Bobby Nasution Bantah Mobil Listrik Rp 1,3 Miliar yang Terbakar Miliknya
Editor
MEDAN, KOMPAS.com
— Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution membantah kabar mobil listrik mewah Hyundai Ioniq 5N Rp 1,3 miliar yang terbakar di Kota Medan merupakan miliknya.
“Bukan (mobil Hyundai Ioniq 5N yang terbakar) dicek saja, itukan terbuka. Enggak ada ditutup-tutupin platnya apa silakan di cek saja. Dicek aja, itu plat mobilnya ada ada semua silakan di cek aja,” jelas
Bobby Nasution
dikutip dari Tribun
Medan
, Jumat (9/1/2026).
Berdasarkan penelusuran, peristiwa kebakaran terjadi Rabu (7/1/2026) pagi di sebuah tempat pencucian dan bengkel mobil di Jalan Sei Asahan, Kelurahan Padang Bulan, Kecamatan Medan Selayang.
Insiden tersebut terekam kamera warga dan menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk mencegah api menjalar ke bangunan bengkel di sekitarnya.
Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Medan, Wandro Abadi Agnellus Malau, membenarkan kejadian tersebut.
“Kejadiannya pada Rabu (7/1/2026) pagi di Jalan Sei Asahan, Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Selayang. Ada mobil yang terbakar dari Mako mobil pemadam kita langsung ke TKP dan dilakukan pemadaman lebih kurang setengah jam. Berdasarkan laporan anggota, yang terbakar mobil listrik,” ujar Wandro.
Wandro menyebut dua unit mobil pemadam diturunkan ke lokasi dan api berhasil dikendalikan dalam waktu sekitar 30 menit. Namun, pihaknya tidak memiliki data mengenai pemilik kendaraan.
“Ada dua unit mobil pemadam kebakaran yang diturunkan. Dan mobil listrik tersebut berhasil dipadamkan dalam waktu 30 menit. Berdasarkan laporan anggota, yang terbakar mobil listrik,” tambahnya.
Sempat muncul pertanyaan publik setelah unggahan informasi kebakaran di grup internal Damkar Kota Medan diketahui dihapus tak lama kemudian.
Menanggapi hal itu, Wandro memastikan personel damkar tetap melaksanakan penanganan sesuai prosedur, namun identitas pemilik kendaraan belum dapat dipastikan.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Gubsu Bobby Nasution Bantah Mobil Listrik yang Terbakar Miliknya, Minta Publik Cek Plat Nomor
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Author: Kompas.com
-
/data/photo/2026/01/08/695fcc2fc5731.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Bobby Nasution Bantah Mobil Listrik Rp 1,3 Miliar yang Terbakar Miliknya Medan 9 Januari 2026
-
/data/photo/2026/01/09/69604e31ee347.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Dana Desa 2026 Dipangkas Drastis, Desa Terpaksa Hapus Program Prioritas Regional 9 Januari 2026
Dana Desa 2026 Dipangkas Drastis, Desa Terpaksa Hapus Program Prioritas
Tim Redaksi
PURWOREJO, KOMPAS.com –
Pemotongan Dana Desa tahun anggaran 2026 bukan sekadar koreksi angka dalam dokumen APBDes. Kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi desa-desa di Indonesia, dengan dampak yang dirasakan langsung hingga ke level paling bawah.
Mulai dari pembangunan yang tersendat, menyusutnya layanan sosial, hingga aparatur desa yang bekerja di bawah tekanan, konsekuensi kebijakan ini nyata di lapangan.
Kepala Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Dwinanto, mengatakan bahwa Dana Desa yang pada 2025 masih menjadi penopang utama pembangunan dan pelayanan publik, pada 2026 mengalami penurunan drastis.
“Akibatnya, banyak desa terpaksa melakukan rasionalisasi besar-besaran yang berujung pada penghapusan berbagai program prioritas,” kata Dwinanto, Jumat (9/1/2026).
Menurut Dwinanto, secara umum
pemotongan Dana Desa
berdampak pada melambatnya pembangunan fisik, berkurangnya program pemberdayaan masyarakat, minimnya dukungan sosial dan layanan dasar, serta meningkatnya beban psikologis aparatur desa yang harus berhadapan langsung dengan keluhan warga.
