Author: Kompas.com

  • Catat, Rekayasa Lalin di Tempat Wisata Jakarta Saat Malam Tahun Baru
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        31 Desember 2025

    Catat, Rekayasa Lalin di Tempat Wisata Jakarta Saat Malam Tahun Baru Megapolitan 31 Desember 2025

    Catat, Rekayasa Lalin di Tempat Wisata Jakarta Saat Malam Tahun Baru
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempersiapkan rekayasa lalu lintas (lalin) menuju sejumlah tempat wisata di Jakarta.
    Sejumlah tempat wisata yang akan diterapkan rekayasa lalu lintas antara lain kawasan wisata Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Margasatwa Ragunan hingga Kota Tua.
    Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo, rekayasa lalin dipersiapkan dalam rangka menyambut malam pergantian tahun.
    “Diimbau kepada masyarakat yang akan menghadiri kegiatan Perayaan Malam
    Tahun Baru 2026
    , baik di Jalan M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Lapangan Banteng, maupun di Jalan Panglima Polim, atau di destinasi wisata, agar menggunakan moda transportasi umum (Bus Transjakarta, LRT, MRT, dan Commuter Line) guna meminimalkan kepadatan lalu lintas di sekitar area kegiatan,” ucap Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo, melalui keterangan, Selasa (30/12/2025).
    – Arus lalu lintas dari Arah Pluit/Exit Tol Ancol Barat yang akan menuju Gerbang Barat Ancol dapat melalui Jalan Lodan Raya dan seterusnya.
    –  Arus lalu lintas dari Arah Jalan Gunung. Sahari yang akan menuju Gerbang Barat Ancol dapat melalui Jalan Gunung Sahari-Jalan Lodan Raya dan seterusnya.
    – Arus lalu lintas dari arah Jalan Benyamin Sueb yang akan menuju Gerbang Timur Ancol dapat melalui Jalan Benyamin Sueb-Kupingan Kemayoran-Jalan Lodan Raya-Jalan Pasir Putih Raya-Jalan Pasir Putih I dan seterusnya.
    – Arus lalu lintas dari arah Exit Tol PRJ/Mangga Dua yang akan menuju Gerbang Timur Ancol dapat melalui Jalan R.E Martadinata-Traffic Light Stasiun Ancol-Jalan Lodan Raya-Jalan Pasir Putih Raya-Jalan Pasir Putih I dan seterusnya.
    – Dari arah Tanjung Priok yang akan menuju Gerbang Carnaval Ancol dapat melalui Jalan RE Martadinata-Simpang Ketel-Jalan Ketel-Simpang Carnaval-Jalan Alwan Ancol Raya dan seterusnya.
    Rekayasa lalu lintas di kawasan Kota Tua untuk menunjang perayaan malam tahun baru, sehingga pengalihan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan:
    Jalan Pintu Besar Selatan
    Jalan Pintu Besar Utara
    Jalan Kali Besar Barat dan Timur
    Jalan Kunir sisi Selatan
    Jalan Kemukus
    Jalan Lada Dalam
    – Dari Pluit ke Harmoni: Jembatan Tiga Raya–Jembatan Dua Raya–Pangeran Tubagus Angke–Pasar Pagi
    Flyover
    –Jembatan Batu.
    – Dari Pluit ke Tanjung Priok: Gedong Panjang–Pakin–Krapu–Lodan Raya–TL Ancol Bintang Mas.
    – Dari Timur/Utara ke Asemka/Harmoni: Jalan Kunir–Jalan Kopi–Pejagalan Raya–Pasar Pagi Lama–Perniagaan Raya–Toko Tiga–Pintu Kecil–Asemka.
    – Dari Kalibesar Barat arah Utara: Jalan Teh–Jalan Cengkeh–Jalan Kunir sisi Utara–Kampung Bandan–R.E. Martadinata–Lodan Raya.
    – Dari arah Selatan: Pancoran–Pintu Kecil–Malaka–Kopi–Bandengan Selatan–Bandengan Utara–Gedong Panjang.
    – Arus Lalu Lintas dari Arah Utara PGC Cawang menuju Arah Selatan (Ceger, Cipayung, Bambu Apus) dapa melalui simpang TL PGC–Jalan Raya Bogor–simpang TL Hek–Jalan Raya Bogor–simpang TL Pasar Rebo–Jalan TB. Simatupang–Jalan Raya Mabes Hankam–Putar Balik depan Polsek Cipayung–Jalan Raya Mabes Hankam, atau simpang TL PGC–Jalan Raya Bogor–simpang TL Hek–Jalan H. Bokir Bin Dji’un–simpang TL Keramik–Jembatan Jalan H. Bokir Bin Dji’un–simpang TL Garuda–Jalan Raya Pondok Gede–simpang depan RS. Haji–Jalan Taman Mini II–Jalan Manunggal XVII–Jalan Albaidho–Jalan Rawa Binong–Jalan Pagelarang–Jalan Raya Hankam–Jalan Raya Setu–Jalan H. Karim–Jalan Raya Mabes Hankam.
    – Arus Lalu Lintas dari Arah Utara Halim Perdana Kusuma menuju Arah Selatan (Ceger, Cipayung, Bambu Apus) dapat melalui Jalan Raya Pondok Gede–simpang Jalan Lubang Buaya–Jalan Lubang Buaya–Jalan Rawa Binong–Jalan Pagelarang–Jalan Raya Hankam–Jalan Raya Setu–Jalan H. Karim–Jalan Raya Mabes Hankam, atau Jalan Raya Pondok Gede–simpang TL Garuda–Jembatan Jalan H. Bokir Bin Dji’un–simpang TL Keramik–Jalan H. Bokir Bin Dji’un–simpang TL Hek–Jalan Raya Bogor–simpang TL Pasar Rebo–Jalan TB. Simatupang–Jalan Raya Mabes Hankam–Putar Balik depan Polsek Cipayung–Jalan Raya Mabes Hankam.
    – Arus Lalu Lintas dari Arah Timur Pondok Gede menuju Arah Selatan (Ceger, Cipayung, dan Bambu Apus) dapat melalui Jalan Raya Pondok Gede–simpang TL Lubang Buaya–Jalan Lubang Buaya–Jalan Rawa Binong–Jalan Pagelarang–Jalan Raya Setu–Jalan Raya Mabes Hankam.
    – Arus Lalu Lintas dari Arah Selatan Ceger menuju Arah Utara Cawang PGC dan Arah Halim Perdana Kusuma dapat melalui simpang TL Ceger–Jalan Raya Mabes Hankam–Jalan Lingkar Luar Selatan–Jalan TB. Simatupang–simpang TL Pasar Rebo–Jalan Raya Bogor.
    – Arus Lalu Lintas dari Arah Selatan Cipayung menuju Arah Utara Cawang PGC dan Arah Halim Perdana Kusuma dapat melalui Jalan Raya Mabes Hankam–Jalan Lingkar Luar Selatan–Jalan TB. Simatupang–simpang TL Pasar Rebo–Jalan Raya Bogor.
    – Arus Lalu Lintas dari Arah Selatan Bambu Apus menuju Arah Timur Pondok Gede dapat melalui Jalan Raya Mabes Hankam–Jalan Raya Bambu Apus–Jalan Raya Setu–Jalan Raya Hankam–Jalan Pagelarang–Jalan Rawa Binong–Jalan Lubang Buaya–Jalan Raya Pondok Gede.
    – Pemberlakuan Sistem Satu Arah (SSA) di Jalan RM Harsono pada hari pukul 06.00–10.00 WIB (arah masuk). Sore hari pukul 16.00–18.00 WIB (arah keluar).
    – Akan dilakukan sterilisasi jalur dari hambatan samping (parkir liar) serta penempatan petugas.
    – Akan dilakukan penutupan (bersifat situasional) Simpang Jalan TB Simatupang– Jalan Warung Jati Barat–Jalan RM Harsono dengan water barrier Kecuali Transjakarta
    – Akan dilakukan pengalihan Pintu Masuk Taman Margasatwa Ragunan menggunakan ke Pintu Barat, apabila terjadi kepadatan lalu lintas di Jalan Harsono RM
    – Arus lalu lintas dari Arah Timur (Pasar Minggu) yang akan menuju Pintu Barat dapat melalui Jalan TB Simatupang-Jalan Kebagusan-Jalan Sagu-Jalan PasoJalan Moh. Kahfi 1-Jalan Magasatwa Barat dan seterusnya.
    – Arus lalu lintas dari Arah Utara (Jalan Warung Jati Barat) atau dari Arah Barat (Cilandak) yang akan menuju Pintu Barat Taman Margasatwa Ragunan dapat melalui Jalan Cilandak KKO-Jalan Margasatwa Barat dan seterusnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Pekerjaan-pekerjaan Besar untuk Pulihkan Aceh Usai Banjir 
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Pekerjaan-pekerjaan Besar untuk Pulihkan Aceh Usai Banjir Nasional 31 Desember 2025

