Liputan6.com, Jakarta – Isu mengenai kemunculan “super flu” belakangan ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Kekhawatiran tersebut bahkan sempat disandingkan dengan pengalaman pahit pandemi Covid-19.
Menteri Kesehatan RI menegaska superflu bukanlah virus baru dan masyarakat diminta untuk tidak panik. Menkes menjelaskan, istilah superflu yang beredar merujuk pada varian K dari virus influenza A subtipe H3N2.
Dia menjamin, virus ini bukanlah hal asing di dunia medis karena telah dikenal dan beredar selama puluhan tahun. Berbeda dengan Covid-19 yang muncul sebagai virus baru dan belum dikenali sistem kekebalan tubuh manusia, influenza A H3N2 sudah lama “dikenal” oleh imunitas masyarakat.
“Kalau super flu ini sebenarnya influenza A, H3N2. Virusnya sudah ada puluhan tahun, hanya varian baru,” ujar Menkes.
Menurutnya, karena virus tersebut bukan virus baru, sebagian besar masyarakat telah memiliki tingkat kekebalan dasar. Selama kondisi tubuh dalam keadaan sehat, risiko terjadinya gejala berat relatif kecil dan tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
“Kalau badan sehat, makan cukup, tidur cukup, olahraga cukup, seharusnya tidak ada masalah,” tambahnya.
Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan juga mencatat belum adanya laporan kematian akibat superflu. Gejala yang ditimbulkan pun umumnya menyerupai flu pada umumnya, seperti demam, batuk, pilek, dan pegal, dengan tingkat kesembuhan yang tinggi.
Dalam perkembangannya, Menkes menyampaikan bahwa kasus influenza, termasuk H3N2, memang mengalami peningkatan musiman di sejumlah wilayah, terutama saat cuaca tidak menentu dan daya tahan tubuh menurun.
Namun demikian, situasi tersebut masih dalam batas terkendali dan belum menunjukkan lonjakan yang mengkhawatirkan seperti saat pandemi COVID-19.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5465890/original/012027500_1767779414-bgs_super_flu.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)