Kereta Penumpang di Meksiko Tergelincir, 15 Orang Terluka
Category: Detik.com Internasional
-

Trump Bilang Ukraina-Rusia ‘Lebih Dekat’ Menuju Perdamaian
Washington DC –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (28/12) menegaskan bahwa Ukraina dan Rusia kini berada “lebih dekat dari sebelumnya” untuk mencapai kesepakatan damai, saat ia menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida.
Namun, Trump mengakui bahwa proses negosiasi sangat kompleks dan masih berpeluang gagal. Kebuntuan perundingan dikhawatirkan dapat membuat perang berlarut-larut selama bertahun-tahun.
Pernyataan itu disampaikan Trump setelah pertemuannya dengan Zelenskyy, yang berlangsung usai pembicaraan telepon selama dua setengah jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Trump menyebut percakapannya dengan Putin sebagai “sangat baik” dan mengatakan ia masih percaya bahwa pemimpin Rusia itu menginginkan perdamaian, meskipun Moskow kembali melancarkan serangan ke Kyiv saat Zelenskyy terbang ke Amerika Serikat.
“Rusia ingin melihat Ukraina berhasil,” kata Trump dalam konferensi pers pada Minggu (18/12) sore setelah pertemuannya dengan Zelenskyy. Trump berulang kali memuji presiden Ukraina itu sebagai sosok yang “berani”.
Zelenskyy, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan apresiasi kepada Trump.
“Ukraina siap untuk perdamaian,” katanya.
Donbas dan jaminan keamanan jadi batu sandungan
Keduanya menyebut masa depan wilayah Donbas di Ukraina timur sebagai titik paling sulit dalam perundingan.
“Itu isu yang sangat sulit, tetapi saya pikir akan bisa diselesaikan,” kata Trump.
Zelenskyy menegaskan bahwa posisi Ukraina berbeda secara mendasar dengan Rusia.
“Sikap kami sangat jelas. Itulah mengapa Presiden Trump mengatakan ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dan, tentu saja, kami memiliki posisi yang berbeda dengan Rusia mengenai hal itu,” ujar Zelenskyy.
Trump tetap menyatakan keyakinannya bahwa Putin “sangat serius” ingin mengakhiri perang, meskipun Rusia terus menyerang target di Ukraina.
“Saya percaya Ukraina juga telah melakukan beberapa serangan yang sangat kuat,” kata Trump.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa perundingan masih bisa runtuh.
“Dalam beberapa minggu, kita akan tahu hasilnya, satu atau lain cara. Bisa saja ada satu isu besar yang tidak terpikirkan sebelumnya dan menghancurkan semuanya. Ini adalah negosiasi yang sangat sulit dan sangat rinci,” ujarnya.
Serangan berlanjut di tengah negosiasi
Di tengah intensifnya diplomasi, pertempuran di lapangan belum mereda. Saat Zelenskyy melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk perundingan terbaru, Rusia kembali melancarkan serangan ke berbagai wilayah Ukraina.
Trump mengakui kontradiksi tersebut, tetapi tetap menegaskan keyakinannya bahwa kedua pihak serius mencari jalan keluar.
“Saya percaya Putin sangat serius untuk mengakhiri perang,” kata Trump, meski ia mengakui Rusia terus menyerang Ukraina. Ia juga menambahkan bahwa Ukraina pun “telah melakukan beberapa serangan yang sangat kuat.”
Trump menilai dinamika ini mencerminkan kompleksitas perundingan, di mana tekanan militer kerap berjalan beriringan dengan upaya diplomasi. Ia kembali mengingatkan bahwa jika negosiasi gagal, konflik ini bisa berlangsung lama.
“Ini bisa menjadi sesuatu yang berlangsung bertahun-tahun,” katanya.
Trump, Putin, dan diplomasi intensif dengan Eropa
Trump mengatakan ia akan kembali menelepon Putin setelah pertemuannya dengan Zelenskyy. Sebelumnya, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyebut panggilan Trump–Putin tersebut diinisiasi oleh pihak AS dan berlangsung “bersahabat, penuh niat baik, dan bernuansa bisnis”.
