Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong hilirisasi atau pengembangan obat dengan bahan alami di Indonesia.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan, hal ini bisa tercapai jika tiga unsur, yakni akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah (academia, business, and government/ABG) bekerja sama.
“Melalui dukungan universitas dan pelaku usaha, hilirisasi produk obat bahan alam dapat menghasilkan produk unggul dan berdaya saing,” kata dia seperti dilansir dari Antara, Minggu (7/12/2025).
Lebih lanjut, dia menjelaskan masing-masing unsur ABG memiliki peran yang berkesinambungan, terutama dalam proses hilirisasi riset herbal nasional. Ia menyebutkan saat ini BPOM telah menjalin 168 kerja sama dengan perguruan tinggi sebagai bagian dari penguatan unsur akademis.
Taruna juga menyoroti bahwa pengembangan obat bahan alam membutuhkan pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari standardisasi bahan baku, riset, produksi, hingga akses pasar.
Tantangan tersebut, menurut dia, tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dengan demikian, diperlukan sinergi lintas sektor yang kuat dan berkelanjutan.
Menutup paparannya, Taruna menegaskan bahwa pengembangan obat bahan alam merupakan langkah strategis menuju kemandirian kesehatan nasional. Inovasi, kata dia, hanya dapat tumbuh melalui kerja bersama.
Taruna juga mengutip pemikiran Theodore Levitt yang mengingatkan pentingnya kreativitas diimbangi dengan tindakan nyata. “Kreativitas adalah memikirkan hal-hal baru, inovasi adalah melakukan hal-hal baru,” ucapnya.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Kedokteran UNS Reviono menyampaikan dukungannya terhadap upaya pengembangan obat bahan alam berbasis kolaborasi.
Reviono menekankan pentingnya mendorong penelitian herbal di lingkungan kampus sebagai bagian dari inovasi layanan kesehatan.
“Saya ingin mendorong perkembangan penelitian ke arah herbal. Produk herbal yang dihasilkan nantinya bisa didorong untuk digunakan pada pengobatan pasien di rumah sakit,” ujarnya.
