Category: CNNindonesia.com Internasional

  • Erdogan Sempat Wanti-wanti Rezim Assad: Suriah Milik Seluruh Rakyat

    Erdogan Sempat Wanti-wanti Rezim Assad: Suriah Milik Seluruh Rakyat

    Jakarta, CNN Indonesia

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan turut buka suara jelang keruntuhan pemerintahan Presiden Bashar Al Assad karena serbuan kelompok pemberontak.

    Komentar itu ia sampaikan dalam Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di KotaGaziantep pada Sabtu (7/12).

    “Suriah adalah milik rakyat Suriah beserta semua keberagaman etnis, sektarian, dan agama mereka,” kata Erdogan, dikutip dari Hurriyet Daily, Minggu (8/12).

    Saat itu, kelompok pemberontak Hayat Tahrir Al Sham (HTS) menguasai Provinsi Hamma dan Aleppo. Ini membuka jalan mereka menguasai Damaskus.

    Di kesempatan itu, Erdogan juga mengatakan Rakyat Suriah akan menentukan masa depan negara mereka sendiri.

    Ia lantas meminta para pihak yang bertanggung jawab dan semua organisasi internasional untuk mendukung pelestarian integritas teritorial Suriah.

    “Kini ada realitas baru di Suriah, secara politik dan diplomatik,” ungkap Erdogan.

    Pemerintah Assad, lanjut dia gagal memahami nilai bantuan yang diberikan Turki.

    Erdogan juga menyebut serangan terhadap warga sipil di Idlib yang meningkat merupakan “titik puncak” insiden baru-baru ini di Suriah.

    “Sebagai warga Turki, keinginan kami adalah agar tetangga kami, Suriah, segera mendapat kembali kedamaian, stabilitas, dan ketenangan yang telah dirindukan selama 13 tahun,” tutur Erdogan.

    Erdogan juga menyadari keinginan kelompok perlawanan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang ingin mengambil kesempatan karena situasi di Suriah. Dia lantas memperingatkan pemerintah tak akan menoleransi tindakan apa pun yang membahayakan keamanan nasional.

    PKK disebut memiliki organisasi sayap yang beroperasi di Suriah, Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

    “Turki ingin melihat Suriah di mana berbagai identitas hidup berdampingan secara damai dan berharap bisa melihat Suriah seperti itu dalam waktu dekat,” kata dia.

    Suriah, lanjut Erdogan, sudah cukup menderita karena perang.

    “Dan rakyat Suriah berhak atas kebebasan, keamanan, dan kedamaian di tanah air mereka,” imbuh dia.

    Suriah dalam cengkeraman HTS usai mereka berhasil menyerbu Damaskus. Di tengah huru-hara ini, Assad dan keluarganya kabur ke Rusia.

    (isa/bac)

    [Gambas:Video CNN]

  • Rusia Bicara soal Keberadaan Presiden Assad dan Kabar Pemberian Suaka

    Rusia Bicara soal Keberadaan Presiden Assad dan Kabar Pemberian Suaka

    Jakarta, CNN Indonesia

    Rusia buka suara soal keberadaan Presiden Suriah Bashar Al-Assad hingga kemungkinan pemberian status suaka terhadap sang presiden.

    Rusia menjadi sorotan usai Assad melarikan diri ke Moskow setelah digulingkan kelompok milisi Suriah pada Minggu (8/12), mengakhiri 24 tahun rezim otoriternya di negara Timur Tengah tersebut. Pemerintahan Presiden Vladimir Putin bahkan disebut bakal memberikan suaka politik terhadap Assad dan keluarganya.

    Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak mengonfirmasi atau membantah laporan terkait pemberian suaka terhadap Assad. Ia juga tak menjelaskan secara gamblang jika Assad tengah berlindung di Moskow.

    “Kami tidak memiliki informasi untuk disampaikan mengenai keberadaan Tuan Assad saat ini,” ujar Peskov kepada wartawan di Moskow pada Senin (9/12).

