00:46
VIDEO: Netanyahu Klaim Tak Ingin Lukai Warga, Hanya Mau Tumpas Hamas
Internasional
• 11 bulan yang lalu

00:46
VIDEO: Netanyahu Klaim Tak Ingin Lukai Warga, Hanya Mau Tumpas Hamas
Internasional
• 11 bulan yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia —
Seorang relawan medis asal Indonesia yang bekerja di Rumah Sakit Indonesia menceritakan situasi di Gaza saat ini usai gencatan senjata berakhir pada Jumat (1/12).
Fikri Rofiul Haq, relawan medis dari Indonesia, mengatakan terdengar suara bom secara masif yang dijatuhkan Israel dan banyak orang sekarat.
“Anda sekarang dapat mendengar suara serangan yang terjadi di seluruh Jalur Gaza dan orang-orang sekarat di sekitar kami,” kata Haq seperti dilaporkan Al Jazeera.
Ia dan sejumlah orang lainnya masih berlindung di sekolah negeri di Gaza Selatan. Mereka telah bertahan di sana selama tujuh hari sejak dievakuasi dari RS Indonesia.
Haq menyebut gencatan senjata singkat memungkinkan masyarakat Gaza kembali menjalani kehidupan normal walau masih ada kekurangan. Bantuan kemanusiaan pun mulai berdatangan setelah jeda pertempuran.
“Sekarang gencatan senjata telah berakhir karena Israel menolak perpanjangan,” imbuhnya.
Israel dan Hamas sepakat melakukan gencatan senjata pada 24 November dan terus diperpanjang hingga berakhir pada 1 Desember kemarin.
Usai gencatan senjata, Israel melancarkan agresinya dan menggempur Gaza dari segala sisi. Baik rumah penduduk, kamp pengungsian maupun rumah sakit jadi sasaran.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan korban tewas mencapai ratusan orang orang.
(els/isn)
[Gambas:Video CNN]

Jakarta, CNN Indonesia —
Pejabat Israel disebut telah mengetahui rencana serangan Hamas sejak tahun lalu. Rencana ini terangkum dalam dokumen setebal 40 halaman yang diberi nama sandi Tembok Yerikho (Jericho Wall).
Dokumen yang dimulai dengan kutipan Al-Qur’an ini tidak menetapkan tanggal serangan. Namun, dokumen menggambarkan serangan metodis yang dirancang untuk menguasai benteng di sekitar Jalur Gaza, mengambil alih kota-kota Israel, dan menyerbu pangkalan militer utama.
Para pejabat militer dan intelijen Israel menganggap rencana itu terlalu sulit dijalankan Hamas.
Pada Juli, tiga bulan sebelum serangan, analis veteran di Unit 8200 memperingatkan bahwa Hamas telah melakukan latihan intensif sepanjang hari. Latihan ini dianggap serupa dengan apa yang diuraikan dalam dokumen.
Hanya saja, seorang kolonel di divisi Gaza menepis kekhawatirannya.
“Saya benar-benar membantah bahwa skenario ini hanyalah khayalan,” tulis analis tersebut dalam pertukaran email, seperti dilaporkan NY Times.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Hamas mengikuti cetak biru tersebut dengan sangat tepat. Dokumen menyebutkan rentetan roket di awal serangan, drone untuk melumpuhkan kamera keamanan, senapan mesin otomatis di sepanjang perbatasan, serta orang bersenjata masuk Israel secara massal dengan paralayang, sepeda motor, dan jalan kaki. Semuanya terjadi pada 7 Oktober 2023.
Para pejabat militer mengaku bahwa jika peringatan ditanggapi dengan serius, maka Israel bisa meredam serangan atau bahkan mencegahnya. Tapi yang terjadi justru mereka tidak siap saat kelompok Hamas berhamburan keluar dari Jalur Gaza.
Sementara itu, militer Israel dan Badan Keamanan Israel yang bertanggung jawab atas kontraterorisme di Gaza menolak berkomentar.
Dokumen Jericho Walls memperlihatkan rangkaian kesalahan selama bertahun-tahun yang puncaknya berupa kegagalan intelijen terburuk Israel.
Ted Singer, pensiunan CIA yang bekerja di Timur Tengah, menyebut bahwa kegagalan intelijen Israel pada 7 Oktober lalu mirip dengan peristiwa 9/11.
“Kegagalan tersebut akan menjadi celah dalam analisis untuk memberikan gambaran yang meyakinkan kepada para pemimpin militer dan politik bahwa Hamas mempunyai niat untuk melancarkan serangan ketika mereka melakukannya,” katanya.
(els/asr)
[Gambas:Video CNN]

