Category: CNNindonesia.com Internasional

  • Tersangka Pengkhianatan, Presiden Korsel Terancam Hukuman Mati

    Tersangka Pengkhianatan, Presiden Korsel Terancam Hukuman Mati

    Jakarta, CNN Indonesia

    Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup jika terbukti bersalah melakukan ‘pengkhianatan tingkat tinggi’ terhadap negara dan penyalahgunaan kekuasaan.

    Ancaman ini menyusul tindakan Yoon yang menetapkan status darurat militer di Korsel dan kemudian mencabutnya secara tiba-tiba pada 4 Desember lalu.

    Ia dianggap telah melakukan drama kepada publik Korsel dengan menetapkan status darurat militer dan mencabutnya secara tiba-tiba, dilansir dari Euro News.

    Saat ini, Yoon juga sudah ditetapkan sebagai tersangka drama darurat militer tersebut oleh pengadilan Korsel.

    Dalam konferensi pers yang dihelat pada Minggu (8/12), kepala tim penyelidikan khusus kejaksaan, Park Se Hyun, menyatakan bahwa penyelidikan telah dimulai sesuai prosedur setelah banyak pengaduan diajukan terhadap Yoon.

    “Prosedur standar adalah mendaftarkan seseorang sebagai tersangka ketika ada pengaduan atau tuduhan yang diajukan,” kata Park seperti dikutip The Korea Times.

    Dari pengaduan ini, Park menuturkan timnya akan membuka penyelidikan terhadap sang presiden atas tuduhan pengkhianatan dan penyalahgunaan kekuasaan.

    “Pada dasarnya, kasus ini melibatkan pejabat publik yang menyalahgunakan kewenangan untuk memprovokasi pemberontakan dengan tujuan mengganggu tatanan konstitusi. Tindakan ini memenuhi kriteria pengkhianatan dan penyalahgunaan kekuasaan berdasarkan hukum,” ujar Park.

    Imbas drama darurat militer ini, parlemen Korsel melakukan rapat untuk mengusulkan pengunduran diri Yoon dari kursi presiden.

    Namun, Yoon akhirnya selamat dari rencana pemakzulan karena usulan parlemen Korsel untuk memakzulkannya tidak disetujui oleh sebagian besar anggota parlemen.

    (gas/bac)

    [Gambas:Video CNN]

  • Presiden Korsel Ditetapkan Tersangka Gegara Drama Darurat Militer

    Presiden Korsel Ditetapkan Tersangka Gegara Drama Darurat Militer

    Jakarta, CNN Indonesia

    Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol telah ditetapkan sebagai tersangka oleh jaksa negara atas dugaan pengkhianatan terhadap negara dan penyalahgunaan kekuasaan.

    Jaksa Korsel menetapkan Yoon sebagai tersangka dalam penyelidikan yang meluas terkait penetapan darurat militer sepihak yang diterapkan sang presiden tiba-tiba pada 3 Desember lalu.

    Dalam konferensi pers Minggu (8/12), Kepala tim penyelidikan khusus kejaksaan, Park Se Hyun menyatakan bahwa penyelidikan telah dimulai sesuai prosedur setelah banyak pengaduan diajukan terhadap Yoon.

    “Prosedur standar adalah mendaftarkan seseorang sebagai tersangka ketika ada pengaduan atau tuduhan yang diajukan,” kata Park seperti dikutip The Korea Times.

    Dari pengaduan ini, Park menuturkan timnya akan membuka penyelidikan terhadap sang presiden atas tuduhan pengkhianatan dan penyalahgunaan kekuasaan.

    “Pada dasarnya, kasus ini melibatkan pejabat publik yang menyalahgunakan kewenangan untuk memprovokasi pemberontakan dengan tujuan mengganggu tatanan konstitusi. Tindakan ini memenuhi kriteria pengkhianatan dan penyalahgunaan kekuasaan berdasarkan hukum,” ujar Park.

    Tuduhan pengkhianatan terhadap Yoon tidak dilindungi oleh kekebalan konstitusional yang dimiliki presiden, sehingga penyelidikan dapat dilanjutkan terlepas dari hasil pemungutan suara pemakzulan pada Sabtu.

    Jaksa juga telah lebih dulu menahan mantan Menteri Pertahanan Korsel Kim Yong-hyun atas tuduhan pengkhianatan pada Minggu pagi.

