Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan pesan dalam khotbah Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
Mengawali khotbahnya,
Kardinal Suharyo
mengucapkan selamat
Hari Raya Natal
dan mengharapkan Firman Yesus hadir di antara jemaat serta menjadi terang sepanjang hidup.
“Saudari saudaraku yang terkasih. Tetapi nyatanya manusia tidak sepenuhnya menerima terang itu, melainkan sering memilih untuk hidup di dalam kegelapan,” kata Kardinal Suharyo.
Akibatnya, manusia yang mestinya bermartabat luhur dan mulia merendahkan martabatnya sendiri ketika membiarkan hidupnya dipimpin oleh kegelapan.
“Buahnya kita semua tahu adalah semakin luntur dan merosotnya moralitas kehidupan,” ucapnya.
Kardinal Suharyo menuturkan, perendahan martabat manusia terjadi sepanjang sejarah umat manusia sejak awal.
Ia lalu mengutip pernyataan mendiang Paus Fransiskus yang menyoroti persoalan terkait ketidakadilan, pemujaan uang, dan korupsi yang dinilainya merendahkan martabat manusia.
“Inilah yang terungkap, misalnya, di dalam tindakan-tindakan yang tidak bermartabat seperti yang diangkat oleh mendiang Paus Fransiskus di dalam pernyataannya ketika memaklumkan tahun suci luar biasa, yaitu bertindak tidak adil, memuja uang, dan korupsi,” ucapnya.
Masih mengutip pernyataan Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo menyebut di dalam dunia dewasa ini banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara.
“Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa,” imbuhnya.
Kardinal Suharyo memperingatkan betapa pentingnya kebahagiaan yang bergantung pada uang.
“Paus Fransiskus mengatakan begini, ‘Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebaikan, kebahagiaan bergantung kepada uang, dan bahwa dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai dan martabatnya’,” tutur dia.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Author: Kompas.com
-
/data/photo/2025/12/25/694ca424b7d62.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan
-
/data/photo/2025/12/25/694c9c02dab52.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Ini Rangkaian Ibadah Natal 2025 di Gereja Immanuel Jakarta Pusat Megapolitan 25 Desember 2025
Ini Rangkaian Ibadah Natal 2025 di Gereja Immanuel Jakarta Pusat
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, menggelar serangkaian ibadah Natal 2025, Kamis (25/12/2025).
Ibadah misa pertama digelar pukul 09.00 WIB yang dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Jakarta,
Pendeta Abraham Ruben Persang
.
“Ibadah Natal Gereja Immanuel hari ini ada tiga kali. Pertama, jam 09.00 WIB,” tutur Ketua V Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GPIB Immanuel Jakarta Steve Loupatty, Kamis (25/12/2025).
Berdasarkan pantauan pada pukul 08.57 WIB, jemaat sudah mulai memenuhi area dalam, depan, dan samping gereja, dengan duduk di bangkunya masing-masing menunggu dimulainya ibadah.
Selanjutnya, ada ibadah misa sore sekitar pukul 16.00 WIB, yang akan dilaksanakan dengan menggunakan Bahasa Inggris.
Lalu, agenda ibadah terakhir akan dilaksanakan sekitar pukul 18.00 WIB yang akan dipimpin oleh Pendeta Pelayanan Umum Kantor Majelis Sinode Johanis November Tahulending.
Di tahun ini, tema yang diusung oleh GPIB Immanuel Jakarta adalah ‘Allah Memulihkan Kehidupan Seluruh Ciptaan’ sebagai bentuk refleksi positif bahwa Tuhan akan memulihkan semua jemaat yang mengalami duka dan kesulitan, terutama mereka yang menjadi korban bencana di Sumatera dan Jawa Timur.
Steve memperkirakan, jemaat yang hadir pada misa pagi ini bisa mencapai 600 orang.
