Category: Beritasatu.com Ekonomi

  • IHSG Sesi I Hari Ini Cerah, Bertambah 5,02 Persen

    IHSG Sesi I Hari Ini Cerah, Bertambah 5,02 Persen

    Jakarta, Beritasatu.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini semringah lantaran berada di zona hijau pada awal perdagangan sesi I, Kamis (10/4/2025). IHSG hari ini anteng bergerak di zona hijau hingga melesat ke level 6.200-an.

    IHSG hari ini tercatat bertambah 299 poin atau 5,02% hingga mencapai level 6.267. Sebanyak 546 saham menguat, 94 saham turun, dan 147 saham stagnan.

    Volume awal perdagangan hari ini mencapai 14,1 miliar lembar saham dan catat transaksi Rp 9,6 triliun dan frekuensi 763.911 kali.

    Saham sektoral menghijau pada sesi I perdagangan hari ini. Bahan baku menguat 8,92%, diikuti sektor konsumsi primer bertambah 6,28%, infrastruktur menguat 5,82%, dan energi bertambah 5,59%.

    Kemudian, konsumsi nonprimer naik 4,49%, properti naik 4,70%, keuangan bertambah 3,36%, dan industri bertambah 3,09%.

    Saat IHSG hari ini naik, saham unggulan LQ45 bertambah 5,76%, Jakarta Islamic Index (JII) mengaut 5,79%, dan Investor33 melesat 4,99%.

  • Buyback Tanpa RUPS, 19 Emiten Serbu Pasar Saham Triliunan Rupiah

    Buyback Tanpa RUPS, 19 Emiten Serbu Pasar Saham Triliunan Rupiah

    Jakarta, Beritasatu.com – Sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan relaksasi kebijakan buyback tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 19 Maret 2025, gelombang pembelian kembali saham oleh emiten terus mengalir deras.

    Hingga awal April 2025, tercatat 19 emiten telah memanfaatkan kebijakan ini untuk melakukan aksi buyback dengan nilai total mencapai triliunan rupiah.

    Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyatakan, langkah ini diambil sebagai respons atas gejolak pasar saham yang terjadi belakangan ini.

    “Buyback kini dapat dilakukan tanpa perlu melalui RUPS. Ini memberikan fleksibilitas bagi emiten dalam menjaga kestabilan harga sahamnya,” ujar Inarno dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (9/4/2025).

    Relaksasi ini memberikan batas maksimum buyback saham sebesar 20% dari modal disetor dan berlaku selama enam bulan sejak 18 Maret 2025. Emiten juga diwajibkan untuk menyampaikan laporan pelaksanaan buyback secara berkala.

    “Kami tetap melakukan pengawasan agar pelaksanaan buyback berjalan sesuai regulasi. Apabila kondisi pasar membaik, emiten boleh menghentikan aksi buyback saham, tetapi fleksibilitas ini penting dalam situasi seperti sekarang,” tambah Inarno.

    Beberapa emiten papan atas langsung merespons kebijakan ini dengan mengumumkan rencana buyback besar-besaran. Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi salah satu yang paling agresif.

    PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menetapkan nilai buyback sebesar Rp2 triliun, yang berlangsung dari 24 Maret hingga 23 Juni 2025. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga melaksanakan aksi serupa senilai Rp2 triliun dari 21 Maret hingga 20 Juni 2025, dengan batas harga maksimal Rp10.000 per saham.

    Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mengalokasikan Rp500 miliar untuk buyback dalam periode yang sama. Di luar Grup Barito, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) milik Jusuf Hamka, ikut serta dengan nilai buyback mencapai Rp815,61 miliar yang akan dimulai pada 2 Mei hingga 2 Juni 2025.

    Langkah buyback ini dinilai bukan sekadar upaya menjaga harga saham, tetapi juga mencerminkan kepercayaan diri manajemen terhadap kinerja perusahaan.

    Pendiri Stocknow.id Hendra Wardana menyebut, kebijakan ini sebagai penyangga IHSG di tengah volatilitas.

    “Ketika saham-saham mengalami tekanan berlebih, aksi buyback memberi sinyal kuat bahwa saham tersebut undervalued dan manajemen mengambil langkah konkret,” ujarnya.

