Category: Beritasatu.com Ekonomi

  • Okupansi Anjlok, Badai Efisiensi Buat Hotel di Depok Rugi Miliaran

    Okupansi Anjlok, Badai Efisiensi Buat Hotel di Depok Rugi Miliaran

    Depok, Beritasatu.com – Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah mulai berdampak serius pada sektor perhotelan di Depok, Jawa Barat. Sejumlah hotel mengalami penurunan pendapatan secara drastis, bahkan mencatatkan kerugian hingga miliaran rupiah akibat minimnya kegiatan rapat, pelatihan, hingga pertemuan resmi yang selama ini menjadi andalan.

    Salah satu yang terdampak adalah Hotel Savero di Jalan Margonda Raya. Manajer Hotel Savero, Rahmawati menyebut, penurunan okupansi dan penyewaan ruang meeting sangat terasa sejak pertengahan 2025.

    “Yang biasanya kita bisa 80% okupansi, sekarang 50% saja sudah bagus. Ruang meeting juga sepi. Padahal, dahulu bisa 6-8 kali dipakai sehari,” ungkapnya, Jumat (13/6/2025).

    Kebijakan efisiensi yang dilakukan demi menjaga stabilitas keuangan negara telah mengurangi pesanan hotel dari instansi pemerintah maupun korporasi. Banyak hotel yang selama ini bergantung pada kegiatan resmi kini harus berjuang keras untuk bertahan.

    Upaya promosi yang dilakukan hotel pun belum membuahkan hasil maksimal. Meski mulai mengalihkan fokus ke pasar wisatawan domestik dan keluarga, penghasilan dari segmen ini belum mampu menutup kerugian dari segmen meeting, incentive, convention, exhibition (MICE).

    “Kami mengandalkan tamu-tamu keluarga, tetapi pendapatannya jauh dari saat masih banyak meeting,” ujar Rahmawati.

    Pelaku usaha perhotelan di Depok meminta dukungan konkret dari pemerintah daerah untuk membantu industri ini keluar dari tekanan berat. Mereka berharap ada regulasi atau insentif yang bisa menyeimbangkan antara efisiensi anggaran dan keberlangsungan usaha pada sektor jasa.

    “Kami harap pemerintah tidak tinggal diam. Hotel juga penyumbang ekonomi daerah dan lapangan kerja,” tegas Rahmawati.

  • Kopdes Merah Putih Sudah 47 Persen Berbadan Hukum

    Kopdes Merah Putih Sudah 47 Persen Berbadan Hukum

    Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah terus mengakselerasi proses legalisasi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di seluruh Indonesia. Hingga Jumat (13/6/2025), tercatat 47% dari total 79.882 kopdes telah resmi berbadan hukum di Kementerian Hukum (Kemenkum).

    Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan seusai memimpin rapat koordinasi terbatas di kantor Kemenko Pangan. Ia mengatakan, jumlah koperasi yang telah berbadan hukum mencapai 37.300 unit.

    “Kemarin 36.000, hari ini sudah 37.300. Jadi hampir 47%. Memang butuh waktu untuk mengurus legalitasnya, tetapi kita terus kejar,” kata Zulhas kepada wartawan.

    Pemerintah menargetkan seluruh Kopdes Merah Putih rampung berbadan hukum paling lambat 30 Juni 2025. Prosesnya disebut on the track mengingat progres per hari terus menunjukkan peningkatan.

    Tak hanya legalitas, Zulhas juga menyebut 96% musyawarah desa khusus (Musdesus) sebagai dasar pembentukan kopdes juga telah tuntas di hampir seluruh desa dan kelurahan. “Sudah 79.882 kopdes, dan 96% musdesus sudah selesai,” ujarnya.

    Kopdes Merah Putih digagas sebagai instrumen ekonomi rakyat untuk memutus rantai distribusi yang merugikan masyarakat desa. Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi menyatakan, koperasi ini akan menjadi alat negara untuk melawan tengkulak serta mendekatkan akses modal murah ke akar rumput.

