Bupati Aceh Utara Minta Data Kerusakan Banjir dan Percepat Pembangunan Huntara
Tim Redaksi
ACEH UTARA, KOMPAS.com
– Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil menginstruksikan semua organisasi perangkat daerah (OPD) di Kabupaten Aceh Utara untuk mendata kerusakan akibat banjir secara rinci selama sepekan ke depan.
Pendataan tersebut harus berdasarkan nama dan nomor induk kependudukan korban banjir.
Tujuannya, memastikan jumlah kerugian dan jumlah korban.
“Sepekan ke depan, data kita sudah perinci, sudah pakai
by name by address
. Organisasi perangkat daerah (OPD), camat, dan kepala desa sedang mendata detail kerugian masyarakat pascabanjir,” kata pria yang akrab disapa Ayahwa ini, Sabtu (20/12/2025).
Dia mencontohkan, data sementara per 20 Desember 2025, total rumah rusak di
Aceh Utara
sebanyak 37.901 unit, dengan rincian rumah rusak berat 6.235 unit, rusak sedang 7.598 unit, rusak ringan 20.233 unit, dan rumah hilang 3.474 unit.
Adapun rumah terendam banjir sebanyak 117.509 unit.
“Data ini harus berdasarkan nama, nomor induk kependudukan, foto, dan lain sebagainya. Harus sedetail mungkin, sehingga begitu program pembangunan hunian sementara atau hunian permanen dimulai, data kita sudah lengkap,” ucap Ayahwa.
Dia juga mengaku telah berkomunikasi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto untuk mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) dan tenda keluarga.
Dengan begitu, sembari menunggu pembangunan hunian sementara, masing-masing kepala keluarga bisa mendapatkan tenda keluarga.
“Kami minta agar Huntara dipercepat, sambil menunggu dibagikan dulu tenda keluarga,” kata dia.
Apalagi, sambung politikus Partai Aceh itu, menjelang bulan Ramadhan, hunian yang lebih layak untuk pengungsi korban banjir sangat dibutuhkan. “Sehingga ibadah selama Ramadhan nyaman,” ucap Ahaywa.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Author: Kompas.com
-
/data/photo/2025/12/16/69404a9d49187.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Bupati Aceh Utara Minta Data Kerusakan Banjir dan Percepat Pembangunan Huntara Regional 21 Desember 2025
-
/data/photo/2025/12/21/6947c7f76276c.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Pameran Foto Au Loim Fain di Surabaya, Ketika Anak-anak Pekerja Migran Jadi Cerita Tak Terucap Surabaya 21 Desember 2025
Pameran Foto Au Loim Fain di Surabaya, Ketika Anak-anak Pekerja Migran Jadi Cerita Tak Terucap
Tim Redaksi
SURABAYA, KOMPAS.com
– Di balik hiruk pikuk perayaan akhir tahun 2025, Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Jawa Timur menghadirkan ruang sunyi yang mengajak pengunjung berhenti sejenak.
Melalui
pameran foto
dokumenter bertajuk ”
Au Loim Fain
“, fotografer
Romi Perbawa
menampilkan potret kehidupan anak-anak
pekerja migran
, kelompok yang kerap berada di pinggir perhatian, tetapi menyimpan persoalan kemanusiaan yang mendalam.
Pameran ini digelar pada 18–22 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Imigran Internasional yang jatuh setiap tanggal 18 Desember dan Hari Ibu di tanggal 22 Desember.
Dua momentum yang secara simbolis merepresentasikan perjalanan, kehilangan, serta relasi anak dan orang tua dalam pusaran migrasi tenaga kerja.
Bagi Romi, “Au Loim Fain” menjadi pameran tunggal foto dokumenternya yang pertama di
Surabaya
.
Meskipun sebagian karyanya berasal dari buku foto yang juga pernah dipamerkan di ArtJog 2023.
“Daripada nganggur di rumah dan belum pernah pameran tunggal dokumenter di Surabaya, akhirnya pameran di sini,” kata Romi kepada jurnalis, termasuk
Kompas.com.
