Category: Detik.com Internasional

  • Petinggi NATO Tegaskan Jauh dari Krisis Meski Trump Mau Caplok Greenland

    Petinggi NATO Tegaskan Jauh dari Krisis Meski Trump Mau Caplok Greenland

    Jakarta

    Kepala pasukan NATO di Eropa, Jenderal AS Alexus Grynkewich, mengatakan aliansi militer NATO jauh dari krisis meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam untuk mengakuisisi Greenland di bawah kendali AS. Ia memastikan belum ada dampak apapun dari pernyataan Trump.

    “Belum ada dampak pada pekerjaan saya di tingkat militer hingga saat ini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kami siap untuk mempertahankan setiap inci wilayah aliansi hingga hari ini,” kata Grynkewich kepada wartawan selama kunjungannya ke Finlandia, dilansir AFP, Jumat (9/1/2026).

    “Jadi saya melihat kita jauh dari krisis saat ini,” tambahnya.

    Komentar Grynkewich menyusul pernyataan Trump yang berulang kali bahwa ia menginginkan kendali AS atas wilayah otonom Denmark yang kaya mineral tersebut. Presiden Trump belum mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk merebut pulau Arktik yang berlokasi strategis dengan populasi 57.000 jiwa tersebut.

    Ditanya oleh seorang reporter tentang pernyataan Trump, Grynkewich mengaku tidak ingin berkomentar tentang apakah NATO akan bertahan tanpa AS.

    Trump telah lama berbicara tentang mengakuisisi Greenland tetapi telah meningkatkan ancamannya sejak operasi militer AS untuk menggulingkan penguasa Venezuela Nicolas Maduro pekan lalu. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu dengan pejabat dari Denmark dan Greenland pekan depan

    (maa/idn)

  • Rusia Protes, AS Akan Bebaskan 2 Kru Kapal Tanker yang Disita

    Rusia Protes, AS Akan Bebaskan 2 Kru Kapal Tanker yang Disita

    Jakarta

    Rusia mengatakan Amerika Serikat (AS) telah memutuskan untuk membebaskan dua warga negara Rusia yang merupakan anggota kru di atas kapal tanker minyak Marinera yang disita pasukan AS di Atlantik Utara. Rusia menyebut pembebasan warganya itu diputuskan oleh Presiden AS Donald Trump.

    Dikutip Anadolu, Jumat (9/1/2025), Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan Moskow menyambut baik langkah tersebut dan menyampaikan rasa terima kasih kepada Trump.

    “Sebagai tanggapan atas permohonan kami, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk membebaskan dua warga negara Rusia dari antara kru kapal tanker Marinera, yang sebelumnya ditahan oleh pihak Amerika selama operasi di Atlantik Utara,” kata Zakharova dalam sebuah pernyataan.

    Dia mengatakan Rusia telah memulai langkah yang mendesak untuk mengatasi semua masalah yang berkaitan dengan memastikan kepulangan warga negaranya yang dibebaskan dengan cepat.

    Pengumuman tersebut menyusul kecaman keras dari Moskow atas penyitaan kapal tanker berbendera Rusia oleh AS, yang sebelumnya dikenal sebagai M/V Bella 1. Otoritas Rusia menggambarkan operasi tersebut sebagai tindakan militer ilegal dan pelanggaran berat terhadap hukum maritim internasional.

    Rusia menuntut pembebasan segera kapal dan awaknya, menolak klaim Washington bahwa kapal tanker itu tidak memiliki kewarganegaraan atau beroperasi di bawah bendera palsu.

    Lihat juga Video: Putin Kirim Ajudan-Menlu ke Arab Saudi Temui Pejabat AS

    (idn/maa)

  • AS Mendadak Kerahkan Banyak Pesawat Militer ke Eropa, Ada Apa?

    AS Mendadak Kerahkan Banyak Pesawat Militer ke Eropa, Ada Apa?

    London

    Amerika Serikat (AS) terpantau mengerahkan sejumlah besar pesawat militer ke kawasan Eropa beberapa waktu terakhir, setelah serangan terhadap Venezuela yang menggemparkan dunia. Peningkatan mendadak ini memicu spekulasi soal operasi khusus AS di kawasan tersebut di masa depan.

