Author: Gelora.co

  • Kami Sudah Sah dan Halal!

    Kami Sudah Sah dan Halal!

    GELORA.CO  – Inara Rusli akhirnya angkat bicara soal keputusannya berdamai dengan Insanul Fahmi sekaligus mencabut laporan yang sempat dilayangkannya ke Polda Metro Jaya. Keputusan tersebut diambil setelah melalui pertimbangan panjang, terutama terkait status pernikahan mereka.

    Di tengah polemik rumah tangga yang juga menyeret nama Wardatina Mawa, Inara menegaskan bahwa dirinya kini telah sah menjadi istri Insanul Fahmi secara agama. Kesadaran itulah yang membuatnya memilih menurunkan ego dan membuka ruang perdamaian.

    Inara mengaku melihat kesungguhan Insanul Fahmi untuk memperbaiki keadaan. Salah satunya dengan mendatangi keluarga serta berupaya mengklarifikasi persoalan yang sempat memanas.

    “Alasan saya bertahan karena saudara Insan sudah menunjukkan itikad baik, mau menemui keluarga saya dan menjelaskan semuanya. Buya juga sudah memberikan nasihat. Sebagai muslimah, saya mencoba untuk taat,” ujar Inara Rusli, Senin (29/12/2025).

    Soal keputusan damai, Inara menyebut sang suami juga berpesan agar persoalan rumah tangga mereka tidak diungkap terlalu jauh ke ruang publik. Menurutnya, nasihat tersebut ia terima sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai istri.

    “Buya menyampaikan, kalau sudah sah dan halal, enggak perlu lagi memikirkan opini publik. Yang menjalani rumah tangga ini kan suami dan istri,” katanya.

    Meski pernikahan mereka belum tercatat secara negara, Inara menegaskan bahwa ikatan tersebut sudah sah secara agama. Karena itu, dia merasa memiliki kewajiban untuk mendengarkan dan menghormati keputusan suaminya.

    “Walaupun belum tercatat secara negara, tapi sudah berlaku hukum agama dan syariat Islam. Jadi saya harus tetap mendengarkan dan patuh kepada suami, karena bagaimanapun saudara Insan sudah menjadi suami saya,” tutup Inara

  • Sempat Cekcok, Inara Rusli Kini Tinggal Serumah dengan Insanul Fahmi

    Sempat Cekcok, Inara Rusli Kini Tinggal Serumah dengan Insanul Fahmi

    GELORA.CO – Artis Inara Rusli menegaskan kini dirinya tinggal serumah dengan Insanul Fahmi setelah keduanya resmi menikah secara siri. Pengakuan ini disampaikan Inara usai memilih berdamai dan mencabut laporan polisi terhadap Insanul Fahmi di Polda Metro Jaya.

    Inara mengangguk saat dikonfirmasi soal kebersamaannya dengan Insanul Fahmi. Dia menyebut keputusan tinggal bersama diambil setelah Insan menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki hubungan, termasuk menemui keluarga dan mengklarifikasi persoalan yang sempat mencuat ke publik.

    “Karena saudara Insan sudah menunjukkan itikad baik untuk menemui keluarga saya dan mau mengklarifikasi semuanya. Buya juga sudah memberikan nasihatnya. Jadi saya sebagai Muslimah mencoba untuk taat,” ujar Inara Rusli, Senin (29/12/2025).

    Perdamaian tersebut juga ditandai dengan pencabutan laporan dugaan penipuan yang sebelumnya dilayangkan Inara ke Polda Metro Jaya. Dia mengaku keputusan damai membuat hatinya lebih lega dan menjadi penutup tahun yang baik bagi keluarganya.

    “Alhamdulillah karena sudah proses damai. Kami keluarga juga sudah dipertemukan antar kedua keluarga. Jadi saya memilih untuk mencabut laporan dan mengajukan akta damai,” tuturnya.

    Meski pernikahan mereka belum tercatat secara negara, Inara menegaskan statusnya sebagai istri telah sah secara agama. Karena itu, dia memilih mengikuti arahan suami untuk tidak membuka persoalan rumah tangga secara detail ke ruang publik.

    Menurut Inara, Insanul Fahmi mengingatkan bahwa setelah sah dan halal, opini publik tak lagi menjadi hal utama dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

    “Kalau sudah sah, sudah halal, yang menjalankan rumah tangga ini kan suami dan istri,” ucapnya.

    Sementara itu, kuasa hukum Inara Rusli, Daru Quthny, menyampaikan kliennya juga membuka pintu perdamaian dengan Wardatina Mawa. Pihaknya berharap polemik rumah tangga tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa berlarut-larut.. Jadi, saya sebagai Muslimah mencoba untuk taat,” kata Inara Rusli

  • Viral Tali Darurat Putus! Relawan Hanyut di Sungai Deras Aceh Bikin Netizen Syok

    Viral Tali Darurat Putus! Relawan Hanyut di Sungai Deras Aceh Bikin Netizen Syok

    GELORA.CO – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah video dramatis yang membuat warganet menahan napas.

    Rekaman itu memperlihatkan seorang relawan tengah berusaha menyeberangi sungai menggunakan tali darurat di wilayah Burlah Ketol, Aceh.

    Arus sungai yang deras tampak menghantam bebatuan, sementara para relawan lain bersiaga di kedua sisi, berharap proses penyeberangan berjalan lancar.

    Namun detik-detik berikutnya justru berubah menjadi momen menegangkan.

