Author: Antaranews.com

  • Ketum PAN Zulkifli Hasan sepakat bentuk koalisi permanen antar partai

    Ketum PAN Zulkifli Hasan sepakat bentuk koalisi permanen antar partai

    ANTARA – Gagasan yang disampaikan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadia, tentang pembentukan koalisi permanen antar partai pendukung pemerintahan, mendapat tanggapan positif dari 
    Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan. Saat menghadiri sebuah acara di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Zulhas menyebut koalisi ini harus solid dan kokoh di tengah dinamika politik era Presiden Prabowo Subianto. (Kusnandar/Dudy Yanuwardhana/Rinto A Navis)

    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Gus Yahya jelaskan soal kisruh PBNU ke kiai sepuh di Jombang

    Gus Yahya jelaskan soal kisruh PBNU ke kiai sepuh di Jombang

    “Para pinisepuh, sesepuh memanggil saya dan saya datang. Apapun nanti yang diminta saya siap, apapun yang ditanyakan saya siap jawab,”

    Jombang (ANTARA) – Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf memberikan klarifikasi atau penjelasan kepada kiai sepuh saat di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, terkait dengan kisruh di PBNU.

    “Para pinisepuh, sesepuh memanggil saya dan saya datang. Apapun nanti yang diminta saya siap, apapun yang ditanyakan saya siap jawab,” katanya saat di Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu.

    Ia mengatakan kedatangannya ke Pesantren Tebuireng Jombang tersebut juga untuk menghadiri panggilan dari para kiai sepuh. Ia juga didampingi sejumlah pengurus di PBNU.

    Dirinya juga menyiapkan dokumen untuk memberikan klarifikasi kepada kiai sepuh. Dokumen tersebut ada satu tas penuh.

    Pihaknya berharap dari hasil pertemuan ini menjadi awal yang baik. Ia pun berharap masalah ini juga bisa secepatnya selesai.

    “Mudah-mudahan ini bisa menjadi awal dari jalan penyelesaian,” kata dia.

    Sementara itu, salah satu Rais Syuriyah PBNU K.H. Mohammad Nuh mengatakan dirinya hadir menindaklanjuti arahan dari Rois Aam dan Wakil Rois Aam yang memang diundang acara di Pesantren Tebuireng Jombang.

    Namun, karena merek ada acara sehingga kegiatan di Pesantren Tebuireng, ia diminta untuk menghadirinya.

    ‘Tugas saya menyampaikan apa adanya yang sedang terjadi. Forum itu tentu sangat baik dan tindak lanjuti dari pertemuan di (Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri) Ploso beberapa hari lalu, mencari alternatif solusi yang terbaik,” kata dia.

    Ia menambahkan, bagi Syuriah PBNU keputusan yang sudah diambil dan dirapatkan dalam tubuh organisasi sudah selesai. Konteksnya yakni adanya kesalahan dan sanksi.

    “Konteksnya adalah adanya kesalahan dan sanksi, tidak ada perselisihan individu dan dari kesalahan itu maka diberikan sanksi,” kata dia.

    Ia juga menambahkan, dari Rois Aam PBNU juga sudah menjelaskan dalam rapat di PWNU Jatim beberapa hari lalu. Rapat tersebut juga dihadiri para sesepuh.

    Sedangkan dari rapat di Pesantren Tebuireng, Jombang, kata dia, juga dihadiri para sesepuh, senior. Mereka memberikan pandangan. Diharapkan nantinya sekecil apa pun peluang jika untuk kebaikan NU harus ditindalanjuti.

    Ia pun menambahkan, nantinya juga akan ada rapat lanjutan. Nantinya pada 9 Desember 2025 akan ditindaklanjuti pleno dengan mengangkat Pj Ketua PBNU yang baru.

    Sejumlah kiai sepuh yang hadir di antaranya adalah Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri K.H. Anwar Manshur, mantan Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siroj, dan sejumlah tamu undangan lainnya. Mereka juga ziarah ke makam pendiri NU K.H. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng Jombang tersebut.