    “Dengan Kopdes Merah Putih, rakyat bisa lebih mudah mengakses sembako murah, pupuk subsidi, LPG subsidi, dan pembiayaan usaha kecil yang selama ini sulit mereka dapatkan,” ujar Budi Arie dalam siaran pers, Kamis (12/6/2025).

    Koperasi ini juga diharapkan membantu UMKM di desa terhindar dari jeratan rentenir. Selain itu juga dapat menjadi solusi ekonomi inklusif yang merata hingga pelosok tanah air.

  • Pasar Saham Global Anjlok Seusai Israel Serang Iran

    Pasar Saham Global Anjlok Seusai Israel Serang Iran

    Jakarta, Beritasatu.com – Pasar saham global anjlok pada Jumat (13/6/2025) setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran yang memicu aksi balasan dari Iran.

    Pada saat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,53% atau sebesar 38,30 poin ke level 7.166, indeks DAX Jerman juga turun 1,4% menjadi 23.437,61, CAC 40 Prancis melemah 1% ke 7.685,89, dan FTSE 100 Inggris merosot 0,5% menjadi 8.840,95.

    Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,9% ke 37.834,25. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,9% menjadi 2.894,62. Hang Seng Hong Kong melemah 0,6% ke 23.892,56, dan Shanghai Composite Index turun 0,8% ke 3.377,00. Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia turun 0,2% ke level 8.547,40.

    Dilansir dari AP, Xu Tiachen dari The Economist Intelligence menyampaikan, serangan Israel terhadap Iran merupakan salah satu dari sepuluh risiko global terbesar. Namun, pasar Asia diperkirakan akan pulih lebih cepat karena keterkaitan langsungnya lebih kecil dengan konflik ini dan hubungan yang semakin erat dengan Arab Saudi dan UEA yang tidak terpengaruh.

    Diberitakan sebelumnya, Israel mengeklaim telah menargetkan fasilitas nuklir Iran, pabrik rudal balistik, dan panglima militer sebagai bagian dari operasi jangka panjang untuk mencegah pembangunan senjata nuklir oleh Teheran.

    Sebagai langkah balasan, Iran meluncurkan sekitar 100 drone ke wilayah Israel, memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian di pasar global.

  • Indonesia-Singapura Bangun Zona Industri Hijau di BBK Kepri

    Indonesia-Singapura Bangun Zona Industri Hijau di BBK Kepri

    Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Singapura dalam pengembangan energi ramah lingkungan.

    Salah satu fokus utama dari kerja sama ini adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait pembentukan zona industri berkelanjutan (sustainable industrial zone/SIZ) yang akan mendorong pengembangan kawasan industri hijau di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Provinsi Kepulauan Riau.

    Kesepakatan tersebut dituangkan dalam tiga MoU yang ditandatangani di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat (13/6/2025), oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Energi serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Singapura Tan See Leng.

    Bahlil mengungkapkan bahwa pembentukan kawasan industri hijau ini bertujuan menarik investasi di bidang energi baru dan terbarukan, serta mendukung perdagangan listrik lintas negara.

    Sebagai langkah awal, kedua negara sepakat membentuk satuan tugas bersama atau Sustainable Industrial Zone (SIZ) Taskforce, di mana Kementerian ESDM akan bertindak sebagai co-chair dari pihak Indonesia.

    Taskforce ini akan memastikan implementasi industri rendah karbon yang berkelanjutan, didukung oleh infrastruktur dan iklim investasi yang kondusif.

    Ruang lingkup pengembangan industri di kawasan SIZ meliputi energi rendah karbon dan penyimpanan energi (baterai), industri berkelanjutan dan pendukung, logistik, serta sektor terkait lainnya.

    “Kelak, Pemerintah Singapura bersama Indonesia akan membangun kawasan industri bersama. Ini yang saya maksudkan agar kedua negara bisa maju bersama,” ujar Bahlil di Jakarta.