“Saya berharap dengan pameran ini bisa menginspirasi atau menumbuhkan kepedulian teman-teman semua terhadap permasalahan migran worker ini, terutama pada anak-anak. Karena di sini banyak sekali yang tidak muncul di permukaan terhadap permasalahan anak-anak yang perlu perhatian dari kita semua,” tutur dia.
Judul “Au Loim Fain” diambil dari bahasa Nusa Tenggara Timur yang memiliki arti “Aku Ingin Pulang”.
Ungkapan tersebut berasal dari kata-kata terakhir Adelina Sau, pekerja migran Indonesia yang meninggal akibat penyiksaan di Malaysia.
Kalimat tersebut merepresentasikan kerinduan, kehilangan, dan keterasingan yang dialami banyak pekerja migran dan anak-anak mereka.
“Au Loim Fain” adalah proyek dokumenter jangka panjang yang dimulai sejak tahun 2012.
Berawal dari pertemuannya dengan seorang
anak pekerja migran
yang memberikan ikatan emosional, membuat isu ini terus ditekuni.
“Saya mengetahui kehidupannya dan terpikir juga bagaimana anak-anak migran worker lainnya,” kata Romi Perbawa.
“Saya selalu punya idealisme bahwa untuk mengubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik harus dimulai dengan didikan anak-anak karena ini sangat penting,” ucap dia.
Untuk itu, dalam riset di lapangan, ia menemukan berbagai persoalan serius yang dihadapi anak-anak pekerja migran, baik yang ditinggalkan di daerah asal maupun yang lahir di negara penempatan.
Seperti di Malaysia, khususnya wilayah Sabah, banyak anak pekerja migran Indonesia hidup tanpa status kewarganegaraan yang jelas.
Keadaan orangtua mereka yang ilegal berdampak pada kondisi mereka yang rentan dieksploitasi.
“Di beberapa foto tersebut, anak-anak yang orangtuanya lahir di Indonesia dan anaknya lahir di Malaysia, jadi selama ini statusnya abstain kecuali diadopsi orang Malaysia,” ujar fotografer dokumenter internasional itu.
“Anak-anak ini kalau orangtuanya ilegal ketika ada operasi dan ditangkap, mereka juga ikut dipenjara karena tidak ada sanak saudara, termasuk saat dideportasi juga ikut,” kata dia.
Kini, sekitar 20 karya dipamerkan dalam “Au Loim Fain”, termasuk sejumlah foto yang dicetak hitam putih di atas media akrilik dengan efek buram.
Foto-foto tersebut diambil saat ia mendokumentasikan kehidupan di Rumah Merah, pusat tahanan sementara di Sandakan.
“Mereka bukan hanya karena kriminal, tapi juga lahir dan besar di Malaysia. Mereka bukan penjahat dan pencuri, tapi menerima nasib seperti itu,” ucap Romi Perbawa.
“Ada yang hamil sampai melahirkan di dalam penjara. Saya memotret ratusan orang, itu pengalaman yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang,” ujar dia.
Selain Malaysia, ia mendokumentasikan kehidupan pekerja migran di Hong Kong, dengan persoalan berbeda seperti status tidak berdokumen dan tekanan ekonomi.
Romi Perbawa mengakui proyek ini membawa banyak tantangan besar, baik teknis maupun mental.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya proses membangun kepercayaan dengan subyek foto.
“Kan kita kalau mengerjakan proyek itu tidak tahu dapat foto apa, tapi tahu permasalahannya dulu. Bagaimana yang saya foto bisa menerima sehingga keberadaan saya tidak mengganggu. Jadi itu proses juga,” kata fotografer yang pernah menerbitkan buku foto “The Riders of Destiny” (2014).
“Selanjutnya saya tidak mengerjakan proyek seperti ini lagi karena berat di psikologis,” ucap Romi.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/11/20/691f013736f5a.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kronologi Pemotor Tewas Usai Diserempet Mobil Boks di Jalan Ciledug Raya Megapolitan 21 Desember 2025
Kronologi Pemotor Tewas Usai Diserempet Mobil Boks di Jalan Ciledug Raya
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Seorang pria berinisial MR (26) tewas usai motor yang ditumpanginya diserempet sebuah mobil boks di Jalan Ciledug Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Minggu (21/12/2025) pagi.