Jakarta, CNN Indonesia —
Israel dilaporkan tak berhenti melancarkan gempuran udara ke sejumlah titik di Jalur Gaza Palestina, terutama bagian selatan wilayah itu, dalam 24 jam terakhir sejak gencatan senjata berakhir pada Jumat (1/12).
Israel bahkan meningkatkan intensitas serangan pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari tadi.
Al Jazeera melaporkan pasukan Israel memusatkan serangan mereka ke wilayah timur Khan Younis, selatan Gaza dan juga di garis pantai Jalur Gaza.
Mayoritas serangan Israel diarahkan ke lahan pertanian. Pengamat menilai Israel tengah berupaya membuka “jalan” untuk invasi daratnya lebih lanjut ke wilayah itu.
Model gempuran ini juga terjadi di awal perang berkecamuk pada 7 Oktober lalu, di mana Israel menggempur wilayah Gaza utara dari udara dan akhirnya membuka jalan bagi tank hingga kendaraan militer lain masuk ke wilayah itu dan akhirnya melancarkan invasi darat di sana.
Di awal agresinya pasca serangan Hamas 7 Oktober lalu, Israel memulai gempuran ke utara Jalur Gaza dengan artileri dan juga pemboman udara untuk membuka jalan bagi pasukan darat Israel untuk terus masuk ke dalam wilayah itu.
Sebanyak hampir 200 orang tewas akibat bombardir Israel ke Jalur Gaza dalam kurun waktu 24 jam sejak gencatan senjata berakhir.
Kepulan abu dan asap tebal akibat gempuran Israel mulai mewarnai langit Gaza lagi menjadi kelabu.
Dikutip AFP, Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan sekitar lebih dari 180 orang tewas akibat bombardir Israel di utara dan selatan Gaza dalam 24 jam terakhir.
Israel memang langsung menggempur habis-habisan Gaza begitu masa gencatan senjata berakhir pada Jumat pagi waktu Gaza.
“Apa yang kami lakukan sekarang adalah menggempur target-target militer Hamas di seluruh Jalur Gaza,” kata juru bicara Israel Defense Force (IDF), Jonathan Conricus, pada Sabtu (2/12).
Militer Israel menerbitkan peta “zona evakuasi” di Jalur Gaza yang dikatakan akan memungkinkan penduduk untuk “mengungsi dari tempat-tempat tertentu demi keselamatan mereka jika diperlukan”.
Warga di berbagai wilayah Gaza juga menerima pesan singkat soal peringatan serangan rudal dan roket lagi pada Jumat.
Truk-truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan dari dunia internasional juga berhenti memasuki wilayah Jalur Gaza lantaran khawatir dengan gempuran Israel yang kembali membabi buta.
(rds/rds)
[Gambas:Video CNN]

Jakarta, CNN Indonesia —
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, Israel menewaskan 109 warga sipil di Jalur Gaza usai gencatan senjata berakhir pada Jumat (1/12).
Bagikan:
url telah tercopy

Jakarta, CNN Indonesia —
Bombardir Israel ke Jalur Gaza Palestina usai gencatan senjata berakhir pada Jumat (1/12) siang WIB telah menewaskan hampir 200 orang hanya dalam kurun waktu 24 jam.
Kepulan abu dan asap tebal akibat gempuran Israel mulai mewarnai langit Gaza lagi menjadi kelabu.
Dikutip AFP, Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan sekitar lebih dari 180 orang tewas akibat bombardir Israel di utara dan selatan Gaza dalam 24 jam terakhir.
Sejak 7 Oktober, agresi brutal Israel ke Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang, termasuk lebih dari 6 ribu anak-anak dan 4 ribu perempuan. Jumlah ini masih terus bertambah seiring masih ada ribuan orang hilang yang dikhawatirkan tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur digempur Israel.
Selama masa gencatan senjata berlangsung sebagian besar agresi Israel ke Gaza memang berhenti. Namun, Israel langsung menggempur habis-habisan Gaza lagi begitu masa gencatan senjata berakhir pada Jumat pagi waktu Gaza.
“Apa yang kami lakukan sekarang adalah menggempur target-target militer Hamas di seluruh Jalur Gaza,” kata juru bicara Israel Defense Force (IDF), Jonathan Conricus, pada Sabtu (2/12).
Militer Israel juga menerbitkan peta “zona evakuasi” di Jalur Gaza yang diklaim mereka akan memungkinkan penduduk untuk “mengungsi dari tempat-tempat tertentu demi keselamatan mereka jika diperlukan”.
Warga di berbagai wilayah Gaza juga menerima pesan singkat soal peringatan serangan rudal dan roket lagi pada Jumat.
Truk-truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan dari komunitas internasional juga berhenti memasuki wilayah Jalur Gaza lantaran khawatir dengan gempuran Israel yang kembali membabi buta.
Sementara itu, di Israel, sirene peringatan potensi serangan rudal terdengar di beberapa wilayah di perbatasan dekat Gaza.
Pihak berwenang mengatakan mereka mulai memperketat kesiagaan menyusul gencatan senjata yang berakhir, termasuk menutup sekolah.
Serangan roket dilaporkan menghancurkan sebuah va di salah satu wilayah Israel dekat Gaza.
Gencatan senjata Israel dan Hamas berakhir setelah sepekan diterapkan sejak Jumat (24/11). Israel dan Hamas saling menyalahkan atas kegagalan memperpanjang gencatan senjata dengan masing-masing menuding ada pihak yang melanggar perjanjian.
(rds/rds)
[Gambas:Video CNN]

