilu

    Seoul

    Mantan Ibu Negara Korea Selatan, Kim Keon Hee, didakwa menerima suap mewah senilai lebih dari USD 200.000. Jaksa mengatakan suap itu termasuk karya seni, perhiasan, dan tas tangan, serta ikut campur dalam urusan negara.

    Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), Kim Keon Hee merupakan istri dari mantan Presiden Korsel, Yoon Suk Yeol. Kim ditangkap pada Agustus dan sedang diselidiki atas dugaan manipulasi saham dan menerima hadiah dari Gereja Unifikasi yang mirip sekte.

    Dia juga dituduh ikut campur dalam pemilihan parlemen. Dalam pengumuman yang menyimpulkan penyelidikan mereka, jaksa Min Joong-ki mengatakan lembaga-lembaga Korea Selatan ‘sangat dirusak oleh penyalahgunaan kekuasaan’ oleh Kim.

    “Secara ilegal ikut campur dalam urusan negara di balik layar, di luar pandangan publik,” kata jaksa Kim Hyung-geun.

    Mereka menuduh suap dari bisnis dan politisi yang diterima Kim berjumlah hingga 377,25 juta won atau sekitar Rp 4,3 miliar. Jaksa menuduh Kim telah menerima dua tas Chanel dan kalung Graff dari pemimpin Gereja Unifikasi.

    Dia juga diduga menerima perhiasan mewah, lukisan karya pelukis minimalis terkenal Korea Selatan, Lee Ufan, tas tangan Dior, dan jam tangan. Mantan Presiden Korsel, Yoon, telah membantah mengetahui transaksi ini ketika didesak oleh penyidik.

    Jaksa mengatakan klaim Yoon itu sulit diterima banyak orang. Jaksa menuntut hukuman penjara 15 tahun untuk mantan ibu negara tersebut pada awal Desember 2025 kemarin dengan mengatakan bahwa dia telah ‘berada di atas hukum’ dan berkolusi dengan Gereja Unifikasi untuk ‘merusak pemisahan agama dan negara yang diamanatkan secara konstitusional’.

    Mereka juga meminta pengadilan untuk mendendanya sebesar 2 miliar won. Mantan ibu negara tersebut membantah semua tuduhan.

    Dalam kesaksian terakhirnya, dia mengatakan tuduhan itu ‘sangat tidak adil’.

    “Namun ketika saya mempertimbangkan peran saya dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya, tampaknya jelas bahwa saya telah membuat banyak kesalahan,” katanya.

    Mantan presiden Yoon mendeklarasikan darurat militer Desember 2024 dalam upaya singkat untuk menangguhkan pemerintahan sipil yang menjerumuskan Korea Selatan ke dalam kekacauan politik. Yoon kemudian dicopot dari jabatannya kemudian ditangkap tahun ini atas tuduhan pemberontakan, yang dia bantah.

    Ini pertama kalinya seorang mantan presiden Korea Selatan dan istrinya ditahan. Pengadilan Seoul akan menjatuhkan hukuman kepada Kim pada 28 Januari 2026.

    Tonton juga video “Penampilan Eks Ibu Negara Korsel di Sidang Korupsi Perdana”

    Halaman 2 dari 2

    (haf/dhn)

  • Kecelakaan Kereta Api di Meksiko Tewaskan 13 Penumpang, 98 Orang Terluka

    Kecelakaan Kereta Api di Meksiko Tewaskan 13 Penumpang, 98 Orang Terluka

    Oaxaca

    Kereta api yang membawa 250 orang tergelincir di Meksiko dan menyebabkan 13 orang tewas. Selain itu, ada 98 orang yang terluka akibat peristiwa tersebut.

    Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), Angkatan laut Meksiko yang mengoperasikan jalur kereta api tersebut menyebut lokomotif kereta keluar dari rel saat perjalanan di negara bagian Oaxaca selatan.

    Awalnya, Angkatan Laut melaporkan 20 orang terluka. Beberapa jam kemudian, pihak Angkatan Laut Meksiko mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa 98 orang terluka dan 13 orang kehilangan nyawa.

    Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan dirinya telah mengarahkan sekretaris angkatan laut dan personel senior lainnya untuk pergi ke daerah tersebut dan membantu keluarga korban. Kantor Kejaksaan Agung Meksiko sedang membuka penyelidikan untuk menentukan penyebab kecelakaan tersebut.

    Kereta tersebut beroperasi antara Teluk Meksiko dan Samudra Pasifik dan mengangkut penumpang dan barang. Jalur tersebut diresmikan pada tahun 2023 sebagai proyek infrastruktur utama di bawah presiden saat itu, Andres Manuel Lopez Obrador, untuk mengembangkan Meksiko tenggara.

    Pada 20 Desember, kereta api di rute yang sama bertabrakan dengan sebuah truk barang yang mencoba menyeberangi rel. Insiden tersebut tidak mengakibatkan korban jiwa.

    Tonton juga video “Kereta Api di Meksiko Tergelincir, 13 Orang Tewas”

    (haf/imk)

  • Bertemu Zelensky, Trump Sebut Perundingan Damai Ukraina Bisa Makan Waktu Lama

    Bertemu Zelensky, Trump Sebut Perundingan Damai Ukraina Bisa Makan Waktu Lama

    Washington DC

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky akan bertemu Presiden AS Donald Trump di Florida. Trump menjelaskan perundingan terkait perdamaian di Ukraina akan memakan waktu lama. Trump juga siap berbicara di parlemen Ukraina demi mengakhiri perang.

    Dilansir AFP, Senin (29/12/2025) Trump dan Zelensky bertemu di Florida pada Minggu (28/12). Trump mengatakan bahwa kepastian perdamaian di Ukraina bakal jelas dalam ‘beberapa minggu’ ke depan.

    Perundingan juga mengisyaratkan kemungkinan pembicaraan lebih lanjut dengan para pemimpin Eropa di Washington untuk mendorong kesepakatan perdamaian.

    “Jika berjalan sangat baik, Anda tahu, mungkin beberapa minggu, dan jika berjalan buruk, lebih lama,” kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago saat ia berdiri di samping Volodymyr Zelensky.

    “Saya tidak yakin itu benar-benar perlu, tetapi jika itu dapat membantu menyelamatkan 25.000 nyawa per bulan, atau berapa pun jumlahnya, saya pasti bersedia melakukannya,” ujar Trump.

    Sebagaimana diketahui, pertemuan ini dilakukan di tengah upaya Trump yang semakin intensif untuk mengakhiri konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Sejak invasi Rusia Februari 2022, puluhan ribu orang tewas, jutaan mengungsi, dan banyak wilayah timur serta selatan Ukraina hancur.

    Rencana perdamaian terbaru berupa proposal 20 poin yang akan membekukan garis depan. Namun, memungkinkan bagi Ukraina menarik pasukan dari timur dan membentuk zona penyangga demiliterisasi.

    Ini adalah pengakuan paling jelas dari pemimpin Ukraina mengenai kemungkinan konsesi wilayah. Rencana ini lebih diterima Kyiv dibandingkan proposal awal 28 poin yang diajukan Washington pada bulan lalu yang memuat banyak tuntutan utama Rusia.

    Moskow belum menanggapi proposal terbaru. Namun, menunjukkan jika mereka tak akan mengurangi tuntutan luasnya.

    “Pada akhir pekan, saya kira pada hari Minggu, di Florida, kami akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Trump,” kata Zelensky.

    Tonton juga video “Ekspresi Zelensky saat Trump Sebut Putin Mau Bantu Ukraina”

    (rdp/imk)

  • Eks PM Malaysia Najib Razak Dijatuhi Hukuman Total 165 Tahun Penjara

    Eks PM Malaysia Najib Razak Dijatuhi Hukuman Total 165 Tahun Penjara

    Jakarta

    Pengadilan Malaysia menyatakan mantan PM Malaysia Najib Razak bersalah atas empat dakwaan tambahan penyalahgunaan kekuasaan dan 21 dakwaan pencucian uang yang berkaitan dengan skandal dana investasi 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Najib dijatuhi hukuman total 165 tahun penjara.