    Pewarta: Asmaul Chusna
    Editor: Agus Setiawan
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • MPR tegaskan pemimpin administrasi publik harus berwawasan kebangsaan

    MPR tegaskan pemimpin administrasi publik harus berwawasan kebangsaan

    “Pemimpin administrasi publik yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan adalah sosok yang menjadikan Pancasila sebagai jiwa, konstitusi sebagai kompas, dan NKRI sebagai rumah bersama,”

    Jakarta (ANTARA) – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menegaskan pemimpin administrasi publik harus kompeten, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan, dalam kegiatan Menyapa Sahabat Kebangsaan dengan tema Pemimpin Administrasi Publik yang Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Jumat (5/12).

    Kepala Biro Humas dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR Anies Mayangsari Muninggar menekankan adanya tantangan yang dihadapi administrasi publik Indonesia, yaitu tantangan integritas, tantangan penegakan hukum, dan tantangan kepercayaan publik.

    “Pemimpin administrasi publik yang berintegritas dan berwawasan kebangsaan adalah sosok yang menjadikan Pancasila sebagai jiwa, konstitusi sebagai kompas, dan NKRI sebagai rumah bersama,” kata Anies dalam kegiatan tersebut, seperti dikutip dari keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.

    Dia menyebutkan nilai dasar integritas meliputi jujur, akuntabel, dan etis, sedangkan nilai wawasan kebangsaan antara lain nilai nasionalisme, persatuan, dan kesejahteraan.

    Dalam tantangan integritas, Anies mengutip data Transparancy International yang mencatat bahwa pada tahun 2024, Indonesia memperoleh skor 37/100 dalam Indeks Persepsi Korupsi (CPI), di mana Indonesia berada pada peringkat 99 dari 180 negara.

    Ia mengatakan skor tersebut menunjukkan persepsi korupsi di sektor publik masih tinggi dan menghambat terwujudnya birokrasi yang bersih.

    Sementara tantangan penegakan hukum, lanjut dia, terlihat dalam data resmi dari Statistik Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2024, yang menunjukkan lebih dari 85 persen penyidikan korupsi berasal dari pengadaan barang/jasa serta gratifikasi dan penyuapan.

    “Fakta ini menegaskan bahwa sektor esensial dalam pelayanan publik masih menjadi titik paling rawan korupsi,” ucap dia.

    Kemudian dalam tantangan kepercayaan publik, sambung dia, data GoodStat 2025 mencatat 60 persen masyarakat menyatakan cukup percaya pada lembaga negara dengan angka sangat percaya masih di bawah 25 persen.

    Dikatakan bahwa data itu menunjukkan tingkat kepercayaan publik masih moderat namun belum kokoh dan sangat dipengaruhi oleh kualitas integritas pemimpin publik.

    Menurut Anies, Indonesia tidak hanya membutuhkan pejabat, tetapi pemimpin yang berani jujur, berani melayani, dan berani menjaga kehormatan negara.

    Karena itu, dirinya berharap mahasiswa administrasi publik, sebagai calon penyelenggara pemerintahan (perencana, analis, birokrat, pemimpin), agar dapat menyiapkan diri sebagai generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara moral dan nasionalisme.

    Sementara, staf pengajar Departemen Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad Slamet Usman Ismanto mengatakan seorang pemimpin administrasi publik harus memberikan harapan karena seorang pemimpin administrasi publik akan membuat keputusan.

    “Seorang pemimpin administrasi publik juga harus menjadi teladan,” ujar Slamet menanbahkan.

    Terkait dengan harapan, keputusan, dan teladan, lanjut dia, seorang pemimpin administrasi publik harus memiliki kemampuan literasi data dan literasi teknologi. Kemampuan literasi bisa diperoleh dengan cara membangun karakter yang dimulai dengan kebiasaan.

