Category: Beritajatim.com

  • Tifo Suporter Timnas Perwujudan Semangat Gotong Royong Bung Karno

    Tifo Suporter Timnas Perwujudan Semangat Gotong Royong Bung Karno

    Jember (beritajatim.com) – Aksi tifo spanduk raksasa bergambar sosok ksatria yang disajikan suporter tim nasional sepak bola Indonesia saat pertandingan melawan China, di Stadion Gelora Bung Karno, 5 Juni 2025, adalah perwujudan semangat gotong royong yang dicetuskan Bung Karno.

    Hal ini disampaikan Agus Hadi Santoso, ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember, Jawa Timur, 2004-2009, dalam acara ‘Sosialisasi Gotong Royong sebagai Falsafah Kebudayaan Bangsa’, di Hotel Royal, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (15/6/2025).

    “Gotong royong harus kita jadikan landasan kehidupan sehari-hari. Gotong-royong ini dilakukan oleh suporter Indonesia, saat bertanding dengan Cina. Itu bikin gambar sebesar itu habis berapa juta rupiah. Urunan suporter, suporter beli tiket sendiri, hanya untuk memenangkan Indonesia. Luar biasa. Itu bagian dari sebuah gotong royong,” kata Agus.

    Agus mengingatkan, gotong royong adalah saripati Pancasila. “Setelah menelurkan Pancasila, lima sila di sebagai landasan negara kita, diperas lagi oleh Bung Karno menjadi gotong-royong. Gotong-royong harus kita jadikan landasan kehidupan sehari-hari,” katanya.

    Di luar urusan sepak bola, Agus prihatin dengan semakin hilangnya semangat gotong royong di kalangan anak muda yang lebih tersita dengan ponsel. “Oleh sebab itu anak-anak kita harus dididik jangan sampai gotong-royong yang sudah menjadi kebiasaan leluhur kita kemudian terabaikan,” katanya.

    “Ini yang paling berbahaya. Jangan sampai lupa dengan gotong royong tadi. Biasakan mereka untuk diajari bergotong royong,” kata Agus. [wir]

  • Peringatan Bulan Bung Karno Jadi Ajang Reuni Kader Veteran PDIP Jember

    Peringatan Bulan Bung Karno Jadi Ajang Reuni Kader Veteran PDIP Jember

    Jember (beritajatim.com) – Acara ‘Sosialisasi Gotong Royong sebagai Falsafah Kebudayaan Bangsa’, di Hotel Royal, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (15/6/2025), menjadi ajang reuni sejumlah kader veteran PDI Perjuangan.

    Acara tersebut digelar oleh Eko Yunianto, anggota DPRD Jawa Timur, untuk memperingati Bulan Bung Karno. Beberapa kader veteran yang hadir antara lain Kusen Andalas yang pernah menjabat wakil bupati Jember 2005-2015; Agus Hadi Santoto, ketua Fraksi PDIP DPRD Jember 2004-2009; dan Ni Nyoman Putu Martini, wakil ketua DPRD Jember 2014-2019.

    “Saya hadir di sini dalam rangka untuk semangat bersama, untuk membicarakan aspirasi dari bawah untuk dititipkan kepada para peserta Kongres (PDI Perjuangan),” kata Kusen. Kongres PDIP rencananya akan digelar tahun ini.

    Selain itu, lanjut Kusen, pertemuan para kader senior tersebut adalah untuk menjaga agar tidak ada keterputusan komunikasi. “Jadi kita dalam suatu organisasi tidak boleh terkotak-kotak. Kita harus bersatu,” katanya.

    Dalam pidatonya, Kusen mengatakan, semua orang memahamu makna gotong royong. “Tinggal mau apa tidak melakukannya. Harapan saya, Anda mandegani (menjadi tokoh) di lingkungannya masing-masing,” katanya kepada para kader yang berkumpul.

    Kusen ingin kader PDI Perjuangan Jember bisa menjadi penentu dalam kehidupan politik. “Dengan simbol gotong-royongm tujuannya adalah bersatu, bersatu dan satu kata, hulupis kuntul, baris. Ini ngono kudune (begitu seharusnya, red),” katanya.