    Dilansir media The Star, Senin (29/12/2025), Najib Razak harus menjalani hukuman penjara 15 tahun lagi setelah menjalani hukuman penjara yang sedang dijalaninya. Pengadilan Tinggi menjatuhkan hukuman total 165 tahun penjara atas 25 dakwaan dalam kasus 1Malaysia Development Bhd (1MDB) tersebut.

    Rinciannya, ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara untuk masing-masing dari empat dakwaan penyalahgunaan kekuasaan setelah dinyatakan bersalah. Najib juga dihukum membayar denda total RM11,4 miliar.

    Selain itu, Najib juga dihukum penjara lima tahun untuk masing-masing dari 21 dakwaan pencucian uang. Namun tidak ada denda yang dikenakan dari vonis tersebut.

    Semua hukuman penjara dijalankan secara bersamaan, yang berarti Najib harus menjalani hukuman selama 15 tahun.

    Hakim Collin Lawrence Sequerah juga memerintahkan Najib untuk membayar sejumlah uang yang dapat dipulihkan sebesar RM2,08 miliar berdasarkan Pasal 55(2) Undang-Undang Anti Pencucian Uang, Anti Pendanaan Terorisme dan Hasil Kegiatan Haram 2001, jika tidak, ia akan menghadapi hukuman penjara tambahan selama 270 bulan.

    “Saya telah mempertimbangkan kasus-kasus yang dikutip dan prinsip-prinsip hukum. Saya juga telah mempertimbangkan unsur kepentingan publik dan prinsip pencegahan, lamanya masa jabatannya di pemerintahan dan faktor-faktor yang meringankan lainnya,” kata Sequerah.

    Diketahui Hakim mulai membacakan putusan Najib pada pukul 9 malam, meskipun ia telah mulai membacakan putusannya pada pukul 9.30 pagi.

    Para wartawan yang telah menahan hampir 12 jam persidangan di ruang sidang, mulai bersorak ketika hakim keluar dari ruang kerjanya untuk membacakan putusan.

    Hakim Sequerah juga memerintahkan agar hukuman penjara baru berlaku setelah Najib menyelesaikan masa hukuman enam tahunnya dalam kasus SRC International Sdn Bhd.

    Diketahui, Najib telah menjalani hukuman penjara di Penjara Kajang sejak 23 Agustus 2022. Ia sebelumnya dinyatakan bersalah dalam kasus penggelapan dana SRC International sebesar RM42 juta.

    Menurut Dewan Pengampunan, Najib diperkirakan akan dibebaskan pada 23 Agustus 2028.

    Sementara itu, tim pembela Najib telah meminta agar uang jaminan sebesar RM3,5 juta dikembalikan. Merespons permintaan itu, pihak penuntut menyatakan tidak keberatan.

    “Dalam keadaan ini, pengadilan memerintahkan pengembalian uang jaminan,” kata Hakim Sequerah.

    Pengacara utama Najib, Tan Sri Muhammad Shafee Abdullah, mengatakan pihak pembela tidak mengajukan permohonan penangguhan eksekusi saat ini.

    “Tetapi kami ingin ini tercatat ‘tidak mengajukan permohonan penangguhan eksekusi dengan kebebasan untuk mengajukan permohonan’,”.

    Sementara itu Najib, usai vonis dibacakan, mendesak seluruh rakyat Malaysia untuk tetap tenang dan tidak terlibat dalam provokasi apa pun.

    “Saya tetap bertekad untuk melanjutkan perjuangan ini bukan karena dendam, tetapi karena prinsip. Yang saya cari hanyalah hak yang dijamin oleh hukum dan yang telah disahkan dengan semestinya,” kata Najib.

    “Niat saya tidak pernah berubah untuk berkontribusi pada pembangunan bangsa dan kesejahteraan rakyatnya,” sambungnya.

