Category: Beritasatu.com Regional

  • Banjir di Kampar Putus Akses Desa Teluk Kenidai, Puluhan Keluarga Terisolasi

    Banjir di Kampar Putus Akses Desa Teluk Kenidai, Puluhan Keluarga Terisolasi

    Kampar, Beritasatu.com – Banjir akibat luapan Sungai Kampar telah memutus akses jalan utama menuju Dusun III Teluk Jering, Desa Teluk Kenidai, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau. Sudah tiga hari puluhan kepala keluarga (KK) terisolasi tanpa jalur transportasi yang layak.

    Banjir ini dipicu oleh dibukanya lima pintu air (spillway gate) Waduk PLTA Koto Panjang hingga ketinggian 170 sentimeter (cm). Akibatnya, air Sungai Kampar meluap dan merendam jalan utama.

    Kepala Dusun (Kadus) III Teluk Jering Syaidil Rahmat mengungkapkan, warga desanya sudah terisolasi sejak kemarin. “Akses jalan sudah putus akibat banjir. Kendaraan roda dua tidak bisa melintas sama sekali,” ujarnya, Senin (3/3/2025).

    Salah satu warga terdampak banjir di Kampar, Nursyamsiah menyebutkan, akses keluar masuk dusun kini hanya bisa dilewati oleh mobil tinggi. Dia mengaku, akses terputus sudah tiga hari.

    “Motor tidak bisa lewat karena mogok. Hanya mobil besar atau berjalan kaki yang memungkinkan. Beberapa warga nekat menerobos, tetapi risikonya tinggi,” katanya.

    Dari pantauan Beritasatu.com di lokasi, banjir telah mencapai setinggi lutut orang dewasa sehingga banyak pengendara roda dua terpaksa berjalan kaki.

    Selain merendam akses jalan, banjir juga menenggelamkan Pulau Cinta, destinasi wisata andalan warga setempat. Air telah menutupi seluruh area wisata dengan ketinggian mencapai lima meter.

    “Pulau Cinta sudah tenggelam sejak dua hari lalu,” kata seorang warga setempat. Banjir di Kampar yang menenggelamkan Pulau Cinta berdampak besar pada ekonomi warga yang bergantung pada sektor pariwisata.

  • Mengenal Puncak Carstensz, Apa yang Istimewa dari Gunung Ini?

    Mengenal Puncak Carstensz, Apa yang Istimewa dari Gunung Ini?

    Jakarta, Beritasatu.com – Puncak Carstensz atau Puncak Jaya merupakan gunung tertinggi di Indonesia yang terletak di Pegunungan Jayawijaya, Papua. Dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjadi bagian dari Seven Summits Indonesia atau puncak-puncak gunung tertinggi yang mewakili tujuh pulau besar dan wilayah kepulauan di Indonesia.

    Puncak Carstensz juga dikenal karena memiliki keistimewaan yang membuatnya berbeda dari gunung-gunung Indonesia lainnya.

    Sejarah Puncak Carstensz

    Puncak Carstensz pertama kali ditemukan pada 1623 oleh seorang penjelajah asal Belanda, Jan Carstensz. Ia melaporkan adanya puncak bersalju di wilayah tropis, tetapi laporan ini sempat diragukan. Pada saat Papua bergabung dengan Indonesia pada 1963, nama puncak ini sempat berganti menjadi Puncak Soekarno, sebelum akhirnya dikenal sebagai Puncak Jaya.

    Meskipun demikian, di kalangan pendaki, nama Carstensz masih sering digunakan. Dalam bahasa lokal, Puncak Carstensz dikenal dengan nama Nemangkawi Ninggok. Nama ini berasal dari bahasa suku Amungme, penduduk asli di sekitar gunung tersebut.

    Nemangkawi adalah nama yang sudah digunakan jauh sebelum bangsa Eropa datang dan Ninggok berarti Puncak Anak Panah Berwarna Putih. Nama ini diberikan karena puncak gunung yang tertutup salju dari kejauhan terlihat seperti anak panah berwarna putih.

    Bagian dari Warisan Dunia

    Puncak Carstensz terletak di dalam kawasan Taman Nasional Lorentz, yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1999. Taman Nasional Lorentz didirikan pada 1997, dan merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara dengan luas 2.505.600 ha5.

    World Wide Fund for Nature (WWF) menetapkan Taman Nasional Lorentz sebagai kawasan konservasi terluas dan terlengkap di Asia Pasifik. Keberadaan pegunungan kars juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi karena struktur batuan kapur yang unik. Status Puncak Carstensz sebagai Seven Summits Indonesia menjadikannya tujuan utama bagi pendaki dari dalam maupun luar negeri.

