Category: Detik.com Internasional

  • Trump Janji ke Pemimpin Islam Tak Akan Izinkan Israel Caplok Tepi Barat

    Trump Janji ke Pemimpin Islam Tak Akan Izinkan Israel Caplok Tepi Barat

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berjanji kepada para pemimpin Arab dan Islam untuk tidak mengizinkan Israel mencaplok Tepi Barat yang diduduki. Hal ini termasuk dalam rencana perdamaian di Gaza dan kawasan yang telah disampaikan Trump dalam pertemuan untuk membahas penyelesaian perang Gaza.

    Janji tersebut disampaikan dalam pertemuan Trump dengan para pemimpin Arab dan Islam di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pada Selasa (23/9) waktu setempat. Sebelumnya, para pejabat regional telah berulang kali memperingatkan bahwa aneksasi atau pencaplokan bisa semakin mengobarkan konflik dan membahayakan perjanjian normalisasi.

    Berbicara dari New York, utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengatakan bahwa Trump telah menyampaikan rencana perdamaian berisi 21 poin dalam pertemuan pada hari Selasa tersebut.

    Pertemuan tersebut diselenggarakan bersama oleh AS dan Qatar, dan diikuti oleh Yordania, Turki, Indonesia, Pakistan, Mesir, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

    “Saya pikir rencana ini menjawab kekhawatiran Israel dan, juga, kekhawatiran semua negara tetangga di kawasan ini,” kata Witkoff. “Dan kami berharap, dan bisa saya katakan, bahkan yakin, bahwa dalam beberapa hari mendatang, kami akan dapat mengumumkan semacam terobosan,” imbuhnya dilansir Al Arabiya, Kamis (25/9/2025).

    Menurut pernyataan bersama yang dirilis usai pertemuan yang juga dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto tersebut, para pemimpin Arab dan Islam berterima kasih kepada Trump atas pertemuan tersebut dan menyoroti “situasi yang tak terkira di Jalur Gaza.”

    Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin menekankan perlunya mengakhiri perang, mencapai gencatan senjata segera untuk memastikan pembebasan semua sandera, dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan.

    “Mereka menegaskan kembali komitmen mereka untuk bekerja sama dengan Presiden Trump dan menekankan pentingnya kepemimpinannya untuk mengakhiri perang dan membuka cakrawala bagi perdamaian yang adil dan abadi,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut.

    Negara-negara Arab dan Islam juga menekankan perlunya memastikan stabilitas di Tepi Barat dan di tempat-tempat suci Yerusalem.

    Sebelumnya, pemerintah Israel yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terus-menerus bersumpah untuk mencegah pembentukan negara Palestina, dan telah mengisyaratkan niatnya untuk memperluas kendali atas wilayah-wilayah yang diduduki.

    Lihat Video ‘ Trump di PBB: Pengakuan Negara Palestina Jadi Hadiah untuk Hamas’:

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Para Pemimpin Islam Berterima Kasih ke Trump Usai Pertemuan Bahas Gaza

    Para Pemimpin Islam Berterima Kasih ke Trump Usai Pertemuan Bahas Gaza

    Jakarta

    Para pemimpin Arab dan Islam berterima kasih kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas terselenggaranya pertemuan di sela-sela Sidang Umum PBB untuk membahas perang Gaza dan stabilitas di Timur Tengah.

    Pertemuan tersebut diselenggarakan bersama oleh AS dan Qatar, dan diikuti oleh Yordania, Turki, Indonesia, Pakistan, Mesir, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

    Dilansir Al Arabiya, Kamis (25/9/2025), usai pertemuan yang berlangsung tertutup itu, pernyataan bersama dirilis pada hari Rabu (24/9) waktu setempat, yang isinya:

    “Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin negara Arab dan OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) berterima kasih kepada Presiden Trump atas ajakan untuk pertemuan penting ini dan menyoroti situasi yang tak terkira di Jalur Gaza, termasuk bencana kemanusiaan dan tingginya korban jiwa, serta konsekuensi seriusnya bagi kawasan dan dampaknya terhadap dunia Muslim secara keseluruhan. Mereka menegaskan kembali posisi bersama yang menolak pengungsian paksa dan perlunya mengizinkan kembalinya mereka yang telah pergi,” demikian disampaikan dalam pernyataan tersebut.