    Ia menambahkan perjuangannya tersebut bukan untuk menghindari tanggungjawab, melainkan untuk membela konstitusi. Ia menegaskan akan berjuang atas haknya.

    “Perjuangan ini bukanlah upaya untuk menghindari tanggung jawab; ini adalah upaya untuk menegakkan keadilan, membela integritas konstitusi, dan menjaga supremasi hukum,” ujarnya.

    “Saya akan terus memperjuangkan hak-hak saya melalui jalur hukum. Apa pun keputusan hari ini, saya tetap yakin pada proses peradilan negara ini,” imbuhnya.

    Tonton juga video “Eks PM Malaysia Najib Razak Dijatuhi Hukuman Total 165 Tahun Penjara”

    (yld/imk)

  • China Gelar Latihan Militer Besar-besaran di Sekitar Taiwan Mulai Hari Ini

    China Gelar Latihan Militer Besar-besaran di Sekitar Taiwan Mulai Hari Ini

    China

    China mengatakan mereka sedang melakukan latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan. Latihan itu dinamai ‘Misi Keadilan 2025’.

    Dalam kegiatan ini akan ada kegiatan penembakan yang akan dilakukan pada Selasa (30/12) di lima zona di perairan dan wilayah udara dekat pulau yang diklaim Beijing. Kegiatan latihan militer besar itu dimulai hari ini.

    “Mulai 29 Desember, Komando Teater Timur PLA mengirimkan pasukan Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Roketnya untuk melakukan latihan militer gabungan dengan kode nama ‘Misi Keadilan 2025’,” kata juru bicara pasukan militer China Kolonel Senior Shi Yi dilansir AFP, Senin (29/12/2025).

    Seperti diketahui, hubungan Taiwan dan China akhir-akhir ini memanas. Pada awal Desember lalu, otoritas Taiwan mengklaim bahwa China telah mengerahkan kapal-kapal perangnya dalam “operasi militer” yang membentang ratusan kilometer dari Laut Kuning hingga Laut China Selatan. Taipei menyebut operasi semacam itu oleh Beijing menimbulkan “ancaman” bagi kawasan tersebut.

    China, yang selalu mengklaim Taiwan sebagai bagian wilayah kedaulatannya, tidak membenarkan maupun membantah manuver tersebut.

    Juru bicara kantor kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, seperti dilansir AFP, Jumat (5/12), mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan Taiwan dan badan-badan keamanan lainnya memantau aktivitas militer China dan memiliki “pemahaman penuh mengenai situasi tersebut”.

    Operasi militer China tersebut, kata Kuo, tidak terbatas pada Selat Taiwan, tetapi meluas dari Laut Kuning bagian selatan hingga ke Laut China Timur di dekat Kepulauan Diayou yang menjadi sengketa dengan Jepang, dan bahkan sampai ke Laut China Selatan, serta ke perairan Pasifik Barat.

    “Ini memang menimbulkan ancaman dan berdampak bagi Indo-Pasifik dan seluruh kawasan,” ucap Kuo dalam pernyataannya.

    Kuo pun mendesak China untuk “menahan diri”. “Kami juga meyakini dapat menangani masalah ini dengan baik,” imbuhnya.

    Baik Angkatan Bersenjata China maupun media pemerintah setempat belum mengumumkan soal aktivitas militer terbaru di kawasan yang dilaporkan oleh Taiwan.

    Kementerian Luar Negeri Beijing tidak memberikan jawaban langsung ketika ditanya apakah militer mengerahkan sejumlah besar kapal angkatan laut di perairan-perairan tersebut.

    “Saya ingin menekankan bahwa China secara konsisten telah menjalankan kebijakan defensif,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers terbaru.

    “Angkatan Laut dan Penjaga Pantai China beroperasi secara ketat di perairan yang relevan, sesuai dengan hukum domestik China dan hukum internasional,” sebutnya.

    Lebih lanjut, Lin mendesak “pihak-pihak terkait” untuk tidak “bereaksi berlebihan atau … terlibat dalam propaganda yang tidak berdasar”.

