Kapolda Jatim Geram Tahu Ulah Bripka AS Bunuh Adik Iparnya
Editor
SURABAYA, KOMPAS.com
– Kapolda Jatim Irjen Polisi Nanang Avianto mengaku geram dengan ulah Bripka Agus yang terlibat sebagai otak pembunuhan adik iparnya sendiri FAN (21), mahasiswi Universitas Muhammadyah Malang (UMM).
Bripka Agus membuang jenazah FAN di sungai sedalam sekitar 5 meter kawasan Jalan Raya Purwosari, Kauman, Wonorejo, Pasuruan, Jawa Timur.
Ia tak segan bakal memberikan sanksi tegas dengan memecat Bripka Agus dari keanggotaan Polri;
Polsek Krucil Polres Probolinggo, dalam proses Sidang Etik Polri yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini.
Menurutnya, perbuatan Bripka Agus pantas dikenakan sanksi maksimal yakni pemecatan atau Pemutusan Tidak dengan Hormat (PTDH) pada sidang etik yang akan dilaksanakan Bidang Propam Polda Jatim.
Oleh karena itu, manakala berkas perkara etik terhadap Bripka Agus sudah rampung dan telah tiba di meja kerjanya, Nanang menegaskan, dirinya tak segan bakal menandatanganinya secara langsung.
“Ini sekarang sudah proses untuk periksa kode etiknya yang termasuk dalam pelanggaran berat dan ancamannya PTDH,” ujar Nanang di Mapolda Jatim, pada Selasa (30/12/2025).
Bahkan, Nanang menginstruksikan kepada jajarannya untuk mempublikasikan hasil penyelidikan internal Polri terhadap Bripka Agus ke hadapan masyarakat.
Hal ini agar menunjukkan bahwa Polda Jatim tetap profesional dan transparan menindak tegas para anggotanya yang terbukti melanggar.
“Saya tidak ingin ini terjadi lagi di antara anggota-anggota. Tapi bagaimanapun juga apa yang kami lakukan kami bisa mempertanggungjawabkan kepada masyarakat,” katanya.
Bukan cuma disanksi pemecatan dari Institusi Polri, Bripka Agus juga bakal menjalani sanksi pidana yang sedang diselidiki oleh Anggota Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim.
Nanang berharap, Bripka Agus dapat mempertanggungjawabkan perbuatan di depan hukum.
“Sudah saya perintahkan pada saat yang bersangkutan tertangkap penjuru pidana Ditreskrimum dan penjuru kode etik langsung Bidpropam,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Ditreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Widi Atmoko mengatakan, motif pembunuhan yang dilakukan Bripka Agus dan Suyitno ditengarai karena ingin menguasai harta benda korban.
“Motifnya berdasarkan pemeriksaan, motifnya sudah kami dapatkan yaitu sakit hati dan ingin menguasai harta milik orang,” ujar Widi Atmoko.
Ternyata, perbuatan yang dilakukan kedua pelaku telah direncanakan sejak lama.
Bahkan, mereka juga telah merencanakan menghabisi nyawa korban di rumah Bripka Agus di kawasan Tiris, Probolinggo.
“Pembunuhannya di daerah Probolinggo,” jelasnya.
Oleh karena itu, Widi Atmoko mengungkapkan, pihaknya mengenakan persangkaan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan pidana maksimal hukuman mati, terhadap Bripka Agus dan Suyitno.
“Ya, kami kenakan perencanaan. Tadi Pak Kapolda menyampaikan akan tindak tegas, tindak pidana sendiri,” pungkasnya.
Sebelumnya, Bripka Agus Anggota Polres Probolinggo dan Suyitno pelaku pembunuhan FAN (21) sang adik berstatus mahasiswi di Pasuruan yang berhasil ditangkap Tim Jatanras Polda Jatim, sempat digelandang ke Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, pada Senin (22/12/2025) sore.
Saat dicecar mengenai motif atau alasannya menghabisi nyawa korban.
Bripka Agus tampak memilih diam seribu bahasa seraya menundukkan kepala.
Lalu, setelah buron selama 3 hari, Suyitno (38) pelaku kedua dalam kasus tersebut berhasil ditangkap Anggota Tim Jatanras Polda Jatim di Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (18/12/2025).
Suyitno juga digelandang ke Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim untuk menjalani pemeriksaan.
