Category: Beritajatim.com Regional

  • Banjir Genangan Anak Sungai Lamong Rendam 13 Rumah di Dawarblandong Mojokerto

    Banjir Genangan Anak Sungai Lamong Rendam 13 Rumah di Dawarblandong Mojokerto

    Mojokerto (beritajatim.com) – Banjir genangan akibat meluapnya Anak Sungai Lamong merendam permukiman warga di Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (10/1/2026) dini hari. Air masuk ke pemukiman warga sekitar pukul 02.00 WIB.

    Ini setelah wilayah Kabupaten Mojokerto diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat secara merata sejak Jumat (9/1/2026) hingga malam hari. Berdasarkan pantauan cuaca melalui aplikasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, hujan berkepanjangan menyebabkan peningkatan debit Sungai Lamong.

    Akibatnya, air sungai meluap dan merendam area persawahan hingga menggenangi permukiman warga di Dusun Balong RT 01 RW 09. Sedikitnya 13 rumah terdampak banjir dengan ketinggian air di dalam rumah mencapai sekitar 15 hingga 30 sentimeter. Sementara itu, ketinggian air di jalan desa berkisar antara 40 hingga 50 sentimeter.

    “Selain permukiman, banjir juga berdampak pada lahan pertanian warga. Tercatat sekitar 2,5 hektare lahan persawahan terendam air. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut,” ungkap Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Abdul Khakim.

    Pihaknya telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemantauan perkembangan situasi. Petugas BPBD Kabupaten Mojokerto dan instansi terkait ke lokasi untuk melakukan pemantauan perkembangan banjir di Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong.

    “Hingga saat ini, kondisi masih terus dilakukan pantauan untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan debit air susulan, mengingat potensi hujan masih dapat terjadi di wilayah hulu Sungai Lamong,” tegasnya. [tin/ian]

  • Diresmikan, Parkiran Bertingkat Jadi Solusi Kebutuhan Kantong Parkir di Kayutangan Heritage

    Diresmikan, Parkiran Bertingkat Jadi Solusi Kebutuhan Kantong Parkir di Kayutangan Heritage

    Malang (beritajatim.com) – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat meresmikan parkir bertingkat di Kayutangan Heritage pada Sabtu, (10/1/2026). Parkiran ini diharapkan menjadi kantong parkir bagi wisatawan yang ingin berlibur ke Kayutangan termasuk solusi mengatasi kemacetan di kawasan ini.

    Selama ini wisatawan yang berlibur ke Kayutangan Heritage selalu kesulitan mencari kantong parkir sebab lahan yang tersedia minim. Tidak sedikit situasi ini membuat pengunjung akhirnya kecewa lantaran gagal menikmati suasana Kayutangan Heritage hanya karena tidak mendapat tempat parkir.

    Sebagai solusinya, Pemkot Malang akhirnya membuat parkir bertingkat yang dibuat tembus dari Jalan Basuki Rahmat menuju Jalan Mojopahit. Untuk kapasitas parkir motor bisa mencapai 800 lebih kendaraan. Sedangkan mobil atau roda 4 sekitar puluhan kendaraan.

    “Ini salah satu solusi dengan gedung bertingkat, baik yang di kayu tangan maupun yang di Majopahit. Tingkat kepadatan, keruwetan, yang parkir sepanjang Kayutangan sudah bisa kami atasi. Insya allah karena menyambung antara Kayutangan dengan Majopahit kita bisa selesaikan (kemacetan),” ujar Wahyu.

    Sebelum meresmikan parkir bertingkat. Pemkot Malang melakukan penertiban atau penataan parkiran di sepanjang koridor Kayutangan Heritge. Untuk sisi kanan Kayutangan Heritage kendaraan roda 2 saat ini dilarang parkir di bahu jalan. Hasilnya, arus lalu lintas terlihat lebih lancar. Karena semua kendaraan diparkir di parkiran bertingkat.