    Saat sang relawan berada di tengah bentangan sungai, tiba-tiba saja tali darurat yang menjadi satu-satunya penopang itu putus.

    Dalam hitungan sepersekian detik, tubuhnya langsung terhempas ke dalam sungai dan terseret derasnya arus.

    Jeritan panik terdengar dari para relawan yang menyaksikan kejadian itu secara langsung.

    Sementara dalam rekaman terlihat bagaimana orang-orang di tepi sungai spontan berlarian mencoba memberi pertolongan.

    Video tersebut langsung menyebar cepat di berbagai platform, dari Instagram, TikTok, hingga grup-grup WhatsApp. Warganet mengaku syok melihat momen kritis itu.

    Banyak yang menuliskan komentar bernada ngeri, bahkan beberapa mengaku tangan mereka ikut berkeringat saat menonton ulang videonya.

    Situasi di lapangan memang tampak jauh dari kata aman. Sungai yang meluap akibat banjir di beberapa wilayah Aceh dan Sumatra membuat sejumlah akses jalan terputus.

    Banyak daerah yang masih sulit dijangkau, dan relawan terpaksa menggunakan tali darurat untuk menyeberang demi mengirim bantuan.

    Kejadian dalam video itu pun menjadi gambaran nyata betapa ekstremnya kondisi yang harus mereka hadapi.

    Beruntung, setelah momen dramatis tersebut, relawan yang hanyut berhasil diselamatkan.

    Para relawan lain yang berjaga di sisi sungai langsung terjun melakukan penyusuran, menarik tubuh korban ke lokasi yang lebih aman.

    Berkat respons cepat itu, ia dilaporkan tidak mengalami luka serius.

    Warganet pun ikut lega, banyak yang menyampaikan syukur sekaligus apresiasi kepada para relawan yang mempertaruhkan keselamatan demi membantu warga terdampak banjir.

    Namun, video itu juga memicu diskusi serius di kolom komentar.

    Banyak pengguna menyoroti minimnya fasilitas darurat yang memadai di wilayah terdampak.

    Mereka berharap pemerintah segera turun tangan, menyiapkan jalur darurat.

    Atau membangun jembatan sementara yang layak agar relawan, tim SAR, maupun warga bisa menyeberang dengan aman tanpa mempertaruhkan nyawa.

    Rasa kaget, iba, dan syukur bercampur jadi satu di antara para netizen yang menyaksikan video viral tersebut.

    Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar konten dramatis, melainkan pengingat bahwa kondisi lapangan di wilayah bencana masih sangat berat.

    Video itu juga memperlihatkan keberanian dan pengorbanan para relawan yang terus bekerja tanpa henti, meski nyawa mereka sendiri ikut terancam.

    Warganet berharap tidak ada lagi insiden serupa terjadi, dan keselamatan relawan maupun warga bisa lebih terjamin di tengah bencana yang sedang melanda.***

  • Panglima TNI Peringatkan Massa Kibarkan Bendera GAM: Saya Tindak Tegas!

    Panglima TNI Peringatkan Massa Kibarkan Bendera GAM: Saya Tindak Tegas!

    GELORA.CO – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto merespons sejumlah massa yang mengibarkan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di tengah proses pemulihan bencana. Bahkan, prajurit TNI AD sempat bentrok dengan massa pembawa bendera GAM di Kota Lhokseumawe pada Kamis (25/12/2025) pagi WIB, berlanjut sampai Jumat (26/12/2025) dini hari WIB.

    “TNI dan semua kementerian, lembaga, dan masyarakat sedang membantu pemulihan akibat bencana alam, saya harapkan tidak ada kelompok-kelompok yang memprovokasi, menganggu proses tersebut,” kata Agus dalam konferensi pers di Posko Bencana Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025).

    Agus pun berjanji bakal menindak tegas jika masih ada massa yang mengibarkan bendera GAM di tengah prosesi pemulihan bencana di Provinsi Aceh. “Saya akan tindak tegas kalau ada kelompok-kelompok seperti itu,” kata mantan KSAD itu.

    Selain Agus, konferensi juga dihadiri Menko PMK Pratikno, Mendagri M Tito Karnavian, Mensesneg Prasetyo Hadi, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prasetyo, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, Seskab Letkol Inf Teddy Indra Wijaya, dan Wamensos Agus Jabo.

  • Jembatan Bailey Teupin Mane di Aceh Disabotase, Biadab!

    Jembatan Bailey Teupin Mane di Aceh Disabotase, Biadab!

    GELORA.CO – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menyebut, jembatan bailey yang dibangun TNI AD disabotase orang tidak bertanggung jawab. Adalah Jembatan Bailey Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh, adalah yang menjadi sasaran.

    Menurut Maruli, sejumlah baut di badan jembatan tersebut dicopot. Dia menyebut, tindakan itu jelas tidak bisa dibenarkan karena bisa membahayakan pengguna kendaraan yang menyeberangi jembatan. “Ini biadab,” kata Maruli saat konferensi pers pemulihan bencana di Posko Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025).

    Selain Maruli, konferensi pers turut dihadiri Menko PMK Pratikno, Mendagri M Tito Karnavian, Mensesneg Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prasetyo, Seskab Letkol Inf Teddy Indra Wijaya, dan Wamensos Agus Jabo. Maruli menegaskan, prajurit TNI AD di lapangan bekerja tiga shif dalam membangun jembatan.

