Category: Detik.com Internasional

  • Terulang Lagi Israel Lepas Tembakan saat Gencatan Gaza

    Terulang Lagi Israel Lepas Tembakan saat Gencatan Gaza

    Jakarta

    Gencatan senjata di Gaza telah berlangsung selama lima hari. Namun, militer Israel masih melepaskan tembakan hingga menewaskan sejumlah orang di Gaza.

    Militer Israel mengatakan pasukannya melepas tembakan, pada Selasa (14/10) waktu setempat saat gencatan senjata berlangsung, terhadap sejumlah orang di Jalur Gaza bagian utara, yang diklaim bergerak mendekati pasukannya. Militer Israel menyebut orang-orang itu sebagai “tersangka” yang memberikan ancaman.

    Otoritas kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya enam warga Palestina tewas akibat tembakan pasukan Israel tersebut.

    Dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Rabu (15/10/2025), militer Israel mengatakan bahwa orang-orang itu telah melanggar batas wilayah untuk penarikan awal pasukan Israel, berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza yang disetujui pekan lalu.

    Menurut militer Israel, aksi yang dilakukan sejumlah orang itu merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.

    Dalih Militer Israel

    Militer Israel berdalih bahwa tembakan dilepaskan untuk meredakan ancaman yang ditimbulkan oleh orang-orang tersebut yang mendekati pasukan mereka di wilayah Jalur Gaza bagian utara.

    Otoritas kesehatan lokal Gaza melaporkan bahwa militer Israel telah menewaskan sedikitnya enam warga Palestina dalam dua insiden terpisah di wilayah Jalur Gaza pada Selasa (14/10) waktu setempat.

    Lebih lanjut disebutkan otoritas kesehatan Gaza bahwa pasukan Israel, dengan menggunakan sejumlah drone, menewaskan sedikitnya lima orang saat mereka memeriksa rumah-rumah di pinggiran timur Kota Gaza, kota terbesar di Jalur Gaza.

    Serangan udara Israel lainnya, sebut otoritas kesehatan Gaza, menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai satu orang lainnya di dekat area Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan.

    Kelompok Hamas menuduh Israel telah melanggar gencatan senjata yang berlangsung sejak Jumat (10/10) lalu.

    Militer Israel, dalam pernyataannya, mengklaim pasukannya menembaki orang-orang yang melintasi garis gencatan senjata dan mendekati pasukannya setelah mengabaikan seruan untuk mundur.

    Ancang-ancang Gencatan Senjata Tahap Kedua

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta Hamas untuk membebaskan jenazah para sandera yang masih ditawan di Gaza. Trump mengatakan sudah waktunya untuk beralih ke fase berikutnya untuk perdamaian di Gaza, Palestina.

    “Semua dua puluh sandera telah kembali dan rasanya sebaik yang diharapkan. Beban berat telah terangkat, tetapi pekerjaan BELUM SELESAI,” kata Trump di jejaring sosial Truth Social miliknya, seperti dilansir AFP, Rabu (15/10/2025).

    “Yang tewas belum dikembalikan, seperti yang dijanjikan. Fase Kedua dimulai SEKARANG JUGA!!!”

    Unggahan Trump muncul hanya beberapa jam setelah ia kembali dari perjalanan singkat ke Israel dan Mesir.

    Sementara itu, seorang pejabat senior Hamas mengatakan kepada AFP bahwa kelompok itu akan menyerahkan empat hingga enam jenazah sandera pada Selasa malam, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata Gaza yang disepakati dengan Israel.

    “Kami memberi tahu para mediator bahwa kami akan menyerahkan empat hingga enam jenazah tawanan Israel malam ini,” kata pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang membahas masalah tersebut.

    Sumber lain yang dekat dengan tim negosiasi Hamas mengonfirmasi perkembangan tersebut.