    Ketika ditanya apakah keputusan pemberian suaka diputuskan oleh Putin, Peskov menjawab: “tentu saja, keputusan seperti itu tidak bisa diambil tanpa kepala negara. Itu adalah keputusan beliau. Namun, saya tidak memiliki informasi lebih lanjut untuk Anda.”

    Sebuah sumber resmi di Rusia mengatakan kepada CNN pada Minggu malam bahwa Assad dan keluarganya telah tiba di Moskow setelah diberikan suaka di Rusia dengan alasan “kemanusiaan”.

    Ketika ditanya tentang kemungkinan pertemuan tatap muka antara Putin dan Assad, Peskov mengatakan bahwa “tidak ada pertemuan semacam itu dalam jadwal resmi presiden” dan menolak menyebutkan kapan terakhir kali kedua presiden itu bertemu.

    Sementara itu, Kremlin mengakui tantangan terkait pangkalan militernya di Suriah. Moskow menyatakan bahwa “segala upaya sedang dilakukan untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang dapat memastikan keamanan.”

    Mengenai apakah Rusia berharap mempertahankan pangkalan militernya di Suriah, Peskov menyebut bahwa “terlalu dini untuk membicarakan hal ini.”

    Ia menambahkan bahwa “dibutuhkan diskusi serius dengan mereka yang nantinya akan memiliki kewenangan.”

    “Apa yang terjadi mungkin mengejutkan seluruh dunia, dan kami juga,” ujarnya merujuk pada hilangnya dukungan dengan cepat terhadap Assad di kalangan militer dan pasukan keamanan Suriah.

    (rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Pemimpin Milisi yang Gulingkan Assad Bakal Bubarkan Kelompok Sendiri

    Pemimpin Milisi yang Gulingkan Assad Bakal Bubarkan Kelompok Sendiri

    Jakarta, CNN Indonesia

    Pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Abu Mohammed Al Julani membuka peluang untuk membubarkan kelompoknya jika tujuan HTS telah tercapai usai menggulingkan rezim Presiden Bashar Al Assad.

    Tujuan itu yakni memperbaiki Suriah pasca kejatuhan rezim Assad yang sudah berkuasa sejak 24 tahun terakhir.

    Dalam wawancara eksklusif dengan CNN, al-Julani mengatakan HTS merupakan faksi di Suriah yang sama seperti faksi-faksi lain di negara itu. Oleh sebab itu, HTS bisa bubar kapan saja apabila tujuan kelompok sudah tercapai.

    “Saat ini kita bicara tentang proyek yang lebih besar. Kita bicara tentang membangun Suriah. Hayat Tahrir al-Sham hanyalah salah satu bagian dari dialog ini, dan bisa bubar kapan saja. Ini bukan tujuan akhir,” kata al-Julani.

    Al-Julani menuturkan HTS merupakan sarana faksi-faksi dan oposisi untuk menghadapi rezim al-Assad. Jika Presiden telah digulingkan, HTS “akan bertransisi menjadi sebuah pemerintahan, institusi, dan lainnya.”

    Dalam kesempatan itu, al-Julani juga bicara mengenai masa depan Suriah jika rezim al-Assad telah digulingkan.

    Ia menegaskan pemerintah baru bakal merangkul semua aliran di Suriah tanpa ada satu pun yang dikucilkan apalagi dihapuskan.

    “Aliran-aliran ini telah hidup berdampingan di wilayah ini selama ratusan tahun, dan tidak ada yang berhak menghapusnya. Harus ada kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak semua orang, bukan sistem yang hanya melayani satu aliran saja seperti yang dilakukan rezim al-Assad,” ucapnya.

    Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan oleh kelompok milisi pada Minggu (8/12). Pasukan yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham itu merebut ibu kota Damaskus dalam serangan kilat hingga al-Assad melarikan diri ke Rusia.

    Penggulingan ini begitu mengejutkan karena terjadi sangat cepat dalam waktu kurang dari dua pekan. Kelompok pejuang berhasil merebut wilayah-wilayah yang diduduki rezim al-Assad selama sekitar 10 hari.