    Ia ditangkap sekitar enam jam setelah secara sukarela hadir untuk pemeriksaan di Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Seoul pukul 01.30 dini hari. Setelah pemeriksaan awal, jaksa menempatkannya dalam tahanan, menyita ponselnya, serta menggeledah kediaman resmi dan kantor lamanya.

    Kim dituduh sebagai otak di balik seluruh drama darurat militer sepihak yang diterapkan presiden ini. 

    Jaksa menilai tuduhan pengkhianatan yang dilakukan Kim sebagai kejahatan serius, sehingga penahanan darurat diperlukan karena ada kekhawatiran akan kemungkinan penghilangan barang bukti.

    Kim dipindahkan ke pusat tahanan di timur Seoul. Jaksa diharuskan memperoleh surat perintah penangkapan resmi dari pengadilan dalam waktu 48 jam setelah penahanan tersebut.

    Kejaksaan juga memperoleh surat perintah pengadilan untuk mengamankan catatan telepon Kim, dengan spesifikasi tuduhan pengkhianatan serta pemberontakan berdasarkan hukum pidana militer.

    Kim, yang merupakan orang dekat Yoon dan teman sekolahnya di SMA Chungam, diduga mengusulkan deklarasi hukum militer dan memainkan peran penting dalam merancang rencana tersebut bersama presiden.

    Jaksa sedang menyelidiki keterlibatannya dalam deklarasi hukum militer oleh presiden, pencabutannya, serta pengerahan pasukan bersenjata ke Majelis Nasional dan Komisi Pemilihan Nasional.

    (rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Bendera Bintang Tiga Berkibar di Kedutaan Suriah Moskow

    Bendera Bintang Tiga Berkibar di Kedutaan Suriah Moskow

    Jakarta, CNN Indonesia
    Diaspora Suriah di Rusia membentangkan bendera kelompok oposisi usai rezim Bashar Al Assad lengser pada Minggu (8/12).

    Bagikan:

    url telah tercopy

  • Fakta-fakta Terbaru Jatuhnya Rezim Bashar Al Assad di Suriah

    Fakta-fakta Terbaru Jatuhnya Rezim Bashar Al Assad di Suriah

    Daftar Isi

    Jakarta, CNN Indonesia

    Milisi Suriah Hayat Tahrir al Sham (HTS) berhasil menguasai ibu kota Damaskus dan menggulingkan rezim otoriter Presiden Bashar Al Assad pada Minggu (8/12) kemarin.

    Keberhasilan mereka menguasai Damaskus ini menandai berakhirnya rezim Al Assad usai 50 tahun berkuasa di Suriah.

    Berikut fakta-fakta jatuhnya rezim Assad di Suriah seperti yang sudah dirangkum CNNIndonesia.com.

    Dilakukan dalam waktu singkat

    Penggulingan rezim Assad di Suriah oleh milisi HTS dilakukan dalam waktu yang terbilang singkat. Sebab, aksi ini dilakukan hanya 11 hari setelah HTS berhasil merebut kembali salah satu kota penting di Suriah, Aleppo, pada akhir November lalu.

    HTS merebut Aleppo pada 27 November. Kemudian, pada 5 November, kelompok pemberontak HTS kembali melakukan serangan ke salah satu kota penting di Suriah, Hama.

    Pada sore harinya, tentara Suriah mengakui kehilangan kendali atas kota yang terletak di antara Aleppo dan basis kekuasaan Presiden Bashar al-Assad di ibukota Damaskus tersebut.

    Berselang 3 hari, tepatnya pada 8 November, milisi Suriah dilaporkan berhasil menguasai Damaskus dan menggulingkan rezim otoriter Assad.

    Assad kabur ke Rusia

    Usai resmi digulingkan, Assad yang sudah menjadi mantan Presiden Suriah pun langsung melarikan diri ke Rusia guna mencari suaka politik. Ia dilaporkan terbang ke Moskow pada hari yang sama saat milisi Suriah menguasai Damaskus.

    Negeri Beruang Merah saat ini juga sudah memberi suaka politik kepada Assad. Pemberian suaka politik ini merupakan bentuk solidaritas Rusia kepada Suriah yang sudah berjalan sejak 2000-an.

    Rumah Assad dijarah warga

    Saat Assad terbang ke Rusia, warga Suriah dilaporkan menjarah rumahnya di istana kepresidenan di ibu kota Damaskus. Aksi ini dilakukan di hari yang sama kelompok pemberontak Suriah menguasai ibu kota Damaskus dan menggulingkan rezim otoriter Assad, yakni pada Minggu (8/12).