    Dalam pertemuan yang juga dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto itu, para pemimpin menekankan perlunya mengakhiri perang dan mencapai gencatan senjata segera yang akan memastikan pembebasan para sandera, dan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan yang memadai sebagai langkah pertama menuju perdamaian yang adil dan abadi.

    “Mereka menegaskan kembali komitmen mereka untuk bekerja sama dengan Presiden Trump, dan menekankan pentingnya kepemimpinannya untuk mengakhiri perang dan membuka cakrawala bagi perdamaian yang adil dan abadi,” imbuh pernyataan itu.

    “Mereka menekankan perlunya menyusun detail rencana stabilisasi, sekaligus memastikan stabilitas di Tepi Barat dan tempat-tempat suci Yerusalem, dan mendukung upaya reformasi Otoritas Palestina.”

    Dilaporkan bahwa para pemimpin juga menekankan perlunya memastikan rencana rekonstruksi yang komprehensif di Gaza, berdasarkan rencana Arab dan OKI, serta pengaturan keamanan, dengan bantuan internasional yang mendukung kepemimpinan Palestina, dan menyatakan komitmen untuk bekerja sama guna memastikan keberhasilan rencana tersebut dan membangun kembali kehidupan warga Palestina di Gaza.

    Para pemimpin juga menekankan pentingnya mempertahankan momentum untuk memastikan bahwa pertemuan ini merupakan awal dari sebuah proses di jalur yang tepat menuju masa depan yang damai dan kerja sama regional.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa Masih Berfungsi?

    Apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa Masih Berfungsi?

    Jakarta

    Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) menginjak usia yang ke-80 tahun minggu ini. Para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk memperingatinya. Namun, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, perubahan iklim yang kian memburuk, dan meningkatnya tantangan tatanan global berbasis hukum, suasana UNGA jauh dari kemeriahan.

    Sebaliknya PBB menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Salah satu penyebab utamanya adalah perpecahan di Dewan Keamanan (DK) PBB terkait perang Israel di Gaza dan invasi Rusia ke Ukraina. Misi penjaga perdamaian PBB di Afrika juga mendapat kritik.

    Selain itu, tahun lalu sekelompok pakar kebijakan iklim, termasuk di dalamnya mantan kepala iklim PBB Christiana Figueres, mantan Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan ilmuwan iklim terkemuka Johan Rockstrm, menyebut KTT iklim COP “sudah tidak lagi sejalan dengan fungsinya.”

    Namun, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menekankan pentingnya PBB dalam menangani isu-isu global. “Tidak ada negara yang bisa menghentikan pandemi sendirian. Tidak ada pasukan yang bisa menghentikan suhu bumi yang terus meningkat,” katanya saat berpidato di Sidang Umum PBB, Selasa (23/9) lalu.

    Apa fungsi Sidang Umum PBB (UNGA)?

    Sebagai salah satu dari enam organ utama PBB, UNGA adalah salah satu badan perwakilan utama PBB yang menyediakan ruang untuk merumuskan kebijakan dan mengeluarkan rekomendasi melalui resolusi.

    Namun, resolusi yang dilahirkan UNGA pada dasarnya hanyalah pernyataan niat. Negara-negara menyatakan posisinya untuk disepakati secara internasional. Namun, resolusi ini secara umum tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat.

    Apakah PBB benar-benar bisa membantu menciptakan perdamaian?

    Dewan Keamanan PBB (UNSC) dianggap sebagai badan utama untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, tetapi selama ini kerap dikritik karena komposisinya anggota tetapnya yang terbatas, yang sering menyebabkan resolusi terblokir.