    “Kami cek dua sampai tiga hari terakhir, alhamdulillah pengunjung lebih nyaman. Mereka bisa menikmati Kayutangan heritage tanpa terganggu parkir sepeda motor yang semrawut dan kemacetan,” ujar Wahyu.

    Dengan diresmikannya parkiran bertingkat membuat Pemkot Malang semakin matang menata jantung kota menjadi destinasi wisata. Sebab, mereka berencana meneruskan pembangunan kawasan Kayutangan Heritage agar terintegrasi ke wilayah Splendid, Taman Rekreasi Kota (belakang Balai Kota Malang) bahkan hingga Stasiun Malang.

    “Kita akan tata kawasan Splendid agar bisa merasakan dampak dari Kayutangan Heritage. Di sana ada potensi berbeda, ada sekolah heritage, Pasar Bunga, dulu dikenal Pasar Senggol. Nanti tidak akan ada jembatan ikonik yang menghubungkan Kayutangan Heritage dengan Splendid, sehingga menjadi satu kesatuan kawasan,” kata Wahyu. (luc/ian)

  • Menjelajah Gunung Pandan, Atap Bojonegoro di Jantung Kendeng yang Mulai Dilirik Pendaki

    Menjelajah Gunung Pandan, Atap Bojonegoro di Jantung Kendeng yang Mulai Dilirik Pendaki

    Bojonegoro (beritajatim.com) – Di gugusan Pegunungan Kendeng, berdiri Gunung Pandan yang menjulang paling tinggi dibanding dua “saudaranya”, Gunung Glagahgede dan Gunung Gambir. Dengan ketinggian sekitar 897 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Pandan—yang juga dikenal dengan sebutan Gunung Gede—menjadi titik tertinggi di Kabupaten Bojonegoro sekaligus menyimpan pesona alam dan budaya yang kian menarik perhatian.

    Selama ini, Gunung Pandan lebih dikenal lewat cerita rakyat dan kisah-kisah lisan yang hidup di tengah masyarakat sekitar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah gunung ini mulai berubah. Jalur-jalur setapak yang dahulu hanya dilalui warga kini semakin akrab dengan sepatu pendaki. Bahkan, kawasan ini sempat digunakan sebagai lokasi kegiatan olahraga fun trail run oleh komunitas pelari di Bojonegoro, menandai mulai terbukanya Gunung Pandan sebagai destinasi wisata minat khusus.

    Gunung Pandan berada di Desa Klino, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Untuk mencapai puncaknya, pendaki memiliki setidaknya empat pilihan jalur dengan karakter yang berbeda-beda. Jalur yang paling awam dan sering digunakan berada di Dusun Tugurejo, Desa Klino. Aksesnya relatif mudah dan menjadi favorit pendaki lokal yang ingin menikmati panorama Kendeng dari ketinggian.

    Pilihan kedua adalah jalur Dusun Jomblangjati, Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, yang berbatasan langsung dengan wilayah Bendoasri, Kabupaten Nganjuk. Jalur ini menawarkan pengalaman berbeda karena pendaki akan melewati anak Gunung Pandan serta sebuah sumber mata air alami. Sumber mata air panas itu kerap menjadi tempat singgah untuk beristirahat.

    Sebelum mencapai puncak utama, pendaki akan melewati Gunung Gambir dengan ketinggian sekitar 600 mdpl. Gunung ini bukan sekadar persinggahan, melainkan ruang budaya yang masih hidup. Setiap tanggal 1 hingga 15 Suro, warga setempat rutin menggelar tradisi manganan atau sedekah bumi di kawasan tersebut.

    “Sedekah bumi dilakukan di sebuah sumber mata air yang kami sebut Sendang Ndimo. Selain itu, sedekah bumi juga dilakukan di puncak Gunung Pandan,” tutur Mbah Saji, Sabtu (10/1/2026).