    Dia menegaskan keberhasilan dipengaruhi oleh komitmen dan konsistensi, yang membutuhkan mentor dan latihan, lantaran masa depan bukan direncanakan, melainkan diciptakan.

    Pewarta: Agatha Olivia Victoria
    Editor: Agus Setiawan
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Muzani sebut HMI punya sejarah panjang dalam membangun bangsa

    Muzani sebut HMI punya sejarah panjang dalam membangun bangsa

    HMI lahir ketika negara ini belum terkonsolidasi, belum menghadapi agresi Belanda. Dari situ muncul lah anak-anak bangsa yang punya kesadaran tinggi untuk membangun masa depan negeri

    Jakarta (ANTARA) – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menerangkan sejarah panjang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam keterlibatannya membangun bangsa.

    Dalam acara audiensi Sekolah Pimpinan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (5/12), dijelaskannya bahwa HMI konsisten mengawal bangsa sejak dibentuk pada 1947.

    Salah satunya keterlibatan HMI yakni banyak kader-kader yang sedari dulu ikut mendorong kemerdekaan bangsa.

    Bahkan hingga saat ini, HMI banyak menyumbang tokoh-tokoh penting yang duduk dalam posisi strategis kenegaraan.

    “HMI lahir ketika negara ini belum terkonsolidasi, belum menghadapi agresi Belanda. Dari situ muncul lah anak-anak bangsa yang punya kesadaran tinggi untuk membangun masa depan negeri,” kata dia dalam siaran pers resmi yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.

    Dia menilai dari masa kemerdekaan, orde lama, orde baru hingga saat ini, HMI masih eksis dengan mengemban gagasan “Islam Yes, Partai Islam No” dari Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang dianggap sebagai bentuk penyeimbang terhadap proses sekularisasi yang berlebihan pada zaman itu.

    “Tanpa harus menjadi partai Islam, semangat keislaman hari ini justru menjadi energi kehidupan berbangsa. Negara melindungi ibadah, transaksi, dan praktik kehidupan berdasarkan ajaran agama,” jelasnya.

    Untuk terus memperkuat eksistensi HMI dalam mengawal perkembangan negara, Muzani mengajak para kader untuk terus menjadi bagian dari proses pembangunan bangsa melalui profesi apapun untuk Indonesia yang lebih baik ke depannya.

    “Sekolah Pimpinan HMI adalah upaya untuk menciptakan pemimpin bangsa masa depan. Saya yakin beberapa tahun ke depan akan ada yang menjadi bupati, wali kota, bahkan gubernur,” katanya.

    Ahmad Muzani juga berpesan bahwa semangat perjuangan HMI tidak boleh padam di dalam diri para kader walaupun profesinya tidak berkaitan langsung dengan dunia politik.

    Sementara itu Ketua Umum PB HMI, Bagas Kurniawan menegaskan bahwa generasi muda adalah pihak yang akan hidup dan menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, keresahan terkait isu ekologis, pendidikan, hingga keadilan di daerah adalah bentuk kepekaan generasi muda terhadap tantangan bangsa saat ini.

    Ia juga mengatakan bahwa mencintai bangsa tidak cukup hanya dengan slogan, melainkan diwujudkan melalui keberanian memberikan kritik jujur kepada negara. Keberanian inilah yang akan menjaga kualitas sumber daya manusia dan pemerataan keadilan.

    “Masa depan kita sangat ditentukan oleh bagaimana sumber daya manusia dipersiapkan, bagaimana pendidikan ditata, dan bagaimana keadilan daerah diwujudkan. Dan, ini sejalan dengan perjuangan yang terus dilakukan HMI,” pungkasnya.