    Keistimewaan Puncak Carstensz

    Salah satu daya tarik utama Puncak Carstensz adalah keberadaan salju abadi di puncaknya. Sebagai salah satu dari lima pegunungan kars di dunia yang berada di garis khatulistiwa dan memiliki salju, Puncak Carstensz menawarkan pemandangan yang memukau. Selain Puncak Jaya, tempat lain yang memiliki fenomena serupa adalah Sierra Nevada di Andes, Gunung Kenya, Gunung Kilimanjaro, dan Ruwenzori di Afrika.

    Namun, fenomena alam yang langka ini terancam akibat perubahan iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengamati salju abadi di Puncak Carstensz terus menipis dari tahun ke tahun. Dalam rentang waktu 2016-2022, laju penipisan es mencapai sekitar 2,5 meter per tahun. Adapun luas tutupan es pada 2022 adalah sekitar 0,23 kilometer persegi dan terus mengalami pencairan.

  • 10 Gunung Tertinggi di Indonesia, Jadi Tantangan Nyata bagi para Pendaki

    10 Gunung Tertinggi di Indonesia, Jadi Tantangan Nyata bagi para Pendaki

    Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia memiliki banyak gunung tertinggi yang menjadi tujuan para pendaki dari dalam maupun luar negeri. Dari puncak yang diselimuti salju abadi hingga kawah aktif yang terus bergemuruh, setiap gunung menawarkan keindahan serta tantangannya masing-masing.

    Namun, di balik pesona alamnya, pendakian ke gunung-gunung tertinggi di Indonesia juga menyimpan risiko besar. Cuaca ekstrem, medan yang sulit, serta kurangnya persiapan sering kali menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan, seperti yang terjadi di Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid, di mana beberapa pendaki kehilangan nyawa akibat kondisi alam yang berat.  

    Dihimpun dari berbagai sumber, berikut sepuluh gunung tertinggi di Indonesia, yang masing-masing memiliki daya tarik tersendiri. Mulai dari Gunung Kerinci di Sumatra hingga Gunung Ciremai di Jawa Barat, setiap puncak memiliki kisah dan tantangannya sendiri bagi para pecinta alam.

    Gunung Tertinggi di Indonesia

    1. Gunung Carstensz atau Puncak Jaya (4.884 mdpl)

    Gunung Cartensz. – (Instagram/@fiersabesari)

    Terletak di Provinsi Papua, Puncak Jaya merupakan gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Gunung ini dikenal juga sebagai Cartensz Pyramid dan merupakan gunung kapur terbesar di Indonesia. Salah satu keunikan Puncak Jaya adalah keberadaan salju abadi di puncaknya, suatu fenomena langka di daerah tropis.

    2. Gunung Kerinci (3.805 mdpl)

    Gunung Kerinci. – (Antara/Handout)

    Gunung Kerinci berada di perbatasan antara Provinsi Jambi dan Sumatra Barat. Dengan ketinggian 3.805 mdpl, gunung ini menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera sekaligus gunung berapi tertinggi di Indonesia.

    3. Gunung Rinjani (3.762 mdpl)

    Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.  – (Dok. Rinjani National Park)

    Gunung Rinjani yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, memiliki ketinggian 3.762 mdpl. Gunung ini terkenal dengan keindahan alamnya, termasuk danau Segara Anak yang berada di kawahnya. Rinjani juga merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani dengan luas sekitar 41.330 hektare.

    4. Gunung Semeru (3.676 mdpl)

    Gunung Semeru. – (PVMBG/PVMBG)

    Gunung Semeru, atau yang sering disebut Mahameru, adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl. Berada di Jawa Timur, gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan terbentang di wilayah Kabupaten Malang serta Lumajang.

    5. Gunung Sanggar (3.564 mdpl)

    Gunung Sanggar yang berada di Nusa Tenggara Barat merupakan gunung tertinggi kelima di Indonesia dengan ketinggian 3.564 mdpl. Meski kurang dikenal dibandingkan gunung lain, keindahan alam yang masih alami membuatnya menarik bagi para pendaki yang mencari tantangan.

    6. Gunung Latimojong (Bulu Rantemario – 3.478 mdpl)

    Gunung Latimojong atau yang juga dikenal dengan nama Bulu Rantemario merupakan puncak tertinggi di Sulawesi dengan ketinggian 3.478 mdpl.

    Gunung ini berada di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, dan untuk mencapai kaki gunungnya, diperlukan perjalanan sekitar 10 jam dari Kota Makassar.

    7. Gunung Slamet (3.428 mdpl)

    Gunung Api Slamet di Jawa Tengah. – (Beritasatu.com/Dian Aprilianingrum)

    Gunung Slamet adalah gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.428 mdpl. Gunung ini merupakan yang tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Semeru. Dengan riwayat erupsi yang mencapai 42 kali, Slamet menjadi salah satu gunung berapi yang perlu diwaspadai.

    8. Gunung Sumbing (3.371 mdpl)

    Kawasan Gunung Sumbing di Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. – (Instagram/@Prabowo)

    Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3.371 mdpl dan berada di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian utama, seperti Cepit Parakan, Bogowongso, dan Desa Garung.

