Pedagang Keluhkan Lapak Sementara Pasar Induk Kramat Jati Terlalu Sempit
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Muin (53), pedagang pepaya di Pasar Induk Kramat Jati, mengeluhkan ukuran tempat penampungan sementara yang dinilai terlalu kecil untuk menampung dagangannya.
Tempat penampungan sementara tersebut hingga kini masih dalam tahap pengerjaan setelah lapak buah di pasar tersebut terbakar pada Senin (15/12/2025).
“Lapak (sementara) ya kecil, sedangkan kita kalau masuk dagangan tuh minimal, mini-minimnya tujuh ton coba bayangin. Kalau sedangkan tempatnya itu enggak memadai coba,” ucap Muin di
Pasar Induk Kramat Jati
, Senin (22/12/2025).
Menurut Muin, seharusnya pengelola pasar memberikan kebijakan dengan memperbolehkan pedagang berjualan di jalan sekitar lokasi kebakaran agar usaha tetap berjalan.
“Ya solusinya gimana, sedangkan yang tempat yang ada ini. Ya seharusnya kalau ada kebijaksanaan ya nempel di manapun yang penting masih bisa usaha, begitu,” kata dia.
Ia juga bingung dengan lamanya proses pembangunan yang diperkirakan memakan waktu hingga lebih dari satu tahun, padahal kerusakan akibat kebakaran dinilai tidak terlalu parah.
“Makanya permasalahannya kemarin apa? Kenapa bangun ini kok sampai ngasih jarak sampai 18 bulan, Artinya kan 1,5 tahun,” jelas Muin.
Keluhan serupa disampaikan Par (60), pedagang buah pepaya lainnya. Ia menilai tempat penampungan sementara tersebut tidak sesuai dan tidak layak digunakan.
“Saya ngemper saja, enggak apa-apa, tapi kalau mau dibangun pindah, enggak usah. Kalau memang mau dibangun dikerjain kita pindah sendiri tempatnya Kurang lebar terlalu sempit,” kata Par.
Par mengaku mendapat informasi bahwa ukuran lapak sementara hanya sekitar 1,5 meter, lebih kecil dibandingkan lapak sebelumnya.
“Kalau pindah ke sana pelanggan pada bingung kalau di sini kan enggak jauh kalau disuruh nyeberang gitu enggak apa-apa. Pemasukan jauh berkurang. Ini aja pada nyari tapi saya masih di tempat biasa di emperan,” ujar dia.
Ia berharap seluruh pedagang dapat dipindahkan ke lokasi sementara yang lebih layak dan memiliki ukuran memadai.
“Kami inginnya semua pindah tapi tempatnya harus lebar, kalau itu enggak layak ditempati, barang itu tumpuk-tumpukan,” ujar Par.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI
Jakarta
mengaktivasi tempat penampungan sementara (TPS) bagi pedagang yang terdampak kebakaran di bangunan subgrosir C2 Pasar Induk Kramat Jati.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, langkah ini dilakukan sebagai upaya pemulihan bagi para pedagang.
“Sesuai arahan Bapak Gubernur (Pramono Anung), penanganan ini kami lakukan dengan cepat agar tidak mengganggu suplai dan pengadaan komoditas, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru,” ujarnya dalam siaran pers Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta, Minggu (21/12/2025)
TPS sudah dapat mulai digunakan oleh para pedagang pada Minggu (21/12/2025).
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta menyalurkan bantuan tunai sebesar Rp 5 juta kepada setiap pedagang yang terdampak kebakaran.
Dinas Kominfotik Pemprov DKI Jakarta mencatat, sebanyak 350 tempat usaha dengan 117 pedagang buah, khususnya pisang dan pepaya, terdampak dalam peristiwa kebakaran tersebut.
Selain bantuan uang tunai, Pemprov DKI juga memberikan kemudahan akses pengajuan kredit usaha melalui Bank Jakarta.