Menurut Ushakov, Trump dan Putin sepakat untuk kembali berbicara “dalam waktu dekat” setelah pertemuan Trump dengan Zelenskyy. Namun, ia menegaskan bahwa dibutuhkan “keputusan politik yang berani dan bertanggung jawab dari Kyiv” terkait Donbas dan isu-isu lain agar tercapai “penghentian total permusuhan”.
Setelah pertemuan di Florida, Trump dan Zelenskyy juga menghubungi sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen serta para pemimpin Finlandia, Prancis, Jerman, Inggris, dan Polandia.
Zelenskyy mengatakan Trump telah sepakat untuk kembali menjamu para pemimpin Eropa, kemungkinan di Gedung Putih, pada Januari mendatang. Trump menyebut pertemuan itu bisa berlangsung di Washington atau “di suatu tempat”.
Trump menekankan bahwa para perunding telah membuat kemajuan signifikan. Zelenskyy sebelumnya mengatakan bahwa rancangan proposal perdamaian 20 poin yang dibahas para negosiator “sekitar 90% siap”, sejalan dengan optimisme pejabat AS ketika tim perunding utama Trump bertemu Zelenskyy di Berlin bulan ini.
Dalam pembicaraan terbaru, AS setuju menawarkan jaminan keamanan tertentu bagi Ukraina yang mirip dengan perlindungan NATO. Proposal ini muncul ketika Zelenskyy menyatakan kesediaannya untuk melepaskan ambisi Ukraina bergabung dengan NATO, asalkan negaranya mendapatkan perlindungan setara NATO untuk mencegah serangan Rusia di masa depan.
Tuntutan Putin dan risiko kebuntuan panjang
Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa pada Hari Natal ia berbicara dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump. Ia mengatakan pembicaraan itu mencakup “detail substantif tertentu”, tetapi memperingatkan bahwa “masih ada pekerjaan yang harus dilakukan pada isu-isu sensitif” dan bahwa “minggu-minggu ke depan juga bisa sangat intensif”.
Putin secara terbuka menyatakan ingin semua wilayah di empat kawasan utama yang telah direbut pasukannya, serta Semenanjung Krimea yang dianeksasi secara ilegal pada 2014, diakui sebagai wilayah Rusia. Ia juga menuntut Ukraina menarik pasukan dari wilayah timur tertentu yang bahkan belum sepenuhnya dikuasai Rusia, tuntutan yang secara terbuka ditolak Kyiv.
Kremlin juga mendesak Ukraina untuk meninggalkan ambisinya bergabung dengan NATO, serta memperingatkan bahwa pengerahan pasukan dari negara-negara NATO akan dianggap sebagai “target yang sah”. Putin juga menuntut pembatasan ukuran militer Ukraina dan pemberian status resmi bagi bahasa Rusia.
Ushakov mengatakan kepada harian bisnis Kommersant bahwa polisi Rusia dan Garda Nasional akan tetap berada di sebagian wilayah Donetsk, salah satu dari dua wilayah utama Donbas bersama Luhansk, bahkan jika wilayah tersebut dijadikan zona demiliterisasi dalam rencana perdamaian.
Ia juga memperingatkan bahwa upaya mencapai kompromi bisa memakan waktu lama. Menurutnya, proposal AS yang semula mempertimbangkan tuntutan Rusia telah “diperburuk” oleh perubahan yang diusulkan Ukraina dan sekutu Eropanya.
Trump sendiri menunjukkan sikap yang relatif terbuka terhadap sebagian tuntutan Putin, dengan berargumen bahwa presiden Rusia dapat diyakinkan untuk mengakhiri perang jika Kyiv bersedia menyerahkan sebagian wilayah Donbas dan jika Barat menawarkan insentif ekonomi untuk menarik Rusia kembali ke sistem ekonomi global.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa hasil akhir masih belum pasti, dan dunia akan segera mengetahui apakah momentum diplomasi ini benar-benar mampu mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Editor: Rizki Nugraha
(nvc/nvc)
-

Trump Bilang Hamas Bakal Tanggung Akibatnya Jika Tolak Lucuti Senjata
Jakarta –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Hamas untuk segera melucuti senjata. Kata Trump, Hamas bakal menanggung akibatnya jika menolak itu.
