Kabel Listrik Dicuri dari 8 Gardu Listrik di Tambora, Kerugian Mencapai Rp 220 Juta
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Kapolsek Tambora Kompol Muhammad Kukuh Islami mengatakan, pencurian kabel listrik oleh tiga orang di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, menyebabkan kerugian mencapai Rp 220 juta.
Pelaku membobol delapan gardu listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Jalan Pemukiran 4, Jalan Pademangan 2 Gang 8, Jalan Wijaya Kusuma kawasan Bank Mandiri, Jalan Kali Anyar Pesing, Jalan Kapuk Pulo, Jalan Kapuk Poglar Gang Buntu, Jalan Taman Raya, serta Jalan Muara Karang.
“Total kerugian dari delapan lokasi tersebut ditaksir mencapai Rp 220 juta. Setelah dilakukan pendalaman dan pemeriksaan lebih dalam, bahwa ketiga pelaku mengakui telah melakukan di delapan TKP tersebut,” kata Kukuh dalam konferensi persi di Polsek Tambora, Selasa (6/1/2026).
Dalam menjalankan aksinya, para pelaku memiliki peran masing-masing.
AP bertugas mengawasi situasi di sekitar lokasi, sementara tersangka EM dan N memotong kabel listrik di gardu PLN.
“Modus yang kita bisa jelaskan adalah para pelaku ini menyamar sebagai petugas PLN untuk
Pelaku berinisial N pernah bekerja sebagai teknisi PLN, sementara tersangka EM merupakan residivis kasus pencurian sepeda motor.
“Ya pelaku ini sudah melakukan aksinya dari bulan November tahun 2025. Jaraknya berdekatan di delapan TKP tersebut,” ujar dia.
Atas perbuatannya, ketiga pelaku dijerat dengan Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.
“Pasal yang kita terapkan adalah Pasal 363 yaitu Pasal Pencurian dengan Pemberatan,” kata Kukuh.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Author: Kompas.com
-
/data/photo/2026/01/06/695cc7b096af4.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kabel Listrik Dicuri dari 8 Gardu Listrik di Tambora, Kerugian Mencapai Rp 220 Juta Megapolitan 6 Januari 2026
-
/data/photo/2025/12/21/6947ae6e32827.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Pejalan Kaki Tewas Tertabrak Mobil Usai Kecelakaan Beruntun di Kalideres Megapolitan 6 Januari 2026
Pejalan Kaki Tewas Tertabrak Mobil Usai Kecelakaan Beruntun di Kalideres
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Seorang pejalan kaki berinisial T (62) tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Jalan Citra 6 Raya, dekat Pos 1 keamanan kawasan Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (6/1/2026) sekitar pukul 10.10 WIB.
Kanit Laka Lantas Polres Metro
Jakarta Barat
AKP Joko Siswanto mengatakan, kecelakaan melibatkan dua mobil dan seorang pejalan kaki.
“Objek kecelakaan melibatkan kendaraan mobil yang dikemudikan AS (64) dengan kendaraan mobil yang dikemudikan AA (20) dan seorang pejalan kaki atas nama T,” kata Joko saat dikonfirmasi
Kompas.com,
Selasa.
Menurut Joko, mobil yang dikemudikan AS melaju dari arah utara ke selatan. Saat melintas di dekat Pos 1
Kalideres
, kendaraan tersebut menabrak mobil milik AA yang sedang terparkir.
“Selanjutnya menabrak pejalan kaki, T yang mengakibatkan luka di bagian kepala,” jelas Joko.
T sempat dilarikan ke Rumah Sakit Ciputra, namun nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia saat menjalani perawatan.
Akibat kecelakaan tersebut, kedua kendaraan juga mengalami kerusakan.
“Kendaraan mobil AS mengalami kerusakan di bagian bodi depan ringsek. Kendaraan mobil AA bodi belakang ringsek,” ungkap Joko.
Joko menambahkan,
polisi
telah melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, mencari saksi, serta membuat laporan polisi.