    Pemimpin AS tersebut telah mengumumkan “fajar bersejarah Timur Tengah yang baru” selama kunjungannya. Trump dan para pemimpin regional menandatangani deklarasi yang dimaksudkan untuk memperkuat gencatan senjata di Gaza.

    Berdasarkan kesepakatan tersebut, 20 sandera hidup yang tersisa yang ditawan selama serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel dibebaskan tak lama sebelum Trump tiba di Israel.

    Hamas telah mengembalikan empat jenazah pada hari Senin. Kelompok bersenjata Palestina tersebut masih menahan jenazah 24 sandera, yang diperkirakan akan dikembalikan berdasarkan ketentuan perjanjian gencatan senjata.

    Sebuah rumah sakit di Gaza mengatakan telah menerima jenazah 45 warga Palestina yang telah diserahkan kembali oleh Israel, juga sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.

    Tonton juga video “Israel Bebaskan 1.800 Tahanan Palestina Usai Kesepakatan Gencatan Senjata” di sini:

    Halaman 2 dari 3

    (ygs/ygs)

  • Presiden Suriah ke Rusia, Minta Putin Serahkan Assad

    Presiden Suriah ke Rusia, Minta Putin Serahkan Assad

    Damaskus

    Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, melakukan kunjungan pertamanya ke Rusia pada Rabu (15/10) waktu setempat. Dalam kunjungan ini, Sharaa akan meminta Presiden Vladimir Putin untuk menyerahkan mantan penguasa Suriah, Bashar al-Assad, yang kabur ke Rusia usai digulingkan dari kekuasaan.

    “Sharaa akan meminta Presiden Rusia untuk menyerahkan semua individu yang melakukan kejahatan perang dan berada di Rusia, terutama Bashar al-Assad,” ungkap seorang pejabat pemerintah Suriah, yang meminta identitasnya dirahasiakan, seperti dilansir AFP, Rabu (15/10/2025).

    Assad yang digulingkan pada Desember tahun lalu setelah berkuasa lama di Suriah, diketahui mencari perlindungan di Moskow, ibu kota Rusia.

    Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa Sharaa tiba di Rusia pada Rabu (15/10) untuk “kunjungan resmi guna melakukan pembicaraan dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, mengenai hubungan bilateral antara kedua negara dan perkembangan regional dan internasional yang menjadi kepentingan bersama”.

    Dituturkan pejabat pemerintah Suriah itu kepada AFP pada Selasa (14/10) bahwa Sharaa dan Putin juga akan membahas “isu-isu ekonomi terkait investasi, status pangkalan Rusia di Suriah, dan isu mempersenjatai kembali militer Suriah yang baru”.

    Rusia merupakan sekutu utama Assad selama 14 tahun perang sipil berkecamuk di Suriah.

    Setelah memberikan dukungan diplomatik di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Moskow melakukan intervensi militer untuk mendukung Assad pada tahun 2015 dengan pengeboman udara besar-besaran di wilayah-wilayah yang dikuasai pemberontak.

    Meskipun demikian, para penguasa Islamis baru di Suriah mengupayakan hubungan damai dengan Rusia.

    Ketidakpastian telah membayangi nasib pangkalan angkatan laut Rusia yang ada di Tartus, kota pelabuhan terbesar kedua di Suriah, dan pangkalan udaranya di Hmeimim sejak Assad digulingkan.

    Tonton juga video ” Presiden Suriah Setelah Diserang Israel: Kami Tak Takut Perang!” Di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Bantuan Masuk ke Gaza Setelah Pengembalian Jenazah Sandera

    Bantuan Masuk ke Gaza Setelah Pengembalian Jenazah Sandera

    Jakarta

    Israel akan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza melalui perbatasan Rafah pada Rabu (15/10). Sebelumnya Israel mengancam akan menutup akses bantuan masuk, jika Hamas tidak mempercepat pengembalian jenazah sandera, demikian laporan lembaga penyiaran publik Israel, Kan, pada Rabu pagi.