    9. Gunung Raung (3.344 mdpl)

    Gunung Raung di Jawa Timur. – (./Istimewa)

    Gunung Raung berada di ujung timur Pulau Jawa dengan ketinggian 3.344 mdpl. Gunung ini membentang di tiga kabupaten, yaitu Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Salah satu ciri khas Gunung Raung adalah kawah besar serta medan yang menantang bagi para pendaki.

    10. Gunung Ciremai (3.078 mdpl)

    Gunung Ciremai. – (Setkab)

    Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl. Terletak di perbatasan Kabupaten Kuningan dan Majalengka, gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Ciremai yang memiliki luas sekitar 15.000 hektare. Ciremai menjadi destinasi favorit bagi pendaki yang ingin menikmati panorama alam yang memukau.

    Itulah daftar 10 gunung tertinggi di Indonesia yang menawarkan keindahan dan tantangan bagi para pendaki. Setiap gunung memiliki karakteristik unik yang membuatnya menarik untuk dijelajahi.

  • Puncak Carstensz Sering Makan Korban, Ini Deretan Kasusnya

    Puncak Carstensz Sering Makan Korban, Ini Deretan Kasusnya

    Jakarta, Beritasatu.com – Puncak Carstensz, yang juga dikenal sebagai Puncak Jaya, merupakan salah satu puncak tertinggi di Indonesia dan terletak di Provinsi Papua. Namun, di balik keindahannya, ternyata Puncak Carstenz sering memakan korban.

    Dengan ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjadi tujuan utama bagi pendaki profesional. Meskipun menyajikan pemandangan alam yang luar biasa, Puncak Carstensz juga terkenal sebagai gunung yang sering memakan korban.

    Banyak pendaki yang kehilangan nyawa saat berusaha menaklukkan puncaknya. Beberapa insiden kecelakaan di Puncak Carstensz menjadi peringatan medan yang dihadapi sangat menantang dan berbahaya.

    Puncak Carstensz memiliki medan yang sangat ekstrem, dengan jalur pendakian yang terjal, cuaca yang sering berubah-ubah, serta potensi longsoran es yang berisiko. Ditambah lagi, akses menuju lokasi pendakian yang sulit dan kadang memerlukan keterampilan khusus membuat pendakian ke gunung ini penuh dengan bahaya. Tidak jarang, beberapa pendaki kehilangan nyawa dalam perjalanan mereka menuju puncak.

    Berikut ini beberapa kejadian tragis yang pernah terjadi di Puncak Carstensz, yang menunjukkan betapa berbahayanya pendakian ke puncak tertinggi di Indonesia ini.  

    Kasus Puncak Carstensz

    1. Dua pendaki wanita meninggal (2025)

    Tragedi terbaru terjadi di Puncak Carstensz, Papua, ketika dua pendaki wanita asal Indonesia kehilangan nyawa. Pada Sabtu (1/2/2025), Lilie Wijayanti Poegiono (59) dan Elsa Laksono (60) meninggal dunia akibat hipotermia saat menuruni gunung tersebut. Mereka merupakan bagian dari tim pendakian yang terdiri dari 10 orang, termasuk musisi Fiersa Besari serta pendaki dari Rusia dan Turki.  

    Rombongan pendaki memulai perjalanan mereka dengan menaiki helikopter hingga mencapai Lembah Kuning. Dari titik tersebut, mereka melanjutkan perjalanan menuju Puncak Carstensz. Setelah berhasil mencapai puncak pada Jumat (28/2/2025), mereka dihadapkan pada kondisi cuaca ekstrem saat turun.

    Lilie dan Elsa mengalami gejala hipotermia dan ditemukan dalam kondisi kritis di area Teras 2. Meskipun tim penyelamat telah berupaya memberikan pertolongan, nyawa keduanya tidak dapat diselamatkan dan mereka dinyatakan meninggal pada Sabtu (1/2/2025).

    2. Dua pendaki tewas dalam insiden terpisah (2024)

    Pada 2024, dua pendaki dilaporkan kehilangan nyawa dalam dua kejadian yang berbeda di kawasan Puncak Carstensz. Insiden pertama terjadi pada 29 September 2024, yang mana seorang pendaki mengalami serangan jantung saat dalam perjalanan menuju puncak.

    Kondisi ini sangat berbahaya, terutama di ketinggian ekstrem, karena tubuh harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan oksigen. Kurangnya persiapan fisik dan faktor kesehatan menjadi pemicu utama risiko ini.

    Kejadian tragis lainnya menimpa seorang pendaki asal Tiongkok bernama Dong Fei. Setelah berhasil mencapai puncak, dia mengalami kecelakaan fatal saat dalam perjalanan turun. Diduga, dia terjatuh dari ketinggian dan mengalami luka serius yang akhirnya merenggut nyawanya.