“Kalau untuk Ibadah Natal dia biasanya berkisar antara 500 – 600 jemaat, sesi siang atau sore 300-40 dan sesi terakhir 400 – 500,” jelas Steve.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/25/694c9c3a2bf72.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Natal Jauh dari Keluarga, Cerita Mahasiswa Timor Leste Rayakan Natal di Jakarta Megapolitan 25 Desember 2025
Natal Jauh dari Keluarga, Cerita Mahasiswa Timor Leste Rayakan Natal di Jakarta
Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com –
Perayaan Natal 2025 menjadi momen yang berbeda bagi Kennedy dan Lando.
Dua mahasiswa asal Timor Leste itu merayakan malam Natal di
Gereja Katedral Jakarta
tanpa kehadiran keluarga, sesuatu yang belum pernah mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya.
Jauh dari kampung halaman, Natal kali ini dijalani dengan suasana yang lebih sunyi, namun tetap sarat makna.
Kennedy dan Lando mengikuti Misa Malam Natal di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (22/12/2025) malam.
Bagi keduanya, Natal di Jakarta terasa berbeda karena harus merayakannya sebagai anak rantau.
“Yang paling utama sih jauh dari keluarga. Kalau tahun kemarin kan bareng keluarga, tapi di sini ya sendirian sama teman-teman, kayak agak sedih,” ujar Kennedy saat ditemui usai misa malam Natal.
Keduanya berasal dari Timor Leste dan saat ini tengah menempuh pendidikan di Jakarta.
Kennedy tercatat sebagai mahasiswa Universitas Trisakti, sementara Lando menjalani perkuliahan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Meski jauh dari keluarga, Natal tetap dimaknai sebagai momen refleksi dan harapan.
Kennedy menyampaikan harapannya agar perjalanan hidup dan pendidikan yang dijalani ke depan dapat berjalan dengan baik dan aman.
Hal serupa disampaikan Lando yang merasakan beratnya merayakan Natal di perantauan.
“Sebagai anak rantau yang Natal di sini itu cukup berat, ya belajar buat masa depan dan harus berjuang. Semoga dilancarkan,” kata Lando saat diwawancarai Kompas.com di lokasi.
Di tengah perayaan Natal yang dijalani jauh dari keluarga, Lando juga menyampaikan doa dan ucapan bagi orang-orang terdekatnya di kampung halaman. Ia berharap keluarganya selalu diberi kesehatan.
“Selamat hari Natal untuk mereka, semoga sehat selalu di sana, dan jangan lupa berdoa,” tuturnya.
Sementara itu, Gereja Katedral Jakarta menggelar rangkaian perayaan
Natal 2025
pada Kamis (25/12/2025) dengan sejumlah misa yang ditujukan bagi berbagai kelompok umat.
Perayaan dimulai sejak pagi melalui Misa Natal Pontifikal pada pukul 08.30 WIB yang dipimpin Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo bersama Kuria Keuskupan Agung Jakarta.
Misa tersebut diikuti umat baik secara langsung maupun melalui siaran daring.
Usai misa pontifikal, perayaan dilanjutkan dengan Misa Keluarga pada pukul 11.00 WIB yang secara khusus diperuntukkan bagi keluarga dan anak-anak, dengan suasana yang lebih komunikatif dan reflektif.
Pada sore hari, Gereja Katedral menggelar Misa Lansia pukul 16.00 WIB, sebelum ditutup dengan Misa Sore pukul 18.00 WIB yang terbuka bagi umat umum dan kembali disiarkan secara daring.
Untuk mendukung kelancaran ibadah, pihak Gereja Katedral Jakarta menyiapkan sekitar 5.000 kursi yang tersebar di berbagai area.
“Kapasitas gereja untuk ibadat misa Natal sebanyak 800 kursi di dalam Gereja Katedral. Ditambah area luar, yakni Plaza Maria dan Gua Maria sebanyak 500 kursi, tenda 3.000 kursi, serta Grha Pemuda lantai 1 dan 4 dengan total 800 kursi,” ujar Humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwadie, dalam keterangan resmi, Rabu.
Selain itu, sejumlah kursi cadangan juga disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan jemaat.
Area di dalam gereja utama dan Grha Pemuda lantai 1 hanya diperuntukkan bagi jemaat yang telah melakukan registrasi sejak pertengahan Desember.