    Upaya penggulingan ini sebetulnya telah terjadi sejak lebih dari satu dekade lalu. Suriah dilanda perang saudara selama 13 tahun buntut dominasi kekuasaan al-Assad.

    Kini, pemerintahan Suriah akan dipegang sementara oleh mantan Perdana Menteri Mohammad Ghazi al-Jalali. Al-Jalali telah ditunjuk oleh HTS untuk mengawasi jalannya kementerian dan lembaga hingga pemerintahan baru menyelesaikan masa transisi.

    (blq/rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Milisi Suriah HTS Pastikan Tak Terkait Al Qaeda: Kami Benci Kekerasan

    Milisi Suriah HTS Pastikan Tak Terkait Al Qaeda: Kami Benci Kekerasan

    Jakarta, CNN Indonesia

    Pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Abu Mohammed al-Julani memastikan kelompoknya tak terkait dengan Al Qaeda dan ISIS meski pernah menjalin hubungan dengan kedua kelompok ekstremis tersebut.

    HTS merupakan milisi Suriah yang memimpin pemberontakan dan berhasil menggulingkan rezim Presiden Bashar Al-Assad dalam 11 hari pertempuran. Dalam wawancara eksklusif dengan CNN, al-Julani mengatakan HTS merupakan kelompok yang menjunjung tinggi persatuan dan antikekerasan.

    Ia menuturkan meski dirinya sempat terlibat dengan Al Qaeda dan ISIS selama berada di Irak dahulu, namun hal itu semata-mata karena ingin membantu rakyat Irak bukan karena ingin melakukan kekerasan.

    “Situasi ini harus dipahami dalam konteks sejarahnya. Terjadi perang besar di Irak yang sangat menggugah emosi masyarakat, mendorong banyak orang untuk pergi ke sana,” ucapnya.

    “Keadaan perang itu membawa orang ke berbagai tempat, dan jalan yang saya tempuh membawa saya ke salah satu lokasi tersebut. Mengingat tingkat kesadaran dan usia saya yang masih muda saat itu, tindakan saya berkembang hingga ke tempat saya saat ini,” lanjut al-Julani.

    Al-Julani berujar dirinya tak pergi ke Irak dengan niat melakukan peperangan. Ia hanya ingin membela rakyat Irak, dan ketika kembali ke Suriah, negara asalnya, ia tak mau membawa apa yang terjadi di sana ke negaranya.

    “Itulah sebabnya terjadi perselisihan antara kami dan ISIS,” ujarnya seperti dikutip CNN.

    Saat ditanya mengenai kekhawatiran masyarakat mengenai cap teroris yang disematkan negara-negara Barat kepada al-Julani, ia meminta agar masyarakat tak menilai hanya dari kata-kata.

    “Jangan menilai dari kata-kata, tapi nilailah dari tindakan. Klasifikasi ini terutama bersifat politis dan pada saat yang sama salah,” ujarnya.

    Ia berujar definisi teroris yakni orang yang dengan sengaja membunuh warga sipil, melukai orang yang tak bersalah, hingga menggusur orang.

    Definisi ini, kata dia, tak sesuai dengan dirinya dan HTS tetapi justru negara-negara Arab yang terlibat perang dan pembunuhan terhadap ribuan orang.

    Al-Julani merupakan mantan anggota Al Qaeda. Ia bergabung dengan milisi di Irak setelah invasi Amerika Serikat pada 2003 dan dipenjarakan di Kamp Bucca pada 2005.

    Dilansir dari BBC, selama di penjara, al-Julani meningkatkan afiliasi jihadisnya dan akhirnya diperkenalkan kepada Abu Bakr al-Baghdadi, ulama pendiam yang kemudian menjadi pemimpin ISIS.

    Pada 2011, Baghdadi mengirim al-Julani ke Suriah dengan dana untuk mendirikan Front al-Nusra, sebuah faksi rahasia yang terkait Negara Islam Irak (ISI).