    Tak hanya itu, kedua negara juga berkomitmen memperkuat iklim investasi melalui penyediaan infrastruktur pendukung, penyederhanaan perizinan, dukungan lintas sektor, serta jaminan keamanan dan kepercayaan dalam aliran data lintas batas.

    Adapun tiga MoU yang telah ditandatangani antara lain:

    MoU tentang Zona Industri Berkelanjutan (Sustainable Industrial Zone/SIZ)MoU tentang Interkoneksi dan Perdagangan Listrik Lintas Batas, Teknologi Energi Terbarukan dan Rendah Karbon, serta Efisiensi dan Konservasi EnergiMoU tentang Kerja Sama Penangkapan dan Penyimpanan Karbon Lintas Batas.

    Bahlil menegaskan, kerja sama antara Indonesia dan Singapura ini merupakan wujud komitmen kuat untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan energi dan mencapai target iklim nasional, tetapi juga mewujudkan kemakmuran bersama dan keberlanjutan kawasan.

    “Kerja sama ini harus memberi keuntungan bagi kedua pihak. Kita kirim listrik ke Singapura, dan dalam hasil negosiasi, Pemerintah Singapura juga akan bekerja sama dengan Indonesia dalam membangun kawasan industri hijau,” pungkasnya.

  • Air India Jatuh, Ini Deretan Masalah Serius yang Dihadapi Boeing

    Air India Jatuh, Ini Deretan Masalah Serius yang Dihadapi Boeing

    Jakarta, Beritasatu.com – Nasib buruk kembali menyelimuti Boeing. Produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) ini kembali menjadi sorotan dunia setelah kecelakaan tragis yang menimpa pesawat Air India 787 Dreamliner, Kamis (12/6/2025).

    Insiden ini terjadi hanya beberapa menit setelah  pesawat tersebut lepas landas dari kota Ahmedabad, India, dan menewaskan seluruh penumpang serta awak pesawat yang berjumlah lebih dari 240 orang.

    Meski penyebab pasti kecelakaan Air India 787 Dreamliner belum diketahui, tragedi ini langsung mengguncang pasar.

    Saham Boeing tercatat anjlok lebih dari 4% pada perdagangan sore hari setelah berita kecelakaan mencuat.

    Ini menjadi kecelakaan fatal pertama yang melibatkan model Boeing 787 sejak pertama kali diluncurkan pada 2009 silam.

    Dreamliner dan Risiko Baterai Ion Litium

    Boeing 787 yang dijuluki “Dreamliner” merupakan jet komersial pertama yang menggunakan baterai ion litium secara ekstensif. Teknologi ini dikenal lebih ringan dan efisien, tetapi juga memiliki risiko panas berlebih.

    Bahkan pada tahun 2013, armada 787 pernah dihentikan sementara karena beberapa insiden kebakaran yang dipicu oleh panas dari baterai tersebut.

    Kini, setelah lebih dari satu dekade, perhatian kembali tertuju pada integritas teknologi Dreamliner. Apakah kecelakaan Air India terkait dengan masalah serupa? Investigasi mendalam masih berlangsung.

    737 Max dan Sejarah Hitam Boeing

    Masalah terbaru Boeing ini seolah menghidupkan kembali trauma lama. Seri Boeing 737 Max menjadi noda besar dalam sejarah industri penerbangan setelah dua kecelakaan fatal pada 2018 dan 2019, masing-masing di Indonesia dan Ethiopia yang merenggut total 346 nyawa.

    Kedua kecelakaan tersebut disebabkan oleh sensor rusak yang membuat hidung pesawat menukik secara otomatis tanpa kendali pilot.

    Akibatnya, seluruh armada Max sempat dilarang terbang secara global. Boeing kemudian melakukan perombakan sistem, tetapi luka reputasi masih membekas hingga kini.