“Barang bukti berupa satu unit mobil minibus Mitsubishi Xpander milik AS dan satu unit mobil minibus Honda Mobilio milik AA,” tambahnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2022/08/08/62f0d69374b80.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Aktor Anrez Adelio Dilaporkan soal Dugaan Kekerasan Seksual Megapolitan 6 Januari 2026
Aktor Anrez Adelio Dilaporkan soal Dugaan Kekerasan Seksual
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Aktor Anrez Adelio dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan kekerasan seksual terhadap seorang perempuan berinisial FP.
Kabid Humas
Polda Metro Jaya
Kombes Budi Hermanto mengatakan laporan tersebut diterima polisi pada 29 Desember 2025 dan kini masih dalam tahap penyelidikan.
“Saat ini dalam proses pemeriksaan saksi dan analisa barang bukti atas
dugaan kekerasan seksual
,” kata Budi saat dihubungi, Selasa (6/1/2026).
Barang bukti yang diserahkan pelapor antara lain hasil USG, surat pernyataan, serta tangkapan layar percakapan antara FP dan Anrez.
Budi menjelaskan, Anrez diduga melakukan manipulasi terhadap korban melalui video tersembunyi agar FP mau melakukan hubungan seksual. Perbuatan itu disebut berdampak hingga korban hamil.
“Dia memanipulasi melalui video tersembunyi oleh terlapor untuk melakukan hubungan seksual sampai korban hamil 8 bulan, dan terlapor minta untuk digugurkan dan tidak bertanggung jawab,” jelas Budi.
FP juga mengaku mengalami pengancaman untuk berhubungan seksual dengan Anrez dalam rentang waktu 24 September 2024 hingga 18 Mei 2025.
Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/9510/XII/2025/SPKT/POLDA METRO JAYA.
Atas laporan itu, Anrez dilaporkan dengan sangkaan Pasal 14 ayat (1) juncto Pasal 15 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun penjara atau denda hingga Rp 300 juta, yang dapat diperberat sesuai ketentuan hukum.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/05/695be519267c9.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Terungkap Penyebab Jalan RE Martadinata Jakut Selalu Kena Banjir Rob Megapolitan 6 Januari 2026
Terungkap Penyebab Jalan RE Martadinata Jakut Selalu Kena Banjir Rob
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Jalan RE Martadinata menjadi salah satu titik di Jakarta Utara yang paling rawan terendam banjir rob ketika air laut sedang pasang.
Sebab, persis di sisi kanan Jalana RE Martadinata terdapat aliran Kali Ancol yang volume airnya ikut meningkat ketika laut sedang pasang dan mencapai maksimum.
Setiap kali laut sedang pasang, air dari Kali Ancol dengan mudah meluap ke daratan dan menggenangi
Jalan RE Martadinata
kurang lebih sepanjang 200 meter.
Dalam satu bulan, biasanya Jalan RE Martadinata bisa terendam
banjir rob
sebanyak dua babak.
Dalam satu babak, banjir rob yang menggenang di lokasi ini bisa terjadi sekitar tiga hari hingga satu minggu berturut-turut.
Apabila sudah meluap, ketinggian air yang menggenang di Jalan RE Martadinata bisa mencapai 10 hingga 40 sentimeter tergantung besarnya volume air laut di Kali Ancol.
Air berwarna kecokelatan terkadang hitam karena telah bercampur dengan debu dan air selokan, sudah menjadi pemandangan bissa yang menghiasi Jalan RE Martadinata.
Untuk pengendara yang baru melintas di jalan ini pastinya akan kaget ketika terjadi banjir dan memilih untuk memutar balik.
Sementara pengendara yang setiap hari melintas tak kaget lagi jika Jalan RE Martadinata tergenang rob.
Sebagian besar pengendara tetap memilih untuk menerobos banjir rob, meski tahu kendaraannya berpotensi mengalami kerusakan.
Di sisi lain, sejumlah pengendara mengaku penasaran mengapa banjir rob di jalan vital tersebut tak pernah teratasi hingga saat ini.
“Bingung banget kadang di sini hujan dikit juga rob, padahal kadang di Muara Angke itu yang jadi langganan banjir dan dekat banget ama laut enggak rob, di sini udah banjir sebetis,” ucap salah satu pengendara bernama Intan (29) saat diwawancarai
Kompas.com
di lokasi, Senin (5/1/2026).