    Pewarta: Walda Marison
    Editor: Tasrief Tarmizi
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • MPR: Kekerasan pada perempuan langgar nilai kehidupan dan Pancasila

    MPR: Kekerasan pada perempuan langgar nilai kehidupan dan Pancasila

    Bangsa Indonesia tidak boleh lagi menoleransi tindak kekerasan dan berkompromi dengan patriarki

    Jakarta (ANTARA) – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Lestari Moerdijat menegaskan tindak kekerasan terhadap perempuan bukan semata masalah rumah tangga, melainkan merupakan pelanggaran nilai-nilai kehidupan dan Pancasila serta ancaman bagi masa depan bangsa.

    Saat menjadi pembicara secara daring pada Kelas Ketigabelas Feminisme Pancasila Akademi Perempuan Nasional Demokrat (NasDem), Jumat (5/12), Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat perlu kerja keras yang luar biasa agar dapat mengurangi, bahkan meniadakan kekerasan terhadap perempuan di Tanah Air.

    “Bangsa Indonesia tidak boleh lagi menoleransi tindak kekerasan dan berkompromi dengan patriarki,” ucap Rerie, seperti dikutip dari keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

    Apalagi, kata dia, bangsa Indonesia memiliki empat konsensus kebangsaan (Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika) yang merupakan basis moral dalam mewujudkan gerakan antikekerasan.

    Selain itu, Rerie menambahkan hadirnya Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual merupakan tonggak reformasi sosial yang mempertegas sikap moral bangsa dalam melawan tindak kekerasan dan ketidakadilan.

    Untuk itu, menurut dia, Indonesia tidak kekurangan regulasi untuk melindungi warganya, sehingga yang harus ada saat ini merupakan kehadiran negara yang konsisten untuk mewujudkan keadilan bagi setiap warga negara.

    Dengan demikian, dirinya pun mengajak seluruh elemen masyarakat dan negara mengambil peran dengan kapasitas yang dimiliki untuk bersama-sama menghapuskan kekerasan di negeri ini.

    Tanpa adanya tindak kekerasan, sambung dia, akan terwujud lingkungan yang aman bagi setiap warga, termasuk perempuan.

    “Bila perempuan aman dan terlindungi akan menghadirkan perempuan kuat yang aktif membangun dan mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang tangguh di masa datang,” ungkapnya.

    Adapun Kelas Ketigabelas Feminisme Pancasila Akademi Perempuan NasDem yang digelar bertemakan Kekerasan Seksual dan Kampanye Nasional 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

    Pewarta: Agatha Olivia Victoria
    Editor: Tasrief Tarmizi
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Polisi tangkap dua pelaku pengeroyokan di Koja, Jakut

    Polisi tangkap dua pelaku pengeroyokan di Koja, Jakut

    Jakarta (ANTARA) – Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara berhasil menangkap dua pelaku pengeroyokan berinisial RF (23) dan ZAA (19) di kawasan Koja, Jakarta Utara.

    Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, menjelaskan bahwa keduanya ditangkap pada Jumat (5/12) di Koja, Jakarta Utara, berdasarkan laporan polisi LP/B/2316/XII/2025 tanggal 4 Desember 2025.

    Dalam laporan tersebut, korban berinisial MDS awalnya memiliki utang dengan terlapor (ZAA) sebesar Rp3,4 juta dan terlapor memaksa korban untuk membayar, namun korban tidak punya uang untuk membayarnya.

    “Kemudian korban dibawa oleh para pelaku ke bengkel motor (TKP), lalu korban dikeroyok dengan cara ditutup matanya dengan menggunakan lakban lalu disundut dengan menggunakan rokok, lalu diteteskan sedotan yang meleleh, ditendang, di sekujur tubuh dan kepala,” kata Budi.

    Atas kejadian tersebut korban mengalami luka lecet, memar, dan sundutan rokok di kedua tangan, pelipis, leher belakang, punggung, dan kepala.

    Setelah menerima laporan tersebut polisi bergerak cepat dan melakukan penangkapan pada Jumat (5/12) di Koja, Jakarta Utara.

    “Dalam penangkapan tersebut, dua pelaku diamankan tanpa perlawanan,” katanya.