    Pengerahan pesawat-pesawat militer AS ke kawasan Eropa ini juga terjadi di tengah kekhawatiran baru soal ambisi Presiden Donald Trump untuk menguasai Greenland, yang menuai kritikan negara-negara Eropa dan sekutu NATO di kawasan tersebut.

    Laporan situs berita pertahanan, The War Zone, seperti dilansir The Independent dan Global Times, Jumat (9/1/2026), menyebut peningkatan mendadak itu mencakup jet kargo C-17 Globemaster, pesawat tempur AC-130J Ghostrider, dan pesawat turboprop operasi khusus yang misterius.

    Disebutkan bahwa C-17 Globemaster itu kemungkinan berisi helikopter, yang berasal dari markas Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 (SOAR).

    Pengerahan pesawat ini, menurut The War Zone, semakin terlihat seperti dukungan operasi di masa depan untuk menaiki kapal tanker minyak berbendera Rusia, Marinera, yang baru-baru ini disita AS di perairan Atlantik Utara setelah dikejar dari lepas pantai Venezuela. Kapal itu dituduh melanggar sanksi AS.

    Mengutip data pelacakan penerbangan, UK Defence Journal melaporkan peningkatan aktivitas udara militer AS sejak Sabtu (3/1), termasuk beberapa pesawat angkut C-17 Globemaster III yang tiba di pangkalan udara Inggris, RAF Fairford, dan kedatangan dua pesawat tempur AC-130 di RAF Mildenhall.

    UK Defence Journal menyebut pergerakan udara militer AS ke Inggris menunjukkan pengerahan kembali pasukan khusus Amerika ke Eropa, setelah peningkatan aktivitas operasional terkait peristiwa di Venezuela, yang melibatkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

    Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan kepada The Independent bahwa mereka telah memberikan “dukungan operasional yang telah direncanakan sebelumnya, termasuk penempatan, kepada aset-aset militer AS” menjelang penyitaan kapal tanker Marinera pada Rabu (7/1).

    Pesawat-pesawat itu tiba di pangkalan udara Inggris di Suffolk dan Gloucestershire, yang dioperasikan bersama oleh AS dan Inggris, tetapi tidak jelas apakah pesawat itu digunakan dalam operasi penyitaan kapal tanker minyak tersebut.

    Meskipun alasan pengerahan pesawat militer AS itu tidak diketahui secara jelas, peningkatan mendadak ini bertepatan dengan kekhawatiran atas keinginan Trump merebut Greenland dari Denmark.

    “Banyak pesawat Operasi Khusus AS telah transit di Inggris dalam beberapa hari terakhir, dalam perjalanan ke Eropa, termasuk laporan tentang pesawat yang berasal dari Resimen Udara Operasi Khusus ke-160 alias ‘Nightstalkers’ yang mendukung serangan terhadap Maduro di Venezuela… Kemungkinan aksi lainnya di Eropa?” kata mantan perwira Angkatan Darat Inggris, Ed McGuinness, dalam unggahan media sosial X.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • AS Beri Bantuan Rp 758 M Demi Gencatan Senjata Thailand-Kamboja

    AS Beri Bantuan Rp 758 M Demi Gencatan Senjata Thailand-Kamboja

    Washington DC

    Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan bantuan sebesar US$ 45 juta, atau setara Rp 758,2 miliar, dalam upaya memperkuat gencatan senjata yang rapuh antara Thailand dan Kamboja, yang terlibat konflik perbatasan sengit.

    Pejabat tinggi Departemen Luar Negeri AS untuk kawasan Asia Timur, Michael DeSombre, seperti dilansir AFP, Jumat (9/1/2026), mengunjungi Thailand dan Kamboja untuk membahas cara-cara memperkuat gencatan senjata antara kedua negara.

    Gencatan senjata itu diupayakan oleh Presiden Donald Trump untuk disoroti sebagai salah satu pencapaiannya

    DeSombre mengatakan bahwa AS akan menawarkan US$ 20 juta (Rp 336,9 miliar) untuk membantu kedua negara dalam memerangi perdagangan narkoba dan scam online, yang telah menjadi kekhawatiran utama di Kamboja.