    Tonton juga Video: Momen Angkatan Laut China-Rusia Gelar Latihan Militer Gabungan

    (zap/yld)

  • Kritik ‘Pemilu Palsu’ di Balik Gelombang Absennya Pemilih Muda Myanmar

    Kritik ‘Pemilu Palsu’ di Balik Gelombang Absennya Pemilih Muda Myanmar

    Jakarta

    Myanmar menggelar pemilu pertama usai lima tahun perang saudara. Namun pemilu ini dikritik oleh aktivis hak asasi manusia sebagai ‘pemilu palsu’.

    Dirangkum detikcom, Senin (29/12/2025), sebagian kecil pemilih datang ke tempat pemungutan suara yang sangat dibatasi. Mayoritas pemilih yang hadir disebut merupakan yang berusia tua, sementara pemilih berusia muda memilih absen.

    Pemilu Pertama Usai 5 Tahun Perang Saudara

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), junta militer yang berkuasa menggembar-gemborkan proses ini sebagai kembalinya demokrasi lima tahun setelah mereka menggulingkan pemerintahan terpilih terakhir, yang memicu perang saudara.

    Di wilayah yang dikuasai junta, putaran pertama dari tiga putaran dimulai pukul 6:00 pagi (2330 GMT Sabtu) termasuk daerah pemilihan di Kota Yangon, Mandalay, dan ibu kota Naypyidaw, tempat Kepala Militer Min Aung Hlaing memberikan suara.

    “Kami menjamin ini akan menjadi pemilihan yang bebas dan adil,” katanya kepada wartawan.

    “Ini diselenggarakan oleh militer, kami tidak bisa membiarkan nama kami tercoreng,” sambungnya.

    Mantan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi tetap dipenjara di tengah proses pemilu. Sementara partainya yang sangat populer telah dibubarkan dan tidak ikut serta.

    Dikritik Pemilu Palsu

    Para aktivis, diplomat Barat, dan pimpinan lembaga hak asasi manusia PBB telah mengecam pemungutan suara bertahap selama sebulan ini. Mereka beralasan bahwa daftar pemilihnya dipenuhi oleh sekutu militer dan menyoroti adanya penindasan keras terhadap pihak yang mengalami perbedaan pendapat.

    Para aktivis hak asasi manusia internasional juga menganggap pemilu yang digelar militer itu sebagai pemilu palsu.

    Sementara itu, Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (Union Solidarity and Development Party) yang pro-militer diperkirakan akan muncul sebagai partai terbesar, yang menurut para kritikus akan menjadi penamaan ulang pemerintahan militer.

    Diketahui, negara yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa ini sedang dilanda perang saudara. Sementara itu, tidak akan ada pemungutan suara di wilayah yang dikuasai pemberontak.

    Anak Muda Disebut Absen di Pemilu Myanmar

    Banyak anak muda yang sebelumnya memberikan suaranya dalam pemilu sebelumnya disebut tampak absen dari pemilu yang diselenggarakan militer hari ini. Akan tetapi, pemilih yang lebih tua disebut mendominasi jumlah pemilih pada pemilu kali ini.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), banyak warga telah meninggalkan negara yang dilanda perang ini sejak militer merebut kekuasaan lima tahun lalu. Mereka yang pergi dari Myanmar termasuk banyak pria usia wajib militer hingga 35 tahun atau anak muda yang mencari penghidupan yang lebih baik di luar ekonomi Myanmar yang lesu.

    Sementara itu bagi anak muda yang masih berada di Myanmar pun tidak terlalu antusias untuk ikut serta dalam pemilu tersebut.

    “Sebagian besar orang yang pergi untuk memilih adalah orang tua,” kata seorang pria berusia 20-an di daerah Mandalay, yang meminta untuk tetap anonim karena alasan keamanan.

    “Saya rasa tidak ada yang ingin terlibat dalam kekacauan ini,” katanya kepada AFP.

    “Orang-orang mungkin tidak percaya pada keadilan pemilu ini,” tambahnya.