Artikel ini telah tayang di Surya.co.id dengan judul
Kapolda Jatim Marah dengan Kelakuan Bripka Agus yang Otaki Pembunuhan Adik Iparnya
.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Author: Kompas.com
-
/data/photo/2025/12/25/694c2448e05b9.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kapolda Jatim Geram Tahu Ulah Bripka AS Bunuh Adik Iparnya Surabaya 30 Desember 2025
-
/data/photo/2025/12/30/695371a7b6150.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Curah Hujan Tinggi, 3 Kabupaten di Kalteng Dilanda Banjir, Waspada Risiko Meluas Regional 30 Desember 2025
Curah Hujan Tinggi, 3 Kabupaten di Kalteng Dilanda Banjir, Waspada Risiko Meluas
Tim Redaksi
PALANGKA RAYA, KOMPAS.com
– Sebanyak tiga kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dilanda banjir akibat intensitas curah hujan tinggi di pengujung tahun 2025.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng mengimbau daerah lain untuk meningkatkan kewaspadaan dini.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik
BPBD Kalteng
, Alpius Patanan, mengungkapkan tiga kabupaten yang terdampak banjir adalah Barito Utara, Kapuas, dan Barito Timur.
Banjir di Barito Utara telah berlangsung sejak 22 Desember 2025, merendam 5 desa di 2 kecamatan dengan ketinggian air mencapai 150 cm.
“Banjir yang melanda Barito Utara sudah terjadi sejak 22 Desember 2025, wilayah terdampak 5 desa di 2 kecamatan, dengan ketinggian banjir 150 cm, berdasarkan update kemarin sore,” ujar Alpius kepada Kompas.com melalui keterangannya, Selasa (30/12/2025).
Fasilitas yang terendam di Barito Utara meliputi 242 unit rumah, 1 titik jalan, 2 titik jembatan penghubung, 4 unit fasilitas pendidikan, 1 unit gedung pemerintah, dan 2 masjid.
Sementara itu, di Kabupaten Kapuas, banjir melanda 2 desa di 1 kecamatan, yaitu Desa Tumbang Randang dan Lawang Kamah di Kecamatan Timpah, sejak 27 Desember 2025.
Ketinggian air mencapai 20-40 cm, dengan 3.920 jiwa atau 1.168 kepala keluarga terdampak.
“Ketinggian muka air banjir di Kapuas saat ini 20-40 cm, dengan jumlah warga terdampak sebanyak 3.920 jiwa/1.168 KK,” bebernya.
Kabupaten Barito Timur mencatat wilayah terdampak banjir terluas, meliputi 6 desa di 4 kecamatan, dengan 587 jiwa atau 200 kepala keluarga terdampak.
“Sehingga banjir di Kalteng saat ini sudah melanda 3 kabupaten, 13 desa/kelurahan di 4 kecamatan, perlu kewaspadaan kita semua karena saat ini sebagian besar wilayah berada di
musim hujan
,” kata Alpius.
Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Chanda Mukti, menyatakan bahwa dalam sepekan ke depan, seluruh wilayah Kalteng berpotensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir/kilat dan angin kencang.
“Pada 30 Desember 2025-01 Januari 2026, wilayah yang berpotensi hujan yakni Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, Kapuas, Pulang Pisau, dan Palangka Raya,” jelasnya kepada Kompas.com, Selasa.
Chandra menambahkan, pada 01 Januari hingga 04 Januari 2026, wilayah-wilayah tersebut masih berpotensi mengalami cuaca ekstrem serupa.
“Maka dari itu, segenap pihak perlu waspada dan berhati-hati terhadap dampak bencana yang ditimbulkan seperti genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang,” tandas Chandra.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/30/6953938c2d27b.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Jalan Pantura Semarang Tiba-tiba Berlubang Seperti Sumur, Ternyata ini Sebabnya Regional 30 Desember 2025
Jalan Pantura Semarang Tiba-tiba Berlubang Seperti Sumur, Ternyata ini Sebabnya
Tim Redaksi
SEMARANG, KOMPAS.com
– Kondisi jalan berlubang di Jalan Pantura Rowosari I, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, membuat warga resah.
Lubang cukup besar yang menyerupai sumur itu berada di lajur kiri jalan dan dinilai berpotensi memicu kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Lokasi jalan berlubang tersebut berada di jalur padat kendaraan roda dua maupun roda empat, terlebih menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Pejabat Pembuat Komitmen 3.1 Provinsi
Jawa Tengah
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jateng-DIY, Awang Nofika, mengatakan lubang tersebut disebabkan ambrolnya pasangan batu pada saluran air irigasi di bawah jalan.
“Atas kejadian tersebut tim kami telah melakukan penutupan satu lajur untuk pengamanan jalan dengan memasang pita pembatas dan rambu-rambu,” kata Awang kepada Kompas.com, Selasa (30/12/2025).
Awang menjelaskan, mengingat kondisi saat ini bersifat darurat demi pengamanan arus lalu lintas selama libur Nataru, pihaknya akan melakukan penanganan permanen.
“Dengan pemasangan box culvert di bawah perkerasan jalan,” ujarnya.