    Dia juga mengungkapkan bahwa Washington akan memberikan US$ 15 juta (Rp 252,7 miliar) untuk membantu mendukung orang-orang yang mengungsi akibat pertempuran baru-baru ini di perbatasan kedua negara, dan memberikan US$ 10 juta (Rp 168,4 miliar) untuk pembersihan ranjau.

    “Amerika Serikat akan terus mendukung pemerintah Kamboja dan Thailand saat mereka menerapkan Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur dan membuka jalan bagi kembalinya perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas bagi rakyat mereka dan kawasan ini,” kata DeSombre dalam pernyataannya.

    Dia merujuk pada perjanjian yang ditandatangani kedua negara di hadapan Trump selama kunjungan Oktober tahun lalu ke Malaysia, yang saat itu menjabat sebagai Ketua ASEAN.

    Bentrokan besar terbaru terjadi bulan lalu. Kedua negara mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 27 Desember setelah tiga minggu pertempuran sengit, meskipun Thailand menuduh Kamboja melanggar gencatan senjata dengan tembakan yang tampaknya disengaja.

    Kamboja telah meminta Thailand untuk menarik mundur pasukannya dari beberapa area perbatasan, yang diklaim oleh Phnom Penh sebagai wilayahnya.

    Konflik berkepanjangan antara kedua negara ini berakar dari perselisihan mengenai demarkasi perbatasan sepanjang 800 kilometer peninggalan era kolonial, di mana kedua pihak sama-sama mengklaim wilayah tersebut dan reruntuhan kuil berusia berabad-abad di area itu.

    Trump telah mencantumkan konflik ini sebagai salah satu dari sejumlah perang, yang menurutnya, telah dia selesaikan, sembari dengan lantang menegaskan dirinya layak mendapatkan Nobel Perdamaian.

    Lihat juga Video: PM Thailand Hubungi Trump Terkait Memanasnya Situasi dengan Kamboja

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Kedutaan Qatar Rusak Buntut Serangan Besar-besaran Rusia di Ukraina

    Kedutaan Qatar Rusak Buntut Serangan Besar-besaran Rusia di Ukraina

    Jakarta

    Serangan besar-besaran Rusia di Ukraina merusak 20 bangunan perumahan di ibu kota Ukraina, Kyiv dan pinggirannya. Gedung kedutaan Qatar juga rusak akibat serangan drone Rusia.

    Serangan ini dilakukan Rusia setelah Moskow menolak proposal negara-negara Barat untuk mengakhiri invasi yang telah berlangsung hampir empat tahun lamanya.

    Kyiv adalah kota yang paling parah terkena serangan terbaru Rusia tersebut, dengan empat orang tewas dan setidaknya 25 orang terluka.

    “Dua puluh bangunan perumahan rusak,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dia menambahkan bahwa “gedung Kedutaan Qatar rusak tadi malam akibat drone Rusia”.

    “Qatar, sebuah negara yang begitu banyak melakukan mediasi dengan Rusia untuk mengamankan pembebasan tawanan perang dan warga sipil yang ditahan di penjara-penjara Rusia,” ujar Zelensky, dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/1/2026).

    Zelensky mengatakan Rusia menyerang Ukraina dengan menggunakan 13 rudal balistik, termasuk Oreshnik, dan 22 rudal jelajah, serta meluncurkan 242 drone.

    Para blogger militer Rusia mengatakan rudal Oreshnik digunakan untuk menyerang depot gas utama di wilayah Lviv di Ukraina barat.

    Zelensky mengatakan bahwa seorang petugas ambulans termasuk di antara mereka yang tewas di Kyiv dalam serangan Rusia.

    Menteri Dalam Negeri Ukraina Igor Klymenko mengatakan Rusia “berulang kali menyerang gedung-gedung tinggi pada saat petugas penyelamat dan medis sedang bekerja di lokasi”, dalam apa yang disebutnya sebagai “serangan yang disengaja terhadap layanan darurat.”

    Ia mengatakan bahwa ibu kota Ukraina dan wilayah sekitarnya “paling menderita”, dan bahwa 20 bangunan non-perumahan lainnya di Kyiv juga rusak.