    Pekerjaan-pekerjaan Besar untuk Pulihkan Aceh Usai Banjir
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Pemulihan infrastruktur di Aceh pascabencana menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang akan dituntaskan pemerintah.
    Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, wilayah
    Aceh
    Tamiang menjadi titik yang paling sulit dilakukan pemulihan. Bahkan, layanan pemerintah di daerah Aceh Tamiang belum maksimal.
    Hal ini dikatakan Tito dalam Rapat Koordinasi (Rakor) pemulihan pasca-bencana dengan pimpinan DPR RI, kementerian/lembaga, hingga kepala daerah terdampak di Aceh, yang disiarkan langsung kanal YouTube DPR RI, Selasa (30/12/2025).
    “Yang paling berat adalah (Aceh) Tamiang, karena Tamiang pemerintahannya belum berjalan efektif dan kemudian ekonomi juga belum berjalan maksimal. Kemudian untuk di daerah Sumatera Utara, sekalian saja di sini. Sumatera Utara itu cepat sekali
    recover
    ,” kata Tito, Selasa.
    Tito mengatakan, masih ada tujuh wilayah di Aceh yang terus menjadi perhatian pemerintah, meliputi Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya.
    Dia bilang, sebagian besar wilayah yang berhasil dipulihkan harus masuk dalam kategori kuning, yakni kategori dalam perhatian, karena mengalami bencana susulan.
    “Pidie Jaya tidak dimasukkan kuning, tapi karena kemarin kena lagi beberapa hari lalu, ya kita harus memasukkan kuning lagi,” jelas Tito.
    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, pelebaran dan pendangkalan sungai akibat bencana di Sumatera, khususnya di Aceh, menjadi penyebab utama terganggunya pasokan air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak.
    Dody mengatakan, hampir seluruh sungai di daerah terdampak mengalami pelebaran dan pendangkalan hingga dua sampai tiga kali lipat dari kondisi semula.
    “Hampir di semua kabupaten itu sungai-sungainya itu melebar dan mendangkal, rata-rata dua sampai tiga kali lipat dari kondisi semula,” ujar Dody.
    Dia bilang kondisi tersebut menyebabkan banyak instalasi pengolahan air atau water treatment plant yang berada di tepi sungai tertutup lumpur.
    “Sehingga banyak
    water treatment plant
    yang selama ini berada di tepi-tepi sungai tertutup lumpur semua, sehingga kemudian menyebabkan Bapak Ibu sekalian kesulitan air bersih di seluruh kabupaten yang terdampak,” tuturnya.
    Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian PU tengah berupaya mengaktifkan kembali instalasi pengolahan air bersih secepat mungkin.
    Dody menargetkan, dalam waktu tiga hingga empat bulan ke depan, sejumlah water treatment plant dengan kapasitas sekitar 20 liter per detik dapat kembali beroperasi di beberapa titik.
    “Kami memang sedang bekerja keras agar
    water treatment plant
    ini bisa kita aktifkan secepat-cepatnya,” ucap Dody.
    “Harapan kami dalam tempo 3 sampai 4 bulan ke depan beberapa water treatment plant yang berkapasitas sekitar 20 liter per detik bisa segera terbangun di beberapa titik,” sambungnya.
    Dody juga mengatakan, Kementerian PU sudah mengirimkan tim konsultan untuk mengkaji kondisi sungai di Pidie Jaya, termasuk kemungkinan pembangunan bendungan atau sabo dam guna mencegah bencana serupa di masa mendatang.
    “Kami juga sudah mengirimkan tim konsultan untuk mengkaji tentang kondisi sungai dan juga kemungkinan bendungan,” ucap dia.
    Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan mengatakan, kerusakan sistem kelistrikan akibat bencana yang melanda Aceh saat ini jauh lebih masif dibandingkan saat tsunami 2004 silam.
    Dia mengatakan, saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan hanya terjadi di delapan titik.
    Sementara pada bencana kali ini, jumlah titik kerusakan melonjak tajam.
    “Bencana kali ini dibanding dengan tsunami 2004 itu sangat berbeda. Pada saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan ada di 8 titik, sedangkan bencana kali ini di Aceh ada 442 titik,” kata Darmawan.
    “Jadi skalanya sangat berbeda, kali ini sangat masif,” tegasnya.
    Darmawan mengatakan, kecepatan pemulihan listrik saat ini sangat bergantung pada akses menuju lokasi terdampak, khususnya untuk evakuasi material dan peralatan kelistrikan.
    Dia mengatakan, banyaknya wilayah yang akses jalannya masih belum memadai pun membuat proses pemulihan berjalan lebih lambat.
    “Maka daerah-daerah yang memang aksesnya masih terbuka, pemulihan sistem kelistrikan bisa berjalan dengan cepat,” tuturnya.
    Meski demikian, dia mengatakan, saat ini, sebanyak Dari total 23 kabupaten dan kota, sebagian besar wilayah sudah kembali menikmati pasokan listrik.
    Pada kesempatan itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak mengungkapkan, pembangunan jembatan darurat pascabencana di Sumatera, khususnya Aceh, menghadapi proses yang panjang dan rumit, termasuk dalam hal pendanaan.
    Maruli menjelaskan, pembangunan jembatan darurat harus diawali dengan survei lokasi untuk menentukan jenis jembatan yang sesuai.
    “Kita harus survei tempat itu, tempat itu harus jenis jembatan apa yang tepat,” kata Maruli.
    Berdasarkan hasil survei, TNI AD memutuskan membangun tiga jenis jembatan darurat, yakni jembatan Bailey, jembatan Armco, serta jembatan perintis atau jembatan gantung.
    Setelah survei, material jembatan harus didatangkan dari Jakarta dan dikirim ke Aceh.
    Namun, proses distribusi kerap terkendala kondisi jalan yang rusak.
    “Di Aceh juga sampai turun di pelabuhan mau bergeser ke tempat untuk pengerjaan juga banyak yang terhambat di jalan, ada yang sampai satu minggu, Pak, nunggu penyelesaian,” ujarnya.
    Dia mengatakan, hingga saat ini, Satgas Darurat Jembatan telah mengerahkan 22 jembatan Bailey di wilayah terdampak bencana, ditambah 14 jembatan Bailey dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
    Selain itu, sebanyak 39 jembatan Armco telah disiapkan di Aceh.
    Mari juga mengakui, hingga saat ini Satgas masih bekerja secara swadaya.
    “Sampai dengan saat ini kami belum mengerti sistem keuangannya, Pak. Kita swadaya semua ini, Pak,” kata dia.
    Bahkan, dia mengatakan, pengadaan jembatan Armco dilakukan dengan cara berutang demi mempercepat proses pembangunan.
    “Untuk Armco sampai pabrik-pabriknya itu kita borong semua, Pak, habis. Udah tiga tahap kita sudah kerjakan. Itupun ya saya nanti bisik-bisik Bapak aja Pak itu masih utang, Pak,” kata dia.
    Meskipun begitu, Maruli menegaskan Satgas Darurat Jembatan akan terus bekerja untuk menangani kerusakan infrastruktur penghubung di wilayah terdampak bencana.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun Nasional 31 Desember 2025

    Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun
    Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    MENJELANG
    denting lonceng pergantian tahun 2025, Indonesia seolah sedang berdiri di depan cermin besar yang permukaannya mulai memperlihakan goresan keretakan menyilang di beberapa lokasi.
    Yang tampak sekilas adalah bayangan bangsa yang terkesan ingin bergegas dan sangat berhasrat untuk mendapatkan panggung besar di aras global.
    Namun, sebenarnya napasnya tersengal ketika memasuki gang-gang sempit gelap, yang justru berada di negeri sendiri.
    Tahun pertama pemerintahan di bawah komando Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan kita drama kolosal baru, dari gertakan efisiensi yang membuat wajah fiskal daerah membiru karena pucat pasi, hingga kepulan gas air mata di bawah terik matahari akhir Agustus 2025 yang telah membakar kesadaran publik tentang berbagai keretakan yang ada di dalam
    kekuasaan
    .
    Sebagai bangsa, Indonesia hampir melewati 365 hari yang penuh dengan kontradiksi antara apa yang tampak di permukaan dan apa yang dirasakan di atas meja makan rakyat kebanyakan.
    Mari kita putar kembali ingatan ke awal tahun, saat aroma kekuasaan “anyar” masih terasa segar.
    Saat itu, kita menyaksikan fenomena unik yang saya sebut sebagai “kejutan dingin tapi menyakitkan” dari Jakarta.
    Kebijakan efisiensi radikal yang dicanangkan Jakarta seketika mengubah wajah birokrasi di daerah menjadi pucat pasi. Niatnya mulia, setidaknya di atas kertas, yakni membersihkan lemak-lemak anggaran yang selama ini menjadi bancakan birokrat lokal.
    Namun, ketika keran itu diputar terlalu kencang tanpa bantalan yang dipersiapkan terlebih dahulu, yang terjadi bukanlah penghematan produktif, melainkan kepanikan kolektif yang pada beberapa kasus justru melumpuhkan layanan publik di daerah.
    Pemerintah daerah, dari pesisir hingga pegunungan, mendadak ketar-ketir tersengal sengal kehilangan napas fiskal karena pemotongan drastis dana transfer ke daerah.
    Dampak lanjutannya sudah bisa ditebak. Ketika “jatah” dari pusat menipis, rakyatlah yang diminta menanggung beban dosanya.
    Di Kabupaten Pati dan beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah serta luar Jawa, kenaikan pajak daerah menjadi pil pahit yang harus ditelan warga di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih pasca-pandemi.
    Pajak barang dan jasa tertentu, pajak hiburan, hingga pajak bumi dan bangunan melonjak tanpa kompromi.
    Negara seolah sedang berhemat di level atas demi citra fiskal yang sehat di mata investor. Namun di saat yang sama, kebijakan tersebut justru meminta rakyat di level paling bawah untuk merogoh kocek lebih dalam demi menutup lubang-lubang anggaran yang ada.
    Inilah paradoks efisiensi yang sebenarnya telah melukai rasa keadilan publik di semua daerah, kebijakan yang rapi di meja kantor kementerian di ibukota negara, tapi menyakitkan saat menyentuh kulit rakyat kecil.
    Ketegangan fiskal yang terpendam sejak awal tahun tersebut akhirnya menemukan muaranya pada Agustus 2025. Bulan yang seharusnya menjadi perayaan kemerdekaan, justru berubah menjadi panggung perlawanan.
    Sejarah mencatat bahwa kemarahan publik tidak pernah lahir dari ruang hampa, tapi akumulasi dari rasa ketidakadilan yang dipicu oleh kontrasnya kehidupan para elite dengan realitas kehidupan rakyat yang kian terjepit.
    Saat masyarakat masih berjuang dengan harga beras yang enggan turun dan tarif listrik yang kian mencekik, muncul kabar tentang kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR yang angkanya melukai nalar sehat.
    Tentu bukan sekadar soal nilai nominal rupiah yang ditransfer ke rekening para wakil rakyat, tapi soal empati yang absen dari ruang-ruang kekuasaan.
    Demonstrasi besar-besaran pun pecah, bukan hanya di Jakarta, tapi menjalar seperti api yang tertiup angin ke kota-kota besar lainnya mulai Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Mataram hingga Makassar.
    Selama satu minggu penuh, denyut nadi ekonomi dan politik seolah berhenti berdetak. Jakarta lumpuh dalam balutan orasi, barikade, dan kepulan asap.
    Peristiwa tersebut adalah momen di mana rakyat, dari mahasiswa hingga pengemudi ojek daring, bersatu untuk mengingatkan penguasa bahwa mandat bukanlah cek kosong untuk berfoya-foya di atas kondisi kemiskinan dan penderitaan yang kian menganga.
    Ketimpangan ekonomi yang melebar bukan lagi sekadar angka statistik dalam laporan BPS yang biasanya memang sangat kaku, melainkan menjadi kemarahan nyata yang tumpah ke aspal jalanan.
    Saat itu, kita melihat bangsa yang katanya kaya sumber daya alam dan kaya secara nilai-nilai luhur ini justru sedang menggugat nurani pemimpinnya sendiri, dengan amarah menuntut agar kebijakan tidak hanya berpihak pada segelintir orang yang duduk di singgasana empuk, sementara mayoritas rakyat harus mengencangkan ikat pinggang hingga sesak napas karena tercekik secara multidimensi.
    Di tengah kemelut domestik yang membara tersebut, Presiden Prabowo seolah menemukan panggung yang lebih nyaman dan jauh dari aroma gas air mata, yakni kancah internasional.
    Kita menyaksikan seorang pemimpin yang fasih berbahasa asing, terkesan gagah, dan tampak sangat berwibawa di depan kamera para jurnalis global.
    Pidatonya di markas PBB pada September 2025 lalu memang memukau secara estetika dan retorika, penuh dengan diksi-diksi tentang perdamaian dunia dan peran penting Indonesia sebagai jembatan peradaban.
    Dari sana, lahirlah apa yang disebut sebagai Gaza Plan, inisiatif perdamaian yang di atas kertas tampak heroik dan visioner. Di panggung itu, Indonesia seolah ingin mengukuhkan diri sebagai juru selamat di kawasan Timur Tengah.
    Namun, bagi mata yang jeli dan kritis, rencana tersebut terasa seperti bangunan megah tanpa fondasi yang kokoh.
    Inti dari luka yang menganga di Timur Tengah, yakni kedaulatan penuh Palestina dalam skema solusi dua negara yang diakui secara internasional, tetap tak tersentuh secara substansial.
    Diplomasi Indonesia di tahun 2025 ini terasa seperti pertunjukan kembang api di malam hari, indah dipandang, meriah dalam sekejap, membuat orang berdecak kagum, tapi meninggalkan kegelapan dan residu asap yang bau segera setelah cahayanya padam.
    Negara ini terlihat sibuk dengan kosmetik diplomasi yang cantik di layar televisi, tapi gagal menyentuh jantung persoalan yang sesungguhnya.
    Bahkan ada kesan bahwa panggung internasional hanya digunakan sebagai pelarian dari kerumitan persoalan di dalam negeri yang tidak kunjung menemukan solusi konkret.
    Ironisnya, kegagahan di level global itu berbanding terbalik dengan pengaruh nyata Indonesia di halaman rumah sendiri, kawasan Asia Tenggara.
    Indonesia seolah kehilangan magisnya sebagai “pemimpin alami” persemakmuran negara-negara kawasan Asia Tenggara, ASEAN.
    Indonesia tampak absen, atau setidaknya sangat minim berperan, dalam mendinginkan bara konflik yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja terkait sengketa wilayah dan perbatasan.