Kapolsek Pesanggrahan AKP Seala Syah Alam menyampaikan, insiden bermula ketika pengemudi mobil boks, MEP (19), terlibat cekcok dengan pengemudi motor, DP (22), dan MR, saat melaju dari arah Senayan menuju Ciledug.
“Pengendara mobil box dan sepeda motor sudah terjadi cekcok dari depan Lemigas,” kata Seala saat dikonfirmasi
Kompas.com
, Minggu.
Merasa emosi, MEP kemudian menyerempet sepeda motor yang dikemudikan DP.
Bahkan, MEP disebut membanting setir ke kiri sehingga menyebabkan sepeda motor terjatuh.
“Membanting stir ke kiri dan mengenai pengendara sepeda motor dan menabrak tiang listrik,” ujarnya.
Akibat kejadian itu, DP mengalami luka di bagian kepala, dada, tangan kanan, dan kaki kanan, lalu dilarikan ke RS Murni Teguh Ciledug untuk mendapatkan perawatan intensif. Sementara MR dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
“Pengemudi mobik diamankan ke Polsek Pesanggrahan dan selanjutnya dibawa petugas Laka Lantas Aipda Suyanto ke Polres Jakarta Selatan,” lanjut dia.
Polisi turut mengamankan barang bukti berupa satu unit mobil Daihatsu Gran Max bernomor polisi B 9765 VAD beserta STNK, serta satu unit sepeda motor Honda Vario bernomor polisi B 5844 SAY lengkap dengan STNK.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/21/6947df78de5fd.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Hujan dan Angin Kencang, Rumah Makan di Pesisir Bangkalan Ambruk ke Laut Surabaya 21 Desember 2025
Hujan dan Angin Kencang, Rumah Makan di Pesisir Bangkalan Ambruk ke Laut
Tim Redaksi
BANGKALAN, KOMPAS.com
– Sebuah rumah makan bernama ‘Dermaga Rindu’ di Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dilaporkan ambruk ke laut pada Minggu (21/12/2025) sore.
Peristiwa ini terjadi setelah lokasi tersebut diterjang
angin kencang
dan
hujan
deras.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten
Bangkalan
, M Zainul Qomar menjelaskan, hujan dan angin kencang mulai melanda wilayah Bangkalan sekitar pukul 15.00.
Tak lama kemudian, angin kencang tersebut juga menerjang rumah makan yang berkonsep dermaga di pesisir wilayah Labang.
Akibat cuaca buruk tersebut, bagian ujung dermaga rumah makan mengalami kerusakan.
Bahkan, hiasan yang sering dijadikan spot foto oleh pengunjung juga ambruk ke
laut
dan tenggelam.
“Jadi yang rusak itu di bagian ujung dermaga rumah makan tersebut. Itu ambruk dan jatuh ke laut,” ujar Qomar.
Ia menambahkan, jumlah pengunjung di rumah makan tersebut tidak banyak saat kejadian.
Pihak rumah makan pun telah melarang pengunjung memasuki area dermaga sejak angin dan hujan mulai turun.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.
Qomar mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati area dermaga yang rusak tersebut karena dikhawatirkan kerusakan dapat menjalar.
Selain itu, ia meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah, terutama mengingat kondisi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan terjadi di wilayah Bangkalan.
“Kami imbau masyarakat lebih sering melihat prakiraan cuaca sebelum keluar rumah. Lalu jika terjadi hujan atau angin, sebaiknya tidak berteduh di dekat pohon, baliho atau benda besar lain yang mudah ambruk,” pungkasnya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/21/6947c75f671a0.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Penerbangan Banyuwangi-Lombok Resmi Dibuka, Tiketnya Rp 800.000 Surabaya 21 Desember 2025
Penerbangan Banyuwangi-Lombok Resmi Dibuka, Tiketnya Rp 800.000
Tim Redaksi
BANYUWANGI, KOMPAS.com
– Penerbangan perdana Wings Air di Bandara Banyuwangi menandai konektivitas dua destinasi favorit nasional, Banyuwangi-Lombok, Minggu (21/12/2025).