Penanganan tersebut masuk dalam paket pekerjaan Preservasi Jalan Weleri–Kendal–Semarang.
“Sore ini alat berat kami mobilisasi dan lanjut pekerjaan penanganan,” lanjut Awang.
Ia menegaskan, perbaikan akan dilakukan secara cepat agar jalan nasional tersebut kembali aman dilintasi masyarakat.
“Kami targetkan besok sudah selesai pemasangan box culvertnya, lalu lanjut pengaspalan,” ujarnya.
Kondisi jalan berlubang di Jalan Pantura Rowosari I, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025).
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/11/25/69259f9f39e33.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Polresta Solo Tak Keluarkan Izin Kembang Api, Pemkot Hadirkan Hening saat Malam Tahun Baru Regional 30 Desember 2025
Polresta Solo Tak Keluarkan Izin Kembang Api, Pemkot Hadirkan Hening saat Malam Tahun Baru
Tim Redaksi
SOLO, KOMPAS.com
– Masyarakat Kota Solo, Jawa Tengah, diimbau untuk tidak menyalakan petasan dan kembang api saat malam pergantian tahun.
Polisi memastikan tidak ada
izin kembang api
.
Sementara Pemerintah Kota (Pemkot)
Solo
akan menghadirkan
suasana hening
saat gelaran
car free night
(CFN) di
malam tahun baru
.
Kapolresta Solo Kombes Pol. Catur Cahyono Wibowo mengatakan, imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk empati kepada masyarakat di sejumlah daerah yang tengah terdampak bencana.
Catur menegaskan, Polresta Surakarta tidak mengeluarkan izin kegiatan kembang api dalam perayaan malam tahun baru.
Meski terdapat perbedaan antara petasan dan kembang api, masyarakat tetap diminta menahan diri.
“Untuk kembang api kami mengimbau agar tidak dinyalakan. Lebih baik mengedepankan empati karena saudara-saudara kita di beberapa daerah seperti Sumatera dan Kalimantan masih terdampak banjir, erupsi gunung api, hingga gelombang pasang,” ujar Catur, Selasa (30/12/2025).
Ia menyebut, malam
pergantian tahun
sebaiknya dimaknai sebagai momentum refleksi dan diisi dengan kegiatan positif bersama keluarga.
“Daripada membeli petasan atau kembang api, lebih baik dananya disumbangkan untuk membantu korban bencana,” katanya.
Kapolresta memastikan tidak ada izin kembang api terorganisir pada malam tahun baru.
Sementara untuk petasan yang membahayakan keselamatan, kepolisian akan melakukan penindakan tegas sesuai aturan yang berlaku.
Sebelumnya, Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengimbau warga untuk tidak merayakan malam tahun baru secara berlebihan pada Rabu (31/12/2025), mengingat bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh.
Pergantian tahun di Solo akan dikemas dalam gelaran
car free night
yang difokuskan sebagai momen refleksi dan empati.
“Dilarang terlalu foya-foya. Saatnya pergantian tahun kita refleksi diri, menatap 2026, merayakan pergantian tahun dengan sebaik-baiknya,” kata Respati di Solo, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025).
Respati menambahkan, pada pergantian tahun nanti, akan ada konsep “malam kepedulian”.
Pihaknya mengatakan nantinya akan ada suasana hening sejenak.
“Tetap ada penandanya. Ini sedang dikonsep rekan-rekan EO-nya. Akan ada suasana hening sejenak di malam pergantian tahun,” ungkap dia.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/21/6947f7baeeff4.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Purbaya Candai Maruli soal Utang Jembatan Darurat: Saya Baru Tahu Sebelah Banyak Utang Nasional 30 Desember 2025
Purbaya Candai Maruli soal Utang Jembatan Darurat: Saya Baru Tahu Sebelah Banyak Utang
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons santai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak terkait pembangunan jembatan darurat pascabencana di Sumatera yang disebut-sebut dilakukan dengan cara berutang.
Purbaya mulanya mengatakan, peran Kementerian Keuangan dalam
penanganan pascabencana
berada di bagian belakang, yakni menunggu pengajuan tagihan.
“Kalau peran Menteri Keuangan agak sedikit, Pak, karena kami di belakang, kami cuma ya bayar kalau ada tagihan,” ujar Purbaya dalam rapat koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana Sumatera yang digelar DPR RI di Aceh, Selasa (30/12/2025).
Selama ini, dia memahami bahwa pendanaan penanganan bencana dilakukan melalui satu pintu, yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun, Purbaya baru mengetahui adanya persoalan utang dalam pembangunan
jembatan darurat
.