    Padahal, stabilitas kawasan adalah marwah bagi kepemimpinan Indonesia sejak puluhan tahun lalu.
    Peran Indonesia sangat menonjol di era Orba sehingga Presiden kedua negeri ini, Soeharto, menjadi kebanggaan pemimpin di Burma (sekarang Myanmar), di Malaysia bahkan Singapura.
    Minimnya peran kepemimpinan ini secara otomatis berdampak memperlemah posisi tawar ASEAN sebagai organisasi regional di mata dunia.
    Memang, pada KTT ASEAN di Kuala Lumpur jelang akhir tahun 2025 ini, perjanjian damai antara Thailand dan Myanmar telah ditandatangani dengan disaksikan oleh Donald Trump, yang kembali memperlihatkan dominasi pengaruh luar negeri mondialnya juga di kawasan kita.
    Namun, kita semua mengetahui bahwa perjanjian perdamaian tersebut mendadak menjadi hambar kembali karena beberapa minggu kemudian, perang kembali pecah antara serdadu negeri Gajah Putih dan negeri The Land of Golden Pagodas.
    Diakui atau tidak, salah satu kerapuhan tersebut disebabkan oleh absennya “sentuhan tangan dingin” Jakarta sebagai kakak tertua di kawasan.
    Indonesia terlalu sibuk mengejar sorot lampu di panggung global yang lebih glamor, tapi lupa menyapu lantai kawasan di mana rumah kita berdiri yang mulai berdebu dan bahkan retak.
    Diplomasi yang terlalu berorientasi pada citra personal pemimpin seringkali melupakan kedalaman relasi geopolitik yang sifatnya organik dan berkelanjutan di tingkat regional.
    Dari sisi ekonomi, jika kita menilik angka-angka yang dirilis pemerintah di penghujung tahun, para teknokrat mungkin akan tersenyum bangga melihat pertumbuhan yang kembali ke jalur 5 persen.
    Secara makro, angka tersebut adalah prestasi. Namun, bagi saya sebagai seorang pengamat, angka tersebut hanyalah “fatamorgana statistik” yang berpotensi menyesatkan jika tidak dibedah lebih mendalam.
    Di lapangan, kehidupan masyarakat masih terasa mencekik dan sulit. Pertumbuhan tersebut masih belum menetes ke bawah, seolah tertahan di puncak-puncak gedung pencakar langit dan masuk ke kantong-kantong para pemilik modal besar. Dengan kata lain, ketimpangan masih berada pada titik yang mengkhawatirkan.
    Fakta sosiologisnya, pengangguran muda atau
    youth unemployment
    masih menjadi bom waktu yang terus berdetak di pusat-pusat kota hingga pelosok desa.
    Indonesia telah menciptakan generasi yang merasa asing di tanah airnya sendiri karena sulitnya mencari penghidupan layak, sementara syarat kerja kian tidak masuk akal dan upah riil terus tergerus inflasi.
    Kita melihat dengan jelas pertumbuhan ekonomi sekadar di atas kertas, tapi tidak melihat pemerataan “harga diri” tersebut melebar sampai ke meja makan rakyat.
    Kesenjangan ini jika dibiarkan akan menjadi bahan bakar bagi konflik sosial yang jauh lebih besar di masa depan.
    Ekonomi bukan hanya soal angka PDB, melainkan juga soal bagaimana seorang bapak bisa membelikan susu untuk anaknya tanpa harus meminjam pada platform kredit daring yang bunganya kian mencekik leher.
    Demikian pula fakta pasangan suami istri yang harus membawa serta seorang balita mereka bersepeda motor sebagai kurir jasa pengiriman paket demi sesuap nasi.
    Tak lupa, tahun 2025 pun ditutup dengan catatan kelam dan duka yang mendalam dari bumi Sumatera.
    Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang datang bertubi-tubi menggulung merenggut ratusan nyawa sekali sapu dan menghancurkan harta benda dalam skala yang memilukan.
    Korban mutakhir yang mencapai lebih dari 1000-an orang meninggal, bukan sekadar deretan angka kematian, melainkan duka ribuan keluarga yang harus kehilangan masa depan.
    Saya meneteskan air mata menggotong korban banjir yang pascaseminggu musibah baru berhasil dievakuasi lalu dimobilisasi dari Aceh ke rumah sakit di Medan, tapi akhirnya meninggal sehari di rumah sakit.
    Banyak kisah pilu semacam itu. Bagaimana pun, kita sebagai bangsa yang arif dan punya akal sehat juga tidak boleh dengan naif menyalahkan langit, curah hujan ekstrem, atau takdir Tuhan atas apa yang terjadi.
    Bencana di Sumatera adalah “bencana buatan manusia” atau
    man-made disaster
    yang sangat nyata.
    Deforestasi yang masif di paru-paru Sumatera, demi pembukaan lahan perkebunan skala besar dan pertambangan, adalah penyebab utama dari tanah yang kehilangan daya cengkeram atas air hujan dan sungai yang kehilangan daya tampungnya.
    Hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang bisa dikonversi menjadi dolar, tapi sistem penyangga kehidupan yang jika dirusak justru akan membalas dengan skala yang lebih masif dan mematikan.
    Pesan anti-deforestasi seharusnya bukan lagi sekadar slogan di atas materai atau janji manis dalam kampanye, melainkan harus menjadi ideologi pembangunan yang tidak boleh ditawar oleh kepentingan modal mana pun.
    Jika pemerintah terus abai dan menganggap hutan sebagai komoditas semata yang bisa dikapling-kapling sesuai kontribusi fiskalnya, maka bencana akan menjadi tamu rutin yang tak pernah bosan mengetuk pintu rumah kita dengan cara yang semakin keras dan kejam dari waktu ke waktu.
    Sebagai penutup dari refleksi panjang tahun 2025 ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada nurani terdalam kita masing-masing sebagai anak bangsa, ke mana sesungguhnya arah besar kapal besar bernama Indonesia ini hendak dibawa?
    Indonesia tentu tidak butuh pemimpin yang hanya piawai bersolek di depan cermin internasional demi mendapatkan tepuk tangan asing, sementara rakyatnya di dalam negeri sibuk memungut sisa-sisa harapan di tengah pajak yang mencekik dan alam yang kian murka.
    Tahun ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan tanpa empati adalah kesia-siaan dengan banderol harga yang mahal di ujungnya.
    Ekonomi tanpa pemerataan hanyalah angka kosong yang melecehkan perut yang lapar.
    Di akhir tahun ini, biarlah retakan-retakan di cermin besar itu menjadi pengingat yang jelas bahwa kecantikan original bangsa tidak dilihat dari seberapa keras sorak-sorai di podium global dan pentas lokal, melainkan dari seberapa tenang seorang warga kebanyakan bisa tidur di malam hari tanpa rasa lapar dan cemas pada hari esok.
    Mari kita sambut tahun baru bukan dengan tumpukan janji-janji muluk baru untuk menutupi kegagalan dalam mewujudkan janji lama, melainkan dengan kerendahan hati untuk memperbaiki apa yang salah, apa yang telah rusak, lalu menjahit kembali robekan sosial yang ada, dan menjaga apa yang masih tersisa.
    Karena pada akhirnya, negara bukan dibangun dari beton dan pidato, melainkan dari rasa aman dan keadilan yang dirasakan oleh setiap jiwa yang tinggal di dalamnya. Semoga!
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Bagaimana Bisa 68 Anak Indonesia Terpapar White Supremacy Neo-Nazi?
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Bagaimana Bisa 68 Anak Indonesia Terpapar White Supremacy Neo-Nazi? Nasional 31 Desember 2025