    Sejumlah barang bukti turut disita saat para pelaku diamankan berupa sepeda motor, lakban, dan handphone milik korban yang diduga digunakan serta dibawa saat kejadian pengeroyokan.

    Budi mengatakan bahwa pengungkapan ini menunjukkan respon cepat Polri dalam menangani laporan masyarakat. Polri tetap konsisten menegakkan hukum dengan cara yang humanis dan berorientasi pada peningkatan pelayanan publik.

    “Laporan sekecil apa pun tidak kami abaikan. Polri hadir untuk memberi rasa aman,” ujarnya.

    Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara Kompol Onkoseno menegaskan bahwa seluruh proses penindakan dilakukan secara profesional dan terukur.

    “Yang terpenting korban mendapatkan keadilan,” tuturnya.

    Saat ini,.kata dia, kedua pelaku sudah diserahkan kepada penyidik untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk pendalaman motif dan pemeriksaan saksi-saksi.

    Onkoseno juga mengimbau masyarakat agar segera melapor ke layanan call center Polri 110 jika mengetahui atau mengalami tindak kejahatan.

    “Polri memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan cepat, transparan, dan tetap mengedepankan pendekatan humanis,” katanya.

    Pewarta: Ilham Kausar
    Editor: Syaiful Hakim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • PMI Jaktim salurkan bantuan penyintas kebakaran di Cakung Timur

    PMI Jaktim salurkan bantuan penyintas kebakaran di Cakung Timur

    Jakarta (ANTARA) – Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Timur memberikan bantuan bagi penyintas kebakaran sembilan unit kontrakan di Jalan Kayu Tinggi, RT 08/05, Cakung Timur, Cakung, pada Rabu (3/12) malam.

    “Kita berikan bantuan untuk meringankan beban warga yang sedang terkena musibah di Cakung Timur. Mudah-mudahan bermanfaat,” kata Kepala Seksi Humas dan Komunikasi PMI Jakarta Timur Agus Bastian di Jakarta, Sabtu.

    Agus menyebut, bantuan diberikan sebagai tindak lanjut dari permohonan pihak kelurahan setempat

    Saat ini penyintas kebakaran yang berjumlah 10 Kepala Keluarga (KK) berada di tenda pengungsian milik Suku Dinas Sosial setempat yang tak jauh dari lokasi kejadian.

    Bantuan yang diberikan masing-masing berupa delapan pieces perlengkapan sekolah (school kit), 10 tikar, 10 paket sembako, dan 10 selimut bantuan.

    “Semua bantuan ini diterima Ketua RT 08, Cakung Timur sekaligus penanggung jawab posko pengungsian masyarakat terdampak kebakaran,” ujar Agus.

    Sebelumnya, Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur mengungkapkan, kerugian akibat kebakaran sembilan pintu kontrakan di Cakung Timur, pada Rabu (3/12) malam mencapai Rp250 juta.

    “Objek yang terbakar rumah semi permanen dengan luas sekitar 500 meter persegi milik Pak Amin, pak RT 08. Akibatnya, total kerugian mencapai Rp250 juta,” kata Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur Abdul Wahid saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (4/12).

    Abdul menyebutkan, informasi kebakaran disampaikan oleh salah satu warga sekitar melalui pusat panggilan (call center) Dinas Gulkarmat Jakarta melalui layanan darurat sekitar pukul 20.14 WIB.

    Petugas Suku Dinas (Sudin) Gulkarmat Jaktim langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP) bersama satu unit pemadam kebakaran untuk pengerahan awal.

    “Kami terima kabar pukul 20.14 WIB, terus tiba di lokasi sekitar pukul 20.26 WIB. Awal pemadaman kami lakukan pukul 20.27 WIB,” ujar Abdul.

    Abdul menyebutkan, api berhasil dilokalisir pukul 20.50 WIB. Waktu pendinginan sekitar pukul 20.59 WIB dan status kebakaran dinyatakan selesai pukul 21.48 WIB.