    Ia menambahkan, mekanisme buyback tanpa RUPS memungkinkan emiten bertindak cepat tanpa terhambat proses birokrasi yang bertele-tele. 

    Selain itu, kebijakan ini juga mampu menstabilkan psikologi pasar, mencegah kepanikan, serta menarik kembali minat investor.

    VP, Head of Marketing, Strategy & Planning PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menyatakan, aksi buyback menjadi instrumen penting di tengah tekanan eksternal, seperti kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump terhadap produk Tiongkok dan Indonesia.

    “Aksi buyback menjadi sinyal bahwa harga saham mulai menyimpang dari nilai intrinsiknya. Jika dilakukan oleh emiten dengan fundamental kuat dan valuasi rendah, ini bisa jadi penopang signifikan untuk harga saham maupun indeks secara keseluruhan,” jelasnya.

    Namun, ia juga mengingatkan bahwa dampak buyback akan sangat bergantung pada kekuatan neraca keuangan emiten dan dinamika pelaku institusi. Emiten dengan modal dan likuiditas kuat akan lebih mudah menahan tekanan dan menjadi incaran investor institusi kembali.

    Hendra menambahkan, dalam kondisi pasar yang oversold, buyback secara masif dapat mengurangi tekanan jual, menambah permintaan, dan memperkecil jumlah saham beredar. Hal ini berpotensi memperbaiki struktur harga dan menjaga indeks dari penurunan yang lebih tajam.

    “Buyback memang bukan satu-satunya alat untuk menahan IHSG, tetapi bisa sangat membantu menjaga psikologi pasar. Investor akan merasa bahwa perusahaan tidak tinggal diam menghadapi gejolak,” imbuhnya.

    Menurut data OJK, hingga awal April 2025, terdapat 16 emiten yang telah menyampaikan keterbukaan informasi terkait rencana pembelian kembali saham. Jumlah ini kemungkinan masih akan bertambah, seiring respons dunia usaha terhadap dinamika pasar yang belum stabil.

    “Jumlahnya terus bergerak dan kami prediksi akan bertambah, karena fleksibilitas ini berlaku hingga enam bulan sejak 18 Maret,” tutur Inarno.

    Kebijakan ini mengacu pada Peraturan OJK (POJK) Nomor 13 Tahun 2023 yang memberikan keleluasaan bagi perusahaan terbuka melakukan buyback tanpa harus menggelar RUPS dalam situasi pasar bergejolak.

    Dengan semakin banyak emiten yang terlibat, buyback saham berpotensi menjadi katalis positif jangka pendek untuk pasar modal Indonesia, sekaligus menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan eksternal dan ketidakpastian global.

  • Perang Dagang AS dan China Kian Memanas, Investor Harus Bagaimana?

    Perang Dagang AS dan China Kian Memanas, Investor Harus Bagaimana?

    Jakarta, Beritasatu.com – Perang dagang AS dan China kian memanas setelah Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor menjadi 125% kepada negeri Tirai Bambu itu.

    Kebijakan tarif itu dikeluarkan hanya berselang beberapa jam seusai China menaikkan bea masuk menjadi 84% atas barang-barang AS.

    Perang dagang kedua negara adidaya itu kini tengah menjadi perhatian semua pihak, khususnya investor domestik maupun luar negeri.

    Lantas, apa yang perlu dilakukan investor dalam menghadapi perang dagang antara AS dan China yang kian memanas?

    Founder dan CEO Finvesol Consulting Fendi Suiyanto menyarankan investor untuk mengambil kebijakan investasi yang bersifat jangka pendek. Hal ini dilihat dari potensi, fluktuasi dan votalitas perang dagang kedua negara tersebut ke depannya.

    “Votalitas ke depan potensinya akan sangat tinggi dan besar, sehingga akan sangat bijak bagi investor ataupun trader untuk memanfaatkan momentum jangka pendek,” kata Fendi dalam Investor Market Opening di Beritasatu TV, Jakarta, Kamis (10/4/2025).

    Fendi menambahkan, investor bisa melakukan aksi buy on weakness untuk tujuan jangka pendek ketika sentimen positif sudah mulai bermunculan.