    “Hampir semua distrik di wilayah Kyiv berada di bawah serangan musuh,” kata Klymenko.

    Serangan Rusia ini terjadi ketika suhu di Ukraina turun hingga di bawah -10 derajat Celcius, dan menyebabkan puluhan ribu orang tanpa listrik.

    “Tujuan musuh yang tidak manusiawi adalah untuk membuat jutaan orang tanpa penerangan, pemanas, dan air di tengah musim dingin yang membekukan,” kata Klymenko.

    Lihat Video: Rusia Gempur Ibu Kota Ukraina, 4 Orang Tewas dan 19 Terluka

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Serangan Darat terhadap Kartel Narkoba Segera Dilakukan!

    Serangan Darat terhadap Kartel Narkoba Segera Dilakukan!

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan serangan darat terhadap kartel-kartel narkoba akan segera dilakukan, menyusul rentetan serangan maritim di perairan Samudra Pasifik bagian timur dan Laut Karibia beberapa waktu terakhir.

    Rencana serangan darat itu, seperti dilansir AFP, Jumat (9/1/2026), diungkapkan Trump dalam wawancara dengan penyiar Sean Hannity yang ditayangkan Fox News pada Kamis (8/1) malam waktu setempat.

    Trump menyinggung soal kartel narkoba di Meksiko saat membahas rencana serangan darat tersebut.

    “Kita akan memulai sekarang, melancarkan serangan darat terkait kartel-kartel tersebut. Kartel-kartel itu mengendalikan Meksiko,” kata Trump dalam wawancara tersebut.

    Dia tidak memberikan informasi lebih detail mengenai rencana serangan darat AS tersebut.

    Pernyataan itu muncul setelah penangkapan mengejutkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu, yang merupakan puncak dari tekanan militer dan ekonomi AS yang meningkat selama berbulan-bulan terhadap pemimpin otoriter tersebut.

    Sebagai bagian dari kampanye menekan Venezuela, AS telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam rentetan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba, di Samudra Pasifik bagian timur dan Laut Karibia, sejak September lalu.

    Trump juga mengatakan sebelumnya bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan darat terhadap area dermaga yang digunakan oleh kapal-kapal pengangkut narkoba itu di Venezuela.

    Namun, serangan terhadap kartel-kartel narkoba di Meksiko akan menandai eskalasi militer AS secara signifikan di kawasan tersebut.

    Pemerintah interim di Caracas mengecam serangan AS terhadap Venezuela sebagai ancaman terhadap stabilitas regional.

    Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, pada Senin (5/1) waktu setempat, mengatakan bahwa benua Amerika “bukan milik” kekuatan mana pun, setelah Trump menyinggung “dominasi” Washington di belahan Bumi tersebut setelah menangkap Maduro.

    Trump mengatakan pada Minggu (4/1) waktu setempat bahwa dirinya telah mendesak Sheinbaum untuk mengizinkannya mengirimkan pasukan AS untuk menangani kartel-kartel narkoba di Meksiko. Tawaran semacam itu, menurut Trump, sebelumnya ditolak oleh Sheinbaum.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Power Bank Picu Kebakaran di Pesawat Asiana Airlines, 1 Orang Luka

    Power Bank Picu Kebakaran di Pesawat Asiana Airlines, 1 Orang Luka

    Hong Kong

    Sebuah penerbangan maskapai Korea Selatan (Korsel), Asiana Airlines, sempat dilanda kebakaran kecil saat pesawat sedang mengudara dari Incheon menuju ke Hong Kong. Kebakaran itu dipicu oleh power bank yang dibawa salah satu penumpang, dengan penumpang tersebut mengalami luka-luka.

    Pihak maskapai Asiana Airlines, seperti dilansir thestandard.com.hk, Jumat (9/1/2026), mengatakan bahwa pesawat yang membawa 284 penumpang, dengan nomor penerbangan OZ745 itu, lepas landas dari Bandara Internasional Incheon pada Kamis (8/1) sekitar pukul 19.00 waktu setempat.

