BMKG Sebut Ada Awan Cumulonimbus di Maros Saat Pesawat ATR 42-500 Jatuh

BMKG Sebut Ada Awan Cumulonimbus di Maros Saat Pesawat ATR 42-500 Jatuh

Tim SAR gabungan berhasil menemukan jenazah korban kedua kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Senin (19/1/2026). Korban diketahui berjenis kelamin perempuan.

Sebagai informasi dua perempuan dalam pesawat itu adalah pramugiari yakni Florencia Lolita dan Esther Aprilita.

Salah satu anggota tim SAR, Saiful Malik (34), menceritakan jenazah ditemukan sekitar 100 meter sebelum titik jatuhnya kepala pesawat, di jalur lereng sebelah kanan dengan medan yang sangat curam.

“Saya menyisir ke lereng sebelah kanan dan menemukan bekas pohon serta batu yang pecah. Di situlah korban ditemukan dalam kondisi tengkurap di lereng yang sangat curam,” ujar Saiful di Posko SAR Tompo Bulu.

Korban ditemukan di kedalaman sekitar 300 meter, tergeletak di antara serpihan mesin pesawat. Saat ditemukan, tim SAR juga menjumpai name tag yang diduga milik kru ATR 42-500.

“Iya, identifikasi awal perempuan. Saya belum berani mendekat dan menunggu tim lain. Setelah Basarnas dan rekan-rekan datang, kita pastikan korban perempuan dan masih ada name tag,” ungkap Saiful.

Namun, Saiful mengaku tidak berani memastikan identitas korban secara rinci karena kondisi fisik yang sudah sangat kelelahan saat evakuasi awal. Meski begitu, ia menduga nama yang tertera pada name tag merupakan salah satu awak pesawat asal Manado.

“Nametag-nya masih ada namanya. Sepertinya dari manifest awak Manado. Ester atau Florencia, Florencia kayaknya,” katanya.

Saiful menjelaskan kondisi jenazah saat ditemukan masih relatif utuh meski mengalami sejumlah luka serius. Jenazah itu ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan.

“Posisi tengkurap. Baju masih utuh, kepala masih ada. Korban mengenakan celana jins dan sepatu kets, serta baju uniform ATR,” jelasnya.

Setelah kantong jenazah tiba, tim SAR langsung melakukan proses pengemasan dan berupaya memobilisasi jenazah ke jalur utama pendakian untuk dievakuasi.

Sementara itu, anggota tim SAR dari Yonmarhanlan Makassar, Serda Marinir Syamsul Alam (40), mengatakan proses evakuasi terkendala cuaca buruk dan medan yang ekstrem.

“Korban ditemukan di kedalaman 300 meter, jalurnya terjal, curam, dan berkabut. Karena sudah lewat pukul 15.00 WITA dan cuaca tidak memungkinkan, kami mencari jalur alternatif,” ujarnya.

Menurut Syamsul, jenazah korban kemudian dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dan digantung menggunakan kantong jenazah agar tidak tergelincir ke bawah jurang.

“Sudah digeser sekitar 25 meter ke kanan dan digantung. Posisinya aman, jaraknya sekitar 350 meter dari puncak,” katanya.

Ia menambahkan, lokasi penemuan jenazah tidak jauh dari serpihan pesawat, termasuk potongan besar mesin dan baterai pesawat.

“Posisinya sangat dekat dengan serpihan, terutama baterai dan potongan besar engine. Dia tersangkut di kayu, kalau tidak ada kayu kemungkinan sudah jatuh ke bawah,” jelasnya.

Akibat cuaca buruk di Gunung Bulusaraung, jenazah korban belum dapat dievakuasi ke Posko SAR dan masih berada di lokasi penemuan.

“Masih di atas karena cuaca tidak memungkinkan. Tapi jenazah sudah di-packing dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman,” pungkas Syamsul.