    Langkah percepatan itu dilajukan demi aktivitas masyarakat kembali normal lantaran bencana membuat banyak jembatan terputus di tiga provinsi Pulau Sumatera. “Pembangunan jembatan kita lakukan tiga sif, anggota kita kerja pagi, siang, malam, kalau tidak begini kami tak bisa mencapai target,” kata Dansatgas Pembangunan Jembatan tersebut.

    Maruli melanjutkan, TNI AD sedang menbangunan 43 jembatan bailey di Provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar. Dari jumlah itu, sekitar 12 jembatan bailey sudah tuntas dibangun dan 15 jembatan sedang dalam perjalanan karena peralatannya dikirim dari Jakarta.

    “Enam (jembatan bailey) sedang dipasang. Dari Presiden (Prabowo Subianto) langsung melalui Kemenhan dicari 100 bailey dari luar untuk mendukung bencana, ini nanti kita gunakan untuk seluruh Indonesia,” kata Maruli.

  • Sampai Saat Ini KPK Masih Terus Selidiki Kasus Korupsi Haji, Publik Tunggu Siapa Tersangkanya

    Sampai Saat Ini KPK Masih Terus Selidiki Kasus Korupsi Haji, Publik Tunggu Siapa Tersangkanya

    GELORA.CO –  Kasus dugaan korupsi kuota haji tahun 2024 saat ini masih terus diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Berbagai pihak mulai dari mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, pengusaha travel, hingga ustaz kondang Khalid Basalamah pun telah dipanggil KPK untuk memberikan keterangan.

    Namun, hingga saat ini, KPK belum mengeluarkan nama yang ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tersebut.

    Menyoroti lamanya waktu penanganan kasus tersebut, mantan pimpinan KPK periode 2011-2015, Bambang Widjojanto, menyatakan bahwa ada kebijakan yang berbeda di lembaga antirasuah itu.

    “Dulu itu, tidak akan mungkin menyatakan proses penyidikan dilakukan tanpa menyebut tersangka,” ucap Bambang dalam podcast yang diunggah di kanal YouTube Bambang Widjojanto pada Minggu, 28 Desember 2025.

    “Jadi, begitu ada peningkatan status dari penyelidikan ke penyidikan, maka tersangka sudah harus ditetapkan,” lanjutnya.

    Menurutnya, publik dibuat menunggu dan ada ketidakpastian yang timbul ketika kasus sudah naik ke tahap penyidikan tapi belum ada tersangka yang ditetapkan.

    “Apakah kebijakan seperti ini mau diteruskan? Karena ternyata publik, pencari keadilan, dibikin menunggu-nunggu dan dibuat tidak pasti apakah seseorang atau proses penyidikan belum ada tersangkanya,” terangnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga mengungkapkan ada beberapa hal menarik yang mengikuti perjalanan kasus dugaan korupsi kuota haji.

    Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji Terungkap dari DPR

    Bambang mengatakan bahwa kasus kuota haji tersebut terbongkar dari DPR.

    “Ada skandal politik yang menjadi awal karena ada begitu banyak atau hebat DPR bertarung dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan di situ Presiden Joko Widodo disebut-sebut,” ucapnya.

    “(Jokowi) Dipakai pada saat itu bahwa kasus ini karena kebijakan Presiden Jokowi,” lanjutnya.

    Menyeret Ormas Islam Terbesar di Indonesia

    Pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) itu juga menyebutkan bahwa dugaan korupsi telah menyeret salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia

    “Itu kemudian sebagiannya diduga mempengaruhi apa yang terjadi hari ini, bukan hanya soal isu tambangnya,” tambahnya.

    “Bukan intervensi, itu menjadi penyebab karena kemudian ditarik-tarik juga tuh isu ini ke salah satu organisasi Islam terbesar,”sambungnya.

    Banyak Pihak Dimintai Keterangan oleh KPK

    Bambang lantas menyoroti sejumlah pihak yang telah dipanggil oleh KPK terkait kasus kuota haji.

    “Ratusan biro umrah travel, umrah haji, beberapa nama kondang juga disebut. Kalau masih ingat ada Khalid Basalamah. Jadi, kasus ini dapat perhatian publik dan jadi spotlight,” kata Bambang lagi.

    Mengingat dalam beberapa bulan ke depan akan masuk Idul Adha dan masa haji, Bambang mengatakan bahwa kasus tersebut akan makin menarik perhatian masyarakat.

    “Kalau sampai kasus ini tidak bisa dibongkar, masa sudah setahun lebih, mau menjelang Idul Adha belum selesai juga?” tuturnya.

    Pelanggaran Pembagian Kuota Jadi Akar Dugaan Korupsi

    Kasus dugaan korupsi kuota haji 2024 ini bermula dari tambahan kuota yang diberikan Arab Saudi sejumlah 20.000.

    Menurut aturan Undang-Undang kuota tambahan harusnya dialokasikan 92 persen untuk jemaah reguler dan 8 persen untuk jemaah khusus.

    Persoalan pembagian kuota tersebut tercantum dalam Pasal 64 ayat 2 Undang Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah.

    Dalam realisasinya, kuota yang diberikan kemudian menjadi 50:50 hingga ada ada dugaan aliran dana untuk mempercepat keberangkatan haji.***

  • “Dia Mau Memecah Belah Indonesia” Yudo Anak Purbaya Geram dengan Ulah Resbob, Meledak di Live Bigmo

    “Dia Mau Memecah Belah Indonesia” Yudo Anak Purbaya Geram dengan Ulah Resbob, Meledak di Live Bigmo

    GELORA.CO – Suasana siaran langsung di kanal YouTube Bigmo yang semua berjalan asyik mendadak jadi canggung setelah nama Resbob disinggung di depan Yudo Sadewa, putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

    Dalam live stream yang ditayangkan di Youtube Niceguymo, Bigmo sempat menyinggung nama kakaknya yakni Resbob yang kini terseret polemik dugaan penghinaan terhadap suku Sunda. 