Padahal, seharusnya penanganan banjir rob di Jalan RE Martadinata bisa lebih diutamakan oleh pemerintah, karena merupakan akses vital untuk banyak pengendara.
Pengendara lain bernama Riki (25) juga bertanya-tanya mengapa Jalan RE Martadinata selalu menjadi langganan rob dalam beberapa tahun ke belakang.
“Saya juga bingung kenapa beberapa tahun belakangan ini justru semakin sering terendam banjir, apa enggak bisa ditanganin atau gimana?” kata dia.
Riki mengaku, sering melihat petugas SDA dan pompa
mobile
bersiaga di sisi kanan jalan RE Martadinata dekat JIS, serta langsung melakukan penyedotan ketika air laut mulai meluap.
Namun, penyedotan dengan pompa juga seringkali gagal mencegah air rob agar tidak menggenangi Jalan RE Martadinata selama berjam-jam.
Oleh sebab itu, Riki berharap agar ada penanganan yang lebih serius untuk mengatasi persoalan banjir rob di Jalan RE Martadinata.
“Harapannya semoga dimaksimalkan lagi pompa pembuangan airnya supaya banjirnya surut dan bisa kering. Pihak terkait juga bisa melakukan penanganan lebih ekstra,” ungkap dia.
Ketua Subkelompok Perencanaan Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai Dinas Sumber Daya Air DKI
Jakarta
, Alfan Widyastanto, angkat bicara terkait sederet penyebab seringnya Jalan RE Martadinata terendam banjir.
Alfan bilang, memang sudah dua tahun terakhir banjir rob di lokasi tersebut terjadi lebih sering dibandingkan sebelumnya.
“Berdasarkan data, fenomena banjir rob di Jalan RE Martadinata tercatat telah terjadi sejak tahun 2023. Ini berdasarkan aduan di CRM dan inventarisasi yang dilakukan Dinas SDA pada saat itu,” kata Alfan saat dihubungi
Kompas.com,
Senin malam.
Ia juga mengakui, sampai saat ini banjir rob di kawasan tersebut belum teratasi secara optimal sehingga genangan masih sering terjadi ketika air laut sedang pasang dan curah hujan yang tinggi.
Salah satu penyebab mudahnya air laut dari Kali Ancol meluap ke Jalan RE Martadinata karena banyak tanggul yang sudah retak.
Imbasnya, air laut dari Kali Ancol keluar lewat celah-celah tanggul dan perlahan menggenangi Jalan RE Martadinata setiap kali air laut sedang pasang.
Di sisi lain, fungsi drainase atau saluran air di Jalan RE Martadinata sudah tidak lagi berfungsi secara optimal
“Fungsi drainase di kawasan tersebut sudah tidak optimal karena terdapat rembesan air dari celah-celah tanggul,” sambung dia.
Tanggul kali yang bercelah juga disebabkan karena adanya penurunan tanah di Jalan RE Martadinata.
Sementara salah satu penyebab penurunan tanah di Jalan RE Martadinata semakin parah karena tingginya volume kendaraan berat yang melintas di lokasi ini.
Jalan RE Martadinata memang menjadi salah satu akses penting yang hampir setiap detiknya dilalui kendaraan berat seperti truk trailer dan kontainer.
Sebab, jalan vital tersebut dekat sekali dengan Pelabuhan Tanjung Priok sehingga tak heran bila menjadi tempat berlalu lalangnya kontainer.
Pengamatan Kompas.com di lokasi, Jalan RE Martadinata kerap kali bergetar ketika dilintasi oleh kendaraan berat. Getaran akan semakin terasa jika truk menghantam lubang.
Getaran tersebut seolah menjadi pertanda betapa beratnya beban yang dibawa truk sehingga aspal pun ikut bergoyang.
Selain itu, Alfan juga membantah bahwa pembangunan JIS menjadi penyebab utama semakin parahnya banjir rob di Jalan RE Martadinata.
“Pembangunan Stadion JIS bukan merupakan penyebab utama banjir rob di kawasan Jalan RE Martadinata,” ungkap dia.