    Bagaimana Bisa 68 Anak Indonesia Terpapar White Supremacy Neo-Nazi?
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Polisi mengungkap ada puluhan anak Indonesia terpapar ideologi neo-Nazi dan supremasi ras kulit putih atau
    white supremacy
    . Bagaimana bisa?
    Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim)
    Polri
    Komjen Syahardiantono mengatakan ada 68 anak yang terpapar ideologi tersebut.
    Mereka terpapar ideologi
    ekstrem kanan
    tersebut melalui grup daring (online) bernama True Crime Community (TCC).
    “Penanganan 68 anak di 18 provinsi yang terpapar ideologi ekstrem melalui grup TCC, seperti
    neo-Nazi
    dan
    White Supremacy
    ,” kata Syahar dalam Rilis Akhir Tahun 2025 Polri di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025).
    Juru Bicara Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, mengatakan anak-anak Indonesia itu bisa terpapar ideologi fasis tersebut karena anak-anak ini juga mengakses gim daring berbasis kekerasan.
    “Terpapar dari berbagai platform yang beraliran TCC, gim daring berbasis kekerasan (gore),” ucap Mayndra kepada
    Kompas.com
    .
    AKBP Mayndra menjelaskan, ideologi neo-Nazi dan white supremacy itu hanya menjadi alasan saja bagi anak-anak itu untuk melakukan kekerasan.
    “Berdasarkan interogasi yang dilakukan oleh tim, mereka mengaku bahwa paham-paham tersebut hanya sebagai legitimasi tindakan yang mereka lakukan dalam melampiaskan dendam atau ketidaksukaan, ataupun melampiaskan kekerasan,” ujar Mayndra.
    Anak-anak ini juga memiliki senjata yang dibeli secara daring. Ternyata, itu hanya senjata mainan.
    “Senjata mainan dan pisau kebanyakan dari pembelian daring,” imbuh Mayndra.
    Berdasarkan catatan
    Kompas.com
    , grup daring TCC juga disebut polisi dalam peristiwa ledakan SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 lalu.
    Pelaku yang juga siswa sekolah tersebut disebut polisi mengakses grup TCC sebelum melakukan perbuatannya.
    Temuan tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa pelaku terpapar memetic violence atau kekerasan berbasis peniruan alias kekerasan mimesis.
    “Jadi dia lebih kepada meniru ide atau perilaku. Ya, contohnya, kalau di SMA 72 diketahui Densus juga mengakses grupnya yang namanya TCC, True Crime Community,” kata Kepala BNPT Eddy Hartono dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, 18 November 2025 lalu.
    Polisi menilai peristiwa ledakan itu lebih dipengaruhi faktor psikologis dan sosial ketimbang ideologi ekstrem.
    “Pelaku melakukan aksi karena menjadi korban bullying dari rekannya dan meniru pelaku penembakan massal di luar negeri sebagai metode untuk melakukan aksi balas dendam dan bukan melakukan aksi karena keyakinan atas salah satu paham atau ideologi,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, 18 November 2025.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 6
                    