    Sebanyak 12 unit pemadam kebakaran dengan 60 personel Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Timur dikerahkan untuk memadamkan kebakaran rumah tersebut.

    Dari hasil penyelidikan awal, api diduga terjadi akibat korsleting listrik di salah satu rumah warga.

    Bangunan kontrakan yang berdempetan dan terbuat dari bahan yang sebagian besar mudah terbakar membuat api cepat merembet.

    Sebanyak sepuluh kepala keluarga dengan total 30 jiwa berhasil menyelamatkan diri sebelum api membesar.

    Pewarta: Siti Nurhaliza
    Editor: Syaiful Hakim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • “Urban Sustainability Education” ajak pelajar pahami ketahanan pangan

    “Urban Sustainability Education” ajak pelajar pahami ketahanan pangan

    Jakarta (ANTARA) – Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta menggelar kegiatan “Urban Sustainability Education” atau pendidikan yang berfokus pada pemahaman pembangunan berkelanjutan kepada sejumlah pelajar untuk memahami ketahanan pangan sejak dini.

    Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, program ini sebagai langkah strategis dalam menanamkan pola pikir berkelanjutan sejak dini kepada peserta didik melalui pendekatan aplikatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan kota modern.

    “Para peserta didik ini dibekali pemahaman tentang ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, serta solusi terhadap berbagai persoalan perkotaan,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

    Ia menjelaskan, salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah pertanian perkotaan (urban farming) yang mengenalkan anak-anak pada pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan.

    Selain itu, konsep “urban scouting” juga diperkenalkan sebagai bentuk transformasi kegiatan kepramukaan yang disesuaikan dengan karakter kota besar.

    “Urban scouting membekali peserta dengan karakter tangguh untuk bertahan di kota besar, memahami risiko, mitigasi bencana, hingga mencari solusi atas permasalahan perkotaan,” kata Nahdiana.

    Menurut dia, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga harus menghadirkan pengalaman langsung yang membentuk karakter, kepedulian, dan keberanian anak-anak untuk menjadi agen perubahan.

    “Sekolah diharapkan menjadi pusat pembelajaran berkelanjutan yang membuka ruang kreativitas dan ekspresi peserta didik,” ucap Nahdiana.

    Dia berharap, kegiatan ini mampu menjadi inspirasi dalam menyiapkan masa depan Jakarta yang lebih baik.

    “Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam perjalanan kalian sebagai penerus kota Jakarta,” katanya.

    Sementara itu, Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat menyampaikan dukungan penuh atas pelaksanaan “Urban Sustainability Education” ini.

    Menurutnya, ini sebuah program pendidikan yang menanamkan pola pikir keberlanjutan sejak usia dini kepada para pelajar.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta didik dapat tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan serta kemampuan merancang solusi atas berbagai persoalan perkotaan di masa depan.

    “Semoga anak-anak Jakarta tumbuh menjadi generasi yang mampu bertahan hidup di kota besar, memahami persoalan perkotaan, dan menghadirkan solusi nyata,” ucap Hendra.

    “Urban Sustainability Education” diikuti sebanyak 1.799 peserta didik dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK termasuk siswa-siswi pra-sejahtera, berkebutuhan khusus, serta diaspora di Jakarta yang diselenggarakan di Ocean Ecopark Ancol Jalan Lodan II, Taman Impian Jaya Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Sabtu.

    Kegiatan pada tahun ini menghadirkan dua kegiatan utama, yakni “Urban Farming” dan “Urban Scouting”.

    Selain itu juga kegiatan ini juga menampilkan beragam pertunjukan edukatif dan seni budaya, di antaranya membatik dari bahan akar mangrove oleh murid disabilitas, permainan tradisional, senam semaphore, tari, angklung, vokal, serta musikalisasi puisi.