    Pada 2012, front tersebut berubah menjadi pasukan tempur Suriah, sambil menyembunyikan hubungannya dengan ISI dan Al Qaeda.

    Ketegangan kemudian muncul pada 2013 ketika kelompok Baghdadi di Irak secara sepihak mendeklarasikan penggabungan ISI dan Front al-Nusra serta mendeklarasikan pembentukan negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

    Al-Julani menolak bergabung karena tak sepakat dengan taktik kekerasan ISIS.

    Ia pun mencoba keluar dengan berjanji setia kepada Al Qaeda pada 2013 untuk menjadikan Front al-Nusra sebagai cabangnya di Suriah.

    Hubungan Front al-Nusra dengan Al Qaeda telah membuat hubungannya dengan ISIS menjauh. Selama berada di Suriah, al-Julani juga terus menjauhkan diri dari kebrutalan ISIS dan menekankan pendekatan jihad yang lebih pragmatis.

    Namun, hubungannya dengan Al Qaeda juga tak berlangsung lama. Al-Julani memutuskan hubungan dengan Al Qaeda pada 2016 karena merasa afiliasi tersebut tak berdampak pada upayanya yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat lokal Suriah.

    Pada Minggu (8/12), Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan usai HTS memimpin upaya pemberontakan selama kurang dari dua pekan.

    Pasukan milisi yang dipimpin oleh HTS merebut ibu kota Damaskus dalam serangan kilat hingga al-Assad melarikan diri ke Rusia.

    Upaya penggulingan ini sebetulnya telah terjadi sejak lebih dari satu dekade lalu. Suriah dilanda perang saudara selama 13 tahun buntut dominasi kekuasaan al-Assad.

    Kini, pemerintahan Suriah akan dipegang sementara oleh mantan Perdana Menteri Mohammad Ghazi al-Jalali. Al-Jalali telah ditunjuk oleh HTS untuk mengawasi jalannya kementerian dan lembaga hingga pemerintahan baru menyelesaikan masa transisi.

    (blq/rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Bagaimana Pemberontak Suriah HTS Gulingkan Assad Hanya dalam 11 Hari?

    Bagaimana Pemberontak Suriah HTS Gulingkan Assad Hanya dalam 11 Hari?

    Jakarta, CNN Indonesia

    Pemerintahan panjang Presiden Suriah Bashar Al Assad resmi berakhir pada Minggu (8/12) usai kelompok pemberontak melancarkan serangan signifikan dalam waktu 11 hari atau kurang dari dua pekan.

    Pemberontakan itu dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS), sebuah organisasi yang dikepalai Abu Mohammed al-Julani. Ia merupakan mantan anggota kelompok ekstremis Al Qaeda yang pernah membawa kelompoknya menjalin kerja sama dengan Al Qaeda dan ISIS.

    Bagaimana kelompok HTS memimpin pemberontakan hingga menggulingkan rezim Al Assad dalam waktu cepat?

    Hayat Tahrir Al Sham (HTS) telah memimpin pemberontakan terhadap rezim al-Assad sejak 27 November lalu. Serangan itu dimulai di Idlib, yang tiga hari kemudian dilanjutkan di Aleppo.

    HTS terus merebut wilayah-wilayah yang dikuasai rezim al-Assad dalam kurun waktu itu hingga mereka berhasil merebut Damaskus pada 8 Desember. Damaskus merupakan wilayah yang menjadi tempat tinggal Presiden Bashar al-Assad.

    Al Assad melarikan diri dari Damaskus ketika pasukan pemberontak memasuki kota itu dan membuat para pemberontak tak perlu repot-repot bertempur.

    Menurut para analis, kaburnya al-Assad dari Suriah ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, Suriah tengah menghadapi masalah ekonomi parah, ditambah Rusia dan Iran tak lagi memberikan pasokan pertahanan bagi rezim Assad sebanyak dulu.