Jakarta, CNN Indonesia —
Israel kembali menghujani Jalur Gaza Palestina dengan roket pada Jumat (1/12) malam, setelah perjanjian gencatan senjata selama seminggu antara Israel dan Hamas berakhir.
Sesaat setelah gencatan senjata berakhir, Israel tanpa ampun menghantam rumah dan fasilitas umum di Gaza.
Beberapa jam setelah bombardir Israel, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan 178 orang tewas.
Qatar sebagai mediator gencatan senjata mengungkapkan serangan ini membuat proses negosiasi menjadi rumit.
Qatar menyatakan pihaknya menyesalkan agresi Israel yang kembali berlangsung di Gaza usai berakhirnya jeda kemanusiaan pada hari ketujuh “tanpa mencapai kesepakatan untuk memperpanjang.”

Jakarta, CNN Indonesia —
Gencatan senjata Israel dan Hamas di Jalur Gaza Palestina akhirnya berakhir pada Jumat (1/12) setelah keduanya tak lagi mencapai kesepakatan soal perpanjangan jeda pertempuran.
Israel pun segera melancarkan rentetan serangannya lagi ke Jalur Gaza tak lama setelah masa gencatan senjata habis pada Jumat pagi pukul 07.00 waktu lokal atau 12.00 WIB.
Militer Israel menyalahkan Hamas atas kegagalan perpanjangan gencatan senjata. Tel Aviv menuding Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata terutama soal pembebasan sandera.
Beberapa jam sebelum gencatan senjata selesai, Hamas mengklaim Israel menolak tawaran milisi tersebut soal pembebasan sejumlah sandera tambahan.
Dilansir Al Jazeera, tiga dari beberapa sandera yang rencananya dibebaskan Hamas ini tewas akibat bombardir Israel selama masa tawanan dan kelompok penguasa Gaza itu berencana mengembalikan jasad mereka.
Namun, Israel disebut menolaknya lantaran menganggap Hamas melanggar janji untuk membebaskan sandera dengan kondisi selamat.
Senada dengan Israel, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony J. Blinken juga menyalahkan sikap Hamas yang mengingkari komitmennya menjadi alasan gencatan senjata berakhir tanpa ada perpanjangan lagi.
Blinken mengatakan sudah melihat tanda-tanda bahwa Israel telah mengambil langkah baru untuk melindungi warga sipil saat mereka melanjutkan operasi militernya.
“Penting untuk dipahami mengapa jeda ini berakhir: Ini berakhir karena Hamas. Hamas mengingkari komitmen yang dibuatnya,” kata Blinken di akhir kunjungannya ke Timur Tengah seperti dilaporkan The New York Times.
Dia mencatat bahwa beberapa jam sebelum gencatan tujuh hari berakhir, Hamas “melakukan serangan teroris yang mengerikan di Yerusalem”. Penembakan pada Kamis (30/11) itu menewaskan tiga orang dan melukai enam orang.
Hamas memang mengakui bertanggung jawab atas penembakan di Yerusalem tersebut. Blinken juga menambahkan Hamas turut menembakkan roket ke Israel pada Jumat dan gagal membebaskan sandera yang telah dijanjikan untuk bebas.
PM Netanyahu kian tertekan
Gencatan senjata berakhir juga berlangsung kala Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus ditekan untuk terus melanjutkan peperangan di Gaza.
Dikutip Al Jazeera, elite militer Israel telah lama mendesak agar perang di Gaza berlanjut. Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant bahkan menegaskan pasukannya telah siap menggempur Gaza lagi dari darat, udara, dan laut ketika gencatan selesai.
Gallant memang sejauh ini yang paling agresif menyerukan agresi Israel ke Gaza berlanjut. Sementara itu, Netanyahu mempertahan sikap hawkish-nya selama konflik ini berlangsung dan memilih untuk tampil sebagai pemimpin secara umum dengan menyerahkan urusan pertahanan sepenuhnya pada militer Israel.
Sikap ini diambil Netanyahu kala dirinya terus menghadapi tekanan untuk mundur tak hanya dari publik Israel tapi dari beberapa pendahulunya. Sejauh ini, setidaknya tiga mantan PM Israel telah mengkritik keras kepemimpinan Netanyahu yang dianggap gagal menyelamatkan keamanan nasional imbas serangan Hamas ke negara itu pada 7 Oktober lalu.
Serangan Hamas itu menjadi pematik agresi brutal Israel ke Palestina hingga hari ini telah menewaskan lebih dari 15 ribu orang, termasuk lebih dari 6 ribu anak-anak dan 4 ribu perempuan.
Sejak itu, sebagian publik Israel, terutama warga yang tinggal di perbatasan dekat Gaza dan keluarga korban sandera Hamas menganggap pemerintah Zionis kecolongan dan gagal melindungi keamanan nasional. Beberapa survei publik yang dibuat media lokal Israel juga memaparkan mayoritas warga ingin Netanyahu bertanggung jawab atas serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober lalu.
(els/rds)
[Gambas:Video CNN]