Sementara itu, proses renovasi area pasar yang terdampak akan dilakukan melalui mekanisme asuransi karena seluruh kawasan tersebut telah diasuransikan.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Author: Kompas.com
-
/data/photo/2025/12/22/69492f24c5d06.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Pedagang Keluhkan Lapak Sementara Pasar Induk Kramat Jati Terlalu Sempit Megapolitan 22 Desember 2025
-
/data/photo/2025/12/10/69394c266e744.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Siap Patuhi Keputusan Mustasyar, Gus Yahya: Sejak Detik Pertama Saya Ingin Islah
Siap Patuhi Keputusan Mustasyar, Gus Yahya: Sejak Detik Pertama Saya Ingin Islah
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan kesiapannya untuk menjalankan islah sesuai keputusan mustasyar yang dihasilkan dalam Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/12/2025).
Gus Yahya
menegaskan bahwa sejak awal dirinya menginginkan
islah
yang berpijak pada kebenaran, bukan kompromi terhadap kebatilan sebagai jalan keluar atas dinamika yang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Sejak detik pertama saya senantiasa menginginkan islah. Saya siap
bina al-haq bina al-haq bina al-haq
, bukan
bina al-batil
,” ujar Gus Yahya dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).
Ia menegaskan sikap
taslim
dan kepatuhan penuh terhadap keputusan yang dihasilkan melalui kesepakatan PWNU, PCNU, serta tafsir para mustasyar yang menjadi rujukan dalam
Musyawarah Kubro
.
“Saya sepenuhnya
taslim
kepada keputusan yang telah disepakati oleh PWNU dan PCNU, serta tafsir para mustasyar,” lanjutnya.
Gus Yahya juga menekankan keterbukaannya untuk dilakukan pemeriksaan dan
tabayun
atas berbagai tuduhan yang diarahkan kepadanya.
Ia meminta agar proses tersebut dilakukan secara terbuka dengan menghadirkan bukti dan saksi yang sah.
“Saya senantiasa terbuka untuk diperiksa dan ditabayunkan atas apa pun yang dituduhkan kepada saya, melalui cara apa pun, dengan menghadirkan seluruh bukti dan saksi yang diperlukan,” ucapnya.
Gus Yahya mengaku telah berupaya menghubungi Rais Aam
PBNU
untuk meminta waktu bertemu guna menindaklanjuti kesepakatan forum.
Namun, hingga saat ini belum ada respons yang diterimanya.
“Begitu mendengar kesepakatan PWNU dan PCNU, saya langsung mengirim pesan kepada Rais Aam untuk memohon waktu bertemu. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban,” katanya.
Gus Yahya menyatakan akan menunggu hingga batas waktu 3 x 24 jam sebelum melaporkan hasilnya kepada forum.
Sebelumnya, para sesepuh dan alim ulama Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Musyawarah Kubro untuk menyikapi konflik yang tengah terjadi di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam forum musyawarah yang berlangsung di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/12/2025).
Atas kondisi itu, pembahasan para peserta forum Musyawarah Kubro Alim Ulama dan Sesepuh NU tersebut menghasilkan sejumlah hal.
Mulai dari tetap menyerukan terjadinya islah hingga ultimatum Muktamar Luar Biasa (MLB).
Demi menjaga keutuhan Jam’iyyah dan mengembalikan kehormatan Nahdlatul Ulama, Musyawarah Kubro meminta kepada Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU untuk melakukan islah secara sungguh-sungguh, paling lambat dalam waktu 3×24 jam, terhitung sejak Ahad, 21 Desember 2025 pukul 12.00 WIB.
Apabila islah tidak dapat dilaksanakan, Musyawarah Kubro meminta kepada kedua pihak untuk menyerahkan kewenangan dan kepercayaan kepada Mustasyar PBNU guna menyelenggarakan Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026, dalam waktu 1×24 jam setelah berakhirnya tenggat waktu islah.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/10/69394c266e744.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Siap Patuhi Keputusan Mustasyar, Gus Yahya: Sejak Detik Pertama Saya Ingin Islah
Siap Patuhi Keputusan Mustasyar, Gus Yahya: Sejak Detik Pertama Saya Ingin Islah
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan kesiapannya untuk menjalankan islah sesuai keputusan mustasyar yang dihasilkan dalam Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/12/2025).
Gus Yahya
menegaskan bahwa sejak awal dirinya menginginkan
islah
yang berpijak pada kebenaran, bukan kompromi terhadap kebatilan sebagai jalan keluar atas dinamika yang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama.