    Tradisi tersebut menjadi penanda kuat bahwa Gunung Pandan bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang spiritual bagi masyarakat sekitar. Kepercayaan warga setempat juga menyebut bahwa di puncak Gunung Pandan terdapat penunggu tak kasat mata yang dikenal dengan sebutan Ki Drepo dan Nyi Gendrosari. Keduanya kerap disebut warga sebagai seorang tabib yang akhirnya muksa di puncak gunung.

    Perpaduan antara alam, budaya, dan kepercayaan inilah yang membuat kawasan Kendeng, termasuk Gunung Pandan, memiliki daya tarik khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

    Selain dua jalur tersebut, pendakian ke Gunung Pandan juga bisa ditempuh melalui Desa Bandungan di wilayah Kabupaten Nganjuk, serta jalur Lemahbang yang dikenal sebagai akses dari arah Madiun. Meski belum sepopuler jalur Klino dan Krondonan, kedua jalur ini menyimpan tantangan tersendiri bagi pendaki yang mencari suasana berbeda.

    Dengan potensi alam yang masih terjaga dan tradisi lokal yang tetap lestari, Gunung Pandan perlahan menjelma menjadi destinasi alternatif bagi pencinta alam dan pegiat olahraga luar ruang. Di balik ketinggiannya, gunung tertinggi di Bojonegoro ini menyimpan cerita, spiritualitas, dan petualangan yang menunggu untuk dijelajahi.

    Sementara itu, salah seorang pemerhati sejarah Kabupaten Bojonegoro, Ahmad Wahyu Rizkiawan, dalam artikel yang pernah dipublikasikan di jurnaba.co berjudul Gunung Pandan: Spirit Ekologi dan Pusat Kebudayaan mengungkapkan bahwa keberadaan Gunung Pandan yang berada di Pegunungan Kendeng cukup diperhatikan oleh Raja Dyah Baletung (898–910).

    Selama masa kejayaan Medang dengan Raja Dyah Baletung, sangat mengistimewakan keseimbangan sungai (Bengawan Solo) dan pegunungan. Gunung yang juga memiliki nama Gunung Pugawat itu juga telah banyak ditulis dalam sebuah prasasti. Dalam Prasasti Pucangan (1041 M), Gunung Pandan dikenal sebagai tempat pertapaan megah kaum Brahmana yang dibuat oleh Raja Erlangga dari Kerajaan Medang Kahuripan.

    “Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini sudah menjadi pusat spiritual dan kebudayaan sejak awal era Hindu-Buddha di Jawa,” ungkap Wahyu dalam tulisannya.

    Kemudian, dalam catatan penjelajah dan kolonial sekitar abad ke-19 M, pelancong Jawa bernama Raden Mas Arya Purwalelana melakukan ekspedisi ke lereng Gunung Pandan dan mencatat adanya makam seorang putri bernama Gendrosari serta patung besar yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Derpo.

    Pada catatan lain, pada tahun 1857, ilmuwan Belanda Roorda Eysinga melaporkan penemuan berbagai benda peribadatan di puncak gunung, termasuk patung Brahma raksasa yang juga disebut Kiai Derpo oleh warga setempat.

    Akhir abad ke-19, dalam sebuah laporan arkeologi Hindia Belanda tahun 1910 disebutkan bahwa patung raksasa yang pernah berdiri di puncak gunung hilang sejak 1882. Namun, patung tersebut sempat dideskripsikan oleh peneliti Belanda seperti Dr. Brumund.

    Pada awal abad ke-20, para ilmuwan seperti Dr. Frederik David Kan Bosch melakukan penelitian terhadap prasasti seperti Prasasti Sendang Sedati yang ditemukan di batas wilayah Bojonegoro dan Nganjuk. Temuan ini menyebutkan wilayah sekitar Gunung Pandan sebagai bagian wilayah penting dalam penataan administrasi kerajaan dan aktivitas masyarakat zaman dahulu.