Melalui armada ATR72-500/600 milik Lion Group, rute penerbangan Lombok–
Banyuwangi
pulang pergi dijadwalkan empat kali dalam sepekan, yakni setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.
Pesawat berangkat dari Bandara Internasional Lombok pada pukul 12.30 Wita dan tiba di Bandara Banyuwangi pada pukul 12.30 WIB.
Sementara itu, penerbangan dari Banyuwangi efektif mulai pukul 12.55 WIB dan mendarat di Lombok pada pukul 14.25 Wita.
Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Kualitas Wings Air, Capt Iyus Susianto menilai, Banyuwangi dan Lombok memiliki potensi besar di sektor pariwisata.
“Kami berharap rute ini akan diminati masyarakat maupun wisatawan. Saat ini jadwalnya empat kali seminggu,” ujar Capt Iyus.
Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono menyambut gembira rute baru Lombok-Banyuwangi ini.
Menurutnya, ini akan memacu geliat pariwisata di kedua daerah tersebut.
“Tentunya rute baru ini akan menjadi tambahan pendorong perekonomian dan pariwisata Banyuwangi, terutama. Banyuwangi dapat terhubung langsung dengan Lombok, salah satu destinasi favorit wisatawan,” kata Mujiono.
Dengan aksesibilitas yang kian mudah, Mujiono berharap rute ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan serta investasi di Banyuwangi.
“Momennya pas, dibuka bersamaan dengan momen libur sekolah dan Nataru. Semoga dapat membawa berkah untuk kedua daerah,” kata Mujiono.
Salah satu penumpang, Roman asal Ukraina, mengaku gembira atas adanya rute tersebut.
“Ini sangat memudahkan kita. Tidak harus transit ke Bali atau Surabaya saat akan ke Lombok,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Andan, warga Banyuwangi yang akan mengunjungi kerabatnya di Lombok.
“Biasanya saya harus menempuh perjalanan belasan jam, kini cukup hanya sejam. Hemat waktu dan harga tiketnya masuk akal,” kata Andan.
Pihak Wings Air mematok harga tiket rute
Banyuwangi-Lombok
kisaran Rp 800.000-Rp 900.000.
Hadirnya rute Lombok-Banyuwangi tersebut melengkapi rute yang telah ada.
Sebelumnya, Bandara Banyuwangi telah melayani rute Jakarta-Banyuwangi PP (setiap hari) dan Surabaya-Banyuwangi (empat kali sepekan).
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/21/6947e6ec0640b.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Tanpa Sambutan Pemda, Dua Atlet Futsal Putri Peraih Perak SEA Games Tiba di Kupang Regional 21 Desember 2025
Tanpa Sambutan Pemda, Dua Atlet Futsal Putri Peraih Perak SEA Games Tiba di Kupang
Tim Redaksi
KUPANG, KOMPAS.com
– Dua atlet futsal putri Indonesia asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Asselah Terecita Lukuaka dan Quisepina Olin, tiba di Kupang tanpa penyambutan resmi dari pemerintah daerah, meski baru saja mengharumkan nama bangsa dengan meraih medali perak SEA Games Thailand.
Asselah (18) dan Quisepina (21) mendarat di Bandara El Tari Kupang, Minggu (21/12/2025).
Kedatangan atlet asal Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) itu luput dari perhatian Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) maupun Pemerintah Provinsi NTT.
Meski demikian, Asselah mengaku tidak mempermasalahkan absennya penjemputan.
Ia menegaskan kebanggaan tetap menyertai pencapaian mereka di ajang olahraga internasional tersebut.
“Dari NTT hanya kami berdua. Rasanya bangga bisa membawa nama Indonesia di SEA Games Thailand dan juga membawa nama NTT ke kancah internasional,” ujar Asselah kepada wartawan.