    Menurutnya, investor bisa melakukan aksi buy on weakness seperti pada saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 9% secara intraday pada Selasa (8/4/2025) lalu.

    Investor dapat menjual kembali saham tersebut pada saat IHSG mengalami penguatan atau rebound.

    Selain itu, ia juga mengimbau para investor untuk memperhatikan level support IHSG untuk mengambil posisi berikutnya.

    Lebih lanjut, Fendi mengatakan, sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang menarik untuk dicermati dalam jangka pendek. Pada saat sektor perbankan melemah, maka investor disarankan untuk melakukan buy on weakness.

    Sementara itu, ketika posisinya menguat pada level support dan resistance, maka investor bisa melakukan sell on strength.

    Selain perbankan, sektor pertambangan atau mineral, seperti ANTAM dan saham-saham di sektor basic industry juga menarik untuk dikoleksi saat eskalasi perang dagang AS dan China.

  • Buyback Tanpa RUPS, 19 Emiten Serbu Pasar Saham Triliunan Rupiah

    DPR Anggap IHSG Turun Hal Wajar, tetapi Perlu Dicermati

    Jakarta, Beritasatu.com – Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dianggap sebagai hal yang wajar dalam dinamika ekonomi, tetapi perlu dicermati secara hati-hati karena berdampak pada stabilitas ekonomi nasional.

    “Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif resiprokal untuk produk impor dari berbagai negara membuat pasar keuangan global bergejolak, termasuk saham di Indonesia,” kata Wakil Ketua Komisi XI DPR Fauzi Amro kepada wartawan, Kamis (10/4/2025).

    Menurutnya, berbagai faktor eksternal berdampak pada tren penurunan IHSG saat ini, seperti kebijakan suku bunga The Fed dan kondisi geopolitik yang memengaruhi sentimen investor.

    Sementara dari faktor domestik, kata Fauzi, pelaku pasar masih menantikan kepastian kebijakan ekonomi pascapemilu, termasuk komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan fiskal dan reformasi struktural.

    “Penurunan ini mencerminkan adanya tekanan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang memengaruhi sentimen investor. Kita harus tetap waspada dan menjaga kepercayaan pasar agar jangan sampai tren ini berlarut dan berdampak sistemik,” tuturnya.

    Dia juga mengaku khawatir terhadap dampak yang lebih luas, seperti terganggunya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

    Pasalnya, hal tersebut dapat berpotensi memicu terjadinya capital outflow, pelemahan nilai tukar, serta tekanan pada sektor-sektor riil yang erat kaitannya dengan pasar modal.

    Karena itu, Komisi XI DPR terus memantau perkembangan ini dan mendorong langkah-langkah yang lebih proaktif untuk menjaga stabilitas pasar.

    Fauzi mengatakan, pihaknya telah melakukan diskusi intensif dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia (BI) melalui berbagai forum, termasuk rapat kerja dan rapat dengar pendapat.

    Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, Kemenkeu, OJK dan BEI untuk memperkuat insentif fiskal bagi investor, seperti relaksasi pajak transaksi saham, serta percepatan kebijakan green economy guna menarik investasi yang berkelanjutan.

    Untuk mencegah tren penurunan IHSG secara terus menerus, Komisi XI DPR akan mengawasi upaya-upaya stabilisasi yang dilakukan oleh BI dan OJK dalam menghadapi fluktuasi pasar.

  • Industri Mojokerto Minta Proteksi Hadapi Dampak Tarif Impor Trump

    Industri Mojokerto Minta Proteksi Hadapi Dampak Tarif Impor Trump

    Mojokerto, Beritasatu.com – Para pengusaha alas kaki dan pelaku industri tekstil di Mojokerto menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Mereka meminta Pemerintah Kota Mojokerto segera menyiapkan strategi perlindungan pasar dalam negeri serta membuka akses pasar ekspor ke negara lain.

    Kekhawatiran ini disampaikan dalam pertemuan dengan perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur serta Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari.