    Kusen mengkritik PDI Perjuangan Jember yang sudah merasa menang dengan hanya menguasai delapan kursi DPRD setempat. “Disebut menang kalau seperti zaman Golkar (Orde Baru), berkuasa segalanya, sampai-sampai toko-tokoh dicat warna kuning,” katanya.

    Kusen menegaskan semua aspek kehidupan berkaitan dengan politik. “Tidak ada yang tidak berkaitan politik. Keluarga, dagang, berbuat salah pun ada hubungannya dengan politik,” katanya.

    “Maka dari itu mumpung saya ketemu ini mengingatkan, ayo, kita bersatu. Kita orang politik. Orang politik harus berpikir jangka panjang, jangka pendek, jangka menengah,” kata Kusen.

    Agus Hadi Santoso mengingatkan, bahwa gotong royong adalah saripati Pancasila. “Setelah menelurkan Pancasila, lima sila di sebagai landasan negara kita, diperas lagi oleh Bung Karno menjadi gotong-royong. Gotong-royong harus kita jadikan landasan kehidupan sehari-hari,” katanya.

    Hariyanto, staf ahli Eko Yunianto, mengatakan, sosialisasi tersebut merupakan rentetan dari Bulan Bung Karno. “Kita ingin penerus bangsa ini bisa berjalan meneruskan api perjuangan ide dan gagasan Bung Karno. Bukan abunya yang kita teruskan, tapi api perjuangan dari Bung Karno,” katanya.

    Kehadiran sejumlah kader veteran PDI Perjuangan, menurut Hariyanto, untuk merajut kebersamaan. “Tanpa mereka, tanpa para senior-senior partai, kita tidak mungkin seperti ini. Justru yang muda-muda ini tenaga pikirannya harus lebih lebih bersemangat. Jangankan yang muda, yang tua saja semangatnya seperti ini. Apalagi yang muda,” katanya.

    Kehadiran para kader veteran tersebut diharapkan Haryanto bisa memberikan teladan kepada para kader muda. “Pemikirannya kita ambil, semangatnya kita ambil. Tenaganya yang harus lebih ditingkatkan,” katanya. [wir]

  • KAI Daop 7 Madiun Lakukan Perbaikan Geometri di 6 Perlintasan Sebidang

    KAI Daop 7 Madiun Lakukan Perbaikan Geometri di 6 Perlintasan Sebidang

    Madiun (beritajatim.com) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun terus memperkuat komitmennya dalam menjamin keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa kereta api. Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, Daop 7 Madiun secara intensif melakukan pemeliharaan dan peningkatan prasarana, khususnya pada perlintasan sebidang.

    Manajer Humas KAI Daop 7 Madiun, Rokhmad Makin Zainul, menyampaikan bahwa kegiatan perawatan prasarana merupakan agenda rutin yang bertujuan untuk mengurangi potensi gangguan perjalanan kereta api. Salah satu fokus utama kali ini adalah perbaikan dan penggantian geometri jalur rel di sejumlah perlintasan sebidang atau JPL (Jalan Perlintasan Langsung).

    “Perawatan ini tidak hanya penting untuk keselamatan, tetapi juga demi menjaga kenyamanan para penumpang. Tim Jalan Rel dan Jembatan kami telah melaksanakan serangkaian perbaikan dan penggantian prasarana, termasuk rel, wesel, dan bantalan rel di wilayah Daop 7,” ungkap Zainul.

    Beberapa pekerjaan yang telah dilakukan antara lain:

    1. JPL 04 (Perlintasan Ngetrep) – Desa Ngetrep, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun

    2. JPL 13 (Bayem Taman) – Desa Bayem Taman, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan

    3. JPL 114 – Jalan Provinsi Madiun–Surabaya, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun

    4. JPL 111 – Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun

    5. JPL 26 – Desa Paron, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi

    6. JPL 35 (Kedunggalar) – Desa Pulorejo, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi

    Dalam proses tersebut, KAI Daop 7 mengganti rel tipe R54, memperbarui wesel, serta menambah batu balas untuk meningkatkan stabilitas dan elastisitas jalur rel. Upaya ini merupakan bagian dari langkah antisipatif dalam menjaga kelancaran operasional kereta api.

    Selain itu, KAI juga mulai mengadopsi teknologi ramah lingkungan dengan mengganti bantalan kayu pada jembatan baja menggunakan bantalan sintetis. Inovasi ini dinilai lebih tahan lama, kuat, dan tidak bergantung pada sumber daya alam yang tidak terbarukan.