“Yang kami tahu kan selama ini satu pintu lewat BNPB, harusnya sih kita anggap lancar tadinya. Tapi saya baru tahu bahwa sebelah saya punya utang banyak rupanya,” kata Purbaya, disambut tawa Maruli.
Purbaya kemudian melontarkan pertanyaan bernada canda kepada Maruli terkait jaminan atas utang
pembangunan jembatan darurat
tersebut.
“Bapak kalau ngutang jembatan, jaminannya apa?” ujar Purbaya.
Menanggapi hal itu, Maruli menjawab singkat dengan nada bercanda.
“Ya tentara, Pak,” kata Maruli, yang kembali disambut tawa peserta rapat.
Sebelumnya diberitakan, Maruli mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan darurat pascabencana di Sumatera, khususnya Aceh, menghadapi proses yang panjang dan rumit, termasuk dalam hal pendanaan.
Maruli menjelaskan, pembangunan jembatan darurat harus diawali dengan survei lokasi untuk menentukan jenis jembatan yang sesuai.“Kita harus survei tempat itu, tempat itu harus jenis jembatan apa yang tepat,” kata Maruli.
Berdasarkan hasil survei, TNI AD memutuskan membangun tiga jenis jembatan darurat, yakni jembatan Bailey, jembatan Armco, serta jembatan perintis atau jembatan gantung.
Hingga kini, Satgas Darurat Jembatan telah mengerahkan 22 jembatan Bailey di wilayah terdampak bencana, ditambah 14 jembatan Bailey dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Selain itu, sebanyak 39 jembatan Armco telah disiapkan di Aceh.
Maruli juga mengakui bahwa pengadaan jembatan Armco dilakukan dengan cara berutang demi mempercepat proses pembangunan.
“Untuk Armco sampai pabrik-pabriknya itu kita borong semua, Pak, habis. Udah tiga tahap kita sudah kerjakan. Itupun ya saya nanti bisik-bisik Bapak aja Pak itu masih utang Pak,” ujar Maruli.
Meskipun begitu, Maruli menegaskan bahwa Satgas Darurat Jembatan akan terus bekerja menangani kerusakan infrastruktur penghubung di wilayah terdampak bencana.
“Saya meyakinkan ini akan terus kita kerjakan,” pungkasnya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/30/6952d07ab50d5.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Memancing di Kali Jakarta Meski Air Tercemar demi Lauk Keluarga Megapolitan 30 Desember 2025
Memancing di Kali Jakarta Meski Air Tercemar demi Lauk Keluarga
Editor
JAKARTA, KOMPAS.com
– Aktivitas memancing di kali-kali Jakarta tetap digandrungi meski kualitas air sudah tercemar limbah.
Bagi sebagian warga, kegiatan ini bukan sekadar hobi, tetapi juga sumber lauk bagi keluarga sehari-hari.
Seperti Ridwan (32), pemancing yang kerap menghabiskan waktu di Kali Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, setiap akhir pekan.
Ia mengandalkan usus ayam sebagai umpan untuk mendapatkan ikan.
“Umpannya pakai usus ayam, disukai semua jenis ikan, kayak bawal. Itu ususnya mentah,” ujar Ridwan kepada Kompas.com, Senin (29/12/2025).
Ridwan mengaku bisa memperoleh hingga lima ekor ikan dalam sehari, yang kemudian dimasak untuk keluarga.
Ia pun memahami kondisi air kali yang sudah tercemar, tetapi tetap memilih
memancing
demi kebutuhan rumah tangga.
“Harapannya kali-kali di Jakarta bisa dikasih ikan aja, biar yang pada mancing dapat gratis juga. Bisa bantu buat makan keluarga di rumah,” tambah Ridwan.
Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyebutkan bahwa kualitas air kali di Jakarta sudah berada pada level tercemar berat.
Aktivitas memancing sendiri tidak langsung mencemari sungai, tetapi bisa memperparah kondisi jika dilakukan sembarangan, misalnya membuang sampah, putung rokok, atau
limbah
senar pancing ke kali.
“Kegiatan memancing bisa memperburuk kualitas air sungai apabila menggunakan umpan berbahaya dan meninggalkan sampah di bantaran kali,” jelas Mahawan.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta terus melakukan pemantauan dan kajian sumber pencemar pada anak sungai, termasuk Kali Cengkareng Drain.
DLH menaruh petugas untuk pembersihan rutin, sekaligus mengevaluasi pengelolaan limbah dari kegiatan usaha melalui AMDAL, SPPL, dan UKL-UPL.
Selain Ridwan, pemancing lainnya, Yanto (52), berharap pemerintah membersihkan sungai agar ikan lebih banyak dan aktivitas memancing lebih aman.