    3. Pemandu Andika Pratama meninggal tertimpa longsoran batu (2018)

    Pada November 2018, seorang pemandu pendakian bernama Andika Pratama mengalami kecelakaan tragis saat mendampingi rombongan pendaki menuju Puncak Carstensz. Kejadian ini berlangsung ketika dia sedang melakukan aklimatisasi, yaitu proses penting untuk membantu tubuh menyesuaikan diri dengan kadar oksigen yang lebih rendah di ketinggian.

    Nahasnya, ketika berada di titik pertama pemasangan tali, terjadi longsoran batu yang langsung mengenainya. Wilayah tersebut memang dikenal memiliki risiko tinggi terhadap longsoran, terutama saat cuaca tidak bersahabat. Cedera yang dialami Andika begitu parah sehingga nyawanya tidak dapat diselamatkan, dan dia meninggal dunia di lokasi kejadian.

    4. Ahmad Hadi meninggal dunia akibat hipoksia (2017)

    Pada Oktober 2017, seorang pendaki asal Jakarta bernama Ahmad Hadi kehilangan nyawa akibat hipoksia, kondisi tubuh kekurangan oksigen saat berada di ketinggian. Insiden ini terjadi ketika Ahmad sedang dalam perjalanan menuruni Puncak Carstensz.

    Saat menuruni jalur pendakian, Ahmad Hadi mulai merasakan nyeri di bagian dada. Tidak lama setelah itu, kondisinya memburuk hingga mengalami kejang-kejang. Sayangnya, nyawanya tidak dapat diselamatkan, dan dia meninggal dunia akibat efek dari kekurangan oksigen di ketinggian ekstrem.

    5. Pendaki Erik Erlangga meninggal saat mencapai puncak

    Seorang pendaki asal Indonesia bernama Erik Airlangga mengalami nasib nahas saat mencoba mencapai puncak Carstensz. Ia terjebak dalam kondisi cuaca ekstrem yang menyebabkan suhu tubuhnya turun drastis hingga mengalami hipotermia. Sayangnya, kondisi tersebut tidak dapat diatasi, sehingga nyawanya tidak terselamatkan.  

    Serangkaian kejadian ini menjadi pengingat mendaki Puncak Carstensz bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan persiapan yang matang. Medan yang sulit, cuaca yang ekstrem, serta kondisi alam yang tidak terduga membuat pendakian ke gunung ini memiliki risiko yang tinggi.

    Oleh karena itu, para pendaki yang berencana menaklukkan Puncak Carstensz harus memiliki kesiapan fisik, perlengkapan yang memadai, serta kewaspadaan tinggi agar dapat meminimalkan risiko kecelakaan.

  • Gunung Carstensz Jadi Saksi Perjalanan Terakhir Ratu Pendaki Lilie dan Elsa

    Gunung Carstensz Jadi Saksi Perjalanan Terakhir Ratu Pendaki Lilie dan Elsa

    Jakarta, Beritasatu.com – Tragedi tragis menimpa dua pendaki perempuan, Lilie Wijayanti Poegiono (60) dan Elsa Laksono (60), yang meninggal dunia pada Sabtu (1/3/2025), saat menuruni puncak Gunung Cartensz. Keduanya diduga terserang hipotermia setelah terjebak dalam badai salju dan angin kencang yang melanda pegunungan tertinggi di Indonesia itu.

    Lilie dan Elsa, yang dikenal sebagai “ratu pendaki” atau hiking queen, merupakan sahabat sejati yang berbagi kecintaan terhadap petualangan. Perjalanan mereka ke Puncak Jaya (disebut Piramida Cartensz) bukan sekadar pendakian biasa, melainkan bagian dari misi besar menaklukkan tujuh puncak tertinggi di Indonesia (Seven Summit). 

    Sayangnya, misi terakhir mereka di puncak tertinggi Nusantara ini harus berakhir dengan duka. Lantas, bagaimana sejarah Gunung Cartensz ini? Berikut penjelasan lengkapnya!

    Sejarah dan Penamaan Gunung Cartensz

    Gunung Cartensz, atau yang lebih dikenal sebagai Puncak Jaya, merupakan gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Terletak di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, gunung ini menjadi bagian dari Pegunungan Barisan Sudirman dan dikenal dengan keunikannya yang diselimuti salju meskipun berada di wilayah tropis.

    Gunung ini pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh seorang pelaut Belanda bernama Jan Cartensz pada tahun 1623. Saat dalam pelayarannya di pantai selatan Papua, ia melihat melalui teropongnya sebuah puncak gunung yang tertutup salju.

    Namun, laporannya mendapat cemoohan dari masyarakat Eropa yang menganggap mustahil adanya salju di wilayah tropis dekat khatulistiwa. Meski demikian, apa yang dikatakannya terbukti benar, dan gunung tersebut kini dikenal dengan nama Puncak Cartensz.