    DK PBB terdiri dari lima anggota tetap: Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, dan Prancis, negara-negara pemenang Perang Dunia II yang juga pemilik senjata nuklir. Selain kelima negara tersebut ada 10 anggota tidak tetap yang dipilih setiap dua tahun berdasarkan sistem rotasi regional.

    Yang sangat krusial adalah kelima anggota tetap memiliki hak veto — kekuatan untuk membatalkan keputusan secara sepihak. Namun bagi 10 anggota tidak tetap tanpa veto, untuk membatalkan suara dibutuhkan tujuh dari sepuluh anggota untuk menolak resolusi agar suara gagal disahkan.

    Hak veto ini secara konsisten digunakan oleh negara-negara besar untuk melindungi kepentingan mereka sendiri, seperti saat AS memblokir resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera di Gaza atau Rusia memveto resolusi untuk menghentikan perang di Ukraina.

    Para kritikus mengatakan bahwa Dewan Keamanan PBB sudah tidak lagi relevan dan representatif. Hal ini terutama berlaku bagi Afrika dan Amerika Selatan, yang tidak memiliki perwakilan tetap di DK PBB.

    Daniel Forti, analis senior PBB di lembaga think tank International Crisis Group, mengatakan kepada DW bahwa reformasi sulit dilakukan karena “lima anggota tetap enggan menyetujui perubahan apa pun yang bisa mengurangi pengaruh mereka.”

    “Sedikit sekali yang akan mengatakan bahwa Dewan Keamanan berfungsi dengan baik saat ini,” lanjutnya. “Benturan geopolitik antara AS, Cina, dan Rusia telah membuat Dewan Keamanan PBB hampir tidak mampu merespons konflik-konflik terburuk di dunia sepuluh tahun terakhir. Ini telah merusak kredibilitas DK yang juga merambat pada kredibilitas PBB.”

    Apakah AS yang ‘menarik diri’ membuat PBB terpuruk?

    Pendanaan PBB berasal dari kontribusi para negara anggotanya, dalam bentuk sumbangan wajib berdasarkan ukuran dan pendapat negara, serta kontribusi sukarela, yang umumnya datang dari negara-negara maju.

    Meskipun Amerika Serikat masih memberikan kontribusi, keputusan Donald Trump untuk mengeluarkan berbagai perintah eksekutif yang menarik diri dari beberapa lembaga dan program PBB, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah membuat organisasi ini mengalami kesulitan keuangan.

    Awal bulan ini, Guterres mengusulkan pemotongan anggaran sebesar $500 juta (sekitar Rp. 8,3 triliun) untuk tahun depan, atau sekitar 15% dari anggaran pokok PBB, dari $3,7 miliar (Rp. 61 triliun) menjadi $3,2 miliar (Rp. 53 triliun). Inisiatif seperti Program Pangan Dunia WFP, untuk pengungsi UNHCR, dan WHO yang memerlukan anggaran dana yang lebih besar, kini menghadapi ketidakpastian.

    “Pemotongan dan pembekuan bantuan yang dilakukan Washington memaksa organisasi ini melakukan pengetatan besar-besaran,” kata Forti. “Tidak ada negara lain yang mengambil alih menutup ‘kesenjangan’ dana dukungan AS … Ini berarti lebih sedikit kampanye vaksinasi, lebih sedikit inisiatif pendidikan, dan lebih sedikit dukungan untuk pemukiman pengungsi.”

    Bisakah PBB direformasi dan dibuat lebih relevan?

    Seruan untuk reformasi PBB sudah ada sejak lama, hampir sepanjang organisasi itu berdiri, tetapi kini semakin keras dan meluas. Presiden Irlandia, Michael D. Higgins, tahun lalu menyerukan agar PBB “dirancang ulang untuk masa depan, dengan memberi peran lebih bagi Afrika, Asia, dan Amerika Latin.”

    Pada bulan Februari, Trump berkata: “Saya selalu merasa bahwa PBB punya potensi besar. Tapi saat ini belum memenuhi potensi tersebut.” Ia mengulangi klaim itu lagi dalam Sidang Umum pekan ini.