    Rusia dan Iran merupakan negara-negara yang sangat mendukung pemerintahan Bashar al-Assad. Kendati begitu, Rusia belakangan terjebak dalam invasinya di Ukraina, serta Iran dan milisi Hizbullah Lebanon mulai goyah gegara serangan Israel.

    Mereka tak bisa lagi fokus membantu pertahanan rezim Al Assad.

    Di tengah situasi ini, Hayat Tahrir al-Sham membuat keputusan. Mereka memimpin pemberontakan setelah selama ini menyatukan nyaris seluruh kelompok oposisi, milisi, dan warga sipil di Suriah untuk melawan bersama sang Presiden.

    Suriah telah dilanda perang saudara selama 13 tahun sejak protes damai 2011. Saat itu, warga dan oposisi ingin pemerintah diganti namun justru menghadapi kekerasan dari rezim Al Assad.

    Perang saudara Suriah telah menewaskan ratusan ribu orang dan membuat jutaan orang mengungsi. Negara-negara lain bahkan ikut mengintervensi seperti Iran, Rusia, Amerika Serikat, Arab Saudi, serta Turki.

    Kondisi ini membuat perang saudara Suriah semakin runyam hingga akhirnya Hayat Tahrir al-Sham memutuskan untuk menyatukan seluruh elemen penentang Al Assad demi menyudahi perang sia-sia tersebut.

    Dilansir dari Al Jazeera, HTS telah bersekutu dengan sejumlah faksi antara lain Front Nasional untuk Pembebasan, Ahrar al-Sham, Jaish al-Izza, Gerakan Nour al-Din Al Zenki, serta faksi-faksi yang didukung Turki yang berada di bawah payung Tentara Nasional Suriah.

    Persekutuan ini dibangun bukan dalam waktu sebentar. HTS telah menjalin hubungan dengan mereka selama lebih dari satu tahun terakhir.

    Bersambung ke halaman berikutnya…

    Dilansir dari BBC, HTS memulai beberapa reformasi usai menghadapi kritik karena dianggap menghindari pertempuran melawan pasukan pemerintah.

    HTS merupakan kekuatan dominan di Idlib. Namun kelompok ini disebut-sebut bersikap otoriter layaknya rezim al-Assad dengan menekan perbedaan pendapat serta membungkam para kritikus. Banyak yang akhirnya menyebut HTS sebagai pengikut setia Al Assad.

    Merespons kritik ini, HTS pun memulai reformasi. Mereka membubarkan atau mengganti nama pasukan keamanan kontroversial yang dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan mendirikan “Departemen Pengaduan” untuk memungkinkan warga mengajukan aduan terhadap mereka.

    HTS dan sayap sipilnya, Pemerintah Keselamatan Suriah (SG), kemudian berusaha keras menampilkan citra modern dan moderat untuk memenangkan hati masyarakat dan komunitas internasional.

    Mereka mengusung persatuan di bawah kepemimpinan tunggal dan pada saat yang sama, mempertahankan identitas Islamis guna memuaskan kelompok garis keras di wilayah yang dikuasai pemberontak dan jajaran HTS.

    Pemimpin HTS, Abu Mohammed Al Julani, dalam wawancaranya dengan The New York Times mengatakan bahwa tujuan utama HTS yakni “membebaskan Suriah dari rezim yang menindas ini.”

    Kepemimpinan HTS di bawah Al Julani sedikit banyak telah berhasil memikat masyarakat dan oposisi rezim karena ia secara tak langsung mengubah gerakan ekstremis seperti Al Qaeda dan ISIS menjadi tak lagi efektif.

    Al Julani sendiri merupakan mantan anggota Al Qaeda. Menurut laporan media Arab dan pejabat AS, ia sempat menghabiskan beberapa tahun di penjara Amerika di Irak.

    Pada 2011, ia membentuk Front Al Nusra, sebuah faksi rahasia yang terkait dengan Negara Islam Irak (ISI). Pada 2012, faksi itu berubah menjadi pasukan tempur Suriah yang menonjol, yang menyembunyikan hubungannya dengan ISI dan Al Qaeda.