    Mendengar hal tersebut, raut wajah Yudo Sadewa langsung berubah. 

    Ia bahkan sempat menunjuk Bigmo dengan ekspresi kesal dan nyaris meninggalkan sesi siaran langsung tersebut.

    Kemarahannya dipicu oleh pembahasan kasus dugaan penghinaan terhadap suku Sunda yang menyeret Resbob. 

    Di hadapan Bigmo dan penonton, Yudo secara tegas menyebut tindakan Resbob bukan sekadar kesalahan berat.

    Menurutnya, hal yang dilakukan Resbob sudah masuk dalam upaya memecah belah bangsa Indonesia, sehingga memantik reaksi keras dan perdebatan panas sepanjang siaran.

    Menyadari situasi mulai memanas, Bigmo langsung menyampaikan permohonan maaf.

    “Izin, izin, tadi saya kepancing,” ujar Bigmo.

    Yudo Tentang Resbob

    Bigmo kemudian melanjutkan pertanyaannya kepada Yudo soal tindakan yang dilakukan Resbob.

    “Lu tahu abang gue kan? Tanggapan lu tentang abang gue apa? Which is st*pid banget,” kata Bigmo.

    Menanggapi hal itu, Yudo menyebut tindakan Resbob bukan lagi sekadar kesalahan berat, melainkan sudah melampaui batas.

    “Dia itu bukan severe mistake, itu sudah lebih parah dari itu. Dia berusaha memecah belah Indonesia,” ujar Yudo.

    Yudo lalu menanyakan hubungan Bigmo dengan sang kakak.

    “Lu sama abang lu hubungannya dekat atau jauh?” tanya Yudo.

    “Jauh,” jawab Bigmo tegas.

    Menurut Yudo, jika hubungan tersebut dekat, dampaknya bisa ikut menyeret Bigmo.

    “Kalau jauh berarti tidak masalah. Tapi kalau misalnya hubungan lu dekat, bisa kena juga,” kata Yudo.

    Namun, ia menilai pernyataan Bigmo sebelumnya tentang orang Sunda lebih merupakan bentuk culture shock, bukan rasisme.

    “Tapi lu kan pernah bilang orang Sunda itu aneh. Menurut gue itu bukan rasis, lebih ke culture shock dan itu enggak apa-apa.”

    “Tapi kalau Resbob itu b*j*ng*n, dia berusaha memecah belah. Padahal orang Indonesia itu enggak cuma Jawa, Sunda, dan lain-lain. Orang Indonesia itu beragam banget,” tegas Yudo.

  • Bayi Indonesia Lahir Menanggung Utang, Bayi Norwegia Punya Tabungan

    Bayi Indonesia Lahir Menanggung Utang, Bayi Norwegia Punya Tabungan

    GELORA.CO – Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Arief Hidayat, melontarkan kritik tajam terkait pengelolaan negara dan kondisi ekonomi Indonesia. 

    Kritik itu disampaikan saat ia memberikan pidato dalam acara peluncuran buku dan talkshow Literasi Konstitusi tahun 2025 yang diselenggarakan Mahkamah Konstitusi RI bersama Perpustakaan Nasional RI di Ruang Auditorium Perpusnas RI, Jakarta. 

    Dalam pidatonya, Arief Hidayat mempertanyakan paradoks besar yang dialami Indonesia sebagai negara yang dikaruniai kekayaan alam melimpah dan sinar matahari sepanjang tahun. 

    Akan tetapi, nyatanya, Indonesia masih menghadapi persoalan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. 

    “Kenapa saya katakan Indonesia itu dikaruniai tuhan berlebih? Kita sepanjang tahun disinari oleh sinar matahari. Tidak semua negara disinari sinar matahari sepanjang tahun, kenapa kita hanya memiliki kekayaan yang sangat terbatas?” ujarnya seperti dikutip dari YouTube Mahkamah Konstitusi RI pada 17 Desember 2025. 

    Keunggulan alam, kata dia, bertolak belakang dengan kesejahteraan rakyat. 

    Ia menyoroti kondisi di mana seorang bayi yang lahir di Indonesia secara tidak langsung sudah menanggung beban utang negara. 

    “Bayi yang lahir cenger dilahirkan di Indonesia bisa langsung melekat padanya hutang yang harus dibayar berapa juta,” ujar Arief. 

    Sebaliknya, Arief membandingkan dengan negara-negara di kawasan subtropis dan utara seperti Norwegia. 

    Meski negara-negara tersebut mendapatkan sinar matahari lebih sedikit, tingkat kesejahteraan warganya justru jauh lebih tinggi.

    “Sedangkan saudara-saudara kita sebagai sesama manusia yang hidup di belahan subtropis dan di utara sana, itu diberi tuhan matahari sedikit. Tapi, kenapa mempunyai kekayaan yang berlebih, karena apa, bayi yang dilahirkan di Norwegia sudah mempunyai tabungan ribuan dolar, Indonesia bayi yang cenger dilahirkan mempunyai hutang jutaan rupiah. Luar biasa perbedaan ini,” jelasnya. 

    Salah kelola

    Kemiskinan dan ketertinggalan negara ini, katanya, lebih disebabkan oleh kesalahan dalam mengelola negara.