“Sejak detik pertama saya senantiasa menginginkan islah. Saya siap
bina al-haq bina al-haq bina al-haq
, bukan
bina al-batil
,” ujar Gus Yahya dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).
Ia menegaskan sikap
taslim
dan kepatuhan penuh terhadap keputusan yang dihasilkan melalui kesepakatan PWNU, PCNU, serta tafsir para mustasyar yang menjadi rujukan dalam
Musyawarah Kubro
.
“Saya sepenuhnya
taslim
kepada keputusan yang telah disepakati oleh PWNU dan PCNU, serta tafsir para mustasyar,” lanjutnya.
Gus Yahya juga menekankan keterbukaannya untuk dilakukan pemeriksaan dan
tabayun
atas berbagai tuduhan yang diarahkan kepadanya.
Ia meminta agar proses tersebut dilakukan secara terbuka dengan menghadirkan bukti dan saksi yang sah.
“Saya senantiasa terbuka untuk diperiksa dan ditabayunkan atas apa pun yang dituduhkan kepada saya, melalui cara apa pun, dengan menghadirkan seluruh bukti dan saksi yang diperlukan,” ucapnya.
Gus Yahya mengaku telah berupaya menghubungi Rais Aam
PBNU
untuk meminta waktu bertemu guna menindaklanjuti kesepakatan forum.
Namun, hingga saat ini belum ada respons yang diterimanya.
“Begitu mendengar kesepakatan PWNU dan PCNU, saya langsung mengirim pesan kepada Rais Aam untuk memohon waktu bertemu. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban,” katanya.
Gus Yahya menyatakan akan menunggu hingga batas waktu 3 x 24 jam sebelum melaporkan hasilnya kepada forum.
Sebelumnya, para sesepuh dan alim ulama Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Musyawarah Kubro untuk menyikapi konflik yang tengah terjadi di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam forum musyawarah yang berlangsung di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Minggu (21/12/2025).
Atas kondisi itu, pembahasan para peserta forum Musyawarah Kubro Alim Ulama dan Sesepuh NU tersebut menghasilkan sejumlah hal.
Mulai dari tetap menyerukan terjadinya islah hingga ultimatum Muktamar Luar Biasa (MLB).
Demi menjaga keutuhan Jam’iyyah dan mengembalikan kehormatan Nahdlatul Ulama, Musyawarah Kubro meminta kepada Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU untuk melakukan islah secara sungguh-sungguh, paling lambat dalam waktu 3×24 jam, terhitung sejak Ahad, 21 Desember 2025 pukul 12.00 WIB.
Apabila islah tidak dapat dilaksanakan, Musyawarah Kubro meminta kepada kedua pihak untuk menyerahkan kewenangan dan kepercayaan kepada Mustasyar PBNU guna menyelenggarakan Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026, dalam waktu 1×24 jam setelah berakhirnya tenggat waktu islah.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2019/03/12/127053551.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Hunian Tak Layak di Jakarta: 20 Orang Tidur Bergantian di Satu Rumah Megapolitan 22 Desember 2025
Hunian Tak Layak di Jakarta: 20 Orang Tidur Bergantian di Satu Rumah
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan (PDI-P) DPRD DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo, menyebut masih banyak rumah tak layak huni di Jakarta yang kerap luput dari perhatian pemerintah.
Temuan lapangan menunjukkan satu rumah petak di beberapa wilayah padat penduduk bisa dihuni puluhan orang.
“Di daerah itu, mereka itu enggak sedikit yang satu rumah petak kecil dihuni oleh 16 sampai 20 anggota keluarganya,” ujar Rio dalam diskusi publik
“Refleksi Akhir Tahun 2025: Jejak Aspirasi Rakyat Jakarta”
di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Barat, Senin (22/12/2025).
Akibat kepadatan penduduk yang tinggi itu, warga tidak memiliki ruang yang memadai untuk beristirahat secara bersamaan, sehingga mereka terpaksa tidur bergantian demi menyesuaikan dengan keterbatasan tempat yang ada.
“Tidurnya shift-shiftan (bergantian). Nah oleh sebab itu, bagi kami Fraksi PDI Perjuangan, mereka itu harus punya tempat yang layak, menghadirkan keadilan adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi,” tambah Rio.