Penanganan banjir rob di RE Martadinata memang mengalami kendala karena pembangunan dan pemeliharaan tanggul sheet pile di kawasan ini merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni Kementerian Pekerjaan Umum.
Oleh sebab itu, Pemprov Jakarta tidak bisa sembarangan melakukan perbaikan tanggul Kali Ancol di Jalan RE Martadinata meski sudah retak dan berlubang.
Namun, Alfan memastikan bahwa perbaikan tanggul di kawasan tersebut sudah masuk dalam rencana Kementerian Pekerjaan Umum.
“Saat ini terkait perbaikan tanggul
sheet pile
di kawasan tersebut sudah masuk dalam rencana pengerjaannya oleh Kementerian Pusat untuk kawasan ancol hilir dengan skema Multiyears 2025-2027,” ucap Alfan.
Sambil menunggu perbaikan tanggul dilakukan, maka Dinas SDA sudah melakukan upaya penanganan darurat dengan menyiagakan pompa mobile dan petugas untuk mengatasi dan mengantisipasi potensi banjir rob di lokasi ini.
Jadi, ketika banjir rob mulai meluap ke jalan, air langsung disedot dengan pompa agar ketinggiannya tidak semakin bertambah dan segera surut dalam waktu cepat.
Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI) M Azis Muslim menilai penyedotan dengan pompa mobile saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan banjir rob di Jalan RE Martadinata, karena itu hanya merupakan solusi sementara.
Ia menyarankan agar pemerintah juga melakukan penanganan secara permanen atau jangka panjang, salah satunya adalah dengan pembangunan tanggul.
“Beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan beberapa usulan untuk melakukan percepatan penanganan ini mau tidak mau pembangunan tanggul yang lebih tinggi untuk mencegah air laut,” tutur Azis saat dihubungi
Kompas.com,
Senin.
Dengan pembangunan tanggul yang lebih tinggi dan kokoh, air laut dari Kali Ancol tidak akan mudah meluap dari atas atau dari celah-celah seperti yang terjadi sekarang ini.
Selain pembangunan tanggul, perbaikan drainase juga sangat dibutuhkan agar ketika air laut meluap bisa surut dalam waktu cepat. Tanpa adanya perbaikan drainase maka banjir rob di lokasi ini akan sulit untuk teratasi.
Selain membangun tanggul dan perbaikan drainase, pemerintah juga harus memperhatikan pembangunan tol di sepanjang Jalan RE Martadinata yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Kalau kita lihat Jalan RE Martadinata dan JIS itu tadi memang memiliki satu kondisi yang harus kita perhatikan, apalagi saat ini sedang terjadi pembangunan yang cukup masif seperti Tol Harbour yang sedang berproses tentu ini memiliki risiko peningkatan banjir karena pembangunan yang ada di situ,” jelas Azis.
Ia juga menyarankan agar pemerintah segera melakukan evaluasi secara menyeluruh supaya penanganan banjir rob yang dilakukan ke depan bisa berhasil.
Tanpa adanya evaluasi total, dikhawatirkan pembangunan tanggul dan perbaikan drainase ke depannya tidak akan ampuh menghentikan banjir rob di lokasi ini.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/06/695ca51d009d0.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Saksi Ungkap Koneksi Internet Jadi Kendala Penggunaan Chromebook di Daerah 3T
Saksi Ungkap Koneksi Internet Jadi Kendala Penggunaan Chromebook di Daerah 3T
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUDasmen) Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengungkap, masalah internet menjadi kendala penggunaan laptor Chromebook di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).
Gogot menyampaikan hal tersebut saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang kasus dugaan korupsi dalam digitalisasi pendidikan pengadaan laptop
Chromebook
di lingkungan Kemendikbudristek tahun 2019-2022 untuk tiga terdakwa, pada Selasa (6/1/2026).
Ketiga terdakwa adalah Ibrahim Arief, eks Konsultan Teknologi di lingkungan Kemendikbudristek; Mulyatsyah, Direktur SMP Kemendikbudristek tahun 2020–2021 sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA); serta Sri Wahyuningsih, Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek tahun 2020–2021 yang juga menjabat sebagai KPA.