“Jika mereka tidak melucuti senjata seperti yang telah mereka sepakati, maka mereka akan menanggung akibatnya,” kata Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida, dilansir kantor berita AFP, Selasa (30/12/2025).
Trump mengatakan Hamas harus segera melucuti senjata. Dia menyebut hal itu harus dilakukan dalam waktu dekat.
“Mereka harus melucuti senjata dalam waktu yang cukup singkat,” kata Trump.
Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu, yang telah mengambil sikap dalam melangkah ke tahap selanjutnya dari rencana gencatan senjata Gaza.
“Saya tidak khawatir dengan apa pun yang dilakukan Israel,” kata Trump.
Trump diketahui bertemu Netanyahu di Florida. Pertemuan membahas langkah selanjutnya dalam rencana gencatan senjata Gaza.
Keduanya juga membahas Iran. Trump mengatakan bahwa jika Teheran membangun kembali fasilitas nuklirnya, Amerika Serikat akan “menghancurkannya.”
Trump mengecilkan laporan tentang ketegangan dengan Netanyahu, dengan mengatakan bahwa “dia bisa sangat sulit” tetapi Israel “mungkin tidak akan ada” tanpa kepemimpinannya setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
“Kami membahas sekitar lima topik utama, dan Gaza akan menjadi salah satunya,” kata Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago miliknya menjelang pertemuan bilateral tersebut.
(whn/whn)
-

Juru Bicara Sayap Militer Hamas Tewas Dibunuh Israel
Jakarta –
Sayap bersenjata kelompok Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam mengumumkan juru bicaranya, Abu Obeida tewas dibunuh Israel. Abu Obeida tewas dalam serangan udara di Gaza.
Dilansir kantor berita AFP, Senin (29/12/2025), Brigade Ezzedine Al-Qassam merilis pernyataan video di saluran Telegram mereka terkait kematian Abu Obeida. Pengumuman ini setelah beberapa bulan Israel mengumumkan bahwa Abu Obeida telah tewas dalam serangan udara di Gaza.
“Kami berhenti sejenak untuk memberi penghormatan kepada… pria bertopeng yang dicintai oleh jutaan orang… komandan dan juru bicara Brigade Qassam yang gugur sebagai martir, Abu Obeida,” tulis kelompok tersebut.
Seperti diketahui, Israel sebelumnya mengumukan telah melakukan serangan udara pada 30 Agustus 2025 lalu. Israel mengklaim saat itu Abu Obeida tewas dalam serangan tersebut.
Israel telah menghancurkan kepemimpinan Hamas selama 23 bulan pertempuran yang menghancurkan di Jalur Gaza. Israel mengatakan pihaknya berupaya membasmi kelompok bersenjata tersebut dan memulangkan para sandera yang ditawan oleh militan Palestina dalam serangan mereka pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang tersebut.
Panglima militer Israel, Eyal Zamir, berjanji untuk terus menargetkan kepemimpinan Hamas, yang sebagian besar katanya kini berada di luar negeri.
(whn/eva)
-

Banjir Landa Spanyol Akibat Hujan Deras, 3 Orang Tewas
Jakarta –
Banjir melanda Spanyol akibat hujan deras. Tiga orang ditemukan tewas akibat peristiwa tersebut.
Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), tim pencarian menemukan dua jenazah pria yang disebut hilang setelah hujan deras di Spanyol selatan, kata para pejabat. Polisi Guardia Civil Spanyol mengatakan jenazah seorang pria ditemukan sekitar tiga kilometer (dua mil) dari tempat ia tersapu arus sungai yang meluap di dekat Granada pada hari Minggu.