    “Penemuan prasasti dan catatan ekspedisi serta laporan arkeologi menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki kedalaman sejarah yang signifikan, jauh lebih tua dari kisah-kisah mitos yang kini berkembang,” pungkasnya. [lus/kun]

  • Diklat PPIH Arab Saudi 2026 Dimulai, 1.458 Petugas Digembleng Semi-Militer 20 Hari

    Diklat PPIH Arab Saudi 2026 Dimulai, 1.458 Petugas Digembleng Semi-Militer 20 Hari

    Jakarta (beritajatim.com) – Sebanyak 1.458 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 1447 H/2026 M mulai menjalani Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) intensif selama 20 hari di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, mulai 10 hingga 30 Januari 2026. Pelatihan berskema semi-militer ini dirancang untuk mencetak petugas yang memiliki ketahanan fisik prima dan mental tangguh guna melayani jemaah haji Indonesia di tanah suci.

    Proses hari pertama diawali dengan registrasi peserta yang mencakup verifikasi dokumen vital seperti paspor, visa bio, hingga penandatanganan pakta integritas. Setelah urusan administrasi rampung, ribuan peserta langsung mengikuti tes kemampuan bahasa Arab dan gladi bersih persiapan pembukaan resmi.

    Seluruh peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk perwakilan dari Jawa Timur, yang terbagi dalam beragam fungsi layanan. Mulai dari layanan umum, akomodasi, konsumsi, transportasi, perlindungan jemaah, layanan khusus lansia, hingga tim Media Center Haji (MCH).

    Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI, Mayjend TNI Purn. Dendi Suryadi, SH. MH, menegaskan bahwa penerapan metode semi-militer ini adalah upaya pemerintah untuk menghadirkan transformasi layanan haji yang lebih profesional. Terdapat empat sasaran utama dalam gemblengan tahun ini: fisik yang bugar, mental pelayan yang tangguh, keterampilan yang mumpuni sesuai fungsi (tusi), serta ikatan kebersamaan (bonding).

    “Minta dimaklum aja, karena kita akan menghadirkan, ini bagian dari ikhtiar kita untuk menghadirkan petugas haji yang lebih profesional dan berintegritas melalui empat sasaran. Yang pertama, fisiknya kuat, fisiknya bugar, karena memang ibadah haji itu kan 90% ibadah fisik, sehingga petugasnya juga harus lebih kuat daripada jemaah lalu. Kemudian yang kedua, mentalnya memang mental yang tangguh sebagai pelayan, mentalnya memang siap untuk jadi pelayan,” ujar Dendi Suryadi saat memimpin apel gladi di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

    Dendi menjelaskan bahwa kurikulum pelatihan sengaja mengadopsi nilai-nilai disiplin dari TNI dan Polri. Pada minggu pertama, peserta akan difokuskan pada Peraturan Baris-Berbaris (PBB) sebagai metode dasar melatih kepatuhan terhadap instruksi. Memasuki minggu kedua, pelatihan akan bergeser ke pendalaman tugas dan fungsi teknis di titik-titik krusial seperti Bandara, Madinah, Makkah, hingga puncak haji di Arafah dan Mina.

    “PBB itu metode yang bagus untuk melatih orang terbiasa mendengarkan instruksi. Mendengarkan instruksi, dan melaksanakan. Siap gerak, tuh diem. Nanti dideskripsikan oleh para pelatih. Hadap kiri, gerak. Hadap kanan, gerak,” jelasnya mengenai urgensi kedisiplinan lapangan.

    Guna memastikan kualitas pelatihan, Kemenhaj melibatkan 179 personel pelatih dari Mabes TNI dan Mabes Polri. Kolaborasi lintas instansi ini dilakukan karena penyelenggaraan haji dianggap sebagai tugas nasional besar yang membutuhkan manajemen operasional setingkat operasi kemanusiaan masif.