    Pewarta: Ilham Kausar
    Editor: Syaiful Hakim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Wamendagri minta pemerintah daerah ciptakan inovasi berbasis solusi

    Wamendagri minta pemerintah daerah ciptakan inovasi berbasis solusi

    Jangan sampai inovasi ini hanya orientasinya ke reward dan gimmick, enggak ada rasanya-manfaatnya bagi warga. Harus pertama, mendapatkan solusi, kalau enggak jadi solusi, enggak ada artinya

    Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto meminta pemerintah daerah (pemda) untuk menciptakan inovasi yang benar-benar menghadirkan solusi, bukan sekadar menjadi ajang pencitraan atau berorientasi pada penghargaan.

    Dalam acara Lamongan Award 2025 di Lamongan, Jawa Timur, Jumat (5/12), ia menegaskan inovasi harus lahir dari kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat nyata.

    “Jangan sampai inovasi ini hanya orientasinya ke reward dan gimmick, enggak ada rasanya-manfaatnya bagi warga. Harus pertama, mendapatkan solusi, kalau enggak jadi solusi, enggak ada artinya,” kata Bima, seperti dikutip dari keterangan di Jakarta, Sabtu.

    Bima mengatakan inovasi yang efektif tidak hanya menyelesaikan persoalan daerah, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat.

    Karena itu, kata dia, inovasi harus masuk ke dalam sistem dan terasa dampaknya bagi masyarakat secara langsung dan untuk mewujudkannya, setiap inovasi harus berbasis riset yang kuat.

    “Jadi semuanya itu risetnya serius. Kalau risetnya hanya copy-paste saja dari internet, ya buat apa? Harus ada hitung-hitungan angkanya,” tuturnya.

    Selain itu, ia menyebutkan inovasi juga harus ada dukungan pendanaan serta membangun kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan.

    Dia menuturkan negara-negara maju memiliki tradisi inovasi yang melembaga dan berkelanjutan. Pergantian pemimpin tidak menghentikan proses tersebut.

    Bima mencontohkan pengalaman saat mengikuti kursus di Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura. Di sana terdapat tradisi, ketika seorang menteri baru dilantik, maka langsung mengumpulkan stafnya bersama menteri sebelumnya.

    “Saya tanya, untuk apa? Untuk memastikan semua program-program dan inovasi berlanjut,” ujar Bima.

    Dirinya turut memaparkan sebuah matriks inovasi yang menggambarkan keragaman pola pikir dan karakter individu dalam menciptakan inovasi.

    Menurutnya, sebagian aparatur sipil negara (ASN) memiliki kreativitas dan konsistensi tinggi untuk terus berkreasi, sementara sebagian lainnya lebih pasif. Pola serupa juga terlihat pada kepala daerah, di mana ada yang dikenal progresif dan inovatif, sementara lainnya kurang menonjol.

    Dari matriks itu, ia menyimpulkan para inovator memiliki pola pikir perubahan, jiwa petarung, dan dorongan kuat untuk memberi manfaat bagi orang lain.

    “Sudah punya niat untuk berbuat bagi rakyat dan memiliki keberanian untuk berubah. Di sini lah kandang para inovator,” ungkapnya.

    Bima juga menyampaikan selamat kepada para penerima Lamongan Award 2025. Ia berharap para pemenang dapat menjadi inovator sejati yang berkarya bukan demi kepentingan pribadi atau sekadar meraih penghargaan, melainkan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan membawa perubahan bagi Kabupaten Lamongan.

    Pewarta: Agatha Olivia Victoria
    Editor: Tasrief Tarmizi
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Hasto serukan kader PDIP respons bencana alam dengan gerakan nyata

    Hasto serukan kader PDIP respons bencana alam dengan gerakan nyata

    Serangkaian bencana alam dan banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai tanda bahwa alam raya sedang menuju ketidakseimbangan

    Jakarta (ANTARA) – Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyerukan kepada seluruh kader partai untuk merespons bencana alam dengan kontemplasi mendalam dan gerakan nyata membantu rakyat.