“Sebenarnya kali utamanya dibersihkan pemerintah supaya lebih giat lagi, apalagi kalau musim hujan sampahnya lebih banyak,” ujar Yanto.
“Kalau bersih, ikan juga lebih banyak dan lebih aman buat yang memancing,” sambung Yanto.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/30/69537ea4de470.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Leganya Amir Terima Ijazah yang Tertahan 27 Tahun: Dulu Kerja Harus Minta Fotokopian Megapolitan 30 Desember 2025
Leganya Amir Terima Ijazah yang Tertahan 27 Tahun: Dulu Kerja Harus Minta Fotokopian
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Amir (50), warga Jakarta Pusat, akhirnya bisa mengambil ijazah sekolah menengah atas (SMA) setelah tertahan selama 27 tahun.
Ia mengaku senang karena dokumen penting itu kini berada di tangannya.
Ijazah tersebut belum diambil sejak lulus sekolah pada tahun 1998. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu melunasi kekurangan biaya saat itu.
“Saya dari pas lulus dari SMA Dwi Saka aja (belum diambil) tahun 1998. Ya perasaannya saya bangga, senang, gitu. Karena bisa keambil ijazah, gitu. Bertahun-tahun belum diambil,” jelas
Amir
dalam program
pemutihan ijazah
di Balai Kota Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Ketiadaan ijazah asli, kata Amir, sempat menyulitkannya dalam mencari pekerjaan.
Ia bahkan harus memohon kepada pihak sekolah agar diberi salinan ijazah demi bisa bekerja.
“Dulu saya kerja, jadi saya mohon-mohon sama kepala sekolah, minta fotokopiannya buat kerja, saya kerjanya sebagai
cleaning service
,” tuturnya.
Kini setelah menerima ijazah melalui program pemutihan Pemprov Jakarta, Amir berencana menyimpannya dengan baik dan memanfaatkannya untuk kembali mencari pekerjaan.
“Ya saya rawat, saya simpan buat melamar kerja lagi, kalau ada kesempatan,” jelasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah memutihkan sebanyak 6.050 ijazah siswa sepanjang 2025.
Program ini ditujukan bagi lulusan sekolah menengah swasta yang ijazahnya tertahan akibat tunggakan biaya pendidikan.
Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan, pemutihan ijazah tersebut dilakukan secara bertahap.
Pada tahap pertama, pemutihan diberikan kepada 117 siswa.
Tahap kedua menyasar 371 siswa, disusul tahap ketiga sebanyak 820 siswa.
Selanjutnya, tahap keempat dilaksanakan dalam dua gelombang dengan jumlah penerima masing-masing 744 siswa dan 1.238 siswa.
Adapun tahap kelima menjadi tahap dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 2.753 siswa.
“Jumlahnya sekarang sudah 6.050 ijazah yang diputihkan oleh Pemerintah DKI Jakarta, bekerja sama dengan Baznas dan Bazis, yang nilainya kurang lebih Rp14,9 miliar,” ucap Pramono.
Pramono menjelaskan, mayoritas ijazah tersebut tertahan karena keterbatasan ekonomi keluarga siswa.
Menurut dia, kondisi tersebut membuatnya sedih, terutama ketika mengetahui lamanya ijazah tidak dapat diambil.
“Peristiwa ini selalu buat saya pribadi adalah mengharukan. Karena
nggak
mungkin saudara-saudara sekalian, tadi ada yang lima tahun (
ijazah tertahan
), ada yang dua tahun, tiga tahun, tidak bisa mengambil ijazah, pasti persoalan utamanya adalah karena masalah finansial,” ucap Pramono.
Ia menuturkan, pada pemutihan ijazah tahap kelima, Pemprov DKI menemukan ijazah yang tertahan hingga belasan tahun lamanya.
“Bahkan tadi ada yang sampai ijazahnya itu tertahan 17 tahun. Sekarang bapak-bapaknya tadi umurnya sudah 50 tahun dan ijazahnya itu tulisannya bukan SLTA tapi masih SMU,” jelasnya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/29/6952b1914fa33.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang Megapolitan 30 Desember 2025
Dilema Larangan Pesta Kembang Api: Empati Korban Bencana dan Kekhawatiran Pedagang
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Pergantian tahun di Jakarta tahun ini tidak lagi semata dimaknai sebagai pesta cahaya dan dentuman di langit malam.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih menarik rem perayaan, menyusul bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Imbauan hingga larangan menyalakan
kembang api
menjadi simbol sikap empati, bahwa euforia seharusnya ditahan ketika duka masih menyelimuti daerah lain.
Kebijakan itu disampaikan bukan tanpa alasan. Di tengah suasana nasional yang masih dibayangi kabar korban, pengungsian, dan kerusakan akibat bencana, pesta kembang api dianggap berpotensi melukai rasa solidaritas.