Namun, jemaat yang belum mendaftar tetap dapat mengikuti misa dan diarahkan ke area lain.
“Umat go show di hari H tetap dapat mengikuti misa di Grha Pemuda lantai 4, tenda yang telah disediakan, atau di Plaza Maria,” kata Susyana.
Adapun
perayaan Natal 2025
di Gereja Katedral Jakarta mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), yang merupakan pesan Natal bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).
(Reporter: Omarali Dharmakrisna Soedirman, Lidia Pratama Febrian | Editor: Dani Prabowo, Ardito Ramadhan)
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/25/694c8bf6256fb.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Ini Lokasi Parkir untuk Jemaat Misa Natal Gereja Immanuel Jakarta Megapolitan 25 Desember 2025
Ini Lokasi Parkir untuk Jemaat Misa Natal Gereja Immanuel Jakarta
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Sejumlah lokasi parkir sudah disediakan untuk para jemaat yang ingin merayakan ibadah Natal 2025 di GPIB Immanuel di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
Kapolsek Metro Gambir Kompol Rezeki R. Respatih mengatakan, lokasi parkir kendaraan pertama untuk para jemaat berada di dalam GPIB Immanuel.
“(Lokasi parkir) di parkiran Gereja Immanuel sendiri,” tutur Respatih saat diwawancarai
Kompas.com
, Kamis.
Pengamatan
Kompas.com
di lokasi, gereja ini memang dikelilingi halaman yang cukup luas sehingga bisa menampung banyak kendaraan.
Namun, untuk kendaraan yang masuk hanya diperbolehkan lewat pintu belakang di Jalan Pejambon, Jakarta Pusat.
Setelah masuk lewat pintu belakang, mobil jemaat bisa parkir di samping dan depan gereja langsung.
Sedangkan kendaraan motor bisa diparkir di area belakang gereja, samping kiri pos sekuriti.
Namun, bagi jemaat yang memang kehabisan lokasi parkir, maka bisa memarkirkan kendaraannya di
Stasiun Gambir
yang berada persis di seberang gereja ini.
Bagi jemaat yang ingin parkir di Stasiun Gambir, jangan lupa untuk menyediakan kartu uang elektronik agar lebih mudah.
Pada Kamis pagi sekitar pukul 08.21 WIB, para jemaat sudah mulai memenuhi area dalam gereja untuk menanti misa pertama yang akan digelar pukul 09.00 WIB.
Misa pertama ini akan dipimpin oleh Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Jakarta, Pendeta Abraham Ruben Persang, dengan mengusung tema ‘Allah Memulihkan Kehidupan Seluruh Ciptaan’.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2024/06/14/666c216ca6bb3.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Selamatkan Bandara Soekarno-Hatta di "Kota Kotor" Megapolitan 25 Desember 2025
Selamatkan Bandara Soekarno-Hatta di “Kota Kotor”
Wartawan Kompas, 1989- 2018
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KALAU
ingin membuktikan Bandar Udara (Bandara) Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Provinsi Banten, diselimuti bau sampah, datang lah ke terminal 2, terutama pada waktu malam.
Angin berhembus dari arah barat membawa serta bau menyengat, tidak sedap, membuat pengguna bandara terasa pening.
Bau tidak sedap menyapa siapa saja yang menginjakkan kaki di bandara tersebut. Banyak orang kemudian menutup hidung, hanya membatin bau apa yang menusuk hidung, dan langsung pergi.
Di bandara yang menjadi pintu utama keluar-masuk Indonesia ini sudah belasan tahun disergap bau tak sedap.
Mestinya malu pemerintah kota Tangerang dan Banten yang disebut-sebut di dalam pesawat menjelang mendarat.
“Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta di Tangerang, Banten,” demikian pengumuman yang selalu disampaikan oleh awak pesawat terbang pada menit-menit terakhir sebelum pesawat mendarat.
Tanggung jawab pemerintah Tangerang dan Banten mestinya ada. Jangan hanya memungut pajaknya saja.
Pejabat berwenang dalam menangani sampah yang mengganggu udara kawasan bandara seperti absen. Atau pejabatnya seakan-akan membiarkan bandara berbau sampah.