    “Jadi, yang pertama jangan jadikan surga dunia ini menjadi neraka dengan jalan mengelola negara ini dengan sebaik-baiknya,” katanya.

    Kondisi tersebut bukanlah takdir atau nasib bangsa yang hidup di wilayah khatulistiwa. 

    Ia menilai persoalan bangsa ini lebih disebabkan oleh kesalahan dalam mengelola negara. 

    “Kalau kita sekarang masih melarat berarti salah kelola. Yang salah kita semua. Kemudian yang kedua, kenapa mereka yang hidup di subtropis dan di negara dingin sana mempunyai kekayaan yang berlebih, itu apakah dosa dan nasib orang-orang yang hidup di khatulistiwa ataukah itu suratan tuhan? Ternyata setelah saya amati tidak begitu. 

    Arief mengungkapkan bahwa bangsa ini sejatinya pernah menjadi pusat peradaban dan kebudayaan dunia sebelum abad ke-15. 

    Namun, setelah periode tersebut, Indonesia justru mengalami kemunduran. 

    “Bangsa yang hidup di nusantara ini pernah menjadi pusat peradaban, pusat kebudayaan pada sebelum abad ke 15, sedangkan sekarang setelah abad ke-15 dan seterusnya, bangsa yang hidup di nusantara ini mengalami kemunduran. Yang salah siapa? Berarti kita salah kelola,” pungkasnya. 

  • Bukan Dua Jam, Kuasa Hukum Tegaskan Durasi Rekaman CCTV Inara Rusli dan Insan Hanya Tiga Menit

    Bukan Dua Jam, Kuasa Hukum Tegaskan Durasi Rekaman CCTV Inara Rusli dan Insan Hanya Tiga Menit

    GELORA.CO – Kasus dugaan ilegal akses yang melibatkan Inara Rusli dan Wardatina Mawa kembali menyita perhatian publik.

    Di tengah proses hukum yang masih berjalan, kuasa hukum saksi kunci bernama Viola membeberkan asal-usul rekaman CCTV yang kini menjadi salah satu titik krusial dalam perkara tersebut.

    Viola diketahui merupakan rekan kerja Inara Rusli sekaligus saksi fakta dalam laporan dugaan ilegal akses yang dilayangkan Inara.

    Laporan itu ditujukan kepada Wardatina Mawa, istri sah Insanul Fahmi, dan ditangani oleh Polda Metro Jaya.

    Sebagaimana diketahui, Inara Rusli sebelumnya melaporkan Wardatina Mawa atas dugaan ilegal akses CCTV yang terpasang di rumahnya.

    Rekaman CCTV tersebut diduga memuat aktivitas intim antara Insanul Fahmi dan Inara Rusli.

    Laporan tersebut muncul setelah Wardatina Mawa lebih dahulu melaporkan Inara atas dugaan perzinaan.

    Menanggapi perkembangan perkara ini, kuasa hukum saksi Viola, Dedy DJ, menyampaikan pembaruan terkait proses penyelidikan yang tengah berlangsung.

    Ia menegaskan bahwa penyidik masih terus mendalami keterangan para pihak yang terlibat.

    “Penyidik pun terus menggali keterangan, termasuk terkait kemungkinan adanya motif lain selain uang dari para pihak yang diduga sebagai pelaku,” ujar Dedy, dikutip Tribunnews dalam YouTube Reyben Entertainment, Senin (29/12/2025). 

    Dedy juga menekankan pentingnya penegakan hukum yang dilakukan secara benar dan sesuai prosedur.

    “Oleh karena itu, kami juga meminta agar keadilan dan kepastian hukum benar-benar ditegakkan dalam konteks perkara ini. Penegakan hukum tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang melawan hukum. Ilegal akses merupakan perbuatan yang melanggar hukum dan tidak dapat dibenarkan,” tegasnya. 

    Lebih lanjut, Dedy meminta agar penyidik melakukan klarifikasi secara objektif terhadap seluruh alat bukti yang diajukan oleh para pelapor.

    “Kami juga meminta agar dalam proses penyidikan di Polda Metro Jaya dilakukan klarifikasi secara menyeluruh dan objektif. Perlu diperjelas alat bukti apa saja yang dibawa oleh para pelapor. Jangan sampai opini yang berkembang di publik tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.”

    Terkait rekaman CCTV yang beredar, Dedy turut menanggapi soal durasi kejadian yang selama ini menjadi perbincangan.

    “Berdasarkan keterangan klien kami, durasi kejadian yang disebut-sebut berlangsung selama dua jam tersebut tidak benar,” terangnya. 

    “Faktanya, peristiwa itu hanya berlangsung sekitar tiga menit, dan itu pun tidak jelas.”

    Ia pun mengimbau publik untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum proses hukum menemukan kejelasan.

    “Karena itu, kami berharap semua pihak tidak terburu-buru membangun opini sebelum fakta hukum benar-benar terungkap,” pungkas Dedy. 

  • Politik Langitan: Politik di Atas Politik

    Politik Langitan: Politik di Atas Politik

    OLEH: DR. MULYADI (OPU ANDI TADAMPALI)*

       

    FENOMENA diskriminasi dan diskreditasi terhadap politik telah berlangsung lama dalam masyarakat. Dari pikiran hingga tindakan, politik telah dipersepsi sebagai suatu kegiatan atau tindakan yang kotor, tidak bermoral, tidak etis, manipulatif, eskpolitatif, dan tidak profesional, sehingga harus dijauhi oleh masyarakat. 