“Internetnya tidak stabil sehingga fungsi Chromebook tidak maksimal,” ujar Gogot dalam sidang, Selasa.
Ketidakstabilan internet menjadi kendala dari penggunaan
laptop Chromebook
dalam kegiatan belajar-mengajar di daerah 3T.
Hal tersebut menjadi masalah karena sistem operasi Chrome OS sangat membutuhkan koneksi internet.
“Hanya karena daerah 3T secara demografis banyak tantangan, ada awan tebal saja itu internetnya sudah goyang karena pakai satelit, harus nembak ke atas tidak ada kabel. Jadi intinya internetnya tidak stabil,” ujar Gogot.
Selain masalah internet, banyak orang di daerah 3T tidak familiar menggunakan laptop dengan sistem operasi Chrome OS.
“Karena tidak familiar dengan cara mengoperasikan, intinya tidak biasa menggunakan Chromebook SDM-nya. Guru-guru terutama, karena kita berikan untuk guru,” ujar Gogot.
Chromebook juga tidak bisa digunakan saat Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang berlangsung pada 2019.
Sedangkan alasan terkahir, ada beberapa aplikasi Kemendikbud yang tidak bisa digunakan dengan Chromebook.
“Contoh, kita punya aplikasi Dapodik itu tidak bisa, kemudian juga beberapa aplikasi-aplikasi yang tidak approve oleh Google, tidak bisa dioperasikan di dalam Chromebook,” imbuh Gogot.
Hal inilah yang membuat Mendikbud sebelum
Nadiem Makarim
, Muhadjir Effendy menolak pengadaan laptop Chromebook saat itu.
Sebelumnya, Nadiem sendiri didakwa telah menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 2,1 triliun dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook. Perbuatan ini dilakukan bersama-sama dengan tiga terdakwa lain.
Perhitungan kerugian negara ini terbagi menjadi dua unsur, yaitu untuk pengadaan laptop berbasis Chromebook dan pengadaan Chrome Device Management (CDM).
Pada Desember 2025, hakim memerintahkan agar Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan terlebih dahulu dakwaan terhadap tiga terdakwa
kasus Chromebook
.
Ketiga terdakwa itu adalah Ibrahim Arief, eks Konsultan Teknologi di lingkungan Kemendikbudristek; Mulyatsyah, Direktur SMP Kemendikbudristek tahun 2020–2021 sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA); serta Sri Wahyuningsih, Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek tahun 2020–2021 yang juga menjabat sebagai KPA.
Mereka diancam dengan Pasal 2 Ayat (1) dan Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/02/6957a7e87fc69.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
TPS Sampah dekat Rusunawa PIK 2 Cakung Bakal Disulap Jadi Ruang Terbuka Hijau Megapolitan 6 Januari 2026
TPS Sampah dekat Rusunawa PIK 2 Cakung Bakal Disulap Jadi Ruang Terbuka Hijau
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur memastikan akan mengubah tempat penampungan sementara (TPS) sampah di dekat Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) PIK 2, Penggilingan, Cakung, menjadi ruang terbuka hijau (RTH).
Wali Kota Jakarta TimurMunjirin
mengatakan, rencana tersebut telah dibahas dan akan segera direalisasikan dengan menata ulang area TPS yang ada saat ini.
“Nanti kita sudah rapatkan dan nanti akan dilayer dengan tanah merah dan nanti kita akan tanamin jadi penghijauan daerah situ,” ucap Munjirin kepada wartawan di wilayah Cakung, Jakarta Timur, Selasa (6/1/2026).
Mantan Wali Kota Jakarta Selatan itu menjelaskan, sampah yang saat ini berada di lokasi tersebut akan dipindahkan terlebih dahulu.
“Untuk sampah yang dirusun, jadi nanti lokasi tersebut tidak dijadikan tempat pembuangan sampah lagi, tapi akan dialihkan ke tempat yang terdekat dan kita sudah menemukan lokasinya,” jelasnya.
Sebelummya, gunungan sampah di dekat Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) PIK Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, dikeluhkan para penghuni rusun dan warga sekitar.
Tumpukan sampah tersebut menimbulkan bau tidak sedap yang tercium hingga lantai atas bangunan.
Keluhan warga mencuat setelah adanya aduan yang disampaikan melalui aplikasi Jakarta Kini (Jaki). Dalam laporannya, pelapor mengaku mencium aroma menyengat dari tumpukan sampah di sekitar rusunawa.
“Butuh segera ditindaklanjuti karena bau sampah sampai ke lantai 12 Rusun, baunya sangat semerbak,” tulis pelapor dalam aduan di aplikasi Jaki yang dibuat pada Kamis (1/1/2026).
Berdasarkan pantauan
Kompas.com
di lokasi, terlihat gunungan sampah meluber hingga ke badan jalan di samping Rusunawa PIK 2 dan akses menuju Perumahan Taman Jatinegara.
Sampah menumpuk di sejumlah titik dan mengganggu aktivitas warga. Tampak tiga truk sampah berukuran besar mengantre untuk mengangkut sampah. Sejumlah petugas terlihat memindahkan sampah secara manual dari gerobak ke dalam truk.
Kondisi jalan di sekitar lokasi pun tampak becek, tergenang air, dan dipenuhi sampah. Kendaraan roda empat tidak dapat melintas, sementara pengendara sepeda motor harus bergantian karena sebagian badan jalan tertutup truk dan gerobak sampah.
Selain bau menyengat, lalat hijau juga terlihat beterbangan di sekitar tumpukan sampah.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/10/20/68f5c1ddb89cd.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Tiang Monorel Jakarta Dibongkar pada Pekan Ketiga Januari Megapolitan 6 Januari 2026
Tiang Monorel Jakarta Dibongkar pada Pekan Ketiga Januari
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Gubernur DKI Jakarta Pramono memastikan tiang-tiang monorel mangkrak di kawasan HR Rasuna Said dan Senayan mulai dibongkar pada pekan ketiga Januari.
Secara spesifik, pembongkaran kemungkinan dikerjakan pada hari Selasa atau Rabu.
“Untuk pembongkaran monorel seperti yang kemarin kami sampaikan, akan kami lakukan minggu ketiga, apakah hari Selasa atau Rabu depan,” ucap Pramono saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2025).
Pramono menambahkan, pembongkaran akan dikerjakan langsung oleh Pemprov DKI melalui Dinas Bina Marga.
Hal ini dilakukan setelah PT Adhi Karya, sebagai pihak terkait, tidak merealisasikan pembongkaran sesuai batas waktu yang diberikan.
“Adhi Karya sudah kami surati dan batas waktunya sudah lewat, kami akan melakukan sendiri,” kata dia.
Meski berada di kawasan padat lalu lintas, Pramono memastikan tidak akan ada penutupan jalan.
Nantinya, Bina Marga akan mengatur teknis pembongkaran agar kendaraan tetap bisa melintas.
“Tidak dilakukan penutupan jalan. Jadi yang dibongkar tetap dilakukan, dengan pengalaman yang ada, Bina Marga berkoordinasi untuk melakukan pembongkaran, tidak dilakukan penutupan,” ucap Pramono.
Material tiang yang dibongkar nantinya akan menjadi kewenangan penuh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menentukan penempatannya.
Polemik soal pembongkaran
tiang monorel
ini sebenarnya bukan hal baru.
Pada masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), wacana pembongkaran juga sempat muncul.
Semula, Pemprov DKI Jakarta akan membayar tiang-tiang tersebut.
Namun, lantaran perbedaan harga yang sangat jauh, akhirnya pembayaran pun batal dilakukan.
Kala itu, Pemprov DKI Jakarta bahkan mengirim surat pemutusan kerja sama dengan PT Jakarta Monorail (JM), dan Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah menyatakan bahwa tiang-tiang itu harus dibongkar karena tidak menggunakan dana APBD maupun APBN.
“Karena ini bukan uang APBD atau APBN, ini kan PT JM bekerja sama dengan PT Adhi Karya. DKI minta juga untuk bongkar,” ujar Saefullah di Balai Kota DKI Jakarta pada 26 Januari 2015.
Namun, hingga kini, janji pembongkaran itu belum juga terealisasi.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2026/01/06/695cba8f82c37.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/06/695cd1e831e24.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)