Televisi Spanyol melaporkan bahwa pria berusia 20 tahun itu terseret arus saat mencoba menyeberangi dasar sungai dengan sepeda motor.
Jenazah pria lain, yang mobil van-nya juga tersapu arus, ditemukan di provinsi Malaga, kata walikota Alhaurin el Grande, Antonio Bermudez. Penumpang lain dari van tersebut ditemukan tewas lebih dulu pada hari Minggu.
Kedua pria dalam van yang berusia awal 50-an, disebut “teman seumur hidup,” kata Bermudez, menggambarkan tragedi itu sebagai “Natal yang menyedihkan dan kelam bagi komunitas.”
Spanyol menjadi salah satu negara yang paling terdampak perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir. Negara ini kerap mengalami gelombang panas yang semakin panjang serta hujan lebat yang terjadi lebih sering.
Kondisi tersebut berpuncak pada banjir besar Oktober 2024 yang menewaskan lebih dari 230 orang, dengan sebagian besar korban berada di wilayah timur Valencia.
(eva/azh)
-

Staycation Pakai Duit Salah Transfer Berujung Bui bagi Pria Singapura
Jakarta –
Pria di Singapura divonis 12 minggu penjara usai menikmati uang salah transfer untuk staycation. Pelaku dibui usai menolak mengembalikan SGD 9.000 atau sekitar Rp 118 juta yang salah kirim ke rekeningnya.
Dilansir Channel News Asia, Senin (29/12/2025), pria itu bernama Mohamed Basheer Hanif Mohamed (27). Dia menerima uang yang salah transfer oleh Universitas Teknologi Nanyang (NTU).
Basheer menghabiskan uang tersebut untuk menginap di hotel dan pengeluaran sehari-hari. Basheer mengaku bersalah atas satu dakwaan penggelapan dana secara tidak jujur.
Berdasarkan dokumen pengadilan, seorang petugas keuangan NTU mengatakan universitas tersebut secara keliru mentransfer SGD 9.087,04 kepada Basheer pada 10 November 2023. Pada hari yang sama, Basheer menyadari jumlah tersebut di rekening bank POSB-nya yang sebelumnya kosong.
Kemudian Basheer menarik uang tersebut untuk keperluan pribadinya. Petugas keuangan dan POSB telah beberapa kali mencoba menghubungi Basheer tetapi tidak berhasil.
Pada 21 November 2023, petugas keuangan mengirim email kepada Basheer tentang transfer yang salah tersebut. Basheer menjawab bahwa dia tidak mengetahui adanya uang tersebut karena dia telah berhenti menggunakan rekening bank tersebut.
Dia juga menolak memberikan nomor telepon seluler dan alamat terbarunya atas permintaan NTU dan menyuruh petugas keuangan untuk berhenti menghubunginya. Dia tidak mengembalikan uang tersebut.
Muncul melalui tautan video tanpa perwakilan hukum, Basheer mengatakan bahwa dia telah ditahan sejak Oktober karena tidak mampu membayar uang jaminan. Dia mengaku selama ini tinggal di sebuah flat sewaan bersama istrinya, dan mereka sedang mengalami kesulitan keuangan.
Basheer mengatakan kepada hakim bahwa dia menyesal dan tidak akan mengulangi pelanggaran setelah dibebaskan. Hakim kemudian bertanya apakah ada perwakilan NTU yang hadir dan seorang wanita terlihat maju. Kemudian, terungkap bahwa wanita tersebut adalah istri Basheer, dan bukan perwakilan universitas.
Penggelapan dana secara tidak jujur dapat membuat seseorang dipenjara hingga 2 tahun, didenda, atau keduanya.
Halaman 2 dari 2
(lir/lir)
-

Gencatan Cuma Bertahan 2 Hari, Thailand Tuding Kamboja Langgar Kesepakatan
Bangkok –
Militer Thailand menuduh Kamboja melanggar perjanjian gencatan senjata yang baru ditandatangani 2 hari lalu. Thailand menuding Kamboja menerbangkan 250 drone di atas wilayahnya.
Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), Thailand dan Kamboja menyepakati gencatan senjata ‘segera’ pada Sabtu (27/12). Kedua negara itu berjanji untuk mengakhiri bentrokan perbatasan yang kembali terjadi dan telah menewaskan puluhan orang serta menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi bulan ini.
Namun, tuduhan baru dari Bangkok dan ancamannya untuk mempertimbangkan kembali pembebasan tentara Kamboja yang ditahan membuat gencatan senjata berkelanjutan diragukan. Militer Thailand mengatakan lebih dari 250 kendaraan udara tak berawak (UAV) terdeteksi terbang dari sisi Kamboja, memasuki wilayah kedaulatan Thailand pada Minggu (28/12) malam.
“Tindakan tersebut merupakan provokasi dan pelanggaran terhadap langkah-langkah yang bertujuan mengurangi ketegangan, yang tidak sesuai dengan Pernyataan Bersama yang disepakati selama pertemuan komite perbatasan bilateral pada hari Sabtu,” ujar pihak Thailand.
Pertempuran yang kembali berkobar bulan ini menyebar ke hampir setiap provinsi perbatasan di kedua sisi. Pertempuran itu merusak gencatan senjata sebelumnya yang diklaim oleh Presiden AS Donald Trump sebagai salah satu pencapaiannya.
Berdasarkan pakta gencatan senjata yang ditandatangani pada Sabtu (27/12), kedua negara sepakat menghentikan tembakan, membekukan pergerakan pasukan, dan bekerja sama dalam upaya pembersihan ranjau serta memerangi kejahatan siber. Mereka juga sepakat untuk mengizinkan warga sipil yang tinggal di daerah perbatasan untuk kembali ke rumah sesegera mungkin.
Sementara, Thailand akan mengembalikan 18 tentara Kamboja yang ditangkap pada bulan Juli dalam waktu 72 jam jika gencatan senjata tersebut tetap berlaku. Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn menggambarkan insiden drone tersebut sebagai ‘masalah kecil terkait dengan drone terbang yang terlihat oleh kedua belah pihak di sepanjang garis perbatasan’.
Dalam pernyataan yang disiarkan di televisi pemerintah Kamboja, dia mengatakan kedua belah pihak telah membahasnya dan sepakat untuk menyelidiki dan menyelesaikannya segera. Namun, juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, mengatakan aktivitas drone tersebut mencerminkan tindakan provokatif dan sikap bermusuhan Kamboja.
“Militer Thailand mungkin perlu mempertimbangkan kembali keputusannya mengenai pembebasan 18 tentara Kamboja, tergantung pada situasi dan perilaku yang diamati”, ujar Winthai.
Konflik tersebut berakar dari sengketa teritorial atas demarkasi era kolonial di perbatasan Thailand-Kamboja sepanjang 800 kilometer (500 mil). Kedua negara mengklaim reruntuhan kuil berusia berabad-abad.
Halaman 2 dari 2
(haf/dhn)
-

Ahmed Cerita Momen Ngopi Berubah Mencekam hingga Rebut Senjata Penembak Bondi
Sydney –
Pahlawan penembakan Pantai Bondi, Ahmed al Ahmed, mengenang momen ngopi santainya berubah mencekam gara-gara penembakan di Pantai Bondi, Australia. Ahmed pun dengan nekat merebut senjata pelaku penembakan massal itu.
Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), Ahmed sedang berada di pantai untuk minum kopi saat penembakan terjadi pada 14 Desember lalu. Ahmed, yang merupakan penjual buah, kemudian bersembunyi di balik mobil yang sedang parkir.
Dia lalu berjalan perlahan dan merebut senjata dari salah satu pelaku. Ahmed mengatakan dirinya hanya berpikir bagaimana cara menghentikan penembakan tersebut.