Kompas.com
pada terbitan 10 Agustus 2008, sudah memberitakan bau tak sedap di Bandara Soekarno-Hatta dan permukiman penduduk di sebelah barat bandara. Namun, hingga sekarang bau sampah yang menyelimuti bandara itu belum mendapat perhatian.
November 2025, kami masih merasakan bau bakaran sampah yang menyengat di terminal 2 bandara tersebut, ketika menjemput keluarga yang mendarat dari Jepang pada tengah malam.
Saya sudah tahu dari mana bau tak sedap itu. Kok tidak ada perbaikan polusi udara tak sedap di bandara ini. Masih bau sampah.
Pantas saja
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut Tangerang Raya masuk dalam kategori “kota kotor”
berdasarkan penilaian Adipura yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup.
Tangerang Raya meliputi Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, masih berada dalam kategori “kota kotor” (
Kompas.com
, Senin, 22/12/2025).
Menurut penilaian Adipura, ada empat kategori, yaitu kota kotor, kota bersertifikat, kota Adipura, dan Kota Adipura Kencana.
Tangerang yang selama ini dibilang “pemilik” Bandara Soekarno-Hatta, berada di tingkatan paling rendah: Kota Kotor. Selamatkan bandara!
Bandara Soekarno-Hatta yang ada dalam wilayah Tangerang Raya terkena dampaknya. Pengguna bandara terganggu sebaran bau tidak sedap berasal dari gunungan sampah yang berjarak sekitar dua kilometer dari bandara.
Gunungan sampah yang sebagian terbakar itu berada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Rawa Kucing, Kota Tangerang, sebelah barat bandara.
Di sebelah barat bandara ini terdapat sejumlah perumahan yang juga diliputi asap dan bau tidak sedap dari sumber yang sama.
Di kawasan sebelah barat bandara selain ada tempat pemakaman umum Selapajang, juga pergudangan dan perumahan Bandaramas, perumahan Korpri, dan juga permukiman penduduk.
Persoalan ini sudah disampaikan kepada Wali Kota Tangerang. Bahkan, wali kota Tangerang sudah berganti tiga kali, tetapi tidak satu pun wali kota yang berhasil menanganinya sampai Rabu, 24 Desember 2025.
Menurut berita yang dilansir
Kompas.com
tahun 2008, Pemerintah Kota Tangerang, sudah punya rencana memindahkan TPA Rawa Kucing yang mengganggu bandara, ke tempat lain.
Lokasi lain yang ditetapkan berada di Jatiwaringin, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. Luas lahan sekitar 20 hektar.
Kalau TPA sampah jadi dipindah ke lokasi baru, bandara akan aman dari bau sampah, karena berjarak sekitar 19 kilometer dari bandara.
Pemerintah Kota Tangerang saat itu sudah membeli lahan 20 hektar di Jatiwaringin tahun 2002, dengan uang dari pinjaman Bank Pembangunan Asia (
Kompas.com
, 10/8/2008).
Namun, kenapa sampai sekarang Bandara Soekarno-Hatta masih bau sampah? Entah masih adakah rasa malu akibat kegagalan mengatasi persoalan sampah?
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/24/694bc6bd3141f.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Prabowo: Semoga Damai Natal Menyertai Semua, Mari Jadikan Masa Ini Sumber Pengharapan
Prabowo: Semoga Damai Natal Menyertai Semua, Mari Jadikan Masa Ini Sumber Pengharapan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Presiden Prabowo Subianto mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru 2026 untuk seluruh masyarakat Indonesia.
Ia juga berharap damai Natal menyertai seluruh umat Kristiani yang merayakan.
“Semoga damai Natal menyertai kita semua, dan semoga tahun yang baru membawa kesehatan, kekuatan, serta semangat kebersamaan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ucap
Prabowo
dalam akun X @prabowo dan cerita di Instagram pribadinya, Kamis (25/12/2025) pagi.
”
Selamat Natal
dan
Tahun Baru 2026
. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi dan menyertai perjuangan kita,” tutur dia.