    Sementara itu, di sebuah tempat pemungutan suara dekat Pagoda Sule yang berlapis emas di pusat kota Yangon, para pemilih sebagian besar adalah warga lanjut usia, ibu-ibu yang menggendong anak, dan ibu rumah tangga yang membawa keranjang belanja.

    Menurut seorang pejabat pemilihan setempat menyebut, dari sekitar 1.400 orang yang terdaftar di lokasi tersebut, kurang dari 500 orang telah memberikan suara mereka kurang dari dua jam sebelum tempat pemungutan suara ditutup.

    Pada pemilihan terakhir tahun 2020, tingkat partisipasi pemilih sekitar 70 persen.

    Kepala Militer Myanmar Bicara Demokrasi

    Kepala Junta Myanmar, Min Aung Hlaing, menyampaikan pesan kepada warganya tentang partisipasi pemilih dalam pemilu. Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), hal itu disampaikan Min Aung Hlaing saat memberikan suara dalam pemilihan umum usai lima tahun pemerintahan militer dan perang saudara.

    “Rakyat harus memilih,” kata pria berusia 69 tahun itu kepada para wartawan yang berkumpul.

    “Jika mereka tidak memilih, saya harus mengatakan bahwa mereka tidak sepenuhnya memahami apa itu demokrasi sebenarnya,” imbuhnya.

    Para analis mengatakan ia bisa beralih menjadi presiden setelah pemilu, atau tetap sebagai kepala angkatan bersenjata dan menjadi kekuatan di balik takhta yang tampaknya sipil. Kedua cara tersebut secara efektif akan memperpanjang pemerintahan militer.

    Namun, ia menolak berkomentar, ia menggambarkan dirinya sebagai “pelayan publik dan kepala militer’, bukan pemimpin partai politik.

    “Saya tidak bisa begitu saja pergi dan meminta untuk menjadi presiden,” katanya.

    Jenderal bertubuh mungil itu berada di urutan teratas daftar pemilih di tempat pemungutan suara Zeyathiri, yang didirikan di kompleks resminya di ibu kota Naypyidaw yang luas namun jarang penduduk.

    Sejumlah jenderal, perwira, dan pejabat pemerintah tiba di aula berhiaskan emas untuk memberikan suara dalam pemilu.

    Respons PBB

    Sementara itu, PBB mengatakan Myanmar membutuhkan pemilu yang bebas, adil, inklusif, dan kredibel atas dimulainya pemilu usai 5 tahun berlangsungnya perang saudara. PBB menekankan pentingnya berjalannya Pemilu yang mencerminkan kehendak rakyat.

    “Sangat penting bahwa masa depan Myanmar ditentukan melalui proses yang bebas, adil, inklusif, dan kredibel yang mencerminkan kehendak rakyatnya,” kata PBB di Myanmar.

    PBB menambahkan bahwa pihaknya “berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Myanmar dan aspirasi demokrasi mereka”.

    Lihat juga Video: Apakah Revisi UU Pemilu Dapat Mengembalikan Kepercayaan Masyarakat?

    Halaman 2 dari 3

    (yld/fas)

  • Pernyataan Mengejutkan Presiden Iran

    Pernyataan Mengejutkan Presiden Iran

    Jakarta

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuat pernyataan mengejutkan soal kondisi negaranya yang disebut dalam kondisi perang. Tak tanggung-tanggung, Masoud menyatakan negaranya sedang berada dalam perang total melawan Amerika Serikat (AS), Israel dan Eropa.

    Dilansir AP News, Minggu (8/12/2025), pernyataan itu disampaikan Pezeshkian menjelang pertemuan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan bakal digelar pada Senin (29/12). Pezeshkian menuduh negara-negara tersebut terus berupaya membuat Iran tidak stabil.

    Dalam situs Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Masoud menyebut perang saat ini lebih buruk dibandingkan perang Iran dengan Irak pada 1980-an.

    “Kami berada dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa, mereka tidak menginginkan negara kami tetap stabil,” kata Pezeshkian.