    Bahkan, baru-baru ini, sebuah penutup pintu dari pesawat Max yang dioperasikan Alaska Airlines terlepas saat mengudara. Insiden ini membuat regulator kembali membatasi produksi Boeing menjadi hanya 38 unit per bulan.

    Deretan Masalah Keuangan dan Produksi

    Melansir dari AP News, di balik kecelakaan dan isu teknis, masalah keuangan Boeing juga kian mengkhawatirkan. Pada tahun 2024, perusahaan mencatat kerugian besar sebesar US$ 11,8 miliar, menambah total kerugian sejak 2019 menjadi lebih dari US$ 35 miliar.

    Selain itu, pemogokan masinis di fasilitas Renton dan Everett di negara bagian Washington menyebabkan penghentian produksi, sehingga memperlambat proses pengiriman pesawat ke maskapai.

    Selama kuartal I tahun 2025, meskipun kerugian menurun menjadi US$ 31 juta, CEO Kelly Ortberg mengakui bahwa Boeing masih dalam proses “menstabilkan operasi.” Artinya, tantangan besar masih menanti ke depan.

    Boeing Tertinggal dari Airbus dalam Pengiriman Pesawat

    Kinerja pengiriman pesawat Boeing juga merosot tajam. Pada tahun 2024, Boeing hanya mengirimkan 348 unit pesawat jet, turun sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 528 unit.

    Sebagai perbandingan, rival utamanya, Airbus berhasil mengirimkan 766 pesawat pada tahun 2023, hampir dua kali lipat dari Boeing.

    Tertinggalnya Boeing ini disebabkan oleh kombinasi antara peningkatan pengawasan pemerintah, kendala produksi, dan krisis kepercayaan akibat insiden yang beruntun.

    Kepercayaan Pelanggan terhadap Boeing

    Meski dihantam banyak krisis, kepercayaan beberapa maskapai besar terhadap Boeing belum sepenuhnya luntur. Pada Mei 2025 lalu, perusahaan ini mendapatkan pesanan jumbo senilai US$ 96 miliar dari dua pelanggan asal Timur Tengah, termasuk Qatar Airways.

    Pesanan tersebut mencakup Boeing 787 dan jet berbadan lebar terbaru 777X, yang menjadi angin segar di tengah badai.

    Namun, muncul pertanyaan besar. Sampai kapan maskapai akan bertahan dalam ketidakpastian? Jika insiden seperti jatuhnya Air India Dreamliner terus berulang tanpa solusi tegas, Boeing diprediksi akan kehilangan pijakan dalam kompetisi global.

    Masa Depan Boeing dalam Sorotan Dunia

    Kecelakaan Air India 787 Dreamliner tidak hanya menambah daftar tragedi dalam sejarah penerbangan modern, tetapi juga memperkuat citra bahwa masalah terbaru Boeing belum terselesaikan. Dari aspek teknis, keuangan, hingga operasional, perusahaan raksasa ini tengah berjalan di atas garis tipis.

    Dalam dunia penerbangan yang menuntut keamanan dan presisi tinggi, kesalahan sekecil apa pun bisa berujung pada kehilangan nyawa dan reputasi.

    Setelah kecelakaan Air India 787 Dreamliner, Boeing kini semakin berada dalam situasi yang sulit. Namun, pilihan itu tetap ada, yakni bangkit melalui perbaikan mendalam atau terus terpuruk dalam bayang-bayang kegagalan.

  • Survei BI: Kinerja Penjualan Eceran Alami Penurunan 5,1 Persen

    Survei BI: Kinerja Penjualan Eceran Alami Penurunan 5,1 Persen

    Jakarta, Beritasatu.com — Kinerja Penjualan eceran nasional pada April 2025 mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 0,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal ini terlihat dari Laporan Survei Penjualan Eceran Mei 2025 yang dirilis Bank Indonesia (BI). 

