Liputan6.com, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan gempa magnitudo 7,1 kemudian diperbarui menjadi magnitudo 6,4 di Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) disebabkan aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku,” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, Sabtu (11/1/2026).
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar turun (oblique normal).
Gempa bumi tersebut berdampak dan dirasakan di daerah Tobelo, Sitaro dengan skala intensitas III-IV MMI (bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), daerah Morotai dengan skala intensitas III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).
Sementara di daerah Ternate, Minahasa Utara, dan Bitung dengan skala intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujarnya.
Hingga pukul 22.20 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya satu aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo Magnitudo 4,6.
Dia berharap, untuk memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469123/original/055074300_1768062401-Gempa_guncang_Talaud_Sulut.png?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)