    Keputusan ini diambil setelah Hamas menyerahkan empat jenazah sandera tambahan pada Selasa (14/10) malam, sehingga total delapan dari 28 jenazah yang masih berada di Gaza sekarang telah dikembalikan. Pasukan Pertahanan Israel ( IDF ) mengonfirmasi bahwa empat jenazah sandera yang diserahkan Hamas pada Selasa telah tiba di Israel.

    Kan melaporkan bahwa “sebanyak 600 truk bantuan kemanusiaan akan dikirim pada hari Rabu ke Jalur Gaza oleh PBB, lembaga internasional yang disetujui, sektor swasta, dan donor negara-negara.” Namun, lembaga penerbit itu tidak menyebutkan sumber informasinya .

    Senada dengan informasi tersebut, COGAT , lembaga militer Israel yang mengawasi penyaluran bantuan ke Gaza, mengatakan bahwa mereka mengira 600 truk bantuan akan masuk setiap hari selama masa gencatan senjata

    Organisasi kesejahteraan telah memperingatkan bahwa warga Gaza saat ini berada dalam kondisi kelaparan atau hampir kelaparan akibat perang di wilayah ini. dan bantuan yang masuk sangat minim dalam beberapa bulan terakhir.

    Israel membatalkan sanksi terhadap Gaza setelah lebih banyak jenazah dikembalikan

    Pemerintah Israel telah membatalkan sejumlah langkah yang sebelumnya diumumkan untuk menekan Hamas , agar mempercepat pengembalian jenazah sandera. Sebelumnya, Hamas telah menyerahkan delapan peti jenazah sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata. Dalam kesepakatan tersebut, Hamas setuju untuk mengembalikan total 28 jenazah sandera.

    Palang Merah pada Selasa (14/10) mengatakan bahwa proses pengembalian jenazah bisa memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Hamas menyebut bahwa mereka membutuhkan waktu untuk menemukan jenazah karena kerusakan parah yang menimpa Jalur Gaza.

    “Empat peti jenazah sandera…telah melintasi perbatasan dan tiba di wilayah Israel beberapa waktu lalu,” kata militer Israel dalam pernyataannya.

    Jenazah-jenazah tersebut kini sedang menjalani proses identifikasi forensik.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Prita Kusumaputri

    Editor: Yuniman Farid

    Tonton juga video “Israel Bebaskan 1.800 Tahanan Palestina Usai Kesepakatan Gencatan Senjata” di sini:

    (ita/ita)

  • Disambut Hangat, Iran Resmikan Stasiun Kereta ‘Saint Mary’

    Disambut Hangat, Iran Resmikan Stasiun Kereta ‘Saint Mary’

    Teheran

    Otoritas Iran secara resmi membuka stasiun kereta bawah tanah terbaru yang diberi nama “Saint Mary” atau Santa Maria di ibu kota Iran, Teheran. Peresmian stasiun terbaru dengan menggunakan nama Santa Maria di negara mayoritas Syiah ini mendapat sambutan hangat.

    Stasiun kereta bawah tanah terbaru itu, seperti dilansir media pemerintah Iran, Press TV, Rabu (15/10/2025), menampilkan mural-mural Kristen di dekat Katedral Armenia St Sarkis, yang melayani populasi Kristen Armenia yang jumlahnya signifikan di Iran, yakni sekitar 100.000 jiwa.

    Laporan Press TV menyebut para pengguna media sosial memberikan reaksi positif, dengan beberapa menyebutnya sebagai bentuk perlawanan positif terhadap penggambaran negatif Iran di media arus utama Barat.

    Media Yunani, Greek City Times, menyebut stasiun menggunakan nama “Saint Mary” atau “Maryam-e Moghaddas” itu sebagai “pengakuan publik yang langka terhadap warisan Kristen Iran”. Dalam gambar interior stasiun metro itu, yang diungkapkan pemerintah kota Teheran, tampak relief dasar gereja Armenia yang mencolok.