Ketua Fraksi PDI-P DPRD DKI Jakarta, Pantas Nainggolan, menyebut fakta kemiskinan sering tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi Jakarta.
“Begitu kita masuk kadang-kadang membuat kita juga terenyuh dengan fakta-fakta yang ada. Ada kadang-kadang kita temukan orang yang tidurnya pun harus sif-sifan,” ujar Pantas.
Fenomena tidur bergantian terjadi karena kepadatan penduduk dan keterbatasan ekonomi warga.
“Nah, karena padatan dan keterbatasan ruang dan di samping juga karena kemampuan ekonomi yang sangat terbatas,” jelasnya.
Rio menilai kondisi ini ironi di tengah status Jakarta sebagai kota megah.
Ia mengingatkan Pemprov DKI agar pengembangan Kota Global juga memperhatikan kesejahteraan warga.
“Jakarta memang sebagai kota megah, kota kaya raya. Begitu datanya. Tapi Jakarta sesungguhnya adalah kota yang sangat ekstrem, ekstrem yang kayanya kaya banget, ekstrem yang miskinnya miskin banget,” kata Rio.
“Makanya enggak heran kenapa Rhoma Irama bikin lagu ‘Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.’ Kurang lebih kayak gitu. Nah Jakarta disuguhkan oleh kondisi seperti itu,” sambungnya.
Menurut Rio, tingkat kesenjangan di Jakarta adalah tertinggi kedua di Indonesia setelah DIY, dengan rasio 4,48 persen.
“Jangan sampai kemudian Kota Global dimaknai hanya sebagai kota yang berdaya saing. Pertanyaannya kalau berdaya saing, yang bisa bersaing siapa? Bagi kami mau Kota Global atau tidak, yang penting bahwa rakyat dan warga Jakarta mendapatkan keadilan yang hadirnya nyata,” ucap Rio.
Pantas pun berjanji akan menelusuri aspirasi warga di 724 titik selama reses, agar tidak ada wilayah yang luput dari perhatian DPRD.
“Dalam reses itu bisa 724 titik, nah, saya sendiri bertekad untuk bisa hadir di setiap RW. Nah, kalau setiap RW sudah terlampaui, khususnya di daerah pemilihan saya, saya akan mencoba tampil di beberapa RT,” kata Pantas.
Ia optimistis masalah hunian tak layak bisa diatasi melalui sinergi dengan Pemprov DKI.
“Sekarang ini dengan kepemimpinan Mas Pram dan Bang Doel sebagai gubernur, Fraksi PDI Perjuangan terus terang saja mendapat kekuatan baru, energi baru karena bisa kolaborasi dengan pemerintahan,” tutur Pantas.
Dengan koneksi yang kuat antara legislatif dan eksekutif, Pantas yakin aspirasi warga bisa diubah menjadi kebijakan yang nyata.
“Itu menjadi kesempatan yang baik untuk bisa memperjuangkan aspirasi yang kita serap di tengah-tengah masyarakat supaya bisa ditindaklanjuti oleh semua perangkat-perangkat yang ada,” pungkasnya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/22/6949376ef1ea8.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
8 Diduga Rugikan Negara Rp 133 Miliar, Eks Direktur Pelaksana PT Inalum Ditahan di Tanjung Gusta Medan
Diduga Rugikan Negara Rp 133 Miliar, Eks Direktur Pelaksana PT Inalum Ditahan di Tanjung Gusta
Tim Redaksi
MEDAN, KOMPAS.com
– Direktur Pelaksana PT Inalum, Oggy Achmad Kosasih, periode 2019-2021 ditetapkan menjadi tersangka atas dugaan korupsi penjualan aluminium alloy tahun anggaran 2018-2024.
“Tersangka ditahan di Rutan Kelas IA Tanjung Gusta Medan selama 20 hari ke depan,” kata Bani Ginting, Koordinator Bidang Pidsus Kejati Sumut saat diwawancarai di Kantor Kejati Sumut pada Senin (22/12/2025).
Iwan menyampaikan, saat ini tim penyidik terus bekerja melakukan pendalaman dan jika ditemukan adanya keterlibatan orang atau pihak lain baik perorangan maupun koorporasi tentu akan dilakukan tindakan hukum sebagaimana mestinya.