Asselah menceritakan, perjalanan menuju tim inti SEA Games tidaklah mudah. Sejak proses seleksi hingga menjadi bagian dari skuad utama, rasa gugup terus menghantui, terutama karena keduanya masih berstatus pemain muda.
“Kalau dibilang kondisi pastinya gugup, tapi karena sudah sering bertanding, mental itu terbentuk dengan sendirinya,” katanya.
Pada ajang SEA Games Thailand, tim futsal putri Indonesia harus mengakui keunggulan Vietnam dengan skor 0-5. Asselah mengaku belum berhasil mencetak gol dalam pertandingan tersebut.
“Belum rezekinya cetak gol. Kami kalah dari Vietnam,” ucapnya.
Menurut Asselah, persiapan menuju SEA Games dilakukan selama empat bulan. Tiga bulan di antaranya dijalani melalui pemusatan latihan di Yogyakarta, dilanjutkan satu bulan di Jakarta sebelum bertolak ke Thailand.
“Kami satu grup dengan Vietnam dan Myanmar. Persiapannya cukup panjang dan matang,” jelasnya.
Setibanya di Jakarta, tim futsal putri Indonesia sempat mendapat penyambutan dari federasi. Namun, terkait bonus dari Kementerian Pemuda dan Olahraga maupun dari Pemerintah Provinsi NTT, hingga kini belum ada kepastian.
“Kalau bonus dari Kemenpora belum ada kabar, tapi pasti ada. Dari NTT juga belum tahu,” ujarnya.
Sementara itu, Quisepina Olin mengaku SEA Games Thailand menjadi pengalaman paling berharga dalam kariernya. Ajang tersebut merupakan debut pertamanya di tingkat internasional.
“Senang sekali karena ini pertama kali saya ikut SEA Games. Saya juga sempat mencetak dua gol,” kata Quisepina.
Meski pulang tanpa penyambutan resmi di daerah asal, kedua atlet muda NTT itu berharap prestasi yang mereka raih dapat menjadi motivasi bagi generasi muda di NTT untuk terus berjuang dan berprestasi di dunia olahraga.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/21/6947e6ec0640b.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Tanpa Sambutan Pemda, Dua Atlet Futsal Putri Peraih Perak SEA Games Tiba di Kupang Regional 21 Desember 2025
Tanpa Sambutan Pemda, Dua Atlet Futsal Putri Peraih Perak SEA Games Tiba di Kupang
Tim Redaksi
KUPANG, KOMPAS.com
– Dua atlet futsal putri Indonesia asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Asselah Terecita Lukuaka dan Quisepina Olin, tiba di Kupang tanpa penyambutan resmi dari pemerintah daerah, meski baru saja mengharumkan nama bangsa dengan meraih medali perak SEA Games Thailand.
Asselah (18) dan Quisepina (21) mendarat di Bandara El Tari Kupang, Minggu (21/12/2025).
Kedatangan atlet asal Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) itu luput dari perhatian Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) maupun Pemerintah Provinsi NTT.
Meski demikian, Asselah mengaku tidak mempermasalahkan absennya penjemputan.
Ia menegaskan kebanggaan tetap menyertai pencapaian mereka di ajang olahraga internasional tersebut.
“Dari NTT hanya kami berdua. Rasanya bangga bisa membawa nama Indonesia di SEA Games Thailand dan juga membawa nama NTT ke kancah internasional,” ujar Asselah kepada wartawan.
Asselah menceritakan, perjalanan menuju tim inti SEA Games tidaklah mudah. Sejak proses seleksi hingga menjadi bagian dari skuad utama, rasa gugup terus menghantui, terutama karena keduanya masih berstatus pemain muda.
“Kalau dibilang kondisi pastinya gugup, tapi karena sudah sering bertanding, mental itu terbentuk dengan sendirinya,” katanya.
Pada ajang SEA Games Thailand, tim futsal putri Indonesia harus mengakui keunggulan Vietnam dengan skor 0-5. Asselah mengaku belum berhasil mencetak gol dalam pertandingan tersebut.