Perayaan yang identik dengan hura-hura dinilai tidak sejalan dengan semangat kebersamaan dan kepedulian antardaerah.
Namun, di tingkat akar rumput, kebijakan ini bersinggungan langsung dengan kehidupan pedagang kecil yang menggantungkan pemasukan pada momentum akhir tahun.
Bagi mereka,
tahun baru
bukan sekadar perayaan, melainkan satu dari sedikit kesempatan dalam setahun untuk memutar roda ekonomi.
Sasarannya dianggap mengarah pada perayaan besar, acara resmi, atau konsumsi kembang api berskala besar.
Namun, dalam praktiknya, gema larangan itu merembes hingga ke lapak-lapak sederhana di pinggir jalan.
Di sejumlah titik di Jakarta, termasuk Tanah Abang, pedagang kembang api tetap muncul. Namun, jumlah barang yang dijual lebih terbatas.
Tidak ada lagi stok besar atau variasi mencolok. Lapak-lapak terlihat lebih sederhana, seolah berdagang sambil menunggu situasi.
Di Tanah Abang, suasana jelang Tahun Baru tetap hidup, tetapi tidak seramai biasanya. Trotoar dipenuhi payung warna-warni yang menaungi kardus-kardus kembang api.
Pembeli datang dan pergi tanpa keramaian berlebihan. Tidak ada teriakan menawarkan dagangan. Para pedagang lebih banyak duduk, menunggu, dan mengamati sekitar.
Sesekali mereka berdiri saat ada calon pembeli yang berhenti. Di antara deretan lapak itu, Linda menjadi salah satu pedagang yang sudah akrab dengan ritme musiman ini.
Baginya, jualan kembang api bukan hal baru, melainkan rutinitas tahunan yang dijalani dengan perhitungan matang.
“Sudah biasa tiap tahun, kalau jual beginian (kembang api) kan enggak bisa tiap hari,” kata Linda saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Senin (29/12/2025).
Pengalaman panjang membuat Linda memahami betul risiko yang melekat pada dagangan kembang api.
Ia memilih jenis barang yang menurutnya masih aman dan tidak berpotensi menimbulkan masalah keselamatan.
Dalam kondisi larangan seperti sekarang, kehati-hatian menjadi prinsip utama.
Ia menyadari, ruang gerak pedagang kecil semakin sempit ketika kebijakan empati diberlakukan secara luas.
“Cuma saya jual barang-barang enggak bahaya,” kata dia.
Meski demikian, permintaan dari masyarakat tidak sepenuhnya hilang. Masih ada pembeli yang mencari kembang api untuk anak-anak atau sekadar simbol kecil perayaan.
“Yang beli mah ada aja, biasanya ibu-ibu beli buat anak,” kata dia.
Linda mengetahui soal larangan menyalakan kembang api tahun ini.
Ia memahami bahwa kebijakan tersebut berkaitan dengan empati atas bencana di Sumatera, meski menurutnya dampak langsung lebih terasa di kalangan pedagang kecil.
Larangan ini membuat pedagang enggan menyetok barang dalam jumlah besar. Modal yang dimiliki pun dijaga agar tidak terjebak dalam stok yang tak terjual.
Bagi pedagang kecil, barang yang mengendap berarti uang yang tidak berputar.
“Makanya kita beli enggak banyak-banyak. Takutnya enggak laku duit kita
mendem,”
ujar dia.
Linda menyebut modal awal yang ia gunakan relatif terbatas. Ia tidak berani mengambil risiko besar di tengah situasi yang tidak pasti.
“Ini sih dari bos dikirimin, kalau modal awal kita paling Rp 1 juta,” kata dia.
Hasil penjualan pun jauh dari kata pasti. Ada hari yang sedikit, ada pula hari yang nyaris tanpa transaksi.
“Enggak tentu (lakunya) paling Rp 100.000 yang laku juga kan paling kembang api aja,” kata dia.
Karena ketidakpastian itu, ia memilih tidak menambah stok baru. Dagangan yang dijual merupakan sisa dari tahun sebelumnya.
“Ini kan kita karena sisa (tahun lalu) nggak beli lagi,” ujar dia.
Meski sadar risiko, Linda tetap memilih berjualan. Baginya, membiarkan barang tersimpan tanpa dijual justru lebih merugikan.
“Jadi kita, ya, kita lakuin aja daripada nggak jadi duit. Mendingan jadi duit, kan, sayang,” katanya.
Selain soal penjualan, bayang-bayang razia juga menjadi pertimbangan. Namun, Linda membedakan dengan jelas antara kembang api dan petasan berdaya ledak tinggi.
Ia merasa kebijakan penertiban lebih menyasar jenis barang tertentu.