Oggi diduga melakukan dugaan tindak pidana
korupsi
itu bersama dua tersangka yang sebelumnya sudah ditangkap Kejati Sumut.
Yakni, pertama Dante Sinaga, selaku Senior Executive Vice President Pengembangan Usaha PT
Inalum
tahun 2019. Kedua, Joko Susilo, selaku Kepala Departemen Sales dan Marketing PT Inalum 2019.
Sebelumnya diberitakan, Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sumut, Jeffry menjelaskan, bahwa PT Inalum menjual aluminium alloy ke PT Prima Alloy Steel Universal (PASU) sejak tahun 2019.
“Mereka diduga mengubah skema pembayaran yang harus cash dan SKBN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) menjadi Dokumen Agen Acceptance (D/A) dengan Tenor selama 180 hari,” kata Jeffry saat diwawancarai di Kantor Kejati Sumut pada Rabu (17/12/2025.
Alhasil, lanjut Jeffry, PT PASU tidak melakukan pembayaran atas aluminim alloy tersebut sehingga kerugian negara diperkirakan mencapai delapan juta dolar Amerika.
“Jika dikonversi dalam rupiah saat ini diperkirakan mencapai Rp 133.496.000.000. Namun untuk kepastian nominal kerugian negaranya saat ini masih dalam proses perhitungan,” sebut Jeffry.
Kedua tersangka pun dikenakan Pasal Pasal 2 ayat (1) Subsidair Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/21/6947f834a29f7.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kala Megahnya Bangunan Bersejarah Stasiun Tanjung Priok Tenggelam oleh Angkot dan PKL Megapolitan 22 Desember 2025
Kala Megahnya Bangunan Bersejarah Stasiun Tanjung Priok Tenggelam oleh Angkot dan PKL
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Suasana depan
Stasiun Tanjung Priok
, Jakarta Utara, kerap semrawut dengan angkot yang menunggu penumpang dan pedagang kaki lima (PKL) berjualan di trotoar.
Kondisi ini membuat bangunan bersejarah Stasiun Tanjung Priok yang dibangun sejak 1914 nyaris tenggelam secara visual, meski berada di lokasi strategis dan masih aktif melayani ribuan penumpang setiap hari.
Suara bising klakson kendaraan terdengar hampir setiap menit di depan Stasiun Tanjung Priok.
Para pengendara menyalakan klakson untuk mendorong angkot-angkot yang mengetem agar segera berjalan. Puluhan angkot lebih senang menunggu penumpang di depan stasiun dibanding masuk ke terminal di seberangnya.
Jalan di depan stasiun dilalui berbagai kendaraan, mulai dari sepeda motor, bus, hingga truk trailer, sehingga sering terjadi perebutan jalan antara angkot dan truk.
Semrawutnya kondisi ini diperparah oleh keberadaan PKL yang menjajakan minuman kemasan, es kelapa, gorengan, dan rokok di atas trotoar persis depan stasiun.
Keberadaan
PKL dan angkot
membuat megahnya bangunan putih bersejarah Stasiun Tanjung Priok seolah tenggelam.
“Pas pertama ke stasiun ini enggak kelihatan kalau ini stasiun karena ketutupan banyak angkot ngetem sama PKL,” ungkap Sera (31), penumpang KRL Commuter Line, Jumat (19/12/2025).
Sera berharap area depan stasiun ditata lebih rapi, dengan tetap memberikan tempat khusus bagi PKL agar mereka bisa berjualan.
“Kalau ditertibin bagus tapi kasihan mereka, kalau bisa sih bikinin tempat aja jadi lebih tertata enggak ganggu lalu lalang masuk, dan mereka bisa tetap jualan,” jelasnya.
Senada, Sri (43), penumpang KRL lainnya, meminta agar PKL disediakan lokasi khusus di sekitar stasiun.
Ia juga menilai angkot sebaiknya tetap boleh berhenti di depan stasiun dengan durasi singkat, agar penumpang tidak harus menyeberang jalan berisiko.
“Kalau mereka di dalam stasiun ribet, kita harus menyeberang, kendaraan gede-gede. Lebih baik boleh berhenti sebentar, terus langsung jalan,” tuturnya.