    Masoud menilai perang yang dilancarkan Barat melawan Iran ‘lebih rumit dan sulit’. Dia membandingkannya dengan perang Iran-Irak pada 1980-an yang menewaskan lebih dari 1 juta orang di kedua pihak.

    Pernyataan tersebut disampaikan dua hari sebelum rencana pertemuan antara Trump dan Netanyahu dalam kunjungan Netanyahu ke AS. Iran diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraan tersebut.

    Serangan Israel dan negeri Paman Sam terhadap Iran yang terjadi selama perang udara selama 12 hari pada Juni lalu menewaskan hampir 1.100 warga Iran, termasuk para komandan militer senior dan ilmuwan nuklir. Sebagai balasan, rentetan serangan rudal Iran menewaskan 28 orang di Israel.

    Apakah Iran Akan Dibahas Trump dan Netanyahu?

    Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Donald Trump di Florida pada Senin (29/12). Kunjungan itu salah satunya membahas langkah selanjutnya dari rencana gencatan senjata Gaza yang rapuh.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12), pertemuan ini akan menjadi kunjungan kelima Netanyahu dengan sekutu utamanya, Trump, di Amerika Serikat tahun ini. Perjalanannya dilakukan ketika pemerintahan Trump dan mediator regional mendorong untuk melanjutkan ke tahap kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.

    Seorang pejabat Israel mengatakan Netanyahu akan berangkat ke AS pada 28 Desember dan bertemu dengan Trump sehari kemudian di Florida, tanpa memberikan lokasi spesifik.

    Pada pertengahan Desember, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Netanyahu kemungkinan akan mengunjunginya di Florida selama liburan Natal. “Dia ingin bertemu saya. Kami belum mengaturnya secara resmi, tetapi dia ingin bertemu saya,” kata Trump sebelum berangkat ke resor Mar-a-Lago, miliknya.

    Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan pada Rabu (24/12), bahwa berbagai isu regional diperkirakan akan dibahas, termasuk Iran, pembicaraan tentang perjanjian keamanan Israel-Suriah, gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon, dan tahap selanjutnya dari kesepakatan Gaza.

    Halaman 2 dari 2

    (rfs/fas)

  • Pria di Suriname Tikam 9 Orang hingga Tewas, 4 Korban Anaknya Sendiri

    Pria di Suriname Tikam 9 Orang hingga Tewas, 4 Korban Anaknya Sendiri

    Paramaribo

    Seorang pria menikam sembilan orang hingga tewas, termasuk lima anak-anak, di Paramaribo, Suriname. Kepolisian setempat telah menangkap pelaku.

    Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), pelaku disebut menderita masalah kesehatan mental. Dari 9 korban tewas, 4 di antaranya merupakan anak dari pelaku sendiri. Peristiwa ini terjadi di dalam dan sekitar rumahnya.

    Tersangka disebut bertengkar dengan istrinya melalui telepon sebelum menikam salah satu korban, putrinya yang berusia 11 tahun, sebanyak 44 kali di dapur rumahnya.

    “Seorang pria membunuh empat orang dewasa dan lima anak-anak dengan benda tajam di sebuah kediaman di Hadji Iding Soemitaweg,” kata polisi setempat dalam sebuah pernyataan.

    “Seorang anak keenam dan seorang dewasa terluka parah dan dibawa ke rumah sakit,” tambahnya.

    Polisi yang tiba di tempat kejadian terpaksa melepaskan tembakan ke arah tersangka, karena tersangka menyerang polisi dengan benda tajam.

    “Rincian lebih lanjut mengenai keadaan sebenarnya dari serangan tragis ini akan menyusul,” demikian pernyataan polisi setempat.

    (fas/fas)

  • Kritik ‘Pemilu Palsu’ di Balik Gelombang Absennya Pemilih Muda Myanmar

    Anak Muda Disebut Absen di Pemilu Myanmar, Pemilih Didominasi Lansia

    Jakarta

    Myanmar menggelar pemilu pertama usai lima tahun perang saudara hari ini. Namun, banyak anak muda yang sebelumnya memberikan suaranya dalam pemilu sebelumnya disebut tampak absen dari pemilu yang diselenggarakan militer hari ini.