    “Penggunaan bantalan sintetis mendukung visi perusahaan dalam menjalankan prinsip pembangunan berkelanjutan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Zainul.

    Dengan langkah strategis ini, KAI Daop 7 Madiun berharap dapat terus memberikan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh pelanggan. [fiq/but]

  • Jatim Masih Butuh 4 Ribu Dapur MBG, 5 Ribu Peminat Ajukan Tawaran

    Jatim Masih Butuh 4 Ribu Dapur MBG, 5 Ribu Peminat Ajukan Tawaran

    Jember (beritajatim.com) – Provinsi Jawa Timur masih membutuhkan empat ribu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Kurang lebih lima ribu peminat mengajukan tawaran untuk mendirikan dapur. Tidak semuanya memenuhi syarat.

    “Setelah dievaluasi BGN (Badan Gizi Nasional), kebanyakan peminat dari perusahaan. Padahal perusahaan tidak diperbolehkan. Yang diperbolehkan untuk mendirikan dapur itu adalah yayasan,” kata Satib, anggota DPRD Jawa Timur dari Partai Gerakan Indonesia Raya, usai acara ‘Sarasehan Peranan Pemuda dalam Menyongsong Indonesia Emas’, di Hotel Bintang Mulia, Minggu (15/6/2025).

    Kuota untuk setiap yayasan dibatasi maksimal sepuluh dapur. “Kita diberi kesempatan untuk membuat yayasan. Karena kebutuhan yayasan sangat mendesak, akhirnya Kementerian Hukum sangat memprioritaskan proses yayasan yang didirikan untuk menangani dapur MBG,” kata Satib. Sertifikat yayasan hanya memakan waktu satu pekan.

    Setiap yayasan akan mendapat keuntungan Rp 2 ribu per paket makanan. Pemerintah juga menyediakan anggaran Rp 3 ribu per paket makanan untuk operasional. Sementara anggaran untuk makanannya sendiri Rp 10 ribu per paket makanan.

    “Jadi total Rp 15 ribu. Namun yang Rp 10 ribu per paket makanan tidak bisa diutik-utik karena nanti ada pengawasan langsung dari BGN. BGN akan menempatkan orang di setiap dapur untuk mengontrol gizi,” kata Satib.

    Anggota Fraksi Gerindra di DPRD Jatim didorong untuk membuka dapur-dapur untuk menunjang program Presiden Prabowo Subianto itu. “Di internal kami baru dibentuk tim yaitu Tim Tiga, salah satunya saya. Insyaallah kami baru mulai rapat Rabu yang akan datang,” kata Satib.

    Ini disambut antusias oleh Satib. Rencananya, dia akan mendirikan dua dapur di kawasan perdesaan. “Nanti untuk plotting pendistribusiannya, yang menetapkan BGN. Kami hanya menyiapkan dapur dan makanannya. Dikirim ke mana, BGN yang menentukan. Bukan kita cari sendiri,” katanya.

    Satib memandang program BGN ini akan menguntungkan warga perdesaan. “Dengan berdirinya dapur-dapur, otomatis yang dilayani mayoritas di desa. Kebutuhan bahan-bahannya dari desa. Ini nanti otomatis bisa menggerakkan perekonomian di desa,” katanya. [wir]

  • Open House Yayasan Elkana Pasuruan, Wawali: Orang Tua Garda Depan Pembentukan Karakter Anak

    Open House Yayasan Elkana Pasuruan, Wawali: Orang Tua Garda Depan Pembentukan Karakter Anak

    Pasuruan (beritajatim.com) – Wakil Wali Kota Pasuruan, Nawawi, mengapresiasi kegiatan open house yang digelar oleh Yayasan Pendidikan Kristen Elkana. Ia menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata pembinaan karakter dan potensi siswa sejak usia dini.

    “Sebagai pemerintah daerah, tentu saya bangga melihat adik-adik kita yang memiliki semangat dan prestasi,” ujar Nawawi saat menghadiri acara tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan kegiatan semacam ini.

    Kegiatan open house tersebut diikuti oleh sekitar 300 siswa dari berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD hingga SMP. Nawawi menyatakan bahwa pengelolaan pendidikan tersebut merupakan bagian dari kewenangan dan tanggung jawab pemerintah.

    Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondisi Kota Pasuruan agar tetap kondusif. “Kegiatan seperti ini turut menjaga stabilitas sosial dan memberi dampak positif dalam membentuk karakter generasi muda,” tambahnya.

    Dalam kesempatan itu, Nawawi menyoroti pentingnya edukasi karakter bagi anak sejak usia dini. Ia menyampaikan bahwa meski anak banyak bersosialisasi di sekolah, waktu terlama tetap mereka habiskan bersama keluarga di rumah.

    “Orang tua harus menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter anak. Di era digitalisasi ini, banyak hal baru yang harus disikapi secara bijak,” ungkapnya.

    Ia menambahkan bahwa meskipun niat orang tua baik dalam mendampingi anak-anak di dunia digital, realitanya seringkali menjadi catatan penting dalam pembentukan karakter. Karena itu, edukasi semacam ini perlu terus digencarkan.

    Ketua Yayasan Pendidikan Kristen Elkana, Sugiarto, menyampaikan bahwa kegiatan open house ini merupakan bagian dari upaya membangun pendidikan di Kota Pasuruan. “Kami hadir sebagai bagian terkecil namun penuh semangat untuk bersama memajukan dunia pendidikan,” ujarnya.

    Menurutnya, siswa-siswi yang terlibat menampilkan beragam kreativitas dalam acara tersebut. “Mereka diajak mengeksplorasi talenta yang dimiliki sehingga kegiatan ini menjadi indah dan bermakna bagi kita semua,” tambah Sugiarto.

    Open house ini menjadi momentum kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam mencetak generasi yang berkualitas. Semua pihak diharapkan terus mendukung kegiatan serupa sebagai investasi jangka panjang untuk kemajuan Kota Pasuruan. [ada/aje]

  • Meski Anggaran Pusat Terbatas, Pemkab Blitar Ajukan Perbaikan 11 Jalan dan 4 Jembatan

    Meski Anggaran Pusat Terbatas, Pemkab Blitar Ajukan Perbaikan 11 Jalan dan 4 Jembatan

    Blitar (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar mengusulkan perbaikan 11 jalan dan 4 jembatan ke pemerintah pusat.

    Hal ini dilakukan karena keterbatasan anggaran yang dialami oleh Pemkab Blitar.

    Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blitar, Hamdan Zulkifli Kurniawan menjelaskan perbaikan 11 ruas jalan dan 4 jembatan tersebut membutuhkan anggaran mencapai Rp378 miliar.

    Nilai itu cukup besar, dianggap terlalu besar oleh Pemerintah Kabupaten Blitar. Sehingga Pemkab Blitar berusaha mencari solusi yang dengan mengajukan perbaikan 11 jalan dan 4 jembatan tersebut ke pemerintah pusat.

    “Kami sudah mengusulkan perbaikan 11 ruas jalan & 4 jembatan ke pemerintah pusat atau Kementerian PUPR karena membutuhkan anggaran besar hingga Rp378 miliar,” ungkap Hamdan, Minggu (15/06/2025).

    Jalan yang telah diusulkan perbaikan ke pemerintah pusat ini mayoritas merupakan jalur sirip menuju JLS (jalur lintas selatan) mulai dari Binangun, Tambakrejo, Tumpak kepuh-Bululawang, Kaligambang, Peh Pulo.

    Selain itu ada pula jalan lain seperti di Candirejo Ponggok yang sempat ramai dikeluhkan warga, Wlingi, hingga Desa Semen perbatasan Malang.

    “Tidak hanya 11 ruas jalan, kata dia, Pemkab Blitar juga mengusulkan perbaikan 4 jembatan, seperti Jembatan Ngeni, Jembatan Kalisuki Binangun, Jembatan Bakung dan Jembatan Ngembul,” tegasnya.

    Anggaran perbaikan jalan dan infrastruktur Kabupaten Blitar tahun 2025 ini turun hingga 50 persen lebih. Pada tahun 2025 ini, anggaran perbaikan jalan di Kabupaten Blitar hanya sebesar Rp60 miliar.