Kondisi tersebut tergambar jelas di Desa Krandegan, yang menjadi contoh konkret dampak kebijakan pemotongan anggaran.
“Pada 2025, Desa Krandegan menerima Dana Desa sekitar Rp 1,05 miliar. Namun pada 2026, jumlah tersebut anjlok tajam menjadi hanya sekitar Rp 285 juta,” kata Dwinanto.
Penurunan anggaran yang sangat signifikan ini memaksa pemerintah desa mencoret hampir seluruh rencana pembangunan dan pelayanan yang sebelumnya telah disepakati dalam musyawarah desa.
Sejumlah pembangunan infrastruktur mendesak terpaksa dibatalkan. Di antaranya pembangunan dan perbaikan jalan rusak di RW 05 serta pembangunan talud di RW 03 yang sebelumnya telah masuk dalam RKPDes 2026.
Padahal, proyek-proyek tersebut menyangkut akses dan keselamatan warga.
Program sosial juga ikut menjadi korban. Program bedah rumah bagi warga tidak mampu dihapus karena ketiadaan anggaran.
Rencana penambahan serta perawatan lampu penerangan jalan umum (PJU) juga urung dilakukan, meski kebutuhan penerangan malam hari masih tinggi di sejumlah titik. Bahkan, untuk menekan beban anggaran desa, biaya listrik PJU kini harus ditanggung secara swadaya oleh warga.
Layanan publik berbasis digital ikut terdampak. Program internet gratis desa masih dipertahankan, namun kualitas layanan diturunkan. Kecepatan internet yang sebelumnya mencapai 200 Mbps kini dipangkas menjadi 100 Mbps demi menyesuaikan kemampuan keuangan desa.
“Pemotongan paling mencolok terjadi pada Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa. Jika pada 2025 terdapat 14 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), maka pada 2026 jumlahnya dipangkas ekstrem menjadi hanya satu KPM,” tambahnya.
Kondisi ini membuat desa tidak bisa berbuat banyak, meski masih banyak warga yang tergolong rentan dan membutuhkan bantuan.
Sektor ketahanan pangan dan pertanian nyaris lumpuh. Dari anggaran sebelumnya yang mencapai lebih dari Rp300 juta, kini hanya tersisa Rp2.750.000. Nilai tersebut praktis hanya cukup untuk kegiatan simbolis dan jauh dari upaya penguatan pangan desa secara nyata.
“Layanan kesehatan dasar juga ikut tertekan. Anggaran Posyandu yang sebelumnya sebesar Rp61 juta kini tinggal Rp11 juta,” kata Sekretaris Paguyuban Kepala Desa se-Purworejo ini.
Dampaknya, pelayanan kesehatan ibu dan anak harus disederhanakan dan sangat bergantung pada swadaya masyarakat serta dedikasi para kader.
Kondisi tak kalah memprihatinkan terjadi pada operasional pemerintahan desa. Anggaran operasional kantor desa yang pada 2025 mencapai lebih dari Rp28 juta kini dipangkas menjadi hanya Rp4 juta.
Situasi ini berdampak langsung pada kelancaran pelayanan administrasi dan operasional harian pemerintah desa.
Sementara itu, upaya mendorong kemandirian ekonomi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga terpaksa terhenti. Penambahan modal BUMDes ditetapkan nol rupiah.
“Artinya, pengembangan usaha desa tertunda, padahal BUMDes selama ini digadang-gadang sebagai motor ekonomi desa,” kata Dwinanto.
Apa yang dialami Desa Krandegan mencerminkan kondisi banyak desa lain di Indonesia. Ketika Dana Desa tinggal sepertiganya, desa dipaksa memilih antara mempertahankan layanan dasar seadanya atau mengorbankan pembangunan jangka panjang.
Ke depan, desa memang dituntut lebih selektif, transparan, dan inovatif dalam mengelola anggaran yang semakin terbatas. Namun di sisi lain, aparatur desa berharap pemerintah pusat melakukan evaluasi serius terhadap kebijakan pemotongan Dana Desa.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/09/69604af4827d6.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Aksi Pasang Batu Kumbung Tutup Jalan di Blora Diselesaikan Mediasi Regional 9 Januari 2026
Aksi Pasang Batu Kumbung Tutup Jalan di Blora Diselesaikan Mediasi
Tim Redaksi
BLORA, KOMPAS.com –
Aksi blokade jalan di lorong Desa Kalangan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, akhirnya diselesaikan melalui musyawarah antara pihak-pihak terkait.