    Lebih dari dua jam setelah penerbangan, sebuah perangkat pengisi daya portabel, atau power bank, yang dibawa oleh seorang penumpang tiba-tiba terbakar di dalam kabin pesawat. Laporan Dimsum Daily menyebut pesawat itu merupakan jenis Airbus A330-300.

    Awak kabin pesawat kemudian menggunakan alat pemadam untuk memadamkan api, dengan kebakaran kecil itu berhasil dikendalikan dalam waktu 1-2 menit saja.

    Namun satu penumpang yang membawa power bank tersebut mengalami luka bakar ringan di bagian tangannya. Tidak ada penumpang lainnya maupun awak kabin yang terkena dampak insiden tersebut.

    Maskapai Asiana Airlines, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa situasi tersebut tidak memicu prosedur pengalihan penerbangan secara darurat, dan pesawat melanjutkan penerbangan sesuai jadwal.

    Pesawat tersebut mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Hong Kong pada Kamis (8/1) malam, sekitar pukul 22.52 waktu setempat, setelah insiden itu terjadi.

    “Pesawat tiba di Hong Kong secara normal tanpa tindakan darurat apa pun, seperti pendaratan darurat,” kata seorang pejabat Asiana Airlines, yang tidak disebut namanya, ketika berbicara kepada televisi nasional Korsel, KBS.

    Penyelidikan lebih lanjut untuk mencari tahu penyebab terbakarnya power bank tersebut diperkirakan akan dilakukan, mengikuti prosedur standar.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Jejak Panjang Aksi Protes Massal di Iran Sejak 1999

    Jejak Panjang Aksi Protes Massal di Iran Sejak 1999

    Jakarta

    Iran kembali menyaksikan gelombang baru aksi protes massal di berbagai wilayah dalam beberapa pekan terakhir. Meski demonstrasi dipicu oleh meningkatnya kemarahan publik atas melambungnya harga kebutuhan pokok, aksi-aksi tersebut juga mencerminkan kekecewaan yang kian mendalam di kalangan kelompok masyarakat yang semakin luas terhadap sistem politik Republik Islam Iran.

    Para aktivis menyebut lebih dari 2.000 orang telah ditangkap sejak rangkaian protes berlangsung. Setidaknya 34 demonstran dilaporkan tewas, menurut jaringan hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat (AS), HRANA.

    Banyak pihak khawatir rezim teokratis Iran akan mengerahkan kepolisian dan Basij, kelompok paramiliter relawan yang berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), untuk menindak para pengunjuk rasa secara paksa.

    IRGC, salah satu organisasi paling kuat di Iran, merupakan cabang angkatan bersenjata Iran yang bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Didirikan setelah Revolusi 1979, tugas utamanya adalah mempertahankan rezim Islam.

    IRGC dan kepolisian Iran memiliki pengalaman panjang dalam menumpas demonstrasi besar-besaran anti-pemerintah secara brutal, termasuk dalam satu dekade terakhir.

    Protes mahasiswa Juli 1999

    Pada musim panas 1999, pemerintah Iran menutup surat kabar berhaluan reformis, Salam. Langkah tersebut memicu aksi protes damai mahasiswa di ibu kota Teheran. Namun, pada malam 8 Juli, aparat keamanan menyerbu asrama mahasiswa dan menewaskan setidaknya satu orang mahasiswa.

    Operasi ini memicu gelombang protes nasional yang berlangsung selama beberapa hari.

    Gerakan Hijau 2009

    Sepuluh tahun kemudian, pada 2009, Iran kembali dilanda protes massal.

    Kerusuhan dipicu oleh pemilihan presiden yang kontroversial. Para pengkritik rezim menolak kemenangan presiden saat itu, Mahmoud Ahmadinejad, dan menuding adanya kecurangan pemilu secara luas.

    Jutaan warga Iran turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Media sosial memainkan peran besar dalam memobilisasi massa sehingga gerakan ini kerap dijuluki sebagai “revolusi Twitter.”

    Namun, rezim menolak pemilu ulang, memperketat sensor, dan menindak para demonstran.

    Puluhan orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap. Gerakan yang berlangsung selama berbulan-bulan itu akhirnya berakhir tanpa hasil.