    Akan tetapi, pemilih yang lebih tua disebut mendominasi jumlah pemilih pada pemilu kali ini.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12/2025), banyak warga telah meninggalkan negara yang dilanda perang ini sejak militer merebut kekuasaan lima tahun lalu. Mereka yang pergi dari Myanmar termasuk banyak pria usia wajib militer hingga 35 tahun atau anak muda yang mencari penghidupan yang lebih baik di luar ekonomi Myanmar yang lesu.

    Sementara itu bagi anak muda yang masih berada di Myanmar pun tidak terlalu antusias untuk ikut serta dalam pemilu tersebut. Para aktivis hak asasi manusia internasional menganggap pemilu yang digelar milter itu sebagai pemilu palsu.

    “Sebagian besar orang yang pergi untuk memilih adalah orang tua,” kata seorang pria berusia 20-an di daerah Mandalay, yang meminta untuk tetap anonim karena alasan keamanan.

    “Saya rasa tidak ada yang ingin terlibat dalam kekacauan ini,” katanya kepada AFP.

    “Orang-orang mungkin tidak percaya pada keadilan pemilu ini,” tambahnya.

    Sementara itu, di sebuah tempat pemungutan suara dekat Pagoda Sule yang berlapis emas di pusat kota Yangon, para pemilih sebagian besar adalah warga lanjut usia, ibu-ibu yang menggendong anak, dan ibu rumah tangga yang membawa keranjang belanja.

    Menurut seorang pejabat pemilihan setempat menyebut, dari sekitar 1.400 orang yang terdaftar di lokasi tersebut, kurang dari 500 orang telah memberikan suara mereka kurang dari dua jam sebelum tempat pemungutan suara ditutup.

    Pada pemilihan terakhir tahun 2020, tingkat partisipasi pemilih sekitar 70 persen.

    Sementara seorang pensiunan guru sekolah pedesaan, Sein Yee, mengatakan memberikan suara adalah kewajiban bagi semua warga negara.

    “Ini adalah kesempatan bagi semua warga negara untuk mencapai perdamaian di negara ini,” tambah wanita berusia 74 tahun itu.

    Myanmar terjerumus ke dalam perang saudara akibat kudeta militer tahun 2021, dan memberlakukan wajib militer dua tahun lalu untuk memperkuat barisannya dalam memerangi gerilyawan serta pasukan minoritas etnis yang telah lama berkuasa di pinggiran negara itu.

    Sementara itu seorang warga berusia 35 tahun menilai pemilu yang digelar tersebut tidak adil dan bertentangan dengan keinginan rakyat. Menurutnya tidak akan ada perubahan usai pemilu tersebut.

    “Saya pikir ini adalah pemilu yang tidak adil yang diadakan bertentangan dengan keinginan rakyat,” kata Kyaw Min Thein, di negara bagian Rakhine bagian barat, yang hampir seluruhnya dikendalikan oleh tentara minoritas etnis.

    “Saya rasa tidak akan ada perubahan. Saya pikir ini adalah kesempatan bagi mereka untuk mengganti seragam tentara mereka dengan seragam sipil dan mempertahankan kekuasaan mereka,” tambahnya.

    Pemungutan Suara Ditutup

    Pemungutan suara saat ini telah ditutup pada putaran pertama pemilihan yang dijalankan junta Myanmar. Hal ini sekaligus mengakhiri fase pembukaan pemungutan suara selama sebulan.

    Jurnalis AFP melaporkan dari sebuah tempat pemungutan suara yang mengumumkan panggilan terakhir kepada para pemilih melalui pengeras suara sebelum ditutup pada pukul 16.00 (1030 GMT) di pusat kota Yangon, dekat lokasi protes pro-demokrasi besar-besaran pada tahun 2021 setelah militer merebut kekuasaan dalam kudeta.

    Lihat juga Video Anwar Ibrahim Sindir Junta Myanmar: Berhenti Membunuh-Membakar Rumah Orang

    Halaman 2 dari 2

    (yld/gbr)