    Seusai Papua menjadi bagian dari Indonesia, pemerintah memberikan nama resmi Puncak Jayakesuma untuk gunung ini, yang kemudian lebih sering disebut sebagai Puncak Jaya.

    Namun, sebelum dikenal dengan nama-nama tersebut, masyarakat asli Papua, khususnya Suku Amungme, telah lama menamainya sebagai Nemangkawi Ninggok, yang berarti “Puncak Anak Panah Berwarna Putih”. Suku Amungme sendiri merupakan pemilik hak ulayat atas tanah tempat gunung ini berdiri.

    Keunikan dan Kondisi Geografis

    Sebagai salah satu dari Seven Summits dunia, Gunung Cartensz memiliki karakteristik yang unik. Selain menjadi puncak tertinggi di Indonesia dan peringkat ke-7 di Asia, gunung ini juga tergolong sebagai pegunungan kars.

    Keistimewaan lainnya adalah keberadaan Gletser Cartensz, satu-satunya gletser tropis yang masih tersisa di Indonesia, meskipun mengalami penyusutan akibat perubahan iklim.

    Gunung ini juga merupakan satu dari lima tempat di sekitar garis khatulistiwa yang memiliki salju abadi. Luas salju di puncaknya diperkirakan mencapai 3.300 hektar, menjadikannya fenomena alam yang langka di wilayah tropis.

    Medan dan Tantangan Pendakian

    Gunung Cartensz berada di wilayah tiga kabupaten di Papua Tengah, yaitu Intan Jaya, Mimika, dan Puncak. Dengan kondisi geografis yang ekstrem, pendakian ke puncak gunung ini bukanlah sesuatu yang mudah.

    Medan yang curam, suhu yang sangat dingin, serta curah hujan yang tinggi membuatnya menjadi salah satu jalur pendakian paling menantang di dunia.

    Pendaki yang ingin mencapai puncaknya harus memiliki keterampilan dan perlengkapan yang memadai untuk menghadapi berbagai risiko, termasuk hipotermia akibat cuaca buruk.

    Baru-baru ini, dua pendaki perempuan, Lilie dan Elsa, dinyatakan meninggal dunia pada 1 Maret 2025 saat perjalanan turun dari Puncak Cartensz akibat serangan hipotermia yang dipicu oleh badai di kawasan tersebut.

    Dengan segala keunikan dan tantangannya, Gunung Cartensz tetap menjadi destinasi impian bagi para pendaki profesional dari seluruh dunia. Namun, persiapan yang matang serta kewaspadaan tinggi tetap menjadi faktor utama bagi siapa pun yang ingin menaklukkan salah satu puncak tertinggi di dunia ini.

  • Bareskrim Bongkar Penyelewengan Penjualan BBM di Sulawesi Tenggara

    Bareskrim Bongkar Penyelewengan Penjualan BBM di Sulawesi Tenggara

    Jakarta, Beritasatu.com – Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri membongkar kasus penyelewengan penjualan BBM bersubsidi jenis solar ke nonsubsidi di Kolaka, Sulawesi Tenggara. 

    Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Nunung Syaifudin mengatakan, pengungkapan kasus ini berdasarkan laporan polisi nomor: LP/A/109/XI/2024/SPKT.DITTIPIDTER/BARESKRIM POLRI, tanggal 14 November 2024 dan Surat Perintah Penyidikan Nomor: SP.Sidik/636/XI/RES.5.5./2024/Tipidter, tanggal 14 November 2024. 

    “Fakta peristiwa yang terjadi yaitu setelah melalui serangkaian penyelidikan oleh unit 5 Subdit 1 Dittipidter Bareskrim Polri, telah ditemukan kegiatan di gudang penampungan BBM subsidi ilegal yang beralamat di Lorong Teppoe, Kelurahan Balandete, Kecamatan Kolaka, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara,” kata Nunung dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Senin (3/3/2025). 

    Dikatakan Nunung, bahan bakar minyak jenis solar bersubsidi atau B35 yang berasal dari fuel terminal BBM Kolaka bagian dari PT Pertamina Patraniaga Operasional Region 7 Makassar yang seharusnya dikirim ke stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU dan SPBN stasiun pengisian bahan bakar nelayan dan diselewengkan. 

    Oleh agen penyaluran minyak dan solar atau APMS disalahgunakan dengan cara BBM itu dibelokkan ke gudang penimbunan tanpa perizinan. Oleh pelaku, isi muatan biosolar tersebut dipindahkan langsung ke mobil tangki solar industri atau mobil tangki kepala biru.

    Selanjutnya, BBM itu dijual kembali dengan harga solar industri atau nonsubsidi kepada para penambang atau yang melakukan usaha penambangan atau dijual kepada kapal penarik tongkang dengan harga solar industri.