    Implikasinya adalah politik dikerumuni oleh orang-orang buruk, yang mengabaikan nilai-nilai luhur, moral, dan etika. 

    Mereka yang terjun ke dunia politik seringkali dianggap sebagai orang yang tidak memiliki kapasitas politik, kapabilitas politik, dan integritas politik. Para aktor-aktor politik terutama para politisi, umumnya dipersepsi sebagai orang-orang yang haus kekuasaan dan status, serta hanya peduli dengan nasibnya sendiri.

    Persepsi negatif ini membuat banyak orang yang sebenarnya memiliki niat baik dan ingin berkontribusi dalam politik merasa tidak ingin terlibat dalam politik. Mereka merasa bahwa politik bukanlah tempat yang suci dan bersih, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Hal ini menyebabkan kualitas politik menjadi menurun, karena hanya orang-orang buruk yang mau terlibat dalam politik.

    Artikel ini membahas dua aspek politik: 

    (1) aspek internal politik: Politik adalah dasar legitimasi dan justifikasi politik bagi kegiatan dan tindakan politik dalam mewujudkan kebaikan umum. Aspek internal ini merupakan esensi politik, yaitu tujuan yang ingin dicapai; 

    (2) aspek eksternal politik: Politik adalah kegiatan dan tindakan politik dalam mewujudkan kebaikan umum. Aspek eksternal ini merupakan eksistensi politik, yaitu sebagai alat efektif dan efesien  politik untuk mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum.

    Pada aspek internal politik (Tujuan Politik), esensi politik berada dalam lingkup Norma Religius (Teologi Politik) dan Norma Moral (Filsafat Politik). Sedangkan pada aspek eksternal politik (Tindakan Politik), eksistensi politik berada dalam lingkup Nalar Ilmiah (Pemikiran Politik), Nalar Etis (Ideologi Politik), dan Publik Etis (Opini Politik).

    Kesalahan Yang Dijaga

    Politik yang dipersepsi sebagai suatu kegiatan atau tindakan yang kotor, tidak bermoral, tidak etis, manipulatif, eskpolitatif, tidak profesional didasarkan pada pandangan bahwa politik adalah tentang manipulasi, penipuan, dan eksploitasi kekuasaan dan kepentingan. 

    Persepsi negatif ini bukanlah patologi politik sebagai produk samping dari kegagalan pembangunan dan perubahan politik. Persepsi ini adalah hasil dari proses pembusukan politik (polical decay) yang disengaja  dipelihara dan dijaga agar orang-orang yang tidak memiliki kapasitas politik, kapabilitas politik, dan integritas politik lebih leluasa dan secara berkelanjutan dapat mendominasi kehidupan politik. 

    Saya katakan demikian, karena masyarakat sengaja dibiarkan tidak memperoleh pengetahuan tentang defenisi dan pengertian politik yang benar. Sejak negara dan kekuasaan dibincangkan, ruang-ruang publik secara terus-menerus dipenuhi narasi-narasi politik tentang politik Machiavellian dan Hobbesian. 

    Itu tercermin jelas dan nyata dari tiga inti defenisi buruk praktik politik yang mewarnai diskursus politik, yaitu: 

    (1)    Politik ialah segala kegiatan atau tindakan yang diawali dengan kebohongan, ditengahi dengan kemunafikan, dan diakhiri dengan tega-tegaan; 

    (2)    Politik adalah tentang pengorganisasian kebencian, dendam, dan perlawanan;

    (3)    Politik adalah tentang siapa mendapat apa, dimana mendapat apa, dan kapan mendapat apa.

    Memang betul bahwa unsur-unsur defenisi tersebut juga adalah politik, tapi itu bukanlah politik dalam maknanya yang tepat. Itu adalah politik yang anti-politik, yang harus diyakini dan dipercayai sebagai “kesalahan yang dijaga”. bahwa itu adalah politik yang anti-politik. Pandangan yang bersandar pada ketiga inti defenisi tersebut harus disebut sebagai “kesalahan fatal yang disengaja”.

    Definisi politik yang salah kaprah ini telah menyebabkan masyarakat kehilangan kepercayaan pada politik dan politisi. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk merehabilitasi citra politik dan mengembalikan politik ke jalur yang benar. Dalam konteks ini, perlu dipahami bahwa politik adalah suatu kegiatan yang kompleks dan multifaset. Politik melibatkan berbagai aspek, termasuk kekuasaan, kepentingan, nilai, dan norma. Oleh karena itu, politik harus dipahami sebagai suatu sistem yang dinamis dan terus berkembang.

    Definisi dan pengertian politik yang tepat ialah segala upaya individu, kelompok dan atau organisasi untuk mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum. Kebaikan umum dan kehendak umum ini keduanya sangat ekstensial, subtansial dan esensial, karena merupakan kepentingan umum, dimana inti kepentingan umum tidak ada yang lain, selain masyarakat makmur, damai, tenteram dan sejahtera, yang ditetapkan sejak pemikiran politik tentang negara mulai dicetuskan. 

    Pada level kegiatan atau tindakan, politik adalah tentang memenuhi dan melayani kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Tujuan politik yang sesungguhnya adalah untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan umum, dan hanya bisa diwujudkan jika kita berangkat dari konsep dan paradigma “Politik Langitan”, bukan konsep “Politik Hipokrik” atau  “Politik Pencitraan”.