Blokade jalan
tersebut dilakukan oleh
keluarga Nunuk
dengan memasang batu kumbung setinggi sekitar 40 sentimeter dan sepanjang kurang lebih 20 meter, tepat di depan rumah mereka.
Aksi pemasangan batu kumbung itu dilakukan sekitar empat hari lalu, atau setelah pergantian tahun.
Lorong jalan yang diblokade memiliki lebar sekitar 2 meter dan panjang sekitar 100 meter.
Akibat pemasangan batu kumbung tersebut, kendaraan roda empat tidak dapat melintas, sementara kendaraan roda dua masih bisa melintas dengan hati-hati.
Aksi pemasangan batu kumbung itu diduga dipicu oleh konflik pribadi antara keluarga Nunuk dan keluarga Totok.
Rumah keluarga Totok berada tepat di seberang rumah keluarga Nunuk dan kini hanya dibatasi oleh batu kumbung sepanjang 20 meter tersebut.
Kedua keluarga yang diduga berkonflik kemudian mendatangi Balai Desa Kalangan untuk dilakukan mediasi.
Proses mediasi tersebut dihadiri oleh Kapolsek Tunjungan, Danramil Tunjungan, Camat Tunjungan, dan Kepala Desa Kalangan.
Usai mediasi, disepakati sejumlah poin sekaligus diketahui alasan di balik pemasangan batu kumbung di lorong jalan tersebut.
Kepala Desa Kalangan Mohamad Sholeh mengatakan bahwa blokade jalan yang dilakukan warganya berkaitan dengan status kepemilikan tanah sesuai sertifikat.
“Masih masuk hak milik dia pribadi cuma dulunya dipakai jalan akses warga,” ucap dia saat ditemui usai mediasi, Kamis (8/1/2026).
Namun demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti pemicu utama warga tersebut melakukan aksi blokade.
“Cuma entah ada permasalahan apa saya tidak tahu,” ujar dia.
Berdasarkan kesepakatan dalam mediasi, warga yang memasang batu kumbung bersedia mengurangi ketinggian susunan batu tersebut.
Batu kumbung yang sebelumnya ditumpuk dua lapis akan diturunkan menjadi satu lapis, kemudian diuruk agar tidak terlihat seperti pondasi di tengah jalan.
“Cuma kesepakatannya Batu kumbung yang awal dua sap dikurangi satu sap terus akan diuruk. Jadi supaya tidak ada kelihatan pondasi di tengah aja,” terang dia.
Pihak desa juga telah meninjau langsung lokasi lorong jalan yang dipasang batu kumbung. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, tidak ditemukan pelanggaran yang dilakukan oleh keluarga Nunuk.
“Sekarang kan itu kan nek saya ukur mulai utara sampai barat kan memang hak dia kalau dilaporkan saya malah salah,” jelas dia.
Sementara itu, kedua pihak yang diduga berkonflik memilih tidak memberikan keterangan kepada publik terkait peristiwa tersebut.
Adapun warga lain yang tinggal di sekitar lorong jalan tersebut masih dapat beraktivitas seperti biasa dengan menggunakan jalur alternatif.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/09/69604756984ae.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Gotong Royong Warga Kebumen Patungan Beli Tanah Rp 400 Juta untuk KDMP Regional 9 Januari 2026
Gotong Royong Warga Kebumen Patungan Beli Tanah Rp 400 Juta untuk KDMP
Tim Redaksi
KEBUMEN, KOMPAS.com –
Semangat gotong royong begitu terasa di Desa Tirtomoyo, Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Keterbatasan aset desa justru menjadi pemicu kebersamaan warga untuk membangun masa depan ekonomi desa.
Desa Tirtomoyo tidak memiliki lahan yang cukup untuk membangun gerai dan pergudangan
Koperasi Desa Merah Putih
(KDMP).
Kondisi tersebut mendorong perangkat desa bersama warga berinisiatif patungan membeli tanah senilai Rp 400 juta.
Ketika ketiadaan aset desa menjadi tantangan, warga bersama pemerintah desa sepakat menghimpun dana secara swadaya demi pengadaan lahan pembangunan KDMP.
Sesuai ketentuan, pembangunan gerai dan pergudangan KDMP mensyaratkan ketersediaan lahan minimal seluas 1.000 meter persegi.
Sementara itu, Desa Tirtomoyo tidak memiliki tanah desa dengan luasan tersebut.
“Kalau di desa kami memang tidak mempunyai tanah seluas itu, makanya pihak Pemdes dan warga sekitar sepakat untuk patungan membeli tanah,” kata Kepala Desa Tirtomoyo, Najam, Jumat (9/1/2026).
Najam menjelaskan, pengadaan lahan dilakukan melalui mekanisme swadaya yang disepakati dalam musyawarah desa.
Dalam forum tersebut, dibentuk Tim Panitia Pembebasan Tanah Hibah yang bertugas mengelola seluruh proses pengadaan lahan.
“Musyawarah desa dihadiri tokoh agama, tokoh masyarakat, warga, perangkat desa, BPD, hingga pemilik lahan. Semuanya sepakat bahwa pengadaan lahan dilakukan secara swadaya,” ujar Najam.
Lahan yang akan dibeli merupakan milik warga desa yang kini menetap di Jakarta. Luas tanah mencapai 6.020 meter persegi, jauh melebihi kebutuhan minimal yang dipersyaratkan, dan dinilai menjadi satu-satunya solusi untuk pembangunan KDMP.
Awalnya, harga tanah ditawarkan sebesar Rp 600 juta. Namun karena diperuntukkan bagi kepentingan desa, harga akhirnya disepakati turun menjadi Rp 400 juta.
“Pemilik lahan memahami bahwa tanah ini untuk kepentingan desa. Dari situ muncul kesepakatan harga jadi Rp 400 juta,” kata Najam.
Sesuai perjanjian, pembayaran lahan harus diselesaikan dalam waktu satu tahun. Hingga kini, panitia telah memberikan uang muka sebesar Rp40 juta yang diperoleh melalui pinjaman dari Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma).
“Dananya sementara pinjam Bumesma dulu, kalau dana swadaya sudah terkumpul Rp40 juta, pinjaman itu akan segera dilunasi,” jelasnya.
Sementara itu, dana jariyah swadaya warga yang terkumpul hingga kini mencapai Rp17,9 juta. Desa Tirtomoyo sendiri memiliki sekitar 670 kepala keluarga.
Najam menegaskan, pemerintah desa maupun lembaga desa tidak terlibat langsung dalam pengelolaan dana pembelian tanah. Seluruh proses dikelola oleh panitia yang dibentuk dari unsur warga dan telah diatur melalui peraturan desa serta Surat Keputusan (SK).
“Uang patungan swadaya langsung masuk ke rekening panitia. Pemerintah desa hanya memfasilitasi dan memastikan semuanya berjalan sesuai aturan,” tegasnya.
Selain mengandalkan partisipasi warga yang tinggal di desa, panitia juga berencana membuka ruang kontribusi bagi warga perantauan asal Desa Tirtomoyo.
Pemerintah desa akan menawarkan kesempatan kepada para perantau untuk ikut ambil bagian dalam
pembangunan aset desa
tersebut.
“Patungan diawali oleh perangkat desa dan juga warga. Banyak warga yang antusias membeli tanah ini,” kata dia.
Pembangunan gerai dan pergudangan KDMP direncanakan dimulai bulan depan. Keberadaan gerai ini diharapkan mampu memperkuat aktivitas ekonomi desa dan menjadi pusat distribusi produk-produk lokal.
Tidak hanya itu, sisa lahan yang tersedia juga telah diproyeksikan untuk pembangunan berbagai fasilitas publik, mulai dari PAUD, sekretariat BPD, sekretariat karang taruna, PKK, hingga gedung olahraga (GOR).
“Untuk Paud kan kita belum ada gedung padahal setiap tahun ada sekitar 45 anak. Selama ini masih numpang di rumah gurunya,” kata Najam.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2026/01/09/69604a9ae2e65.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/09/69604ba1517ed.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/08/695f378fdc773.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/05/16/6826b4422c1b9.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/07/695e569cec60a.webp?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2026/01/08/695f782240a7c.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)