    Video yang beredar di media sosial menunjukkan para warga menjarah rumah Assad dan membawa kabur sejumlah barang berharga. Beberapa di antaranya, seperti lukisan mewah, perabotan, peralatan dapur, sejumlah senjata, hingga uang tunai, demikian dikutip NDTV.

    Selain itu, para warga juga dilaporkan menjarah garasi mobil yang terletak di bawah rumah. Garasi mobil itu berisi sejumlah mobil mewah milik Assad. Beberapa di antaranya, seperti Porsche, Mercedes-Benz, Ferrari, Audi, dan beberapa mobil SUV yang dilapisi baja.

    Bendera bintang tiga jadi foto profil sejumlah Kedubes Suriah

    Usai rezim Assad digulingkan milisi HTS, akun media sosial kedutaan besar Suriah di sejumlah negara dilaporkan mengganti foto profil mereka dengan foto bendera kelompok pemberontak.

    Kedutaan besar Suriah di Indonesia, Malaysia, dan Mesir dilaporkan telah mengganti foto profil mereka yang semula bergambar bendera Suriah bergaris merah, putih, dan hitam dengan bendera bergaris hijau, putih, dan hitam yang dilengkapi tiga bintang merah di bagian tengahnya.

    Bendera ini merupakan bendera yang digunakan oleh aktivis anti-Assad.

    Tindakan ini dilakukan oleh sejumlah kedubes Suriah usai kelompok pemberontak berhasil merebut ibu kota Damaskus dan menggulingkan rezim otoriter Bashar Al Assad pada Minggu (8/12) lalu.

    HTS minta eks PM Suriah jadi pemimpin sementara

    Usai Presiden Assad digulingkan, milisi Suriah menunjuk mantan Perdana Menteri Mohammed Ghazi Al Jalali sebagai pemimpin sementara negara tersebut.

    Pemimpin milisi Hayat Tahrir al Sham (HTS), Abu Mohammed Al Julani, mengatakan Al Jalali akan menjadi pemimpin sementara Suriah sampai pemerintahan selesai menjalani transisi.

    Ia berujar Al Jalali bakal bertugas mengawasi operasional kementerian dan lembaga negara hingga badan-badan tersebut sepenuhnya diserahkan ke pemerintahan baru.

    Selama waktu itu, pasukan militer di Damaskus tidak boleh mendekati lembaga-lembaga negara dan tak boleh melepaskan tembakan di udara.

    (gas/dna/bac)

    [Gambas:Video CNN]

  • Mungkinkah Israel Dalangi Konflik Suriah Jatuhkan Presiden Pro-Rusia?

    Mungkinkah Israel Dalangi Konflik Suriah Jatuhkan Presiden Pro-Rusia?

    Jakarta, CNN Indonesia

    Pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al Assad resmi berakhir usai pasukan milisi merebut ibu kota Damaskus pada Minggu (8/12) hingga membuat Al Assad melarikan diri ke Rusia.

    Penggulingan Al Assad ini dipimpin oleh Hayat Tahrir Al Sham (HTS), kelompok milisi terkuat di Suriah yang telah menentang rezim Al Assad terutama sejak perang sipil berkecamuk di Suriah pada 2011.

    Kelompok ini menjadi sumbu utama dalam kebangkitan faksi-faksi di Suriah hingga berhasil menggulingkan Presiden Al Assad yang telah memimpin negara itu sejak tahun 2000.

    Menurut sejumlah pihak, aksi HTS menggulingkan Al Assad memiliki kaitan dengan Israel. Pasalnya, tak lama setelah Al Assad digulingkan, pasukan Israel melancarkan operasi ke wilayah perbatasan Suriah untuk merebut zona penyangga di Dataran Tinggi Golan.

    Zona penyangga Dataran Tinggi Golan didirikan berdasarkan perjanjian gencatan senjata tahun 1974 antara Israel dan Suriah.

    Israel merebut sebagian wilayah Dataran Tinggi Golan dalam Perang Enam Hari pada 1967 silam. Suriah berusaha merebut kembali pada 1973 namun gagal.

    Oleh sebab itu, zona penyangga dibuat untuk memisahkan wilayah yang dikuasai Israel dan wilayah yang masih dikuasai Suriah.