                        Rumput Liar di Ladang Jagung yang Diresmikan Wapres Gibran, Pengelola: Strategi Pertanian
                        Regional

    6 Rumput Liar di Ladang Jagung yang Diresmikan Wapres Gibran, Pengelola: Strategi Pertanian Regional

    Rumput Liar di Ladang Jagung yang Diresmikan Wapres Gibran, Pengelola: Strategi Pertanian
    Tim Redaksi

    TANGERANG, KOMPAS.com
    – Pihak kepolisian dan perusahaan pengelola ladang jagung di Desa Bantarpanjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten membantah gagal panen.
    Ladang ini merupakan bagian dari program
    ketahanan pangan
    nasional, yang diresmikan oleh Wakil Presiden (Wapres)
    Gibran Rakabuming Raka
    pada Oktober 2025 lalu.
    Penanaman jagung merupakan hasil kerja sama antara Polda Banten dan Polresta
    Tangerang
    dengan
    PT MSD Corpora Internasional

    Sebagian area nampak dipenuhi rumput liar. PT MDS menyebut hal itu sebagai
    strategi pertanian
    . Sementara,
    Polresta Tangerang
    memastikan jagung akan dipanen pada Januari mendatang.
    Direktur Utama PT MSD Corpora Internasional, Made, mengatakan, lahan tersebut sudah diolah sejak Agustus 2025.
    Kemudian, penanaman dilakukan sejak Oktober.
    Ia menjelaskan, selama tiga bulan terakhir, tanaman jagung dirawat secara bertahap melalui pemupukan dan perawatan lanjutan.
    Di sisi lain, ia menyebut ada sebagian kecil tanaman yang tidak tumbuh optimal.
    Menurutnya, hal tersebut wajar dalam pertanian.
    “Dari total lahan sekitar dua hektar, 1,5 hektar kami pastikan siap dipanen. Sisanya ada sebagian kecil yang tidak tumbuh optimal, dan itu wajar dalam pertanian,” kata Made di ladang jagung Bantarpanjang, Selasa (31/12/2025) malam.
    Terkait kondisi lahan yang tampak ditumbuhi rumput, ia menjelaskan, kondisi tersebut merupakan bagian dari strategi pertanian untuk menjaga struktur tanah.
    “Rumput sengaja kami biarkan di beberapa titik untuk menahan tanah agar tidak hanyut saat hujan. Setelah panen, rumput akan dibabat dan akarnya tetap dibiarkan,” ujarnya.
    Made menambahkan, sisa tanaman dan rumput nantinya juga akan diolah menggunakan dekomposer agar dapat kembali menjadi pupuk organik alami bagi lahan.
    Selain fungsi teknis, rumput yang tumbuh di lahan tersebut juga dimanfaatkan oleh warga sekitar.
    Sekitar 10 hingga 15 petani dan peternak diketahui rutin memotong rumput di area lahan setiap hari.
    Made menambahkan, sejak awal pengelolaan, pihaknya telah melakukan pembajakan lahan, penanaman bibit, pemupukan, hingga pemberian
    booster
    nutrisi.
    Pemberian
    booster
    tersebut mempercepat pertumbuhan tanaman, meski berdampak pada cepatnya pertumbuhan rumput.
    “Secara teknis, kondisi tanaman masih terkendali dan sesuai perencanaan,” katanya.
    Ia menegaskan, ladang jagung tersebut siap memasuki masa panen dan diharapkan memberikan hasil sesuai target.
    Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada membantah pemberitaan yang menyebut ladang jagung mengalami gagal panen.
    Ia menegaskan, tanaman jagung di lahan tersebut masih dalam proses dan dipastikan akan dipanen pada Januari mendatang.
    “Perlu kami sampaikan bahwa pemberitaan terkait adanya gagal panen itu tidak benar,” ujar Andi di lokasi ladang jagung Bantarpanjang, Selasa (30/12/2025) malam.
    Sebelumnya, pantauan
    Kompas.com
    di ladang jagung Desa Bantarpanjang, Selasa (30/12/2025) siang, menunjukkan kondisi tanaman jagung di lahan yang diresmikan
    Wapres Gibran
    itu nampak tumbuh tidak merata dan sebagian area dipenuhi rumput liar.
    Di bagian depan ladang, sejumlah tanaman jagung telah berbuah dengan tinggi sekitar satu meter dan sebagian mulai menguning.
    Sementara di bagian belakang, banyak tanaman tumbuh lebih pendek dan sebagian roboh, dengan rumput liar tumbuh lebih lebat dan menutupi tanaman jagung.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 10
                    