    Nunung juga memerinci ada empat orang yang diduga terlibat dalam kasus penyelewengan penjualan BBM ini dan saat ini masih berstatus saksi. 

    Keempatnya, yaitu BK merupakan pengelola lokasi atau pemilik tempat gedung gudang penimbunan tanpa perizinan yang terletak di daerah Balan DT Kecamatan Kolaka, Kabupaten Kolaka. 

    “Saudara A sebagai pemilik SPBU nelayan, Kecamatan Kuleng, Tenggara, Kabupaten Bumbana. Selain itu kita juga menduga ada keterlibatan Saudara T selaku penyedia armada atau pemilik truk atau mobil tangki,” ucapnya. 

    Kemudian ada dugaan oknum pegawai PT Pertamina Patra Niaga yang diduga membantu menebus BBM jenis solar itu kepada PT Pertamina.

    Atas perbuatannya penyelewengan pembelian BBM itu, mereka bisa dikenakan Pasal 40 ayat (9) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 dan Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja atas perubahan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. 

  • Netizen Berduka Atas Kematian 2 Ratu Pendaki di Cartensz: Selamat Jalan The Real Hiking Queen!

    Netizen Berduka Atas Kematian 2 Ratu Pendaki di Cartensz: Selamat Jalan The Real Hiking Queen!

    Jakarta, Beritasatu.com – Kematian dua pendaki Lilie Wijayanti Poegiono (60) dan Elsa Laksono (60) di Puncak Jaya atau Piramida Cartensz, Papua Tengah membuat banyak netizen Tanah Air berduka. Warganet terharu dengan kisah persahabatan kedua hiking queen atau ratu pendaki tersebut.

    Netizen ramai menyampaikan rasa duka cita atas kematian kedua pendaki wanita itu dalam kolom komentar unggahan terakhir Lilie Wijayanti di akun Instagramnya @mamakpendaki.

    Dalam postingan itu, Lilie mengunggah video singkat perjalanan pendakian bersama Elsa Laksono. Lilie yang merupakan perancang busana mengaku sudah bersahabat dengan Elsa sejak SMP dan SMA.

    Keduanya memiliki hobi naik gunung sejak remaja. Dalam usia 18 tahun, Lilie dan Elsa sudah berhasil menaklukkan Gunung Bromo, Jawa Timur. Keduanya sudah mendaki banyak gunung baik di Indonesia maupun luar negeri.

    Terakhir keduanya mendaki Gunung Cartensz untuk menyelesaikan misi seven summit atau penaklukan tujuh puncak tertinggi di Indonesia. 

    Namun, dalam perjalanan turun dari puncak tertinggi di Indonesia, Lilie dan Elsa terjebat badai salju hingga mengalami hipotermia. Kedua sahabat sejati itu meninggal pada Sabtu (1/3/2025).

    “Alam adalah playground kami. Entah mengapa kalau di alam kami bisa bergembira seperti menari-nari di trek, lupa semua masalah. Dan itulah kami, kami enggak bisa menari, menarinya jelek karena bukan dancing queen, tetapi kami adalah Hiking Queen. Gunung adalah kerajaan kami,” tulis Lilie sebelum meninggal dalam pendakian di Puncak Cartensz.

    Dua Ratu Pendaki Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono yang meninggal dalam pendakian Puncak Jaya atau Piramida Cartensz di Papua Tengah. – (Instagram/@mamakpendaki)

    Unggahan Lilie langsung diserbu netizen untuk mengomentari status terakhir dia sekaligus menyampaikan duka cita.

    “Selamat jalan the real Hiking Queen,” tulis akun @hauranabila.

    Banyak netizen memuji kisah persahabatan Lilie dan Elsa yang abadi hingga akhir hayat dalam menuntaskan mimpi yang sama.

    “Kalian panutan, kalian hebat, kalian hebat, kalian legend, kalian pahlawan, kalian sahabat sejati, dan abadi di tempat tertinggi,” sebut @cyrusgrath.

    “Selamat jalan dua mamak hebat. Persahabatan abadi dalam pelukan puncak abadi Cartensz. May you both rest in peace. Mama Lili dan Mama Elsa, kisah persahabatan abadi yang sangat menginspirasi,” @elsamuninggar.

    “Turut berduka untuk keduanya. Sejak muda bersama di gunung dan sampai akhir hayat di gunung tertinggi di Indonesia yang merupakan impian mereka,” tulis @bonasipatuhar.

    “Betapa mulianya mereka yang memberikan segalanya untuk apa yang mereka cintai. Beristirahatlah dalam damai Hiking Queen,” ujar @oanwutun.

    “Dunia pendakian kehilangan Hiking Queen, rest in love,” komentar @redtitian terkait kematian dua pendaki di Puncak Cartensz.