“Belum rezekinya cetak gol. Kami kalah dari Vietnam,” ucapnya.
Menurut Asselah, persiapan menuju SEA Games dilakukan selama empat bulan. Tiga bulan di antaranya dijalani melalui pemusatan latihan di Yogyakarta, dilanjutkan satu bulan di Jakarta sebelum bertolak ke Thailand.
“Kami satu grup dengan Vietnam dan Myanmar. Persiapannya cukup panjang dan matang,” jelasnya.
Setibanya di Jakarta, tim futsal putri Indonesia sempat mendapat penyambutan dari federasi. Namun, terkait bonus dari Kementerian Pemuda dan Olahraga maupun dari Pemerintah Provinsi NTT, hingga kini belum ada kepastian.
“Kalau bonus dari Kemenpora belum ada kabar, tapi pasti ada. Dari NTT juga belum tahu,” ujarnya.
Sementara itu, Quisepina Olin mengaku SEA Games Thailand menjadi pengalaman paling berharga dalam kariernya. Ajang tersebut merupakan debut pertamanya di tingkat internasional.
“Senang sekali karena ini pertama kali saya ikut SEA Games. Saya juga sempat mencetak dua gol,” kata Quisepina.
Meski pulang tanpa penyambutan resmi di daerah asal, kedua atlet muda NTT itu berharap prestasi yang mereka raih dapat menjadi motivasi bagi generasi muda di NTT untuk terus berjuang dan berprestasi di dunia olahraga.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/21/6947ea5c4db70.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Wagub Aceh Jatuh ke Sungai saat Tinjau Wilayah Terdampak Banjir di Aceh Tengah Regional 21 Desember 2025
Wagub Aceh Jatuh ke Sungai saat Tinjau Wilayah Terdampak Banjir di Aceh Tengah
Tim Redaksi
BANDA ACEH, KOMPAS.com
–Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) jatuh ke sungai saat meninjau wilayah terisolir terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (21/12/2025).
Insiden itu terjadi ketika rombongan harus menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat akibat akses jalan rusak parah diterjang bencana.
Dalam perjalanan menuju kawasan Pameu, rombongan
Wakil Gubernur Aceh
bersama General Manager PLN terpaksa menempuh jalur alternatif.
Berdasarkan video kejadian yang beredar, tampak Fadhlullah bersama rombongan menyeberangi sungai menggunakan rakit sederhana berbahan papan dan drum.
Arus sungai terlihat cukup deras, dengan air berwarna kecokelatan membawa lumpur sisa banjir.
Saat rakit berada di tengah sungai, keseimbangannya terganggu. Rakit kemudian miring dan terbalik, membuat Fadhlullah serta beberapa anggota rombongan tercebur ke sungai.
Terdengar teriakan panik dalam video, sementara warga dan petugas di tepi sungai segera berusaha memberikan pertolongan.
Meski sempat menimbulkan kepanikan, seluruh rombongan berhasil dievakuasi dengan selamat. Tidak ada korban jiwa maupun luka serius dalam peristiwa tersebut.
Humas Pemprov Aceh mengonfirmasi peristiwa dalam video. Meski sempat ada insiden tersebut, peninjauan tetap dilanjutkan.
Fadhlullah dalam keterangan tertulisnya mengatakan, kunjungan ke Aceh Tengah merupakan bagian dari langkah Pemerintah Aceh dalam menangani dampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah kabupaten dan kota.
Bencana banjir dan longsor tersebut telah menyebabkan kerusakan infrastruktur, permukiman warga, serta mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, terutama di daerah terpencil.
“Pemerintah Aceh berharap koordinasi lintas sektor dapat diperkuat, penyaluran bantuan dapat dipercepat, serta proses pemulihan infrastruktur dan layanan dasar bagi masyarakat terdampak dapat segera dilakukan secara terukur dan berkelanjutan,” kata Fadhlullah.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2015/06/30/1420471011-fot0149780x390.JPG?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/21/6947c893eb7b3.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)