    Seruan tersebut berlandaskan filosofi menghargai kehidupan yang diajarkan Presiden Pertama RI Soekarno atau Bung Karno dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang diyakini sebagai inti dari politik lingkungan hidup partai.

    “Serangkaian bencana alam dan banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai tanda bahwa alam raya sedang menuju ketidakseimbangan,” ujar Hasto dalam acara Konferensi Daerah Dewan Perwakilan Daerah PDIP Daerah Istimewa Yogyakarta di Yogyakarta, Sabtu, seperti dikutip dari keterangan yang diterima di Jakarta.

    Kalau dilihat secara kebatinan yang tumbuh subur di Yogyakarta, kata dia, maka tampak bagaimana alam raya saat ini terjadi ketidakseimbangan.

    Dengan demikian, lanjut dia, terlihat seperti dalam cerita wayang, yang sekarang terjadi huru-hara di Indonesia akibat ulah manusia yang merusak alam.

    Hasto menjelaskan inti filosofi tersebut melalui pengalaman dan kebiasaan langsung bagaimana Bung Karno melarang izin konsesi hutan ke korporasi dan Megawati merawat kehidupan dengan tidak mengijinkan penambahan konsesi lahan sawit serta menjadikan gerakan menanam pohon sebagai kultur partai.

    Contoh sederhana, sambung dia, Megawati yang mempunyai kebiasaan mengumpulkan biji salak, mangga, lengkeng, dan durian.

    “Semua biji-bijian itu dilarang dibuang dan setelah dipersiapkan lalu ditanam, sehingga Ibu Mega memiliki kebun penuh tanaman dari biji-bijian yang dikumpulkan. Setiap biji-bijian, apalagi pohon punya hak untuk hidup,” ujar dia.

    Hasto menegaskan tindakan sederhana tersebut berasal dari nilai yang ditanamkan Bung Karno dan Megawati tentang merawat Pertiwi yang bertitik tolak dari ajaran Tat Twam Asi (engkau adalah aku, aku adalah engkau).

    Dikatakan bahwa setiap pohon juga memiliki jiwa dan kehidupan, sehingga jika masyarakat mencintai pohon, maka pohon bukan hanya menghasilkan oksigen, melainkan juga akan mencintai dan ikut merawat Indonesia.

    Dia pun mengaitkan kerusakan lingkungan dengan sistem yang tidak adil, yakni bagaimana lingkungan telah dirusak akibat kapitalisasi kekuasaan politik yang luar biasa, sehingga lahan-lahan hutan dikonversi menjadi lahan-lahan sawit.

    “Padahal Ibu Mega mengatakan sawit adalah tanaman yang arogan,” tutur Hasto.

    Selain itu, ia menilai bencana alam juga merupakan akibat dari ketiadaan keadilan, terutama dalam penguasaan lahan dan tidak adanya penegakan hukum atas tambang ilegal dan pembalakan liar.

    Dirinya menekankan justice for all atau keadilan untuk seluruh rakyat harus menjadi tema sentral, baik dalam mengelola partai, bersikap sesama, maupun dalam perspektif hukum.

    Sebagai langkah konkret, dia menginstruksikan kader di Yogyakarta untuk bergerak serentak membersihkan Kali Code dan Kali Winongo dalam rangka Hari Ulang Tahun Partai.

    Hasto juga mengajak kader menjadikan kebiasaan Megawati mengumpulkan botol bekas untuk pengurusan tanaman sebagai tradisi PDIP.

    Solidaritas sosial juga diwujudkan melalui pengumpulan dana yang akan digunakan untuk membantu rakyat terdampak bencana.

    Ia berkeyakinan dengan menginternalisasi filosofi menghargai kehidupan dan memperjuangkan keadilan ekologis, kader PDIP dapat menjadi bagian dari solusi mengatasi ketidakseimbangan alam.

    Pewarta: Agatha Olivia Victoria
    Editor: Tasrief Tarmizi
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.