    “Saya memerintahkan [militer Israel] kemarin untuk merebut zona penyangga dan posisi komando di dekatnya. Kami tidak akan membiarkan kekuatan musuh apa pun membangun diri di perbatasan kami,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu.

    Seiring dengan ini, apakah mungkin Israel mendalangi konflik di Suriah yang menggulingkan Presiden Al Assad?

    Punya dampak besar di Timur Tengah

    Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Yon Machmudi, mengatakan serangan intensif Israel terhadap pos-pos milisi di Suriah yang berafiliasi dengan Iran memiliki dampak signifikan pada kejatuhan rezim Al Assad.

    Yon berujar serangan Israel tersebut telah menguntungkan kelompok perlawanan Hayat Tahrir Al Sham (HTS) yang sejak awal memang berniat menggulingkan Al Assad.

    “HTS diuntungkan oleh serangan-serangan intensif Israel terhadap pos-pos milisi yang berafiliasi dengan Iran termasuk juga beberapa Garda Iran, Al Quds, yang berada di Suriah, itu kan banyak mendapat serangan dan menjadi target pembunuhan yang dilakukan oleh Israel sehingga melemahkan posisi dukungan Iran terhadap Bashar Al Assad,” kata Yon kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/12).

    “Nah ini yang menjadikan serangan dari HTS bisa berdampak sangat besar terhadap jatuhnya Bashar Al Assad,” lanjutnya.

    Belum ada bukti kuat

    Kendati begitu, meski ada pengaruh dari Israel atas penggulingan Al Assad oleh HTS, hingga kini belum ada bukti khusus bahwa Israel secara sengaja mendalangi situasi ini.

    Yon menyatakan HTS tak punya hubungan dengan Israel karena belum ada bukti keduanya berkomunikasi terkait penggulingan sang Presiden.

    Situasi yang terjadi di Suriah, menurutnya, hanyalah efek domino dari perang yang sedang berkecamuk belakangan, seperti perang Rusia vs Ukraina serta Israel vs Palestina.

    Selain Iran, Rusia adalah salah satu negara pendukung utama rezim Al Assad. Namun, perang panas Rusia dan Ukraina belakangan telah membuat dukungan Kremlin terhadap Al Assad tak lagi optimal.

    Serangan-serangan Israel terhadap Iran dan sekutunya, termasuk Hizbullah Lebanon, juga telah mengakibatkan Al Assad kehilangan penopang.

    Oleh karenanya, situasi ini menjadi sangat menguntungkan baik bagi HTS maupun Israel sendiri.

    “Aksi Israel saya kira menguntungkan pihak oposisi bersenjata dalam hal ini HTS. Sementara juga jatuhnya Bashar Al Assad memang menjadi peluang bagi Israel sendiri yang dengan jatuhnya rezim maka Israel mengeklaim bahwa perjanjian-perjanjian yang selama ini dilakukan antara Suriah dengan Israel pada masa Bashar Al Assad dianggap tidak berlaku lagi, terutama berkaitan dengan batas wilayah sehingga Israel mulai melakukan invasi ke wilayah Suriah di perbatasan,” kata Yon.

    Bersambung ke halaman berikutnya…

    Pengamat studi Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Sya’roni Rofii, juga menilai bahwa kejatuhan pemerintahan Al Assad memiliki kaitan tak langsung dengan aksi Israel di Timur Tengah.

    Ia berujar serangan Israel terhadap Iran dan Hizbullah telah menggoyahkan kekuatan Al Assad karena keduanya merupakan basis utama pendukung sang Presiden di Timur Tengah.

    “Sebelum ada peristiwa serangan Israel, konsentrasi kekuatan Iran dan Hizbullah mem-backup pertahanan Suriah dari ancaman oposisi,” ujar Sya’roni kepada CNNIndonesia.com.

    Meski begitu, menurut peneliti di Institut Studi Keamanan Nasional Tel Aviv, Danny Citrinowicz, Israel tak pernah menyangka bahwa aksi mereka di Timur Tengah akan menjatuhkan rezim Al Assad yang telah berkuasa 24 tahun.

    “Jelas bahwa apa yang dilakukan Israel pasti mengarah pada itu, tapi saya ragu bahwa mereka memiliki strategi untuk melakukannya,” kata Citrinowicz kepada AFP.