                        Sambil Menangis dan Memeluk Gubernur NTT, Istri Pelatih Valencia Minta Suami dan Anaknya Ditemukan
                        Regional

    10 Sambil Menangis dan Memeluk Gubernur NTT, Istri Pelatih Valencia Minta Suami dan Anaknya Ditemukan Regional

    Sambil Menangis dan Memeluk Gubernur NTT, Istri Pelatih Valencia Minta Suami dan Anaknya Ditemukan
    Tim Redaksi
    LABUAN BAJO KOMPAS.com
    – Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena berkesempatan menemui isteri dan keluarga pelatih Valencia yang hilang di perairan Pulau Padar Labuan Bajo, pada Selasa (30/12/2025).
    Ia menemui keluarga korban di ruangan Kantor Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP)
    Labuan Bajo
    . Selain menemui keluarga dan isteri
    pelatih Valencia
    itu,
    Gubernur NTT
    juga menemui Wakadubes Spanyol untuk Indonesia.
    Begitu tiba di ruangan KSOP Labuan Bajo, Budi Widjaya, Ketua DPC Gahawisri Labuan Bajo, yang juga adalah pendamping sekaligus penerjemah, mengenalkan Gubernur NTT kepada isteri dan keluarga pelatih Valencia.
    Isteri pelatih Valencia itu pun langsung berjabat tangan dengan Gubernur NTT. Ia memeluk Gubernur NTT sembari menangis dan meminta tolong agar mencari suami dan anaknya hingga ditemukan.
    “Please help. Plesase help,” ungkap isteri
    pelatih Valencia B
    Fernando Martin. Gubernur NTT pun berusaha menenangkanya.
    Kepadanya, Melki mengatakan tim penyelamat akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari sang suami dan anaknya yang masih hilang.
    “Kami akan terus mencari bapak dan anak yang belum ditemukan,” imbuh dia. Momen itu pun membuat semua yang ada dalam ruangan terdiam.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kapuspen TNI Resmi Berganti, Kini Dijabat Brigjen Aulia Dwi Nasrullah 
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        30 Desember 2025

    Kapuspen TNI Resmi Berganti, Kini Dijabat Brigjen Aulia Dwi Nasrullah Nasional 30 Desember 2025

    Kapuspen TNI Resmi Berganti, Kini Dijabat Brigjen Aulia Dwi Nasrullah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Posisi Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI resmi berganti setelah Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita memimpin serah terima jabatan (sertijab) di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI, Jakarta Timur, Selasa (30/12/2025).
    Bukan hanya itu, Tandyo juga memimpin sertijab untuk kedudukan Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (Dan PMPP)
    TNI
    dan Kepala Pusat Jasmani dan Peraturan Militer Dasar (Kapusjaspermildas) TNI.
    Dalam serah terima tersebut, jabatan Dan PMPP TNI diserahkan dari Mayjen TNI Taufik Budi Santoso kepada Brigjen TNI Iwan Bambang Setiawan.
    Sementara, Jabatan Kapuspen TNI diserahterimakan dari Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah kepada Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah.
    Adapun jabatan Kapusjaspermildas TNI beralih dari Brigjen TNI Arie Tri Hedianto kepada Kolonel Wing Sukarno.
    Serah terima jabatan tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi TNI dalam pembinaan personel dan kesinambungan kepemimpinan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi satuan.
    Pergantian pejabat diharapkan memperkuat kinerja organisasi dalam menghadapi tantangan tugas ke depan.
    Dalam sambutannya, Tandyo mengapresiasi atas kontribusi dan prestasi prajurit TNI yang terlibat dalam ajang
    SEA Games
    .
    Menurutnya, keterlibatan tersebut merupakan bentuk nyata pengabdian prajurit TNI dalam mengharumkan nama bangsa di tingkat nasional maupun internasional.
    “Banyak prajurit TNI yang kemarin terlibat dalam SEA Games, dan hal tersebut patut kita apresiasi,” ujar dia dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (30/12/2025).
    Jenderal TNI Tandyo menegaskan, capaian dan dedikasi prajurit TNI di berbagai bidang diharapkan dapat menjadi teladan sekaligus motivasi bagi generasi muda untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.
    “Tentunya ini akan memotivasi adik-adik kita, anak-anak kita untuk membela bangsa dan negaranya melalui Tentara Nasional Indonesia,” tegas dia.
    Menutup sambutannya, Jenderal bintang empat itu mengucapkan terima kasih kepada para pejabat lama atas pengabdian yang telah diberikan.
    Dia juga memberikan pesan kepada pejabat baru agar dapat melanjutkan dan meningkatkan kinerja organisasi.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Densus Temukan 16 Kasus Penggalangan Dana Terorisme Dalam 3 Tahun, Nilainya Rp 5 Miliar
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        30 Desember 2025

    Densus Temukan 16 Kasus Penggalangan Dana Terorisme Dalam 3 Tahun, Nilainya Rp 5 Miliar Nasional 30 Desember 2025