Sejarawan Asep Kambali menekankan pentingnya penataan
tata kelola ruang
di Stasiun Tanjung Priok.
“Yang perlu dibenahi bukan bangunannya tapi tata kelola ruang, baik interior atau eksterior,” katanya.
Area depan stasiun,
drop-off
penumpang, PKL, dan angkot harus ditata agar bangunan bersejarah tetap terlihat.
Asep menambahkan, seharusnya penataan mengacu pada era Belanda, di mana gedung memiliki area depan yang lapang. Jika PKL dan angkot tidak ditata rapi, arsitektur bersejarah stasiun akan semakin tenggelam.
“Dari luar juga rusak secara visual, dia tidak bisa dinikmati sebagai bentuk unik, malah PKL dan angkot jadi tenggelam,” jelasnya.
Asep menegaskan, hidupnya Stasiun Tanjung Priok bukan berarti area depannya harus semrawut, justru harus benar-benar dijaga karena merupakan
cagar budaya
.
Stasiun Tanjung Priok resmi menjadi cagar budaya pada 1993. Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menjelaskan bangunan stasiun mengusung gaya arsitektur modern awal dengan pengaruh kubisme.
Bentuk dominan bangunan adalah persegi, baik keseluruhan maupun bidang-bidang bukaan seperti pintu dan jendela.
“Bentuk dominan bangunan stasiun ini adalah persegi, baik bentuk keseluruhan bangunan maupun bidang-bidang bukaan, seperti pintu dan jendela,” ungkap Franoto.
Ornamen Art Deco, kaca patri, profil keramik, kolom besar, tangga, struktur baja melengkung, serta dinding marmer menambah kesan megah.
Selain itu, struktur baja melengkung di bangunan utama memberi kesan kokoh dan megah. Area loket penjualan karcis berupa ceruk yang dipertegas dengan lapisan dinding marmer juga menambah unsur mewah dari bangunan stasiun ini.
Franoto bilang, sekitar tahun 2009 hingga 2015, Stasiun Tanjung Priok pernah direvitalisasi, namun perubahannya tidak begitu signifikan, sebab merupakan cagar budaya yang bangunan aselinya harus benar-benar dijaga.
Sudah 32 tahun lamanya, stasiun ini resmi ditetapkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya yang harus dilestarikan. Ditetapkannya sebagai cagar budaya bukan tanpa alasan, tapi karena Stasiun Tanjung Priok menyimpan banyak sejarah.
Stasiun ini dibangun pada 1914 oleh C.W. Koch dari Staats Spoorwegen (SS) saat pemerintahan Gubernur Jenderal A.F.W. Idenburg dan merupakan karya C. W. Koch, insinyur utama dari Staats Spoorwegen (SS) atau perusahaan kereta api (KA) Hindia Belanda kala itu.
Terletak berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok, stasiun melayani perdagangan, wisatawan Eropa, pekerja pelabuhan, pedagang, jalur barang ekspor-impor, dan keberangkatan jamaah haji melalui jalur laut.
Letak stasiun ini bersebelahan dengan Pelabuhan Tanjung Priok yang dibangun pada akhir abad ke-19 oleh Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge.
“Pada masa itu, Stasiun Tanjung Priok mengakomodasi perdagangan dan wisatawan Eropa di Batavia karena wilayah Tanjung Priok terletak di bagian utara Jakarta merupakan hutan dan rawa-rawa yang berbahaya,” ungkap Franoto.
Oleh karena itu, dibutuhkan sarana transportasi yang aman untuk menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan pusat lewat Batavia Centrum atau Stasiun Jakarta Kota.
Stasiun digunakan secara resmi pada 6 April 1925 bersamaan pembukaan jalur Tanjung Priok – Batavia Centrum (sekarang Jakarta Kota), saat ini dilintasi KRL Commuter Line Lintas Tanjung Priok.
Dekat pelabuhan membuat Tanjung Priok jadi stasiun tersibuk pada 1914-1929. Ketika itu, Jakarta atau yang dulu lebih dikenal sebagai Batavia masih menjadi pusat perdagangan kolonial dan pelabuhan sedang berada di puncak aktivitasnya.