    Pada bagian ini, saya ingin memulai mengklaim  bahwa “Politik Langitan” selain konsep, juga paradigma. Setidaknya ada empat argumen saya untuk klaim saya, yaitu:

    (1)    Kaitan dengan Teori Politik Normatif: “Politik Langitan” dapat dihubungkan dengan teori politik normatif yang menekankan pentingnya nilai-nilai etis dan moral dalam politik, seperti teori keadilan Rawls dan teori kebaikan umum Aristoteles.

    (2)    Referensi pada Pemikiran Filosofis: Ada banyak pemikiran politik filosofis yang menghubungkan politik dengan spiritualitas atau transendensi, seperti konsep “Siyasah Syar’iyyah” (Politik Syariah), Konsep “Khilafah” (Khalifah); pemikiran dan konsep “Madinah Fadhilah” (Kota Utama) dari Al-Farabi (872-950 M);  teori “Asabiyah” (solidaritas sosial) dari Ibn Khaldun (1332-1406 M); dan konsep “Khilafah” (Khalifah), pemikiran Plato (Republik), pemikiran filosofis Timur: konsep “dharma” dalam Hinduisme/Buddhisme.

    (3)    Analisis Konseptual: Analisis konseptual dapat menunjukkan bagaimana “Politik Langitan” berbeda dengan konsep lain, misalnya, politik pragmatis, politik realis dan dengan menawarkan kerangka berpikir yang unik.

    (4)    Contoh Kasus: Ada banyak contoh kasus di Indonesia di mana “Politik Langitan” dapat digunakan sebagai kerangka analisis untuk memahami fenomena politik, seperti kebijakan berbasis nilai spiritual, gerakan sosial berbasis agama yang dilakukan oleh Ormas-Ormas Keagamaan.

    “Dalam konteks teori politik normatif, “Politik Langitan” menawarkan paradigma yang menekankan pentingnya nilai-nilai transendental dalam pengambilan keputusan politik, seperti kebijakan hari libur yang terkait dengan perayaan hari-hari besar agama, kebijakan toleransi antar umat beragama terkait dengan Pancasila, program “Bank Sampah” di beberapa daerah terkait dimensi etis menjaga lingkungan dan spiritualitas berbagi, kegiatan “Jumat Berkah” yang berorientasi pada kebaikan umum dengan mempertimbangkan dimensi spiritual dan etis’.

    Politik Di Atas Politik

    Dalam upaya untuk mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum, politik harus didasarkan pada prinsip-prinsip etika dan moral. Politik harus tentang melayani kepentingan masyarakat, bukan tentang kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan demikian, politik dapat menjadi suatu alat yang efektif dan efesien untuk menciptakan masyarakat makmur dan sejahtera.

    Untuk memudahkan memahami “Politik di Atas Politik” atau “Politik Langitan”, saya harus membagi politik menjadi dua aspek, yaitu:  aspek internal politik (tujuan politik: esensi politik) yang saya sebut sebagai “Politik Langitan”; dan aspek eksternal politik (tindakan politik: eksistensi politik).     

    (1) Aspek internal politik (Tujuan Politik: Esensi Politik): Politik adalah dasar legitimasi dan justifikasi politik bagi kegiatan dan tindakan politik dalam mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum. Aspek internal ini merupakan esensi politik, yaitu tujuan yang ingin dicapai. 

    Pada aspek internal politik ini, esensi politik berada dalam lingkup:

    (a)    Norma Religius (Teologi Politik): Politik terkait dengan nilai-nilai agama dan keyakinan spiritual yang menjadi dasar legitimasi politik.

    (b)    Norma Moral (Filsafat Politik): Politik terkait dengan prinsip-prinsip moral dan etika yang menjadi landasan tujuan politik.

    (2)    Aspek eksternal politik (Tindakan Politik: Eksistensi Politik): Politik adalah kegiatan atau tindakan politik dalam mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum. Aspek eksternal ini merupakan eksistensi politik, yaitu sebagai alat efektif dan efesien untuk mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum. 

    Pada aspek eksternal politik ini, eksistensi politik berada dalam lingkup: 

    (a)    Nalar Ilmiah (Pemikiran Politik): Politik diwujudkan melalui pemikiran rasional dan analisis ilmiah untuk mencapai tujuan.

    (b)    Nalar Etis (Ideologi Politik): Politik diwujudkan melalui ideologi yang menjadi pedoman tindakan politik. 

    (c)    Publik Etis (Opini Politik); Publik Etis (Opini Politik): Politik diwujudkan melalui opini dan partisipasi publik yang membentuk kebijakan.

    Politik Langitan

    “Politik Langitan” merupakan konsep dan paradigma politik yang berorientasi pada terwujudnya tujuan politik berupa kebaikan umum berdasarkan kehendak umum, yaitu kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Politik Langitan dapat didefinisikan sebagai segala kegiatan dan tindakan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur, moral, dan etika yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat makmur dan sejahtera. 

    Politik Langitan adalah upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan masyarakat makmur dan sejahtera melalui serangkaian kegiatan atau  tindakan yang terencana, terstruktur, sistematis, dan massif dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur, moral, dan etika. 

    Konsep dan paradigma ini sejalan dengan gagasan para pendiri bangsa dan negara, yang menekankan pentingnya nilai-nilai luhur dan moral dalam kegiatan atau tindakan politik, sebagaimana diamanatkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945, Pancasila, UUD’1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

    Dalam konteks definisi ini, “Politik Langitan” dapat dipahami sebagai sebuah paradigma politik yang berfokus pada tujuan jangka panjang dan berkelanjutan, serta memprioritaskan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum berupa masyarakat makmur dan sejahtera.