    Forti juga melihat perlunya perubahan. “Organisasi ini bisa direformasi. Tapi itu akan menjadi jalan yang sulit. Reformasi serius akan memakan waktu dan mungkin menjadi proses yang menyakitkan bagi negara-negara yang bergantung pada PBB,” katanya.

    “Membawa PBB ke era berikutnya akan membutuhkan visi reformasi yang jelas dari Sekretaris Jenderal berikutnya, dan dukungan diplomatik besar dari banyak negara anggota. Organisasi ini telah melewati masa-masa sulit sebelumnya. Untuk bisa melakukannya lagi, negara-negara harus mampu membuktikan mengapa PBB penting bagi mereka,” tegas analis senior International Crisis Group tersebut.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Sorta Caroline

    Editor: Yuniman Farid

    Lihat juga Video ‘Trump di PBB: Pengakuan Negara Palestina Jadi Hadiah untuk Hamas’:

    (ita/ita)

  • Trump Libatkan Secret Service Selidiki Sabotase Eskalator Rusak di PBB

    Trump Libatkan Secret Service Selidiki Sabotase Eskalator Rusak di PBB

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali berbicara mengenai eskalator, teleprompter, dan sound system yang rusak di hari dia berpidato di Sidang Umum PBB. Trump bahkan menduga ada sabotase mengenai tiga gangguan itu, dia menyebutnya ‘triple sabotage’.

    Dilansir AFP, Kamis (25/9/2025), kejadian yang dia sebut ‘triple sabotage’ atau ‘sabotase rangkap tiga’ meliputi kejadian eskalator di Markas PBB tiba-tiba berhenti mendadak saat Trump dan istrinya hendak naik sehingga membuat mereka terpaksa berjalan. Kemudian, teleprompter yang rusak saat dia berpidato di Sidang Umum PBB, hingga sound system yang disebut mengalami malfungsi saat ia berpidato.

    “Ini bukan kebetulan, ini sabotase rangkap tiga di PBB. Mereka seharusnya malu pada diri mereka sendiri,” kata Trump di platform Truth Social-nya sebagaimana dilansir AFP.

    Trump bahkan memerintahkan Sekjen PBB untuk melakukan penyelidikan. Dia bahkan menyindir PBB.

    “Saya mengirimkan salinan surat ini kepada Sekretaris Jenderal, dan saya menuntut penyelidikan segera. Tidak heran Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mampu melaksanakan tugas yang seharusnya mereka lakukan,” kata Trump.

    Trump menggambarkan tiga rangkaian peristiwa itu sebagai peristiwa mengerikan. “Sebuah keajaiban yang sangat besar terjadi di PBB kemarin. Bukan satu, bukan dua, tetapi tiga peristiwa yang sangat mengerikan!” tulisnya.

    Trump mengatakan penghentian eskalator itu bisa saja menjadi “bencana yang nyata”. “Sungguh menakjubkan bahwa Melania dan saya tidak jatuh ke depan, dengan wajah terlebih dahulu,” katanya.

    Trump juga mengeluhkan soal teleprompter pidatonya “gelap gulita” selama 15 menit pertama, dan suara di auditorium PBB “mati total”. Oleh karena itu, dia meminta agar rekaman keamanan untuk eskalator disimpan, dan meminta Secret Service terlibat.

    Trump juga meminta agar rekaman keamanan eskalator disimpan. Ia menyebut Secret Service atau Dinas Rahasia dilibatkan dalam mengusut dugaan sabotase tersebut.

    “Dinas Rahasia terlibat,” tambahnya.

    Halaman 2 dari 2

    (zap/yld)

  • Israel Serang Rumah Pengungsian di Gaza, 11 Orang Tewas

    Israel Serang Rumah Pengungsian di Gaza, 11 Orang Tewas

    Jakarta

    Israel tiada henti menyerang wilayah Gaza. Terbaru, Israel mengirim serangan udara ke tempat pengungsian warga Gaza hingga membuat 11 orang meninggal dunia.