    Menurut para pengusaha, kebijakan tarif impor AS dapat menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar Amerika. Lebih dari itu, mereka juga mengkhawatirkan banjirnya produk dari negara produsen, seperti China dan Vietnam ke pasar dalam negeri, akibat produk mereka tidak lagi terserap oleh pasar Amerika.

    “Dampak utamanya memang dirasakan konsumen di Amerika, tapi kita terkena imbasnya. Produk dari negara lain yang gagal masuk ke pasar Amerika bisa masuk ke Indonesia. Ini bisa memicu kelebihan pasokan dan menekan industri dalam negeri,” ujar Andy Tantyo, salah satu pengusaha alas kaki, Kamis (10/4/2025).

    Menanggapi tarif impor Trump, Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, atau yang akrab disapa Ning Ita, mengajak seluruh pelaku industri untuk belajar dari pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan ekonomi nasional selama tiga tahun, dari 2020 hingga 2022.

    “Tiga tahun kita menghadapi pandemi, bukan hanya berdampak pada kesehatan tetapi juga ekonomi. Tapi Indonesia berhasil melewatinya. Hari ini, kondisi kita semakin membaik,” ujarnya.

    Ning Ita menambahkan meskipun tantangan tarif impor AS adalah persoalan global, semangat gotong royong dan strategi kreatif menjadi kunci bagi Mojokerto untuk bertahan.

    “Kalau pandemi bisa kita lalui, saya yakin tantangan global seperti ini pun bisa kita hadapi. Mari kita terus rumuskan strategi yang solutif dan inovatif agar industri lokal tetap bertahan dan berkembang di tengah tekanan global,” tutupnya terkait tarif impor Trump.

  • Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Menguat Jadi Rp 16.769 Per Dolar AS

    Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Menguat Jadi Rp 16.769 Per Dolar AS

    Jakarta, Beritasatu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi hari ini, Kamis (10/4/2025) menguat. Penguatan ini terjadi bersamaan dengan mata uang Asia lainnya, yang berada di zona hijau.

    Melansir Bloomberg Asian Pacific Currencies, rupiah hingga pukul 09.18 WIB di pasar spot exchange menguat 103,5 poin atau 0,61% menjadi 16.769 per dolar AS.

    Saat nilai tukar rupiah naik, beberapa mata uang Asia juga catat kenaikan. Yen Jepang naik 0,61% menjadi 146 yen per dolar AS, dolar Taiwan bertambah 0,38% menjadi 32,8 dolar Taiwan per dolar AS, dan ringgit Malaysia bertambah 0,33% menjadi 4,48 ringgit per dolar AS.

    Won Korea juga melesat 0,98% menjadi 1,45 won per dolar AS dan peso Filipina bertambah 0,28% menjadi 57,1 peso per dolar AS.

    Saat nilai tukar rupiah hari ini bertambah, beberapa mata uang Asia melemah, seperti dolar Hong Kong turun tipis 0,01% menjadi 7,7 dolar Hong Kong per dolar AS, dolar Singapura melemah 0,13% menjadi 1,342 dolar Singapura per dolar AS.

  • IHSG Hari Ini Terbang Tinggi Tembus Level 6.200-an

    IHSG Hari Ini Terbang Tinggi Tembus Level 6.200-an

    Jakarta, Beritasatu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan tajam pada perdagangan hari ini, berhasil kembali menembus level 6.200 setelah sebelumnya beberapa hari bertahan di bawah angka 6.000.

    Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia yang diolah Beritasatu.com, IHSG tercatat menguat 265 poin atau setara 4,49% hingga menyentuh posisi 6.233 pada pukul 09.10 WIB. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 453 saham mengalami kenaikan, 51 saham terkoreksi, dan 92 saham stagnan.

    Di awal sesi perdagangan pertama IHSG hari ini, volume transaksi mencapai 3,4 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 3,1 triliun. Frekuensi perdagangan juga cukup aktif, tercatat sebanyak 156.212 kali transaksi.

    Kinerja saham sektor-sektor utama turut mendorong kenaikan indeks secara keseluruhan. Sektor bahan baku menjadi yang paling menonjol dengan lonjakan 6,44%.

    Sektor teknologi menyusul dengan kenaikan 5,06%, disusul sektor konsumsi primer yang naik 4,81%, dan infrastruktur yang turut menguat 3,48%.

    Saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga bergerak positif, mencatatkan kenaikan sebesar 5,42%. Indeks saham syariah Jakarta Islamic Index (JII) turut bertambah 4,96%, sedangkan indeks Investor33 melonjak 4,56% saat IHSG hari ini naik.

  • Harga Emas Antam Catat Rekor Baru, Tembus Rp 1,846 Juta Per Gram

    Harga Emas Antam Catat Rekor Baru, Tembus Rp 1,846 Juta Per Gram

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas Antam naik tinggi Rp 34.000 per gram pada perdagangan, Kamis (10/4/2025). Kenaikan ini catat rekor terbaru emas Antam, mencapai Rp 1,846 juta per gram.

    Sebelumnya, harga emas batangan yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Rabu (9/4/2025).

    Pada sesi pagi, harga naik sebesar Rp 23.000 per gram, dan pada sore harinya kembali melesat Rp 35.000. Secara total, dalam satu hari harga emas Antam mengalami peningkatan sebesar Rp 58.000.

    Rekor baru ini hapus rekor sebelumnya, pada Kamis (3/4/2025) dengan harga emas Antam mencapai Rp 1,836 juta per gram.

    Tidak hanya harga jual, nilai buyback atau harga pembelian kembali emas Antam juga mengalami kenaikan signifikan. Pada Rabu (9/4/2025) pagi, harga buyback naik Rp 23.000 menjadi Rp 1,627 juta per gram, lalu sore harinya kembali bertambah Rp 35.000 menjadi Rp 1,661 juta per gram.

    Kini pada Kamis, (10/4/2025), buyback emas Antam naik Rp 35.000 jadi Rp 1,696 juta per gram.

    Berikut harga emas antam hari ini pada Kamis:

    Emas Antam 0,5 gram: Rp 973.500Emas Antam 1 gram: Rp 1.846.000Emas Antam 2 gram: Rp 3.632.000Emas Antam 3 gram: Rp 5.423.000Emas Antam 5 gram: Rp 9.005.000Emas Antam 10 gram: Rp 17.955.000Emas Antam 25 gram: Rp 44.762.000Emas Antam 50 gram: Rp 89.445.000Emas Antam 100 gram: Rp 178.812.000Emas Antam 250 gram: Rp 446.765.000Emas Antam 500 gram: Rp 893.320.000Emas Antam 1.000 gram: Rp 1.786.600.000

    Dalam aspek perpajakan, transaksi pembelian emas batangan Antam mengacu pada aturan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 dikenakan sebesar 0,45% bagi pembeli yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan 0,9% bagi yang tidak memiliki NPWP. Setiap transaksi pembelian juga disertai dengan bukti potong PPh 22.

    Sementara itu, untuk transaksi penjualan kembali emas Antam dengan nilai di atas Rp 10 juta, PPh 22 dikenakan sebesar 1,5% bagi pemilik NPWP dan 3% bagi yang tidak memilikinya. Pajak ini secara otomatis dipotong dari total dana buyback yang diterima oleh penjual.

    Harga emas Antam naik imbas harga emas spot tercatat menguat 2,6% menjadi US$ 3.059,76 per ons troi, bahkan sempat menyentuh level tertinggi intraday di kisaran US$ 3.100. Sementara itu, kontrak berjangka emas di AS ditutup menguat 3% ke level US$ 3.079,40 per ons troi.

  • Trump Tunda Kebijakan Tarif, IHSG Siap Rebound

    Trump Tunda Kebijakan Tarif, IHSG Siap Rebound

    Jakarta, Beritasatu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siap rebound setelah Presiden AS Donald Trump menunda kebijakan tarif resiprokal ke berbagai negara selama 90 hari, kecuali China.

    Menurut Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus, IHSG akan berbalik menguat mengikuti bursa saham global, khususnya Wall Street.

    “Tindakan Trump pada akhirnya telah mendorong para pemimpin bisnis dan investor untuk mengubah arahnya,” kata Nico, dikutip dari Antara, Kamis (10/4/2025).