“Target saya hanyalah untuk merebut pistol darinya, dan untuk menghentikannya dari membunuh nyawa manusia dan bukan membunuh orang-orang yang tidak bersalah,” katanya kepada CBS News dalam sebuah wawancara yang ditayangkan hari ini.
“Saya tahu saya telah menyelamatkan banyak orang, tetapi saya merasa sedih atas kehilangan yang terjadi,” sambung Ahmed.
Ahmed terkena beberapa tembakan di bahunya saat berupaya merebut senjata dari salah satu penembak. Dia harus menjalani beberapa kali operasi untuk memulihkan kondisinya.
Ahmed bercerita momen dirinya melompat ke punggung penembak itu lalu memegangnya dengan tangan kanannya dan berkata ‘Jatuhkan senjatamu, hentikan apa yang kau lakukan’. Dia mengaku tak sanggup melihat orang-orang terbunuh di depannya.
“Saya tidak ingin melihat orang terbunuh di depan saya, saya tidak ingin melihat darah, saya tidak ingin mendengar suara senjatanya, saya tidak ingin melihat orang berteriak dan memohon, meminta bantuan,” kata Ahmed kepada stasiun televisi tersebut.
Ahmed sendiri merupakan ayah dari dua anak. Dia pindah ke Australia dari Suriah pada tahun 2007. Paman Ahmed, Mohammed, mengaku bangga dengan tindakan ponakannya itu.
“Tindakannya adalah sumber kebanggaan bagi kami dan bagi Suriah,” kata Mohammed yang merupakan petani di kampung halaman Ahmed.
Pemerintah Australia telah mempercepat proses dan memberikan sejumlah visa untuk keluarga Ahmed. PM Australia Anthony Albanese menyebut Ahmed sebagai pahlawan.
“Ahmed telah menunjukkan keberanian dan nilai-nilai yang kita inginkan di Australia,” kata Menteri Dalam Negeri Tony Burke dalam sebuah pernyataan.
Penembakan itu dilakukan oleh ayah dan anak, Sajid dan Naveed Akram. Mereka menargetkan acara Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney.
Penembakan itu menyebabkan 15 orang tewas dan melukai puluhan lainnya. Pihak berwenang menyebut peristiwa itu sebagai serangan teroris anti-Semit.
Sajid (50) tewas ditembak oleh polisi yang berupaya menghentikan serangan tersebut. Warga negara India ini memasuki Australia dengan visa pada tahun 1998.
Putranya yang berusia 24 tahun, Naveed, warga negara Australia kelahiran Australia, masih ditahan atas tuduhan termasuk terorisme dan 15 pembunuhan. Naveed juga didakwa melakukan ‘tindakan teroris’ dan menanam bom dengan maksud untuk melukai. Dia belum memberikan pernyataan pembelaan.
Tonton juga video “Perebut Senjata Penembak di Bondi Dapat Rp 41 M: Apa Saya Pantas?”
Halaman 2 dari 3
(haf/imk)
-

Ahmed Cerita Momen Ngopi Berubah Mencekam hingga Rebut Senjata Penembak Bondi
Sydney –
Pahlawan penembakan Pantai Bondi, Ahmed al Ahmed, mengenang momen ngopi santainya berubah mencekam gara-gara penembakan di Pantai Bondi, Australia. Ahmed pun dengan nekat merebut senjata pelaku penembakan massal itu.
Dilansir AFP, Senin (29/12/2025), Ahmed sedang berada di pantai untuk minum kopi saat penembakan terjadi pada 14 Desember lalu. Ahmed, yang merupakan penjual buah, kemudian bersembunyi di balik mobil yang sedang parkir.
Dia lalu berjalan perlahan dan merebut senjata dari salah satu pelaku. Ahmed mengatakan dirinya hanya berpikir bagaimana cara menghentikan penembakan tersebut.
“Target saya hanyalah untuk merebut pistol darinya, dan untuk menghentikannya dari membunuh nyawa manusia dan bukan membunuh orang-orang yang tidak bersalah,” katanya kepada CBS News dalam sebuah wawancara yang ditayangkan hari ini.