    Ketegangan kemudian terjadi pada 2013 kala ISI secara sepihak mendeklarasikan penggabungan dengan Front Nusra dan mendeklarasikan pembentukan ISIS.

    Al-Julani tak ingin terlibat kekerasan seperti ideologi ISI sehingga berpura-pura berjanji kepada Al Qaeda untuk menjadikan Front Nusra sebagai cabangnya di Suriah.

    Ia kemudian membawa Front Nusra ke Suriah sekitar awal perang saudara. Kelompok ini akhirnya berkembang menjadi Hayat Tahrir al-Sham yang menekankan pendekatan jihad yang lebih pragmatis.

  • AS-Israel Syok Lihat Milisi Suriah Bisa Gulingkan Assad dalam 11 Hari

    AS-Israel Syok Lihat Milisi Suriah Bisa Gulingkan Assad dalam 11 Hari

    Jakarta, CNN Indonesia

    Amerika Serikat dan Israel disebut terkejut melihat milisi Suriah berhasil menggulingkan rezim otoriter Bashar Al Assad pada Minggu (8/12) lalu hanya dalam 11 hari pemberontakan.

    AS terkejut karena tidak menyangka kelompok pemberontak Suriah berhasil menjatuhkan rezim Assad tidak lama usai mereka merebut Kota Aleppo dan memperluas pemberontakan sejak akhir November lalu.

    “Saya pikir semua yang terjadi mengejutkan mereka (AS). Banyak dari kami, para analis dan pengamat Suriah, bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Qutaiba Idlbi, seorang peneliti senior di Atlantic Council yang berpusat di Washington DC kepada Al Jazeera.

    “Saya merasa kejadian di lapangan berjalan terlalu cepat sehingga mereka tidak dapat mengejarnya, terutama dalam masa sidang yang tidak menentukan ini,” lanjutnya.

    Senada, Komunitas Intelijen Israel juga tidak menyangka kelompok pemberontak Suriah berhasil menggulingkan rezim Assad yang sudah berkuasa 50 tahun dalam waktu singkat.

    Meski begitu, Israel juga khawatir akan keberadaan kelompok pemberontak Suriah yang telah berhasil menggulingkan Assad. Israel khawatir mereka bakal melakukan tindakan yang lebih parah di kemudian hari.

    Sebelumnya, kelompok pemberontak Suriah berhasil menguasai ibu kota Damaskus dan menggulingkan rezim otoriter Presiden Bashar Al Assad pada Minggu (8/12).

    Usai digulingkan oleh warga Suriah, Assad kini melarikan diri ke Rusia. Ia terbang ke Moskow guna meminta suaka politik kepada Presiden Vladimir Putin.

    Saat ini, Rusia dilaporkan juga sudah memberi suaka politik kepada Assad. Suaka ini diberikan sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap Suriah yang sudah terjalin sejak lama.

    (gas/rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Milisi Suriah HTS Pastikan Tak Terkait Al Qaeda: Kami Benci Kekerasan

    Kenapa Milisi Suriah Minta Eks PM Pegang Pemerintahan Sementara?

    Jakarta, CNN Indonesia

    Pemimpin pejuang Suriah menunjuk mantan Perdana Menteri Mohammed Ghazi Al Jalali sebagai pemimpin sementara negara tersebut usai Presiden Bashar Al Assad digulingkan.

    Pemimpin milisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS), Abu Mohammed Al Julani, mengatakan Al Jalali akan menjadi pemimpin sementara Suriah di kala kekosongan pemimpin usai Assad digulingkan.

    Ia berujar langkah ini diambil sembari pihak berwenang mempersiapkan pemilihan umum dan membentuk pemerintahan baru.

    Al Julani mengatakan Al Jalali bakal bertugas mengawasi operasional kementerian dan lembaga negara hingga badan-badan tersebut sepenuhnya diserahkan ke pemerintahan baru. Selama waktu itu, pasukan militer di Damaskus tidak boleh mendekati lembaga-lembaga negara dan tak boleh melepaskan tembakan di udara.