    Jumlah tersebut memang lebih kecil jika dibandingkan tahun 2024 lalu. Dimana pada tahun 2024 lalu anggaran perbaikan jalan dan infrastruktur Kabupaten Blitar mencapai Rp110 miliar.

    Tentu kondisi ini membuat Pemkab Blitar bingung. Karena kerusakan jalan yang ada di Bumi Penataran kian memburuk dan perlu dilakukan perbaikan. Kini sebagai upayanya, Pemkab Blitar berusaha melobi pemerintah pusat agar mau ikut membantu perbaikan jalan.

    “Dalam waktu dekat Dinas PUPR Kabupaten Blitar juga kembali melakukan audiensi dengan Kementerian PUPR untuk update progres usulan ini. Hamdan berharap usulan ini bisa disetujui oleh pemerintah pusat,” tegasnya. [owi/aje]

  • Membaca Dunia, Menulis Masa Depan: Semangat Literasi Perempuan Muda di Kalitengah Lamongan

    Membaca Dunia, Menulis Masa Depan: Semangat Literasi Perempuan Muda di Kalitengah Lamongan

    Lamongan (beritajatim.com) — Semangat literasi kembali digaungkan dalam momentum peringatan Milad Nasyiatul ‘Aisyiyah ke-97/94 tahun yang digelar oleh Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah (PCNA) Kalitengah, Lamongan.

    Bertempat di Kalitengah, Minggu 15 Juni 2025, seminar bertajuk Membaca Dunia, Menulis Masa Depan digelar dengan menghadirkan pembicara Aditya Akbar Hakim, penulis lintas negara sekaligus perwakilan dari Gramedia.

    Sekitar 50 kader muda perempuan dari berbagai latar belakang turut hadir dalam seminar ini. Kegiatan tersebut dirancang sebagai upaya membangun kesadaran literasi di kalangan perempuan muda, khususnya dalam organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah, agar ke depan mampu melahirkan karya berupa buku yang menjadi jejak sejarah kontribusi mereka.

    “Latar belakang mengapa seminar ini diadakan oleh PCNA, tentu saya berharap kita bisa punya minimal satu karya. Apalagi posisi kita selaku perempuan pewaris peradaban dengan memiliki peran sebagai calon kader masa depan. Sebagai ibu di rumah, sebagai kader dan sebagai apa saja sesuai peran kita masing-masing,” tukas Rizki Vera Vernanda, Ketua PCNA Kalitengah saat memberikan sambutan pembuka.

    Semangat literasi dalam kegiatan ini bukan semata tentang membaca dan menulis, tetapi juga menyangkut keberanian menafsirkan dunia dan menyuarakan gagasan. Hal ini disampaikan langsung oleh Aditya Akbar dalam paparannya.

    “Perempuan itu punya peran dan posisi istimewa, hal ini hanya akan berhasil dicapai ketika perempuan menyadari betul statusnya, apalagi jika mau banyak membaca konteks situasi di sekirar kehidupan, bahkan jika didukung dengan effort kuat untuk menghasilkan karya maka pencapaian derajat istimewa itu bisa tergapai.”

    Sebagai tindak lanjut dari seminar, para peserta diarahkan untuk mulai menulis karya tulis yang akan dikumpulkan sesuai deadline yang telah ditentukan panitia. Tema tulisan yang akan diangkat tidak dibatasi, memberi keleluasaan bagi peserta untuk mengekspresikan ide, pengalaman, maupun refleksi mereka terhadap dunia sekitar melalui tulisan.

    Melalui kegiatan ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah Kalitengah tidak hanya memperingati milad secara seremonial, melainkan turut menyemai bibit generasi penulis perempuan yang visioner, reflektif, dan produktif. Sebuah langkah progresif untuk membumikan literasi sebagai alat perjuangan dan perubahan. [suf]

  • Dari Mapala ke Mihrab: Semangat Tak Kenal Usia Gerakan Resik-Resik Masjid Jombang

    Dari Mapala ke Mihrab: Semangat Tak Kenal Usia Gerakan Resik-Resik Masjid Jombang

    Jombang (bertajatim.com) – Sabtu pagi itu, semilir angin menyapa hangat pelataran Masjid As Sami’, Dusun Bulak, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang. Lantunan shalawat menyambut langkah-langkah sederhana yang membawa semangat luar biasa: semangat bersih-bersih masjid dari para pegiat Gerakan Resik-Resik Masjid (GRRM), yang hari itu merayakan milad pertamanya.