    Densus Temukan 16 Kasus Penggalangan Dana Terorisme Dalam 3 Tahun, Nilainya Rp 5 Miliar
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Sebanyak 16 kasus penggalangan dana aktivitas terorisme ditemukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) selama tiga tahun terakhir.
    Dalam periode waktu tersebut, Kepala
    BNPT
    , Komjen Pol (Purn.) Eddy Hartono, mengungkapkan bahwa totalnya mencapai lebih dari Rp 5 miliar.
    “Kemudian,
    pendanaan terorisme
    juga sama. Ditemukan 16 kasus pendanaan terorisme melalui berbagai metode dengan akumulasi dana sebesar Rp 5.093.810.613,” ungkap Eddy di Hotel Pullman Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
    Selain itu, terdapat 27 perencanaan serangan yang berhasil dicegah oleh aparat penegak hukum.
    Sebab, mereka bekerja berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang mengedepankan pendekatan
    pre-emptive justice
    .
    “Artinya apa? Perbuatan persiapan (terorisme) itu sudah masuk dalam norma hukum pidana. Ini juga KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang akan berlaku juga masuk juga itu perbuatan persiapan,” ujar dia.
    Sementara itu, para penegak hukum selama tiga tahun terakhir telah menangkap 230 orang terkait kegiatan terorisme di Indonesia.
    “Kemudian, 362 orang itu disidangkan selama tiga tahun terakhir. Mayoritas merupakan afiliasi atau simpatisan ISIS dan semuanya laki-laki,” jelas dia.
    Adapun dalam periode tersebut terungkap keterlibatan 11 pelaku perempuan yang melakukan propaganda, penggalangan dana, serta berkoordinasi dalam komunitas komunikasi kelompok teroris.
    Selain itu, aparat juga menemukan 137 pelaku aktif yang menyalahgunakan
    ruang digital
    untuk aktivitas terorisme.
    Sebanyak 32 pelaku terpapar paham radikal secara daring dan kemudian bergabung dengan jaringan terorisme.
    Sementara itu, 17 pelaku lainnya melakukan aktivitas terorisme di ruang digital tanpa keterlibatan langsung dengan jaringan, yang dikenal sebagai fenomena
    self-radicalization
    .
    “Nah, ini menunjukkan bahwa risiko penyalahgunaan ruang digital ini semakin berkembang oleh jaringan terorisme maupun simpatisan terorisme,” ungkap dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Menag: Pendidikan Berbasis Pancasila Jadi Landasan Setiap Disiplin Ilmu
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        30 Desember 2025

    Menag: Pendidikan Berbasis Pancasila Jadi Landasan Setiap Disiplin Ilmu Nasional 30 Desember 2025

    Menag: Pendidikan Berbasis Pancasila Jadi Landasan Setiap Disiplin Ilmu
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan bahwa pendidikan berbasis Pancasila menjadi landasan disiplin ilmu demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
    Menurutnya, Indonesia perlu melahirkan kembali
    semangat Baitul Hikmah
    , di mana pendidikan yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan menjadi landasannya.
    “Kita ingin Indonesia melahirkan kembali semangat Baitul Hikmah, di mana
    pendidikan berbasis Pancasila
    , khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan bagi setiap disiplin ilmu,” kata Nasaruddin dalam sambutan dalam agenda Dirjen Pendidikan Islam di Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
    Menag, yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini, mengatakan bahwa Indonesia tidak membutuhkan pendidikan sekuler yang kering dan kurikulum yang kaku.
    “Kita berada pada posisi geopolitik dan ekonomi yang stabil, dan momentum inilah yang harus kita manfaatkan untuk menanam bibit ideologi pendidikan yang lebih baik demi menyongsong Indonesia Emas,” ujarnya.
    Menag menekankan bahwa penerapan
    Kurikulum Cinta
    membutuhkan proses yang berkelanjutan atau
    ongoing process
    .
    “Kita tidak bisa menyelesaikannya dalam sekejap, melainkan harus terus disempurnakan tahun demi tahun,” ucapnya.
    Kurikulum Cinta merujuk pada sejarah keemasan Islam, seperti pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun yang mendirikan Baitul Hikmah.
    “Di sana tidak ada dualitas antara ilmu umum dan ilmu agama. Semua ilmu pengetahuan berakar pada nilai-nilai ketuhanan,” ucapnya.
    Nasaruddin menilai jika Kurikulum Cinta diterapkan, maka akhlak akan muncul secara otomatis tanpa perlu dipaksakan.
    “Rasa hormat murid kepada guru atau anak kepada orang tua akan lahir dari cinta yang mereka terima,” jelas dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 7
                    
                        Imbas Kasus Rumah Nenek Elina, Eri Cahyadi: Arek-arek Surabaya Jangan Terprovokasi
                        Surabaya

    7 Imbas Kasus Rumah Nenek Elina, Eri Cahyadi: Arek-arek Surabaya Jangan Terprovokasi Surabaya

    Imbas Kasus Rumah Nenek Elina, Eri Cahyadi: Arek-arek Surabaya Jangan Terprovokasi
    Tim Redaksi
    SURABAYA, KOMPAS.com
    – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengajak para pemuda dari berbagai suku untuk melawan praktik premanisme, yang berpotensi memecah kerukunan.
    Eri mengimbau, agar para pemuda tidak terprovokasi dengan isu yang mengaitkan dengan suku tertentu.
    Menurutnya, hal tersebut bisa memecah kerukunan di Surabaya.
    “Maka arek-arek Surabaya jangan pernah terprovokasi. Jangan pernah arek Surabaya diadu,” kata Eri, di Kota Lama Surabaya, Selasa (30/12/2025).
    Oleh karena itu, Eri bersama Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Surabaya deklarasikan Sumpah 100 Persen Arek Suroboyo, untuk menolak diskriminasi suku, agama, ras dan golongan.
    “Maka saya minta anak-anak Surabaya, tolong jaga Kota Surabaya dengan keberanian, tapi dengan sifat yang beradab dan santun sesuai aturan,” ucapnya.
    “Surabaya ketika terjadi hal seperti itu (diskriminasi) tidak boleh diam. Surabaya harus tegas berani menentukan,” tambahnya.
    Eri menyebut, kasus yang menimpa
    Nenek Elina
    Widjajanti (80) bisa menjadi pelajaran ke depannya.
    Sebab, perkara itu merembet hingga memicu memicu diskriminasi salah satu suku.
    Menurutnya, perkara dugaan pengusiran Nenek Elina tersebut seharusnya mengikuti hukum yang sudah ditetapkan.
    Bukan menggunakan kekerasan ataupun keinginan individu.
    Oleh karena itu, Eri bakal membentuk Satgas Anti Premanisme untuk mengantisipasi kejadian serupa.
    Kelompok itu akan diisi oleh, TNI, Polri, kejaksaan dan pemimpin suku.
    “Maka, hari ini tidak ada lagi premanisme di Kota Surabaya. Kita harus berani melawan premanisme. Kita harus satu, tapi dengan sisi hukum yang berjalan,” jelasnya.
    Eri juga berencana, untuk mengumpulkan seluruh ormas di Balai Kota Surabaya, pada Rabu (31/12/2025) besok. Guna memperkenalkan Satgas Anti Premanisme tersebut.
    “Tanggal 31 Desember kita akan mengumpulkan semua ormas dan semua suku yang ada di Kota Surabaya untuk memastikan bahwa telah ada Satgas Anti-Premanisme,” tutupnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.