    Dalam keterangan terpisah, Al Jalali menyatakan bahwa pemerintahannya siap untuk menyerahkan kekuasaan kepada kepemimpinan mana pun yang dipilih rakyat.

    “Saya tidak akan pergi dan tidak berniat untuk pergi. Saya berharap agar kelangsungan penyelenggaraan negara, lembaga negara, dan aparatur negara dapat terjamin secara damai, dan keselamatan serta keamanan seluruh warga negara juga dapat terjamin,” kata al-Jalali dalam sebuah pernyataan video, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (8/12).

    Al-Jalali berujar pemerintahannya terbuka dengan pihak mana pun, termasuk oposisi. Asalkan, oposisi menjamin bahwa mereka tak akan membahayakan warga Suriah serta warga negara lain di Suriah.

    Dalam wawancara dengan Al Arabiya, al-Jalali mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan pemimpin HTS untuk membahas pengelolaan masa transisi saat ini. Ia juga menuturkan Suriah harus mengadakan pemilihan umum secara bebas.

    Al-Jalali turut menyampaikan soal keberadaan Presiden Bashar al-Assad menteri pertahanan yang tak ia ketahui. Ia mengaku sudah putus kontak dengan sang Presiden sejak Sabtu (7/12) malam.

    Al-Jalali ditunjuk sebagai Perdana Menteri Suriah oleh Presiden Bashar al-Assad pada September lalu. Namun, pemerintahan al-Assad digulingkan pemberontak pada Minggu sehingga masa pemerintahan dia dan al-Assad berakhir.

    Al-Assad melarikan diri ke Rusia saat digulingkan. Setelah al-Assad kabur, al-Jalali dikawal oleh para milisi menuju sebuah hotel untuk membahas soal transisi pemerintahan.

    (blq/rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Momen Komandan Pemberontak Suriah Disambut bak Pahlawan

    Momen Komandan Pemberontak Suriah Disambut bak Pahlawan

    Jakarta, CNN Indonesia

    Komandan pemberontak Suriah al-Golani mendapat sambutan saat memasukki Masjid Ummayah, Damaskus pada Minggu (8/12).

    Golani berbicara di dalam masjid setelah para pemberontak menggulingkan Presiden Bashar al-Assad.

  • Selamat dari Pemakzulan, Korsel Cekal Presiden Yoon Ke Luar Negeri

    Selamat dari Pemakzulan, Korsel Cekal Presiden Yoon Ke Luar Negeri

    Jakarta, CNN Indonesia

    Korea Selatan melarang Presiden Yoon Suk Yeol bepergian keluar negeri usai lolos dari mosi pemakzulan setelah drama penetapan darurat militer sepihak pada Sabtu (7/12).

    Larangan bepergian terhadap presiden ini dikonfirmasi oleh Kantor Investigasi Korupsi Korsel pada Senin (9/12). Pencekalan ini dikeluarkan polisi Korsel ketika jaksa mempertimbangkan kemungkinan menjatuhkan dakwaan terhadap Yoon atas dugaan upaya pemberontakan dengan menerapkan darurat militer namun gagal pada 3 Desember lalu. 

    Dikutip CNN, polisi melarang perjalanan Yoon ketika seorang komandan pasukan khusus Korsel meminta maaf lantaran membantu pengerahan pasukan ke gedung parlemen saat sang presiden mendeklarasikan darurat militer. Pengerahan pasukan ditujukan demi menghalau anggota parlemen agar tidak bisa menggagalkan darurat militer sepihak.

    Sementara itu, eks menteri pertahanan Korsel, Kim Yong Hyun, juga telah ditangkap polisi. Ia diduga menjadi salah satu dalang penetapan darurat militer.

    Tindakan Yoon memicu parlemen Korsel melayangkan mosi pemakzulan dan demonstrasi besar-besaran secara nasional di Negeri Ginseng. Meski begitu, parlemen gagal memakzulkan sang presiden setelah anggota dari partai pengusung Yoon, PPP, walk out ruang rapat. Padahal, parlemen hanya membutuhkan delapan suara dari anggota PPP agar mosi pemakzulan mencapai dua pertiga suara lantaran saat ini legislatif dikuasai oposisi.