    Protes “November Berdarah” 2019

    Sepuluh tahun berikutnya, pada November 2019, protes mendadak pecah di berbagai wilayah Iran menyusul kenaikan harga bahan bakar secara tiba-tiba. Aksi yang dengan cepat menyebar ke lebih dari 20 kota ini awalnya berlangsung damai, dengan tuntutan ekonomi sebagai fokus utama.

    Namun, suara-suara anti-rezim semakin menguat, disertai seruan terbuka untuk menggulingkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

    Pemerintah merespons dengan memutus akses internet dan melakukan penindakan keras. Peristiwa ini kemudian dikenal dalam sejarah terbaru Iran sebagai “November Berdarah.”

    Gerakan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” 2022

    Pada September 2022, Jina Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun, meninggal dunia saat berada dalam tahanan polisi setelah ditangkap oleh “polisi moral” karena diduga tidak mengenakan hijab dengan benar. Di Iran, perempuan diwajibkan memakai penutup kepala di ruang publik.

    Kematian Amini memicu protes massal dengan slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan.” Para demonstran, yang sebagian besar anak muda, menuntut hak yang lebih luas bagi perempuan.

    Pemerintah merespons dengan gelombang represi baru, termasuk penggunaan peluru tajam oleh aparat keamanan terhadap demonstran. Ribuan orang ditangkap dan banyak di antaranya tewas.

    Puluhan demonstran muda dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan singkat. Meski demikian, aksi protes terus berlangsung selama berbulan-bulan dan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Republik Islam Iran dalam beberapa dekade terakhir.

    Ketidakpuasan terhadap rezim Iran menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh gelombang protes ini.

    Alih-alih menyelesaikan persoalan politik, ekonomi, dan sosial yang mendasar, pemerintah kerap mengandalkan aparat keamanan untuk membungkam perbedaan pendapat.

    Meski rezim sejauh ini masih mampu mempertahankan kekuasaan, gelombang protes terbaru menunjukkan bahwa persoalan-persoalan mendalam tersebut dapat muncul kembali kapan saja dan memicu perlawanan baru di Iran.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

    Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara

    Editor: Hani Anggraini

    (ita/ita)

  • Banyak Pemerintah Daerah di Jerman di Ambang Kebangkrutan

    Banyak Pemerintah Daerah di Jerman di Ambang Kebangkrutan

    Jakarta

    Belum lama ini Weissach, sebuah kota kecil dekat Stuttgart, pernah menjadi pemerintah daerah terkaya di Jerman. Kota di Jerman selatan ini dihuni sekitar 7.700 orang dan menjadi lokasi pusat pengembangan pabrikan mobil mewah Porsche. Pemerintah kota menikmati keuntungan miliaran euro Porsche melalui pajak usaha yang mengalir ke anggaran daerah.

    Pada 2009, Weissach mengumpulkan pajak sebesar €20.000 per penduduk.

    “Berkat Porsche, Weissach memiliki pendapatan pajak per kapita tertinggi di seluruh Jerman,” ujar wali kota saat itu, Ursula Kreutel, pada 2011 ketika meresmikan perluasan fasilitas Porsche.

    Keluarga yang ingin membangun rumah di Weissach mendapat bonus pembangunan sebesar €10.000 per anak dari pemerintah kota. Sebuah perpustakaan empat lantai dibangun, piano seharga €100.000 dibeli, dan ada subsidi untuk les musik privat. Namun, sebagian besar dana disimpan di bank sebagai cadangan untuk masa sulit, janji Kreutel saat itu.

    Masa kejayaan telah berlalu

    Kini masa sulit benar-benar datang. Industri otomotif Jerman sedang mengalami krisis terdalam dalam sejarahnya. Di Porsche saja, laba anjlok sekitar 96% pada 2025. Industri lain pun kesulitan. Pendapatan pajak yang sangat diandalkan pemerintah daerah turun tajam. Bahkan, kota dan kabupaten yang dulu makmur kini tak lagi mampu menutup pengeluaran mereka.

    “Keuangan pemerintah daerah menurun drastis,” kata Ralph Spiegler, Presiden Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah Jerman (DStGB), yang juga menjabat sebagai Wali Kota Nieder-Olm di negara bagian Rheinland-Pfalz.

