Catat Shortfall Terburuk, Said Didu: Bagaiman dengan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen?

Catat Shortfall Terburuk, Said Didu: Bagaiman dengan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu memberi catatan penting soal pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ini merupakan respon Said Didu dari data yang disajikan oleh salah satu ekonom, Awalil Rizky.

Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, Said Didu memberi catatan penting.

Menurutnya ini adalah Shortfall adalah yang terburuk yang selama ini dicapai.

Adapun Shortfall adalah kekurangan atau selisih negatif antara target yang diharapkan dengan realisasi yang dicapai.

“Catatan penting : Ini shortfall terburuk selama ini !!!,” tulisnya dikutip Rabu (14/1/2026).

Dari data terbaru ini, Said Didu menyebut penghasilan perusahaan dan penghasilan rakyat mengalami penurunan.

Penurunan ini tentu berdampak yang artinya tidak tercapai sekitar 25 persen.

Yang jadi pertanyaan besar baginya saat ini adalah soal target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

“Artinya : penghasilan perusahaan dan rakyat turun atau tdk tercapai sktr 25 %,” sebutnya.

“Bagaimana nasib target pertumbuhan 8% ?,” tanyanya.

Sebelumnya, dalam paparannya Awalil Rizky memberi penjelasan soal pajak pribadi atau badan atas penghasilan yang diterima.

Termasuk didalamnya ada keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah.

“Pajak Penghasilan merupakan pajak orang pribadi atau badan atas penghasilan yang diterima,” ungkap Awalil.

“Seperti: keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah, dll,” ujarnya.

Dan kondisi saat ini, Indonesia berada dalam realisasi sementara PPh pada 2025 sebesar Rp915,3 triliun.

Sang Ekonomi itu pun tegas mengatakan melihat data ini, bahwa Shortfall yang dialami Indonesia jadi yang terburuk.