    Citrinowicz mengatakan Israel tak pernah memperkirakan sebelumnya bahwa kekuatan oposisi dan milisi Suriah akan memanfaatkan kekacauan di Timur Tengah untuk menggulingkan Al Assad.

    “Dia [PM Israel Benjamin Netanyahu] tidak pernah tahu bahwa Jolani bermaksud untuk memulai serangan. Dan, tentu saja, tidak ada yang memperkirakan bagaimana fakta bahwa Iran dan Hizbullah begitu lemah akan merusak kemampuan Assad untuk melindungi dirinya sendiri dan rezimnya,” ujarnya.

    Citrinowicz juga menekankan bahwa situasi perang Rusia vs Ukraina, yang mengakibatkan Rusia tak bisa lagi memasok Al Assad seperti sedia kala, merupakan sesuatu yang berada di luar kendali Netanyahu.

    “Ini seperti efek domino. Anda menggulingkan yang pertama dan kemudian yang kedua tumbang dan seterusnya,” kata Aviv Oreg, analis di Meir Amit Center dan mantan perwira intelijen militer.

    Ubah arah politik Suriah

    Kejatuhan rezim Al Assad disebut-sebut akan mengubah arah politik Suriah di masa depan.

    Sya’roni menilai jatuhnya Al Assad tentu akan berdampak pada lingkungan sekitarnya, termasuk mengenai masa depan hubungan Suriah dengan Iran dan Rusia.

    Ia meyakini bahwa bantul politik dan kebijakan luar negeri Suriah akan berbeda. Kendati begitu, saat ditanya mengenai prospek Suriah menjalin hubungan dengan Israel, Sya’roni menilai hal itu tergantung sikap penopang kekuatan eksternal.

    “Ada Turki dan Qatar yang menjadi referensi HTS dalam politik luar negeri ke depan,” ucap Sya’roni.

    Yon Machmudi, di lain pihak, juga belum bisa memastikan ke mana arah kebijakan luar negeri Suriah di bawah pemerintahan baru. Sebab, saat ini, faksi-faksi oposisi Al Assad tersebut baru berfokus untuk menumbangkan sang presiden.

  • Rezim Al Assad Pro-Iran di Suriah Tumbang, Apa Reaksi Hamas?

    Rezim Al Assad Pro-Iran di Suriah Tumbang, Apa Reaksi Hamas?

    Jakarta, CNN Indonesia

    Kelompok perlawanan di Palestina, Hamas, turut memberikan reaksi atas rezim Bashar Al Assad tumbang di Suriah.

    Hamas ikut girang dengan kabar rezim Al Assad yang ditumbangkan milisi perlawanan di Suriah.

    Al Assad kabur ke Rusia setelah ibu kota Suriah, Damaskus, berhasil dikuasai kelompok milisi Hayat Tahrir Al Sham (HTS) yang dipimpin Abu Mohammed Al Julani pada Minggu (8/12).

    Kepergian Al Assad dari Suriah itu pun menandai tumbangnya rezim otoriter tersebut.

    “Hamas menyampaikan selamat kepada saudara kami rakyat Suriah atas keberhasilan meraih aspirasi untuk kebebasan dan keadilan. Kami menyerukan kepada semua lapisan rakyat Suriah agar merapatkan barisan,” demikian pernyataan Hamas seperti dikutip dari AFP.

    Mantan Presiden Suriah Bashar Al Assad sendiri merupakan pemimpin rezim yang mendapatkan sokongan dari Iran.

    Suriah saat masih dipimpin Al Assad bahkan menjadi salah satu dari sejumlah “Poros Perlawanan” Iran bersama dengan Hizbullah di Lebanon melawan agresi Israel di Palestina.

    Negara itu menjadi salah satu basis terbesar para milisi pro-Iran selama perang melawan Israel. Keberpihakan rezim Assad kepada Iran pun kerap menjadi sasaran serangan Israel di sejumlah wilayah di Suriah yang diklaim sebagai basis perlawanan dan gudang senjata.

    Beda dengan Hamas, kelompok milisi Palestina Jihad Islam memilih netral atas perang saudara yang kembali pecah di Suriah hingga menggulingkan rezim Assad.

    “Apa yang telah terjadi di Suriah merupakan urusan orang-orang Suriah,” ujar Sekretaris Jenderal Jihad Islam Palestina, Jihad Al Nakhalah kepada AFP.