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa penurunan kinerja penjualan eceran pada April 2025 tercermin dari turunnya Indeks Penjualan Riil (IPR) menjadi 235,5, lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 248,3 dan April tahun sebelumnya yang sebesar 236,3. 

    Kontraksi ini dipengaruhi oleh faktor base effect, mengingat periode Idulfitri tahun lalu jatuh pada 9—10 April 2024, sementara pada 2025 terjadi lebih awal, yakni pada 30—31 Maret.

    “Kontraksi ini terjadi karena adanya normalisasi permintaan masyarakat setelah periode hari besar keagamaan nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri,” ujar Ramdan dikutip dari laporan Survei Penjualan Eceran, Jumat (13/6/2025).

    Meski terkontraksi, realisasi ini lebih baik dari perkiraan BI sebelumnya yang memproyeksikan penurunan sebesar 6,9 persen (mtm), dengan IPR April 2025 yang diperkirakan hanya mencapai 231,1. Pada periode laporan, penjualan masih ditopang oleh pertumbuhan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang.

    Namun, sebagian besar kelompok mencatatkan penurunan pada bulan April 2025 secara mtm. Kelompok yang mengalami kontraksi terdalam secara bulanan adalah:

    Subkelompok Sandang: -19,2 persen 

    Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya: -9,7 persen 

    Peralatan Informasi dan Komunikasi: -9,4 persen

    Suku Cadang dan Aksesori: -5,6 persen

    Makanan, Minuman, dan Tembakau: -4,5 persen 

    Sementara itu, secara tahunan atau yoy, beberapa kelompok masih menunjukkan pertumbuhan positif dan menopang kinerja penjualan, seperti:

    Suku Cadang dan Aksesori: 8,7 persen

    Bahan Bakar Kendaraan Bermotor: 8,3 persen 

    Barang Budaya dan Rekreasi: 3,6 persen 

    Makanan, Minuman, dan Tembakau: 1,2 persen

  • Taktik Apple agar iPhone Terhindar dari Tarif Tinggi AS

    Taktik Apple agar iPhone Terhindar dari Tarif Tinggi AS

    Jakarta, Beritasatu.com – Hampir seluruh iPhone yang diekspor Foxconn dari India antara Maret hingga Mei 2025 dikirim ke Amerika Serikat (AS). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata ekspor ke AS sebesar 50% sepanjang 2024. Langkah ini menandakan upaya serius Apple untuk menghindari tarif tinggi AS terhadap produk iPhone dari China.

    Data tersebut menunjukkan, Apple telah mengubah fokus ekspornya dari India, yang sebelumnya tersebar ke berbagai negara seperti Belanda, Republik Ceko, dan Inggris, menjadi hampir sepenuhnya ke pasar Amerika Serikat.

    Dilansir dari Reuters, Jumat (13/6/2025), selama periode Maret-Mei 2025, Foxconn mengekspor iPhone senilai US$ 3,2 miliar dari India, dengan rata-rata 97% dikirim ke AS, naik signifikan dari rata-rata 50,3% pada 2024. Pada Mei 2025 saja, ekspor iPhone dari India ke AS mencapai hampir US$ 1 miliar.

    Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya tensi perdagangan antara AS dan China. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan bahwa China akan dikenakan tarif sebesar 55% dalam rencana kesepakatan baru, meski masih menunggu persetujuan kedua pemimpin.

    India, seperti sebagian besar mitra dagang AS lainnya, terkena tarif dasar sebesar 10%, dan sedang berupaya menegosiasikan kesepakatan untuk menghindari tarif tambahan 26% yang sempat diumumkan dan kemudian ditunda oleh Trump pada April lalu.

    Selama lima bulan pertama tahun ini, Foxconn telah mengekspor iPhone senilai US$ 4,4 miliar ke AS dari India, melewati total ekspor sepanjang 2024 yang mencapai US$ 3,7 miliar.