Kepala Negara menilai Natal adalah momentum kasih, harapan, dan kepedulian terhadap sesama.
Pada saat yang bersamaan, ia memahami, Indonesia tengah diuji oleh bencana alam yang membawa duka dan tantangan bagi masyarakat di Sumatera.
Namun ia meminta masa-masa ini menjadi sumber pengharapan.
“Marilah kita jadikan masa ini sebagai sumber pengharapan dan langkah untuk bangkit bersama,” ucap Prabowo.
Ia pun mengajak warga Indonesia untuk saling bergotong-royong.
“Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk terus memperkuat semangat
gotong royong
dan solidaritas, saling menolong, serta mengerahkan kemampuan terbaik kita sebagai bangsa yang tangguh karena persatuan,” kata Prabowo.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/12/25/694c62d390ae8.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Natal di Tengah Dunia yang Rapuh
Natal di Tengah Dunia yang Rapuh
Gabriel Abdi Susanto adalah seorang jurnalis, penulis, dan pemikir publik asal Indonesia yang aktif dalam bidang komunikasi, filsafat, dan spiritualitas. Ia merupakan alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, lulus pada tahun 2001 .
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
NATAL
selalu datang membawa janji tentang terang dan harapan. Namun, Natal tahun ini hadir di tengah dunia yang terasa semakin rapuh.
Bangsa ini sedang berduka. Bencana alam melanda berbagai wilayah Sumatera—banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan yang merenggut rumah, penghidupan, bahkan nyawa.
Pada saat yang sama, dunia diliputi perang yang tak kunjung usai, krisis kemanusiaan, gejolak ekonomi global, dan ketegangan geopolitik yang membuat masa depan terasa semakin tak pasti.
Dalam situasi seperti ini,
Natal
mudah terdengar sebagai bahasa iman yang terlalu indah, seolah terpisah dari kenyataan pahit yang dihadapi banyak orang setiap hari.
Namun, justru di tengah dunia yang luka inilah pesan Natal menemukan daya kritis dan relevansinya yang paling mendalam.
Pesan Natal KWI–PGI 2025 mengingatkan bahwa Natal bukan pelarian dari realitas, melainkan undangan untuk menghadapi kenyataan dengan keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab bersama (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Kabar kelahiran Kristus bukanlah kisah sentimental, melainkan peristiwa iman yang menyentuh persoalan paling konkret dalam hidup manusia: penderitaan, ketidakadilan, dan kerentanan.
Bencana yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera tidak dapat dilihat semata-mata sebagai peristiwa alam yang berdiri sendiri. Ia adalah cermin dari krisis ekologis yang telah lama terabaikan.
Deforestasi, alih fungsi lahan tak terkendali, lemahnya penegakan hukum lingkungan, dan kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam telah memperbesar dampak bencana.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, yang runtuh bukan hanya tanah dan rumah warga, tetapi juga sistem perlindungan sosial dan ekologis yang seharusnya menjaga kehidupan.
Korban bencana sering kali berasal dari kelompok yang paling rentan: keluarga miskin, petani kecil, masyarakat adat, perempuan, anak-anak, dan lansia. Mereka kehilangan tempat tinggal, sumber penghidupan, dan rasa aman dalam waktu yang bersamaan.
Natal berbicara tentang Allah yang memilih hadir di dunia yang rapuh. Yesus lahir bukan di pusat kekuasaan, melainkan di tempat yang sederhana dan rentan.
Kisah ini menegaskan bahwa iman Kristen tidak pernah berakar pada kenyamanan, melainkan pada keberpihakan kepada kehidupan yang terancam.
Pesan Natal KWI–PGI secara tegas mengaitkan iman dengan tanggung jawab merawat ciptaan dan melindungi kehidupan bersama (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Situasi global hari ini menunjukkan betapa rapuhnya tatanan dunia. Perang berkepanjangan, jutaan pengungsi kehilangan tanah air, krisis pangan dan energi, serta ketimpangan ekonomi global memperlihatkan kegagalan dunia modern dalam menjadikan martabat manusia sebagai pusat kebijakan.