    “11 orang tewas, dan banyak yang hilang atau terluka setelah serangan udara Israel menargetkan sebuah rumah yang menampung pengungsi di utara Al-Zawaida di Jalur Gaza tengah,” kata juru bicara pertahanan sipil Gaza Mahmud Bassal dilansir AFP, Kamis (25/9/2025).

    Dari Jumlah tersebut ada anak-anak yang meninggal. Jenazah mereka dibawa ke rumah sakit terdekat.

    Diketahui, serangan di Gaza ini didukung oleh Amerika Serikat (AS). Serangan ini terjadi di tengah penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan Israel melakukan “genosida” di Jalur Gaza.

    Israel membantah temuan tersebut dan mengecam penyelidikan tersebut sebagai “distorsi dan salah”.

    “Kami kehilangan anak-anak, rumah, dan tempat tinggal kami,” kata Najia Abu Amsha, seorang warga Palestina yang keponakannya terbunuh saat menunggu bantuan, pada hari Rabu.

    “Kami menjadi pengemis dan sakit,” imbuhnya.

    Selama hampir 2 tahun, operasi militer Israel telah menewaskan setidaknya 65.419 warga Palestina, sebagian besar warga sipil. Angka itu didapat dari Kementerian Kesehatan di Gaza.

    Lihat juga Video ‘Pilu Warga Palestina Berjalan 15 Jam Demi Cari Tempat Aman’:

    (zap/yld)

  • Gempa M 6,2 Guncang Venezuela

    Gempa M 6,2 Guncang Venezuela

    Jakarta

    Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Venezuela, termasuk Ibu Kota Venezuela, Caracas. Gempa ini dikategorikan sebagai gempa dangkal.

    Dilansir AFP, Kamis (25/9/2025), USGS mengatakan episentrum gempa berada di kedalaman 7,8 kiliometer (4,8 mil) atau sekitar 24 kilometer dari Mene Grande, sebuah kota penghasil minyak di daerah yang jarang penduduknya di negara bagian Zulia. Hingga saat ini belum ada laporan dari pemerintah mengenai ada atau tidaknya kerusakan.

    Survei Geologi Kolombia mencatat gempa berkekuatan 6,1 SR dikategorikan sebagai gempa “kedalaman dangkal” yang juga dirasakan di negara tetangga Kolombia dan di kepulauan Karibia seperti Aruba, Curacao, dan Bonaire.

    Di Venezuela, di mana gempa kuat jarang terjadi, bangunan-bangunan yang berguncang menimbulkan kekhawatiran di kota-kota termasuk Caracas dan Maracaibo.

    Orang-orang berhamburan ke jalan, tetapi Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengatakan di televisi pemerintah bahwa gempa tersebut “tanpa kerusakan struktural yang signifikan.”

    Sekitar 80 persen penduduk Venezuela tinggal di zona seismik, tetapi negara itu belum pernah mengalami bencana besar sejak tahun 1997, ketika 73 orang tewas ketika gempa melanda Cariaco di negara bagian Sucre di bagian timur.

    Pada tahun 1976, hampir 300 orang tewas dan 2.000 orang terluka ketika gempa melanda Caracas.

    (zap/yld)

  • Trump Janji ke Pemimpin Islam Tak Akan Izinkan Israel Caplok Tepi Barat

    Kecam Pengakuan Palestina hingga Overtime Hampir Sejam

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump lagi-lagi menjadi sorotan. Di panggung PBB, Trump mengecam pengakuan terkait negara Palestina hingga berpidato jauh melebihi batas waktu yang telah ditentukan.

    Trump berpidato dalam Sidang Umum PBB pada Selasa (23/9/2025). Dia mendapatkan giliran kedua setelah Presiden Brazil dan sebelum Presiden Prabowo Subianto yang berpidato di urutan ketiga.