  • Jenazah Pendaki Perempuan Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti Diterbangkan ke Kampung Halaman

    Jenazah Pendaki Perempuan Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti Diterbangkan ke Kampung Halaman

    Timika, Beritasatu.com – Dua jenazah pendaki perempuan yang tewas di Puncak Cartenz, Papua yakni Elsa Laksono dan Lilie Wijayanti Poegiono diterbangkan ke kampung halaman pada Senin (3/3/2025).

    Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman mengatakan kedua jenazah diterbangkan dari Bandara Mozes Kilangin Timika menggunakan pesawat komersial. Keduanya diketahui berasal dari Jakarta dan Bandung.

    “Jenazah berangkat sekitar pukul 10.45 WIT didampingi oleh dua rekan korban dan satu orang perwakilan dari PT Tropis Carstensz Jaya,” kata Kapolres Billyandha.

    Sebelumnya jenazah kedua pendaki mendapat penanganan di RSUD Mimika. Sekitar pukul 09.00 WIT jenazah Lilie Wijayanti Poegiono kemudian dibawa ke Bandara Mozes Kilangin, disusul jenazah Elsa Laksono pada pukul 09.25 WIT.

    Evakuasi jenazah Lilie Wijayanti Poegiono sempat terhambat cuaca buruk pada Minggu (2/3/2025). Jenazah baru berhasil dievakuasi ke Timika pada Senin (3/3/2025) pagi.

    Sebelumnya, lima pendaki mengalami hipotermia di Puncak Cartenz akibat cuaca buruk pada Sabtu (1/3/2025). Cuaca buruk ini ditandai turunnya hujan salju, hujan deras, dan angin kencang yang menyebabkan kelima pendaki tersebut mengalami hipotermia.

    Dua pendaki perempuan yakni Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono meninggal dunia di teras dua pada saat perjalanan turun dari Puncak Cartenz akibat cuaca buruk tersebut.
    Keduanya mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 02.07 WIT setelah dievakuasi oleh guide dan rekan-rekan di basecamp yang langsung kembali naik ke Puncak Cartenz untuk membantu proses evakuasi.

    Tiga pendaki Puncak Cartenz yang selamat atas nama Indira Alaika, Alvin Reggy Perdana, dan Saroni. Mereka sebelumnya terjebak dan terpaksa bermalam di area dekat puncak hingga besoknya tim rescue tiba melakukan penyelamatan.

     

  • Syok Lilie dan Elsa Tewas di Puncak Carstenz, Ini Cerita Fiersa Besari

    Syok Lilie dan Elsa Tewas di Puncak Carstenz, Ini Cerita Fiersa Besari

    Jakarta, Beritasatu.com – Musisi sekaligus pendaki Fiersa Besari akhirnya buka suara terkait tewasnya dua pendaki wanita, Lilie Wijayanti Poegiono (60) dan Elsa Laksono (60) dalam misi pendakian Puncak Jaya atau Piramida Carstensz, Papua Tengah pada Sabtu (1/3/2025).

    Melalui akun media sosialnya, Fiersa mengucapkan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga kedua pendaki itu. Ia berharap, korban diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan.

    “Dalam tulisan ini, saya ingin memberikan ucapan belasungkawa yang terdalam. Turut berduka cita atas berpulangnya Bu Lilie Wijayanti Poegiono (Mamak Pendaki) dan Bu Elsa Laksono. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Semoga Bu Lilie dan Bu Elsa diberikan tempat terbaik di sisi-Nya,” tulisnya pada Senin (3/3/2025).

    Kronologi

    Lebih lanjut, ia mengungkapkan kronologi terkait peristiwa nahas tersebut. Ia dan para pendaki lainnya mengaku sangat terkejut dan berduka atas meninggalnya kedua korban.

    “Saya juga ingin meminta maaf karena baru mengabari perihal situasi Carstensz Pyramid (puncak tertinggi Indonesia dengan nama lain Puncak Jaya), karena kami yang berada di basecamp Yellow Valley (YV) pun merasa sangat syok dan berduka atas tragedi yang telah terjadi,” ujarnya.

    Fiersa Besari menuturkan, saat ini ia dan Furky Syahroni telah dievakuasi ke Timika, Papua Tengah dalam kondisi sehat meski sebelumnya sempat tertahan akibat cuaca buruk.

    “Saat ini, saya dan Furky Syahrono baru tiba kembali ke Timika, Papua Tengah (3 Maret 2025) setelah tertahan di YV terkait cuaca buruk yang berdampak pada lalu lintas helikopter (satu-satunya akses resmi ke YV untuk saat ini adalah helikopter). Kondisi kami Alhamdulillah stabil,” tuturnya.

    Ia mengatakan, sebelumnya ia bersama kedua pendaki lainnya tergabung ke dalam satu tim. Sementara itu, kedua korban tergabung ke dalam tim lainnya yang terdiri dari empat orang. Keenam pendaki tersebut memiliki tour operator yang berbeda. Selain para pendaki lokal, ada pula pendaki warga negara asing (WNA) dan tamu dari pihak Balai Taman Nasional yang ikut mendaki pada Jumat (28/2/2025).