    Tepat setahun sudah gerakan ini berdiri. Sebuah inisiatif yang lahir dari kelompok mantan pecinta alam yang tak rela semangat pengabdian mereka redup ditelan usia. Kini, mereka kembali turun ke lapangan, bukan lagi mendaki gunung, tetapi menyapu debu dari sajadah dan membersihkan jejak-jejak waktu di balik mimbar-mimbar masjid.

    Bupati Jombang, H. Warsubi, hadir langsung di tengah-tengah acara milad yang berlangsung khidmat dan sederhana. Dalam sambutannya, ia tak menyembunyikan rasa kagum atas kiprah GRRM yang dinilainya sebagai bentuk nyata kepedulian sosial dan spiritual.

    “Saya ingin nantinya di setiap kecamatan ada gerakan seperti ini. Masjid yang bersih adalah cermin masyarakat yang cinta ibadah. Dan gerakan ini mengingatkan kita, bahwa membersihkan rumah Allah adalah bagian dari ibadah itu sendiri,” ujar Warsubi di hadapan para tamu dan relawan, Sabtu (14/6/2025).

    Rama, Ketua GRRM Jombang, mengenang awal mula gerakan ini terbentuk. Bukan dari lembaga resmi, bukan pula dari pendanaan besar. Semuanya berawal dari obrolan ringan dan keresahan kecil yang berubah menjadi aksi nyata.

    “Dulu kami anggota mapala. Tapi sekarang sudah nggak muda lagi. Kami cari cara agar tetap bermanfaat. Maka kami bentuk GRRM,” kata Rama sambil tersenyum.

    Kini GRRM memiliki sekitar 40 anggota aktif yang tiap bulan, tepatnya di minggu kedua, menjalankan aksi bersih-bersih masjid. Tak ada bayaran, tak ada sponsor tetap. Semua bergerak dengan semangat gotong royong.

    Bahkan, dalam beberapa kesempatan, mereka membersihkan masjid di luar kota, kadang atas permintaan takmir, kadang karena kepekaan mereka sendiri melihat rumah ibadah yang luput dari perhatian.

    Namun perjuangan ini tak tanpa tantangan. Rama mengungkapkan bahwa GRRM masih terbatas dalam alat dan armada. “Semua alat dari iuran anggota, kadang pakai alat bekas. Untuk armada, kami masih pakai gerobak dorong,” jelasnya.

    Ketua GRRM Rama menyerahkan cinderamata untuk Bupati Jombang Warsubi

    Meski demikian, keterbatasan itu tak menyurutkan niat. Mereka tetap datang, menyingsingkan lengan baju, membawa sapu, pel, dan semangat juang. Karena bagi mereka, tak ada masjid yang terlalu kecil untuk dibersihkan. Setiap debu yang mereka angkat adalah bagian dari pengabdian.

    Milad pertama GRRM bukan sekadar perayaan. Ini adalah refleksi perjalanan dan penyalaan semangat baru. Tahun ini, mereka membersihkan masjid di lima titik sekaligus. Tak hanya itu, GRRM juga menggandeng PMI untuk mengadakan donor darah, menambah makna kemanusiaan dalam langkah-langkah mereka.

    Pengabdian GRRM tak mengenal usia, dan cinta rumah ibadah bisa lahir dari tangan-tangan biasa yang digerakkan oleh hati yang luar biasa. GRRM bukan hanya membersihkan masjid, mereka sedang merawat nurani—bahwa kebersihan adalah bagian dari keimanan, dan gotong royong adalah denyut hidup bermasyarakat yang tak boleh padam. [suf]

  • Dandim dan Kapolres Ponorogo Ajak Warga Jaga Keamanan Malam 1 Sura

    Dandim dan Kapolres Ponorogo Ajak Warga Jaga Keamanan Malam 1 Sura

    Ponorogo (beritajatim.com) – Menjelang datangnya Bulan Sura, suasana di Ponorogo mulai dipersiapkan agar tetap aman dan kondusif. Berbagai elemen masyarakat pun diminta ikut terlibat aktif dalam menjaga ketertiban.