    Salah satu poin penting yang ditekankan bagi petugas adalah komitmen prioritas layanan. Petugas yang belum berhaji diberikan kesempatan menunaikan rukun Islam kelima tersebut, namun dengan syarat tetap mengenakan seragam dinas (tidak mengenakan ihram) saat bertugas di Arafah guna menjaga kesiagaan layanan.

    “Kalau petugas haji kita sudah komitmen silahkan yang belum berhaji tapi kemudian pada saat di Arafah jangan pakai melepaskan seragamnya. Dia harus tidak boleh pakai ikhram. Berarti kan melanggar sunnah bukan rukun. Nah itu nanti bisa ditebus dengan puasa, itu bayar dam. Ini cukup fair ya, harusnya harus mau ya. Kalau Anda mau jadi petugas ya begini. Ada 5,4 juta jemaah yang sudah mengantre sementara Anda dapat bonus tambahan untuk bisa berhaji,” tegas Dendi.

    Melalui masa pelatihan yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pemerintah berharap tercipta “jiwa korsa” yang kuat di antara petugas sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi. Hal ini dianggap vital untuk menghadapi otoritas keamanan Arab Saudi (Askar) yang dikenal sangat tegas dalam mengatur jutaan orang dari seluruh dunia.

    Dendi Suryadi menutup arahan dengan menekankan pentingnya kepatuhan pada pimpinan selama operasional haji berlangsung. “Di Islam itu ada sami’na wa ta’na, dengarkan umara, dengarkan ulama. Ikuti, ya kan?” pungkasnya di hadapan para peserta yang siap mengikuti pembukaan resmi diklat pada Minggu (11/1/2026). [ian]

  • Puluhan Santri dan Pelajar Kutorejo Diduga Keracunan MBG, Soto Ayam Jadi Sorotan

    Puluhan Santri dan Pelajar Kutorejo Diduga Keracunan MBG, Soto Ayam Jadi Sorotan

    Mojokerto (beritajatim.com) – Dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan santri dan pelajar di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto diduga berasal dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada, Jumat (9/1/2026). Menu MBG yang dikonsumsi saat itu adalah soto ayam.

    Kepala Desa (Kades) Wonodadi, Miskan, menjelaskan bahwa makanan MBG tersebut disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi. “SPPG ini menyalurkan sekitar 2.679 porsi MBG ke kurang lebih 20 lembaga pendidikan,” ungkapnya, Sabtu (10/1/2026).

    Sebanyak 20 lembaga pendidikan tersebut mulai jenjang Kelompok Belajar (KB), Raudhatul Athfal (RA), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Dasar Negeri (SDN), Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN), Madrasah Tsanawiyah (Mts), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

    “Jumlah pastinya belum tahu, mereka dirawat di Puskesmas Gondang, Puskesmas Pacet, Pustu Pesanggrahan dan ada juga yang menjalani perawatan secara berpencar. Kalau MBG nya kemarin. Hari ini tidak ada kegiatan di SPPG, saya tadi ke sana. Hanya ada staf di kantor, sementara karyawan tidak masuk,” katanya.

    Hingga kini, pihak terkait masih melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan Program MBG tersebut. Sementara para korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.

    Berikut daftar nama sekolah yang menerima MBG dari SPPG Wonodadi pada, Jumat (9/1/2026) :

    1. KB Wiyata Sabilillah
    2. KB Pelita Bangsa
    3. KB Bina Balita
    4. KB Al-Hidayah Plus
    5. TK AL-Hidayah Plus
    6. TK Dharma Wanita Singowangi
    7. TK Dharma Wanita Wonodadi
    8. RA Nurul Hidayah
    9. SDIT Firdaus al-hidayah
    10. SDN Wonodadi 1
    11. SDN Wonodadi 2
    12. MI Nurul Hidayah Wonodadi
    13. SDN Singowangi
    14. SMPN 2 Kutorejo
    15. MTS Ma’Had Annur
    16. SMP TI AI-Hidayah
    17. MTS Nurul Hidayah
    18. MA TI Berlian
    19. MA Had Annur
    20. SMK Unggulan Al-Irfan