    Bukan Trump namanya jika pidatonya tidak menyulut polemik. Di markas PBB, Trump secara terang-terangan mengecam sikap sejumlah negara yang mengakui negara Palestina hingga mempertanyakan fungsi PBB.

    Kecam Negara yang Akui Palestina

    Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada Selasa (23/9) waktu setempat, Trump mengatakan negara-negara kekuatan dunia seharusnya berfokus pada pembebasan para sandera yang ditawan kelompok Hamas di Gaza.

    Prancis, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal termasuk di antara negara-negara yang telah mengakui negara Palestina dalam beberapa hari terakhir. Langkah-langkah mereka didasari rasa frustrasi terhadap Israel atas serangannya di Gaza dan bertujuan untuk mendorong solusi dua negara. Namun, hal ini telah membuat marah Israel dan sekutu dekatnya, Amerika Serikat.

    “Seolah-olah ingin mendorong konflik yang berkelanjutan, beberapa anggota badan ini berusaha untuk mengakui negara Palestina secara sepihak,” kata Trump dalam pidatonya.

    “Imbalannya akan terlalu besar bagi Hamas atas kekejaman mereka… tetapi alih-alih menyerah pada tuntutan tebusan Hamas, mereka yang menginginkan perdamaian seharusnya bersatu dengan satu pesan: Bebaskan para sandera sekarang juga,” cetus Trump, dilansir kantor berita Reuters, Rabu (24/9/2025).

    “Bebaskan para sandera sekarang juga,” ulangnya.

    Diketahui bahwa sebagian besar anggota PBB, saat ini lebih dari 150 negara, telah mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Negara-negara Barat yang sejak minggu ini mengakui negara Palestina antara lain Prancis, Belgia, Monako, Luksemburg, Malta, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal.

    Pidato Hampir 1 Jam, padahal Batas Maksimal 15 Menit

    Trump bicara panjang lebar di sidang umum PBB. Dia berpidato selama 56 menit, melewati batas yang ditentukan yakni 15 menit.

    Dilansir Reuters, Rabu (24/9), banyak hal yang dibicarakan Trump di pidato tersebut. Mulai dari pamer capaian di AS selama dia menjabat hingga mengkritik PBB karena eskalator dan telepromter yang rusak.

    Trump juga bicara mengenai Palestina. Dia menyatakan AS menolak mengakui negara Palestina. Dia juga mendesak negara-negara Eropa mengadopsi serangkaian kebijakan ekonomi yang dia usulkan terhadap Rusia agar mau mengakhiri peperangan dengan Ukraina.

    Untuk diketahui, Trump pidato di sidang umum PBB tanpa naskah. Sebab, telepromter di Markas PBB rusak ketika Trump bicara.

    Sebagian besar pidatonya didominasi oleh dua keluhan terbesarnya yakni imigrasi dan perubahan iklim. Trump dalam pidatonya menegaskan dia telah menjalankan kebijakan imigrasi di AS sebagaimana mestinya. Untuk diketahui, para aktivis HAM berbeda pandangan dengan Trump, mereka berpendapat para migran mencari kehidupan lebih baik.

    “Saya sangat ahli dalam hal ini. Negara-negara kalian akan hancur,” kata Trump.

    Trump dalam pidato juga menyebut perubahan iklim sebagai tipuan. Dia bahkan menyerukan agar kembali bergantung pada bahan bakar fosil.

    “Imigrasi dan ide energi bunuh diri mereka akan menjadi penyebab kehancuran Eropa Barat,” katanya.

    Trump juga sempat menyindir Wali Kota London Sadiq Khan. Dia mengatakan Sadiq Khan ingin memberlakukan hukum syariah di London.

    Dia juga mengatakan “inflasi telah dikalahkan” di AS. Padahal, beberapa hari sebelumnya Federal Reserve mengatakan inflasi telah naik.

    Sindir Peran PBB

    Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB yang berlangsung di markas PBB di New York, Donald Trump terang-terangan menyerang PBB. Dia mempertanyakan apa tujuan badan dunia tersebut dan menyebutnya cuma omong kosong belaka.