“Saya tahu saya telah menyelamatkan banyak orang, tetapi saya merasa sedih atas kehilangan yang terjadi,” sambung Ahmed.
Ahmed terkena beberapa tembakan di bahunya saat berupaya merebut senjata dari salah satu penembak. Dia harus menjalani beberapa kali operasi untuk memulihkan kondisinya.
Ahmed bercerita momen dirinya melompat ke punggung penembak itu lalu memegangnya dengan tangan kanannya dan berkata ‘Jatuhkan senjatamu, hentikan apa yang kau lakukan’. Dia mengaku tak sanggup melihat orang-orang terbunuh di depannya.
“Saya tidak ingin melihat orang terbunuh di depan saya, saya tidak ingin melihat darah, saya tidak ingin mendengar suara senjatanya, saya tidak ingin melihat orang berteriak dan memohon, meminta bantuan,” kata Ahmed kepada stasiun televisi tersebut.
Ahmed sendiri merupakan ayah dari dua anak. Dia pindah ke Australia dari Suriah pada tahun 2007. Paman Ahmed, Mohammed, mengaku bangga dengan tindakan ponakannya itu.
“Tindakannya adalah sumber kebanggaan bagi kami dan bagi Suriah,” kata Mohammed yang merupakan petani di kampung halaman Ahmed.
Pemerintah Australia telah mempercepat proses dan memberikan sejumlah visa untuk keluarga Ahmed. PM Australia Anthony Albanese menyebut Ahmed sebagai pahlawan.
“Ahmed telah menunjukkan keberanian dan nilai-nilai yang kita inginkan di Australia,” kata Menteri Dalam Negeri Tony Burke dalam sebuah pernyataan.
Penembakan itu dilakukan oleh ayah dan anak, Sajid dan Naveed Akram. Mereka menargetkan acara Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney.
Penembakan itu menyebabkan 15 orang tewas dan melukai puluhan lainnya. Pihak berwenang menyebut peristiwa itu sebagai serangan teroris anti-Semit.
Sajid (50) tewas ditembak oleh polisi yang berupaya menghentikan serangan tersebut. Warga negara India ini memasuki Australia dengan visa pada tahun 1998.
Putranya yang berusia 24 tahun, Naveed, warga negara Australia kelahiran Australia, masih ditahan atas tuduhan termasuk terorisme dan 15 pembunuhan. Naveed juga didakwa melakukan ‘tindakan teroris’ dan menanam bom dengan maksud untuk melukai. Dia belum memberikan pernyataan pembelaan.
Tonton juga video “Perebut Senjata Penembak di Bondi Dapat Rp 41 M: Apa Saya Pantas?”
Halaman 2 dari 3
(haf/imk)
-

Eks PM Malaysia Najib Razak Juga Dihukum Denda Rp 47 Triliun
Kuala Lumpur –
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, dijatuhi hukuman total 165 tahun penjara, meski hanya harus menjalani 15 tahun bui, atas kasus korupsi 1MDB. Najib juga dihukum denda MYR 11,4 miliar atau sekitar Rp 47,4 triliun.
Dilansir The Star dan Bernama, Senin (29/12/2025), Pengadilan Tinggi menjatuhkan hukuman total 165 tahun penjara atas 25 dakwaan dalam kasus 1Malaysia Development Bhd (1MDB). Dia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara untuk masing-masing dari empat dakwaan penyalahgunaan kekuasaan setelah dinyatakan bersalah.
Dia juga didenda total MYR 11,4 miliar. Najib juga dipenjara 5 tahun untuk masing-masing dari 21 dakwaan pencucian uang.
Hakim menyatakan semua hukuman penjara dijalankan secara bersamaan. Berarti, Najib harus menjalani hukuman selama 15 tahun.