    Apple juga mempercepat pengiriman iPhone dari India untuk menghindari tarif tinggi terhadap produk China. Pada Maret, Apple bahkan menyewa pesawat kargo untuk mengirim model iPhone 13, 14, 16, dan 16e senilai sekitar US$ 2 miliar langsung ke AS.

    Perusahaan juga dikabarkan melobi otoritas bandara di Chennai, Tamil Nadu, agar mempercepat proses bea cukai dari 30 jam menjadi hanya enam jam, mengingat bandara tersebut merupakan hub utama ekspor iPhone dari India.

    “Kami memperkirakan iPhone buatan India akan menyumbang 25% hingga 30% dari total pengiriman iPhone global pada 2025, naik dari 18% pada 2024,” ujar Prachir Singh, analis senior dari Counterpoint Research.

  • Lifting Tembus Target, Wamen ESDM Tak Khawatirkan Konflik Israel-Iran

    Lifting Tembus Target, Wamen ESDM Tak Khawatirkan Konflik Israel-Iran

    Jakarta, Beritasatu.com – Serangan Israel ke Iran membuat harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan. Pasalnya, Iran adalah salah satu eksportir minyak terbesar di dunia.

    Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung cukup percaya diri menghadapi gejolak harga minyak dunia pasca-serangan Israel ke Iran. Pasalnya, lifting minyak Indonesia tercatat 610.000 barel per hari melampaui target di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar 605.000 bph.

    Menurutnya, terjadi peningkatan lifting apabila dibandingkan dengan capaian lifting pada kuartal I-2025 yang mencapai 580.000 barel per hari (BPH). Peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri ini pun dapat meminimalisir pengaruh gejolak internasional terhadap stabilitas ketersediaan energi di dalam negeri.

    “Jadi, Indonesia ada ketahanan energi, kami mengusahakan ada peningkatan migas dalam negeri,” kata Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/6/2025).

    Sekadar informasi, serangan Israel ke Teheran membuat ketegangan meningkat, menghapus kabar berdamainya Amerika Serikat (AS) dengan China. Serangan Israel ini sebagai bentuk respons atas tanggapan Iran yang tidak mau menghentikan pengayaan nuklirnya.

    Analis energi senior MST, Marquee Saul Kavonic, mengatakan serangan Israel terhadap Iran telah meningkatkan risiko lebih lanjut. Konflik akan meningkat ke titik Iran membalas serangan tersebut dan memengaruhi infrastruktur minyak di kawasan tersebut sebelum pasokan minyak benar-benar terdampak secara material.

    Dia memperkirakan, dalam skenario ekstrem pasokan minyak mentah Iran bisa turun hingga 20 juta barel per hari dampak dari serangan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut serangan Israel terhadap Iran ditujukan untuk merusak infrastruktur nuklirnya, pabrik rudal balistiknya, dan banyak kemampuan militernya. 

  • Harga Emas Dunia Sentuh Level Tertinggi dalam 2 Bulan

    Harga Emas Dunia Sentuh Level Tertinggi dalam 2 Bulan

    Jakarta, Beritasatu.com — Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua bulan pada Jumat (13/6/2025), didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan besar-besaran Israel terhadap Iran.

    Dilansir dari Reuters, harga emas spot naik 1% menjadi US$ 3.417,59 per troi ons pada pukul 15.03 WIB. Sepanjang pekan ini, harga emas sudah mencatatkan kenaikan lebih dari 3,2%. 

    Sementara itu, kontrak berjangka emas AS (gold futures) juga naik 1% ke level US$ 3.438,00 per troi ons.

    Ketegangan di kawasan meningkat tajam setelah Israel mengeklaim telah meluncurkan serangan ke fasilitas nuklir, pabrik rudal balistik, dan posisi militer utama Iran. Israel menyebut operasi ini sebagai langkah awal dari kampanye jangka panjang untuk mencegah Teheran membangun senjata nuklir.

    Sebagai balasan, Iran meluncurkan sekitar 100 drone ke wilayah Israel, memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian di pasar global.