    “Apa tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa? PBB punya potensi yang luar biasa. Saya selalu bilang begitu. PBB punya potensi yang luar biasa, tapi sebagian besar belum bisa mencapai potensi itu,” cetus Trump, dilansir CNN International, Rabu (24/9).

    “Setidaknya untuk saat ini, mereka sepertinya hanya menulis surat yang tegas dan tidak pernah menindaklanjutinya. Itu cuma omong kosong, dan omong kosong tidak menyelesaikan perang. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan perang dan peperangan adalah tindakan,” imbuhnya.

    Dalam pidatonya pada Selasa (23/9) waktu setempat, Trump juga menyindir PBB tidak efektif menciptakan perdamaian dunia.

    Dilansir Al Jazeera, Trump membeberkan rekam jejaknya kepada para pemimpin dunia. Menurut Trump, dirinya pantas mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian.

    “Sangat disayangkan saya harus melakukan hal-hal ini, alih-alih Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melakukannya, dan sayangnya, dalam semua kasus, Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan tidak mencoba membantu dalam hal apa pun,” kata Trump.

    Trump juga menyinggung tentang lift rusak dan teleprompter tak berfungsi yang ditemuinya di markas besar PBB.

    “Ini adalah dua hal yang saya dapatkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, eskalator yang buruk dan teleprompter yang buruk,” ucap Trump.

    “Saya tidak memikirkannya saat itu karena saya terlalu sibuk bekerja menyelamatkan jutaan nyawa, yaitu menyelamatkan dan menghentikan perang-perang ini. Namun kemudian, saya menyadari bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak ada untuk kita,” tandas Trump.

    Halaman 2 dari 4

    (ygs/ygs)

  • Trump Surati Sekjen PBB, Minta Selidiki ‘Sabotase’ Eskalator hingga Teleprompter

    Trump Surati Sekjen PBB, Minta Selidiki ‘Sabotase’ Eskalator hingga Teleprompter

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta penyelidikan terkait eskalator, teleprompter dan sistem suara yang mengalami malfungsi saat ia hendak berpidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa waktu lalu. Trump menyebutnya sebagai sabotase rangkap tiga atau triple sabotage.

    Dilansir AFP, Kamis (25/4/2025), Trump meyakini bahwa terjadinya kendala pada ketiga hal tersebut bukanlah kebetulan. Dia menuding ada upaya sabotase terhadapnya.

    “Ini bukan kebetulan, ini sabotase rangkap tiga di PBB,” kata Trump di Truth Social.

    Trump mengatakan dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) António Guterres mengenai permintaannya tersebut.

    “Saya mengirimkan salinan surat ini kepada Sekretaris Jenderal, dan saya menuntut penyelidikan segera,” kata Trump.

    Sebelumnya, Gedung Putih telah menyerukan penyelidikan terkait eskalator di Markas PBB dilaporkan berhenti ketika Trump dan Melania Trump tiba.

    Dilansir CNN, Rabu (24/9) Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyuarakan keprihatinannya mengenai, apakah insiden tersebut disengaja atau tidak dalam sebuah postingan di media sosial.

    “Jika seseorang di PBB dengan sengaja menghentikan eskalator saat Presiden dan Ibu Negara melangkah, mereka harus dipecat dan segera diselidiki,” kata Leavitt di X.

    Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Presiden Trump sendiri sempat mengomentari pada kerusakan tersebut. Trump juga sempat bercanda tentang penyambutannya yang kurang mulus.

    “Inilah dua hal yang saya dapatkan dari PBB: eskalator yang buruk dan telepromter yang buruk,” kata Trump.

    (fca/fca)

  • Penembak Jitu Serang Kantor Imigrasi AS di Dallas, 3 Orang Terluka

    Penembak Jitu Serang Kantor Imigrasi AS di Dallas, 3 Orang Terluka

    Jakarta

    Aksi penembakan terjadi di fasilitas penahanan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) Amerika Serikat (AS) di kota Dallas, AS. Tiga orang dilaporkan terluka.