Dalam pusaran krisis global ini, keluarga kembali menjadi pihak yang paling terdampak. Banyak keluarga terpisah oleh konflik, dipaksa mengungsi, atau hidup dalam ketidakpastian tanpa jaminan masa depan.
Dunia yang dipenuhi persaingan dan kepentingan politik sering kali kehilangan kepekaan terhadap penderitaan manusia biasa.
Natal hadir sebagai kritik moral terhadap dunia yang memuja kekuatan dan mengabaikan yang lemah. Allah yang datang sebagai bayi di palungan menantang logika kekuasaan yang mengandalkan dominasi, senjata, dan keuntungan ekonomi.
Pesan Natal KWI–PGI menegaskan bahwa solidaritas lintas bangsa, agama, dan budaya adalah panggilan iman yang tidak bisa ditunda (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Natal sering dipahami sebagai perayaan keluarga. Namun, bagi banyak keluarga hari ini, Natal dirayakan dalam suasana cemas.
Tekanan ekonomi, naiknya biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan lemahnya perlindungan sosial menciptakan beban psikologis yang berat. Di balik pintu-pintu rumah, banyak keluarga berjuang dalam kelelahan yang tak terlihat.
Kerentanan keluarga tidak hanya bersifat ekonomi. Kekerasan dalam rumah tangga, krisis kesehatan mental, retaknya relasi, serta kesepian menjadi realitas yang semakin sering terjadi.
Anak-anak tumbuh dalam situasi tidak stabil, sementara orang tua dipaksa menanggung beban ganda sebagai pencari nafkah sekaligus penjaga keutuhan keluarga.
Pesan Natal KWI–PGI mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat pertama di mana martabat manusia harus dijaga dan dihormati (Pesan Natal KWI–PGI 2025).
Namun, keluarga tidak bisa dibiarkan menanggung beban sendirian. Kerentanan keluarga hari ini adalah cerminan dari persoalan struktural: sistem ekonomi yang timpang, kebijakan publik tidak memadai, dan budaya sosial yang menormalisasi kelelahan serta ketidakpedulian.
Kisah Natal sendiri adalah kisah tentang keluarga yang rentan. Maria dan Yusuf bukan keluarga yang hidup dalam kenyamanan. Mereka menghadapi stigma sosial, tekanan politik, dan ancaman kekerasan.
Bahkan sejak awal, keluarga ini harus mengungsi demi menyelamatkan hidup anaknya.
Keluarga Kudus bukan gambaran keluarga ideal tanpa masalah. Justru sebaliknya, mereka adalah keluarga yang bertahan di tengah ketidakpastian.
Dalam konteks dunia hari ini—ketika jutaan keluarga menjadi pengungsi akibat perang, bencana, dan kemiskinan—kisah Natal menjadi sangat aktual.
Natal mengingatkan bahwa kerentanan bukanlah kegagalan iman. Allah justru memilih hadir dalam keluarga yang tidak sempurna, dalam situasi yang penuh risiko.
Pesan ini penting di tengah budaya yang sering menuntut keluarga untuk selalu tampak kuat dan harmonis, sambil menutup mata terhadap luka yang ada di dalamnya.
Bencana di Sumatera dan krisis keluarga di berbagai lapisan masyarakat menguji kehadiran negara. Apakah negara hadir hanya pada saat darurat, atau sungguh-sungguh berkomitmen pada pemulihan jangka panjang dan keadilan sosial?
Apakah keluarga yang terdampak dilihat sebagai subjek dengan hak penuh, atau sekadar angka dalam laporan kebijakan?
Pesan Natal KWI–PGI menegaskan bahwa negara, masyarakat sipil, dan komunitas agama memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi yang rentan (Pesan Natal KWI–PGI 2025). Natal menolak sikap acuh tak acuh dan bahasa kekuasaan yang dingin.
Terang Natal tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari keberanian untuk mengakui kegagalan dan memperbaikinya.
Di tengah krisis global dan nasional, keluarga tetap menjadi ruang penting untuk menanamkan nilai kemanusiaan.