    Komandan Kodim 0802/Ponorogo, Letkol Inf Dwi Soerjono, menekankan pentingnya sinergi antar semua pihak. Dia mengajak semua lapisan masyarakat untuk terus mempererat kerja sama demi keamanan bersama. Sehingga seperti bulan Suro sebelumnya, Bumi Reog damai tidak ada gangguan ketertiban masyarakat.

    “Alhamdulillah Kabupaten Ponorogo senantiasa dalam suasana aman dan kondusif. Ini semua berkat kerjasama dan sinergitas dari semuanya, baik TNI, Polri serta semua unsur terkait serta masyarakat termasuk Pamter,” ungkap Letkol Dwi Soerjono, usai Apel Siaga Pamter di Waduk Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Minggu (15/6/2025).

    Menurut Dwi Soerjono Pamter sebagai bagian dari organisasi PSHT, juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Mereka diminta menjadi contoh baik dalam kehidupan bermasyarakat.

    “Pamter sebagai pengaman internal organisasi PSHT tentunya harus bisa menjadi contoh atau suri tauladan yang baik bagi masyarakat dengan menampilkan kegiatan-kegiatan positif, penuh rasa tanggung jawab dan keikhlasan,” kata Letkol Dwi Soerjono.

    Nada serupa juga disampaikan Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo. Dia menekankan pentingnya merawat solidaritas dan komunikasi yang selama ini sudah berjalan baik antara kepolisian dan organisasi masyarakat, termasuk PSHT. AKBP Andin menilai Kabupaten Ponorogo punya modal sosial kuat yang harus terus dijaga.

    “Saya apresiasi kerja sama yang sudah terjalin baik selama ini. Harapannya, ke depan bisa lebih ditingkatkan. Warga PSHT saya harap terus bisa memberi kontribusi positif bagi pembangunan Ponorogo,” pungkasnya. [end/aje]

  • Satpol PP Kabupaten Mojokerto Tertibkan Waria Mangkal di Stren Kali Brantas

    Satpol PP Kabupaten Mojokerto Tertibkan Waria Mangkal di Stren Kali Brantas

    Mojokerto (beritajatim.com) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Mojokerto melakukan patroli penindakan terhadap gangguan ketenteraman dan ketertiban umum di sepanjang jalan stren Kali Brantas, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Sabtu (14/6/2025). Hasilnya petugas mendapati dua orang waria sedang mangkal di sebuah warung kopi.

    Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat (Tibumtranmas), Satpol PP Kabupaten Mojokerto, Mahendra WW mengatakan, patroli yang digelar pukul 23.00 WIB hingga 02.45 WIB tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari aduan masyarakat terkait maraknya aktivitas para waria yang sering mangkal di kawasan tersebut.

    “Kami melakukan patroli bersama Unit PPA dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial, Kepala Desa Mlirip beserta perangkatnya, Trantib desa, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas. Dalam penyisiran secara serentak dari sisi utara dan selatan kawasan tersebut, kami mendapati dua orang waria sedang mangkal di sebuah warung kopi,” ungkapnya, Minggu (15/6/2025).

    Keduanya kemudian dibawa ke Balai Desa Mlirip untuk dilakukan pendataan oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto yang disaksikan Kepala Desa (Kades) Mlirip dan jajaran keamanan desa. Kedua waria tersebut diketahui tidak membawa identitas diri yang menggunakan nama samaran.

    “Satu berdomisili di Kota Mojokerto dan bekerja sebagai penyanyi panggilan dan satu dari wilayah Jetis yang berprofesi sebagai kuli tebang tebu. Berdasarkan keterangan dari warga dan pengamatan petugas, terdapat total sembilan waria yang kerap mangkal di lokasi tersebut, terutama pada malam Minggu mulai pukul 23.00 hingga 03.00 WIB,” katanya.

    Masih kata Mahendra, patroli tersebut dilakukan secara humanis dan bersifat preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran terhadap Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Mojokerto Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat. Petugas juga memberikan edukasi dan pemahaman.

    “Mereka kami himbau agar tidak lagi mengulangi kegiatan yang dapat menimbulkan keresahan warga dan diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan kembali mangkal di kawasan tersebut. Alhamdulillah, mereka bersikap kooperatif dan memahami maksud kehadiran tim gabungan,” pungkasnya. [tin/aje]