    Meskipun Yoon selamat dari mosi pemakzulan di parlemen, masa depan politiknya tetap berada di ujung tanduk. Partainya menyatakan akan mendorong pengunduran diri Yoon dan meminta agar presiden diskors dari tugasnya demi melindungi negara dari “bahaya besar.”

    Pada Sabtu, Yoon menyampaikan permintaan maaf publik pertamanya sejak upaya memberlakukan darurat militer sepihaknya itu. Ia mengakui bahwa keputusannya itu “menimbulkan kecemasan dan ketidaknyamanan” bagi warga Korea Selatan.

    “Deklarasi darurat militer ini muncul dari keputusasaan saya sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab tertinggi atas urusan negara,” kata Yoon dalam pidatonya selama dua menit itu.

    Yoon semula berdalih memberlakukan darurat militer demi mencegah pengaruh komunis Korea Utara menyusup institusi negara. Namun, belakangan Yoon diketahui melakukan itu demi mencegah parlemen memakzulkannya dan menghindari penyelidikan kriminal terhadap dia dan sang istri.

    (rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • AS Dukung Transisi Pemerintahan Suriah usai Rezim Assad Tamat

    AS Dukung Transisi Pemerintahan Suriah usai Rezim Assad Tamat

    Jakarta, CNN Indonesia

    Amerika Serikat mendukung penuh transisi pemerintahan Suriah usai rezim otoriter Bashar Al Assad digulingkan oleh kelompok pemberontak pada Minggu (8/12).

    Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, berharap transisi pemerintahan tersebut bisa dilakukan secara damai.

    “AS sangat mendukung transisi kekuasaan secara damai menuju pemerintahan Suriah yang bertanggung jawab melalui proses inklusif yang dipimpin oleh Suriah,” kata Blinken dilansir Al Jazeera.

    Blinken menambahkan, transisi pemerintahan ini bakal menjadi harapan bagi warga Suriah untuk lepas dari pemerintahan yang otoriter.

    Sebab selama masa transisi, warga Suriah punya hak “untuk menuntut pemeliharaan institusi negara, kelanjutan layanan utama, dan perlindungan bagi komunitas yang rentan.”

    “Selama periode transisi ini, rakyat Suriah memiliki hak penuh untuk menuntut pemeliharaan institusi negara, kelanjutan layanan utama, dan perlindungan bagi komunitas yang rentan,” ujar Blinken.

    “Kami telah mencatat pernyataan yang dibuat oleh para pemimpin pemberontak dalam beberapa hari terakhir. Namun, seiring mereka mengambil tanggung jawab lebih besar, kami akan menilai bukan hanya kata-kata mereka, tetapi juga tindakan mereka,” tambahnya.

    Sebelumnya, Presiden AS, Joe Biden, juga sudah membuat pernyataan soal jatuhnya rezim Al Assad di Suriah. Ia mengatakan bahwa jatuhnya rezim Al Assad merupakan “keadilan mendasar” bagi warga Suriah.

    Hal tersebut disampaikan beberapa jam setelah Bashar Al Assad meninggalkan Suriah saat pemberontak memasuki Damaskus.

    Biden kemudian menyatakan Bashar al-Assad yang kini sudah tumbang harus bertanggung jawab atas kekuasaannya atas Suriah sekarang setelah pemerintahannya digulingkan.

    “Akhirnya, rezim Assad telah jatuh. Rezim ini telah melakukan kebrutalan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap ratusan ribu warga Suriah yang tidak bersalah. Jatuhnya rezim ini adalah tindakan keadilan yang mendasar,” tutur Biden.

    Usai digulingkan dari kursi presiden, Al Assad kini dilaporkan berada di Rusia. Ia terbang ke Moskow guna mencari suaka politik.

    (gas/bac)

    [Gambas:Video CNN]