    Meski demikian, Jihad Islam Palestina berharap bahwa kelompok milisi dan rakyat Suriah yang berhasil menumbangkan Al Assad masih tetap memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat Palestina melawan agresi Israel.

    Suriah sendiri menjadi salah satu negara yang banyak menampung para pengungsi dari Palestina. Badan PBB untuk Urusan Pengungsian (UNRWA) mencatat sedikitnya terdapat 438 ribu pengungsi Palestina di wilayah Suriah.

    (bac/bac)

    [Gambas:Video CNN]

  • Kronologi Milisi Suriah Gulingkan Rezim Al Assad

    Kronologi Milisi Suriah Gulingkan Rezim Al Assad

    Jakarta, CNN Indonesia

    Milisi Suriah berhasil menggulingkan rezim otoriter Presiden Bashar Al Assad pada Minggu (8/12).

    Militer Suriah memberitahukan para perwira bahwa pemerintahan Assad telah berakhir setelah serangan kilat pemberontak berhasil menduduki sejumlah besar wilayah, termasuk ibu kota Damaskus.

    Kronologi

    Jatuhnya rezim Presiden Bashar Al Assad di Suriah bermula dari peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok milisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pada akhir November lalu.

    Saat itu, HTS tiba-tiba menyerang salah satu kota yang dikuasai oleh pemerintah Suriah sejak perang saudara berakhir pada 2011, Aleppo. Serangan itu akhirnya membuat Aleppo kembali jatuh ke tangan HTS.

    Merespons serangan ini, Al Assad berjanji bakal merebut kembali Aleppo dari HTS. Ia juga bakal dibantu oleh kelompok milisi dari Irak yang dibantu oleh Iran, yakni Badr dan Nujaba.

    Pada 1 November lalu, 300 pasukan yang berasal dari kelompok milisi Badr dan Nujaba dilaporkan telah menuju Suriah lewat jalur yang jauh dari permukiman warga. Hal ini dilakukan guna menghindari serangan udara dari milisi Suriah.

    Namun, empat hari setelah milisi Irak dilaporkan menuju Suriah, keadaan kembali meradang. Pada 5 November, kelompok pemberontak HTS kembali melakukan serangan ke salah satu kota penting di Suriah, Hama.

    HTS kala itu juga mengeklaim bahwa mereka telah merebut penjara Hama dan membebaskan para narapidana yang berada di sana.

    Pada sore harinya, tentara Suriah mengakui kehilangan kendali atas kota yang terletak di antara Aleppo dan basis kekuasaan Presiden Bashar al-Assad di ibukota Damaskus tersebut.

    Rezim Al Assad digulingkan

    Berselang tiga hari, tepatnya pada 8 November, milisi Suriah dilaporkan berhasil menguasai ibu kota Damaskus dan menggulingkan rezim otoriter Al Assad. Keberhasilan mereka menguasai Damaskus ini menandai berakhirnya rezim Al Assad usai puluhan tahun berkuasa di Suriah.

    Di saat yang bersamaan, warga Suriah juga menyerang kediaman Al Assad di Damaskus. Mereka kala itu menjarah barang-barang berharga yang ada di sana. Beberapa di antaranya, seperti lukisan mewah, peralatan dapur, senjata, hingga uang tunai.

    Tidak hanya itu, mereka juga menjarah sebuah garasi yang berisi mobil mewah, seperti Porsche, Audi, Mercedes-Benz, Ferrari, hingga beberapa mobil jenis SUV.

    Usai resmi digulingkan, Al Assad yang sudah menjadi mantan Presiden Suriah pun langsung melarikan diri ke Rusia guna mencari suaka politik. Ia dilaporkan terbang ke Moskow pada hari yang sama saat milisi Suriah menguasai Damaskus.

    Negeri Beruang Merah saat ini juga sudah memberi suaka politik kepada Al Assad. Pemberian suaka politik ini merupakan bentuk solidaritas Rusia kepada Suriah yang sudah berjalan sejak 2000-an.

    Al Assad saat ini juga sudah meminta Suriah untuk melakukan transisi pemerintahan.

    Milisi Suriah kini juga sudah menunjuk mantan Perdana Menteri Mohammed Ghazi Al Jalali sebagai pemimpin sementara negara tersebut usai Presiden Bashar Al Assad digulingkan.