“Emang kalau petasan dirazia, kalau kembang api kan ada surat izinnya,” kata dia.
Selama bertahun-tahun berdagang, ia mengaku relatif aman dari penertiban. Situasi di lapaknya cenderung kondusif.
“Kalau yang razia-razia tuh yang kayak petas-petasan, Tapi saya sih,
alhamdulillah,
ini udah berapa tahun-tahun aman aja,” ujar dia.
Cerita serupa datang dari Siti (bukan nama sebenarnya), pedagang lain di Tanah Abang. Ia juga merasakan dampak langsung dari
larangan kembang api
tahun ini.
Bagi Siti, jualan kembang api hanyalah usaha musiman untuk menutup kebutuhan akhir tahun.
“Saya jualan kembang api itu baru sekitar lima tahunan ini. Setiap mau tahun baru aja. Kalau hari biasa saya jualan nasi uduk pagi-pagi,” kata dia.
Ia memahami alasan empati di balik larangan tersebut, tetapi tetap berada di posisi sulit sebagai pedagang kecil.
“Saya paham maksudnya. Kita juga sedih ada bencana. Tapi di sisi lain, buat pedagang kecil kayak saya, ini satu-satunya kesempatan setahun,” ujar dia.
Informasi soal larangan kembang api menjelang Tahun Baru diterima warga dengan cara yang beragam.
Tidak semua mendapatkan penjelasan utuh. Sebagian hanya menangkap kabar sekilas dari media sosial atau obrolan di grup percakapan.
Bagi ibu rumah tangga bernama Rina (36), larangan tersebut terdengar samar. Ia tahu ada pembatasan, tetapi tidak memahami detailnya.
Kondisi ini membuatnya berada di posisi yang serba tanggung, antara mengikuti imbauan dan menanggapi keinginan anak-anak di rumah.
“Iya, saya sih dengar katanya kembang api sama petasan itu dilarang di Jakarta. Cuma ya dengarnya sekilas-sekilas doang,” kata Rina saat ditemui, Senin.
Ia tidak tahu apakah larangan berlaku untuk semua jenis kembang api atau hanya yang berskala besar dan berbahaya.
“Detailnya saya juga nggak ngerti. Dilarangnya semua apa cuma yang gede-gede, saya juga nggak tahu,” kata dia.
Meski begitu, Rina memahami alasan di balik imbauan tersebut. Ia menangkap pesan empati terhadap korban bencana di Sumatera sebagai hal yang patut dihormati.
Namun di sisi lain, ia juga menghadapi kenyataan sosial di lingkungan tempat tinggalnya, di mana anak-anak sudah lama menunggu momen pergantian tahun.
Dalam situasi itu, keputusan orangtua menjadi tidak sederhana.
“Karena tiap tahun juga begini. Anak-anak sudah nunggu dari lama. Mereka lihat tetangga main, temannya main, masa anak sendiri nggak dikasih,” ujar dia.
Rina tidak menolak esensi dari larangan tersebut. Ia hanya merasa penerapannya menjadi rumit ketika dihadapkan pada anak-anak yang belum sepenuhnya memahami empati.
“Saya ngerti sih maksud larangannya. Buat keamanan, buat empati juga katanya. Cuma ya itu, kalau dilarang total, anak-anak kasihan enggak ngerti juga, kan setahun sekali,” kata dia.
Pandangan lain datang dari Agus (41), yang menilai larangan kembang api hampir selalu muncul setiap akhir tahun.
Bagi Agus, kembang api telah menjadi bagian dari pengalaman Tahun Baru anak-anak.
Ia mengakui, tanpa suara dan cahaya kembang api, momen pergantian tahun terasa hambar bagi mereka.
Agus memilih jalan tengah dengan tetap mengawasi anaknya saat bermain.
Ia berharap kesadaran semacam ini juga dimiliki oleh orangtua lain agar perayaan tidak berubah menjadi insiden.
“Anak-anak kan setahun cuma nunggu ini Kalau enggak ada kembang api, tahun baru rasanya kaya nggak ada apa-apanya,” ujar dia.
Meski demikian, Agus memahami konteks empati yang melatarbelakangi imbauan tersebut.
Ia tidak menutup mata terhadap penderitaan korban bencana dan mengakui bahwa alasan itu masuk akal.
“Sebenernya saya tahu kok ini lagi diminta empati buat korban bencana, saya juga kasihan,” kata dia.
Meski begitu, Agus memilih mengambil jalan tengah. Ia merasa masih ada ruang kompromi dengan membatasi jenis dan skala kembang api yang dimainkan anak-anak, selama tetap dalam pengawasan.