    Stasiun baru itu terletak di jalur 6 di persimpangan Jalan Ostad Nejatollahi dan Jalan Karim Khan Zand, yang juga terletak di dekat Katedral St Sarkis — gereja Apostolik Armenia yang penting di Teheran.

    Jurnalis peraih penghargaan, Hala Jaber, yang keturunan Lebanon-Inggris, menyebut dalam postingan media sosial X bahwa langkah tersebut melambangkan koeksistensi damai antara minoritas keagamaan di Iran.

    Jaber mengatakan bahwa peresmian stasiun tersebut mencerminkan perlindungan konstitusional dan representasi umat Kristen, Yahudi, dan Zoroaster di Iran.

    Kehadiran mural-mural Kristen di stasiun metro tersebut, menurut Jaber, menjadi pesan toleransi dan koeksistensi yang kuat, juga menunjukkan komitmen Teheran untuk hidup damai bahkan di ruang bawah tanah.

    Beberapa komentar yang disampaikan aktivis asing lainnya secara online, menurut Press TV, juga memuji langkah Iran tersebut.

    Komentar-komentar online itu menekankan bahwa penamaan stasiun metro dengan nama “Saint Mary” bertentangan dengan penggambaran masyarakat dan pemerintahan Iran yang dilandasi rasa takut, yang sering digambarkan oleh media-media Barat.

    Tonton juga video “Kritikan Atas Keputusan Iran Hapus Empat Nol dari Mata Uangnya” di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Israel Bilang Hamas Serahkan Jasad yang Bukan Sandera

    Israel Bilang Hamas Serahkan Jasad yang Bukan Sandera

    Jakarta

    Militer Israel mengatakan bahwa salah satu jenazah yang diserahkan Hamas sebagai bagian dari pertukaran tahanan Palestina, ternyata bukanlah sandera.

    Setelah tes forensik semalaman terhadap empat jenazah yang dikembalikan pada hari Selasa (14/10) waktu setempat, militer Israel mengatakan bahwa petugas medis menyimpulkan bahwa salah satu jenazah “tidak cocok dengan salah satu sandera”.

    “Hamas diharuskan melakukan semua upaya yang diperlukan untuk memulangkan para sandera yang telah meninggal,” kata militer Israel mengingatkan, dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/10/2025).

    Sejak Senin (13/10) lalu, berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kelompok Hamas telah menyerahkan kembali 20 sandera Israel yang masih hidup dan delapan jenazah. Kedelapan jenazah itu terdiri dari satu warga Nepal, enam warga Israel, dan satu jenazah yang kini tidak teridentifikasi.

    Secara terpisah, sebuah rumah sakit di Gaza mengatakan telah menerima jenazah 45 warga Palestina yang diserahkan kembali oleh Israel.

    Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang berlaku sejak Jumat (10/10), Hamas harus menyerahkan total 48 sandera yang diyakini masih berada di Jalur Gaza. Jumlah itu terdiri atas 20 sandera yang masih hidup dan 28 sandera yang sudah tewas.

    Tonton juga video “Israel Bebaskan 1.800 Tahanan Palestina Usai Kesepakatan Gencatan Senjata” di sini:

    (ita/ita)

  • Terulang Lagi Israel Lepas Tembakan saat Gencatan Gaza

    Bahaya Bom yang Belum Meledak Intai Warga Gaza

    Gaza City

    Bom-bom yang belum meledak di Jalur Gaza dinilai menimbulkan risiko “sangat besar” bagi para pengungsi Palestina, yang kembali ke rumah-rumah mereka selama gencatan senjata berlangsung.

    Organisasi non-pemerintah, Handicap International, seperti dilansir AFP, Rabu (15/10/2025), menyerukan masuknya peralatan yang dibutuhkan untuk operasi penjinakan bom dan ranjau, setelah gencatan senjata Gaza berlaku sejak 10 Oktober lalu.

    “Risikonya sangat besar — diperkirakan 70.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza (sejak awal perang pada Oktober 2023),” kata direktur Handicap International, Anne-Claire Yaeesh, dalam pernyataannya.

    Handicap International merupakan organisasi non-pemerintah atau NGO yang memiliki spesialisasi dalam pembersihan ranjau dan bantuan bagi korban ranjau antipersonel.

    Senjata yang belum meledak, mulai dari bom atau granat yang belum meledak hingga peluru biasa, telah menjadi pemandangan umum di Jalur Gaza selama dua tahun perang berkecamuk.

    “Lapisan-lapisan puing dan tingkat akumulasinya sangat tinggi,” sebut Yaeesh.

    Dia memperingatkan bahwa risiko tersebut diperburuk oleh kondisi lingkungan yang “sangat kompleks”, karena terbatasnya ruang di area perkotaan yang padat penduduk.

    Pada Januari lalu, Badan Aksi Ranjau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UNMAS memperkirakan bahwa sekitar “5 persen hingga 10 persen” amunisi yang ditembakkan ke Gaza tidak meledak.

    Sejak itu, pertempuran terus berlanjut, dengan militer Israel secara khusus melancarkan operasi skala besar pada pertengahan September di Kota Gaza, kota terbesar di Jalur Gaza. Gencatan senjata terbaru, yang ketiga sejak dimulainya perang tahun 2023, telah mulai berlaku pada Jumat (10/10) di Jalur Gaza.

    UNMAS, saat dihubungi AFP, mengatakan bahwa adanya pembatasan selama dua tahun terakhir membuat timnya “tidak dapat melakukan operasi survei sekala besar di Gaza”. Oleh karena itu, UNMAS mengakui pihaknya tidak memiliki “gambaran komprehensif tentang ancaman (alat peledak) di Jalur Gaza”.

    Namun, UNMAS tetap menekankan bahwa sejak gencatan senjata dimulai, permintaan untuk keahlian teknis “telah melonjak”, dan badan tersebut telah diminta untuk “berbagai misi kemanusiaan termasuk ke area-area yang sebelumnya tidak dapat diakses”.

    Dalam beberapa hari mendatang, ujar UNMAS, “sebagian besar upaya akan difokuskan untuk memastikan keamanan operasi pengelolaan puing” dan pembersihan puing-puing, terutama di sepanjang jalan yang digunakan oleh ribuan pengungsi kembali ke rumah.

    UNMAS menambahkan bahwa pihaknya belum mendapatkan izin dari otoritas Israel untuk membawa peralatan yang diperlukan guna menghancurkan persenjataan yang belum meledak. UNMAS menyebut ada tiga kendaraan lapis baja “di perbatasan yang menunggu untuk memasuki Gaza, yang akan memungkinkan operasi yang lebih aman dan berskala lebih besar”.

    Tonton juga video “Israel Bebaskan 1.800 Tahanan Palestina Usai Kesepakatan Gencatan Senjata” di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Bentrokan di Perbatasan Afghanistan-Pakistan, 15 Warga Sipil Tewas

    Bentrokan di Perbatasan Afghanistan-Pakistan, 15 Warga Sipil Tewas

    Kabul

    Bentrokan berdarah kembali terjadi di perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Otoritas Afghanistan melaporkan sedikitnya 15 warga sipil tewas dalam bentrokan terbaru itu, dengan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.

    Juru bicara departemen informasi lokal Afghanistan, Ali Mohammad Haqmal, seperti dilansir AFP, Rabu (15/10/2025), mengatakan bahwa bentrokan terbaru itu pecah pada Rabu (15/10) dini hari, di distrik Spin Boldak, Afghanistan bagian selatan.

    Haqmal menyebut sedikitnya 15 warga sipil tewas dalam bentrokan tersebut.

    Jumlah korban tewas itu dikonfirmasi oleh seorang pejabat rumah sakit distrik Spin Boldak, Abdul Jan Barak, yang berbicara kepada AFP. Disebutkan juga oleh Barak bahwa lebih dari 80 wanita dan anak-anak menjadi korban luka-luka dalam bentrokan tersebut.

    Dalam pernyataan terpisah, juru bicara pemerintah Taliban yang berkuasa di Afghanistan, Zabihullah Mujahid, menuduh pasukan militer Pakistan “sekali lagi” telah melancarkan serangan-serangan “dengan senjata ringan dan berat” di distrik Spin Boldak.

    Mujahid menyebut sedikitnya 12 warga sipil tewas dan 100 orang lainnya luka-luka. Pernyataan Mujahid tersebut tidak menyebutkan adanya korban jiwa di kalangan pasukan keamanan Afghanistan.

    Namun pernyataan itu menyebut ketenangan telah kembali ke area tersebut, setelah tentara-tentara Pakistan tewas dan pos serta senjata disita.

    Semua pusat bisnis di area tersebut, menurut laporan koresponden AFP, ditutup dan banyak penduduk telah mengungsi.

    Pakistan belum memberikan komentarnya, namun sumber keamanan Islamabad mengatakan pihaknya menargetkan posisi-posisi Afghanistan dari distrik Kurram, yang lebih jauh ke wilayah utara dibandingkan Spin Boldak.

    Bentrokan kembali terjadi di perbatasan saat ketegangan meningkat antara kedua negara yang bertetangga tersebut, yang dipicu oleh masalah keamanan, dengan Pakistan menuduh Afghanistan melindungi kelompok-kelompok militan yang dipimpin oleh Taliban Pakistan (TTP).

    Bentrokan pertama kali terjadi pada Sabtu (11/10) malam ketika Kabul melancarkan operasinya di setidaknya lima provinsi di sepanjang perbatasan.

    Pemerintah Taliban mengatakan pasukannya menyerang pasukan keamanan Pakistan sebagai “balasan atas serangan udara yang dilancarkan militer Pakistan di Kabul”, menyusul rentetan ledakan di ibu kota Afghanistan pada Kamis (9/10) lalu.

    Islamabad bersumpah akan memberikan respons tegas pada Minggu (12/10), setelah puluhan korban tewas dilaporkan dari kedua belah pihak.

    Tonton juga video “Taliban Klaim Tewaskan 58 Tentara Pakistan dalam Baku Tembak” di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Jadi Sampul Majalah TIME, Trump Kesal Fotonya Jelek

    Jadi Sampul Majalah TIME, Trump Kesal Fotonya Jelek

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kesal dengan foto dirinya pada sampul majalah TIME edisi terbaru. Trump mengatakan dirinya menyukai artikel yang ditulis majalah TIME mengenai upaya perdamaian yang dilakukannya untuk Timur Tengah, tapi mengkritik foto dirinya yang disebutnya “terburuk sepanjang masa”.

    Trump dalam komentarnya, seperti dilansir AFP, Rabu (15/10/2025), meluapkan kemarahannya dengan menyebut majalah TIME telah “menghilangkan” rambutnya dalam foto sampul. Dia menyebut foto dirinya yang dipilih sebagai sampul majalah itu sangat aneh.

    “Majalah Time menulis artikel yang relatif bagus tentang saya, tetapi fotonya mungkin yang Terburuk Sepanjang Masa,” tulis Trump dalam pernyataannya via media sosial Truth Social pada Selasa (14/10).

    “Mereka ‘menghilangkan’ rambut saya, kemudian ada sesuatu yang mengambang di atas kepala saya yang tampak seperti mahkota yang melayang, tetapi sangat kecil. Sungguh aneh!” sebut Trump.

    Foto Trump yang dipilih untuk sampul majalah TIME itu diambil dari sudut rendah, yang memperlihatkan bagian leher dan dagu, serta rambut yang tersorot cahaya. Majalah TIME mempostingnya ke akun media sosial X milik mereka pada Senin (13/10) waktu setempat.

    “Saya tidak pernah suka mengambil foto dari sudut bawah, tetapi ini foto yang sangat buruk, dan pantas dikritik. Apa yang mereka lakukan, dan mengapa?” tanya Trump dalam komentarnya.

    Foto sampul majalah TIME menampilkan Presiden AS Donald Trump Foto: @TIME via X

    Trump menuai banyak pujian baru-baru ini karena berhasil mewujudkan kesepakatan gencatan senjata Gaza setelah dua tahun perang berkecamuk. Kesepakatan itu berujung pada pembebasan semua sandera oleh Hamas, dan sebagai imbalannya, Israel membebaskan ribuan tahanan Palestina, pada Senin (13/10).

    Artikel yang ditulis majalah TIME, yang diterbitkan pada 10 Oktober lalu, menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai “sebuah langkah penebusan dosa bagi Trump, yang para pengkritiknya menuduhnya telah melepaskan peran kepemimpinan Amerika di luar negeri”.

    Trump selama ini mengikuti dengan saksama bagaimana dirinya diulas oleh majalah TIME, sebuah majalah berita ternama yang telah dua kali menobatkan dirinya sebagai “Person of the Year” pada tahun 2016 dan tahun 2024 lalu.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Ribuan Siswa Terinfeksi Influenza, Malaysia Liburkan Sekolah-sekolah

    Ribuan Siswa Terinfeksi Influenza, Malaysia Liburkan Sekolah-sekolah

    Kuala Lumpur

    Sekitar 6.000 siswa sekolah di berbagai wilayah Malaysia telah terinfeksi influenza beberapa waktu terakhir. Otoritas Kuala Lumpur pun memutuskan untuk meliburkan sejumlah sekolah demi keselamatan anak-anak dan para staf.

    “Kita sudah memiliki pengalaman luas dalam menangani penyakit menular dari pandemi COVID-19,” kata Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan Malaysia, Mohd Azam Ahmad, dalam pernyataan video yang diunggah media lokal Malaysia dan dilansir Channel News Asia, Rabu (15/10/2025).

    “Kita telah mengingatkan sekolah-sekolah untuk mematuhi pedoman ini, mendorong penggunaan masker wajah dan mengurangi aktivitas dalam kelompok besar di antara siswa,” ucap Mohd Azam dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (13/10) waktu setempat.

    Dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal jumlah sekolah yang diliburkan imbas mewabahnya influenza di kalangan siswa. Namun disebutkan bahwa infeksi sejauh ini terdeteksi di beberapa wilayah di berbagai wilayah Malaysia.

    Pekan lalu, Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan sekitar 97 klaster influenza di seluruh wilayah negara tersebut. Angka tersebut naik drastis dari 14 klaster influenza pada minggu sebelumnya.

    Sebagian besar klaster influenza tersebut dilaporkan di sekolah-sekolah dan taman kanak-kanak.

    Laporan media lokal Malaysia, The Star, menyebut bahwa wilayah Selangor saat ini memiliki jumlah klaster influenza tertinggi dengan 43 klaster, diikuti oleh Kuala Lumpur dan Putrajaya dengan 15 klaster, Penang dengan 10 klaster, Johor dengan 9 klaster, dan Kedah dengan 5 klaster.

    Menanggapi situasi tersebut, Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, mengatakan kementeriannya akan berdiskusi dengan Kementerian Pendidikan mengenai tindakan lebih lanjut untuk menangkal penyebaran virus di sekolah-sekolah.

    Dia juga berusaha meyakinkan publik bahwa situasi tetap terkendali meskipun terdapat sejumlah wabah yang mengkhawatirkan.

    Sementara itu, pakar kesehatan masyarakat Sharifa Ezat Wan Puteh mengatakan bahwa perhatian khusus harus diberikan kepada anak-anak karena sebagian besar kasus influenza terdeteksi di sekolah.