Hakim Collin Lawrence Sequerah juga memerintahkan Najib untuk membayar sejumlah uang yang dapat dipulihkan sebesar MYR 2,08 miliar atau sekitar Rp 8,6 triliun berdasarkan Pasal 55(2) Undang-Undang Anti Pencucian Uang, Anti Pendanaan Terorisme dan Hasil Kegiatan Haram 2001. Jika tidak, Najib akan menghadapi hukuman penjara tambahan selama 270 bulan.
Hakim Sequerah mengatakan bahwa dia telah mempertimbangkan semua faktor yang meringankan dari pihak pembela dan faktor yang memberatkan dari pihak penuntut.
“Saya telah mempertimbangkan kasus-kasus yang dikutip dan prinsip-prinsip hukum. Saya juga telah mempertimbangkan unsur kepentingan publik dan prinsip pencegahan, lamanya masa jabatannya di pemerintahan dan faktor-faktor yang meringankan lainnya,” katanya.
Putusan itu mulai dibacakan pada pukul 09.30 pagi waktu setempat. Persidangan baru tuntas pukul 21.00 malam waktu setempat atau sekitar 12 jam.
Hakim juga memerintahkan agar hukuman penjara baru berlaku setelah Najib menyelesaikan masa hukuman 6 tahunnya dalam kasus SRC International Sdn Bhd. Najib telah menjalani hukuman penjara di Penjara Kajang sejak 23 Agustus 2022 setelah dinyatakan bersalah karena menggelapkan dana SRC International sebesar MYR 42 juta.
Menurut Dewan Pengampunan, Najib diperkirakan akan dibebaskan pada 23 Agustus 2028. Tim pembela Najib meminta agar uang jaminan sebesar MYR 3,5 juta dikembalikan. Pihak penuntut tidak keberatan.
“Dalam keadaan ini, pengadilan memerintahkan pengembalian uang jaminan,” kata Hakim Sequerah.
Pengacara utama Najib, Muhammad Shafee Abdullah, mengatakan pihak pembela tidak mengajukan permohonan penangguhan eksekusi saat ini. Najib, dalam sebuah pernyataan setelah vonis dijatuhkan, meminta masyarakat Malaysia tetap tenang dan tidak terlibat dalam provokasi apa pun.
“Saya akan terus memperjuangkan hak-hak saya melalui jalur hukum. Apa pun keputusan hari ini, saya tetap yakin pada proses peradilan negara ini,” ujarnya.
Apa itu kasus 1MDB?
Dilansir BBC, Najib Razak mendirikan 1MDB pada tahun 2009 sebagai cara untuk mengelola kekayaan Malaysia yang sarat akan sumber daya dengan menggunakan investasi strategis. Alarm bahaya kemudian muncul pada tahun 2015 saat perusahaan tersebut gagal membayar utang sebesar USD 11 miliar kepada sejumlah bank dan pemilik obligasi.
Pada Juli 2016, Departemen Kehakiman AS mengajukan gugatan perdana yang menuduh bahwa lebih dari USD 3,5 miliar telah dijarah. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi lebih dari USD 4,5 miliar.
MO1, yang kemudian dikonfirmasi sebagai Najib Razak oleh pemerintahnya sendiri, diduga jaksa penuntut AS telah menerima uang sekitar USD 681 juta dari uang yang dicuri, namun telah mengembalikan sebagian besar di antaranya. Najib dibebaskan dari segala tuntutan oleh aparat kepolisian Malaysia ketika dia masih menjabat.
Namun, situasi langsung berubah setelah partainya kalah secara mengejutkan dalam pemilihan umum 2018. Sejumlah apartemen miliknya digerebek polisi di mana mereka mengamankan koleksi barang mewah dan uang tunai senilai USD 28,6 juta. Setidaknya ada 42 tuntutan yang dialamatkan kepada Najib atas dugaan korupsi, pencucian uang, dan penyalahgunaan kekuasaan. Najib mengaku tidak bersalah atas segala tuntutan tersebut dan mempertahankan pengakuannya itu.
Tonton juga video “Eks PM Malaysia Najib Razak Dijatuhi Hukuman Total 165 Tahun Penjara”
Halaman 2 dari 3
(haf/dhn)