Jakarta, CNN Indonesia —
Seorang juru bicara perbatasan Rafah mengatakan truk-truk yang membawa bantuan kemanusiaan, bahan bakar, hingga gas untuk memasak telah berhenti memasuki Gaza usai serangan Israel kembali terjadi, Jumat (1/12).
Bantuan-bantuan itu kini tak bisa lagi mencapai warga sipil yang terisolir imbas gempuran Israel di berbagai wilayah Gaza.
Padahal, truk-truk bantuan ini sudah mulai masuk dengan jumlah yang lebih banyak saat gencatan senjata berlangsung 24-30 November lalu.
Namun, jumlah yang sudah cukup banyak ketimbang sebelum gencatan senjata itu pun nyatanya masih belum bisa memenuhi kebutuhan warga, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Sejak Israel meluncurkan agresi di Gaza merespons serangan dadakan Hamas 7 Oktober lalu, Rafah menjadi satu-satunya pintu masuk bantuan kemanusiaan bagi warga sipil.
Pengiriman bantuan lewat perbatasan itu sempat sangat dibatasi oleh Israel, termasuk larangan bahan bakar memasuki Gaza hingga membuat rumah sakit dan fasilitas vital lainnya banyak berhenti beroperasi.
Israel melarang demikian lantaran takut bahan bakar yang masuk digunakan Hamas untuk menyerang mereka.
Sekarang, setelah gencatan senjata usai per Jumat (1/12), Rafah yang merupakan perbatasan antara Mesir dan Gaza itu pun terpaksa ditutup. Warga sipil kini terancam kembali menghadapi krisis makanan, air, obat-obatan, hingga bahan bakar.
Kementerian Kesehatan Gaza pun memohon agar perbatasan Rafah dibuka kembali demi warga sipil.
“Bantuan medis yang memasuki Gaza selama gencatan senjata hanya cukup untuk satu hari,” kata juru bicara Kemenkes Gaza Ashraf al-Qudra, seperti dikutip Al Jazeera.
“Sektor kesehatan di Gaza tidak berfungsi dalam segala hal,” lanjut dia.
(blq/wiw)
[Gambas:Video CNN]

Jakarta, CNN Indonesia —
Korea Selatan sukses meluncurkan satelit mata-mata militer pertamanya pada Jumat (1/12). Peluncuran terjadi kurang lebih sepekan setelah Korea Utara meluncurkan satelit yang sama.
Melansir AFP, satelit itu diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa AS Vandenberg di California, Amerika Serikat. Satelit dibawa oleh salah satu roket SpaceX Falcon 9 yang bertuliskan ‘KOREA’.
Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa satelit tersebut mencapai orbit kira-kira empat menit setelah diluncurkan pada pukul 10.19 waktu setempat. Komunikasi juga telah terjalin dengan kendali darat.
Artinya, satelit mata-mata Korea Selatan berhasil beroperasi secara normal tanpa kendala.
Dengan keberhasilan ini, Korea Selatan kini memiliki satelit pengintai yang bisa memantau Korea Utara. Satelit ini diklaim mampu mendeteksi objek sekecil 30 sentimeter.
“Mempertimbangkan resolusi dan kapasitasnya untuk observasi, teknologi satelit kami berada di peringkat lima besar secara global,” ujar pejabat Kementerian Pertahanan Korea Selatan.
Korea Selatan sendiri berencana meluncurkan empat satelit pengintai tambahan pada akhir tahun 2025. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pengintaiannya di Korea Utara.
Sebelumnya, Korea Utara juga berhasil meluncurkan satelit mata-mata yang diberi nama Malligyong-1 pada Selasa (21/11) lalu.
Roket yang membawa satelit tersebut diluncurkan ke arah selatan dan diyakini telah melewati prefektur Okinawa, Jepang.
Satelit ini diklaim menampilkan citra kota Seoul hingga wilayah yang menjadi pangkalan militer Amerika Serikat.
(asr/asr)
[Gambas:Video CNN]