    [kun]

  • Sekitar 60 Siswa Sakit, Pelajar SMPN 2 Kutorejo Mojokerto Dipulangkan Lebih Awal

    Sekitar 60 Siswa Sakit, Pelajar SMPN 2 Kutorejo Mojokerto Dipulangkan Lebih Awal

    Mojokerto (beritajatim.com) – Sekitar 60 siswa SMP Negeri 2 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilaporkan tidak masuk sekolah karena sakit dengan keluhan serupa, seperti pusing, mual, dan panas tubuh. Menyikapi kondisi tersebut, pihak sekolah memutuskan memulangkan siswa lebih awal sebagai langkah antisipasi.

    Humas SMPN 2 Kutorejo, Siti Noor Sa’adah, mengatakan sebagai langkah awal sekolah memulangkan siswa agar dapat beristirahat di rumah, mengingat banyaknya keluhan kesehatan serta padatnya aktivitas siswa sebelumnya, termasuk kegiatan ekstrakurikuler dan try out pada Sabtu (10/1/2026).

    “Langkah pertama kami pulangkan dulu supaya anak-anak bisa istirahat. Apalagi Sabtu juga banyak kegiatan yang cukup menyita tenaga dan para guru juga ada kegiatan. Kami juga masih menunggu laporan dari orang tua dan hasil pemeriksaan medis untuk memantau kondisi kesehatan para siswa dan penyebabnya,” katanya.

    Hingga kini, pihak sekolah masih menunggu laporan resmi dari orang tua siswa dan hasil pemeriksaan medis untuk memastikan penyebab pasti keluhan kesehatan tersebut. Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes), TNI/Polri langsung terjun ke SMPN 2 Kutorejo untuk melakukan pendataan.

    Sebelumnya, puluhan siswa SMP Negeri 2 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa pusing, mual, dan panas tubuh. Namun, pihak sekolah menegaskan bahwa tidak seluruh siswa yang sakit tersebut dapat dipastikan berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). [tin/kun]

  • Para Siswa SMPN 2 Kutorejo Mojokerto Sempat Santap Menu Soto Ayam

    Para Siswa SMPN 2 Kutorejo Mojokerto Sempat Santap Menu Soto Ayam

    Mojokerto (beritajatim.com) – Sekitar 60 siswa SMP Negeri 2 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilaporkan tidak masuk sekolah karena sakit dengan keluhan serupa, seperti pusing, mual, dan panas tubuh. Meski belum dipastikan karena keracunan, sehari sebelumnya mereka mendapatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menu soto ayam.

    Humas SMPN 2 Kutorejo, Siti Noor Sa’adah, mengatakan keluhan kesehatan tersebut tidak hanya dialami oleh siswa dari satu kelas, melainkan tersebar di beberapa kelas dengan jumlah bervariasi. “Yang tidak masuk itu sekitar 60 siswa dari kelas VII sampai IX. Tapi tidak semuanya karena satu penyebab,” ungkapnya, Sabtu (10/1/2026).

    Ada yang memang sudah sakit sebelumnya, ada juga yang keluhannya baru muncul. Ia menjelaskan, sebagian siswa mengalami gejala pusing dan mual, bahkan ada yang muntah sehingga diizinkan pulang lebih awal. Namun demikian, pihak sekolah belum dapat memastikan seluruh keluhan tersebut berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan sehari sebelumnya.

    “Gejalanya memang hampir sama, tapi kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Tidak semua karena MBG, karena ada juga yang izin sakit sejak beberapa hari lalu atau karena faktor lain. Menu MBG berupa soto ayam disajikan kepada siswa dan tidak ditemukan kejadian mencurigakan hingga jam pulang sekolah,” ujarnya.