    “Kondisi saat ini memperkuat sentimen positif terhadap emas. Namun, karena situasinya sangat dinamis, terlalu dini untuk memastikan apakah lonjakan harga ini akan bertahan lama,” ujar Carsten Menke, analis dari Julius Baer.

    Menke menambahkan, apabila konflik ini menyebabkan gangguan pasokan minyak, baik akibat serangan langsung maupun karena kebijakan politik, atau apabila konflik menyebar ke kawasan lain, maka harga emas berpotensi naik lebih jauh.

    Emas dikenal sebagai aset lindung nilai yang dicari saat terjadi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Komoditas ini juga biasanya menguat dalam kondisi suku bunga rendah.

  • Dampak Pemangkasan Suku Bunga The Fed terhadap Trader dan Rupiah

    Dampak Pemangkasan Suku Bunga The Fed terhadap Trader dan Rupiah

    Jakarta, Beritasatu.com – Arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan, terutama setelah Presiden Donald Trump secara terbuka mendorong Federal Reserve untuk memangkas suku bunga acuan.

    Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell tetap bersikap hati-hati dan menunggu data ekonomi utama seperti inflasi dan ketenagakerjaan sebelum mengambil keputusan.

    Walaupun kemungkinan pemangkasan suku bunga pada rapat FOMC (Federal Open Market Committee) yang akan digelar 18 Juni 2025 masih dianggap kecil, pelaku pasar mulai memperkirakan adanya peluang penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

    Apabila skenario tersebut terealisasi, dampaknya tidak hanya akan terasa di Amerika Serikat, tetapi juga menjangkau negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Tim riset Finex mengungkapkan bahwa pemangkasan suku bunga oleh The Fed bisa mendorong aliran modal asing masuk ke negara-negara yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti Indonesia. Hal ini dapat memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta meningkatkan minat terhadap surat utang negara dan instrumen investasi domestik lainnya.

    “Secara global, penurunan suku bunga AS berpotensi meningkatkan likuiditas pasar dan mendorong pergeseran portofolio investasi. Ini dapat membuka peluang penguatan rupiah serta mendukung pertumbuhan sektor keuangan nasional,” jelas Analis Keuangan Finex Brahmantya Himawan pada Jumat (13/6/2025).

    Ia menambahkan bahwa suku bunga memiliki pengaruh luas terhadap berbagai sektor pasar, mulai dari nilai tukar, harga komoditas, hingga pergerakan indeks saham dan pasangan mata uang utama. Instrumen yang kemungkinan terdampak termasuk indeks saham Amerika seperti NASDAQ dan S&P 500, serta pasangan mata uang seperti EUR/USD, AUD/USD, dan GBP/USD.

    Menurut Brahmantya, keputusan investor di pasar keuangan sangat dipengaruhi oleh berbagai indikator ekonomi fundamental, seperti Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), data ketenagakerjaan seperti Non-Farm Payroll (NFP) dan tingkat pengangguran, hingga indikator pertumbuhan dan konsumsi seperti penjualan ritel, indeks PMI, dan pertumbuhan produk domestik bruto (GDP).

    Dengan memahami seluruh konteks makroekonomi ini, investor dan trader dapat mengambil keputusan secara rasional, serta menghindari reaksi emosional terhadap volatilitas pasar jangka pendek.

    Finex turut menekankan pentingnya edukasi dan pemahaman menyeluruh terhadap dinamika ekonomi global. Hal ini bertujuan agar pelaku pasar tidak hanya mengikuti tren, melainkan mampu membuat strategi investasi yang matang dan terukur.

    “Efek dari perubahan suku bunga tidak terbatas pada pinjaman atau investasi saja. Dampaknya bisa menyebar luas dan memicu reaksi pasar yang cepat, terlebih jika dibarengi dengan rilis data ekonomi yang mengejutkan atau ketegangan geopolitik,” pungkasnya.