Namun, keluarga hanya bisa menjadi sumber harapan jika didukung oleh lingkungan sosial yang adil dan peduli.
Kebijakan yang berpihak pada keluarga, perlindungan sosial memadai, dan solidaritas komunitas adalah bagian tak terpisahkan dari perwujudan iman.
Natal mengajarkan bahwa harapan sering kali tumbuh dari hal-hal kecil: perhatian pada anak yang trauma, dukungan bagi orang tua yang kelelahan, dan keberanian komunitas untuk saling menopang. Harapan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kehadiran yang setia.
Natal bukan sekadar perayaan liturgis. Ia adalah panggilan untuk bertobat secara sosial—mengubah cara pandang, cara hidup, dan cara kita memperlakukan sesama.
Di tengah bencana di Sumatera, krisis keluarga, dan dunia yang terluka, Natal mengingatkan bahwa terang tidak pernah menunggu situasi ideal untuk menyala.
Jika Natal hanya berhenti pada ritual dan simbol, ia kehilangan daya transformatifnya. Namun, jika Natal dihayati sebagai komitmen untuk merawat kehidupan—di dalam keluarga, masyarakat, dan dunia—maka di tengah segala kerentanan, harapan tetap mungkin tumbuh.
Seperti bayi di palungan, harapan itu rapuh. Namun, justru di situlah kekuatannya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2025/03/05/67c833d2ee743.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kejagung Dalami Dugaan Keterlibatan Riza Chalid dalam Kasus Minyak Mentah
Kejagung Dalami Dugaan Keterlibatan Riza Chalid dalam Kasus Minyak Mentah
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) mendalami keterlibatan Mohammad Riza Chalid (MRC) dalam perkara dugaan korupsi minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Trading Limited (Petral)/Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES) periode 2009–2015.
Penyidik disebut masih mendalami kemungkinan keterlibatan
Riza Chalid
, yang telah berstatus buronan, melalui terdakwa kasus
korupsi minyak Pertamina
, Muhamad Kerry Adrianto Riza, yang merupakan anak Riza Chalid.
“Ada kaitan Riza Chalid, ada macem-macem lah, makanya kan di sini kan sudah ada anaknya Riza Chalid (jadi terdakwa). Oleh karena itu makanya
Petral
lagi diperdalam,” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus)
Kejagung
Febrie Adriansyah saat ditemui di Kejagung, Rabu (24/12/2025).
Di sisi lain, Febrie menegaskan bahwa dalam penanganan kasus Petral, Kejagung juga masih berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang turut mengusut perkara serupa.
Oleh karena itu, Korps Adhyaksa terus berupaya mengungkap kasus Petral secara lebih menyeluruh.
“Kemungkinan ada beberapa hal yang berbeda, itu yang kita khawatir di teknis penyidikannya, di hal-hal kecilnya, itu perlu ketemu. Makanya kita juga lagi lihat Petral nih secara keseluruhan,” kata Jampidsus.
Diberitakan sebelumnya, Kejagung membantah telah melimpahkan penanganan kasus dugaan korupsi Petral ke KPK.
“Pertama, pelimpahan belum ada, belum ada pelimpahan sama sekali. Yang kedua, tidak ada istilah pertukaran atau tukar guling, enggak ada, enggak ada,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, ditemui di Gedung Kejagung, Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Institusi ini menegaskan penyidikan perkara tersebut hingga kini masih berjalan di internal Kejaksaan.
Anang menjelaskan, penyidikan kasus Petral di Kejagung mencakup periodisasi 2008-2015, berdasarkan dua surat perintah penyidikan (sprindik) yang diterbitkan.
Sementara itu, KPK menangani dugaan korupsi yang berada dalam periode 2009-2015.
“Kebetulan juga KPK menangani perkara yang sama, tapi periodenya Kejaksaan Agung kan ada di 2008 sampai 2015 dan kalau enggak salah ada dua, satu lagi periodenya ada sampai 2017, kalau saya tidak salah,” beber Anang.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
/data/photo/2025/09/18/68cbea21d6bd7.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/12/25/694c21bf151ff.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)