“Lagian kan kita juga bakar kecil-kecilan aja enggak yang sampai gede gitu, sewajarnya anak-anak aja,” kata Agus.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, menegaskan bahwa larangan penjualan kembang api dan petasan menjelang Tahun Baru dilakukan tidak bersifat mutlak.
Melainkan lebih menekankan pada kegiatan yang dilakukan oleh
event-event
besar dan pertimbangan empati terhadap korban bencana di Sumatera.
Menurut dia, Pol PP tetap melakukan imbauan kepada pedagang agar memperhatikan kondisi sosial saat ini.
“Karena kan sedang ada keprihatinan kita terhadap masyarakat yang tertimpa musibah di Sumatera, jadi mengimbau untuk itu,” ujar Satriadi.
Sementara pengawasan terhadap masyarakat umum terbatas, dengan fokus pada edukasi dan imbauan ketimbang tindakan langsung.
Pendekatan ini juga dilakukan bekerja sama dengan TNI dan Polri, agar penggunaan kembang api di masyarakat dapat berkurang secara sukarela.
“Pol PP berupaya untuk melakukan imbauan, imbauan kepada para penjual-penjual petasan untuk berprihatinlah mengajak mereka agar tidak menjual atas keprihatinan yang sudah kita laksanakan,” kata dia.
Pengamat sosial, Rakhmat Hidayat menekankan, larangan menyalakan kembang api di Jakarta tahun ini bukan untuk meniadakan tradisi, tetapi sebagai bentuk arif dan bijaksana.
Masyarakat diminta menunjukkan apresiasi dan simpati terhadap korban bencana.
Hal ini tidak hanya menjadi tanda solidaritas, tetapi juga mengurangi pemborosan energi, listrik, dan biaya materiil yang biasanya muncul dari pesta besar.
“Menurut saya memang ini secara arif dan bijaksana memang lebih baik tidak menyalakan
kembang api tahun baru
di seluruh Indonesia adalah bentuk apresiasi, penghargaan, simpati,” kata dia.
Menurut Rakhmat, imbauan gubernur Jakarta harus diturunkan ke tingkat yang lebih rendah, seperti wali kota, camat, lurah, hingga RT dan RW.
Dengan koordinasi berlapis, pengawasan terhadap perayaan yang masih dilakukan warga bisa lebih efektif.
“Menurut saya itu harus diturunkan pada level yang lebih konkret di bawahnya, yaitu di surat edaran dari wali kota, misalnya, dan wali kota juga menurunkan pada level di lingkungan masyarakat yang lebih kecil, sehingga itu akan menjadi lebih instruksional,” kata Rakhmat,\.
Menurut dia, larangan pesta kembang api seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi bersama.
Warga bisa berkumpul untuk doa bersama, berbagi makanan, atau mengumpulkan donasi.
Cara ini dinilai lebih bermakna dibanding merayakan dengan kembang api dan petasan yang sifatnya konsumtif dan terbatas pada hiburan sesaat.
“Jadi saatnya kita memang lebih menunjukkan kepedulian kepada masyarakat, yang memang menjadi penyintas bencana tersebut,” ujar dia.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa larangan penggunaan kembang api berlaku menyeluruh.
Keputusan ini mencakup seluruh kegiatan, baik yang digelar oleh pemerintah maupun pihak swasta, sebagai bentuk penyesuaian dalam menyambut pergantian tahun.
“Dalam menyambut Natal dan Tahun Baru, maka, terutama untuk tahun baru, saya sudah memutuskan untuk Jakarta tidak ada kembang api, baik yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta maupun oleh swasta,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan keterbatasan pemerintah dalam mengawasi masyarakat yang merayakan Tahun Baru secara individual di ruang terbuka.
Larangan lebih diarahkan kepada penyelenggara acara berskala besar untuk memastikan kepatuhan tetap terjaga.
“Kami tidak bisa melarang masyarakat menyalakan kembang api. Tidak mungkin kami memeriksa masyarakat yang ada di Monas atau ada di mana untuk tidak menyalakan kembang api,” ucap Rano.
Sebagai alternatif hiburan, Pemprov DKI menyiapkan pertunjukan drone di delapan titik strategis, termasuk di kawasan GBK, Sudirman, dan Kota Tua.
Pertunjukan ini turut diiringi penampilan sejumlah musisi, sehingga momen pergantian tahun tetap terasa meriah meski tanpa kembang api.
“Kami mengabarkan kepada masyarakat Jakarta bahwa tahun ini, tahun baru kita tidak kita meriahkan dengan kembang api. Tapi tidak mengurangi rasa juga bahagia, kita adakan drone. Drone cukup banyak, cukup besar, dengan transisi,” ujar Rano.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2025/12/24/694b17eea1f6d.png?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/30/695370d872c21.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)