    Paradigma ini berbeda dengan politik pragmatis yang mengabaikan nilai-nilai luhur, moral, dan etika, serta hanya berfokus pada kekuasaan dan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan. Politik pragmatis yang mengutamakan kepentingan jangka pendek, seringkali mengorbankan prinsip nilai-nilai luhur, moral, dan etika demi mencapai tujuan politik. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan sosial, ketidakadilan, dan kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik.

    Dalam politik pragmatis, kekuasaan dan kepentingan menjadi tujuan utama, sedangkan nilai-nilai luhur, moral, dan etika menjadi tidak relevan. Paradigma ini juga dapat memicu konflik politik dan kompetisi yang tidak sehat antara kelompok-kelompok politik, karena masing-masing berusaha untuk mencapai kekuasaan dan kepentingan sendiri.

    Sebaliknya, “Politik Langitan” menekankan pentingnya nilai-nilai luhur, moral, dan etika  dalam politik, serta memprioritaskan kebaikan umum berupa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Paradigma ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera, serta mempromosikan persamaan dan kesetaraan.

    “Politik Langitan” memiliki beberapa karakteristik utama, empat di antaranya yang paling pokok, yaitu: (1) Berorientasi pada kebaikan umum dan kesejahteraan masyarakat; (2) Berlandaskan pada nilai-nilai luhur, moral, dan etika; (3) Berfokus pada tujuan jangka panjang dan berkelanjutan; (4) Memprioritaskan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan politik

    Dalam upaya mewujudkan “Politik Langitan”, perlu dilakukan beberapa langkah yang terstruktur, sistematis dan masif, empat diantaranya paling pokok, yaitu:

    (1)    Mengoreksi definisi kotor politik yang mencakup manipulasi, penipuan, eksploitasi, kebohongan, kemunafikan, dan ketegaan menjadi definisi sejati politik: “Politik Langitan” yang mencakup segala upaya untuk mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum sesuai prinsip nilai-nilai luhur, moral, dan etika.

    (2)    Meningkatkan sosialiasi politik (political socialization) berupa transfer dan transpormasi nilai-nilai politik kepada masyarakat terutama generasi muda sebagai pelanjut, seperti nilai kejujuran, keadilan, persamaan, kesetaraan, solidaritas, dan partisipasi. 

    (3)    Membangun budaya politik partisipan (participant political culture) berupa pola orientasi politik yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur, moral, dan etika.

    (4)    Membangun partisipasi politik otonom (otonomus political participation) yang bermakna dalam proses politik terutama pengambilan keputusan politik dan kebijakan politik.

    Implementasi “Politik Langitan” yang menghadapi beberapa tantangan serius, seperti kurangnya sosialiasi politik, rendahnya budaya politik partisipan, dan rendahnya partispasi politik otonom, dapat diatasi dengan memperkuat lima lingkup politik sebagai kerangka kerja, yaitu:  

    (1)    Norma Religius (Teologi Politik): Tentang relasi politik dengan agama, yang dipandang sebagai cara untuk mewujudkan kehendak Tuhan atau nilai-nilai religius, seperti mentaati perintah dan larangan sakral. 

    (2)    Norma Moral (Filsafat Politik): Tentang prinsip-prinsip moral  universal yang menjadi dasar politik dalam mewujudkan kebaikan umum, seperti penghargaan pada nilai-nilai kemanusiaan. 

    (3)    Nalar Ilmiah (Pemikiran Politik): Tentang metode dan analisis ilmiah tentang politik, seperti sistem politik, institusi politik, dan perilaku politik. 

    (4)    Nalar Etis (Ideologi Politik): Tentang ideologi politik yang menjadi dasar bagi keputusan politik dan kebijakan politik. 

    (5)    Publik Etis (Opini Politik): Tentang opini politik mengenai sikap dan pendapat masyarakat terhadap isu-isu publik, seperti kebijakan lingkungan hidup. 

    Menutup artikel ini, perlu saya tegaskan kembali bahwa praktik politik yang dipertontonkan oleh aktor politik dan seringkali dicemooh dan dicerca, bukanlah politik yang sebenarnya, melainkan politik yang manipulatif dan eksploitatif. Praktik politik ini belum menyentuh gagasan ideal dari politik yang menekankan pada upaya untuk mewujudkan kebaikan umum berdasarkan kehendak umum.

    Hal ini terjadi karena kurangnya keberanian untuk mengoreksi definisi kotor politik yang mencakup manipulasi, penipuan, eksploitasi, kebohongan, kemunafikan, dan ketegaan. Oleh karena itu, masyarakat kehilangan kepercayaan pada politik dan politisi. 

    Namun, di atas politik tentu masih ada politik yang lebih tinggi, yaitu politik  tentang masyarakat, bukan tentang diri sendiri; politik tentang kebaikan umum, bukan tentang kepentingan pribadi; politik tentang kebenaran, bukan tentang kekuasaan; politik tentang melayani, bukan tentang dilayani; Saya menyebut ini sebagai “Politik Langitan”. 

    Dengan demikian, “Politik Langitan” dapat menjadi sebuah konsep dan paradigma yang relevan dan efektif dalam mewujudkan kepentingan umum, kebaikan umum, dan kehendak umum. “Politik Langitan” menawarkan sebuah visi politik yang lebih tinggi dan lebih mulia, yaitu politik kebaikan, kebenaran, dan keuntungan bersama. “Politik Langitan” bukanlah impian yang mustahil, tapi pilihan logis dan realistis. 

    (Penulis adalah Dosen Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI)