Category: Detik.com Internasional

  • Latihan Perang di Sekitar Taiwan Tuai Kritikan, China Bilang Gini

    Latihan Perang di Sekitar Taiwan Tuai Kritikan, China Bilang Gini

    Beijing

    Latihan perang yang digelar militer China di perairan sekitar Taiwan beberapa hari terakhir menuai kritikan sejumlah negara, termasuk Jepang dan Australia. Otoritas Beijing menyampaikan kecaman keras dan menyebut negara-negara yang mengkritiknya itu “munafik”.

    China meluncurkan sejumlah rudal dan mengerahkan puluhan jet tempur, kapal angkatan laut, serta kapal penjaga pantai, ke perairan sekitar Taiwan dalam latihan tembak langsung yang digelar pada Senin (29/12) dan Selasa (30/12) waktu setempat.

    Latihan itu, menurut militer Beijing, bertujuan menyimulasikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan dan serangan terhadap target-target maritim. Kritikan internasional muncul terhadap latihan militer yang digelar China tersebut.

    “Negara-negara dan lembaga-lembaga ini menutup mata terhadap kekuatan separatis di Taiwan yang berupaya mewujudkan kemerdekaan melalui cara-cara militer,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, kepada wartawan dalam konferensi pers, seperti dilansir AFP, Rabu (31/12/2025).

    “Namun, mereka melontarkan kritikan yang tidak bertanggung jawab terhadap langkah China yang diperlukan dan adil untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayahnya, memutarbalikkan fakta dan mencampuradukkan yang benar dan salah, yang benar-benar munafik,” sebut Lin.

    Kritikan terhadap China muncul dari sejumlah negara seperti Jepang, Australia, dan negara-negara Eropa.

    Otoritas Tokyo, pada Rabu (31/12), menyebut latihan perang Beijing itu “meningkatkan ketegangan” di Selat Taiwan. Jepang juga menyatakan pihaknya telah menyampaikan “kekhawatiran” mereka terhadap otoritas China.

    Sementara Kementerian Luar Negeri Australia mengecam latihan militer China, yang disebutnya “mengganggu stabilitas” kawasan. Canberra juga telah menyampaikan kekhawatiran kepada Beijing.

    Uni Eropa, dalam pernyataan pada Selasa (30/12), mengkritik latihan perang Beijing di sekitar Taiwan itu “membahayakan perdamaian dan stabilitas internasional”.

    Otoritas Taiwan sendiri mengecam latihan perang yang digelar China itu sebagai langkah yang “sangat provokatif dan sembrono”, juga merupakan ancaman terhadap keamanan regional dan provokasi terang-terangan.

    Lin, dalam konferensi pers terbaru di Beijing, menyampaikan apresiasi kepada negara-negara lainnya, seperti Rusia, Pakistan, dan Venezuela, yang menyatakan dukungan untuk China.

    “Kami ingin menegaskan kembali tekad China yang teguh untuk menjaga kedaulatan nasional, keamanan, dan integritas wilayah,” ucapnya.

    “Setiap tindakan provokatif yang keterlaluan yang melampaui batas dalam masalah Taiwan, akan ditanggapi dengan tegas oleh China,” tegas Lin dalam pernyataannya.

    Lihat juga Video ‘DJI dkk Buatan China Kena Ban AS’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Malam Tahun Baru di Sydney Diwarnai Momen Hening untuk Korban Serangan Bondi

    Malam Tahun Baru di Sydney Diwarnai Momen Hening untuk Korban Serangan Bondi

    Sydney

    Suasana muram menyelimuti persiapan pesta malam Tahun Baru di Sydney, Australia, pada Rabu (31/12) waktu setempat. Kengerian penembakan massal di Pantai Bondi beberapa waktu lalu membayangi perayaan Tahun Baru yang biasanya digelar dengan meriah di kota pelabuhan tersebut.

    Sydney yang dijuluki sebagai “ibu kota tahun baru dunia” akan menjadi beberapa dari sejumlah kota besar dunia yang paling awal menyambut tahun 2026.

    Persiapan untuk malam pergantian tahun di Sydney, seperti dilansir AFP, Rabu (31/12/2025), diselimuti kemuraman setelah dua pekan lalu, kota terpadat di Australia itu diguncang penembakan massal yang menewaskan sedikitnya 15 orang.

    Dua pelaku, yang merupakan seorang ayah dan anak laki-lakinya, melepaskan tembakan secara brutal terhadap sebuah festival keagamaan Yahudi yang digelar di Pantai Bondi yang ramai pengunjung. Penembakan itu tercatat sebagai penembakan massal paling mematikan di Australia selama hampir 30 tahun terakhir.

    Sebagai wujud penghormatan untuk para korban penembakan, pesta-pesta malam pergantian tahun di Sydney akan berhenti sejenak untuk momen hening selama satu menit pada pukul 23.00 waktu setempat, ketika Sydney Harbour Bridge yang tersohor bermandikan cahaya putih untuk melambangkan perdamaian.

    “Saat ini, kegembiraan yang biasanya kita rasakan di awal tahun baru diimbangi oleh kesedihan,” ucap Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese, dalam pernyataan terbaru via video pada Rabu (31/12).

    Ratusan ribu orang diperkirakan akan memadai tepi pantai Sydney ketika kembang api seberat 9 ton meledak di langit tepat saat pergantian tahun.

    “Tahun ini menjadi tahun yang sulit bagi banyak orang. Semoga dunia terlihat lebih cemerlang di tahun 2026,” ucap Steph Grant, seorang warga Sydney berusia 32 tahun.

    Sepanjang malam, warga setempat dan wisatawan mulai berkumpul di area sekitar Sydney Harbour Bridge, dengan perahu-perahu layar memenuhi perairan untuk mengamankan tempat menonton kembang api terbaik di dekat Sydney Opera House.

    “Kembang api selalu ada dalam daftar keinginan saya dan saya sangat senang berada di sini,” ujar seorang turis asal Inggris, Susana Suisikli.

    Keamanan tampak lebih ketat dari biasanya, dengan pasukan kepolisian bersenjata lengkap melakukan patroli di antara kerumunan.

    Sydney akan memulai rangkaian perayaan tahun baru yang membentang dari New York di Amerika Serikat (AS) hingga festival Hogmanay di jalanan yang dingin di Skotlandia.

    Di Pantai Copacabana yang terkenal di Brasil, lebih dari 2 juta orang diperkirakan akan hadir dalam pesta, yang diklaim oleh otoritas setempat sebagai pesta malam tahun baru terbesar di dunia.

    Sementara di Hong Kong, pertunjukan kembang api tahun baru yang direncanakan di Victoria Harbour dibatalkan untuk memberi penghormatan kepada 161 korban tewas dalam kebakaran mematikan pada November lalu.

    Lihat juga Video ‘Bundaran HI Bersolek, Intip Panggung Utama Perayaan Tahun Baru 2026’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • China Tarik Pasukan Usai Latihan Perang Besar-besaran, Taiwan Tetap Waspada

    China Tarik Pasukan Usai Latihan Perang Besar-besaran, Taiwan Tetap Waspada

    Taipei

    Otoritas penjaga pantai Taiwan melaporkan bahwa kapal-kapal perang dan kapal penjaga pantai China telah ditarik mundur dari perairan sekitar pulau tersebut, setelah Beijing menggelar latihan perang besar-besaran beberapa hari terakhir. Kendati demikian, Taipei mengatakan pihaknya masih dalam kondisi siaga tinggi.

    Latihan perang yang diberi nama “Misi Keadilan 2025” itu melibatkan aktivitas puluhan kapal militer China yang menembakkan rentetan roket ke arah Taiwan. Beijing mengerahkan sejumlah besar kapal perang dan jet tempur ke dekat pulau tersebut — aksi pamer kekuatan yang memicu kekhawatiran Barat.

    Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP dan Reuters, Rabu (31/12/2025), Otoritas Penjaga Pantai Taiwan mengatakan Taipei tetap siaga tinggi pada Rabu (31/12) setelah China menggelar latihan militer besar-besaran di perairan sekitar wilayahnya.

    Dikatakan Otoritas Penjaga Pantai Taiwan bahwa pusat respons maritim daruratnya tetap beroperasi, sembari memantau manuver Angkatan Laut China.

    “Kapal-kapal perang dan kapal-kapal penjaga pantai sedang bergerak mundur, tetapi beberapa masih berada di luar garis 24 mil laut,” kata wakil direktur jenderal Otoritas Penjaga Pantai Taiwan, Hsieh Ching-chin, kepada AFP.

    Hsieh mengatakan bahwa pergerakan itu mengindikasikan “latihan seharusnya sudah berakhir”.

    Kepala Dewan Urusan Kelautan Taiwan, Kuan Bi-ling, dalam pernyataan terpisah mengatakan bahwa kapal-kapal China memang berlayar menjauhi Taiwan, tetapi Beijing belum secara resmi menyatakan berakhirnya latihan perang tersebut.

    “Situasi maritim telah tenang, dengan kapal-kapal secara bertahap meninggalkan perairan itu. Karena China belum mengumumkan berakhirnya latihan militer, pusat respons darurat tetap beroperasi,” tegasnya dalam postingan Facebook.

    Hsieh menambahkan bahwa Otoritas Penjaga Pantai Taiwan mempertahankan pengerahan 11 kapalnya di perairan tersebut, karena sejumlah kapal Penjaga Kapal China “belum sepenuhnya meninggalkan area tersebut”.

    “Kita tidak boleh lengah,” tegasnya.

    China meluncurkan sejumlah rudal dan mengerahkan puluhan jet tempur, kapal angkatan laut, serta kapal penjaga pantai di perairan sekitar Taiwan, pada Senin (29/12) dan Selasa (30/12) waktu setempat.

    Pengerahan itu dalam rangka latihan tembak langsung, yang bertujuan untuk menyimulasikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan dan serangan terhadap target-target maritim.

    Otoritas Taipei mengecam latihan perang yang digelar Beijing itu sebagai langkah yang “sangat provokatif dan sembrono”, juga merupakan ancaman terhadap keamanan regional dan provokasi terang-terangan. Ditegaskan oleh Taiwan bahwa manuver China itu gagal memberlakukan blokade terhadap wilayah mereka.

    Latihan perang China ini digelar menyusul penjualan senjata besar-besaran oleh Amerika Serikat (AS) ke Taiwan, dan setelah komentar kontroversial Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi, soal penggunaan kekuatan terhadap Taipei dapat memicu respons militer dari Tokyo, menuai kemarahan Beijing.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Iran Tetapkan Angkatan Laut Kanada sebagai Organisasi Teroris, Kenapa?

    Iran Tetapkan Angkatan Laut Kanada sebagai Organisasi Teroris, Kenapa?

    Teheran

    Otoritas Iran menetapkan Angkatan Laut Kanada sebagai organisasi teroris. Penetapan ini merupakan pembalasan Teheran terhadap langkah Ottawa memasukkan Garda Revolusi Iran (IRGC) ke dalam daftar hitam Kanada tahun 2024 lalu.

    Penetapan itu, seperti dilansir AFP, Rabu (31/12/2025), diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan pada Selasa (30/12) waktu setempat.

    Disebutkan oleh Kementerian Luar Negeri Iran bahwa langkah tersebut sebagai reaksi terhadap otoritas Kanada yang menetapkan IRGC, sayap ideologis militer Iran, sebagai kelompok teror yang “bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hukum internasional”.

    “Iran, dalam kerangka timbal balik, mengidentifikasi dan menetapkan Angkatan Laut Kerajaan Kanada sebagai organisasi teroris,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.

    Tidak disebutkan lebih lanjut soal konsekuensi apa yang akan dihadapi Angkatan Laut Kanada menyusul penetapan tersebut.

    Pada 19 Juni 2024, Kanada menetapkan IRCG sebagai kelompok teror. Penetapan ini melarang anggota IRCG memasuki wilayah Kanada dan melarang warga Kanada untuk melakukan transaksi apa pun dengan anggota individu atau kelompok tersebut.

    Selain itu, aset apa pun yang dimiliki IRGC atau anggotanya di Kanada juga dapat disita.

    Otoritas Ottawa menuduh IRGC “secara konsisten menunjukkan pengabaian terhadap hak asasi manusia (HAM) baik di dalam maupun di luar Iran, serta keinginan untuk menggoyahkan tatanan internasional berbasis aturan”.

    Salah satu alasan di balik keputusan menetapkan IRGC sebagai kelompok teror adalah insiden penerbangan PS752. Penerbangan itu ditembak jatuh tak lama setelah lepas landas dari Teheran pada Januari 2020, yang menewaskan seluruh 176 penumpang dan awak, termasuk 85 warga negara dan penduduk tetap Kanada.

    IRCG mengakui pasukannya menembak jatuh pesawat tersebut, namun mengklaim operator tembakan mereka keliru mengira pesawat itu sebagai target musuh.

    Ottawa memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran pada tahun 2012, dan menyebut Iran sebagai “ancaman paling signifikan bagi perdamaian global”.

    Musuh bebuyutan Iran, Amerika Serikat (AS), menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris asing pada April 2019. Sementara Australia melakukan hal yang sama bulan lalu, dengan menuduh IRGC berada di balik serangan-serangan di negara tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Rusia Ogah Rilis Bukti Serangan ke Kediaman Putin, Ukraina: Tuduhan Palsu!

    Rusia Ogah Rilis Bukti Serangan ke Kediaman Putin, Ukraina: Tuduhan Palsu!

    Moskow

    Kremlin menganggap serangan drone, yang diklaimnya didalangi oleh Ukraina, terhadap kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di Novgorod sebagai “aksi teroris”, namun menolak untuk merilis bukti guna memperkuat tuduhannya.

    Otoritas Kyiv mengatakan tidak ada “bukti yang masuk akal” soal serangan drone terhadap salah satu kediaman Putin tersebut. Presiden Volodymyr Zelensky menyebut tuduhan Rusia itu sebagai “tuduhan palsu”, yang dilontarkan Moskow untuk mengganggu proses perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat (AS).

    Kremlin dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Rabu (31/12/2025), mengatakan bahwa pihaknya menganggap serangan drone Ukraina terhadap kediaman Putin sebagai “aksi teroris” dan “serangan personal terhadap Putin”.

    Namun Kremlin juga menyatakan bahwa mereka tidak akan merilis bukti atas serangan tersebut, dengan alasan semua drone itu telah ditembak jatuh. Dikatakan oleh Kremlin bahwa upaya Ukraina dan media Barat untuk menyangkal insiden tersebut adalah “gila”.

    “Saya rasa tidak perlu ada bukti jika serangan drone besar-besaran seperti itu terjadi, yang, berkat kerja sama yang baik dari sistem pertahanan udara, telah ditembak jatuh,” ucap juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan dalam panggilan telepon pada Selasa (30/12) waktu setempat.

    Dia menambahkan bahwa Rusia akan “memperkeras” sikap negosiasinya dalam perundingan untuk mengakhiri perang Ukraina setelah serangan drone yang dibantah oleh Kyiv tersebut. Moskow juga menyatakan bahwa militernya telah memilih “bagaimana, kapan, dan di mana” untuk membalas serangan Kyiv tersebut.

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina, Andriy Sybiga, dalam pernyataan terpisah, menuduh Rusia sengaja melemparkan tuduhan palsu untuk memanipulasi proses perdamaian yang sedang berlangsung.

    “Hampir sehari berlalu, dan Rusia masih belum memberikan bukti yang masuk akal atas tuduhan mereka tentang dugaan ‘serangan terhadap kediaman Putin’ oleh Ukraina. Dan mereka tidak melakukannya. Karena memang tidak ada. Tidak ada serangan seperti itu yang terjadi,” tegas Sybiga pada Selasa (30/12).

    Sementara Zelensky, saat berbicara kepada wartawan, mengatakan bahwa sekutu-sekutu Ukraina memiliki kemampuan untuk memverifikasi bahwa tuduhan Rusia soal serangan drone terhadap kediaman Putin merupakan tuduhan palsu.

    “Mengenai serangan di Valdai, tim negosiasi kami telah terhubung dengan tim Amerika, mereka telah membahas detailnya, dan kami memahami bahwa itu palsu. Dan, tentu saja, mitra-mitra kami selalu dapat memverifikasi berkat kemampuan teknis mereka bahwa itu adalah palsu,” tegas Zelensky.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Kanselir Merz Optimis Tahun 2026 Jadi Tahun Kebangkitan Jerman

    Kanselir Merz Optimis Tahun 2026 Jadi Tahun Kebangkitan Jerman

    Berlin

    Kanselir Friedrich Merz menyinggung perang di Ukraina, peningkatan anggaran pertahanan, hubungan dengan AS, revolusi teknologi, stagnasi industri, lambannya reformasi, migrasi, dan lainnya dalam pidato Tahun Baru.

    Dalam pidato televisi pertamanya sebagai kanselir, Friedrich Merz mengawali dengan mengingat 23 Februari 2025, hari pemilu dini yang mengantarkannya menjadi Kanselir Jerman, menggantikan Olaf Scholz dan pemerintahan koalisi Sosial Demokrat.

    “Pada hari itu, Anda, warga negara, menentukan masa depan politik negeri kita. Pemerintah Federal baru dibentuk, yang bertekad mengarahkan Jerman ke jalur yang benar dengan determinasi dan arah yang jelas,” kata Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam kutipan pidato yang dilihat DW.

    Namun, dia juga mengakui bahwa tugas tersebut bukanlah “perkara mudah.”

    Merz menuturkan bahwa sepanjang 2025, Jerman dan dunia dihadapkan dengan serangkaian tantangan besar.

    “Sebuah perang mengerikan sedang berkecamuk di Eropa, mengancam langsung kebebasan dan keamanan kita. Ekonomi kita berada di bawah tekanan karena diperlukan adanya reformasi, tingginya biaya, serta konflik perdagangan global. Selain itu, teknologi baru sedang merevolusi dunia kerja dan cara kita hidup bersama,” ujar Merz.

    Dalam konteks tersebut, Merz menegaskan bahwa mandat utama pemerintahannya adalah “pembaruan landasan kebebasan, keamanan, dan kemakmuran kita.”

    Perang Ukraina dan ancaman bagi Eropa

    Ia menegaskan perang Ukraina bukanlah konflik jauh yang tak terkait dengan Jerman.

    “Pada akhirnya, kita semakin jelas melihat bahwa agresi Rusia dulu dan sekarang menjadi bagian dari rencana yang ditujukan terhadap seluruh Eropa,” jelasnya. “Jerman juga menghadapi sabotase, spionase, dan serangan siber setiap hari.”

    Kanselir dari Partai CDU ini kemudian menyinggung rencana pemerintahannya untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan dan menerapkan layanan militer sukarela bagi sebagian anak muda, termasuk reformasi konstitusional yang memungkinkan pinjaman lebih besar demi membiayai militer.

    Dinamika AS-Jerman

    Meskipun Merz tidak secara langsung mengaitkan gagasan tersebut dengan invasi Rusia ke Ukraina atau peningkatan pengeluaran pertahanan Jerman, tapi dia juga menyinggung soal perubahan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) ketika Donald Trump kembali menjabat.

    “Pada saat yang sama, kemitraan kita dengan Amerika Serikat, yang selama ini menjadi penjamin keamanan yang dapat kita diandalkan, sedang berubah,” ujar Merz. “Bagi kita orang Eropa, ini berarti kita harus mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan kita dengan lebih kuat secara mandiri.”

    Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

    Isu yang dihadapi Jerman dan Eropa

    Merz, yang memiliki latar belakang hukum korporasi di luar dunia politik, mengeluhkan hal yang disebutnya sebagai “kembalinya proteksionisme dalam ekonomi global.”

    “Ketergantungan strategis Jerman pada bahan baku semakin digunakan sebagai alat politik melawan kepentingan kita,” terangnya. Oleh karena itu, Jerman sebagai negara eksportir merasakan dampaknya secara khusus, yang mengisyaratkan masalah fiskal bagi industri besar seperti produsen mobil.

    Kanselir Merz juga mengatakan pemerintahnya berusaha memberikan keringanan di bidang perpajakan, harga energi, dan pengurangan birokrasi.

    Namun, Merz juga mengatakan bahwa “tumpukan reformasi domestik yang tertunda menghambat potensi perusahaan-perusahaan kita,” tepat pada saat kreativitas dan inovasi ekonomi diperlukan untuk menghadapi tekanan global.

    Dia memperingatkan bahwa semakin sulit bagi perusahaan-perusahaan Jerman untuk bersaing secara internasional dan kemudian menyiratkan bahwa sebagian kesalahan itu merupakan tanggung jawab Brussels, sebagai ibu kota de facto Uni Eropa.

    “Kami secara konsisten mengurangi birokrasi dan menempatkan promosi daya saing di urutan teratas agenda politik,” jelasnya mengenai upaya pemerintahannya dalam negosiasi di tingkat UE.

    Isu pensiun, demografi, migrasi

    Eks menteri keuangan Jerman ini juga menyinggung tentang populasi yang menua di negara tersebut, dengan mengatakan bahwa “generasi baby boomers kini akan memulai masa pensiun yang pantas mereka dapatkan.”

    Merz mengatakan bahwa pada tahun 2026, akan sangat penting “untuk menciptakan keseimbangan baru dalam sistem jaminan sosial Jerman,” dengan mempertimbangkan kepentingan semua generasi “secara adil.”

    Dalam pidato itu, Merz juga menyoroti isu migrasi, meski tidak secara eksplisit menyebut tantangan tersebut berasal dari partai sayap kanan AfD atau kelompok lainnya.

    Merz mengatakan pemerintahannya berupaya membuka jalur baru untuk migrasi legal, sambil menutup jalur ilegal dan tidak tertib.

    “Bagi kami, kemanusiaan dan ketertiban adalah dua sisi mata uang yang sama,” paparnya.

    2026 jadi awal yang baru

    Kemudian, Merz juga menyinggung kekecewaan publik terhadap konflik internal koalisi pemerintah dan kesulitan dalam menerapkan beberapa reformasi unggulan, seperti perubahan sistem kesejahteraan dan pensiun. Dia mengakui bahwa banyak orang merasa pencapaian pemerintah hingga saat ini “belum cukup.”

    “Kemudian, saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa Anda benar! Itu tidak cukup,” tegas Merz. Namun, dia berargumen bahwa pekerjaan telah dimulai dan yakin Jerman “akan menuai manfaat dari reformasi tersebut, meskipun membutuhkan waktu.”

    2026, menurut Merz, dapat menjadi “tahun awal yang baru,” jika Jerman dan Eropa “kembali terhubung dengan puluhan tahun perdamaian, kebebasan, dan kemakmuran.”

    Dia mengatakan bahwa berbagai perkembangan geopolitik, ekonomi, dan teknologi memang mewakili “perubahan zaman,” tetapi sambil menegaskan bahwa Jerman harus mengatasi tantangan tersebut dengan kekuatan sendiri.

    “Kita bukan korban keadaan eksternal. Kita tidak berada di bawah belas kasihan kekuatan besar. Tangan kita tidak terikat,” pungkas Merz.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

    Editor: Tezar Aditya Rahman dan Hani Anggraini

    (nvc/nvc)

  • Tentara Israel Tembak Mati Seorang Pria di Tepi Barat

    Tentara Israel Tembak Mati Seorang Pria di Tepi Barat

    Tepi Barat

    Militer Israel mengatakan pasukannya menembak mati seorang pria di Einabus, Tepi Barat utara yang diduduki. Israel menyebut pria tersebut mencoba menabrak tentaranya.

    “Beberapa saat yang lalu, sebuah laporan diterima mengenai seorang teroris yang mencoba menabrak tentara IDF (tentara Israel) yang beroperasi di daerah Einabus,” kata militer Israel, dilansir AFP, Rabu (31/12/2025),

    “Sebagai tanggapan, para tentara menembak teroris tersebut dan melenyapkannya,” imbuhnya.

    Militer tidak memberikan detail lain tentang insiden tersebut. Penembakan ini terjadi hanya beberapa hari setelah seorang Palestina menabrak seorang Israel berusia enam puluhan dengan kendaraannya dan kemudian menikam seorang gadis berusia 18 tahun hingga tewas di Israel utara.

    Pelaku tewas selama serangan tersebut.

    Menyusul insiden pada hari Jumat itu, militer melakukan operasi selama dua hari di kota Qabatiya, Tepi Barat, tempat asal penyerang tersebut. Israel menahan beberapa penduduk termasuk ayah dan saudara laki-lakinya.

    Pasukan dan pemukim Israel telah membunuh lebih dari 1.000 warga Palestina di wilayah tersebut, termasuk banyak militan serta puluhan warga sipil. Data ini menurut perhitungan AFP berdasarkan angka dari Kementerian Kesehatan Palestina.

    Menurut angka resmi Israel, setidaknya 44 warga Israel, baik tentara maupun warga sipil, juga tewas dalam serangan Palestina atau operasi militer Israel pada periode yang sama di Tepi Barat.

    (lir/lir)

  • Kecelakaan Kereta Gantung di Italia, 4 Orang Terluka

    Kecelakaan Kereta Gantung di Italia, 4 Orang Terluka

    Roma

    Kereta gantung mengalami kecelakaan di barat laut Italia mengakibatkan 4 orang terluka. Pihak berwenang mengatakan sekitar 100 orang sempat terjebak di puncak gunung akibat kecelakaan ini.

    Dilansir AFP, Selasa (30/12/2025), juru bicara layanan penyelamatan Alpen mengatakan tidak ada yang terluka parah. Insiden ini terjadi pada kereta gantung Macugnaga, yang menuju ke Moro Pass pada ketinggian 2.800 meter dekat perbatasan Swiss.

    “Tampaknya kabin tiba di stasiun atas dengan kecepatan berlebihan, yang menyebabkan kecelakaan,” kata layanan tersebut dalam sebuah pernyataan.

    Dalam pernyataan terpisah, dinas pemadam kebakaran mengatakan kecelakaan itu melibatkan dua kabin, yang “menabrak struktur stasiun atas dan bawah”.

    Tiga dari 15 penumpang di kabin atas terluka. Sementara seorang operator di stasiun bawah juga terluka.

    Sekitar 100 orang terjebak di atas gunung, tetapi sekitar tiga jam setelah kecelakaan pukul 11.30 pagi, semua orang telah dievakuasi dengan helikopter.

    Ia mengatakan telah terjadi masalah teknis dan kereta gantung tidak melambat dengan benar saat memasuki stasiun, dan menabrak pembatas.

    Ia mengatakan tidak ada kerusakan signifikan pada kereta gantung, yang direnovasi pada tahun 2023, tetapi sedang menjalani pemeriksaan.

    Insiden ini terjadi di puncak musim ski, ketika banyak warga Italia dan wisatawan berbondong-bondong ke pegunungan untuk liburan Natal dan Tahun Baru.

    Pada Mei 2021, 14 orang tewas dalam kecelakaan kereta gantung di gunung Mottarone yang menghadap Danau Maggiore di Italia utara setelah kabelnya putus. Hanya seorang bocah laki-laki Israel berusia lima tahun yang selamat.

    (lir/lir)

  • Kapal Pengangkut Senjata Diserang Saudi, Separatis Tolak Mundur dari Yaman

    Kapal Pengangkut Senjata Diserang Saudi, Separatis Tolak Mundur dari Yaman

    Jakarta

    Kelompok separatis di Yaman bersumpah untuk mempertahankan dan memperkuat wilayah mereka dan menolak seruan dari koalisi pimpinan Saudi untuk mundur. Sikap itu dinyatakan beberapa jam setelah serangan menargetkan dugaan pengiriman senjata di pelabuhan yang berada di bawah kendali mereka.

    “Tidak ada pemikiran tentang mundur. Tidak masuk akal bagi pemilik tanah untuk diminta meninggalkan tanahnya sendiri. Situasi ini mengharuskan untuk tetap tinggal dan memperkuat,” kata Anwar Al-Tamimi, juru bicara Dewan Transisi Selatan (STC) separatis, dilansir AFP, Selasa (30/12/2025).

    Al-Tamimi menegaskan pihaknya masih dalam posisi bertahan. Dia menjamin akan memberikan timbal balik jika ada serangan terhadap kelompok mereka.

    “Kami berada dalam posisi bertahan, dan setiap gerakan menuju pasukan kami akan ditanggapi oleh pasukan kami,” tambahnya.

    Al-Tamimi menyebut Arab Saudi telah mengerahkan sekitar 20.000 pasukan keamanan di sepanjang perbatasannya yang berdekatan dengan posisi yang dikuasai oleh STC.

    Dalam beberapa pekan terakhir, separatis yang didukung UEA yang berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang sebelumnya merdeka telah meraih kemajuan teritorial yang besar dalam serangan kilat. Menurut para ahli, keberhasilan mereka telah mempermalukan Arab Saudi sebagai pendukung utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

    Pada hari Selasa, Arab Saudi menyatakan kemajuan STC di Yaman sebagai ancaman terhadap keamanan kerajaan setelah melancarkan serangan udara yang menargetkan dugaan pengiriman senjata ke pelabuhan yang berada di bawah kendali STC.

    Juru bicara STC membantah bahwa peralatan tempur yang menjadi sasaran serangan tersebut adalah milik mereka.

    “Kendaraan-kendaraan itu milik pasukan Emirat di Yaman sebagai bagian dari Koalisi Arab dan aliansi kontra-terorisme,” kata Tamimi kepada AFP.

    Sebelumnya, Koalisi pimpinan Arab Saudi membombardir kota pelabuhan Mukalla di Yaman setelah dua kapal yang diduga membawa muatan senjata tiba dari Pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Saudi mengatakan serangannya menargetkan sejumlah besar senjata dan kendaraan tempur yang diturunkan dari kapal-kapal itu.

    Juru bicara Pasukan Koalisi pimpinan Saudi, Brigjen Turki al-Maliki, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Selasa (30/12), mengatakan bahwa para awak kedua kapal itu kedapatan menonaktifkan sistem pelacakan dan menurunkan muatan senjata dan kendaraan tempur di pelabuhan Mukalla.

    Persenjataan dan kendaraan tempur itu dimaksudkan untuk mendukung para petempur dari kelompok separatis, Dewan Transisi Selatan (STC), yang ada di area Hadramout dan al-Mahrah di Yaman yang dilanda konflik berkepanjangan.

    Lihat juga Video ‘Houthi Serang Israel dengan Drone’:

    (fca/jbr)

  • Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Jakarta

    Salah satu rumah Presiden Rusia Vladimir Putin diserang puluhan drone. Rusia menuding serangan itu diinisiasi Ukraina, tapi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantahnya. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah atas upaya penyerangan tersebut.

    Dilansir dari AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut rentetan serangan drone Ukraina itu menghujani kediaman Putin di Novgorod, antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat.

    Lavrov menuduh Ukraina telah mengerahkan “91 kendaraan udara tanpa awak jarak jauh” ke salah satu kediaman Putin. Namun ia memastikan semua drone itu berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia.

    Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone Ukraina, yang disebutnya sebagai “terorisme negara”.

    Lavrov menekankan bahwa serangan drone itu terjadi selama negosiasi membahas kemungkinan kesepakatan perdamaian untuk perang Ukraina. Dia mengatakan bahwa meskipun Rusia tidak meninggalkan negosiasi, posisi Moskow akan ditinjau ulang.

    “Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” kata Lavrov dalam pernyataannya, tanpa menjelaskan lebih lanjut atau memberikan bukti untuk penilaian Moskow tersebut.

    Bantahan Presiden Ukraina

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantah tuduhan Rusia. Zelensky menyebut tuduhan Rusia itu sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Zelensky juga mengatakan bahwa Moskow sedang mempersiapkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan di Kyiv.

    Lavrov, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa target-target telah dipilih untuk serangan balasan oleh Angkatan Bersenjata Rusia. “Tindakan sembrono seperti itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” tegasnya.

    Tidak diketahui secara jelas apakah Putin berada di kediamannya tersebut saat serangan drone terjadi.

    Trump Marah

    Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Presiden Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin tersebut.

    Trump melontarkan kritikan terhadap Ukraina ketika ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya khawatir tuduhan Moskow terhadap Kyiv tersebut dapat mempengaruhi upayanya menengahi perdamaian.

    “Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida.

    “Saya mengetahuinya dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah karena itu,” ucapnya, setelah berbicara via telepon dengan Putin pada Senin (29/12).

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump dalam pernyataannya.

    Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah ada bukti serangan Ukraina terhadap kediaman Putin itu, Trump berkata: “Kita akan mengetahuinya.”

    Tuduhan Rusia soal serangan drone Ukraina tersebut muncul pada momen penting dalam proses perdamaian. Kyiv mengatakan telah menyetujui 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang AS, termasuk masalah jaminan keamanan pasca-perang.

    Namun, masalah wilayah tetap belum terselesaikan, dan Rusia — yang semakin bergerak maju di medan pertempuran — telah berulang kali menolak rencana yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya.

    Dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin (29/12), Putin mengatakan bahwa dirinya masih berkomitmen pada proses perdamaian, tetapi akan “merevisi” posisi negosiasi Rusia mengingat dugaan serangan drone tersebut.

    Halaman 2 dari 3

    (fas/lir)