    Sebelumnya, puluhan siswa SMP Negeri 2 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa pusing, mual, dan panas tubuh. Namun, pihak sekolah menegaskan bahwa tidak seluruh siswa yang sakit tersebut dapat dipastikan berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). [tin/kun]

  • Para Siswa SMPN 2 Kutorejo Mojokerto Sempat Santap Menu Soto Ayam

    Puluhan Siswa SMPN 2 Kutorejo Alami Pusing dan Mual, Sekolah Tegaskan Belum Tentu Akibat MBG

    Mojokerto (beritajatim.com) – Puluhan siswa SMP Negeri 2 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa pusing, mual, dan panas tubuh. Namun, pihak sekolah menegaskan bahwa tidak seluruh siswa yang sakit tersebut dapat dipastikan berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Humas SMPN 2 Kutorejo, Siti Noor Sa’adah, menjelaskan bahwa keluhan tersebut tidak terpusat pada satu kelas saja. Dari pendataan sementara, tiap kelas rata-rata terdapat tiga hingga tujuh siswa yang tidak masuk sekolah dengan gejala hampir serupa. Namun, ada juga yang tidak masuk karena kecelakaan dan sakit sebelumnya.

    “Beberapa anak memang tidak masuk, tapi tidak hanya satu kelas. Ada yang tiga, ada yang lima, bahkan ada yang tujuh. Gejalanya hampir sama, pusing dan mual. Tapi kami tidak langsung menyimpulkan penyebabnya karena keracunan MBG,” ungkapnya, Sabtu (10/1/2026).

    Ia menyampaikan, pada Jumat (9/1/2026) sekolah tetap melaksanakan kegiatan seperti biasa, termasuk pelaksanaan MBG dengan menu soto ayam. Menu tersebut sama untuk seluruh siswa karena berasal dari satu dapur penyedia. Hingga jam pulang sekolah sekitar pukul 10.30 WIB, tidak ditemukan kejadian mencurigakan di lingkungan sekolah.

    “Di sekolah tidak ada apa-apa. Anak-anak pulang setelah makan karena memang hari Jumat tidak ada kegiatan lanjutan. Jadi keluhannya justru diketahui keesokan harinya. Pas tadi pagi, di absensi ternyata jumlah siswa yang izin tidak masuk sekolah pada hari berikutnya mencapai sekitar 60 anak dari kelas VII hingga IX,” katanya.

    Namun, lanjutnya, tidak semuanya disebabkan oleh dugaan keracunan MBG. Sebagian siswa memang sudah sakit sebelumnya, ada yang mengalami kecelakaan, serta ada yang izin karena keperluan lain. Ia mengungkapkan, beberapa siswa sempat mengalami muntah dan langsung diizinkan pulang.

    “Yang sakit itu tidak seluruhnya karena MBG. Ada yang memang sudah sakit beberapa hari sebelumnya, ada yang kecelakaan, bahkan ada wali kelas yang tidak masuk karena kegiatan lain. Indikasinya memang mirip, pusing dan mual, tapi hasil pemeriksaan belum semua keluar. Jadi kami belum bisa memastikan semuanya karena MBG,” ujarnya.

    Menurutnya, semua juga tergantung daya tahan tubuh masing-masing anak. Ia juga tidak bisa memastikan berapa jumlah siswa yang menjalani perawatan, lantaran sebagian lainnya mendapat penanganan medis dan diperbolehkan kembali ke rumah tanpa harus dirawat inap.