    Biaya sosial menggerus anggaran

    Di Jerman, kewenangan dan tanggung jawab dibagi antara pemerintah federal, negara bagian, dan daerah. Pemerintah daerah menangani banyak aspek kehidupan sehari-hari sehingga memikul beban tugas pemerintahan yang besar. Mulai dari pengelolaan sampah, penyediaan air, sekolah dan taman kanak-kanak, pemadam kebakaran, olahraga dan kebudayaan, hingga sebagian besar bantuan sosial.

    “Kami bicara tentang peningkatan hingga tiga kali lipat dalam 20 tahun terakhir, tanpa dukungan pendanaan yang sepadan,” jelas Spiegler.

    Biaya layanan anak dan remaja, layanan perawatan, serta dukungan integrasi bagi penyandang disabilitas saja mencapai sekitar €38 miliar pada 2007 dan terus naik sejak itu. Pada 2027, biayanya diperkirakan melampaui €102 miliar.

    Pembagian beban keuangan yang adil

    Integrasi pengungsi dan migran yang telah mendapat izin tinggal di Jerman juga menjadi tantangan besar. Sekolah, penyedia kursus bahasa dan integrasi, kantor ketenagakerjaan, serta terutama kantor imigrasi bekerja hingga batas kemampuan mereka.

    Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah mengusulkan cara baru untuk membagi biaya layanan sosial: pemerintah federal, negara bagian, dan daerah masing-masing menanggung sepertiga dari total pembiayaan di masa mendatang.

    Selain itu, pemerintah daerah ingin dilibatkan dalam proses pembuatan undang-undang. Saat ini, undang-undang dibuat oleh pemerintah federal dan negara bagian.

    “Dengan cara ini, bukan hanya beban keuangan, tetapi juga tanggung jawab untuk mereformasi layanan sosial akan dibagi ke semua tingkat pemerintahan,” kata Spiegler.

    Tanggung jawab bertambah, sumber daya menyusut

    Sebagian pihak bahkan menuntut lebih. Pada November 2025, para wali kota dari 16 ibu kota negara bagian Jerman menyampaikan seruan kepada pemerintah federal. Tuntutannya, setiap undang-undang yang menimbulkan biaya di masa depan bagi pemerintah daerah harus sejak awal disertai rencana kompensasi penuh. Prinsipnya, “siapa yang memerintahkan, dia yang membayar.”

    Dari total belanja tahunan pemerintah federal, negara bagian, dan daerah, sekitar 25% digunakan untuk tanggung jawab kota dan angkanya terus meningkat.

    “Namun, pemerintah daerah hanya menerima 14% dari total pendapatan pajak,” hitung Spiegler, menyebut kondisi ini sebagai sebuah ketimpangan.

    Defisit keuangan pemerintah daerah terus membesar dari tahun ke tahun.

    “Kami sudah menaikkan pajak daerah, pajak tanah dan pajak usaha, hingga batas maksimal yang masih bisa diterima masyarakat,” ujar Spiegler.

    Penghematan dan pemangkasan anggaran terjadi di mana-mana sehingga proyek pembangunan dihentikan, kegiatan budaya dan komunitas dibekukan.

    Menurut Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah, investasi untuk masa depan kini nyaris tak mungkin dilakukan. Bahkan, dana untuk perawatan dan renovasi gedung yang ada pun tidak cukup. Diperkirakan dibutuhkan €218 miliar (sekitar Rp3.742 triliun) untuk memperbaiki sekolah, balai kota, taman kanak-kanak, kolam renang, jembatan, dan jalan.

    Karena kota dan pemerintah daerah tidak diperbolehkan mengambil utang jangka panjang untuk biaya rutin seperti gaji, pemanas, dan energi, mereka setiap hari terpaksa mengambil pinjaman jangka pendek. Namun, pinjaman ini sangat mahal.

    Pemerintah negara bagian dan federal Jerman sebenarnya menyadari masalah keuangan yang dihadapi pemerintah daerah.