    “Anak-anak juga dianjurkan untuk mendapatkan vaksin flu. Vaksinasi tahunan diperlukan karena virus influenza berubah seiring waktu, dan vaksin diperbarui setiap tahun. Vaksin cocok untuk individu berusia enam bulan ke atas,” kata Sharifa kepada The Star.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/nvc)

  • Hamas Serahkan Jasad Sandera Usai Israel Ancam Pangkas Bantuan

    Hamas Serahkan Jasad Sandera Usai Israel Ancam Pangkas Bantuan

    Gaza City

    Kelompok Hamas menyerahkan lebih banyak jenazah sandera yang tewas di Jalur Gaza, setelah Israel mengancam akan mengurangi bantuan kemanusiaan yang masuk saat gencatan senjata berlangsung. Sebanyak delapan jenazah telah diserahkan Hamas, dengan empat jenazah lainnya akan diserahkan berikutnya.

    Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang berlaku sejak Jumat (10/10), Hamas harus menyerahkan total 48 sandera yang diyakini masih berada di Jalur Gaza. Jumlah itu terdiri atas 20 sandera yang masih hidup dan 28 sandera yang sudah tewas.

    Hamas telah menyerahkan semua 20 sandera yang masih hidup kepada Israel, melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC), pada Senin (13/10) waktu setempat. Sebagai imbalan, Israel membebaskan sebanyak 1.968 tahanan dan narapidana Palestina dari penjara-penjara mereka pada hari yang sama.

    Namun dari 28 jenazah sandera yang masih ada di Jalur Gaza, seperti dilansir Reuters dan Al Jazeera, Rabu (15/10/2025), Hamas sejauh ini baru menyerahkan delapan peti mati berisi jenazah sandera kepada Israel, melalui ICRC.

    Sekitar 20 jenazah sandera lainnya — dengan satu jenazah tidak diketahui keberadaannya — masih berada di wilayah Jalur Gaza.

    Pada Selasa (14/10) waktu setempat, militer Israel mengatakan pihaknya telah menerima empat peti mati dari ICRC di salah satu titik pertemuan di Jalur Gaza bagian utara. Peti-peti mati itu, dengan dikawal pasukan Israel, dibawa melintasi perbatasan masuk ke wilayah Israel sebelum tengah malam.

    Dituturkan oleh militer Israel bahwa jenazah para sandera itu akan menjalani proses identifikasi forensik.

    Israel kemudian memberitahu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa mereka hanya akan mengizinkan separuh dari jumlah bantuan yang disetujui dalam kesepakatan gencatan senjata Gaza.

    Para pejabat Tel Aviv mengatakan pihaknya memutuskan untuk membatasi bantuan kemanusiaan dan menunda rencana pembukaan perbatasan selatan Jalur Gaza dengan Mesir, karena Hamas melanggar kesepakatan dengan tidak menyerahkan jenazah para sandera yang tewas saat ditahan di wilayah tersebut.

    Beberapa jam kemudian, menurut seorang pejabat yang terlibat operasi tersebut, Hamas memberitahu para mediator bahwa mereka akan menyerahkan empat jenazah sandera lainnya kepada Israel mulai pukul 19.00 GMT.

    Hamas, dalam pernyataan terbaru, mengonfirmasi bahwa penyerahan jenazah para sandera lainnya sedang berlangsung.

    Dikatakan juga oleh Hamas bahwa mencari dan mengevakuasi jenazah sandera terbukti sulit karena skala kerusakan yang disebabkan oleh serangan Israel di Jalur Gaza.

    Belum diketahui jelas apakah penyerahan lebih banyak jenazah sandera ini dianggap cukup oleh Israel untuk memulihkan pengiriman bantuan secara penuh ke Jalur Gaza. Sebelumnya disepakati sebanyak 600 truk bantuan akan memasuki Jalur Gaza setiap harinya selama gencatan senjata berlangsung.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)