    Sebelumnya, sebanyak 17 pelajar dari wilayah Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilarikan ke UPT Puskesmas Gondang, Sabtu (10/1/2026), setelah diduga mengalami keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para pasien datang hampir bersamaan dan langsung mendapatkan penanganan medis. [tin/kun]

  • 17 Pelajar di Kutorejo Mojokerto Diduga Keracunan MBG, Alami Muntah, Diare, dan Pusing

    17 Pelajar di Kutorejo Mojokerto Diduga Keracunan MBG, Alami Muntah, Diare, dan Pusing

    Mojokerto (beritajatim.com) – Sebanyak 17 pelajar dari wilayah Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, harus mendapatkan perawatan medis setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para pelajar tersebut dilarikan ke UPT Puskesmas Gondang dengan keluhan gangguan kesehatan yang hampir serupa.

    Kepala UPT Puskesmas Gondang, dr. Rohmatun Naja, mengatakan sebagian besar pasien datang dengan gejala muntah, disertai pusing, dan beberapa di antaranya mengalami diare.

    “Gejala yang dirasakan pasien antara lain muntah, sebagian mengalami diare, serta pusing. Pasien terdiri dari laki-laki dan perempuan,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).

    Menurutnya, pihak puskesmas langsung melakukan penanganan medis terhadap seluruh pasien yang datang, sembari memantau perkembangan kondisi kesehatan mereka. Hingga saat ini, seluruh pasien masih dalam observasi untuk memastikan tidak terjadi perburukan kondisi.

    Selain penanganan medis, Puskesmas Gondang juga telah mengambil langkah lanjutan dengan menelusuri penyebab dugaan keracunan tersebut. Pihak puskesmas memastikan akan menyampaikan perkembangan hasil pemeriksaan laboratorium setelah keluar, guna mengetahui secara pasti penyebab munculnya gejala keracunan yang dialami para pelajar tersebut.

    Sebelumnya, sebanyak 17 pelajar dari wilayah Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dilarikan ke UPT Puskesmas Gondang, Sabtu (10/1/2026), setelah diduga mengalami keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para pasien datang hampir bersamaan dan langsung mendapatkan penanganan medis. [tin/kun]

  • Tim Damkar Jombang Turun Tangan, Anak Terjepit Teralis Bangku Berhasil Diselamatkan

    Tim Damkar Jombang Turun Tangan, Anak Terjepit Teralis Bangku Berhasil Diselamatkan

    Jombang (beritajatim.com) – Sebuah insiden terjadi di depan RSUD Jombang, yang melibatkan seorang anak yang kakinya terjepit pada besi tralis tempat duduk. Insiden ini memicu respons cepat dari tim Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarla) Jombang, Sabtu (10/1/2026).

    Menurut laporan yang diterima Pos Damkar Jombang, korban yang masih anak-anak, tidak sengaja memasukkan kakinya ke dalam celah besi tralis pada bangku di depan rumah sakit tersebut.

    “Korban yang masih anak-anak tidak sengaja kakinya masuk dan terjepit di antara besi teralis bangku,” ujar Deni Santoso, petugas Pos Damkar Jombang, saat diwawancarai terkait kejadian tersebut, Sabtu (10/1/2026).

    Mendapati kaki korban terjepit, orang tua korban berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan kaki anaknya, namun upaya tersebut mengalami kesulitan. “Orang tua korban berusaha membantu menarik kaki korban, tapi kesulitan saat dilepas,” lanjut Deni.

    Keadaan ini mendorong orang tua korban untuk segera menghubungi Pos Damkar Jombang untuk meminta bantuan. Pos Damkar Jombang menerima laporan pada pukul 11.27 WIB, dan tak lama kemudian, tim regu piket Pos Damkar Jombang berangkat menuju lokasi kejadian.

    Dalam waktu kurang dari lima menit, tim tiba di lokasi dan langsung melakukan penanganan terhadap korban. Tim damkar bekerja cepat dan profesional, dan pada pukul 11.45 WIB, kaki korban berhasil terlepas dari jepitan besi.

    Kondisi korban saat ini sudah aman dan tidak mengalami cedera lebih lanjut. “Kaki korban berhasil terlepas dari jepitan dan korban dinyatakan aman,” ungkap Deni. [suf]