    Pemimpin milisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS), Abu Mohammed Al Julani, mengatakan Al Jalali akan menjadi pemimpin sementara Suriah sampai pemerintahan selesai menjalani transisi.

    (gas/dna)

    [Gambas:Video CNN]

  • Bagaimana Sikap Pejuang Suriah Penjegal Assad terhadap Palestina?

    Bagaimana Sikap Pejuang Suriah Penjegal Assad terhadap Palestina?

    Jakarta, CNN Indonesia

    Kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) belakangan menyedot perhatian setelah memimpin pemberontakan di Suriah hingga akhirnya menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Assad.

    Dalam waktu kurang dari dua pekan, HTS merebut sejumlah wilayah yang dikuasai rezim al-Assad. Ibu kota Damaskus menjadi lokasi terakhir pemberontakan HTS yang menyebabkan al-Assad kabur dari sana dan mencari suaka ke Rusia.

    Jatuhnya rezim al-Assad oleh HTS ini disambut suka cita oleh warga Suriah di seluruh dunia. Namun, kegembiraan itu tak dirasakan oleh warga Palestina.

    Wakil presiden eksekutif di Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa masyarakat Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat, tak mendukung Hayat Tahrir al-Sham.

    Sebab, HTS memiliki pandangan bahwa isu Palestina bukan isu terpenting yang menggerakkan Timur Tengah.

    “Gagasan bahwa pemerintah Suriah yang baru ini tiba-tiba berpura-pura seolah-olah isu Palestina bukanlah salah satu isu terpenting yang menggerakkan seluruh Timur Tengah, menurut saya sangat mengejutkan. Saya sama sekali tidak percaya bahwa hal itu mungkin terjadi,” kata Parsi.

    Berbeda dengan Palestina, Parsi melihat bahwa kejatuhan rezim al-Assad ini diam-diam justru disambut gembira oleh Israel.

    Pasalnya, situasi tak stabil di Suriah imbas kepergian al-Assad akan memudahkan Israel menyerang akses-akses Iran di negara itu. Iran telah menjadi pendukung rezim al-Assad selama ini.

    Di bawah pemerintahannya, al-Assad mengizinkan Iran memasok persenjataan ke milisi Hizbullah Lebanon lewat Suriah. Al-Assad juga mengizinkan militer Iran berada di Suriah untuk membantu menangani perang saudara.

    “Di satu sisi, sangat positif bagi mereka (Israel) untuk memberikan pukulan yang signifikan terhadap Iran, terhadap akses Iran ke Lebanon, dan terhadap poros secara keseluruhan … Namun di sisi lain, apa yang akan terjadi selanjutnya?” ucapnya.

    Di masa lalu, kata Parsi, pemerintah Israel lebih memilih al-Assad daripada oposisi karena pemerintahannya tak menjadi ancaman bagi Negeri Zionis.

    Kendati begitu, dalam beberapa bulan terakhir, perspektif Israel “tampaknya telah bergeser”.

    Parsi tak menjelaskan lebih detail soal pergeseran perspektif Israel ini. Ia hanya menambahkan bahwa situasi ini pun tak sepenuhnya disukai oleh Israel.

    “Yang jelas adalah mereka memanfaatkan (kejatuhan al-Assad) karena mereka sedang membangun zona penyangga. Tidak ada keberatan dari komunitas internasional, begitu pula dari Amerika Serikat. Namun, hal itu sepertinya tidak akan berhasil karena pemerintah Suriah yang baru kemungkinan akan mempermasalahkannya,” ujar Parsi.

    (blq/rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Pembantaian Komunitas Voodoo di Haiti, Nyaris 200 Orang Tewas

    Pembantaian Komunitas Voodoo di Haiti, Nyaris 200 Orang Tewas

    Jakarta, CNN Indonesia

    Hampir 200 orang di Haiti tewas dalam kekerasan brutal pada akhir pekan lalu yang dilaporkan ditujukan kepada praktisi voodoo. Pemerintah Haiti pada Senin (9/12) telah mengutuk serangan itu sebagai ‘kekejaman yang tak tertahankan’.

    Organisasi sipil Komite Perdamaian dan Pembangunan (CPD). menjelaskan pembunuhan di ibu kota Port-au-Prince itu diduga disulut seorang pemimpin geng kuat yang meyakini penyakit yang diderita putranya disebabkan para pengikut Voodoo.