    “Kita harus membantu pemerintah daerah,” kata Kanselir Jerman Friedrich Merz dari Partai Demokrat Kristen (CDU) pada awal November lalu, merujuk pada beban layanan sosial.

    Namun, pemerintah negara bagian dan federal sendiri juga sedang berjuang mengelola anggaran mereka di tengah krisis ekonomi Jerman.

    Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil mengumumkan langkah-langkah bantuan bagi pemerintah daerah pada Desember 2025 tanpa memberikan rincian yang jelas.

    Artikel pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

    Diadaptasi oleh Hani Anggraini

    Editor: Yuniman Farid

    (ita/ita)

  • Gunungan Sampah di Filipina Runtuh, 1 Orang Tewas-38 Hilang

    Gunungan Sampah di Filipina Runtuh, 1 Orang Tewas-38 Hilang

    Manila

    Gunungan sampah runtuh di sebuah tempat pembuangan sampah di wilayah Filipina bagian tengah. Sedikitnya satu orang tewas, dengan puluhan orang lainnya dilaporkan hilang, dan dikhawatirkan tertimbun gunungan sampah, usai insiden tersebut.

    Para petugas penyelamat sedang melakukan operasi pencarian puluhan orang yang dinyatakan hilang tersebut.

    Insiden ini, seperti dilansir AFP dan Associated Press, Jumat (9/1/2026), terjadi di Tempat Pembuangan Sampah Binaliw, fasilitas yang dioperasikan swasta di Cebu City pada Kamis (8/1) sore waktu setempat.

    Puluhan pekerja sanitasi diduga terkubur ketika gunung sampah yang menjulang tinggi tiba-tiba menimpa mereka. Tidak diketahui secara jelas apakah ada penduduk setempat atau orang lainnya yang menjadi korban dalam insiden ini.

    “Itu pasti setinggi empat lantai,” tutur asisten petugas informasi publik kota setempat, Jason Morata, merujuk pada gunung sampah yang runtuh.

    Dikatakan direktur kepolisian regional, Brigadir Jenderal Roderick Maranan, bahwa satu korban tewas merupakan seorang pekerja wanita, yang meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit setempat. Dia menyebut beberapa pekerja lainnya yang mengalami luka-luka telah dilarikan ke rumah sakit.

    Wali Kota Nestor Archival dalam pernyataan terpisah via Facebook menyebut setidaknya 12 pekerja lainnya berhasil ditarik hidup-hidup dari timbunan gunung sampah yang runtuh dan kini dirawat di rumah sakit.

    Foto dari udara menunjukkan timbunan gunung sampah menimpa gedung-gedung Foto: AP Photo/Jacqueline Hernandez

    Dia juga mengatakan bahwa upaya pencarian dan penyelamatan terus berlanjut untuk 38 orang yang hilang.

    “Semua tim tanggap darurat sepenuhnya terlibat dalam upaya pencarian dan penyelamatan untuk menemukan orang-orang yang masih hilang dengan tetap mematuhi protokol keselamatan,” kata Archival.

    Foto yang diambil dari udara yang dirilis kepolisian menunjukkan apa yang tampak seperti beberapa bangunan yang hancur di bawah timbunan gunung sampah.

    Morata menyebut gedung yang hancur itu sebelumnya digunakan sebagai “kantor perusahaan, HRD, administrasi, dan staf pemeliharaan” untuk perusahaan swasta yang mengelola tempat pembuangan sampah.

    Penyebab runtuhnya gunung sampah itu belum diketahui secara jelas. Namun Morata menyebut beberapa hal dipertimbangkan berkontribusi dalam insiden itu.

    “Kami mempertimbangkan beberapa faktor. Jika Anda ingat, Cebu dilanda dua topan pada akhir tahun 2025… dan juga gempa bumi,” sebutnya.

    Salah satu pekerja di kantor tempat pembuangan sampah itu, Jaylord Antigua, mengatakan bahwa insiden tersebut terjadi sangat cepat tanpa ada peringatan dan terjadi dalam cuaca yang baik.

    Tempat pembuangan sampah itu, menurut situs operatornya Prime Integrated Waste Solutions, “memproses 1.000 ton sampah padat dari kota setiap hari”.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)