Ketika itu, Stasiun Tanjung Priok melayani penumpang kelas atas Eropa, pekerja pelabuhan, dan pedagang.
Kemudian, stasiun ini juga menjadi jalur penting angkutan barang dan komoditas ekspor-impor yang mau menuju ke pelabuhan.
Sebab saat zaman itu, teknologi truk trailer atau kontainer belum semaju saat ini, sehingga proses angkut barang dari pelabuhan ke berbagai daerah di Pulau Jawa masih mengandalkan kereta api.
“Serta digunakan untuk keberangkatan jamaah haji dari Batavia melalui jalur laut,” tutur Franoto.
Kini, Stasiun Tanjung Priok hanya melayani perjalanan jangka pendek (Lini Pink) dengan enam jalur kereta, yakni dua peron untuk KRL Commuter Line, dua peron untuk kereta barang, dan sisanya jalur ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Meski jarak tempuh pendek, stasiun tetap andalan. Data PT KAI mencatat, Oktober 2025, sebanyak 259.000penumpang naik KRL dari stasiun, sedangkan 250 ribu penumpang turun.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2014/06/23/1919542malam-muda-mudi1780x390.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
8 Titik Perayaan Tahun Baru di Jakarta, Monas Ditiadakan Megapolitan 22 Desember 2025
8 Titik Perayaan Tahun Baru di Jakarta, Monas Ditiadakan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan delapan titik perayaan Tahun Baru 2026 di Ibu Kota. Jumlah ini lebih sedikit dari rencana awal yang semula menyiapkan 14 lokasi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung
mengatakan, pengurangan titik dilakukan dengan tetap mempertahankan lokasi-lokasi utama yang selama ini menjadi tradisi perayaan tahun baru di Jakarta.
“Dari segi titik lokasi yang sebelumnya dipersiapkan sebanyak 14 titik, akhirnya diputuskan menjadi 8 titik. Dari titik-titik utama yang selama ini menjadi tradisi yang ada di Jakarta, ada beberapa yang dikurangi, di antaranya adalah Monas,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (22/12/2025).
Menurut Pramono, perayaan tahun baru akan dipusatkan di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Di lokasi ini, jajaran pimpinan Pemprov DKI akan hadir langsung.
“Sehingga dengan demikian, titik utamanya nanti ada di Bundaran HI. Di sana akan hadir Gubernur, Wakil Gubernur, dan Sekretaris Daerah,” tuturnya.
Adapun delapan titik perayaan yang disiapkan meliputi Lapangan Banteng, kawasan M.H. Thamrin, Sarinah, Bundaran HI, Dukuh Atas, Semanggi, kawasan SCBD, dan FX Sudirman.
Pramono menyebut, perayaan di Bundaran HI akan menghadirkan grup band D’Masiv sebagai bintang tamu utama.
Pemprov DKI secara khusus meminta lagu “Jangan Menyerah” dibawakan saat detik-detik pergantian tahun.
“Kami sudah berpesan yang paling utama adalah pas pergantian itu di Bundaran HI kami minta untuk D’Masiv. Judul lagunya ‘Jangan Menyerah’,” tegas Pramono.
“Karena untuk mesen lagu seperti ini kan enggak gampang, maka itulah yang kami pilih untuk pergantian tahun,” lanjutnya.
Selain D’Masiv, sejumlah artis ibu kota lainnya juga dijadwalkan tampil mengisi rangkaian acara di Bundaran HI.
Pramono menambahkan, perayaan tahun baru di Bundaran HI tidak akan menggunakan kembang api.
Sebagai gantinya, Pemprov DKI menyiapkan pertunjukan video mapping menggunakan drone yang mengusung pesan empati untuk Sumatera.
Selain itu, akan digelar doa bersama lintas agama dengan melibatkan para pemuka agama.
“Jadi ada doa bersama semua agama. Yang jelas, semua agama akan ada di tempat itu, karena kan apa yang terjadi pada kita semua menyangkut kita semua,” tutur Pramono.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono menegaskan larangan penggunaan kembang api dalam perayaan tahun baru di seluruh wilayah Jakarta, baik yang digelar pemerintah maupun swasta.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat persiapan perayaan Tahun Baru 2026 di Balai Kota Jakarta, Senin (22/12/2025).
