Wajah Baru Jalan Terusan Exit Tol Soroja: Antara Ketertiban dan Kekhawatiran
Tim Redaksi
BANDUNG, KOMPAS.com
– Pemerintah Kabupaten Bandung mulai melakukan penataan kawasan di sepanjang Jalan Terusan Exit Tol Soroja dengan membangun separator jalan permanen.
Proyek yang membentang dari arah exit gerbang tol menuju pusat pemerintahan Soreang ini bertujuan mengatur arus lalu lintas juga mengurangi insiden kecelakaan di jalur tersebut.
Pantauan di lokasi pada Selasa (20/1/2026) menunjukkan pemandangan yang lebih rapi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, terutama terkait minimnya kendaraan yang parkir di bahu jalan.
Selama ini, Jalan Terusan
Exit Tol Soroja
sering kali menjadi titik penyempitan akibat banyaknya kendaraan yang berhenti sembarangan di pinggir jalan.
Keberadaan separator jalan setinggi kurang lebih 30 sentimeter ini memaksa kendaraan untuk tetap berada di jalurnya, sehingga sirkulasi kendaraan dari arah Soreang menuju Tol Soroja maupun sebaliknya terasa lebih lancar.
Namun, transformasi fisik ini memicu beragam reaksi dari para
pelaku usaha
yang menggantungkan hidup di sepanjang jalur tersebut.
Ahmad Fauzi (45), seorang pedagang makanan yang sudah berjualan selama sepuluh tahun di kawasan tersebut, menyambut positif pembangunan ini.
Menurutnya, separator jalan memberikan kesan estetik dan modern bagi wajah Kabupaten
Bandung
.
Ahmad menilai bahwa dengan adanya pembatas yang jelas, tingkat kecelakaan akibat kendaraan yang memotong jalan sembarangan dapat diminimalisasi secara signifikan.
“Dulu sering sekali ada motor atau mobil yang tiba-tiba memotong jalan untuk putar balik di depan toko, itu bahaya sekali. Sekarang dengan separator ini, arus jadi searah dan lebih teratur. Sebagai warga, saya melihat ini langkah maju agar Soreang tidak terlihat semrawut seperti kota yang tidak terurus,” ujar Ahmad saat ditemui di tokonya.
Berbeda dengan Ahmad, Siti Aminah (38), pemilik warung makan Sunda di sisi jalan yang sama, melihat manfaat pembangunan ini dari sudut pandang keamanan pejalan kaki.
Bagi Siti, separator jalan ini secara tidak langsung menciptakan zona aman bagi para pelanggannya yang ingin menyeberang atau berjalan di pinggir jalan.
Ia merasa selama ini pejalan kaki sering terancam oleh kendaraan yang melaju kencang tanpa batas jalur yang jelas.
“Manfaatnya terasa lebih aman bagi pelanggan saya yang parkir di kantong parkir resmi lalu berjalan kaki ke sini. Pembatas jalan ini membuat kendaraan tidak bisa mepet-mepet ke trotoar. Selain itu, pemandangan jadi lebih bersih karena tidak ada lagi truk-truk besar yang berhenti lama di depan warung hanya untuk sekadar istirahat ilegal,” kata Siti sambil melayani pembeli.
Namun, pandangan yang lebih kritis datang dari Mulyana (52), seorang pedagang buah-buahan.
Meski mengakui jalanan tampak lebih tertib, ia menyimpan kekhawatiran besar mengenai potensi penyalahgunaan separator tersebut.
Mulyana menyoroti bahwa di beberapa titik, celah antara separator dan trotoar justru kerap dimanfaatkan oknum untuk parkir liar pada jam-jam sepi, yang jika dibiarkan akan merusak tujuan awal pembangunan.
“Memang sekarang terlihat tertib karena masih baru dan sering dijaga petugas. Tapi saya khawatir, kalau pengawasan kendur, separator ini malah jadi ‘pelindung’ buat motor atau mobil yang parkir liar,” kata dia.
“Mereka merasa aman parkir di dalam pembatas itu karena tidak langsung bersentuhan dengan arus lalu lintas utama. Kalau itu terjadi, jalanan malah jadi makin sempit bagi kami para pedagang,” ungkap Mulyana lagi.
Kekhawatiran Mulyana bukan tanpa alasan.
Berdasarkan pengamatan, beberapa kendaraan roda dua mulai terlihat mencoba masuk ke celah separator saat jam makan siang.
Jika tidak dibarengi dengan penegakan hukum yang tegas, separator jalan yang menelan anggaran cukup besar ini dikhawatirkan hanya akan berpindah fungsi menjadi area parkir liar yang terorganisasi secara informal oleh oknum tertentu.
Sebelumnya, Pemerintah
Kabupaten Bandung
melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) tengah melakukan penataan signifikan di sepanjang Jalan terusan exit Tol Soroja-Pasir Koja (Soroja), hingga menuju ruas Jalan Al-Fathu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Langkah ini diambil dengan membangun jalur lambat sepanjang 1,5 kilometer guna meningkatkan keselamatan pengguna jalan dan menertibkan parkir liar yang selama ini memicu kemacetan serta kecelakaan.
Pembangunan Separator Jalan itu sempat ramai di media sosial Instagram beberapa waktu lalu.
Tak sedikit yang mempertanyakan fungsi dari pembangunan itu.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Jalan Dinas PUTR Kabupaten Bandung, Agung Priatna menyampaikan bahwa pembangunan separator permanen ini merupakan respons atas tingginya angka kecelakaan di kawasan tersebut.
Selain faktor keamanan, kehadiran jalur lambat bertujuan untuk mengembalikan fungsi utama jalan arteri.
Rencananya, separator jalan tersebut akan membentang sepanjang 1,5 kilometer yang dibagi menjadi dua titik utama, yakni jalur menuju akses Tol Soroja dan jalur menuju arah kompleks perkantoran Pemkab Bandung juga masjid Al-Fathu.
Penataan ini juga diharapkan dapat memaksa para pelaku usaha kuliner di sepanjang jalur tersebut untuk menyediakan kantong parkir mandiri bagi konsumennya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Wajah Baru Jalan Terusan Exit Tol Soroja: Antara Ketertiban dan Kekhawatiran Bandung 20 Januari 2026
/data/photo/2026/01/20/696f068888579.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)