    Kemudian, Nico mengatakan bahwa strategi pemerintah dalam membentuk satuan tugas (satgas) untuk menghadapi persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam merespons ancaman tarif Trump sudah tepat. Pasalnya, hal ini dapat berdampak ke berbagai sektor di dalam negeri.

    Diketahui, pemerintah kini tengah melakukan pemetaan terhadap daerah yang terdampak dan mencari solusi terkait penyediaan lapangan kerja.

    Presiden Prabowo Subianto telah membangun strategi untuk menciptakan hingga 8 juta pekerjaan baru melalui investasi di sektor pertanian.

    Karenanya, orang nomor satu di Indonesia itu memerintahkan Kementerian Pertanian untuk menyusun rencana strategis terkait hal ini.

    Di sisi lain, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) juga mengusulkan untuk melibatkan perwakilan buruh, pengusaha, kementerian ketenagakerjaan dan DPR dalam pembentukan satgas PHK.

    Hal ini dilakukan untuk menghadapi potensi PHK lanjutan yang kini banyak terjadi di tanah air.

    Nico mengatakan, langkah ini harus dieksekusi secara efisien dan tidak membebani anggaran negara.

    Sebelumnya, Trump telah mengumumkan penundaan tarif resiprokal selama 90 hari kepada berbagai mitra dagang, kecuali China yang dibebankan dengan tarif 125% pada Rabu (9/4/2025).

    Trump memutuskan untuk memberikan tarif resiprokal 10% kepada negara-negara yang sebelumnya diwacanakan akan dikenakan tarif lebih tinggi.

  • Harga Emas Naik Tajam, Kembali Tembus ke Level US$ 3.000

    Harga Emas Naik Tajam, Kembali Tembus ke Level US$ 3.000

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas mengalami lonjakan signifikan pada Rabu (9/4/2025), kembali menembus level psikologis US$ 3.000 per ons troi. Kenaikan ini menandai performa harian terbaik logam mulia tersebut sejak Oktober 2023, di tengah meningkatnya ketegangan global.

    Kenaikan harga emas dipicu oleh memburuknya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan kenaikan tarif impor terhadap China, sementara negara lain diberikan penangguhan selama 90 hari. Tarif baru terhadap produk asal Negeri Tirai Bambu melonjak hingga 125% dan diberlakukan secara langsung.

    Berdasarkan data dari CNBC International, harga emas spot tercatat menguat 2,6% menjadi US$ 3.059,76 per ons troi, bahkan sempat menyentuh level tertinggi intraday di kisaran US$ 3.100. Sementara itu, kontrak berjangka emas di AS ditutup menguat 3% ke level US$ 3.079,40 per ons troi.

    Analis pasar menilai bahwa lonjakan harga emas ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi inflasi yang lebih tinggi dan ketidakpastian ekonomi global. “Logam mulia tetap menjadi instrumen lindung nilai di tengah ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi,” ujar Kepala Strategi Komoditas di TD Securities Bart Melek.

    Selain itu, risalah terbaru dari The Federal Reserve menunjukkan kekhawatiran sebagian besar pembuat kebijakan terhadap risiko kenaikan inflasi, meski ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap rendah, kondisi yang historisnya menguntungkan bagi aset seperti emas yang tidak memberikan bunga.

    Sejak awal tahun, harga emas telah meningkat lebih dari US$ 400 per ons troi dan bahkan mencetak rekor tertinggi baru di US$ 3.167,57 pada awal April. Kenaikan ini didorong oleh tingginya permintaan terhadap aset safe haven serta pembelian besar-besaran oleh bank sentral berbagai negara.

    Sementara pasar menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Kamis (10/4/2025) untuk mengukur arah inflasi ke depan, logam mulia lainnya turut mencatatkan pergerakan signifikan. Harga perak melonjak 3,1% menjadi US$ 30,8 per ons troi, palladium naik 1,9% menjadi US$ 923,75, sedangkan platinum justru terkoreksi 1,2% ke US$ 931,87.

    Dengan ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi yang masih membayangi, harga emas diperkirakan tetap menjadi sorotan utama investor global sebagai bentuk perlindungan nilai kekayaan di tengah ketidakpastian pasar.