    “Ia memutuskan untuk menghukum dengan kejam semua orang tua dan praktisi voodoo yang, dalam imajinasinya, mampu mengirimkan kutukan buruk kepada putranya,” kata sebuah pernyataan dari kelompok yang bermarkas di Haiti itu.

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk kekerasan “mengerikan” itu, yang menurut juru bicaranya, menewaskan sedikitnya 184 orang, termasuk 127 pria dan wanita tua.

    Menyebut episode berdarah itu sebagai “tindakan biadab, kekejaman yang tak tertahankan,” kantor Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime mengatakan “kejahatan mengerikan ini merupakan serangan langsung terhadap kemanusiaan.”

    Administrasi Perdana Menteri Haiti, Alix Didier Fils-Aime mengatakan ‘kejahatan mengerikan ini merupakan serangan langsung terhadap kemanusiaan’.

    CPD dan PBB menyatakan pembunuhan itu terjadi di wilayah pesisir barat ibu kota, Cite Soleil.

    Seorang warga setempat yang dihubungi AFP mengonfirmasi serangan itu dan mengatakan bahwa ayahnya, 76 tahun, termasuk di antara para korban.

    “Para bandit membakar jasadnya. Keluarga bahkan tidak dapat mengatur pemakaman untuknya karena kami tidak dapat menemukan jasadnya,” katanya yang meminta anonim.

    CPD mengutarakan bahwa tentara geng bertugas mengidentifikasi korban di rumah lalu membawanya ke markas pemimpinnya untuk dieksekusi.

    “Sumber terpercaya dalam komunitas tersebut melaporkan bahwa lebih dari seratus orang dibantai, tubuh mereka dimutilasi dan dibakar di jalan,” kata CPD.

    Salah satu pemimpin organisasi tersebut, Fritznel Pierre, mengatakan kepada Radio Magik 9 dalam sebuah wawancara bahwa jumlah korban tidak lengkap, karena daerah tersebut sulit diakses.

    Dia melaporkan bahwa antek-anteknya telah memburu orang tua dan pengikut voodoo yang tinggal di bagian Wharf Jeremie di Cite Soleil antara Jumat malam dan Sabtu.

    “Pengemudi taksi sepeda motor yang mencoba melarikan diri dengan orang-orang yang menjadi sasaran juga dieksekusi,” katanya.

    Voodoo dibawa ke Haiti oleh orang-orang Afrika dan merupakan andalan budaya negara tersebut. Voodoo dilarang selama penjajahan Prancis dan baru diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah Haiti pada 2003.

    Meskipun mengandung unsur-unsur kepercayaan agama lain, termasuk Katolik, voodoo secara historis telah diserang oleh agama-agama lain.

    Haiti telah menderita ketidakstabilan selama beberapa dekade, situasinya meningkat pada Februari ketika kelompok-kelompok bersenjata melancarkan serangan terkoordinasi di ibu kota untuk menggulingkan perdana menteri saat itu, Ariel Henry.

    Geng-geng sekarang menguasai 80 persen kota. Meskipun ada misi dukungan polisi yang dipimpin Kenya, yang didukung oleh Amerika Serikat dan PBB, kekerasan terus meningkat.

    Pimpinan PBB meminta pihak berwenang melakukan penyelidikan menyeluruh atas pembantaian akhir pekan itu dan meminta lebih banyak dukungan internasional untuk membantu polisi Haiti melawan geng-geng tersebut.

    Lebih dari 700 ribu orang mengungsi di Haiti, setengahnya adalah anak-anak, dan pembunuhan terbaru tersebut membuat jumlah korban tewas pada tahun ini di negara itu menjadi 5.000 orang, menurut PBB.

    (fea/fea)

    [Gambas:Video CNN]

  • Kala Warga Suriah Rayakan Akhir Rezim Presiden Bhasar al-Assad

    Kala Warga Suriah Rayakan Akhir Rezim Presiden Bhasar al-Assad

    Jakarta, CNN Indonesia

    Warga Suriah memadati jalan di Aleppo dengan bernyanyi setelah para pemberontak menggulingkan Presiden Bhasar al-Assad pada Minggu (8/12).

    Komandan militer Suriah mengumumkan rezim Assad telah berakhir.

    Namun tentara Suriah masih melakukan perlawanan terhadap kelompok teroris di kota Hama dan Homs.

    Usai penggulingan tersebut, al-Assad dikabarkan mendarat di Moskow, Rusia bersama keluarga dari Suriah.