    “Detailnya masih terus bertambah, tetapi kami dapat mengkonfirmasi adanya beberapa korban luka dan kematian,” kata Menteri Dalam Negeri AS, Kristi Noem, dilansir AFP, Rabu (24/9/2025).

    Aparat setempat masih melakukan penyelidikan terkait motif kasus penembakan tersebut. Saat ini petugas masih berada di lokasi.

    “Meskipun kami belum mengetahui motifnya, kami tahu bahwa aparat penegak hukum ICE menghadapi kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap mereka,” tambah Noem.

    Informasi awal pelaku diduga merupakan penembak jitu. Pelaku tewas usai melakukan penembakan.

    “Informasi awal menunjukkan kemungkinan penembak jitu,” kata Pelaksana Tugas Direktur ICE, Todd Lyons.

    Lihat juga Video: Penembakan di Sekolah Menengah Dallas, 3 Siswa Terluka Kotak Masuk

    (ygs/maa)

  • Trump Surati Sekjen PBB, Minta Selidiki ‘Sabotase’ Eskalator hingga Teleprompter

    Terungkap Penyebab Eskalator Mati Saat Trump Tiba di PBB

    New York

    Eskalator di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mati mendadak sesaat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikinya. PBB pun mengungkap penyebab peristiwa yang dikeluhkan Trump itu.

    Dilansir CNN dan Reuters, Rabu (24/9/2025), Gedung Putih menyerukan penyelidikan segera terkait peristiwa eskalator berhenti mendadak itu. Eskalator itu berhenti ketika Trump dan istrinya, Melania, tiba untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

    Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyuarakan mempertanyakan apakah insiden tersebut disengaja atau tidak. Dia meminta peristiwa itu diselidiki.

    “Jika seseorang di PBB dengan sengaja menghentikan eskalator saat Presiden dan Ibu Negara melangkah, mereka harus dipecat dan segera diselidiki,” kata Leavitt di X.

    Leavitt turut membagikan tangkapan layar dari sebuah artikel dari surat kabar Inggris, The Times, yang diterbitkan dua hari sebelumnya. Hal itu menyatakan ‘Untuk menandai kedatangan Trump, para anggota staf PBB bercanda bahwa mereka mungkin akan mematikan eskalator dan lift dan mengatakan kepadanya bahwa mereka kehabisan uang, jadi dia harus berjalan menaiki tangga’.

    Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Trump juga mengomentari peristiwa yang dialaminya. Trump menyebut penyambutan terhadap dirinya di PBB buruk.

    “Inilah dua hal yang saya dapatkan dari PBB: eskalator yang buruk dan telepromter yang buruk,” kata Trump.

    Hasil Penyelidikan PBB

    Lalu, siapa yang mematikan eskalator itu ketika Trump baru menaikinya? PBB pun mengungkap hasil penyelidikan mereka.

    Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan pihaknya telah mengecek apa yang menyebabkan eskalator itu mati mendadak sesaat setelah Trump dan Melania menaiki eskalator. Sistem pusat eskalator disebut menunjukkan eskalator ‘berhenti setelah mekanisme pengaman bawaan pada anak tangga sisir di puncak eskalator terpicu’.

    Dujarric mengatakan juru kamera Trump saat itu menaiki eskalator dengan cara berjalan mundur sambil merekam kedatangan Trump bersama Melania. Dia menyebut situasi itu diduga membuat sistem pengamanan otomatis tak sengaja aktif.

    “Juru kamera mungkin secara tidak sengaja mengaktifkan fungsi pengaman. Mekanisme pengaman ini dirancang untuk mencegah orang atau benda secara tidak sengaja tersangkut dan tersangkut atau tertarik ke roda gigi,” kata Dujarric dalam sebuah pernyataan.

    Lihat juga Video Mau Nyeberang Tapi Dilarang, Macron Langsung Telepon Trump

    Halaman 2 dari 2

    (haf/haf)