“Dalam rapat saya sudah memutuskan untuk wilayah seluruh Jakarta, yang diadakan oleh pemerintah maupun swasta, kami meminta untuk tidak ada kembang api,” ujar Pramono.
Ia mengatakan, Pemprov DKI akan segera menerbitkan surat edaran (SE) untuk menegaskan larangan tersebut.
Namun, Pramono menyebut pemerintah tidak bisa melarang perorangan yang menyalakan kembang api secara pribadi.
“Tetapi yang semua yang memerlukan perizinan, perhotelan maupun di pusat perbelanjaan dan sebagainya, semuanya kita minta untuk tidak ada kembang apinya,” tegas Pramono.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/22/6948f8b6f13a9.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Libur Natal-Tahun Baru, 3.514 Penumpang Berangkat dari Terminal Kalideres Megapolitan 22 Desember 2025
Libur Natal-Tahun Baru, 3.514 Penumpang Berangkat dari Terminal Kalideres
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
— Pergerakan penumpang yang meninggalkan Jakarta melalui Terminal Kalideres, Jakarta Barat, mulai meningkat signifikan pada masa angkutan Natal 2025 dan tahun baru 2026.
Berdasarkan data operasional terminal selama masa angkutan akhir tahun, sejak Kamis (18/12/2025) hingga Minggu (21/12/2025), 3.514 penumpang telah diberangkatkan ke berbagai daerah di Sumatera dan Jawa.
“Sejauh ini, sejak awal masa Nataru, mulai terlihat ada kenaikan sekitar 8-12 persen jumlah penumpang, dibanding hari biasa,” ujar Kepala Terminal Bus Kalideres, Nur Prasetyo, saat ditemui di lokasi, Senin (22/12/2025).
Jumlah penumpang mulai meningkat sejak Kamis (18/12/2025) dengan 656 penumpang menggunakan 75 bus.
Angka ini terus merangkak naik pada Jumat (19/12/2025) menjadi 861 penumpang dengan 86 bus.
Kemudian, sementara ini, lonjakan tertinggi terjadi pada Sabtu (20/12/2025) dengan jumlah penumpang yang berangkat menembus angka seribu orang.
“Tanggal 20 Desember itu ada 1.679 pergerakan penumpang (total datang dan berangkat). Khusus yang berangkat ada 1.039 penumpang dengan 95 bus,” jelas Nur.
Sementara pada Minggu (21/12/2025), jumlah keberangkatan sedikit menurun, meski masih tergolong tinggi, yakni 958 penumpang yang diangkut menggunakan 89 armada bus.
Meski begitu, Nur menyoroti bahwa kenaikan jumlah penumpang ini tidak serta-merta diikuti dengan penambahan jumlah armada bus yang drastis.
Menurut dia, fenomena yang terjadi adalah peningkatan tingkat keterisian kursi di bus-bus AKAP.
Jika pada hari biasa bus berangkat dengan hanya terisi setengahnya, kini kursi-kursi tersebut terisi penuh karena peningkatan penumpang.
“Jumlah busnya tetap sama. Hanya tambah sekitar 20 bus. Nah kenapa? Biasanya, bus itu kapasitas misalnya 40 kursi, tapi penumpang yang naik tuh rata-rata hanya belasan atau 20-an,” kata Nur.
“Tapi begitu masa Nataru, itu terjadi pelonjakan penumpang. Nah, pelonjakan penumpang itu masih bisa di-
cover
dengan
seat-seat
yang biasanya kosong menjadi terisi di Nataru ini,” sambungnya.
Selain arus keberangkatan (mudik),
Terminal Kalideres
juga mencatat arus kedatangan penumpang dari luar kota yang cukup meningkat.
Selama periode empat hari yang sama, tercatat total 2.473 penumpang tiba di Terminal Kalideres.
Nur memastikan seluruh armada dan petugas telah siap untuk melayani masyarakat selama periode libur panjang ini.
Termasuk, melakukan pemeriksaan kelaikan jalan (
ramp check)
dan pemeriksaan kesehatan sopir yang akan beroperasi secara rutin.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2025/12/22/69492a072586c.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)