    Penulis kelahiran Bandung, Jawa Barat itu membeberkan, Carstensz Pyramid berbeda dengan gunung-gunung di Indonesia pada umumnya. Menurutnya, medan tebing di lokasi tersebut curam dan memiliki ketinggian sekitar 600 meter. Karena kondisi itu, para pendaki diwajibkan ahli dalam menggunakan alat-alat tali untuk naik dan turun sebagai prosedur keamanan.

    “Mungkin, yang tidak diketahui kawan-kawan yang kurang familier dengan dunia pendakian, Carstenz Pyramid berbeda dengan gunung di Indonesia pada umumnya. Medan tebing curam dengan ketinggian 600-an meter (basecamp YV 2400-an MDPL – Puncak Jaya 4884 MDPL), mewajibkan kita untuk lancar menggunakan alat-alat tali untuk naik dan turun (ascending dan rappelling) sebagai safety procedure. Sebagai catatan, di ketinggian di atas 4000-an MDPL, apalagi dalam cuaca buruk, kita memang tidak boleh diam terlalu lama, sebab rentan terkena hipotermia,” jelasnya.

    Fiersa mengaku baru mengetahui tragedi yang menewaskan Lilie dan Elsa itu setelah dirinya tiba di basecamp YV pada Sabtu (1/3/2025), sekitar pukul 04.00 WIT. Setelah mendengar kabar tersebut, ia dan para pendaki lainnya terus-menerus mengontak para korban yang terjebak dengan menggunakan HT, hingga akhirnya korban dijemput oleh para relawan lokal maupun internasional. Ketiga korban dinyatakan selamat, meski sempat kritis.

    Penulis berusia 41 tahun itu mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tergabung ke dalam proses evakuasi, terutama seluruh kru dan pendaki di YV. Ia juga meminta agar publik berempati atas kejadian ini, serta memberikan ruang untuk keluarga dan kerabat yang berduka.

    “Saya juga ingin berterima kasih kepada semua pihak yang sangat suportif dalam proses evakuasi, terutama seluruh kru dan pendaki di YV. Akhir kata, saya berharap kawan-kawan dapat menahan jempolnya untuk mengeluarkan asumsi, teori, apalagi komentar nirempati. Pakai energi untuk berdoa. Beri ruang untuk keluarga dan kerabat yang berpulang untuk berduka. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Salam lestari, Fiersa Besari,” tutupnya.

  • Polisi Tangkap Komplotan Curanmor Bersenjata Api di Lampung Selatan yang Telah Beraksi di 32 Lokasi

    Polisi Tangkap Komplotan Curanmor Bersenjata Api di Lampung Selatan yang Telah Beraksi di 32 Lokasi

    Lampung Selatan, Beritasatu.com – Tim gabungan Polres Lampung Selatan berhasil menangkap tiga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) bersenjata api yang telah beraksi di 32 lokasi di wilayah Lampung Selatan.

    Ketiga pelaku ditangkap dalam penggerebekan di rumah mereka di Kabupaten Lampung Timur, Sabtu  (1/3/2025) malam.

    Penggerebekan pertama dilakukan di rumah Beno (17), di Desa Maringgai, Kecamatan Labuhan Maringgai. Setelah menangkap Beno, polisi melanjutkan operasi di lokasi lain dan berhasil menangkap dua pelaku lainnya, yakni Baim (21) dan Jaki (21), tanpa perlawanan. Salah satu pelaku sempat mencoba melarikan diri ke atap rumah, polisi kemudian mengeluarkan tembakan peringatan hingga akhirnya pelaku menyerah.

    Kapolres Lampung Selatan AKBP Yusriandi Yusrin mengungkapkan, ketiga pelaku merupakan bagian dari komplotan curanmor bersenjata api yang telah beraksi sejak 2024. Sasaran mereka adalah sepeda motor yang terparkir di halaman rumah, kantor, dan tempat umum. Salah satu aksi mereka terekam CCTV saat mencuri motor di area parkir kantor perusahaan pembiayaan di Kalianda pada 16 Januari 2025.

    Barang bukti yang disita polisi dalam penggerebekan itu, adalah  enam unit sepeda motor hasil curian, satu pucuk senjata api rakita, satu bilah golok, serta satu kunci leter T dan obeng.

    “Komplotan ini beraksi di berbagai wilayah, termasuk Kalianda, Penengahan, dan Sragi. Kami akan terus mengembangkan kasus ini untuk menangkap pelaku lainnya,” ujar Yusriandi, Minggu (2/3/2025).

    Ketiga pelaku kini ditahan di Polres Lampung Selatan dan dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

    Polisi mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dalam memarkir kendaraan dan menggunakan kunci ganda sebagai langkah pencegahan pencurian.